Parenting during Pandemic


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia! Bagaimana kabar Ayah dan Bunda? Semoga selalu diberikan perlindungan dan kesehatan oleh Tuhan YME.

Saat ini kita bersama-sama sedang mengalami pandemi Covid-19 secara global. Tentu, pendemi ini membawa banyak perubahan ya. Kita harus bekerja, belajar, beraktivitas, dan beribadah dari rumah. Ayah dan Bunda harus bekerja dari rumah, mengurus kebutuhan rumah tangga, menemani dan mendampingi si kecil yang belajar di rumah. Belum lagi jika si kecil rewel dan kita sedang banyak sekali pekerjaan, sambil terus menjaga kesehatan keluarga kita.

Perubahan dan tekanan yang kita hadapi ini, bisa membuat Ayah dan Bunda, serta si kecil menjadi rentan terhadap stress. Untuk itu, kita perlu bisa beradaptasi dengan situasi seperti ini, termasuk beradaptasi dengan perubahan peran dalam parenting. Yuk, simak bagaimana Ayah dan Bunda bisa beradaptasi dan ber-partner dalam proses parenting selama pandemi global ini!

Parenting = Partnering

Pertama-tama, Ayah dan Bunda perlu memahami, bahwa parenting adalah partnering. Artinya, Ayah dan Bunda memiliki peran yang sama penting dan perlu bekerja sama dalam merawat dan mendidik si kecil. Hubungan yang positif dalam ber-partner bersama pasangan, akan memudahkan Ayah dan Bunda menjadi partner yang baik dalam parenting. Apalagi, di tengah situasi seperti ini, penting sekali bagi Ayah dan Bunda untuk bisa saling ber-partner demi menciptakan sinergi positif selama #dirumahaja. Bagaimana bisa ber-partner dalam parenting di situasi pandemi seperti ini?

  1. Saling Mendukung. Dalam parenting, apalagi di saat seperti sekarang ini, dukungan emosional dari pasangan adalah hal yang amat diperlukan agar Ayah dan Bunda bisa selalu kuat dalam menghadapi ini semua. Jangan lupa untuk saling menghargai dan mengapresiasi pasangan kita ya, Ayah dan Bunda.
  2. Saling Berkomunikasi. Ayah dan Bunda perlu saling terbuka dan berdiskusi tentang pembagian peran, kesepakatan, dan aturan dalam mengurus si kecil di rumah. Komunikasi penting dibangun, sebagai antisipasi perubahan situasi yang sulit seperti sekarang ini. Selain itu, dengan komunikasi yang terbuka, akan memudahkan Ayah dan Bunda dalam membagi peran dan tanggung jawab selama #dirumahaja.
  3. Aktif Berpartisipasi. Dalam situasi pandemi global, Ayah dan Bunda perlu sama-sama saling mendukung dan aktif berpartisipasi dalam mengurus rumah tangga dan merawat si kecil. Dengan aktif berpartisipasi dan saling berbagi tanggungjawab, tentu pekerjaan rumah tangga dan merawat si kecil tentu bisa lebih mudah dilakukan, bukan?
  4. Quality Time dengan Pasangan. Jangan lupa untuk tetap menyediakan waktu berkualitas bersama pasangan ya, Ayah dan Bunda agar keharmonisan dalam rumah tanga tetap bisa terjaga. Sempatkan waktu untuk ngobrol berdua dengan pasangan, nonton di rumah, atau melakukan hobi dan aktivitas menyenangkan berdua.

 

Selanjutnya, bagaimana tips dalam merawat si kecil selama pandemi ini?

  1. Berikan Briefing pada Si Kecil

Ayah dan Bunda bisa menjelaskan pada si kecil mengenai:

  • Situasi dan perubahan saat ini
  • Perbedaan belajar di rumah vs sekolah
  • Perubahan rutinitas, termasuk bila Ayah dan Bunda bekerja dari rumah

Hal ini akan membantu anak untuk antisipasi terhadap perubahan.

  1. Atur Schedule dan Kesepakatan

Mengatur ulang rutinitas harian, membuat schedule, dan kesepakatan bersama selama #dirumahsaja bisa membantu si kecil lebih disiplin. Hal ini juga membantu mengantisipasi masalah-masalah yang akan terjadi selama Ayah, Bunda, dan si kecil berada di rumah saja. Tips:

  • Buat rutinitas yang fleksibel namun konsisten
  • Buat jadwal (time line) yang jelas
  • Buat kesepakatan: apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak selama #dirumahsaja
  1. Team Work

Berkegiatan #dirumahsaja, bisa jadi sarana untuk Ayah dan Bunda memperkenalkan tanggung jawab dan melatih kemandirian si kecil, loh! Ajarkan si kecil mengenai daily life skill ya, Ayah dan Bunda! Lalu, ajak si kecil untuk bekerjasama dalam membangun kebiasaan selama di rumah.

  1. Work Station

Jika Ayah dan Bunda juga bekerja dari rumah, dan si kecil juga sekolah di rumah; Ayah dan Bunda bisa membuat suasana belajar dan bekerja yang kondusif. Misalnya, dengan menyiapkan ruangan / meja khusus untuk belajar dan bekerja yang minim distraksi. Hal ini akan membantu Ayah, Bunda, dan si kecil lebih fokus dan produktif selama beraktivitas #dirumahsaja.

  1. Ciptakan Jam Kerja Bersama

Atur jam kerja bersama agar Ayah, Bunda, dan si kecil bisa bersama-sama menyelesaikan tugas masing-masing.

  1. Siapkan Anak Belajar (dan Kita Bekerja)

Sebelum sekolah / kerja online, siapkan diri layaknya ketika kita dan si kecil harus ke kantor dan sekolah. Jangan lupa untuk, mandi yang bersih, pakai baju rapi, dan sarapan agar kita dan si kecil siap untuk belajar dan bekerja.

  1. Family Time

Meskipun rasanya ribet dan bikin pusing, momen #dirumahaja bisa jadi sarana untuk meningkatkan waktu kebersamaan dengan keluarga. Ciptakan waktu berkualitas bersama si kecil ya. Selama family time, Ayah dan Bunda perlu fokus pada interaksi dan afeksi si kecil. Berikan pelukan, kata-kata kasih sayang, dan luangkan waktu beraktivitas bersama, ya. Momen ini bisa merekatkan keluarga, loh!

  1. Me-Time

Secapek-capeknya mengurus pekerjaan, rumah tangga, dan si kecil di tengah situasi penuh tekanan seperti ini, Ayah dan Bunda tetap perlu melakukan self-care ya, demi menjaga kesehatan mental kita. Karena, mental yang sehat juga akan mendorong kita lebih produktif, lebih positif, dan menjaga imunitas tubuh kita. Jangan lupa istirahat dan ambil waktu untuk me-time ya, Ayah dan Bunda!

  1. Tetap Tenang dan Kelola Stress

Masa-masa ini adalah masa saat stress mudah menyerang. Ayah dan Bunda perlu bisa mengelola stress, merawat diri dengan baik, agar kita bisa merawat anak-anak kita.

  1. Anda Tidak Sendiri

Saat ini, ada jutaan orangtua yang mengalami hal sama dengan Ayah dan Bunda. We’re in this together! Ayah dan Bunda akan bisa melewati ini semua!

Terakhir, kami selaku tim Kejora, ingin mememberikan apresiasi sebesar-besarnya pada semua Ayah dan Bunda!

Terima kasih, karena Bunda bisa:

  • Bekerja dari rumah, sambil urus rumah, suami, dan anak (jangan lupa urus diri sendiri ya, Bunda!).
  • Meeting online sama bos, sambil gendong si kecil atau nemenin si kecil sekolah
  • Mendampingi si kecil sekolah dan belajar, ikut beradaptasi dengan sistem sekolah online yang masih membingungkan, sambil adaptasi juga sama sistem WFH (Work from Home).
  • Berkoordinasi dengan guru sekolah si kecil, sambil berkoordinasi dengan suami, Pak bos di tempat kerja, dan bapak GoFood yang lagi kirim makanan buat keluarga.
  • Masak di rumah, cari resep-resep kekinian di instagram / youtube, agar keluarga tetap terpenuhi gizi dan kesehatannya.
  • Tetap ber-partner bersama suami, bekerja bersama, demi keluarga, meski sama-sama repot, belum lagi urus mertua.
  • Menahan emosi dan amarah demi keharmonisan keluarga, meski susah dan capek sekali rasanya.

Bunda tidak perlu sempurna (Tidak mungkin juga bisa sempurna), tapi Bunda bisa! Bunda hebat! Terima kasih, Bunda!

Terimakasih, karena Ayah bisa:

  • Ikut nemenin si kecil main, sambil jaga-jaga kalau bos telpon.
  • Fokus kerja di rumah, dengar meeting online kantor, sambil dengar istri dan anak ramai di rumah, apalagi kalau si kecil lagi nangis dan istri lagi emosi.
  • Bantuin pekerjaan rumah istri, untuk cuci piring, bikin kopi, menyapu, jemur pakaian. Sambil bolak-balik urus kerjaan kantor.
  • Bekerjasama dengan istri mengurus si kecil, untuk bikinin susu, ganti popok, menyuapi si kecil makan, sambil mengatur karyawan.
  • Menahan emosi dan tekanan kerja demi menjaga ekonomi dan kebutuhan keluarga, meskipun rasanya capek dan entah kapan berakhir.
  • Memberi support dan tetap hadir secara emosi untuk keluarga.

Ayah tidak perlu sempurna, tapi Ayah keren! Ayah kuat! Terima kasih Ayah!

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam menjalankan parenting bagi si kecil selama pandemi global ini. We are in this together. This too shall pass. There is always a rainbow after the rain. Stay safe & healthy, Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Si Kecil dalam Menghadapi Kehilangan Orang Tua

oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, keluarga sehat Kejora Indonesia!

Kehadiran ayah dan bunda merupakan hal utama yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan si kecil. Ayah dan bunda adalah orang pertama yang seharusnya memberikan kasih sayang dan mengajarkan si kecil dalam banyak hal. Namun, dalam beberapa kondisi, beberapa anak harus dihadapkan  pada situasi kehilangan orangtua karena kematian.

Menghadapi kehilangan orangtua bukanlah hal yang mudah bagi si kecil  Kematian orang tua dapat menjadi salah satu peristiwa paling traumatis yang dialami seorang anak. Efek psikologis dari kematian orang tua dapat memengaruhi perkembangan anak selama sisa hidupnya. Yuk, kenali beberapa dampak yang bisa muncul pada si kecil ketika mengalami kehilangan orang tua :

Aspek Emosional

  1. Kecemasan dan ketakutan

Figur ayah diidentikkan sebagai sosok pelindung bagi keluarga.  Oleh karena itu, kehilangan seorang ayah dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpercayaan yang besar pada si kecil. Si kecil berpotensi tumbuh menjadi anak yang tidak tahu bagaimana melindungi diri mereka sendiri atau bagaimana menghadapi tantangan dalam hidup yang dapat memengaruhi munculnya kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi masalah.

  1. Kurang kasih sayang

Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah cinta. Kehilangan orang tua dapat membuat kebutuhan kasih sayang si kecil tidak terpenuhi. Situasi ini dapat membuat si kecil mengalami perasaan hampa dan kosong hingga dewasa.

  1. Perasaan inferior dan kurang berharga

Kehilangan orangtua dapat membuat si kecil berpikir bahwa diri mereka lemah dan lebih rendah dibandingkan dengan teman sebayanya yang memiliki keluarga utuh. Selain itu, tidak adanya figur orang tua dapat membuat si kecil menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga, dan tidak berdaya dibanding anak-anak lain, sehingga memengaruhi keberhargaan diri dan kepercayaan diri si kecil.

  1. Permasalahan psikologis lainnya
    • Gangguan dalam pengembangan bahasa.
    • Kesulitan bicara.
    • Gangguan psikosomatis
    • Depresi, kecemasan, fobia, kemarahan, stress.
    • Asma, sakit kepala, masalah perut.
    • Bunuh diri.

Aspek Perilaku

  1. Kurangnya keterampilan

Salah satu proses pembelajaran si kecil adalah melalui modeling orang tuanya. Kehilangan role model membuat si kecil tidak lagi dapat belajar skill yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

  1. Kriminalitas dan penggunaan obat-obatan terlarang

Perasaan marah, sedih dan sakit akibat kehilangan orangtua dapat membuat si kecil melampiaskan perasaannya terhadap tindakan amoral seperti kriminalitas dan penggunaan obat terlarang.

  1. Masalah seksual

Dampak seksual akibat kematian orangtua dapat memberikan respon yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan cenderung mencari figur ayah pada orang lain khususnya dalam hubungan romantik. Sedangkan pada anak laki-laki, bisa memengaruhi perkembangan seksualitas dan dapat menyebabkan masalah identitas seksual.

  1. Kegagalan akademik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nilai akademik anak dengan orang tua tunggal lebih rendah dibanding anak yang memiliki keluarga lengkap.

Aspek Sosial

  1. Sulit bersosialisasi

Dalam lingkungan yang ideal, orang tua menjadi pengasuh, panutan dan pemimpin yang mendisiplinkan kehidupan si kecil. Si kecil mempelajari aturan dan nilai pertama melalui orang tua mereka terlebih dahulu. Tanpa figur orangtua, si kecil menjadi bingung dan tidak memiliki pengetahuan serta keterampilan sosial.

Bagaimana seharusnya Ayah atau Bunda membantu menghadapi si kecil yang kehilangan?

  1. Perhatikan bahasa yang digunakan saat menjelaskan kematian.

Gunakan bahasa yang sederhana dan langsung. Jangan takut untuk menggunakan kata-kata seperti “meninggal” dan “mati” . Untuk anak yang lebih muda, bunda juga dapat mengatakan “Jantung ayah berhenti berdetak,” dan menekankan kalau jantung dan pernapasan itu hal yang dibutuhkan agar tetap hidup.

  1. Dengarkan dan hibur.

Setiap anak bereaksi berbeda ketika mengetahui bahwa orang yang dikasihinya meninggal. Ada yang menangis, dan ada mengajukan pertanyaan. Ada juga yang tidak bereaksi sama sekali. Tidak apa-apa. Tetap bersama si kecil, tawarkan pelukan, sediakan diri untuk mendengarkan ceritanya, jawab pertanyaan atau dampingi meskipun dalam keadaan diam.

  1. Refleksikan perasaannya.

Dorong anak-anak untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan dan rasakan  setelah kehilangan. Terbuka pada si kecil terkait perasaan sendiri karena hal ini dapat membantu si kecil untuk merasa nyaman dengan perasaan mereka. Katakan hal-hal seperti, “Bunda tahu kamu merasa sangat sedih. Bunda juga sangat sedih. Kita berdua sangat mencintai ayah, dan ayah juga pasti mencintai kita.”

  1. Lakukan aktivitas yang membuat perasaan si kecil lebih baik.

Berikan kenyamanan yang dibutuhkan si kecil. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan atau membicarakan topik yang membantu perasaan si kecil merasa sedikit lebih baik misalnya bermain, membuat karya seni atau pergi ke suatu tempat bersama.

  1. Beri si kecil waktu untuk sembuh dari kehilangan.

Menyembuhkan kesedihan itu membutuhkan waktu. Pastikan Bunda atau Ayah juga pelan-pelan menyembuhkan dirinya agar bisa membantu anak untuk kembali pulih. Tetap buat percakapan dengan si kecil untuk melihat bagaimana perasaan dan tindakannya terkait kesedihan tersebut.

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber :

https://insamer.com/en/the-effect-of-parental-death-on-child_2264.html

https://kidshealth.org/en/parents/death.html

 

Ketika Si Kecil Suka Melamun

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah kebingungan ketika melihat si kecil kerap kali termenung saat mengerjakan sesuatu di rumah? Atau, pernahkah Ayah dan Ibu mendapat laporan dari sekolah bahwa si kecil sering termenung saat di kelas? Seringkali, kita kebingungan untuk menilai, apakah si kecil melamun karena daya imaginasinya yang luar biasa, atau dikarenakan si kecil mudah terdistraksi atau terganggu dengan pikirannya sendiri?

Fakta positif tentang melamun

Dalam Bahasa Inggris, melamun dikenal dengan sebutan daydreaming, mind-wandering, dan beberapa istilah lainnya. Sekalipun terkadang mengganggu aktivitas, berikut ini adalah beberapa fakta positif mengenai daydreaming.

  • Beberapa penelitian dalam neuroscience mengatakan bahwa anak yang melamun memiliki daya kreativitas yang lebih baik, dibandingkan dengan anak yang jarang melamun.
  • Saat daydreaming, anak kerap kali menemukan berbagai ide dan dapat membuat hubungan-hubungan dari ide itu dan menghasilkan sesuatu yang menarik.
  • Daydreaming dapat membuat anak menghasilkan skenario tertentu ketika menghadapi sesuatu. Hal ini dapat membuat anak menjadi siap ketika menghadapi tantangan tertentu.
  • Walaupun tidak terlihat melakukan apa-apa atau “zoning out”, sebenarnya si kecil melakukan aktivitas otak juga saat melamun. Aktivitas tersebut berguna untuk memproses informasi yang ia terima.

Walaupun memiliki fakta yang positif, orang tua tetap harus mengarahkan anak untuk melakukan daydreaming atau mind-wandering pada konteks yang tepat. Arahkan anak untuk berada di alam terbuka, hal ini membuat imajinasinya makin kaya dan positif bila ia termenung. Berikan buku bacaan fiksi yang positif dan bermanfaat, maka hal ini juga akan menjadi bahan imajinasi yang juga baik dan berguna.

Kapan melamun dapat menimbulkan masalah?

Dibalik segudang fakta menarik, maka tentu melamun juga dapat menimbulkan masalah. Berikut ini adalah tanda ketika Ayah dan Ibu dapat lebih memberikan perhatian atau bantuan pada anak ketika melamun.

  1. Ketika saat si kecil melamun, aktivitas sehari-harinya terganggu. Misalnya, selalu terlambat menyelesaikan PR, atau selalu tidak paham apa yang dibicarakan oleh guru atau orang tua karena asyik melamun.
  2. Ketika anak cenderung lebih memilih melamun sendiri dan enggan melakukan sosialisasi dengan orang lain.
  3. Ketika anak sering sekali melamun atau lupa akan sesuatu dan berujung kepada waktu yang terbuang, sehingga kesempatan belajar pun terbuang.
  4. Ketika anak yang sering melamun juga disertai dengan sangat mudah terdistraksi atau teralih perhatiannya.

Hal-hal diatas, perlu orang tua perhatikan dan menjadi bahan untuk melakukan observasi lanjutan kepada anak. Apabila mengalami kendala atau kebingungan, orang tua sebaiknya juga berdiskusi dengan pihak profesional, seperti psikolog di sekolah atau klinik terdekat.

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu untuk mengarahkan si kecil melamun pada konteks yang tepat, ya! Tetap semangat, Keluarga Sehat Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Referensi:
Zedelius, C. M & Schooler, J. W. (2006). The Richness of Inner Experience: Relating Styles of Daydreaming to Creative Processes. Front Psychol. 2015; 6: 2063. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4735674/

Mengasuh anak yang memasuki masa “Threenager”

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Saat anak berusia dua tahun tentunya Ayah dan Ibu senang dengan perkembangan bahasa anak. Umumnya, pada usia satu hingga dua tahun adalah usia dimana anak bisa berbicara satu kata dengan utuh untuk pertama kalinya. Sementara itu, pada usia dua hingga tiga tahun adalah usia dimana anak banyak bertanya mengenai nama benda di sekitarnya, cara kerja benda yang dilihatnya, dan berbagai hal. Memasuki usia tiga tahun, atau yang biasa disebut usia threenager, mulai terlihat perbedaan pada perkembangan anak. Pada usia ini, terdapat beberapa ciri utama anak yang membuat mereka seperti usia remaja.

Pertama, anak yang sudah dapat berkomunikasi dua arah dengan lancar mulai meningkatkan rasa ingin tahu yang dimilikinya dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Salah satunya terlihat dari jenis permainan yaitu berubah dari bermain sendiri menjadi bermain dengan melibatkan teman lain, baik terlibat secara tidak langsung (parallel play), maupun secara langsung meskipun dengan jalan cerita masing-masing (associative play). Anak juga mulai mempelajari aturan dan norma di sekitarnya. Dalam mempelajari aturan ini, tidak jarang ditemui anak menjadi senang melakukan argumen. Penting bagi orangtua untuk memfasilitasi keinginan eksplorasi anak, namun tetap memberikan batasan sesuai dengan aturan yang ingin diterapkan pada anak.

Kedua, anak pada usia ini sangat ingin berusaha untuk mencoba berbagai hal dengan usaha sendiri. Tak jarang dalam melakukan aktivitas yang tadinya dibantu atau bersama dengan orangtua, sekarang anak menjadi ingin untuk mencoba melakukannya sendiri. Hal ini merupakan hal yang baik bagi perkembangan anak, dan orangtua sebaiknya memfasilitasi anak dengan memberikan bantuan dengan teknik scaffolding. Orangtua melihat sejauh mana kemampuan yang dimiliki anak saat ini, dan memberi sedikit bantuan agar anak dapat menguasai kemampuan yang satu level lebih sulit. Misalnya, saat anak sudah dapat menggosok badan menggunakan sabun, namun, belum dapat membilas tubuh dengan bersih. Maka hal yang harus dibantu oleh orangtua yaitu memperhatikan bagian tubuh yang terdapat lipatan atau mempunyai potensi kurang bersih saat anak membilasnya.

Ketiga, anak mulai memiliki preferensi dalam berbagai hal yang terkadang menyulitkan orangtua. Jika anak sudah mulai menunjukkan bahwa ia memiliki preferensi, maka hal tersebut menunjukkan anak berani memberikan pilihan, dapat mengekspresikan diri melalui hal yang disukainya. Orangtua dapat membiarkan anak memilih, namun anak diminta untuk membantu menyiapkan atau membuat sesuai dengan preferensinya. Misalnya : saat anak ingin makan roti yang dibakar terlebih dahulu sebelum diolesi selai cokelat. Tujuannya agar anak mengetahui usaha yang dibutuhkan untuk menyiapkan hal yang diinginkannya, dan agar ia lebih memiliki komitmen untuk menghabiskan makanan tersebut.

Meskipun pada tahap usia ini muncul berbagai hal baru yang menantang bagi oragntua, namun jika kita menjadikan moment ini sebagai moment anak untuk belajar, ternyata bisa sangat berguna lho.

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Tetap Bahagia Menghadapi Fase ‘Terrible Two’ pada Si Kecil


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 Hai Ayah dan Bunda Kejora!

Siapa Ayah dan Bunda di sini yang memiliki anak berusia 2-4 tahun? Yuk, acungkan tangan. Pernahkah Ayah dan Bunda mendengar istilah ‘terrible two’? Ya, anak yang memasuki usia dua tahun sering disebut dengan istilah ‘terrible two’. Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai terrible two.

Apa itu fase ‘terrible two’?

Fase‘terrible two’merupakan fase di mana si kecil mulai ingin diperlakukan sebagai little adult, yaitu ingin disamakan dengan orang dewasa. Pada fase ini si kecil biasanya menuntut untuk diberikan kebebasan memilih apa yang diinginkan. Selain itu, si kecil juga ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan terhadap orang-orang di sekitarnya.

Berikut ciri-ciri perilaku terrible twoyang sering terjadi pada anak:

  • Anak mulai belajar mengatakan “tidak”

Pada fase ini, anak biasanya akan mulai memberikan penolakan kepada Ayah dan Bunda. Misalnya, tidak mau saat diminta makan, mandi, merapikan mainannya, dan lain sebagainya. Apa saja yang diucapkan oleh orangtua bisa jadi salah di mata si kecil. Hal ini  tentu bisa membuat Ayah dan Bunda menjadi bingung ya.

  • Anak lebih mudah marah ketika keinginannya tidak terpenuhi

Pada fase ini, si kecil menjadi lebih mudah kesal jika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Suasana hati si kecil juga biasanya makin sulit ditebak. Ia bisa menunjukkan berbagai perilaku tantrum, misalnya menangis, marah, berguling di lantai, hingga menggigit. Perilaku ini tentu membingungkan sekaligus sering membuat jengkel ya, Ayah dan Bunda.

  • Anak lebih berani dalam mengeksplorasi banyak hal

Semakin bertumbuh, anak akan semakin ingin mengeksplorasi berbagai macam hal di sekitarnya dan merasa sudah bisa melakukan berbagai hal sendiri. Sebenarnya hal ini tidak selamanya buruk, justru menjadi indikator bahwa si kecil sedang berkembang dengan pesat. Namun, orangtua perlu mengawasi si kecil supaya ia berperilaku tidak melewati batas dan membahayakan.

  • Anak menjadi keras kepala

Anak mulai menampilkan banyak keinginan dan seringkali tidak memedulikan kondisi saat itu. Ketika meninginkan sesuatu, si kecil akan menuntut terus-menerus sampai ia bisa mendapatkan hal yang diinginkan. Di fase ini, si kecil juga menjadi lebih sulit dan bandel ketika dinasehati oleh orangtuanya.

Apa penyebab anak mengalami fase ‘terrible two’?

Fase‘terrible two” terjadi karena anak sedang mengalami perkembangan yang luar biasa. Dalam istilah perkembangan psikologi sosial, istilah ‘terrible two’ biasa disebut disebut dengan autonomy, yaitu sebuah tugas perkembangan di mana anak mulai memunculkan dorongan untuk memegang kendali dan mengatur dirinya sendiri. Misanya, anak ingin melakukan semuanya sendiri dan mengikuti rutinitas orang dewasa di sekitarnya.

Sayangnya, pada fase ini si kecil belum bisa membedakan mana yang aman, kurang aman, dan berbahaya baginya. Itulah mengapa si kecil menjadi mudah marah, berkata tidak, keras kepala, dan membantah orangtua. Masa-masa ini juga merupakan masa yang penuh intrik dari si kecil sehingga hal ini menjadi tantangan untuk orangtua. Di satu sisi, Ayah dan Bunda harus punya kendali atas si kecil, namun di sisi lain Ayah dan Bunda juga harus mendorong perkembangan si kecil.

Tapi, jangan khawatir Ayah dan Bunda! Fase ini justru menunjukkan bahwa si kecil berkembang pesat secara kognitif dan emosi. Nah, dengan pola asuh yang tepat dan konsisten, si kecil akan bisa melewati fase ini dengan baik!

Berikut tips yang bisa dilakukan Ayah dan Bunda untuk menyikapi fase ‘terrible two’ pada si kecil:

  1. Bersikap tenang, sabar, dan tidak panik ketika si kecil mulai berulah

Hal pertama yang perlu dilakukan orangtua ketika menghadapi si kecil yang berulah adalah harus tenang dan tidak panik. Orangtua harus memahami psikologi anak sehingga bisa sabar dan telaten dalam menyikapi sikap si kecil.

  1. Sepakati aturan dan batasan dengan si kecil

Sebelum si kecil mulai berulah, lebih baik Ayah dan Bunda membuat aturan dan batasan bersama anak. Jelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh si kecil. Misalnya, jika si kecil ingin meminta sesuatu harus dengan cara baik-baik. Selain itu buatlah aturan-aturan sederhana untuk dilakukan si kecil, seperti membereskan mainannya selesai bermain, mandi dan makan teratur, dan lain sebagainya.

  1. Tegas dan konsisten

Ayah dan Bunda perlu secara konsisten menjalankan hal-hal yang dikatakannya. Ketika orangtua konsisten dalam menjalankan aturan main di dalam keluarga, si kecil akan lebih mudah memahami pola perilaku dan konsekuensi yang mengikuti pola perilaku tersebut.

  1. Bangun komunikasi dan interaksi yang positif dengan si kecil

Bangunlah komunikasi dan interaksi yang positif dengan si kecil agar Ayah dan Bunda lebih mengetahui apa yang anak rasakan dan inginkan. Interaksi yang positif juga efektif lo, Ayah dan Bunda, untuk mengatasi si kecil yang mudah rewel. Berikan penjelasan secara tepat menggunakan cara persuasif terhadap si kecil.

Menghadapi si kecil yang memasuki fase ‘terrible two’ memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Butuh kesabaran, konsistensi, dan interaksi yang positif antara orangtua dan si keci. Namun, percayalah dengan pola asuh yang tepat, si kecil bisa mengembangkan karakter yang positif di masa yang akan datang.

Sehat selalu ya Ayah dan Bunda!

 

Mengenali Love Language Si Kecil

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Sudahkah Ayah dan Ibu mengenali LOVE LANGUANGE anak anda? Kira-kira kenapa, ya, mengenali LOVE LANGUAGE anak anda menjadi penting? Menurut Ayah dan Ibu, apakah dasar dari hubungan dalam keluarga? Jawabannya tentu adalah cinta. Apabila diingat, maka tentunya rasa cinta atau sayang menjadi awalan untuk membina hubungan dengan pasangan untuk kemudian menikah dan akhirnya memiliki buah hati. Rasa cinta atau sayang ini pun akan tercermin dengan berbagai perilaku kita dalam hubungan di keluarga, termasuk saat mengasuh si kecil.

Permasalahannya, kehidupan berkeluarga tentu bukanlah hal yang mudah, apalagi persoalan mengurus si kecil. Berbagai tantangan atau kesulitan mungkin akan dialami selama merawat si buah hati. Dalam mengasuh si kecil, kita perlu memberikan cinta kepada anak-anak kita, namun pertanyannya adalah, “Apakah kita mengetahui jenis/cara mengungkapkan rasa sayang yang lebih disukai si kecil?”. Kita perlu mengenali Primary Love language si kecil agar ia dapat betul-betul merasakan kasih sayang yang kita berikan.

Jenis-jenis LOVE LANGUAGE

Berikut ini adalah jenis-jenis Love language pada anak:

  1. Physical Touch

Physical touch merupakan sentuhan fisik. Sentuhan merupakan love language yang paling mudah dan tidak membutuhkan waktu khusus atau spesial. Bila ini merupakan primary love language milik si kecil, maka si kecil akan sangat senang mendapatkan sentuhan dari kita. Misalnya saat kita memeluknya atau bermain kuda-kudaan dengan si kecil.

  1. Words of Affirmation

Words of Affirmation merupakan love language yang dikeluarkan melalui kata-kata, baik secara langsung, maupun tertulis. Jika ini merupakan primary love language si kecil, ia akan sangat merasa berarti. Mengatakan sayang dengan kata-kata ada berbagai jenis, ada perkataan yang bersifat memberikan pujian, ada perkataan yang bertujuan menyatakan perasaan, perkataan yang bersifat menguatkan, dan perkataan yang bersifat memberikan bimbingan.

  1. Gifts

Jenis love language ini mungkin adalah yang paling mudah ditebak maknanya. Gifts merupakan cara untuk menunjukkan kasih sayang melalui memberikan suatu benda kepada anak kita.

  1. Quality Time

Jenis love language ini dapat diberikan dalam bentuk pemberian waktu bersama. Ingatlah bahwa sebaiknya ayah dan ibu tidak berfokus kepada jenis acara atau eventnya, namun sebaiknya ayah dan ibu betul-betul meluangkan waktu dan betul-betul hadir bagi si kecil. Aktivitas sederhana seperti berbaring bersama sebelum tidur dan berbicara menjadi hal yang sungguh berarti bagi si kecil.

  1. Act of Service

Love language yang kelima ini adalah bentuk tanda cinta yang dapat diberikan saat ayah dan ibu melakukan suatu tindakan kepada si kecil. Misalnya memasak bekal kesukaan si kecil, atau membersihkan kamar si kecil pada waktu khusus, dan lainnya.

Tips mengenali LOVE LANGUAGE anak anda

Cara yang paling mudah dalam mengenali primary love language anak kita adalah dengan melakukan pengamatan dengan sabar. Amatilah si kecil ketika ia mengungkapkan perhatiannya kepada Ayah dan Ibu. Bisa jadi si kecil memiliki beberapa cara-cara yang sering sekali ia gunakan. Selain itu, amatilah juga cara si kecil mengungkapkan rasa sayangnya kepada orang lain. Misalnya teman, saudara, atau guru kelasnya. Hal yang terakhir adalah jangan lupa selalu dengarkan keinginan si kecil mengenai bagaimana cara ia ingin diperhatikan atau disayang oleh ayah dan ibu.

Semoga artikel ini membantu Ayah dan Ibu Kejora untuk mengenali love language si kecil dan bisa belajar memberikan kasih sayang dengan tepat untuk si kecil. Selamat mencoba!

Sumber:

Chapman, G. D., & Campbell, R. (1997). The five love languages of children. Chicago: Moody Press.

Berkenalan dengan Positive Discipline

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Sebelum mengenali positive discipline, mari kita berkenalan dengan kata discipline. Kata discipline berasal dari bahasa latin yaitu “disciplina”. Kata “disciplina” sendiri berarti memberikan instruksi atau mengajarkan suatu hal.

Apa itu Positive Discipline?

Positive discipline adalah cara memperkenalkan, mengarahkan dan memberkan contoh kepada anak-anak terkait jenis-jenis perilaku positif dan dapat diterima (acceptable behavior). Melalui positive discipline, anak-anak diberikan arahan atau contoh dengan cara yang tegas (firm) namun tetap hangat. Positive discipline berfokuskan pada relasi orang dewasa (orangtua, kakek-nenek, guru, dan lainnya) dan anak yang dibangun atas dasar rasa aman, hormat, percaya namun tetap diimbangi dengan ketegasan dan batasan yang jelas. Berdasarkan penelitian, maka manusia akan dapat belajar ketika berada dalam lingkungan yang aman.

Positive discipline tentu berbeda dengan proses disiplin menggunakan punishment (hukuman). Proses disiplin dengan cara menghukum membutuhkan aturan yang ketat dan harus dipatuhi serta memberikan hukuman bagi perilaku yang tidak diharapkan. Saat kita memberikan hukuman, anak-anak bisa saja mengikuti hal yang kita inginkan, akan tetapi hal tersebut tidak akan berlangsung lama.

Mengapa positive discipline penting?

  • Positive discipline memberikan anak aturan yang jelas namun tetap memperhatikan rasa berharga dalam diri anak tersebut.
  • Membangun rasa saling menghormati antara anak dan orang dewasa.
  • Positive Discipline membuat anak mau mengulang perilaku yang positif, karena melalui positive discipline anak akan merasa dihargai saat melakukan hal yang benar.
  • Membuat anak belajar bahwa mengikuti aturan dan batasan merupakan hal yang biasa dan menyenangkan.

Bagaimana cara melakukannya?

Ada banyak cara untuk menerapkan positive discipline pada anak. Orangtua dapat membeli buku tentang positive discipline atau mencari melalui media elektronik, namun pastikan bahwa sumbernya terpercaya.

Berikut kami rangkumkan beberapa hal untuk melakukan positive discipline:

  1. Jangan berfokus pada perilaku yang salah pada anak, namun tunjukkan perilaku yang benar atau yang diharapkan oleh ayah dan ibu.
  1. Selalu tunjukkan kehangatan kepada anak, akan tetapi tetaplah menjadi orangtua yang tegas dalam memberikan batasan. Batasan tetap diperlukan agar anak dapat berperilaku dalam batas aman dan wajar.
  1. Selalu berikan aturan dan batasan yang jelas dan konsisten.
  1. Bila anak melakukan kesalahan, libatkan anak untuk berdiskusi terkait solusi yang dapat dilakukan bersama.
  1. Selalu berikan quality time pada anak sehingga anak tidak merasa kurang diperhatikan.
  2. Pada kesempatan tertentu, orangtua dapat memberikan pilihan kepada anak. Hal ini membuat anak dapat merasa dilibatkan dan melatih diri untuk bertanggungjawab.

Sekian informasi terkait positive parenting yang dapat kami berikan. Ayah dan Ibu dapat melakukan riset melalui berbagai sumber terkait positive discipline. Terima kasih dan selamat mencoba.

 

Sumber:
Nelson, J. E. D., Tamborksi, M. N. (2016). Positive Discipline Parenting Tools. Harmony Books: New York

Psychological First Aid (PFA)

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Akhir-akhir ini Indonesia sedang sering tertimpa bencana alam dan kejadian tidak menyenangkan lainnya. Nah, kira-kira apa, ya, yang bisa kita lakukan jika menemukan anak-anak maupun orang dewasa yang sedang mengalami peristiwa tidak menyenangkan seperti ini? Kali ini, mari berkenalan dengan Psychological First Aid, yuk!

Psychological First Aid (PFA) atau yang bisa juga disebut bantuan pertama psikologis adalah intervensi psikologi yang diberikan pada individu atau kelompok yang baru saja mengalami kejadian krisis. Kejadian krisis yang dimaksud dapat berupa peristiwa kehilangan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa yang sangat mengejutkan sehingga menimbulkan kecemasan atau ketakutan, ataupun ketika individu baru saja mengalami kecelakaan atau bencana alam. PFA diberikan sesegera mungkin setelah individu mengalami situasi krisis. PFA yang diberikan bersifat praktikal dan dalam waktu singkat, serta disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. PFA dapat dilakukan oleh siapa saja dan tidak harus dari profesional.

Hal yang paling penting adalah memahami prinsip dasar PFA. Terdapat 6 prinsip dasar yaitu melihat, mendengar, membuat nyaman, memberikan koneksi, memberikan rasa perlindungan, dan memberikan harapan. Sekarang kita bahas satu-persatu ya, Ayah dan Ibu Kejora!

  1. Melihat artinya mengamati keadaan penyintas dan lingkungan sekitar. Keadaan penyintas yang diamati termasuk emosi yang sedang dirasakannya, dan apakah penyintas terlihat ingin berkomunikasi. Sedangkan untuk lingkungan sekitar, kita harus mengamati sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penyintas.
  2. Mendengar di sini adalah mendengar aktif, dimana kita berusaha agar penyintas merasa dirinya diterima apa adanya.
  3. Membuat nyaman bisa dilakukan dengan mengakomodasi kebutuhan dasar seperti pengobatan luka fisik, memberikan sarana yang membuat rileks, dan lain-lain.
  4. Memberikan koneksi artinya mencari layanan yang sesuai dengan kebutuhan penyintas saat itu. Misalnya saat membutuhkan transportasi untuk menjenguk keluarga, kita memberi tahu bahwa terdapat layanan transportasi gratis.
  5. Memberikan rasa perlindungan artinya kita menjelaskan bahwa keadaan penyintas saat ini aman sehingga ia tidak perlu khawatir.
  6. Memberikan harapan yang realistis dilakukan dengan mengkomunikasikan hal yang dapat mengurangi kecemasan berdasarkan bantuan yang telah diterima penyintas saat ini, yang dapat mengurangi bebannya.

Selain untuk kasus paska bencana, PFA dapat diberikan kepada anak yang mengalami kejadian kurang mengenakkan, misalnya, anak kehilangan orang tua yang dikira menunggu pada hari pertama masuk sekolah. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa tenang pada anak, mengurangi kemungkinan berkembang menjadi peristiwa traumatis, dan mencegah dampak masalah menjadi lebih besar.

Dalam PFA terdapat keterampilan yang harus dimiliki, yaitu mendengar aktif. Terdapat tiga hal yang dilarang dalam mendengar aktif yaitu:

  1. Menghakimi, yaitu tidak menarik kesimpulan atau membuat penilaian yang membuat orang merasa mendapatkan penilaian yang kurang baik.
  2. Menasehati, berarti tidak memberikan nasehat yang tidak perlu dalam situasi tersebut, misalnya saat orang hanya ingin ceritanya didengarkan atau perasaannya diterima.
  3. Menginterogasi, berarti menahan diri untuk tidak menanyakan hal yang tidak perlu diketahui dan hanya memuaskan rasa ingin tahu kita. Hal yang harus dilakukan adalah menerima perasaan apapun yang sedang dimiliki penyintas, terlepas dari emosi positif maupun negatif.

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu Kejora apabila si kecil sedang mengalami peristiwa kurang menyenangkan, ya!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Bagaimana Cara Memperkenalkan Disabilitas pada Si Kecil?

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora! Semangat ENERGY OF ASIA belum berhenti, Indonesia kembali menjadi tuan rumah bagi para atlet penyandang disabilitas di Asian Para Games 2018. Bila ayah, ibu dan si kecil berjalan di jalan raya, maka poster atau iklan dukungan Asian Games 2018 telah berubah menjadi dukungan bagi Asian Para Games 2018. Begitu juga dengan berbagai poster yang menampilkan para atlet Asian Para Games 2018.

Bukan tidak mungkin hal ini menimbulkan pertanyaan bagi si kecil, misalnya saat si kecil bertanya mengenai perenang dengan satu kaki, pelari dengan satu tangan atau petenis yang duduk di kursi roda. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan awalan untuk memperkenalkan si kecil pada disabilitas.

Nah, berikut ini adalah beberapa cara yang dapat Ayah dan Ibu gunakan untuk memperkenalkan disabilitas pada si kecil:

  1. Sambut keingintahuan si kecil

Bila si kecil melihat atau terpana dengan gambar atau orang dengan disabilitas, jangan ragu untuk membuka pembicaraan dengan si kecil. Misalnya, “Nak, mama lihat kamu memperhatikan anak yang jalannya kaku itu ya? Itu namanya cerebral palsy. Nah, nanti di rumah kita cari yah apa itu cerebral palsy.”

  1. Berikan pengetahuan melalui tontonan atau bacaan

Ajak si kecil melihat iklan, video atau film tentang penyandang disabilitas. Jangan lupa selalu dampingi si kecil dan berikan hal-hal yang membantu si kecil untuk mengerti. Jelaskan mengenai jenis disabilitas, tekankan pada usaha dan semangat yang dimiliki bagi penyandang disabilitas. Terakhir, ajak si kecil untuk melihat pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar.

  1. Tanamkan bahwa perbedaan bukanlah hal yang buruk.

Ayah dan ibu dapat mengatakan bahwa setiap orang pasti berbeda-beda dan unik. Ajak si kecil melihat adakah yang berbeda dari ayah, ibu dan dirinya. Misalnya warna kulit, bentuk hidung, sampai jam bangun di pagi hari. Katakan bahwa walaupun ayah, ibu dan si kecil berbeda, namun masih banyak hal positif yang bisa dilakukan.

  1. Tekankan kesamaan

Katakan bahwa teman-teman dengan disabilitas sama seperti orang biasa, mereka bisa bersekolah, bekerja, bahkan menghasilkan suatu prestasi. Hanya saja, mereka memiliki keterbatasan tertentu. Misalnya tidak bisa melihat, sulit untuk berjalan, dan sebagainya.

  1. Orang dengan disabilitas bukanlah orang sakit

Jelaskan kepada anak bahwa orang dengan disabilitas bukanlah orang yang sakit. Mereka tidak boleh dijauhi dan juga butuh untuk memiliki teman. Tanamkan bahwa si kecil harus menghormati dan berperilaku baik kepada semua orang, termasuk penyandang disabilitas.

  1. Menjadi contoh yang baik

Anak-anak biasanya mudah meniru hal yang dilakukan oleh Ayah dan Ibu. Untuk itu, menjadi contoh yang baik juga penting. Ayah dan Ibu dapat mengajak si kecil menonton pertandingan Asian Para Games 2018. Tunjukkan sikap yang positif kepada para atlet atau penonton dengan disabilitas. Jangan bersikap kaku atau berlebihan. Tekankan kepada si kecil bahwa para penyandang disabilitas wajib dihargai dan dihormati selayaknya orang pada umumnya.

Semoga cara-cara di atas dapat membantu Ayah dan Ibu dalam memperkenalkan si kecil dengan disabilitas. Ingatlah bahwa penanaman nilai-nilai yang baik sejak dini pasti akan bermanfaat di kemudian hari. Semoga menginspirasi ya, Ayah dan Ibu.

Edited by drg. Valeria Widita

Sumber:
McGrail, E., & Rieger, A. 2013. Increasing Disability Awareness through Comics Literature. Electronic Journal of Inclusive Education. Vol 3, No 11.
Diambil dari: https://corescholar.libraries.wright.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1157&context=ejie
Williamson, C. 2014. Effects of Disability Awareness Educational Programs on an Inclusive Classroom. Honors Project. 134.
Diambil dari:
https://scholarworks.bgsu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1138&context=honorsprojects

Bullying

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Ayah dan Ibu Kejora, pasti sudah akrab dengan istilah bullying, kan? Bullying adalah sebuah fenomena yang ada dimana-mana, sulit untuk dihilangkan, dan terjadi di berbagai situasi. Salah satu yang sering kita jumpai sebagai orangtua adalah bullying yang ada di sekolah. Sebenarnya apa sih definisi bullying itu sendiri? Jangan-jangan kita sering menggunakan istilah bullying tanpa mengetahui apakah tindakan kekerasan yang dilakukan seorang anak tersebut sudah masuk kategori bullying atau belum. Jangan sampai juga kita mengucapkan istilah yang kurang tepat nih Ayah dan Ibu.

Menurut Olweus (1991) bullying didefinisikan sebagai perilaku yang berulang, baik secara lisan atau fisik, yang terjadi dari waktu ke waktu dalam hubungan yang ditandai oleh ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan. Bullying termasuk dalam bentuk perilaku agresi yang dilakukan dengan sengaja, terus-menerus, dan melibatkan target khusus yaitu anak lain yang lebih lemah dan mudah diserang (Papalia, 2009). Berdasarkan definisi tersebut, maka kekerasan yang terjadi satu kali dan tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, perilaku tersebut bukanlah bullying. Mengapa kita perlu mengetahui apakah suatu bentuk kekerasan adalah bullying atau bukan? Karena hal ini akan berkaitan dengan usaha yang dapat kita lakukan untuk menguranginya.

Dalam bullying terdapat tiga peran yaitu korban, pelaku, dan penonton (atau yang dikenal dengan istilah bystander). Untuk definisi korban tentunya kita sudah familiar, dimana korban adalah pihak yang mengalami bullying dan mendapatkan dampak negatif, baik secara fisik, mental, maupun emosional. Sedangkan pelaku adalah pihak yang melakukan bullying. Sementara itu, penonton merupakan pihak yang bukan termasuk korban dan bukan pelaku, melainkan pihak yang hadir saat kejadian atau yang mengetahui bullying terjadi.

Lalu apa sih pentingnya peran penonton ini? Tanpa disadari, penonton memiliki peran yang penting untuk menentukan apakah pelaku berhasil mendapatkan hal yang ia inginkan atau tidak. Setelah melakukan bullying, pelaku pastinya berharap untuk mendapatkan respon yang diharapkan dari lingkungan. Respon dapat berupa apresiasi yang diberikan oleh penonton (misalnya : bertepuk tangan, ikut tertawa) atau membuat korban takut padanya. Tujuan utamanya adalah mendapatkan kekuasaan sehingga merasa posisinya berada di atas korban. Maka dari itu, penonton sebaiknya tidak memberikan respon yang diinginkan, dan dapat mengkomunikasikan dengan pihak yang berwenang (misalnya guru di sekolah) apabila mengetahui bullying terjadi.

Sekarang bagaimana ya cara kita untuk mengetahui apakah si kecil menjadi korban bullying? Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri anak korban bullying yang bisa Ayah dan Ibu perhatikan:

  1. Anak menjadi tidak bersemangat atau bahkan menolak pergi ke sekolah, dan menolak untuk menceritakan alasannya.
  2. Anak mengurangi kegiatan yang disukainya di sekolah.
  3. Anak memilih untuk menyendiri atau jarang beraktivitas bersama teman-temannya seperti sebelumnya.
  4. Anak menjadi lebih pemurung, gusar, terkadang disertai dengan gejala depresi.
  5. Terlihat luka atau memar pada bagian tubuh anak
  6. Terdengar kabar bahwa anak diejek atau dijahili di sekolah.

Lalu bagaimana kalau ternyata beberapa ciri-ciri di atas kita temukan pada si kecil? Ayah dan Ibu dapat melakukan beberapa hal seperti:

  • Membuat suasana nyaman agar si kecil mau bercerita, dan menjaga kepercayaan untuk memberitahu pihak terkait dengan persetujuannya, kecuali informasi yang harus dibagikan, misalnya ke pihak sekolah.
  • Mebiasakan si kecil untuk bercerita mengenai kesehariannya, bagaimana perasaannya, juga mengajarkan mereka bagaimana mempertahankan diri.
  • Mencari bantuan professional jika si kecil menampilkan tanda-tanda depresi atau jika sudah mengganggu fungsi hidupnya, seperti prestasi akademis, kehidupan sosial, dan lain-lain.

Nah, Ayah dan Ibu Kejora, semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam memahami bullying dan menanamkan pada si kecil untuk berani bertindak jika terlibat dalam bullying.

Edited by drg. Valeria Widita

Sumber :
Olweus, Dan. (1991). Bully/Victim Problems Among School Children : Basic Facts and Effects of a School Based Intervention Program. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
Papalia, D. E., Olds, S. W. & Feldman, R. D. (2009). Human Development : Perkembangan Manusia. (10th) ed. (B. Marwensdy. Terj) Jakarta : Salemba Humanika.