COVID-19 pada Kehamilan

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Infeksi COVID-19 yang akhir-akhir ini sedang marak menyebabkan kekhawatiran bagi masyarakat, khususnya di Indonesia setelah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020 bahwa ada 2 WNI yang positif COVID-19. Karena penyakit ini masih baru, belum banyak data mengenai dampaknya pada kehamilan. Pada artikel ini akan dibahas mengenai apa yang sudah diketahui mengenai COVID-19 pada kehamilan, dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah COVID-19.

Apa gejala COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Demam (78%)
  • Batuk (44%)
  • Nyeri otot (33%)
  • Rasa lemas menyeluruh (22%)
  • Sesak nafas (11%)
  • Sakit tenggorok (22%)
  • Pada perempuan dengan riwayat bepergian ke daerah yang terdampak dalam waktu 14 hari terakhir, atau ada riwayat kontak dekat dengan orang yang positif menderita COVID-19 dalam 14 hari terakhir.

Apa dampak COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Kondisi penyakit yang lebih berat pada ibu, termasuk meningkatkan angka kematian
  • Dampak pada janin, termasuk persalinan preterm (prematur), ketuban pecah dini, dan gawat janin.
  • Dari studi yang ada, sebagian besar perempuan hamil dengan COVID-19 melahirkan dengan operasi sesar. Data saat ini juga menunjukkan belum ada penularan dari ibu ke janin dalam kandungan (transmisi vertikal).

Apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang memiliki gejala?

  • Melaporkan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
  • Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut akan merujuk ke rumah sakit yang sudah ditentukan untuk melayani COVID-19 (saat ini ada 100 rumah sakit di Indonesia)

Upaya pencegahan apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang masih sehat?

  • Menghindari kontak dengan orang sakit.
  • Batuk / bersin ke tisu, lalu buang tisu tersebut dan cuci tangan.
  • Bersihkan permukaan yang sering dipegang banyak orang, seperti gagang pintu, steker lampu, meja.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 20 detik setelah ke kamar mandi, sebelum makan, dan setelah bersin / batuk. Jika tidak tersedia air dan sabun, cuci tangan dengan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.
  • Sediakan ruangan / kamar terpisah bila ada anggota keluarga yang sakit.
  • Hindari bepergian ke daerah yang positif memiliki kasus COVID-19.

Apa yang dilakukan pada ibu dan bayi baru lahir?

  • Bayi baru lahir dari ibu yang positif COVID-19 juga dianggap sebagai pasien yang harus diperiksa dan diinvestigasi lebih lanjut.
  • Bayi baru lahir dirawat di ruangan terpisah dari ibu yang positif COVID-19.

Bagaimana dengan pemberian ASI pada bayi dari ibu positif COVID-19?
Dari data yang ada saat ini, tidak ditemukan virus Corona pada ASI. Oleh sebab itu, pada ibu yang memiliki gejala berat, dianjurkan untuk menyusui dengan cara memompa ASI, lalu diberikan ke bayi oleh orang yang sehat. Bila gejala ringan, maka ibu dapat menyusui langsung, dengan melakukan upaya pencegahan dan menggunakan masker.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

Mengenal Keguguran

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Halo, Keluarga Kejora! Pembahasan kali ini temanya spesial untuk para Ibu, namun informasinya juga tidak kalah penting untuk para Ayah agar dapat menambah wawasan tentang kondisi yang mungkin terjadi pada pasangan saat hamil.

Pada awal kehamilan, ada berbagai macam keadaan patologis (tidak wajar) yang dapat terjadi, salah satunya adalah keguguran. Kondisi ini terjadi pada trimester pertama kehamilan dimana janin lahir jauh sebelum waktunya ia mampu bertahan hidup (viable). Keguguran disebut juga sebagai early pregnancy loss atau kematian mudigah, sedangkan dalam kedokteran disebut sebagai abortus. Menurut the National Center for Health Statistic, the Centers for Diasease Control and Prevention, dan World Health Organization, abortus adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau jika janin yang dilahirkan memiliki berat kurang dari 500 gram.

Abortus pun terbagi lagi menjadi abortus spontan, medicinalis, dan provokatus. Pada abortus spontan, keguguran terjadi secara sendirinya, sedangkan abortus medicinalis terjadi karena dipicu oleh pemakaian obat dengan indikasi medis seperti bila terjadi kematian mudigah (janin). Abortus juga dapat dilakukan dengan sengaja tanpa adanya indikasi medis dan bersifat illegal, yang disebut sebagai abortus provokatus.

Secara statistik, 55% abortus spontan yang terjadi pada usia kehamilan < 12 minggu disebabkan oleh adanya kelainan kromosom pada janin seperti autosomal trisomy atau monosomy X. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keguguran antara lain:

  1. Diabetes mellitus pada Ibu
  2. Hipotiroid pada Ibu
  3. Merokok (yang juga dapat memicu kelainan kromosom pada janin)
  4. Konsumsi alkohol berlebihan, terutama pada 8 minggu pertama kehamilan
  5. Konsumsi kafein berlebihan (rata-rata > 5 gelas/hari)
  6. Kelainan anatomis pada Ibu, seperti adanya mioma yang mengganggu proses implantasi (penanaman janin ke dinding rahim), kelainan rahim bawaan, dll.

Berdasarkan proses kejadiannya, abortus spontan dapat terbagi lagi menjadi:

  1. Abortus iminens

Dikenal sebagai ancaman keguguran. Pada kondisi ini Ibu mengeluhkan seperti adanya kontraksi atau kram perut bagian bawah atau timbulnya flek-flek dari jalan lahir. Namun, pada pemeriksaan dalam tidak terdapat pembukaan mulut rahim dan pemeriksaan ultrasonografi janin tetap dalam kondisi baik (denyut jantung dan gerak janin aktif). Pada kondisi seperti ini, para calon Ibu akan disarankan untuk tirah baring total (bedrest) disertai dengan pemberian obat untuk mengurangi kontraksi sambil dokter terus mencari tahu penyebab kontraksi.

  1. Abortus insipiens

Ialah suatu keadaan dimana keguguran sedang terjadi. Pada kondisi ini, janin sedang dalam proses pengeluaran, yang menyebabkan Ibu merasa mulas (kontraksi) yang hebat. Pada pemeriksaan dalam, tampak adanya pembukaan mulut rahim dan perdarahan yang terus menerus dari jalan lahir. Pada awal kondisi ini janin mungkin masih memiliki detak jantung, namun dikarenakan ini adalah suatu aborsi yang tidak terhindar, maka seiring berjalannya proses maka janin akan meninggal.

  1. Abortus inkomplit

Keadaan ini adalah lanjutan dari abortus insipiens, dimana hasil konsepsi (janin, kantong kehamilan, dan plasenta) sudah keluar namun terdapat bagian lainnya yang masih melekat pada dinding rahim. Tanda-tandanya ialah berkurangnya kontraksi, terbukanya serviks, dan adanya perdarahan dari rahim. Penanganannya bisa dengan pemberian obat atau dengan tindakan kuretase.

  1. Abortus komplit

Pada kondisi ini, seluruh hasil konsepsi telah keluar secara sempurna dari rahim. Ditandai dengan hilangnya rasa mulas/kontraksi, mulut rahim telah menutup, dan tidak ada perdarahan.

Selain abortus, apakah Ibu dan Ayah pernah mendengar istilah-istilah ini?

  • Blighted ovum atau unembryonic pregnancy

Yaitu suatu keadaan kehamilan dimana kantong kehamilan telah terbentuk dengan baik namun tidak ditemukan janin di dalamnya.

  • Missed abortion

Yaitu suatu keadaan dimana janin telah meninggal lama dan tertahan di dalam rahim.

Penanganan abortus

Teknik untuk mengeluarkan janin/konsepsi dari dalam rahim dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

  1. Pemakaian obat-obatan

Cara ini digunakan untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim sehingga hasil konsepsi atau sisa konsepsi dapat keluar. Risiko atau komplikasi dari tindakan ini ialah terjadinya abortus inkomplit.

  1. Tindakan kuretase

Tindakan ini adalah cara lain untuk membersihkan hasil konsepsi dalam rahim dengan menggunakan alat-alat kedokteran dan dilakukan oleh dokter spesialis kandungan. Pada serviks (mulut rahim) yang belum terbuka, pasien akan dirangsang menggunakan laminaria atau diberikan obat-obatan yang membantu pembukaan serviks sehingga kuretase dapat dilakukan. Risiko atau komplikasi dari tindakan ini ialah dapat terjadinya perforasi rahim.

Tindakan abortus yang ilegal atau yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab , seperti membeli obat secara bebas atau menggunakan alat tertentu untuk memaksa pembukaan serviks, dapat menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dan abortus septik yang dapat mengakibatkan kematian. Abortus septik ialah suatu kondisi terjadinya infeksi hebat pada rahim yang menyebar ke seluruh tubuh.

Kembalinya masa subur

Banyak sekali pasangan yang khawatiran mengenai kesuburannya setelah tindakan kuretase. Berapa lama bisa hamil kembali? Untuk menjadi perhatian, bahwa ovulasi dapat terjadi 14 hari setelah keguguran, sehingga kesuburan dapat segera kembali. Namun, jika Ibu belum berencana untuk hamil dalam waktu dekat pasca keguguran, maka pemilihan metode kontrasepsi perlu diperhatikan.

Ayah dan Ibu, penting sekali untuk kita menjaga kesehatan selama kehamilan. Hindari faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, dan bagi para Ayah, berikan dukungan yang penuh kepada pasangan agar ia dapat menjalani masa kehamilan dengan menyenangkan. Jangan lupa untuk periksakan kehamilan secara rutin dan kunjungi dokter bila ada hal yang mencurigakan.

Editor: dr. Nurul Larasati

Manfaat Pemeriksaan USG pada Kehamilan

oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obsetri Ginekolog

Halo Keluarga Kejora! Salam sehat dan sejahtera.. Kali ini, kita akan membahas mengenai manfaat pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang biasanya dilakukan dalam pemeriksaan kehamilan yaa…

Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan USG?

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) adalah salah satu komponen penting dari pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan USG dilakukan oleh dokter yang kompeten, biasanya dokter spesialis kandungan, dengan menggunakan mesin USG untuk menilai kondisi kehamilan.

Apa yang dilakukan pada saat pemeriksaan USG?

Terdapat dua jenis pemeriksaan USG, yaitu transabdominal (dari perut), dan transvaginal (dari vagina).

  • Transabdominal: pemeriksaan ini yang umum dilakukan. Ibu akan berada dalam kondisi berbaring terlentang dan dokter akan menggunakan probe transabdomen untuk pemeriksaan.
  • Transvaginal: pemeriksaan ini biasanya memiliki indikasi khusus, seperti evaluasi kondisi kehamilan muda, menilai apakah terdapat kehamilan ektopik (kehamilan yang terjadi di lokasi di luar rahim), menilai plasenta bila dicurigai plasenta previa (lokasi plasenta berada di bawah dekat mulut rahim) pada pemeriksaan transabdomen, dan menilai panjang leher rahim (serviks). Ibu berada dalam posisi litotomi (telentang) dan dokter akan menggunakan probe (alat) transvagina yang dimasukkan ke dalam vagina ibu.

Kapan perlu dilakukan pemeriksaan USG?

Pemeriksaan USG dilakukan minimal 3 kali selama kehamilan, dan masing-masing pemeriksaan tersebut memiliki tujuan masing-masing. Waktu minimal untuk melakukan pemeriksaan tersebut adalah:

  1. 1 kali saat trimester 1 (10-13 minggu): menilai letak kehamilan di dalam atau luar kandungan, menilai kantong kehamilan, ukuran janin, viabilitas janin, dan kelainan lain pada kandungan. USG trimester 1 ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan karena akurasinya paling tinggi, dengan variasi hanya 3-5 hari.
  2. 1 kali saat trimester 2 (18-22 minggu): menilai apakah terdapat kelainan organ pada janin (skrining kelainan kongenital)
  3. 1 kali saat trimester 3 (28-32 minggu): menilai kondisi janin, plasenta, ketuban

Nah, dari hasil pemeriksaan USG standar biasanya akan diketahui jumlah dan letak janin, taksiran berat janin, posisi plasenta, kondisi ketuban, usia kehamilan, dan tanggal taksiran persalinan.

Apabila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG tambahan, seperti:

  • Penilaian ulang plasenta pada saat usia kandungan 28 minggu, 32 minggu, dan 36 minggu bila terdapat plasenta previa
  • Penilaian indeks cairan ketuban dan arus darah tali pusat pada kehamilan postterm (lewat waktu)
  • Penilaian kesejahteraan janin pada kondisi seperti hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia, dan diabetes
  • Pemantauan berkala pada kehamilan kembar
  • Penilaian khusus pada janin seperti penilaian kondisi janin (fetal echocardiography) atau detailed scan bila dicurigai adanya kelainan kongenital. Biasanya pemeriksaan USG khusus ini dilakukan oleh SpOG khusus yang mendalami USG atau konsultan fetomaternal.

Apakah pemeriksaan USG aman, dan apa bahayanya bila sering USG?

Pemeriksaan USG menggunakan gelombang suara untuk menilai kondisi bayi dan kehamilan. Karena menggunakan gelombang suara, maka USG aman dilakukan pada kehamilan (bukan menggunakan sinar radiasi / ionizing radiation seperti pada pemeriksaan rontgen atau CT scan). Saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa USG berbahaya bagi janin (cacat/kelainan janin, gangguan pertumbuhan janin, dll).

Mesin USG juga dibekali dengan biosafety profile, yaitu mechanical index (MI) dan thermal index (TI). Apabila MI dan TI dalam batas normal maka pemeriksaan dengan alat tersebut aman digunakan.

Apakah perlu rutin dilakukan USG 4 Dimensi (4D)?

USG 4D memiliki indikasi tertentu, yaitu menilai apakah ada kelainan pada permukaan tubuh bayi seperti kelainan pada wajah, kelainan pada rangka dan tengkorak. USG 4D tidak dapat menilai kondisi di dalam tubuh bayi. Oleh sebab itu USG 4D tidak perlu rutin dikerjakan.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber:
American College of Obstetrician and Gynecologists. FAQ – Ultrasound Exams.
Royal College of Obstetrician and Gynecologists. Antenatal Care.

Peran Kalsium untuk Hipertensi dalam Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hipertensi dalam kehamilan (pregnancy-induced hypertension, PIH) adalah meningkatnya tekanan darah (sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg) yang terjadi dalam masa kehamilan. Hipertensi yang terjadi selama kehamilan ini dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Hipertensi kronis: mereka yang memiliki tekanan darah tinggi (di atas 140/90 mmHg) sebelum kehamilan hingga awal hamil (sebelum usia kehamilan 20 minggu), atau hipertensi yang menetap hingga setelah melahirkan.
  • Hipertensi Gestasional: hipertensi yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dan hilang setelah ibu melahirkan,
  • Preeklampsia: Baik hipertensi kronis maupun hipertensi gestasional dapat berlanjut menjadi kondisi ini setelah usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala yang termasuk adalah hipertensi yang disertai adanya protein dalam urin ibu dan juga edema (pembengkakan) pada kedua kaki. Jika tidak ditangani dengan serius, pre-eklampsia ini dapat berlanjut menjadi eklampsia, dengan gejala yang mengancam nyawa seperti kejang hingga koma.

Terdapat ± 10% ibu hamil yang mengalami hipertensi gestasional selama kehamilannya, dan hipertensi gestasional ini harus diperhatikan dengan serius karena meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bagi ibu maupun bayi setelah lahir. Hipertensi dapat menyebabkan plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup, sehingga bayi dalam kandungan tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang cukup, sehingga dapat terjadi kelahiran prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Beberapa penelitian menemukan hubungan bahwa asupan kalsium dapat menyebabkan, mencegah, dan digunakan sebagai pengobatan untuk hipertensi. Contohnya, program diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) yang memberikan diet berisi 8-10 sajian sayuran dan buah-buahan dan hampir 3 sajian produk susu rendah lemak berhasil menurunkan tekanan darah sistolik hingga 5,5 mmHg dan diastolik 3,0 mmHg; jika dibandingkan dengan diet biasa yang rendah konsumsi sayuran, buah-buahan dan produk susunya. Efek suplementasi kalsium ini nampaknya paling relevan pada orang-orang yang sensitive terhadap garam natrium, mereka yang tidak tercukupi kebutuhan kalsiumnya, dan ibu hamil yang mengalami hipertensi gestasional.

Normalnya, dalam setiap kehamilan, terjadi penurunan tekanan darah dan secara perlahan kembali meningkat hingga akhir masa kehamilan. Dalam kehamilan, kalsium dibutuhkan untuk mineralisasi tulang janin. Oleh karena itu, kebutuhan kalsium ibu hamil meningkat sekitar 300 mg/hari. Bertambahnya volume darah pada ibu hamil dan bertambahnya ekskresi kalsium di urin juga menyebabkan peningkatan kebutuhan kalsium pada ibu hamil.

Siapa sajakah yang berisiko mengalami hipertensi gestasional?

  • ibu yang hamil pertama kalinya
  • riwayat keluarga (ibu atau saudara yang mengalami hipertensi gestasional)
  • kehamilan kembar
  • perempuan <20 th dan >40 th
  • obesitas
  • diabetes
  • konsumsi bahan makanan sumber kalsium yang rendah

Bagaimana cara mengetahui hipertensi gestasional?

Tekanan darah normal adalah 119/79 mmHg atau dibawahnya. Seorang yang mengalami tekanan darah tinggi ini pada umumnya tidak akan terlalu menunjukkan tanda atau gejala, sehingga pemeriksaan tekanan darah pada setiap kunjungan pemeriksaan harus dilakukan karena terkadang hipertensi dapat ditemukan pada seseorang tanpa tanda atau gejala apapun. Selain memeriksakan tumbuh-kembang janin dan aliran darah ke plasenta dalam kondisi yang baik, pastikan untuk memeriksa tekanan darah pada setiap pemeriksaan kehamilan, dan tanyakan pada dokter spesialis kandungan apakah pemeriksaan urin, fungsi ginjal dan fungsi pembekuan darah dibutuhkan untuk diperiksa.

Bagaimana cara untuk menghindari hipertensi gestasional?

Saat ini, belum ada cara yang pasti untuk menghindari hipertensi. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat dikontrol untuk mencegah hipertensi gestasional:

  • tidak menggunakan garam secara berlebihan
  • lebih banyak menggunakan bumbu/bahan bumbu masakan natural tanpa pengawet
  • menghindari makanan kemasan tinggi garam/penyedap monosodium glutamat (MSG), contoh: bumbu mi instan, keripik kentang dan keripik singkong kemasan, daging yang diawetkan (sosis, kornet, sarden, dll)
  • membaca label makanan, pilih makanan dengan kadar natrium rendah
  • minum air putih sedikitnya 8 gelas sehari
  • menurunkan berat badan (lingkar perut pria <90 cm, lingkar perut wanita <80 cm) (setiap penurunan 1 kg BB akan menurunkan ± 1 mmHg)
  • kurangi asupan makanan berminyak yang digoreng dan junkfood.
  • makan makanan yang sehat (membuat jurnal makanan: mencatat apa saja yang kita makan, berapa banyak, kapan dan mengapa; banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan tinggi kalium)
  • beristirahat dengan cukup
  • berolahraga secara teratur (150 menit/minggu atau 30 menit setiap hari) dapat menurunkan 5-8 mmHg
  • menaikkan posisi kaki beberapa kali sepanjang hari
  • berhenti merokok dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko penyakit jantung, dan meningkatkan kesehatan
  • hindari konsumsi alkohol
  • hindari konsumsi minuman yang mengandung kafein berlebihan (kopi, teh, coklat). Kafein dapat menaikkan tekanan darah hingga 10 mmHg
  • pada beberapa kondisi, dokter mungkin akan memberikan suplemen dan/atau obat.

Beberapa contoh makanan tinggi kalsium:

  • 1 gelas susu (276 mg)
  • 1 cup almond (367 mg)
  • 100 g tahu goreng (372 mg)
  • 1 cup bok choy (158 mg)
  • 1 gelas jus jeruk (72 mg)
  • 1 cup broccoli (74 mg)

Bagaimana dengan suplemen? Apakah suplementasi kalsium diperlukan?

Tidak semua orang membutuhkan suplementasi kalsium. Suplementasi kalsium dibutuhkan hanya pada ibu hamil yang tidak cukup mengonsumsi kalsium (<1000 mg) dari makanannya sehari-hari. Kebutuhan seorang ibu hamil adalah 1.200 – 1.400 mg kalsium per hari, dan disarankan tidak mengonsumsi kalsium >2.500 mg/hari. Konsumsi kalsium yang berlebihan dapat menyebabkan batu ginjal, juga mengganggu penyerapan seng (zinc) dan zat besi.

Untuk menentukan apakah seorang ibu hamil membutuhkan suplementasi, dapat dilakukan pemeriksaan kadar kalsium ion. Bila memang diperlukan, dokter akan memberikan suplementasi kalsium dan mungkin diberikan bersama dengan vitamin D, yang dapat membantu penyerapan kalsium.

5 Tips Sukses Menyusui selama Bulan Ramadhan

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo Keluarga Kejora,

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah didepan mata. Bagi anda yang ingin menjalankan kewajiban untuk berpuasa namun masih ingin menyusui si kecil, Kejora memiliki tips bagaimana cara mensiasati agar anda tetap bugar saat menyusui selama menjalankan ibadah puasa

  • Pilih menu sahur dan berbuka dengan gizi seimbang karbohidrat protein lemak dalam jumlah yang cukup. jangan lupa untuk memasukkan porsi sayur buah-buahan harian anda. menghindari makanan mengiritasi lambung seperti terlalu pedas atau berminyak.
  • Jaga asupan cairan tubuh. Tingkatkan asupan air putih 2 hari sebelum puasa dimulai. Jaga asupan cairan 2 Liter per hari selama puasa. Sumber cairan dapat diperoleh dari air putih, buah-buahan dan sari buah, sup, dll. Hal ini bertujuan agar tubuh ibu terhidrasi dengan baik pada saat mulai puasa. Dehidrasi berat memang dapat mengurangi pasokan ASI, namun puasa selama bulan Ramadhan digolongkan menjadi puasa jangka pendek. Penelitian menunjukan bahwa puasa jangka pendek tidak menurunkan pasokan ASI.
  • Untuk mengurangi hilangnya energi berlebih, kurangi aktivitas yang tidak perlu dan pajanan panas maupun sinar matahari berlebih.
  • Perhatikan pola BAB dan BAK bayi anda untuk memantau asupan cairannya. Kandungan ASI selama ibu puasa dapat mengalami beberapa perubahan, namun perubahan ini berjangka pendek dan dilaporkan tidak menimbulkan efek klinis maupun mempengaruhi pertumbuhan bayi.
  • Ibu-ibu menyusui dengan kelainan metabolisme seperti diabetes atau riwayat gula darah rendah, atau masalah kesehatan lain seperti kurang darah (anemia) dapat berkonsultasi dengan dokter. Konsultasi juga kepada dokter apabila anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai puasa dan menyusui.

Nutrisi Prakonsepsi

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai, Keluarga Sehat Kejora! Kali ini, kita akan membahas mengenai Nutrisi Prakonsepsi, atau nutrisi yang kita konsumsi sebelum terjadinya proses pembuahan (konsepsi). Tahukah Ayah dan Ibu bahwa makanan yang Ayah dan Ibu konsumsi dapat memengaruhi kesuburan? Ya, ternyata makanan yang Ayah dan Ibu konsumsi dapat memengaruhi bukan hanya lingkungan sel telur dan sperma terbentuk, namun juga kadar hormon yang terlibat dalam proses reproduksi, lho!

Mari kita simak sesi tanya jawab mengenai Nutrisi Prakonsepsi dengan dr. Arti Indira, MGizi, SpGK yaa..

Dok, saya pernah mendengar kalau status gizi tertentu dapat memengaruhi gangguan fertilitas. Benarkah demikian?

“Betul sekali. Seorang calon ibu yang mengalami obesitas akan menghasilkan beberapa jenis hormon (estrogen, leptin, dan androgen) yang lebih banyak. hormon-hormon ini dapat mengganggu siklus haid dan juga memengaruhi fertilitas. Sebaliknya, seorang calon ibu yang kekurangan gizi kronis juga bisa melahirkan bayi yang kecil dengan risiko kematian yang tinggi selama 1 tahun pertama kehidupan sang bayi. Seorang calon ibu yang mengalami gizi akut, misalnya pada situasi kelaparan/bencana/peperangan, dapat mengalami gangguan fertilitas, namun hal ini dapat teratasi ketika asupan sang calon ibu diperbaiki.”

Oh begitu dok.. jadi sebaiknya seorang calon Ibu betul-betul menjaga status gizinya sebelum hamil ya Dok… Nah, selain status gizi, apakah ada bahan makanan atau cara diet tertentu yang mengganggu kesuburan seseorang, Dok?

“Ya, ada. Seorang calon ibu sebaiknya memperhatikan konsumsi kafeinnya.. Asupan kafein sebanyak 300 mg sehari dapat menurunkan konsepsi (proses bersatunya sel telur dengan sperma) hingga 27%, sedangkan jika kafein ini dikonsumsi hingga 500 mg/hari, maka kemungkinan terjadinya konsepsi bisa berkurang hingga 50%.”

“Selain kafein, alkohol juga dapat menurunkan kadar estrogen dan testosterone, bahkan mengganggu siklus menstruasi. Asupan alkoholo 1-5 gelas per hari menurunkan konsepsi 39%, asupan alcohol > 10 gelas per hari menurunkan konsepsi hingga 66%.”

“Beberapa diet seperti diet vegetarian, diet dengan asupan lemak rendah dan asupan serat terlalu tinggi juga terbukti dapat memengaruhi hormon reproduksi.”

Oh begitu dok… Wah saya jadi terpikir, selain makanan atau status gizi apakah ada jenis olahraga yang dapat mengganggu kesuburan seorang calon Ibu?

“Pertanyaan yang bagus. Seorang calon Ibu yang melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dapat mengalami gangguan hormonal ataupun metabolik. Hal ini dapat terlihat dari pubertas yang terlambat maupun siklus menstruasi yang kacau. Massa lemak tubuh yang terlalu rendah juga berkaitan dengan penurunan densitas tulang, sehingga sang calon Ibu rentan mengalami patah tulang atau osteoporosis.”

Jadi ternyata makanan dan kegiatan yang kita lakukan sangat berperan untuk mendukung terjadinya konsepsi ya dok…

“Iya, benar sekali..”

Berapa lama sebelum hamilkah sebaiknya Ayah dan Ibu Kejora menjaga nutrisi ini Dok?

“Rekomendasi nutrisi yang disarankan untuk prakonsepsi adalah 3-6 bulan sebelum terjadinya konsepsi. Sebaiknya calon ayah dan ibu melakukan diet gizi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing, dengan target berat badan yang sesuai dengan indeks massa tubuh (IMT) yang normal. Jangan lupa perhatikan dan kurangi konsumsi kafein dan alkohol ya…”

Baik dok.. Dokter Arti, untuk pertanyaan terakhir, apakah ada vitamin yang harus diminum untuk menyiapkan kehamilan ini dok?

“Nah ini dia pertanyaan yang saya tunggu-tunggu. Walaupun dibutuhkan dalam jumlah yang kecil (dalam satuan microgram hingga milligram), seorang calon Ibu harus memastikan kecukupan asupan asam folat, kalsium, dan zat besi.

  • Asam folat sebanyak 400 mcg per hari, dapat mengurangi risiko cacat pada janin seperti spina bifida. Asam folat secara alami terutama terdapat dalam sayuran daun hijau gelap (contohnya bayam), buah sitrus, kacang-kacangan, legume, whole grains dan roti atau sereal fortifikasi. Apabila tidak dapat memenuhi asupan asam folat secara alami, dapat diberikan suplementasi.
  • Kalsium dalam jumlah 1000 mg dapat diperoleh dari 3 gelas @250 ml susu skim. Selain itu kalsium juga mudah didapatkan dari bahan makanan seperti yogurt rendah lemak, salmon, sardin, nasi, dan keju.
  • Zat besi juga disarankan untuk diberikan karena angka kejadian anemia di Indonesia yang cukup tinggi. Suplementasi zat besi 30-60 mg disarankan diberikan bersama dengan asam folat. Secara alami, zat besi dapat diperoleh dari sumber hewani (heme iron) seperti daging, hati ayam, ayam, dan ikan ataupun sumber nabati (non-heme iron) seperti sayuran hijau tua. Asupan bahan makanan zat besi tersebut sebaiknya dikonsumsi bersama dengan vitamin C (jeruk, kiwi, tomat, dll) sehingga akan meningkatkan penyerapan zat besi.

Wah baiklah dok, terima kasih banyak atas informasinya ya… Sangat bermanfaat sekali untuk calon Ayah dan Ibu Kejora yang berencana untuk menambah momongan.. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan ya dok…

Sama-sama, terima kasih kembali…

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Apakah Perlu Melakukan Skrining Prakonsepsi (Penapisan Sebelum Kehamilan)?

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Sahabat Kejora, bila Anda berencana untuk memiliki momongan, apakah perlu melakukan pemeriksaan skrining prakonsepsi (penapisan sebelum kehamilan)?

Sebelumnya, apa yang dimaksud dengan skrining prakonsepsi?

Skrining prakonsepsi adalah sebuah cara yang dilakukan untuk mengetahui risiko medis, perilaku, dan kondisi sosial kesehatan seorang perempuan atau luaran kehamilan melalui cara-cara tertentu secara medis.

Ada beberapa tujuan dari skrining prakonsepsi itu sendiri, antara lain:

  1. agar pasangan memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik terkait kesehatan sebelum kehamilan,
  2. agar calon ibu memasuki kehamilan dalam kondisi kesehatan yang optimal, dan
  3. untuk menurunkan risiko kehamilan yang tidak diharapkan dari riwayat kehamilan sebelumnya dengan melakukan persiapan sebelum kehamilan.

Konseling prakonsepsi ini sebaiknya dilakukan dengan melibatkan beberapa ahli terkait seperti dokter spesialis kandungan, penyakit dalam, dan dokter anak untuk mengetahui riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat medis, riwayat penyakit genetik, risiko penggunaan zat berbahaya, serta permasalahan status gizi.

Apa saja kondisi yang perlu diperhatikan bagi perempuan yang berencana hamil?

Ada banyak kondisi yang memerlukan perhatian khusus bila seorang perempuan berencana hamil. Secara umum, calon wanita hamil dikatakan berisiko tinggi jika terdapat paling tidak satu dari beberapa kondisi di bawah ini:

  • Usia ibu kurang dari 20 atau lebih dari 35 tahun
  • Riwayat kehamilan sebelumnya:
    • keguguran berulang
    • kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim)
    • riwayat operasi sesar
    • preeklampsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan)
    • persalinan preterm (kurang bulan)
    • perdarahan sebelum atau sesudah persalinan
    • riwayat janin dengan defek tabung neural (neural tube defect)
  • Menderita atau memiliki riwayat medis:
    • Hipertensi kronik (tekanan darah tinggi yang sudah menahun)
    • Diabetes mellitus (penyakit gula)
    • Epilepsi
    • Penyakit jantung dan pembuluh darah
    • Asma
    • Trombofilia (gangguan pembekuan darah)
    • Penyakit ginjal
    • Hepatitis B atau C
    • Anemia
    • Penyakit tiroid
    • Penyakit jaringan ikat, seperti rheumatoid arthritis, lupus
    • Masalah psikiatri atau kejiwaan
    • Kanker
    • Penyakit infeksi
    • Penyakit menular seksual
  • Memiliki riwayat penyakit genetik:
    • thalassemia, fenilketonuria, dan lainnya
  • Penggunaan zat berbahaya:
    • narkotika, rokok, dan alkohol
  • Status gizi:
    • Status gizi kurang (underweight)
    • Status gizi lebih (overweight atau obesitas)

Bila ada salah satu saja kondisi yang disebutkan di atas, maka sebaiknya Sahabat Kejora berkonsultasi dengan dokter mengenai skrining prakonsepsi agar memasuki kehamilan dengan kondisi yang optimal. Diharapkan dengan dilakukannya skrining prakonsepsi ini, maka luaran buruk saat kehamilan dapat diminimalisir atau bahkan dapat dihindari.

Editor: dr. Sunita

Sumber:
Chapter 8 Preconceptional Care. Cunningham FG, et al, editors. Williams Obstetrics 25th Edition. 2018. New York: McGraw-Hill. p:146-56.,/p>

Hubungan Ibu Menyusui dan Hepatitis B

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Hai Ayah dan Ibu

Tahukah anda,

Bahwa ibu hamil berisiko menularkan virus hepatitis pada bayi yang dikandungnya. Penularan ini terjadi pada 25-30% wanita carrier hepatitis B berusia produktif. Penularan hepatitis B paling banyak terjadi pada saat atau segera setelah persalinan, saat terjadi kontak antara bayi dengan cairan darah atau cairan tubuh ibu.

Belum terdapat cukup bukti penelitian untuk mendukung atau menyanggah penularan hepatitis B melalui aktivitas menyusui. Secara umum, semua bayi yang lahir dari ibu carrier(pembawa) hepatitis B boleh menyusu serta harus mendapatkan antibodi terhadap hepatitis B (imunoglobulin hepatitis B) pada 24 jam pertama kehidupan. Imunoglobulin ini merupakan antibodi yang aktif memerangi virus hepatitis B, berbeda dengan imunisasi hepatitis B yang mengandung protein virus hepatitis B bisa merangsang tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap hepatitis B. Imunisasi hepatitis B pada bayi dari ibu carrier (pembawa) harus tetap dilakukan sesuai jadwal demi menjamin terbentuknya antibodi hepatitis B.

Lantas bagaimana apabila puting ibu lecet dan berdarah dikala menyusui? Pada ibu carrier (pembawa) hepatitis B, ASI dapat mengandung virus. Karena itu, lembaga penanganan dan pencegahan infeksi di Amerika Serikat (Center for Disease Control and Prevention, CDC) merekomendasikan teknik pump and dump untuk kasus seperti ini. Selama puting luka berdarah, ibu disarankan untuk memerah ASI dan membuang hasil perahan tersebut. Ibu dapat kembali menyusui buah hatinya kembali apabila luka sudah sembuh. Selama tidak memberikan ASI, ibu dapat memberikan ASI perah sendiri, ASI donor yang sudah dipasteurisasi atau susu formula pada bayinya. Tentunya luka pada puting perlu dijaga kebersihannya dan bila perlu mendapat pengobatan.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.who.int/maternal_child_adolescent/documents/pdfs/hepatitis_b_and_breastfeeding.pdf
https://www.cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/maternal-or-infant-illnesses/hepatitis.html
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-pada-ibu-penderita-hepatitis-b

Pola Makan Tepat Bagi Ibu Menyusui

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Periode menyusui merupakan saat yang tepat untuk membuat pola makan anda menjadi lebih sehat. Hal ini akan memberikan manfaat bagi Ibu menyusui, bayi anda dan keluarga mulai sekarang hingga di masa yang akan datang.

Prinsip utama pola makan selama menyusui adalah makan bahan makanan yang sehat dengan gizi seimbang, karena pada dasarnya tidak ada pola makan khusus yang harus dijalani selama menyusui. Namun perlu diingat, selama menyusui anda diharapkan dapat menambah asupan energi sebesar 500 kkal di luar kebutuhan energi dasar anda.

Sebagai gambaran, 1 butir telur ceplok mengandung 92 kkal, 1 porsi roti burger dengan daging, saus, sayuran dan roti mengandung 300 kkal, 1 gelas minuman kopi susu mengandung 200-300 kkal. Namun apakah bahan-bahan makanan ini diperlukan ibu menyusui? Mari kita telusuri.

Untuk memilih menu makanan anda sehari-hari, gunakan selalu prinsip pola makan yang tepat dalam pemilihan sumber bahan makanan yang akan dikonsumsi. Berikut merupakan contoh bahan makanan yang baik untuk anda konsumsi selama periode menyusui :

  1. Buat prioritas untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, terutama buah dan sayur yang berwarna merah, hijau tua, dan ungu (bit, kale, paprika, pepaya, anggur) karena kaya akan vitamin, mineral dan antioksidan.
  2. Pilih protein berkualitas seperti daging rendah lemak, ikan, telur, serta kacang-kacangan. Anda juga dapat memasukkan biji-bijian seperti gandum, biji selasih, chia seed, flaxseed, ataupun quinoa sebagai sumber serat dan protein dalam menu anda sehari-hari.
  3. Jika harus mengkonsumsi karbohidrat kompleks seperti sereal, roti atau pasta, pilihlah yang mengandung biji gandum utuh (whole grain) untuk menambah asupan serat.
  4. Konsumsi produk susu yang rendah lemak dan gula, serta asupan kecil lemak tak jenuh dari berbagai jenis minyak sayur bagi tubuh anda.

Selalu ingat untuk makan dengan porsi secukupnya dalam interval waktu yang tetap, yakni sarapan atau makan pagi, makan siang, makan malam, serta makanan selingan. Untuk makanan selingan, buat prioritas untuk mengkonsumsi buah atau kacang-kacangan. Hindari makanan yang mengandung gula dan lemak tinggi seperti kue, coklat, atau minuman manis. Hal yang tak kalah pentingnya adalah kebutuhan akan cairan. Pastikan tubuh anda cukup akan cairan, dengan cara minum air putih sebagai sumber cairan utama.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber: https://www.nutrition.org.uk/healthyliving/nutrition4baby/feeding.html?start=1

Mitos dan Fakta Nutrisi selama Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Keluarga Kejora, terutama para Ibu dan calon Ibu tentunya pernah mendengar saran dari keluarga dan teman mengenai nutrisi selama kehamilan bukan? Mungkin saran ini telah diteruskan turun-temurun selama beberapa generasi, atau mungkin Ibu dan calon Ibu Kejora baru saja mendengar saran baru dari seorang teman. “Selama hamil jangan makan nanas ya, nanti keguguran”, “Kalau kamu ngidam, harus diturutin loh… kalau nggak nanti anaknya ileran”, “Jangan makan pisang dempet, nanti bayinya kembar siam”, dan lain sebagainya.

Nah kali ini, Kejora akan membahas mengenai beberapa mitos dan fakta seputar nutrisi dalam kehamilan.

Bumil harus makan untuk dua orang

Secara teknis seorang ibu hamil memang makan untuk 2 orang, namun perlu diingat bahwa janin yang dihitung sebagai 1 orang masih berukuran sangat kecil. Selama bertumbuh dalam rahim Ibu, seorang janin hanya berukuran sebesar:

  • sebuah biji selasih (4 minggu) hingga sebuah jeruk nipis (13 minggu) selama trimester 1,
  • sebuah jeruk lemon (14 minggu) hingga sebongkah selada (27 minggu) selama trimester 2, dan
  • sebuah terong hingga sebuah semangka (28 – 42 minggu) selama trimester 3.

Karena ukuran janin yang jauh lebih mungil daripada Ibu, porsi makanan yang ditambahkan selama kehamilan tentunya tidak perlu sebanyak porsi untuk 2 orang dewasa. Ibu lebih baik memperhatikan kualitas makanan yang dimakan, bukan hanya kuantitas makanannya. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu merupakan bahan yang dipakai untuk pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil dalam Rahim. Pastikan kebutuhan nutrisi harian Ibu tercukupi dengan mengkonsumsi menu seimbang yang beragam.

Selama trimester dua dan tiga, Ibu hamil hanya memerlukan tambahan makanan sebanyak 300 kalori per hari. Seberapa banyak sih 300 kalori itu? Ibu dapat mencukupinya dengan mengkonsumsi sepotong ikan kukus berukuran sedang (240 kalori) dan satu buah jeruk ukuran sedang (60 kalori) atau sepotong roti sandwich telur (185 kalori) dengan segelas susu (125 kalori).