Jerawat pada Anak

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Keluarga Sehat Kejora!

Topik kali ini akan membahas mengenai Jerawat pada Anak. Banyak dari Ayah dan Ibu Kejora yang mengeluhkan adanya jerawat pada sang buah hati, padahal masih belia. Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih jelas mengenai jerawat pada anak.

Apa itu Jerawat?

Jerawat (akne) adalah penyakit kulit kronik yang paling sering menyerang anak dan remaja. Jerawat terjadi karena sumbatan di saluran kelenjar minyak yang memicu peradangan dan infeksi. Sekitar 85% pasien jerawat berusia 12-24 tahun. Namun saat ini seringkali keluhan jerawat terjadi pada usia yang lebih muda, dan berikut terdapat pembagian jerawat pada anak berdasarkan usia :
1. Akne neonatus (bayi baru lahir): dari lahir sampai usia 1 bulan
2. Akne infantile : mulai terjadi dari usia 6 bulan sampai 16 bulan.
3. Akne pada masa anak-anak : dari usia 1 tahun sampai 7 tahun
4. Akne prepubertal: dari usia 7 tahun (wanita) dan 8 tahun (laki-laki)

Mengapa bisa terjadi jerawat pada anak?

Akne pada bayi baru lahir biasanya disebabkan hormon androgen dari ibu. Hormon tersebut akan merangsang kelenjar minyak bayi, sehingga menimbulkan keluhan berupa bintil kemerahan di wajah, leher dan punggung bayi. Hormon androgen tersebut bisa terus meningkat sampai usia 1 tahun, kemudian turun lagi hingga pubertas. Akne neonatus dan akne infantil biasanya dapat hilang sendiri.

Gambar 1. Akne infantile

Namun, pada anak-anak usia 1-7 tahun, apabila muncul keluhan jerawat, harus segera diperiksakan ke dokter dan dilakukan pemeriksaan lengkap. Anak harus diperiksa perkembangan seks sekunder untuk mencari kemungkinan pubertas dini, pengukuran kurva tumbuh kembang dan usia tulang. Perlu dilakukan juga pemeriksan hormon FSH, LH, testosterone, DHEA, prolactin, kortisol, dan 17 a-hydroxyprogesterone. Apabila terdapat hasil yang tidak normal, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis endokrinologi dan tumbuh kembang anak karena biasanya terdapat kondisi sistemik yang mendasari.

Bagaimana mengobati jerawat pada anak?

Pengobatan jerawat pada anak tergantung pada tingkat keparahan jerawat. Pada kasus yang ringan dengan jumlah lesi sedikit, biasanya tidak diperlukan terapi atau hanya menggunakan krim yang mengandung benzoyl peroxide, tretinoin dan azelaic acid. Pada anak usia prepubertal, dapat diedukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan mencuci wajah 2-3x sehari dengan sabun yang lembut. Pada kasus sedang hingga berat kadang diperlukan antibiotic minum.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang dapat menyimpulkan hubungan makanan dengan jerawat. Namun makanan dengan karbohidrat atau indeks glikemik yang tinggi dihubungkan dengan peradangan pada jerawat. Selain itu kadar zink yang rendah juga berhubungan dengan jerawat, sehingga suplemen zinc dapat diberikan pada anak yang mengalami jerawat.

Terkadang anak dengan riwayat akne infantile lebih berisiko untuk mengalami jerawat yang lebih parah dan jaringan parut atau bopeng pada saat usia pubertas, Namun jangan khawatir, apabila ada keluhan jerawat pada sang buah hati, Ayah dan Ibu Kejora dapat mengkonsultasikan kepada dokter spesialis kulit dan kelamin untuk memastikan diagnosis dan merancang terapi yang sesuai dengan keluhan dan usia anak. Semoga pembahasan kali ini dapat membantu Ayah dan Ibu Kejora dalam menghadapi keluhan pada anak berkaitan dengan jerawat. Sampai jumpa pada topik kesehatan lainnya.

Salam Keluarga Sehat Kejora!

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes, Sp.PM

Sumber
1. Evidence-Based Recommendations for the Diagnosis and Treatment of Pediatric Acne. 2013. https://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/131/Supplement_3/S163.full.pdf
2. Acne in childhood: Clinical presentation, evaluation and treatmen. 2015. http://www.ijpd.in/article.asp?issn=23197250;year=2015;volume=16;issue=1;spage=1;epage=4;aulast=Jain
3. Acne in childhood. 2019. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1751722219300046

Waspada Infeksi Monkeypox

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Halo Ayah dan Ibu Kejora..

Akhir – akhir ini banyak pemberitaan mengenai waspada Monkeypox, karena di bandara Singapura telah ditemukan 1 orang dikarantina karena mengalami Monkeypox. Berbagai upaya dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit tersebut, sebenarnya Apa itu Monkeypox, Apa gejalanya dan bagaimana penanganannya? Berikut akan kita bahas bersama.

Apa sih penyakit monkeypox atau cacar monyet?

Monkeypox adalah penyakit karena virus yang langka, terutama ditemukan di Afrika Tengah dan Barat. Virus dan gejala penyakit monkeypox ini mirip dengan smallpox atau cacar api yang sudah dieradikasi di tahun 1980.

Bagaimana cara penularannya?

Virus penyebab monkeypox ini adalah virus zoonosis, yaitu ditularkan dari hewan ke manusia. Hewan yang bisa menularkan biasanya monyet dan binatang pengerat. Penularan bisa terjadi jika manusia berkontak dengan darah, cairan tubuh atau lesi kulit hewan yang terinfeksi. Memakan daging hewan yang terkontaminasi tanpa dimasak dengan matang juga berisiko menyebakan penularan.

Penularan antar manusa sangat jarang terjadi. Penularan terjadi melalui cairan tubuh seperti dahak dan ingus, lesi kulit dan benda yang terkontaminasi dengan cairan tubuh penderita dalam jangka waktu lama.

Apa sih Gejalanya?

Gejala monkeypox mirip dengan infeksi virus pada umumnya. Infeksi monkeypox dibagi menjadi 2 periode:

  1. Periode infasi (0-5 hari) demam, sakit kepala berat, pembesaran kelenjar getah bening, pegal dan badan terasa sangat lemas.
  2. Periode lesi kulit (1-3 hari dari demam) muncul lesi mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian menjadi krusta/keropeng. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang. Seluruh area kulit bisa terkena, termasuk mukosa mulut, kelamin dan mata.

Monkeypox biasanya dapat sembuh sendiri dalam 2-3 minggu. Namun dapat terjadi komplikasi, terutama pada anak atau pasien dengan gangguan daya tahan tubuh.

Bagaimana penanganannya?

Sampai saat ini belum ada obat atau vaksinasi yang spesifik untuk monkeypox. Vaksin chickenpox 85% efektif dalam mencegah monkeypox, namun saat ini vaksin tersebut sudah tidak diproduksi luas.

Bagaimana cara pencegahan agar tidak terinfeksi Monkeypox?

  • Mengurangi risiko transmisi hewan ke manusia pada daerah endemis:
    • Menghindari kontak dengan hewan liar terutama monyet, primata dan hewan pengerat.
    • Memasak daging hewan sampai matang sebelum dikonsumsi
    • Menggunakan sarung tangan dan proteksi tubuh saat kontak dengan hewan yang sakit
  • Mengurangi risiko transmisi manusa ke manusia:
    • Tidak kontak dengan pasien yang terinfeksi monkeypox dan cairan tubuhnya.
    • Memakai sarung tangan ketika merawat pasien atau anggota keluarga yang sakit
    • Cuci tangan setiap berkontak dengan pasien atau anggota keluarga yang sakit
    • Apabila curiga anggota keluarga menderita monkeypox segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa dan diisolasi bila perlu.

Sumber:

Kenali Dermatitis Atopik pada Anak

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Ada cerita yang sempat viral di media sosial yang menceritakan bahwa buah hatinya mengalami dermatitis atopik karena dipegang oleh sembarang orang. Artikel kali ini akan mengulas mengenai dermatitis atopik dan cara penanganannya.

Apa itu dermatitis atopik?

Dermatitis atopik adalah kondisi radang kronis di kulit yang menyebabkan kulit menjadi mudah gatal, timbul bercak dan bintil merah dan cenderung kering. Dermatitis atopik adalah kondisi yang umum terjadi, terutama pada anak dibawah usia 2 tahun. Sebagian besar (75%) pasien dermatitis atopik mengalami remisi/sembuh seiring bertambahnya usia. Namun sebagian kecil dapat berlanjut sampai dewasa atau mengalami relaps/kekambuhan.

Apakah dermatitis atopik disebabkan karena dipegang – pegang atau dicium oleh sembarang orang?

Penyebab dermatitis atopik sangat kompleks. Faktor genetik dan mutasi gen filagrin merupakan penyebab utama individu menjadi rentan terhadap faktor pencetus yang ada di lingkungan normal. Apabila salah satu orang tua memiliki kondisi atopik (rinitis alergi, asma, dermatitis atopik atau konjungtivitis alergi), terdapat kemungkinan 50% anaknya juga mengalami kondisi tersebut. Mutasi gen menyebabkan sawar kulit menjadi tidak intak, seperti dinding tanpa semen, sehingga cenderung kering dan gampang gatal. Dermatitis atopik lebih banyak dialami anak di area perkotaan dan negara maju dan dari keluarga dengan sosioekonomi tinggi sehingga terdapat teori bahwa lingkungan yang terlalu bersih dapat mempengaruhi perkembangan sistem imun yang tidak sempurna pada dermatitis atopik (Hygiene Theory).

Selain disebabkan oleh hal tersebut, dermatitis atopik dapat muncul oleh beberapa faktor pencetus berikut :

  1. Makanan

Terutama untuk anak di bawah 2 tahun, paling sering susu sapı, gandum, telur dll. Hal ini masih kontroversi dan apabila tidak terbukti dengan food challenge test, sebaiknya hindari restriksi makanan yang bisa menyebabkan malnutrisi.

  1. Keringat
  1. Garukan/gesekan
  1. Kutu Debu Rumah

Sering disebut siklus gatal-garuk. Kondisi kulit atopik yang kering dapat memicu rasa gatal. Ketika anak mulai menggaruk, terjadi respon radang yang menyebabkan rasa gatal bertambah parah. Kadang walaupun pemicu awal sudah tidak ada, karena garukan/gesekan, rasa gatal dan eksim tidak sembuh-sembuh dan bertambah parah.

  1. Infeksi bakteri atau jamur
  1. Iritan – bahan wol, nylon, deterjen, parfum, alkohol, klorin, dll
  1. Kontak alergi

Produk oles yang sudah dipakai dalam jangka waktu tertentu dapat memicu sensitisasi dan akhirnya timbul alergi. Pasien dermatitis atopik biasanya rutin memakai pelembap dan salep/obat, dan bisa timbul sensitisasi setelah periode pemakaian tertentu.

  1. Stress
  1. Cuaca/iklim
  1. Hewan peliharaan

Bagaimana cara mengatasi dermatitis atopik pada anak?
Terdapat 5 hal utama yang penting diperhatikan dalam perawatan dermatitis atopik pada anak:

  1. Edukasi pasien/orangtua/caregiver
  1. Menghindari pencetus.

Pencetus dermatitis atopik bisa bermacam-macam, karena itu penting untuk memidifikasi gaya hidup secara keseluruhan. Seringkali tidak ada satu pencetus yang spesifik saat dermatitis atopik kambuh. Hindari bahan pakaian yang tebal, minyak kayu putih, parfum, antiseptik, tisu basah, pewangi pakaian.

  1. Memperbaiki fungsi sawar kulit.

Menggunakan sabun mandi yang mengandung pelembap (tanpa pewangi) dan pelembab yang mengandung bahan antiradang dan dikhususkan untuk kulit dermatitis/sensitif/eksim (biasanya mengandung ceramid, asam hyaluronic, urea, dll) dan tanya pewangi.

  1. Mengobati lesi radang di kulit

Apabila muncul keluhan, segura konsultasikan ke dokter specialist kulit kelamin. Hindari mengobati sendiri dengan bahan-bahan yang belum terbukti. Diskusikan pilihan terapi dengan dokter, kemungkinan pencetus dan pemeriksaan yang diperlukan, serta perawatan kulit anak sehari-hari

  1. Mengontrol/eliminasi siklus gatal-garuk

Diskusikan dengan dokter, apakah perlu menggunakan obat sistemik antihistamin untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah garukan

Tatalaksana dermatitis atopik kadang tidak cukup hanya dengan pemberian obat salep atau oles, melainkan ada modifikasi gaya hidup. Apabila sudah bolak – balik tidak sembuh, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis kulit kelamin konsultan anak atau alergi imunologi.

Sumber :

  1. Chow, S., Seow, CS., Dizon MV et al. 2018. A clinician’s reference guide for the management of atopic dermatitis in Asians. Asia Pac Allergy. Oct; 8(4): pp 1-18
  2. Kaneko, Sakae. 2018. “Approach for Aggrivating Factors in Atopic Dermatitis”. In Evolution of Atopic Dermatitis in the 21st Century. Singapore : Springer. Part VII. Bab 24. Pp: 311-8

 

Kelainan Kulit Alergi pada Anak

oleh dr. Nico Gandha, SpDV

Dokter Spesialis Dermatologi dan Venerologi

Halo Ayah dan Ibu semua! Tentu Ayah Ibu pernah mendengar istilah alergi. Tapi, apa sih sebenarnya alergi itu? Mengapa alergi bisa terjadi pada anak? Untuk mengenal lebih dalam tentang alergi, mari kita simak perbincangan dengan dr. Nico Gandha, SpDV berikut ini tentang kelainan kulit alergi pada anak.

Dok, apa sih alergi itu? Mengapa alergi bisa muncul?

Alergi merupakan respons peradangan berlebihan yang dibuat sistem imun tubuh terhadap suatu bahan penyebab alergi (disebut juga alergen). Hanya individu dengan sistem imun yang hipersensitif yang memunculkan gejala alergi apabila terpajan/terpapar dengan suatu alergen. Hal ini menyebabkan alergen penyebab alergi pada setiap orang dapat berbeda-beda. Secara garis besar, penyebab kelainan kulit alergi dapat dibedakan berdasarkan asalnya, yaitu dari dalam (misalnya, setelah memakan makanan atau obat tertentu) dan dari luar tubuh (sebagai contoh, setelah terkena bahan alergen dari lingkungan).

Apa saja bentuk kelainan kulit alergi, Dok? Apakah alergi pada anak selalu berupa ruam kemerahan pada kulit?

Istilah alergi sebenarnya tidak terbatas hanya pada kulit. Organ lain di tubuh kita juga dapat terkena alergi, misalnya saluran cerna dan saluran napas. Pada kulit, alergi dapat memberikan gambaran kelainan kulit yang beragam, mulai dari urtika (atau biduran), eksim, hingga lenting yang timbul pada tubuh. Tidak selalu berupa ruam kemerahan ya.

Bentuk kelainan kulit akibat alergi yang umum ditemukan pada anak antara lain eksim atopik, urtikaria, eksim kontak alergi, serta ruam alergi obat. Eksim atopik pada anak memiliki bentuk kelainan yang karakteristik, yaitu bercak merah gatal pada tempat tertentu di tubuh. Anak dengan eksim atopik memiliki bakat atopik (terdiri dari eksim atopik, rinitis alergi, atau asma) yang kemungkinan diturunkan dari orang tuanya. Kulit anak dengan bakat atopik, walaupun secara sepintas normal, sesungguhnya terjadi kelainan pada kulit mereka yang menyebabkan pelembap alami kulit berkurang jumlahnya. Oleh karena itu, kulit mereka rentan kering dan mengalami gangguan berupa eksim. Eksim yang terjadi pada anak dengan bakat atopik dapat dicetuskan (atau kambuh) baik dari makanan tertentu (misalnya telur, susu, kacang, makanan laut) maupun lingkungan, misalnya keringat, udara kering, bahan pakaian kasar/wol, sabun.

Bentuk kelainan kulit alergi lain yang dapat terjadi adalah urtikaria (bentol, biduran). Bila anak memiliki alergi bentuk ini, harus dilihat apakah keluhan masih akut (<6 minggu) atau sudah kronik (>6 minggu). Urtikaria yang akut pada anak umumnya disebabkan infeksi, baik saluran napas atas, gigi, atau saluran kemih. Jadi anak yang kulitnya biduran belum tentu sedang mengalami alergi, walaupun sebagian biduran pada anak memang dapat disebabkan oleh alergi, baik alergi terhadap makanan maupun obat. Apabila urtikaria sudah kronik, kemungkinan penyebab alerginya berasal dari faktor lingkungan, misalnya udara dingin, tungau debu rumah, bulu hewan, atau dapat pula disebabkan makanan tertentu. Urtikaria yang lebih parah dapat pula menimbulkan angioedema, yang lokasi proses peradangannya lebih dalam dibandingkan urtikaria. Angioedema ditandai dengan pembengkakan kulit pada kelopak mata, atau bibir. Pada kasus yang lebih berat, angioedema dapat menyerang saluran napas (laring) yang menimbulkan kegawatdaruratan medis dan membutuhkan penanganan segera. Urtikaria dan angioedema dapat muncul bersamaan ataupun sendiri-sendiri.

Gambar 1. Urtikaria pada lengan (gambar didapat dari allergyuk.org)

Gambar 2. Angioedema pada kelopak mata (gambar didapat dari en.wikipedia.org)

Selain itu, kelainan kulit alergi pada anak dapat pula berbentuk eksim kontak alergi. Cirinya adalah bercak merah timbul akibat penggunaan atau kontak langsung dengan suatu alergen. Misalnya, bercak gatal pada daun telinga pada anak dengan alergi anting nikel, bercak merah di sekitar mulut pada anak dengan kontak alergi terhadap pasta gigi, eksim di daerah kaki pada anak yang alergi terhadap bahan karet, kimia, atau pewarna sepatu, serta penggunaan bahan oles misalnya minyak tawon, kayu putih, balsem, atau obat oles antibiotik neomisin. Eksim kontak alergi perlu dibedakan dengan eksim kontak iritan, karena proses peradangan yang mendasarinya berbeda. Pada eksim kontak alergi, peradangan kulit didasari proses alergi, sedangkan pada eksim kontak iritan proses peradangannya disebabkan proses iritasi terhadap bahan tertentu, misalnya sabun antiseptik, feses dan urin pada popok bayi, dan minyak atau balsem.

Gambar 3. Eksim kontak alergi akibat penggunaan perhiasan dari nikel (gambar didapat dari medicinenet.com)

Selain berupa biduran (atau urtikaria), obat dapat menyebabkan kelainan kulit berupa ruam alergi obat. Bila urtikaria/angioedema akibat obat muncul beberapa menit hingga jam setelah konsumsi obat, ruam alergi obat umumnya timbul lebih lama setelah konsumsi obat, dapat beberapa hari atau minggu setelahnya. Ruam alergi obat juga dapat menyerupai ruam yang timbul akibat demam misalnya akibat infeksi virus. Untuk itu, perlu diperhatikan kondisi anak sebelum dan saat timbul keluhan, serta mengetahui pasti nama obat-obatan apa saja yang dikonsumsi anak sebelum terjadi keluhan ruam kulit.

Gambar 4. Ruam alergi obat (gambar didapat dari intranet.tdmu.edu.ua)

Bentuk kelainan kulit alergi yang lebih jarang ditemukan antara lain fixed drug eruption (kelainan lenting berulang pada tempat sama di tubuh yang disebabkan obat tertentu) dan sindrom steven-johnson. Sindrom ini merupakan reaksi alergi obat berat. Beberapa penyakit autoimun dapat pula dicetuskan kekambuhannya oleh makanan dan obat, misalnya eksim herpetiformis, penyakit autoimun berupa lenting di tubuh yang kekambuhannya dapat dicetuskan makanan mengandung gluten.

Kalau kemerahan pada pipi bayi atau sering disebut eksim susu itu apa ya, Dok? Apakah itu merupakan suatu bentuk alergi juga?

Eksim susu merupakan suatu bentuk eksim atopik yang banyak ditemukan pada bayi, ditandai dengan bercak kemerahan pada pipi. Pada bayi dengan eksim susu, susu dapat menjadi pencetus kambuhnya kelainan kulit eksim atopik pada pipinya (alergi terhadap faktor dari dalam tubuh). Namun, hal ini tidak berarti bayi dengan eksim atopik tidak boleh mengkonsumsi air susu ibu (ASI). Pada bayi dengan ASI eksklusif, eksim ini lebih mungkin disebabkan oleh bahan makanan yang dimakan ibu, misalnya kacang, makanan laut, telur, atau susu yang diminum ibu. Eksim susu ini biasanya diperberat dengan iritasi terhadap susu yang menempel langsung pada kulit pipi. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh sangat disarankan untuk membasuh susu yang menempel pada kulit pipi bayi dengan handuk halus.

Dok, apakah eksim atopik ini akan berlanjut hingga dewasa?

Eksim atopik ini memiliki tiga fase sesuai usia anak. Pada fase infantil (2 bulan – 2 tahun), kelainan kulit terutama ditemukan pada lokasi kedua pipi, leher, atau di tonjolan siku dan/atau lutut pada bayi yang telah merangkak.

Gambar 5. Eksim atopik pada bayi (gambar oleh Thomas Habif didapat dari merckmanuals.com)

Pada fase usia anak yang lebih besar (di atas 2 tahun hingga remaja), kelainan kulit umumnya ditemukan pada lipatan siku dan/atau lutut. Selain itu, dapat pula terjadi pada daerah leher. Umumnya daerah lipatan tersebut menjadi tebal karena garukan yang sering atau menyisakan bekas peradangan yang menghitam apabila kelainan kulitnya sedang mereda. Garukan berulang pada anak dengan eksim atopik juga dapat menyebabkan infeksi pada kulitnya.

Pada fase usia yang lebih besar (dewasa), eksim atopik dapat ditemukan dengan jumlah kasus yang lebih sedikit. Bila eksim atopik berlanjut pada usia dewasa, dapat disertai dengan rinitis alergi (radang selaput lendir hidung) atau asma. Oleh karena itu, eksim atopik harus dikontrol dengan terapi sejak dini untuk mencegah kelainan ikutan pada organ lain tersebut atau yang disebut dengan atopic march. Satu hal yang perlu diketahui, eksim atopik tidak dapat sembuh total 100% karena bakat atopik tersebut tetap ada, namun eksim atopik dapat dikontrol dengan menggunakan pelembap secara rutin dan menghindari penyebab kekambuhannya, baik penyebab dari faktor makanan maupun lingkungan.

Gambar 6. Eksim atopik pada anak (gambar didapat dari bestonlinemd.com)

Lalu, kapan orang tua perlu mencurigai bahwa suatu kelainan kulit pada anak disebabkan oleh alergi?

Secara umum, kelainan kulit alergi bisa dibedakan berdasarkan penyebab yang sering terjadi. Alergi terhadap makanan tertentu dapat menyebabkan kelainan kulit berbentuk urtikaria, eksim atopik, atau eksim herpetiformis, sedangkan alergi terhadap obat dapat menyebabkan urtikaria, ruam alergi obat, fixed drug eruption atau sindrom steven-johnson. Alergi yang disebabkan oleh faktor lingkungan dapat mencetuskan urtikaria, eksim atopik, atau eksim kontak. Oleh karena itu, riwayat dan cerita apa yang dialami, dimakan, dan riwayat perjalanan kelainan kulit anak, dan faktor yang kira-kira dapat menjadi penyebab amat penting dan perlu diperhatikan oleh orangtua atau pengasuh anak.

Jika anak dicurigai mengalami alergi, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?

Jika Ayah atau Ibu mencurigai si kecil mengalami alergi, sebaiknya periksakan kondisi si kecil dan konsultasikan dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Dermatologi dan Venereologi). Selain untuk mendiagnosis alergi, konsultasi ini penting untuk mengeksplorasi penyebab kelainan kulit alergi tersebut. Jika betul merupakan suatu alergi, maka dokter akan memberikan terapi yang sesuai dengan penyebab alergi dan untuk mengurangi gejala yang dirasakan, misalnya memberikan obat golongan antihistamin untuk mengatasi keluhan gatal.

Untuk terapi pasti penyebab, perlu diketahui terlebih dahulu penyebab alergi atau alergennya. Jika diperlukan, dokter juga akan menyarankan uji alergi untuk membantu mengetahui penyebab kelainan kulit alergi pada anak, misalnya uji tusuk, uji tempel, dan tes darah (IgE RAST). Setelah diketahui alergennya, dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai. Satu hal lagi, yang terpenting dalam penanganan alergi adalah menghindari faktor penyebab alergi tersebut.

Gambar 7. Uji tusuk pada lengan (gambar didapat dari drhuiallergist.com)
Gambar 8. Uji tempel pada punggung (gambar didapat dari welcomecure.com)

Editor: dr. Sunita

Mengapa Harus Cuci Tangan?

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Hai, tahukah keluarga Kejora kalau kebiasaan mencuci tangan itu ternyata penting sekali, bahkan bisa mencegah infeksi berbahaya yang dapat membuat kita dirawat di rumah sakit?

Infeksi yang dapat terjadi akibat malas mencuci tangan pun bervariasi, dimulai dari infeksi ringan seperti flu, atau infeksi yang lebih berat, seperti radang selaput otak, bronkitis, dan hepatitis. Selain itu, infeksi lain yang sering dijumpai adalah infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran pencernaan (diare). Tercatat bahwa sekitar 1,8 juta balita di dunia meninggal setiap tahunnya karena radang paru dan diare.

Bakteri penyebab infeksi tersebut seringkali ditularkan melalui kontak dengan orang lain atau barang yang tercemar. Beberapa tindakan yang dapat menjadi sarana penyebaran bakteri antara lain yaitu:

  1. Memegang makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, padahal sebelumnya tangan tersebut telah bersentuhan dengan kotoran atau popok
  2. Menyentuh barang yang terkena air liur dari bersin atau batuk
  3. Tidak mencuci tangan setelah bermain dengan binatang peliharaan kesayangan
  4. Tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan yang tidak dimasak, seperti salad
  5. Memegang anggota tubuh, seperti mata, kulit, hidung, mulut yang sedang mengalami infeksi

Secara umum, ketika keluarga Kejora memakan atau menyentuh bagian tubuh tertentu tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, bakteri dari tangan yang tercemar tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi. Maka dari itu, mencuci tangan dapat mencegah penyebaran bakteri ke orang lain sekaligus melindungi diri sendiri. Diperkirakan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat melindungi 1 dari 3 anak yang mengalami diare dan 1 dari 5 anak yang mengalami pneumonia.

Bagaimana cara mencuci tangan yang baik?

  1. Basahi tangan dengan air yang bersih dan mengalir
  2. Gunakan sabun dan cuci tangan selama 20 detik. Gunakan sabun biasa dengan formulasi lembut sehingga tidak membuat tangan menjadi kering. Apabila menggunakan sabun antiseptik, sebaiknya sabun tersebut tidak terlalu sering digunakan.
  3. Cuci bagian sela jeri, punggung tangan, bawah kuku, dan pergelangan tangan
  4. Bilas sabun hingga bersih
  5. Keringkan dengan handuk bersih atau tisu

Kapan saja harus mencuci tangan?

  1. Sebelum menyentuh makanan dan minuman, baik saat menyiapkan makanan, memasak, ataupun makan
  2. Setelah menggunakan kamar mandi
  3. Setelah membersihkan rumah
  4. Setelah memegang binatang, termasuk binatang peliharaan
  5. Setelah mengunjungi atau merawat orang sakit
  6. Setelah batuk, bersin atau mengeluarkan lendir hidung
  7. Setelah beraktivitas di luar ruangan

Apakah boleh menggunakan hand sanitizer atau pembersih yang tidak dibilas?

  • Bila tidak tersedia air bersih dan sabun, boleh menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol 60%-90%. Hand sanitizer yang tidak mengandung alkohol tidak bekerja baik pada semua bakteri, melainkan hanya mengurangi jumlah bakteri, sehingga bakteri menjadi resisten terhadap produk tersebut
  • Hand sanitizer tidak bisa menghilangkan semua bakteri dan tidak efektif bila digunakan pada tangan yang kotor dan berminyak
  • Gunakan hand sanitizer sesuai petunjuk di kemasan. Pastikan seluruh area tangan telah terkena hand sanitizer tersebut

Edited by drg. Dinda Laras Chitadianti

Sumber:
https://www.cdc.gov/handwashing/show-me-the-science-hand-sanitizer.html
http://www.health.state.mn.us/handhygiene/why/5ways.html

Perlindungan terhadap Matahari pada Anak

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Penyebab utama kanker kulit adalah pajanan terhadap sinar matahari yang berlebihan tanpa perlindungan. Sunburn atau terbakar matahari merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker kulit, terutama melanoma dan karsinoma sel skuamosa.  Akhir- akhir ini jumlah kasus kanker kulit di usia kurang dari 30 tahun mulai meningkat, 80% dari total pajanan matahari seseorang terjadi sebelum usia 18 tahun. Sebagian besar anak dan dewasa muda masih belum terbiasa menggunakan perlindungan terhadap matahari sehingga memperbesar risiko untuk mengalami flek, tumor jinak dan kanker kulit di kemudian hari.  Dibandingkan dengan kulit orang dewasa, kulit bayi dan anak lebih tipis, lebih sedikit kandungan melaninnya, dan daya tahannya belum sempurna. Hal ini menyebabkan sinar matahari bisa menembus kulit lebih dalam dan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami banyak kerusakan dan dapat meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari.

Cara untuk melindungi kulit pada anak yang direkomendasikan American Academy of Pediatrics (AAP) sebagai berikut:

  • Dibawah 6 bulan : Hindari sinar matahari langsung
  • Diatas 6 bulan : Pakai baju atau topi yang melindungi dari sinar matahari langsung dan gunakan sunscreen pada kulit yang tidak tertutup pakaian. Gunakan sunscreen broad-spectrum, water-resistant sunscreen minimal SPF 30

Beberapa hal lain yang harus diperhatikan:

  • Hindari sinar matahari di siang hari atau berkativitas di tempat yang teduh seperti di bawah pohon, payung atau tenda
  • Pakaian yang melindungi. Kaus tangan panjang dan celana/rok panjang memberikan proteksi yang baik. Warna gelap lebih baik dari warna terang. Dan, beberapa baju khusus seperti baju renang/menyelam memiliki informasi mengenai SPFnya.
  • Pilih topi/pelindung kepala yang menutupi wajah, kepala, telinga dan leher. Topi baseball tidak menutupi area tersebut. Gunakan sunscreen pada area yang tidak tertutup.
  • Kacamata hitam. Melindungi mata dari sinar matahari, dapat mengurangi risiko katarak di kemudian hari. Gunakan kacamata yang nyaman dan melindungi hampir 100% UVA and UVB (ada tulisan SPFnya)

Tanda terpajan sinar matahari berlebihan antara lain wajah kemerahan, gatal, perih, terkelupas. Kulit yang tidak dilindung bisa mengalami kerusakan dalam 15 menit pajanan langsung matahari. Namun efek pajanan tersebut bisa baru terlihat 12 jam kemudian. Hindari pajanan matahari yang lebih lama ketika kulit anak sudah mulai kemerahan atau berubah warna. Sebagian besar orang Indonesia memiliki kulit tipe IV-V yang tidak mudah terbakar, namun mudah berubah warna menjadi lebih cokelat atau tanning.  Perubahan warna kulit merupakan tanda bahwa sudah terjadi kerusakan di kulit karena sinar matahari.

Sebelum memilh sunscreen, ketahui dulu istilah yang bisa ditemukan pada kemasan sunscreen di pasaran.

  • UVA dan UVB

Sinar matahari atau sinar ultraviolet (UV) terdiri dari UVA, UVB dan UVC. UVC tidak menembus atmosfer, sehingga hanya UVA dan UVB yang dapat merusak kulit. Sebagian besar sunscreen melindungi dari UVB, namun sebaiknya pilih sunscreen yang melindungi dari UVB dan UVA.

  • Sunscreen kimia dan fisika

Sunscreen fisik mengandung komponen inorganik yang bekerja dengan memantulkan atau menyebarkan sinar UV secara fisik. Contoh bahan sunscreen fisik adalah zinc oxide dan titanium oxide. Sunscreen fisik biasanya berwarna putih kapur dan terlihat keabuan ketika dioleskan. Sunscreen kimia bekerja dengan menyerap sinar UV secara kimia. Banyak dipakai dalam produk kosmetik karena tidak meninggalkan sisa warna putih di kulit.

  • SPF

SPF merupakan ukuran dari proteksi terhadap UVB. SPF merupakan rasio jumlah sinar UVB yang diperlukan untuk membuat kulit yang diproteksi menjadi merah dibandingkan kulit yang tidak diproteksi dalam waktu tertentu. Contoh: Bila kulit kita ‘terbakar’ setelah 5 menit pajanan matahari, maka bila kita memakai tabir surya SPF 30, kulit kita akan terlindungi selama 30x5menit : 150 menit. Tapi bukan berarti makin tinggi SPF boleh berlama-lama dalam pajanan matahari. Sunscreen tidak bisa melindungi lebih dari 2-3 jam tanpa pemakaian ulang.

  • PA

PA (Protection Grade of UVA) merupakan perlindungan terhadap UVA, biasanya tercantum di sunscreen produksi negara Asia. UVA tidak membuat kulit terbakar, namun mebuat penuaan kulit dan kerusakan yang menetap di kulit. PA ++ sampai +++ memberikan perlindungan tinggi dan sedang terhadap UVA, namun tidak berhubungan dengan waktu pajanan seperti pada SPF.

Kesimpulannya, pilihlah sunscreen broad spectrum (perlindungan UVA dan UVB), minimal SPF 30, water resistant (40-80 menit), teregistrasi POM/FDA.

Cara mengaplikasikan sunscreen:

  • Gunakan dalam jumlah yang cukup banyak (ikuti petunjuk di kemasan sunscreen)
  • Oleskan di area yang tidak terutup pakaian, termasuk hidung, telinga, punggung tangan dan kaki
  • Gunakan 15-30 menit sebelum terpapar matahari
  • Pakai setiap 2-3 jam, lebih sering bila berenang atau berkeringat (beberapa sunscreen water resistant selama waktu tertentu)
  • Gunakan walaupun cuaca mendung
  • Gunakan pada setiap aktivitas di luar ruangan, bukan hanya saat tertentu seperti di pantai atau gunung
  • Tiap sunscreen berbeda dan reaksi alergi selalu ada. Sebelum memakai sunscreen pertama kali, oleskan sedikit di punggung tangan atau leher dan pantau selama 24 jam apakah ada reaksi merah atau gatal.

Beberapa mitos seputar sunscreen:

  • Sunscreen bahaya untuk anak

Bahan aktif sunscreen biasanya sudah diuji berulang kali untuk menilai keamanannya dan melihat kemungkinan sensitisasi, iritasi, fototoksisitas dan karsinogenik. Sunscreen dengan merk yang sudah diakui badan POM dan FDA relatif aman, namun kemungkinan iritasi dan alergi seringkali tidak bisa dihindarkan dan berbeda tiap individu. Sunscreen kimia dapat diserap dalam jumlah sedikit oleh kulit. Sunscreen fisik tidak bisa diserap, misal titanium oksida, sehingga potensi gangguan sistemik hampir tidak ada.

  • Defisiensi vitamin D

Beberapa orang menganggap sunscreen bisa mempengaruhi kemampuan tubuh mengkonversi vitamin D, sehingga menyebabkan kekurangan vitamin D. Namun, beberapa penelitian terkahir membuktikan bahwa pemakaian sunscreen tidak mempengaruhi kadar vitamin D seseorang.

Edited by dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK