Strain Baru Virus Corona Penyebab COVID-19: Apakah itu?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, Keluarga Kejora! Tentunya Ayah dan Ibu tidak asing dengan penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2. Beberapa minggu yang lalu, diberitakan adanya strain baru SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab COVID-19. Sebenarnya apa yang dimaksud strain baru virus corona? Apa bedanya dengan strain SARS-CoV-2 yang telah diketahui sebelumnya?

Berita mengenai penemuan adanya strain baru SARS-CoV-2 ini pertama kali diumumkan oleh Sekretasis Kesehatan Inggris Raya. Oleh karena virus strain baru ini ditemukan oleh para ilmuwan di Inggris, virus strain baru ini dikenal juga dengan UK Coronavirus Strain. Dibandingkan dengan SARS-CoV-2 yang telah diketahui sebelumnya, para ilmuwan menemukan adanya perubahan atau mutasi pada UK coronavirus strain. Salah satu mutasi yang dianggap signifikan adalah mutasi N501Y yang merupakan mutasi pada protein spike (S). Protein S ini merupakan bagian dari virus corona yang berikatan dengan reseptor ACE-2 pada manusia sebagai pejamu.

Sampai dengan tanggal 13 Desember 2020, telah ditemukan 1108 kasus COVID-19 di Inggris Raya. Para ilmuwan juga menyatakan bahwa tidak ada data bahwa virus strain tersebut diimpor dari luar Inggris, sehingga diperkirakan virus strain tersebut muncul di Inggris Raya. Telah diketahui sebelumnya bahwa SARS-CoV-2 merupakan virus RNA. Secara umum, virus RNA dapat mengalami mutasi seiring dengan proses replikasi virus. Hasil proses mutasi dapat bersifat menguntungkan host (pejamu) jika mutasi tersebut menyebabkan virus lebih sulit menginfeksi sel pejamu atau menguntungkan virus jika mutasi membuat virus menjadi lebih virulen atau berbahaya.

Lalu, bagaimana dengan mutasi yang terjadi pada UK Coronavirus strain ini? Apa makna lebih dari adanya temuan virus strain baru ini? Mengingat bahwa virus SARS-CoV-2 ini menjadi penyebab pandemi yang telah berlangsung kurang lebih 9 bulan terakhir, informasi mengenai temuan virus strain baru ini dapat menjadi suatu cara untuk memantau persebaran atau penularan, sehingga dapat dilakukan langkah untuk menghentikan peningkatan kasus secara tiba-tiba di suatu daerah. Hal lain yang menjadi perhatian dari temuan virus strain baru ini adalah apakah strain virus yang baru ini lebih berbahaya dibandingkan dengan strain virus yang telah diketahui sebelumnya. Adanya penemuan strain baru ini memang bersamaan dengan peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Inggris, sehingga mungkin ada kaitan antara keduanya. Namun, belum diketahui secara pasti apakah peningkatan jumlah kasus tersebut disebabkan oleh virus strain baru ini. Selain itu, belum ada bukti data yang menyatakan bahwa virus strain baru ini menyebabkan COVID-19 yang lebih berat.

Selain kedua hal di atas, tentu menjadi pertanyaan banyak pihak apakah vaksin yang telah dibuat tetap dapat digunakan untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2. Walaupun beberapa vaksin yang telah berhasil dibuat menargetkan protein S dan pada strain baru ditemukan mutasi protein S, para ahli masih optimis bahwa vaksin akan tetap efektif. Hal ini didasarkan pada teori bahwa vaksin memproduksi antibodi terhadap beberapa bagian dari protein S, sehingga sebuah mutasi pada bagian protein S tidak menjadikan vaksin tidak efektif. Meskipun demikian, para ahli juga menekankan bahwa jika mutasi virus tersebut terjadi terus-menerus, ada kemungkinan vaksin perlu disesuaikan dengan strain virus yang ditemukan di masyarakat.

Sumber:

Covid-19: New coronavirus variant is identified in UK. BMJ 2020;371:m4857 http://dx.doi.org/10.1136/bmj.m4857