PERLUKAH SUPLEMEN MINYAK IKAN UNTUK ANAK?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Ayah dan Ibu tentu sudah pernah mendengar tentang minyak ikan. Apakah Ibu/Ayah Kejora termasuk orangtua yang bertanya-tanya haruskah pemberian suplemen minyak ikan untuk anak? Sebelumnya, mari kita bahas apa kandungan dari minyak ikan.

Minyak ikan merupakan salah satu sumber dari EPA DHA yang termasuk dalam asam lemak omega-3 (asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang/PUFA). Baik EPA maupun DHA, sangat penting bagi perkembangan otak janin, perkembangan motorik dan penglihatan bayi, fungsi kognitif, juga sistem imun anak. Ayah dan Ibu Kejora dapat mengetahui peran DHA dalam kehamilan dengan klik artikel ini ya.

Mengenai pemberian suplemen minyak ikan (sirup/kapsul lunak), telah ada kajian literatur ilmiah (systematic review) yang menyimpulkan bahwa tidak ada manfaat pemberian suplemen PUFA rantai panjang pada bayi cukup bulan juga bayi prematur, namun juga dikatakan tidak ada efek samping berbahaya.

Penelitian lain juga menyatakan bahwa agar PUFA rantai panjang memberikan manfaat kesehatan yang optimal, sebaiknya diberikan dalam bentuk alami (dari sumber bahan makanan).

Selain minyak ikan, sumber PUFA lainnya adalah ASI, fatty fish, kacang kedelai, minyak kanola, minyak flaxseed, daging sapi, unggas, telur. Ikan yang mengandung tinggi EPA DHA pun tak hanya salmon, namun ikan tuna, bawal, tenggiri, kembung, patin, lele, juga belut juga tak kalah besar kandungannya. Berikut rincian jumlah kandungan EPA dan DHA dalam ikan:

Bagi Ibu/Ayah Kejora yang ingin memberikan suplemen minyak ikan, selalu konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis ya.

 

Sumber:

  • Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database of Systematic Reviews 2017.
  • Longchain polyunsaturated fatty acid supplementation in preterm infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2016.
  • Fat content and EPA and DHA levels of selected marine, freshwater fish and shellfish species from the east coast of Peninsular Malaysia. IFRJ 2012;19:815-21.

Boleh Tidak Sih Jus Buah untuk Bayi/Anak?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Apakah Ibu/Ayah Kejora pernah bertanya mengenai perlu tidaknya pemberian jus buah pada bayi dan anak? Tak jarang orangtua berpendapat bahwa jus buah pasti memiliki kandungan nutrisi dan bermanfaat bagi bayi dan anak, namun ternyata harus diketahui rekomendasi dan dicermati label komposisi nutrisi pada jus buah kemasan.

Sebelum lanjut membaca, perlu diketahui terlebih dahulu definisi dari jus buah (kemasan). Menurut US FDA, label kemasan ‘jus buah’ artinya produk tersebut mengandung 100% jus buah. Sedangkan, label tertulis ‘konsentrat’ buah artinya produk tersebut berasal dari konsentrat buah. Produk minuman kemasan berlabel ‘minuman’ artinya memiliki kandungan jus 10–99% serta pemanis tambahan, perisa, maupun fortifikasi misalnya vitamin C atau kalsium.

Di Indonesia, BPOM telah mengatur penamaan produk, juga label kandungan nutrisi. Terdapat 3 kategori minuman buah yaitu sari buah, minuman sari buah, dan minuman rasa buah. Sari buah mengandung minimal 80% jus buah asli. Sedangkan minuman sari buah mengandung 10–35% jus buah. Minuman rasa buah hanya memiliki kurang dari 10% jus buah asli; produk tersebut hanya berisi air dan gula atau pemanis.

Berikut rekomendasi dari AAP mengenai jus buah:

  1. Jus tidak direkomendasikan pada bayi di bawah usia 12 bulan, kecuali ada indikasi medis dari dokter spesialis. Jus buah tidak memberikan manfaat nutrisi bagi bayi di bawah usia 12 bulan. Kebutuhan cairan bagi bayi tercukupi dari ASI atau susu formula (sesuai indikasi medis). Hal di atas berlaku juga pada buah yang diperas hanya sarinya saja; misal air perasan jeruk saja. Air perasan jeruk dapat diberikan bila bersamaan dengan buah lain dengan tekstur sesuai usia, misal dicampur dengan pure alpukat bagi bayi 7 bulan.
  2. Buah dapat diberikan sebagai selingan dengan tekstur sesuai usia bayi dan bersifat sebagai mengenalkan buah pada bayi.
  3. Pemberian jus pada anak usia 1–3 tahun (balita) dibatasi maksimal 118 mL/hari (4 ounces/day)
  4. Pemberian jus pada anak 4–6 tahun dibatasi maksimal 118–177 mL/hari (4–6 ounces/day)
  5. Pemberian jus pada anak 7–18 tahun dibatasi maksimal 236 mL/hari (1 cup/day)
  6. Pemberian jus pada balita tidak direkomendasikan dalam wadah botol atau wadah lain yang mudah dibawa sehingga mencegah balita minum jus berlebihan sehari-hari. Juga tidak direkomendasikan pemberian jus kepada balita saat jam menjelang tidur.
  7. Anak-anak diupayakan untuk mengonsumsi buah potong untuk memenuhi kebutuhan asupan buah dan serat per hari
  8. Pemberian produk jus yang tidak dipasteurisasi tidak dianjurkan bagi bayi dan anak.

Jus buah juga meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Dari penelitian diketahui bahwa setelah 24 jam, pH jus buah berubah menjadi lebih asam dari pH awal. Jus nanas, anggur, dan tebu mengandung elemen pemicu timbulnya karies gigi antara lain selenium, besi, dan mangan.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: American Academy of Pediatrics (AAP) 2017, Community Dent Oral Epidemiol 2010;38:324-32.

Permen untuk Anak?

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Anak-anak dilahirkan dengan preferensi untuk rasa manis. Telah diketahui bahwa cairan ketuban dan juga pada ASI memiliki rasa yang manis. Paparan alami di dalam rahim dan ASI, menjelaskan bagaimana preferensi rasa manis dimulai. Penelitian juga menunjukkan bahwa bayi mengalami relaksasi dan ketenangan setelah mencicipi sesuatu yang manis.

Paparan awal terhadap makanan manis tidak hanya menyebabkan peningkatan preferensi untuk anak-anak, tetapi juga preferensi untuk kadar gula yang lebih tinggi dalam makanan. Respons kesenangan di otak diaktifkan oleh makanan yang sangat enak, seperti yang mengandung gula, lemak, dan garam. Komponen makanan ini memicu bahan kimia otak yaitu dopamine yang memberikan efek kesenangan untuk tubuh. Begitu anak-anak mengalami kesenangan dari makan makanan tertentu, mereka mungkin merasakan keinginan untuk memakannya lagi.

Di Indonesia banyak terdapat permen dan manisan yang tersedia untuk anak-anak, yang seringkali menggunakan bahan pewarna makanan. BPOM telah mengatur dan menjamin keamanan pewarna makanan buatan yang beredar, sehingga makanan dengan pewarna makanan dianggap aman untuk dikonsumsi.

Namun, beberapa anak dapat mengalami perubahan perilaku, seperti hiperaktif, ketika mereka mengkonsumsi makanan dengan warna makanan buatan. Apalagi anak dengan  ADHD, mungkin saja mengalami perilaku yang memburuk ketika makan makanan dengan pewarna makanan.

Seorang anak yang menunjukkan perubahan perilaku ketika dia makan permen, tidak selalu disebabkan oleh gula saja, walaupun memang seringkali gula menjadi pemicu utama. Asupan gula yang tinggi akan meningkatkan kadar dopamin dalam tubuh,  lalu dengan cepat turun ketika kadar gula darahnya merosot. Penurunan gula darah yang cepat ini dapat menimbulkan perubahan perilaku seperti mengamuk, berakting, merengek, atau perilaku negatif lainnya. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa anak tampak lebih sensitif terhadap gula dibandingkan anak lainnya.

Permen tentu saja meningkatkan total kalori asupan dalam diet anak, tetapi hanya memberikan sedikit nutrisi. Rekomendasi gula untuk anak-anak adalah dari 3 hingga 8 sendok teh gula setiap hari, tergantung pada usia. Kenyataannya, sekarang anak yang berusia kurang dari 1 tahun dapat mengkonsumsi gula 3-4 kali lipat dari rekomendasinya. Bahkan jumlah konsumsi gula ini dapat mencapai 21 sendok teh per hari untuk usia 4 -8 tahun dan 34 sendok teh per hari untuk remaja.

Selain gula dalam permen, perhatikan juga gula tersembunyi dalam makanan anak-anak sehari-hari yang tampak dan dipasarkan sebagai jenis makanan sehat seperti yoghurt buah, jus buah, saus buah MPASI, saus spageti, sereal, dan granola.

Gula tersembunyi tersebut tentu saja juga menambah total kalori harian untuk anak.

Strategi terbaik untuk mengendalikan asupan permen (gula) untuk anak adalah dengan memiliki kebijakan di rumah Anda masing-masing. Idealnya, pemberian permen dan makanan/minuman tinggi gula sudah direncanakan kapan akan disajikan, dengan menentukan frekuensi dan jumlah yang boleh dikonsumsi sehingga kesehatan anak tidak terganggu.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, Sp.GK

Bolehkah Anak-Anak Minum Teh?

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo, Keluarga Kejora!

Saat Ayah dan Ibu Kejora kecil dulu, apakah sering disiapkan teh manis hangat oleh Kakek dan Nenek di pagi hari? Tapi, sebenarnya anak-anak boleh minum teh atau tidak, ya?

Yuk, kita simak tanya jawab dengan dr Juwalita Surapsari, MGizi, SpGK yang akan menjabarkan mengenai konsumsi teh pada anak-anak!

Dok, sebenarnya apa saja sih kandungan dalam teh?

“Yuk, mari kita kenali kandungan di dalam teh ya! Teh mengandung senyawa bioaktif cathecin yang termasuk dalam golongan flavonoid. Nah, dalam beberapa studi, kandungan flavonoid dalam teh disebutkan turut berkontribusi dalam menjaga fungsi sel-sel endotel pembuluh darah sehingga bermanfaat untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Kandungan lainnya adalah kafein, meskipun kadarnya jauh di bawah kafein pada kopi. Selain dua zat tersebut, teh juga diketahui mengandung zat anti-nutrisi yang harus kita pahami.”

Ternyata kandungan flavonoid dalam teh sangat bermanfaat, ya Dok, dan baru mendengar tentang zat anti-nutrisi dalam teh. Jadi, apakah yang dimaksud dengan zat anti-nutrisi, Dok?

“Ayah Ibu Kejora tidak perlu khawatir! Zat anti-nutrisi dalam teh sebenarnya tidak berbahaya, tapi berpotensi dapat mengganggu penyerapan beberapa mineral penting. Zat anti nutrisi yang ada dalam teh adalah tanin dan oksalat. Tanin sebenarnya merupakan senyawa antioksidan, tapi juga diketahui dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme yang asalnya dari sumber nabati (seperti yang terkandung dalam sayur bayam, bit, kacang-kacangan, dan makanan yang difortifikasi). Zat anti-nutrisi dalam teh yang kedua adalah asam oksalat. Asam oksalat ini dapat menghambat penyerapan kalsium dalam makanan.”

Wah, kalau begitu, apakah si buah hati masih boleh minum teh, Dok?

“Boleh-boleh saja kok, Ayah dan Ibu Kejora. Tapi, perlu diperhatikan kapan waktu minum teh oleh si buah hati. Karena teh mengandung zat anti-nutrisi yang menghambat penyerapan mineral tadi, maka sebaiknya teh dikonsumsi tidak bersamaan dengan jam makan utama. Beri jarak sekitar 2 jam setelah makan agar tidak mengganggu penyerapan nutrisi penting. Selain itu, jangan biasakan si buah hati mengonsumsi teh kemasan karena biasanya teh kemasan memiliki kadar gula tinggi. Berikan saja teh yang diseduh sendiri di rumah. Untuk anak-anak yang mengalami defisiensi zat besi ataupun berisiko mengalami kekurangan kalsium karena tidak mengonsumsi dairy product, sebaiknya minimalkan konsumsi teh agar penyerapan zat gizi tetap optimal.”

Terima kasih dr. Juwalita atas penjelasannya mengenai konsumsi teh pada anak-anak. Jadi, Ayah Ibu Kejora tidak perlu khawatir lagi karena si buah hati boleh-boleh saja minum teh.

Sumber:

  1. Garbowska B, Wieczorek JK, Polak-Sliwinska M. The content of minerals, bioactive compounds and anti-nutritional factors in tea infusions. Journal of Elementology, 2017.
  2. Khan N, Mukhtar H. Tea and health: Studies in humans. Curr Pharm Des, 2013.

Editor: drg. Rizki Amalia