Apa itu Lasik?

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora? Kalau di bulan-bulan kemarin saya membahas tentang kelainan yang dapat terjadi pada mata, pada bulan Maret ini saya akan bahas tentang salah satu prosedur operasi mata yang paling popular di antara orang awam yaitu LASIK. Pasti ayah dan ibu akan bertanya-tanya, kapan sih dok anak saya boleh di LASIK ? Minimal ukuran kacamatanya berapa ya dok? Apakah sakit dok di LASIK? Berapa lama prosesnya? Setelah LASIK bisa balik lagikah dok pakai kacamata lagi? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sering ditanyakan oleh orang tua ataupun pasien sendiri. LASIK ini merupakan prosedur operasi paling popular di dunia, menurut American Academy Ophthalmology (AAO) dilakukan sekitar 700.000 prosedur LASIK setiap tahunnya di US karena hamper setengah dari populasi yang berusia 20 tahun ke atas di US menderita kelainan refraksi. Sementara di Indonesia sendiri kelainan refraksi menjadi penyebab kebutaan ketiga terbanyak setelah katarak dan Glaukoma. Yuk mari sedikit kita bahas tentang Apa itu LASIK?, Apa saja syarat untuk menjadi kandidat LASIK? Bagaimana prosedur/tahapan-tahapan LASIK? Apa saja kontraindikasi dan komplikasi dari tindakan LASIK?

Definisi

LASIK sendiri berasal dari bahasa Yunani dan merupakan kepanjangan dari Laser In Situ Keratomileusis. LASIK merupakan salah satu prosedur operasi mata yang digunakan untuk mengkoreksi kelainan refraksi dengan menggunakan teknologi laser. Kelainan refraksi yang dimaksud adalah rabun dekat (hypermetropia), rabun jauh (miopia) dan silinder (astigmatisma). Tujuan dari LASIK adalah pasien dapat terbebas dari kacamata ataupun lensa kontak untuk dapat melihat jelas.

Anatomi

Tindakan operasi LASIK dilakukan pada organ mata yang disebut kornea. Kornea memliki 5 lapis antara lain:

  1. Epitel
  2. Membran bowman
  3. Stroma
  4. Membran Descemet
  5. Endotel

Tahapan-tahapan pada LASIK

Tindakan LASIK memerlukan waktu kurang lebih 20 menit untuk kedua mata. Walaupun tindakan LASIK ini membutuhkan waktu yang singkat, namun penting sekali bagi pasien untuk kooperatif terhadap instruksi dari operator selama tindakan. Anestesi yang digunakan pada prosedur LASIK adalah anestesi topikal yaitu obat tetes.

Tahapan-tahapan LASIK antara lain:

    1. Tahap pertama adalah membuat lapisan pada kornea yang disebut flap dengan menggunakan teknologi femtosecond laser. Femtosecond laser adalah sinar infra red yang memiliki kemampuan sangat akurat dengan tingkat panas yang sangat rendah. Femtosecond laser bekerja dalam ultra short impulses of light dan dapat membuat lubang sekecil 1/100 mm hanya dalam ¼ triliun per detik.
    2. Tahap kedua setelah flap terbuka maka dilakukan penyinaran laser pada bagian stroma kornea untuk mengubah bentuk kornea yang bertujuan untuk menghilangkan kelainan refraksi (minus, plus dan silinder) dengan teknologi Excimer Laser
    3. Tahap ketiga setelah penyinaran selesai, flap dikembalikan ke posisi awal.
    4. Dalam waktu kurang dari 3 menit, flap akan melekat dengan kornea kembali tanpa perlu dijahit

Kandidat LASIK yang ideal

  1. Disarankan pada usia minimal 18 tahun dan memiliki ukuran kacamata/lensa kontak yang stabil selama paling tidak 1 tahun terakhir
  2. Kedua mata harus dalam keadaan sehat
  3. Melepas lensa kontak lunak (soft contact-lens) selama 14 hari atau lensa kontak keras (hard contact-lens) selama 30 hari berturut-turut sebelum dilakukan tindakan LASIK
  4. Tidak sedang hamil atau menyusui
  5. Sudah mendapatkan
    informasi yang adekuat tentang keuntungan dan risiko dari prosedur LASIK

Kandidat LASIK yang kurang ideal (Less than ideal)

  1. Pasien -pasien dengan mata kering (dry eyes) karena setelah tindakan LASIK akan memperberat keadaan mata keringnya
  2. Pasien-pasien yang memiliki kelainan autoimun, pasien yang mengonsumsi obat steroid atau imunosupressan: dapat memperlambat proses penyembuhan
  3. Pasien pasien yang memiliki luka/jaringan parut pada kornea: hasil tidak akan maksimal
  4. Pasien – pasien yang memiliki risiko trauma tinggi seperti atlit-atlit olahraga dengan kontak (contact sports): risiko terjadi dislokasi dari flap LASIK

Kontraindikasi LASIK/non kandidat LASIK

  1. Pasien yang memiliki kelainan katarak
  2. Pasien yang memiliki kelainan glaukoma stadium akhir
  3. Pasien yang memiliki kelainan kornea dan penipisan kornea (Keratoconus atau pellucid Marginal Degeneration)
  4. Patients with unrealistic expectations

LASIK itu bisa mengkoreksi sampai berapa dioptri?

  1. Pada pasien miopia: sampai -12 D
  2. Pada pasien hipermetropia: sampai +6 D
  3. Pada pasien astigmatism: sampai silinder 6 D

Namun 3 hal di atas ini tidak mutlak melainkan disesuaikan dengan keadaan kornea mata kita melalui pemeriksaan pre-LASIK. Pemeriksaan pre LASIK yang dibutuhkan:

  1. Pemeriksaan tajam penglihatan terbaik
  2. Pemeriksaan tekanan bola mata
  3. Pemeriksaan segmen anterior mata
  4. Pemeriksaan topografi kornea
  5. Pemeriksaan ketebalan kornea
  6. Pemeriksaan pupil
  7. Pemeriksaan saraf mata (retina)
  8. Assessment for Dry Eye Syndrome

Semua pemeriksaan ini harus dilakukan sebelum tindakan LASIK dilakukan.

Komplikasi dan efek samping LASIK

  1. Koreksi yang berlebihan atau kurang (over/under correction)
  2. Pandangan glare/halos
  3. Dry Eye Syndrome
  4. Infeksi pada kornea
  5. Inflamasi
  6. Masalah pada flap (flap bolong, flap berlipat atau flap hilang)
  7. Ectasia atau bulging of cornea
  8. Sensitif terhadap cahaya
  9. Rasa tidak nyaman /nyeri
  10. Penglihatan malam yang buruk/kesulitan untuk berkendara pada malam hari
  11. Penurunan sensitivitas kontras penglihatan

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Referensi :

1. American Academy of Ophthalmology. Is LASIK for Me? A Patient’s Guide to Refractive Surgery. San Francisco: American Academy of Ophthalmology, 2008. Available at: http://www.aao.org/upload/LASIK_guide.pdf
2. American Academy of Ophthalmology. Refractive Errors & Refractive Surgery, Preferred Practice Pattern. San Francisco: American Academy of Ophthalmology, 2007. Available at: http://one.aao.org/CE/PracticeGuidelines/PPP_Content.aspx?cid=e6930284-2c41-48d5-afd2- 631dec58628
3. Sakimoto T, Rosenblatt MI, Azar DT. Laser eye surgery for refractive errors. Lancet. 2006 Apr 29;367(9520):1432-47. PubMed PMID: 16650653
4. Vitale S, Ellwein L, Cotch MF, Ferris FL 3rd, Sperduto R. Prevalence of refractive error in the United States, 1999-2004. Arch Ophthalmol. 2008 Aug;126(8):1111-9. PubMed PMID: 18695106
5. Steinert RF, Koch D, Lane S, Stulting R. Lasik Surgery Screening Guidelines For Patients. Eye Surgery Education Council. Available at : https://med.virginia.edu/ophthalmology/wp-content/uploads/sites/295/2018/01/LASIK-guidelines-for-patients.pdf

Ptosis Kongenital

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora? Kalau di beberapa bulan sebelum ini saya membahas tentang infeksi dan trauma , kali ini saya akan coba membahas mengenai salah satu kelainan bawaan yang dapat terjadi pada mata anak, yaitu ptosis kongenital. Kelainan kongenital merupakan suatu kondisi yang tidak normal/cacat bawaan yang terjadi saat lahir atau pada masa perkembangan janin. Kelainan kongenital itu banyak sekali, salah satu yang bisa terjadi pada mata adalah kondisi yang dinamakan ptosis. Mungkin ayah dan ibu Kejora jarang mendengar tentang kelainan ini karena jumlah kasus tidak banyak seperti kasus infeksi ataupun trauma namun kondisi ini penting untuk diketahui apabila terjadi pada anak kita sendiri ataupun keluarga kita, karena dapat mempengaruhi perkembangan penglihatan seorang anak. Ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa itu ptosis, penyebab dan apa yang harus dilakukan apabila menemukan kasus ptosis ini.

Definisi

Ptosis merupakan keadaan turunnya kelopak mata atas di bawah kedudukan normal yang dapat terjadi pada satu atau kedua mata dan dapat menutupi jalur penglihatan ataupun tidak. Ptosis kongenital merupakan ptosis yang terjadi akibat kegagalan pertumbuhan dari otot yang berfungsi untuk membuka kelopak mata (levator palpebra superior) seperti pada gambar 1 yang diberi kotak merah.

Gambar 1. Gambaran anatomi kelopak mata

Ptosis kongenital ini muncul pada saat lahir atau pada usia 1 tahun pertama. Ptosis memiliki jenis/etiologi yang beragam namun kali ini saya hanya membahas ptosis kongenital karena ptosis ini banyak ditemukan pada anak-anak. Ptosis kongenital ini jarang, angka kejadiannya di katakan 1 banding 842 kelahiran. Dari kepustakaan lain disebutkan prevalensi ptosis kongenital pada populasi umum sebesar 0,18-1,41%. Gambar 2 di bawah ini merupakan gambaran ptosis unilateral/satu mata dan ptosis bilateral/kedua mata.

Gambar 2. Gambaran Ptosis kongenita. A. Ptosis unilateral , B. Ptosis bilateral

Tanda dan Gejala

  1. Kelopak mata turun pada salah satu ataupun kedua mata/ kelopak mata tidak simetris (gambar 2)
  2. Kelopak mata yang turun dapat menutupi sebagian/seluruh pupil (anak mata) (gambar 3)

Gambar 3. Gambaran A. Ptosis yang muntupi seluruh pupil  , B. Ptosis yang menutupi sebagian pupil

  1. Tidak ditemukan lipatan kelopak/lid crease
  2. Pada saat melihat kebawah di dapatkan kedudukan kelopak mata yang lebih tinggi pada mata yang mengalami ptosis (lid lag)
  3. Penglihatan tidak optimal/buram/tidak jelas à terutama pada ptosis yang berat/yang sudah menutupi pupil/jalur penglihatan

Tatalaksana

Ayah dan ibu kejora tatalaksana dari ptosis kongenital ini ada 2 , yaitu:

  1. Tindakan bedah/ operasi.
  2. Observasi : pada kasus dimana kondisi ptosisnya tidak berat/tidak menutupi pupil/jalur penglihatan

Pada ptosis kongenital ini yang paling ditakutkan adalah ptosis ini dapat menutupi jalur penglihatan sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada perkembangan penglihatan mata anak atau dapat menjadi mata malas. Kondisi ini terutama terjadi pada pasien ptosis unilateral/pada satu mata.

Yang paling penting untuk diketahui oleh ayah dan ibu kejora adalah (1) kenali kelainan ptosis ini dan (2) apabila anak atau sanak saudara ada yang memiliki kelainan ini segeralah bawa ke dokter Mataà jangan menunda!!!. Karena apabila terlambat dan sudah terjadi mata malas àkondisi penglihatan anak sudah tidak dapat optimal kembali, hal ini dapat mempengaruhi kemampuan belajar dan masa depan anak di sekolah.

Yang paling banyak di tanyakan oleh orang tua pasien apabila kondisi ptosisnya sudah berat adalah kapan waktu yang tepat untuk dilakukan operasi ptosis??

  • Apabila anak menderita ptosis unilateral: operasi harus dilakukan segera karena dapat mengancam perkembangan penglihatan / risiko untuk menjadi mata malas.
  • Apabila anak menderita ptosis bilateral: operasi dapat ditunda sampai anak usia 4 tahun atau sebelum masuk sekolah karena pada ptosis bilateral terdapat mekanisme chin-up sehingga risiko menjadi mata malas lebih kecil dan pada usia 4 tahun sehingga pengukuran dan pemeriksaan kelopak mata dapat dilakukan lebih akurat.

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes, Sp.PM

Referensi:

  1. American Academy of Ophthalmology staff. Eyelid disorder. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Pediatric ophthalmology and Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 200-1
  2. American Academy of Ophthalmology staff. Periocular Malpositon and Involutional Changes. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Orbit, eyelid and Lacrimal System. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 201-6
  3. Marenco M, Macchi I, Galassi E, Giordano M, Lambiase A. Clinical presentation and management of congenital ptosis. Clin Ophthalmol.2017;11:453-63
  4. Wang Y, Xu Y, Liu X, Lou L, Ye J. Amblyopia, Starbismus and refractive errors in Congenital Ptosis : a systematic review and metanalysis. Sci Rep 2018; 8: 8320
  5. SooHoo JR, Davies BW, Allard FD, Durairaj VD. Congenital Ptosis. Surv ophthalmol ; 2014;59(8): 483-92
  6. Raj A, Maitreya A, Bahadur H. Congenital ptosis : etiology and its management. Int J Ocular Oncology and Oculoplasty 2017; 3(1):8-13

 

Apakah Perdarahan Subkonjungtiva pada Anak Berbahaya?

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Bulan September ini topik mata yang akan dibahas adalah tentang perdarahan subkonjungtiva.

Apakah ayah dan ibu kejora tahu tentang perdarahan subkonjungtiva ?

Kenapa saya mengangkat topik ini karena kelainan ini sering membuat orang-orang khawatir apalagi bila terjadi pada anak kita sendiri. Kelainan ini dapat terjadi tiba-tiba tanpa disadari dan karena kelainan ini tidak terasa nyeri/sakit dan tidak mengakibatkan penurunan penglihatan kadang anak tidak menyadari namun orang lain seperti orang tua atau guru di sekolah yang panik melihat mata anak tiba-tiba tampak berdarah di bagian putihnya. Perdarahan subkonjungtiva ini terjadi pada lapisan di bawah konjungtiva (antara konjungtiva dan episklera). Pada lapisan tersebut banyak terdapat pembuluh darah sehingga apabila terjadi gesekan dapat pecah dan timbul perdarahan. Ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa itu perdarahan subkonjungtiva, penyebabnya dan faktor risiko apa saja dan bagaimana penanganannya.

Apa yang dimaksud perdarahan subkonjungtiva ?

Perdarahan subkonjungtiva merupakan suatu keadaan pecahnya pembuluh darah pada lapisan antara konjungtiva dan episklera. Kelainan ini timbul tiba-tiba/akut, tanpa disertai nyeri dan buram pada mata. Insiden perdarahan subkonjungtiva ini dilaporkan sebesar 2.9% diantara 8726 pasien dan meningkat seiring dengan pertambahan usia banyak ditemukan pada sisi temporal mata. Perdarahan subkonjungtiva dikatakan lebih banyak ditemukan pada laki-laki pada tipe traumatik dan pada perempuan pada perdarahan subkonjungtiva non traumatik. Meskipun dari kepustakaan dikatakan lebih banyak terjadi pada usia dewasa tua namun kondisi ini cukup membuat kepanikan terutama bila terjadi pada anak-anak.

 

Gambar 1. Gambaran lapisan konjungtiva pada mata normal

Apa penyebab dari perdarahan subkonjungtiva?

Penyebab perdarahan subkonjungtiva antara lain :

  1. Trauma mekanik (paling sering) àterkena benturan mainan, tersikut teman saat bermain , terkena lemparan bola, terpukul, terbentur, ataupun mengucek mata
  2. Infeksi konjungtiva /konjungtivitis
  3. Batuk kencang
  4. Bersin
  5. Muntah
  6. Mengedan/mengejan
  7. Mengangkat barang berat

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kelainan ini sebetulnya lebih banyak ditemukan pada usia dewasa-tua. Sehingga ada beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan perdarahan subkonjungtiva ini antara  lain :

  1. Tekanan darah tinggi
  2. Kencing manis
  3. Konsumsi obat pengencer darah (aspilet, aspirin, clopidogrel, Plavix)
  4. Gangguan jantung
  5. Gangguan darah

Apa saja tanda dan gejala dari perdarahan subkonjungtiva?

  1. Gambaran perdarahan/merah darah pada bagian putih mata
  2. Tidak terasa sakit
  3. Tidak mengganggu penglihatan
  4. Terjadi secara tiba-tiba (setelah trauma atau penyebab lain)

Gambar 2. Gambaran perdarahan subkonjungtiva yang ringan (sebagian konjungtiva)

Gambar 3. Gambaran perdarahan subkonjungtiva yang berat (seluruh konjungtiva)

Bagaimana menangani perdarahan subkonjungtiva pada anak?

Ayah dan ibu kejora, perdarahan konjungtiva ini memang tidak sering terjadi namun seperti yang saya tuliskan di atas kondisi ini cukup mengakibatkan kepanikan pada setiap orang yang mengalaminya terutama bila terjadi pada anak-anak.

Sebenarnya perdarahan subkonjungtiva ini dapat sembuh sendiri tanpa obat namun membutuhkan waktu yang tidak cepat yaitu kurang lebih 14 hari atau 2 minggu. Mekanismenya adalah darah pada lapisan subkonjungtiva tersebut akan diserap perlahan oleh tubuh kita sendiri. Terapi-terapi yang diberikan bertujuan untuk mempercepat terjadinya penyerapan dari darah tersebut. Terapi yang biasa diberikan oleh dokter mata adalah terapi konservatif antara lain :

  1. Air mata buatan/ Artificial tears
  2. Antibiotik tetes : untuk mencegah infeksi sekunder
  3. Agen-agen untuk pembekuan darah : asam traneksamat
  4. Obat untuk mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriktor)

Gambar 3. Gambaran kuning pada bagian atas konjungtiva menunjukkan proses penyerapan/penyembuhan

Jadi ayah dan ibu Kejora jangan panik bila menemukan mata anak tampak berdarah setelah bermain/jatuh, tetap tenang dan segeralah bawa ke dokter mata untuk memastikan kondisi tersebut

Referensi :

  1. Keskek NS, Cevher S, Ergin A. Analysis of subconjunctival hemorrhage. Pak J Med Sci 2013; 29(1):132-4
  2. Tarlan B, Kiratli H. Subconjunvtival haemorrhage : risk factor and potential indicators. Clinical ophthalmol 2013;7 : 1163-70
  3. Oxford eye hospital staff. Subconjunctival haemorrhage. 2009. Available from : https://www.ouh.nhs.uk/patient-guide/leaflets/files/100322haemorrhage.pdf
  4. Manchester university staff. Subconjunctival haemorrhage. 2017. Available from : https://mft.nhs.uk/app/uploads/sites/2/2018/04/REH-104.pdf

Erosi Kornea, Cedera Mata yang Sering Terjadi pada Anak

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora… Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Oh ya ayah dan ibu Kejora erosi kornea ini cukup sering terjadi pada anak-anak, karena anak masih belum awas terhadap barang-barang yang mereka mainkan apalagi bila sedang bermain dengan teman-teman di sekolah maupun di tempat umum. Erosi kornea bisa terjadi jika tercolok jari teman sekolah, tidak sengaja terkena lemparan mainan teman dan lain sebagainya. Erosi kornea terjadi pada salah satu bagian dari organ mata yang penting untuk penglihatan yaitu kornea. Kornea adalah lapisan mata yang tidak memiliki warna/bening yang berada paling depan. Erosi atau abrasi kornea sering terjadi dimana 80% kasus mata yang datang ke unit gawat darurat, adalah karena erosi ini. Nah ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa sih erosi/abrasi kornea itu dan penyebabnya apa saja dan bagaimana penanganannya.

Apa yang dimaksud dengan Erosi Kornea?

Erosi atau abrasi kornea merupakan terkelupasnya/robeknya lapisan paling atas/depan dari kornea yaitu lapisan epitel. Lapisan kornea terdiri dari banyak ujung-ujung saraf sehingga apabila terjadi erosi maka akan terasa sakit dan perih sekali. Jadi Ayah dan ibu kejora jika sang buah hati menangis kencang setelah bermain dengan teman-temannya dan tidak mau membuka matanya karena sakit waspadalah mungkin matanya mengalami erosi kornea ini.

Gambar 1. Gambaran lapisan-lapisan pada kornea, erosi kornea terjadi pada lapisan epitel (diberi tanda box)

Gambar 2. Gambaran erosi atau abrasi kornea

Apa saja yang dapat menyebabkan Erosi kornea?

Erosi kornea biasanya terjadi akibat trauma mekanik yang antara lain adalah :

  1. Tercolok jari/fingernails (paling sering)
  2. Terkena lemparan benda asing ke arah mata dengan kecepatan yang tinggi
  3. Menggosok-gosok mata terlalu kuat
  4. Terkelupas pada saat mencopot lensa kontak (biasanya pada pengguna lensa kontak, jarang terjadi pada anak)

Apa saja tanda dan gejala jika sang buah hati mengalami Erosi kornea?

  1. Sangat nyeri/sakit -> kadang sampai mata sulit untuk dibuka
  2. Mata menjadi berair
  3. Mata menjadi merah
  4. Mata terasa perih
  5. Pandangan buram
  6. Mata menjadi sensitive terhadap cahaya/sinar (fotofobia)

Gambar 3. Tanda erosi kornea -> mata merah, berair, erosi (gambaran warna hijau merupakan area yang mengalami erosi)

Apa penanganan yang dilakukan jika sang buah hati mengalami Erosi kornea?

Ayah dan ibu kejora, erosi kornea cukup sering terjadi pada anak-anak karena kadang kita tidak dapat mengontrol anak 100 persen bila mereka sedang bermain di sekolah maupaun di tempat bermain umum dan kadang anak-anak masih belum tahu bahaya dari mainan yang mereka mainkan. Apabila anak-anak ayah dan ibu kejora tiba-tiba menangis kesakitan setelah terlempar mainan oleh temannya atau tidak sengaja tercolok jari temannya, segeralah bawa ke dokter mata. Erosi kornea dapat sembuh sempurna tanpa meninggalkan bekas.

Penanganan yang dilakukan dokter jika terjadi erosi kornea adalah :

  1. Dilakukan patching kencang dengan perban selama 8 jam

Gambar 4. Patching therapy

  1. Dipasang bandage contact lens selama 1-3 hari


Gambar 5. Bandage lens therapy

  1. Diberikan obat tetes antibiotik
  2. Diberikan obat tetes pelembab (artificial tears).

Penggunaan patching atau lensa kontak ditentukan dari luasnya erosi kornea dan apakah si anak kooperatif atau tidak. Biasanya bila erosinya luas dan anak kooperatif dapat dilakukan pemasangan lensa kontak. Pemasangan lensa kontak atau pemberian patching kencang bertujuan untuk memberikan ruang dan waktu bagi epitel kornea untuk melakukan regenerasi. Penyembuhan/ regenerasi dari epitel kornea antara 24 – 48 jam.

Sumber :

  1. American Academy of Ophthalmology staff. The eye. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Fundamental and principle of ophthalmology. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 38-9
  2. Boyd K. What is corneal erosion ?. 2019. Available from https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-corneal-erosion
  3. Wilman D, Melnason SW. Corneal injury . Available from : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459283/
  4. Guy’ and St Thomas’ NHS staff. Corneal abrasion. 2018. Available from : https://www.guysandstthomas.nhs.uk/resources/patient-information/eye/corneal-abrasion.pdf
  5. Wilson E. Pediatric cataracts : overview. 2015. Available from : https://www.aao.org/disease-review/pediatric-cataracts-overview

Katarak pada Anak

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Apa kabar Keluarga Kejora? Bulan Februari ini topik mata yang akan dibahas adalah tentang katarak. Mungkin Ayah dan Ibu bingung, “Emangnya katarak bisa terjadi pada anak?Bukannya katarak itu identik dengan penyakit pada orang tua?”

Nah, mari kita simak perbincangan kita kali ini dengan dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM.

Dok, benarkah katarak bisa terjadi pada anak?

Ya, betul sekali…katarak bisa terjadi dari usia berapapun, bahkan pada bayi yang baru lahir.

katarak yang terjadi pada anak ini biasanya dikenal dengan istilah pediatric cataract.

Katarak itu apa sih Dok?

Katarak adalah suatu kondisi kekeruhan lensa mata saat seharusnya lensa ini jernih dan transparan. Kekeruhan lensa ini mencegah munculnya bayangan yang jelas pada retina.1,2

Oh begitu… boleh diceritakan lebih lanjut mengenai katarak, Dok?

Tentu saja boleh… Katarak pada anak merupakan penyebab 5-20% kebutaan pada anak di dunia.3 Katarak dapat terjadi pada satu mata (unilateral) atau 2 mata sekaligus (bilateral).

Penyakit bisa terjadi pada bayi baru lahir hingga 1 tahun pertama (disebut juga katarak kongenital) ataupun pada anak diatas 1 tahun (disebut juga katarak didapat/acquired).

Katarak juga dapat berhubungan dengan penyakit sistemik, dapat muncul pada sebagian lensa (parsial) ataupun seluruh lensa (komplit).1-4

Gambar 1. Gambaran katarak pada anak: A. katarak satu mata (unilateral), B. katarak dua mata (bilateral)

Wah… kompleks juga ya kedengarannya, Dok.

Dok, kalau penyebab katarak sendiri itu apa?

Katarak memiliki penyebab yang bermacam-macam. Penyebab katarak yang terjadi pada kedua mata antara lain:

  1. Tidak diketahui sebabnya (50%) atau disebut idiopatik
  2. Ada riwayat keluarga
  3. Berhubungan dengan kelainan kromosom (Sindrom Down, Edward, atau Patau)
  4. Berhubungan dengan infeksi (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes (TORCH))
  5. Berhubungan dengan penyakit metabolik (galaktosemia, hipoparatiroid)
  6. Berhubungan dengan kelainan musculoskeletal (myotonic dystrophy)
  7. Berhubungan dengan kelainan mata lain (aniridia)

Penyebab katarak pada 1 mata (unilateral) adalah

  1. Tidak diketahui sebabnya
  2. Tanpa ada riwayat keluarga
  3. Berhubungan dengan trauma (trauma tumpul / tajam)
  4. Kelainan mata lain (Persistent fetal vasculature/PFV, posterior segment tumor)1,2,4

Oh banyak juga penyebabnya ya Dok… Lalu, bagaimana sih kita mengenali tanda dan gejala katarak itu Dok?

  1. Pandangan buram -> tidak ada fiksasi terhadap cahaya atau benda yang diberikan
  2. Tampak gambaran putih pada pupil (bagian hitam di tengah bola mata)
  3. Tampak mata menjadi juling/jereng (strabismus) -> bila terjadi katarak pada 1 mata
  4. Tampak mata bergoyang-goyang cepat (nystagmus) -> bila terjadi katarak pada 2 mata

 Gambar 2 . Perbandingan gambaran yang dilihat mata normal dan mata katarak

Nah, untuk mengetahui dan mengenali tanda dan gejala katarak pada anak memang agak sulit. Hal ini disebabkan karena anak masih terlalu kecil, anak belum mengerti, dan anak belum mampu untuk berkomunikasi. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk menilai/mengetahui jika terdapat katarak pada anak sejak dini, karena katarak pada anak dapat mengakibatkan mata malas atau penglihatan yang tidak optimal di kemudian hari. Perlu kita ingat bahwa 80% informasi yang diterima oleh otak berasal dari mata. Sehingga, penglihatan seorang anak yang tidak optimal tentu akan mengganggu masa depan anak tersebut kelak.

Pemeriksaan awal yang dilakukan itu biasanya bagaimana Dok?

Biasanya, setiap anak yang baru lahir dilakukan skrining pemeriksaan mata yaitu ada tidaknya refleks merah (red reflex) dan pemeriksaan retina dengan retinoskopi oleh dokter, dokter anak ataupun dokter spesialis mata karena kekeruhan lensa yang minimal/sebagian kadang sulit untuk diketahui dengan mata telanjang.2

Gambar 3. Red reflexpostif pada mata kanan (A) dan red reflexnegatif pada mata kiri (B)6

Gambar 4. Perbandingan antara gambaran red reflexpada mata normal (A), pada mata dengan katarak yang minimal/sebagian (B) dan pada katarak total (C)7

Apabila ada kecurigaan ke arah katarak, Dokter akan bertanya kepada Ayah atau Ibu tentang riwayat tumbuh kembang anak, adakah riwayat keluarga dengan katarak, apakah saat ibu sedang hamil mengalami infeksi TORCH, dan adakah penyakit sistemik yang diderita oleh anak.

Baiklah Dok.. lalu apakah katarak ini bisa disembuhkan dok? Bagaimana penanganannya?

Tatalaksana katarak pada anak maupun dewasa sama yaitu operasi.1-4 Pada beberapa kasus katarak yang berukuran kecil dan tidak menutupi aksis penglihatan, dapat dilakukan observasi dulu.

Duh… apakah memang harus dilakukan operasi dok? Kapan sebaiknya dilakukan operasi ini?

Operasi katarak pada anak harus dilakukan sesegara/sedini mungkin karena dapat berisiko terjadinya mata malas. Tindakan operasi pada anak dengan katarak pada 1 mata (unilateral) optimal dilakukan sebelum usia 6 minggu dan katarak pada kedua mata (bilateral) optimal dilakukan sebelum usia 10 minggu.1,2

Apakah operasi yang dilakukan sama seperti operasi pada katarak dewasa?

Terdapat sedikit perbedaan antara operasi katarak pada anak dan dewasa.

Operasi katarak pada anak usia di bawah 2 tahun dilakukan tanpa pemasangan lensa tanam, jadi hanya lensa kataraknya saja yang diambil. Selanjutnya pasien akan menggunakan kacamata afakia atau lensa kontak sebagai alat bantu untuk melihat.

Jadi, Ayah dan Ibu jangan terkejut atau heran ya bila operasi katarak pada anak dapat dilakukan lebih dari satu kali.2

Wah dok, adakah hal yang dapat kami lakukan untuk mencegah terjadinya katarak?

Sayangnya, sebagian besar kelainan katarak pada anak tidak dapat dicegah kecuali apabila penyebabnya adalah infeksi TORCH. Jadi bagi ibu yang sedang hamil, jangan lupa untuk melakukan screening TORCH yaa.. Karena infeksi TORCH yang terjadi pada saat hamil dapat mengakibatkan katarak pada bayi yang baru lahir.

Wah informasinya lengkap sekali dok.. kami jadi belajar banyak mengenai katarak pada anak. Terima kasih banyak ya dok!

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology staff. Embryology and developmental defect. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Lens and cataract. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 30
  2. American Academy of Ophthalmology staff. Childhood cataract and other pediatric lens disorder. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Pediatric ophthalmology and strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 291-303
  3. Sheeladevi S, Lawrenson JG, Fielder AR, Suttle CM. Global prevalence of childhood cataract : a systematic review. Eye (Lond). 2016 Sep; 30(9): 1160–1169.
  4. Wilson E. Pediatric cataracts : overview. 2015. Available from : https://www.aao.org/disease-review/pediatric-cataracts-overview
  5. Eye stimulation . Available from : https://discoveryeye.org/resources/vision-simulations/
  6. JR Ainswoth. How to test for the red reflex in a child. Community eye health Journal; 2014:27(86):1
  7. Pandit S. Cuases of absent red reflex in newborns. Available from : https://aptparenting.com/causes-of-absent-red-reflex-in-newborns
  8. Yorston D. Surgery for congenital cataract. Community eye health. 2004; 17(50): 23-5

Konjungtivitis

 

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora !

Kembali lagi ke topik tentang mata, bulan ini kita akan membahas tentang salah satu penyakit mata merah yang tersering yaitu konjungtivitis. Kalau Ayah dan Ibu sering mendengar “eh dia sakit mata, jangan dekat-dekat yah” seringkali orang tersebut mengalami penyakit konjungtivitis ini. Secara garis besar, penyebab konjungtivitis dibagi menjadi infeksi dan non infeksi. Namun yang lebih sering terjadi di masyarakat adalah karena infeksi. Konjungtivitis ini bisa terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia (bayi, anak, dewasa, maupun lansia), tingkat sosial ekonomi, lokasi, maupun waktu; sehingga penting sekali menjaga kebersihan diri sejak dini untuk menjaga higienitas serta mencegah penyakit menular

Yuk, mari kita mulai bahas tentang konjungtivitis ini…

Definisi

Ayah dan Ibu Kejora, salah satu penyebab mata merah yang paling sering terjadi adalah konjungtivitis. Konjungtivitis adalah suatu infeksi atau peradangan yang terjadi pada konjungtiva, suatu lapisan/membran tipis yang terletak pada bagian terdepan mata.

Gambar 1. Perbandingan mata yang normal dengan mata yang mengalami konjungtivitis

Etiologi

Konjungtivitis dapat terjadi melalui proses infeksi (oleh virus dan bakteri) maupun non infeksi. Beberapa penyebab non infeksi antara lain: alergi, mekanik/toksik/iritatif, berhubungan dengan sistem imun, serta keganasan. Konjungtivitis akibat infeksi lebih banyak ditemukan dibandingkan yang non infeksi.3

Virus penyebab konjungtivitis antara lain adalah adenovirus, herpes simpleks, varicella zoster/herpes zosterdan molluscum contagiosum.Adenovirusmerupakan penyebab konjungtivitis virus yang terbanyak (65-90%). Umumnya, konjungtivitis virus disertai dengan batuk, flu dan radang tenggorokan yang juga bersifat sangat menular. Konjungtivitis sering ditularkan melalui kontak langsung oleh jari tangan yang terkontaminasi cairan mata, penularan peralatan medis, kolam renang umum, sekolah, tempat kerja, atau tempat-tempat yang padat populasi.

Gambar 2. Gambaran konjungtivitis virus (merah, berair , dan jarang ada sekret/kotoran/belek)

Konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri juga sangat menular dan biasanya menghasilkan kotoran/sekret/belek yang banyak. Penyebab konjungtivitis bakteri ini antara lain adalah bakteri Streptococcus, Staphylococcus, H. influenzae, Moraxella catarrhalis, N. gonorrhea,dan Chlamydia trachomatis.

Gambar 3. Gambaran konjungtivitis bakteri (merah, berair, dan banyak sekret/kotoran/belek yang kental)

Jenis konjungtivitis non infeksi yang paling sering terjadi adalah konjungtivitis alergi, dengan beberapa tipenya antara lain: konjungtivitis vernal, atopic, seasonal allergicdan giant papillary conjunctivitis. Konjungtivitis alergi ini tidak menular seperti yang terjadi pada jenis infeksi. Gejala yang dominan pada konjungtivitis alergi biasanya adalah rasa gatal, mata merah, berair, dan bengkak. Penting sekali untuk mengetahui pencetus/alergen yang menyebabkan konjungtivitis ini.

Gambar 4. Gambaran konjungtivitis alergi: merah, berair, dan banyak folikel (berupa tonjolan) di bagian tarsal konjungtiva

Tanda dan Gejala

  1. Mata merah
  2. Kelopak mata bengkak
  3. Mata terasa mengganjal/ sensasi benda asing
  4. Mata berair
  5. Mata terasa gatal atau perih
  6. Mata keluar banyak kotoran /sekret/belek
  7. Mata terasa lebih silau / sensitif terhadap cahaya

Gambar 5. Perbandingan gambaran tanda dan gejala antara mata normal dan konjungtivitis

Tatalaksana

Tata laksana konjungtivitis disesuaikan dengan penyebabnya.

Pada konjungtivitis virus, gejala terberat terjadi pada 3-5 hari pertama dan pada umumnya akan sembuh dalam 7-14 hari. Ayah dan Ibu Kejora, tahukah Anda kalau konjungtivitis virus berhubungan erat dengan kondisi imunitas tubuh? Jadi, anak yang mengalami konjungtivitis disertai dengan infeksi saluran pernapasan (batuk, pilek, dan/atau radang tenggorokan) harus mendapatkan pengobatan untuk infeksi saluran pernapasannya juga. Untuk mengembalikan imunitas tubuh, Si Kecil membutuhkan istirahat dan makan yang cukup dengan pola makan teratur. Sedangkan, pengobatan untuk mata konjungtivitis sendiri pada umumnya berupa obat tetes mata antibiotik dan anti radang untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, juga air mata buatan (artificial tears) untuk mempercepat penyembuhan.

Pada konjungtivitis bakteri, meskipun keadaan lebih berat namun penyembuhannya lebih cepat yaitu antara 2-5 hari. Pengobatan yang diberikan berupa obat tetes antibiotik dan antiradang serta air mata buatan.

Tata laksana yang utama pada konjungtivitis alergi adalah menghindari pencetus atau alergen. Ayah dan Ibu Kejora yang memiliki anak dengan alergi harus mencari tahu penyebab alerginya. Si Kecil akan diberikan tetes mata anti alergi dan anti radang serta air mata buatan, dan apabila memiliki alergi berat dapat ditambahkan obat anti alergi oral.

Pencegahan

Ayah dan Ibu Kejora, mengingat sifat konjungtivitis yang sangat menular, penting sekali melakukan pencegahan terutama pada usia anak-anak yang rentan sekali terkena infeksi. Infeksi ini umumnya terjadi saat mereka sedang melakukan eksplorasi di lingkungan sekitarnya.

Jadi, berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk pencegahan konjungtivitis:

    • Ajari anak untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang mata
    • Ajari anak untuk tidak mengucek-ucek mata, katakan untuk sebisa mungkin tidak memegang mata dan sekitarnya karena kita tidak bisa menjamin kondisi tangan kita selalu bersih
    • Ajari anak untuk tidak berbagi sesuatu yang digunakan pada badan dengan teman (handuk, baju, topi, kacamata) untuk menghindari penularan
    • Jaga kesehatan tubuh (makan makanan yang bergizi dengan pola makan dan tidur yang cukup) agar sistem imun tetap terjaga sempurna sehingga terhindar dari infeksi apapun termasuk konjungtivitis.

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology and preferred pattern staff. Conjunctivitis. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Conjunctivits. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 5-11. Available from : https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiImb_R8s3eAhUDbn0KHSrKDHgQFjAAegQIBxAC&url=https%3A%2F%2Fwww.aao.org%2FAssets%2F07524e1e-859e-4862-a32f-0235f076ede0%2F635200264565170000%2Fconjunctivitis-ppp-pdf&usg=AOvVaw29zGLlA1vTHEyiGo3tZaa9
  2. Goodman DM, Rogers J, Livingstone EH. Conjunctivitis. JAMA. 2013;309(20) : 2176
  3. Boyd K. Conjunctivitis : what is pink eye ?. 2018. Available from : https://www.aao.org/eye-health/diseases/pink-eye-conjunctivitis
  4. American Academy of Ophthalmology staff. Examination techniques for the External Eye and Cornea. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. External Disease and Cornea. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2013. p. 21-5
  5. Teeple R. Seasonal Allergic Conjunctivitis. 2016. Available from : http://teepleoptometry.com/seasonal-allergic-conjunctivitis/
  6. Azari AA, Barney NP. Conjunctivitis A Systematic Review of Diagnosis and Treatment. JAMA. 2013;310(16):1721-29.

Ambliopia

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Bulan lalu kita sudah sedikit membahas tentang beberapa kelainan refraksi, kali ini kita akan membahas tentang ambliopia atau yang biasa disebut mata malas (lazy eye). Mata malas ini banyak terjadi pada anak-anak dan dapat disembuhkan apabila dapat diketahui sejak awal usia sekolah. Namun apabila ditangani terlambat, ambliopia dapat menjadi permanen. Tentunya Ayah dan Ibu tidak menginginkan anak-anak yang kita sebut sebagai aset masa depan akan memiliki penglihatan yang tidak maksimal dan nantinya mempengaruhi prestasi sekolah maupun pekerjaannya kelak, bukan?

Definisi

Ayah dan ibu mungkin jarang mendengar mengenai mata malas ini. Mata malas dalam bahasa kedokteran disebut juga sebagai ambliopia. Ambliopia adalah suatu keadaan dimana mata tidak dapat melihat sempurna setelah diberikan koreksi terbaik (dengan kacamata, lensa kontak ataupun prosedur operasi) tanpa disertai kelainan organik dari mata itu sendiri1 (gambar 1).

Gambar 1. A. Gambaran yang dilihat oleh mata ambliopia , B. Gambaran yang dilihat oleh mata normal

Ambliopia lebih sering terjadi pada 1 mata walaupun dapat terjadi pada kedua mata dengan jumlah penderita yang lebih sedikit.1 Ambliopia terjadi akibat jalur saraf penglihatan dari mata menuju otak tidak mendapatkan stimulasi yang sempurna atau tidak berkembang dengan baik selama periode kritis pertumbuhan penglihatan anak, yaitu <6 tahun.2 Dari penelitian Cowdin3 dkk. dikatakan jumlah kasus ambliopia sebesar 1,81% di Asia dan sebesar 0.35% di Yogyakarta, Indonesia.  

Derajat

Ayah dan Ibu Kejora, seperti penyakit pada umumnya, derajat ambliopia bervariasi dari ringan hingga berat (gambar 2). Ambliopia dikatakan berderajat ringan-sedang apabila didapatkan tajam penglihatan terbaik 6/9-6/24 (Gambar 2B), dan memiliki derajat berat apabila didapatkan tajam penglihatan terbaik lebih buruk atau sama dengan 6/30 (Gambar 2C)4.

Gambar 2. A.Gambaran yang terlihat pada anak normal B. Gambaran yang dilihat oleh anak ambliopia ringan C. Gambaran yang dilihat oleh anak ambliopia berat

Tipe dan etiologi

Ambliopia memiliki 3 tipe, antara lain :

(a) Ambliopia Refraktif

Gambar 3. Gambaran anak dengan ambliopia refraktif (anisometropia) yang mendapatkan terapi kacamata dan terapi oklusi

Merupakan jenis ambliopia yang muncul karena kelainan refraksi yang tidak dikoreksi secara sempurna. Ambliopia refraksi ini dapat terjadi pada kedua mata akibat kelainan refraksi berat yang sama antara kedua mata (isometropia) atau akibat perbedaan kelainan refraksi yang tidak sama (≥ 2.00 D) antara kedua mata (anisometropia)1 sehingga otak hanya memproses gambaran dari mata yang dengan koreksi yang lebih kecil atau mata yang status refraksinya lebih baik. Ambliopia jenis ini sering tidak disadari oleh anak dan orang tua karena umumnya anak tidak pernah mengeluh adanya pandangan buram dan mata tampak normal. Ambliopia jenis ini baru bisa dideteksi saat anak menjalani tes penglihatan dan mungkin terjadi secara permanen bila tidak dideteksi dan diterapi sejak awal.5,6

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ambliopia tipe ini, antara lain7,8:

  • Ambliopia pada kedua mata :
    • Miopia sebesar ≥ -3.00 D
    • Hipermetropia sebesar ≥ +4.50 D tanpa disertai strabismus dan sebesar ≥+1.50 D disertai strabismus
    • Astigmatisme sebesar ≥ 2.00 D
  • Ambliopia pada satu mata :
    • Miopia sebesar ≥ -2.00 D
    • Hipermetropia ≥ +1.50 D
    • Astigmatisme ≥ 2.00 D

(b) Ambliopia Strabismus

Gambar 4. A. strabismus kearah dalam (esotropia), B. strabismus ke arah luar (eksotropia), C. strabismus ke arah atas (hipertropia), D. strabismus ke arah bawah (hipotropi)

Gambar 5. A.Gambaran yang dihasilkan pada kedua mata normal, B. gambaran yang dihasilkan pada mata kanan normal dan mata kiri strabismus → tidak didapatkan gambar yang optimal akibatnya otak mengabaikan gambaran mata kiri

Ambliopia yang terjadi karena salah satu mata juling atau mengalami deviasi (kemiringan) ke dalam, ke luar, ke atas ataupun bawah (gambar 4). Tidak semua strabismus menyebabkan ambliopia. Strabismus yang menetap/konstan saja yang dapat mengakibatkan ambliopia.1

(c) Ambliopia stimulus deprivation

Gambar 6. Kelopak mata kiri turun

Gambar 7. Katarak mata kanan

Gambar 8. Jaringan parut pada lapisan bening mata

Ambliopia yang terjadi akibat adanya halangan/penutupan pada jalur penglihatan anak (kelopak, lapisan bening mata sampai lensa). Halangan tersebut mengakibatkan terjadinya stimulasi yang abnormal pada jalur penglihatan. Sebagai contoh untuk (1) kelopak → kelopak mata jatuh atau dalam bahasa kedokteran ptosis (gambar 6), lalu tumor/benjolan pada kelopak yang besar sehingga menutupi jalur penglihatan, (2) lapisan bening mata (kornea)(gambar 8) → adanya jaringan parut pada lapisan bening mata, (3) lensa → katarak (gambar 7)1

Tatalaksana

Tatalaksana pada ambliopia tergantung dari tipe/penyebab yang telah dijelaskan di atas. Pada ambliopia strabismus dan stimulus deprivation dilakukan tindakan operasi namun untuk ambliopia refraktif ada beberapa pilihan terapi antara lain kacamata, terapi oklusi (penutupan), dan obat-obatan. Yang paling sering digunakan adalah terapi kacamata dan terapi oklusi.9

Kacamata diberikan pada anak dengan ambliopia pada satu maupun kedua mata. Terapi kacamata saja dikatakan dapat meningkatkan tajam penglihatan pada 25-33% pasien ambliopia refraktif tipe anisometropia (keadaan status refraksi yang tidak sama antara kedua mata/timpang). Penelitian oleh Chen et al, pada 60 pasien anak usia antara 3-7 tahun yang mengalami ambliopia, didapatkan 50% pasien mengalami kesembuhan.

Terapi kacamata juga dapat dikombinasi dengan terapi oklusi (gambar 3) pada kasus ambliopia refraktif tipe anisometropia. Pada kasus ambliopia tipe ini, pasien diberikan 2 kacamata yaitu kacamata terapi disertai oklusi pada mata dengan tajam penglihatan lebih baik dan kacamata toleransi.5

Terapi oklusi dilakukan pada mata yang memiliki status refraksi lebih baik yang dilakukan selama 2 jam/hari. Hal ini dilakukan untuk merangsang mata ambliopia untuk melihat dengan optimal karena apabila tidak di lakukan terapi oklusi otak cenderung mengabaikan mata yang memiliki status refraksi lebih buruk. Tidak kalah penting pada ambliopia untuk melakukan follw-up atau kontrol rutin ke dokter spesialis mata 3 bulan, 6 bulan, dan satu tahun setelah terapi lalu selanjutnya tergantung dari perkembangan hasil status refraksi paska terapi. 1,5

JADI ……Ayah dan ibu Kejora sangatlah penting untuk mengenali dan melakukan tatalaksana ambliopia sejak dini pada saat usia masih muda karena akan memberikan hasil yang lebih stabil dan lebih baik dibandingkan apabila dilakukan pada anak dengan usia lebih tua. Hal ini berkaitan dengan periode kritis perkembangan penglihatan. Periode ini dimulai saat usia 4 bulan, mencapai puncak di usia 2 tahun kemudian menurun di usia 5 tahun, setelah itu mengalami penurunan yang ketat dan berhenti pada usia 12 tahun.10  Oleh sebab itu, penting sekali ayah dan ibu Kejora untuk melakukan skrining tajam penglihatan pada anak-anak usia antara 3-5 tahun untuk mendeteksi ambliopia lebih awal agar efek terapi menjadi maksimal.

Edited by dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Referensi :

  1. American Academy of Ophthalmology staff. Amblyopia. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Pediatric Ophthalmology and Strabismus. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2007-2008. p. 61
  2. American association for Pediatric Ophthalmology and strabismus staff. Amblyopia. March 2017. Available from https://www.aapos.org/terms/conditions/21
  3. Cowdin MK, Cotter SA, Tarczy HK, Wen G, Kim J et al. Prevalence of amblyopia or strabismus in Asian and non-hispanic white preschool children : multi ethnic pediatric eye disease study. Ophthalmology. 2013 Oct;120(10):2117-24
  4. Warris A, Amitava AK, Akhtar N, Malakar M, Kritima. Amount of anisometropia and degree of amblyopia, a correlation. India : AMU Institute of Ophthalmology. 2013; 8(1): 28-31
  5. Dadeya Subhash, Khurana Charu, Verma Lalit. Diagnosis and Treatment of Childhood Amblyopia. In : Jayadev Chaitra, editor. All India Ophthalmological Society. India : AIOS CME Series ; 2009. p.1-2
  6. Magram I. Amblyopia : Etiology, Detection, and Treatment. Pediatrics in Review. 1992 ; 13 : 7-14
  7. Collins N, Mizuiri D, Raveto J, Lum FC. Amblyopia PPP. In : Garret S, editor. American Academy of Ophthalmology Pediatric Ophthalmology/Strabismus Panel Preferred Practice Pattern® Guidelines. San Fransisco : American Academy of Ophthalmology; 2012. P. 5-13
  8. Warris A, Amitava AK, Akhtar N, Malakar M, Kritima. Amount of anisometropia and degree of amblyopia, a correlation. India : AMU Institute of Ophthalmology. 2013; 8(1): 28-31
  9. Spiegel PH, Wright KW. Visual Development and Amblyopia. In : Thompson LS, editor. Handbook of Pediatric Strabismus and Amblyopia. Chicago USA : Springer Science ; 2006. p.108-110
  10. DeSantis D. Amblyopia. In : McGregor ML, editor. Pediatric Clinics of North America. USA : Elsevier ; 2014 : 61(3); 505-6

Kelainan Refraksi pada Mata

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora… Kali ini kita akan sedikit membahas tentang kelainan refraksi yang dapat terjadi pada anak-anak.

Ayah dan ibu semua pasti bertanya kalau ada anak kecil yang menggunakan kacamata “Berapa minusnya ?” ternyata kacamata itu tidak hanya minus saja loh…yukk kita bahas.

Kelainan refraksi itu sendiri adalah suatu kelainan dimana gambaran dari benda yang kita lihat tampak buram/tidak tegas akibat dari jatuhnya bayangan dari benda yang kita lihat tidak tepat pada saraf mata (retina). Kelainan refraksi pada anak memilki 3 jenis yaitu, miopia atau yang biasa disebut rabun jauh, hipermetropia atau yang biasa disebut rabun dekat dan astigmatisme atau silinder. Terdapat 3 faktor utama yang berhubungan dengan munculnya kelainan refraksi yaitu Kornea atau lapisan bening mata , lensa mata dan Panjang bola mata sendiri. Mari kita bahas satu per satu tipe-tipe dari kelainan refraksi.

    • Miopia/rabun jauh : merupakan suatu kelainan dimana bayangan yang dihasilkan jatuh di depan saraf mata (retina). Hal ini terjadi karena (1) kornea dan lensa mata yang bekerja terlalu kuat sehingga bayangan jatuh di depan retina ; (2) panjang bola mata yang terlalu Panjang sehingga bayangan juga jatuh di depan retina
    • Hipermetropia/ rabun dekat : merupakan suatu kelainan dimana bayangan yang dihasilkan jatuh di belakang saraf mata (retina). Hal ini terjadi karena (1) kornea dan lensa mata yang bekerja terlalu lemah sehingga bayangan yang dihasilkan jatuh di belakang retina ; (2) Panjang bola mata yang terlalu pendek sehingga bayangan juga jatuh di belakang retina.
    • Astigmatisme atau silinder : merupakan suatu kelainan dimana kelengkungan dari kornea (lapisan bening mata) yang tidak sama sehingga bayangan yang dihasilkan pada retina ada lebih dari 1 fokus.

Gambar 1. A. Mata normal; B. Mata miopia ; C. Mata hipermetropia; D Mata astigmatisme

Ayah dan ibu Kejora karena kelainan refraksi ini berhubungan dengan faktor keturunan jadi apabila ayah, ibu atau kakek nenek memiliki kelainan refraksi sebaiknya dapat membawa anak-anaknya untuk dilakukan pemeriksaan mata karena kelainan refraksi ini sangat penting untuk diketahui dan di tatalaksana sejak awal agar tidak terjadi mata malas. Selain keluarga, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi yaitu pada anak yang lebih banyak melakukan aktivitas di dalam ruangan (main gadget, membaca sembari tiduran, menonton di tempat yang kurang pencahayaan) memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami miopia. Sehingga mulai sekarang perbanyak aktivitas luar ruangan untuk mencegah kelainan ini terjadi.

Suatu hal yang sulit dalam mendeteksi awal kelainan refraksi pada anak. Karena anak kadang belum mengerti untuk mengatakan bahwa ia melihat tidak jelas atau tidak fokus. Tugas ayah dan ibu kejora di rumah atau guru di sekolah sangat penting untuk memperhatikan hal-hal seperti misalnya apabila seorang anak melihat benda/mainan di rumah dengan jarak yang sangat dekat dengan mata; nilai pelajaran yang turun atau jelek karena ternyata si anak di sekolah tidak jelas melihat apa yang diajarkan oleh guru di sekolah; jalan sering menabrak karena tidak melihat benda sekitar benda pada jarak jauh; memicingkan kening saat membaca pada jarak tertentu; ataupun mengeluh sakit kepala saat belajar di sekolah.

Hal ini biasanya lebih mudah diketahui bila kelainan refraksi yang dialami sudah berat lalu bagaimana bila kelainan refraksi yang dialami masih ringan ? tentunya anak maupun ayah ibu kejora sulit untuk mengetahuinya. Sehingga sebaiknya bawalah anak untuk dilakukan screening mata pada usia pra-sekolah atau usia 4-5 tahun.

Bagaimana dengan tatalaksana dari kelainan refraksi ini ? Pada mata miopia, hipermetropia dan astigmatisme membutuhkan bantuan untuk melihat dengan jelas. Yang paling banyak digunakan adalah kacamata. Kacamata dengan ukuran minus (lensa cekung) diberikan untuk anak yang mengalami kelainan miopia, lalu kacamata dengan ukuran plus (lensa cembung) diberikan pada anak yang mengalami hipermetropia dan lensa silinder untuk anak yang mengalami astigmatisme. Kelainan refraksi miopia/hipermetropia dapat disertai dengan kelainan astigmatisme. Kacamata sebaiknya harus terus digunakan kecuali pada saat anak mandi atau tidur. Sebaiknya setelah menggunakan kacamata, anak harus kontrol ke dokter spesialis mata minimal satu tahun sekali untuk mengetahui adakah perubahan ukuran kacamata agar penglihatan selalu optimal. Jadi ayah dan ibu Kejora jangan percaya dengan mitos bahwa dengan menggunakan kacamata ukuran kacamata seorang anak akan tambah naik ataupun dapat turun , kacamata merupakan bantuan untuk melihat pada anak dengan kelainan refraksi.

Gambar 2. Koreksi kacamata lensa plus (cembung) pada hipermetropia

Gambar 3. Koreksi kacamata lensa minus (cekung) pada miopia

Gambar 4. Koreksi kacamata lensa silinder pada astigmatisme

Selain kacamata, tatalaksana lain pada kelainan refraksi ini adalah penggunaan lensa kontak, operasi LASIK dan operasi bedah refraktif lain.