Penanganan Luka Jatuh Mandiri Di Rumah

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah buah hati Ayah dan Ibu Kejora pernah mengalami luka jatuh saat berada di rumah? Lalu apa yang Ayah dan Ibu lakukan?

Luka dapat terjadi karena kecorobohohan, ketidaksengajaan, ketidakhatian dan kecelakaan manusia. Menurut US National Inpatient Sample 2012, jatuh adalah penyebab pertama kecelakaan yang menyebabkan perawatan di rumah sakit pada usia 0-14 tahun. Luka jatuh di rumah dapat terjadi karena buah hati terjatuh dari furnitur atau saat bermain di playground.

Sumber gambar: National Inpatient Sample, 2012. Healthcare Utilization Project. Agency for Healthcare Research and Quality

 

Definisi Luka
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh atau rusaknya kesatuan/komponen jaringan.

Berdasarkan mekanisme terjadinya, luka dibagi atas:

1. Luka gores (lacerated wound)*; terjadi akibat benda tajam seperti karena goresan kaca atau kawat.

2. Luka lecet (abraded wound)*; terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.

3. Luka tembus (penetrating wound); luka yang menembus organ tubuh dan biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung lukanya melebar.

4. Luka memar (contusion wound)*; terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.

5. Luka tusuk (punctured wound); terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau, yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.

6. Luka bakar (combustio)
7. Luka gigitan dan sengatan serangga
*biasa terjadi di luka jatuh

 

Pertolongan Pertama Luka Jatuh

Pada masa pandemi seperti sekarang ini, banyak orang tua yang khawatir untuk membawa buah hatinya ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Demikian pula jika anak mengalami luka jatuh sehingga oran tua bingung harus melakukan apa. Padahal, tidak semua luka jatuh perlu di bawa ke rumah sakit dan bisa dirawat oleh Ayah dan Ibu sendiri di rumah.
Hal-hal yang bisa dilakukan jika buah hati Ayah dan Ibu Kejora mengalami luka jatuh di antaranya:

  1. Jangan panik, bawa buah hati ke tempat aman dan tenangkan
  2. Atasi perdarahan dengan memberikan penekanan terus menerus selama lebih kurang 5 menit dengan kain kering yang bersih
  3. Berikan antinyeri secara simultan
  4. Bersihkan luka dengan air mengalir, bila memungkinkan dapat gunakan sabun bayi atau povidone iodine yang diencerkan
  5. Balut
  6. Kompres

 

Cara Memilih Balutan

Memilih balutan harus disesuaikan dengan jenis lukanya ya, Ayah dan Bunda.

1. Luka Gores

Prinsip balutan pada luka gores:

  • Mendekatkan tepi luka semaksimal mungkin dengan bantuan sterile strip/hypoallergenic tape
  • Menjaga suasana area luka menjadi lembab agar kondusif untuk prnyembuhan. Balutan harus dapat menyerap bila luka diprediksi akan basah atau memberi kelembaban bila luka kering.
    Contoh: penggunaan tulle-kassa-plester
    .

 

2. Luka Lecet

Bersihkan luka dengan lebih adekuat. Selama 2-3 hari pertama akan eksudatif sehingga lebih baik menggunakan tulle dan kassa lalu fiksasi dengan plester. Setelah 3 hari, oles salep sampai tulle lepas dengan sendirinya. Selain itu dapat juga digunakan hydrocolloid

hydrocolloid

3. Luka Memar

Penanganan luka memar yaitu dengan heparin topikal.

Balutan diganti apabila:

  • Kotor
  • Berbau tidak sedap
  • Lepas atau longgar
  • Demam tanpa alasan lain yang jelas
  • Tidak lebih dari 5 hari karena dapat menyebabkan kolonisasi kuman

 

Tanda Bahaya Jatuh

Apabila buah hati Ayah dan Ibu jatuh dan mengalami gejala-gejala di bawah ini, maka sebaiknya Ayah dan Ibu membawa buah hati segera ke rumah sakit. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Kejang
  • Mata juling
  • Meracau
  • Muntah berulang
  • Penglihatan berkurang
  • Tidak sadarkan diri
  • Tidur lama atau sulit dibangunkan
  • Bagian tubuh tidak dapat digerakkan dan nyeri hebat
  • Perdarahan yang sulit dihentikan
  • Perlu penjahitan; terutama jika luka pada area wajah, sendi, luka di area tidak longgar atau memiliki risiko terbentuk jaringan parut berlebih.

 

Ayah dan Ibu dapat melakukan pengawasan selama 2-3 hari.

Referensi:
Theddeus O.H Prasetyono, Panduan Klinis Manajemen Luka. ECG, Jakarta, 2016.
National Inpatient Sample, Healthcare Utilization Project. Agency for Healthcare Research and Quality. 2012

Perawatan Luka

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo keluarga Kejora! Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang anak dapat terjatuh dan mengalami luka ringan. Tahukah Ayah dan Ibu tentang cara merawat luka yang benar? Apakah mengoleskan minyak tradisional maupun minyak esensial pada luka tersebut dapat membantu penyembuhannya? Pembahasan berikut ini akan menjawab kedua pertanyaan tersebut.

 

Luka merupakan suatu kondisi yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Luka terjadi akibat kerusakan jaringan kulit dan gangguan fungsi kulit sebagai salah satu pertahanan tubuh. Jika suatu bagian tubuh mengalami luka, maka respons tubuh terhadap luka tersebut adalah memulai proses penyembuhannya, mulai dari pembekuan darah, pembentukan fibrin, sampai dengan pembentukan jaringan parut. Penyembuhan luka dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain penyebab terjadinya luka, status gizi, adanya penyakit penyerta (seperti diabetes, penyakit autoimun), lokasi, dan ukuran luka. Selain itu, usia juga mempengaruhi lama penyembuhan luka. Penyembuhan luka pada anak pada umumnya lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, produksi kolagen dan elastin pada proses penyembuhan luka anak juga lebih banyak.

 

Penanganan luka meliputi beberapa hal, antara lain: menghentikan perdarahan, mencegah terjadinya infeksi dan pengenalan tanda infeksi, serta membalut luka. Penghentian perdarahan dapat dilakukan dengan melakukan penekanan langsung pada bagian yang luka. Hal ini tentu dengan memperhatikan kebersihan agar luka tidak terinfeksi. Pencegahan infeksi juga dilakukan dengan membersihkan luka dengan air dan larutan antiseptik, serta membersihkan kulit di sekitar luka dengan air dan sabun. Dalam proses penyembuhannya, luka perlu dievaluasi secara rutin apakah terdapat tanda-tanda infeksi, yaitu terdapat bengkak, kulit di sekitar luka teraba lebih panas dibandingkan dengan kulit pada bagian lain, kemerahan,nyeri, dan ada atau tidaknya nanah. Jika terdapat tanda-tanda infeksi tersebut, segera periksakan kondisi luka ke dokter untuk dilakukan penanganan yang meliputi pembersihan luka dengan lebih seksama dan pemberian antibiotik untuk meredakan infeksi. Cara membalut luka bergantung pada jenis dan kapan luka terjadi. Jika luka baru terjadi dan telah dibersihkan dengan baik, maka dapat dibalut tertutup (misalnya dengan kasa dan plester atau plester saja jika lukanya kecil). Luka akibat benda asing atau gigitan binatang, sebaiknya dibiarkan terbuka. Luka yang bernanah, sebaiknya dibalut dengan kasa lembab dan balutannya diganti secara berkala.

 

Lalu, bagaimana dengan mengoleskan luka dengan minyak tradisional atau minyak esensial yang banyak beredar di pasaran? Meskipun minyak tradisional ini banyak digunakan untuk mengobati luka dalam masyarakat, belum ada penelitian ilmiah yang menjelaskan perannya dalam mengobati luka. Sejauh ini, pendapat mengenai penggunaan minyak tradisional pada luka masih berdasarkan pengalaman dan pengamatan. Hal serupa juga berlaku untuk minyak esensial. Terdapat pendapat bahwa minyak esensial yang mengandung bahan tertentu (seperti lavender, chamomile Jerman) dapat membantu penyembuhan luka, namun penelitian yang menjelaskan peran kandungan tersebut secara ilmiah dalam penyembuhan luka masih terbatas pada hewan coba dan belum teruji meyakinkan secara klinis.

 

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk Ayah dan Ibu dalam menangani luka ringan! Salam sehat Kejora!

 

Sumber:

http://www.ichrc.org/932-prinsip-perawatan-luka

Kerr, J. The use of essential oils in healing wounds. The International Journal of Aromatherapy. 2003; 12 (4): 202-206.

HSE National Wound Management Guidelines 2018.(https://www.hse.ie/eng/services/publications/nursingmidwifery%20services/wound-management-guidelines-2018.pdf)