Menjaga Kebersihan Rongga Mulut Diri dan Keluarga di Masa Pandemi

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu kejora, pandemi virus Corona yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia benar-benar telah mengubah cara kita dalam mengakses pelayanan kesehatan yah.. Tidak terkecuali dalam hal perawatan gigi.

Virus ini tidak pandang bulu dan dapat mengenai siapapun, dapat ditularkan melalui droplet yang dapat menyebar melalui batuk atau bersin. Bahkan saat seseorang sedang melakukan pembicaraan normal (yang seringkali kita abaikan). Partikel droplet yang besar (yang dapat terlihat / kasat mata) dapat mendarat dalam jarak beberapa meter dari kita, namun partikel yang lebih kecil dapat melayang di udara dan jatuh pada jarak yang lebih jauh. Oleh karena itulah, penting bagi kita untuk selalu menggunakan masker saat bepergian, sering mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah,  serta mengatur jarak aman dengan orang sekitar. Selain itu, kebiasaan buruk meludah sembarangan juga harus dihentikan. Hal-hal tersebut sangat penting, tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita terlebih lagi keluarga yang kita sayangi.

Bisakah kita tetap pergi ke dokter gigi dalam masa pandemi ini?

Hampir semua pelayanan gigi hanya melayani tindakan kegawatdaruratan untuk meminimalkan penyebaran virus Corona. Oleh karena itu, apabila ingin melakukan kunjungan ke dokter gigi, terlebih dahulu pastikan perawatan apa saja yang masih bisa dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat maupun yang biasa dikunjungi. Sebisa mungkin, hindari melakukan kunjungan tanpa melakukan perjanjian. Bersiaplah apabila mengalami penundaan ataupun pembatalan, bahkan untuk jadwal perawatan yang telah dibuat jauh hari.

Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut di masa pandemi ini?

Pandemi COVID-19 ini sepertinya akan tetap berada di sekitar kita selama beberapa bulan ke depan, atau terburuknya, bahkan dalam jangka waktu tahunan. Oleh karena itu, selama Anda tidak memiliki kasus kegawatdaruratan, maka menjaga kebersihkan gigi dan mulut sangatlah penting.

Hal-hal yang dapat dilakukan, antara lain adalah:

  • Jangan pernah berbagi sikat gigi dengan orang lain

Tidak peduli seberapa dekat hubungan anda dengan orang sekitar yang tinggal serumah dengan Anda (bahkan dengan keluarga terdekat sekalipun), jangan pernah bertukar / berbagi sikat gigi Anda dengan siapapun. Sikat gigi adalah barang personal yang tidak seharusnya dapat dipinjamkan / diberikan pada orang lain. Hal ini merupakan salah satu cara baik virus, maupun penyakit lain dapat ditularkan. Pastikan juga untuk menyimpan sikat dalam gelas secara terpisah satu sama lain dengan anggota keluarga lainnya, dan jangan menyimpan sikat gigi dalam wadah tertutup terutama bila baru saja digunakan agar tidak lembab.

  • Gantilah sikat gigi Anda secara rutin

Gantilah sikat gigi paling tidak 3 bulan sekali atau bahkan lebih cepat apabila bulu sikat sudah terlihat rusak sebelum jangka waktu tersebut. Hal ini sangat penting agar Anda dapat tetap menyikat gigi dengan efektif, karena bulu sikat yang telah rusak tidak dapat membersihkan dengan maksimal. Mengganti sikat gigi Anda secara rutin dapat meminimalkan penyebaran bakteri. Apabila sebelumnya Anda telah terinfeksi virus Corona, maka segera ganti sikat gigi Anda.

  • Pastikan untuk menutup penutup toilet sebelum disiram

Tempat penyimpanan sikat gigi pada saat tidak dipakai sangatlah penting. Bila tempat penyimpanannya dekat dengan toilet, maka setiap seseorang melakukan prosedur penyiraman / flushing, maka ada kemungkinan cipratan beserta virus maupun bakteri yang dapat keluar dari toilet dan mendarat pada permukaan sikat gigi. Oleh karena itu, pastikan letak sikat gigi anda tidak berdekatan dengan toilet dan lebih baik lagi tutuplah penutup toilet sebelum disiram.

  • Bersihkan kamar mandi secara rutin

Kamar mandi kita adalah tempat dimana kita biasanya membersihkan diri, serta menyimpan sikat gigi, handuk, dan beberapa barang personal lainnya. Oleh karena itu, bersihkan kamar mandi secara teratur dengan produk berbahan dasar pemutih.

  • Jangan lupa untuk tetap melakukan hal-hal mendasar

Sikat gigi Anda 2 kali sehari (saat pagi dan malam menjelang tidur) dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Gunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi yang tidak dapat terjangkau sikat gigi. Selain itu, perbanyak minum air putih dan kurangi asupan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

Manajemen Kesehatan Gigi selama Bulan Ramadan dalam Kondisi Pandemi Covid-19

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi

Halo keluarga Kejora!

Ramadan adalah bulan ke-9 dalam penanggalan hijriah. Bulan suci yang dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini disebabkan dalam bulan Ramadan ada aktivitas penting yang dilakukan oleh seorang muslim dalam waktu sebulan penuh yakni, berpuasa.

Puasa merupakan salah satu rukun islam, yakni melakukan ibadah dengan menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun bulan Ramadan kali ini cukup berbeda, dengan adanya pandemi wabah penyakit Covid-19. Beberapa kebijakan diberlakukan seperti pembatasan sosial, menjaga jarak, hingga bekerja, bersekolah dan beribadah dari rumah dengan tujuan mengurangi jumlah orang terkena virus Covid-19,

Meski harus melakukan kegiatan dari rumah, namun kita tetap harus menjaga kondisi kesehatan dan kebersihan tubuh agar selalu sehat dan keluar rumah seperlunya. Salah satu organ tubuh yang harus dijaga kebersihannya selama bulan puasa adalah kesehatan gigi.

Sakit gigi disaat menjalankan ibadah puasa tentu tidak nyaman, karena akan mempengaruhi kualitas ibadah saat sakit timbul. Namun, dokter gigi saat ini menjadi salah satu profesi yang memiliki risiko tinggi dapat terinfeksi virus Covid-19. Hal ini disebabkan kontak yang terlalu erat antara dokter gigi dan pasien serta percikan ludah atau air liur pasien yang dapat melekat pada permukaan alat, fasilitas kesehatan bahkan dokter gigi itu sendiri

Oleh karena itu, terdapat anjuran dari PDGI ( Persatuan Dokter Gigi Indonesia) bahwa dokter gigi dapat membantu pasien yang membutuhkan perawatan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri level 3 ( gambar terlampir ) dan hanya dapat menangani tindakan yang bersifat gawat darurat seperti ;

  1. Gusi bengkak karena infeksi
  2. Sakit atau nyeri gigi yang tidak tertahankan
  3. Pendarahan yang tidak terkontrol
  4. Trauma pada gigi dan tulang wajah akibat kecelakaan

Jadi bila terdapat keluhan pada gigi yang bersifat gawat darurat, anda tetap bisa melakukan perawatan. Tetapi bila tidak ada kondisi darurat sebaiknya anda menunda jadwal kunjungan ke dokter gigi di situasi pandemi. Beberapa hal dibawah ini juga harus diingat sebelum datang ke praktik dokter gigi :

  • Konsultasi keluhan gigi terlebih dahulu ke dokter gigi, untuk menentukan apakah perawatan bisa dilakukan atau tunda
  • Peralatan APD ( Alat Pelindung Diri ) dokter gigi dalam praktik menggunakan APD level 3
  • Buat perjanjian ke jadwal kunjungan untuk menghindari kontak dengan pasien lain
  • Tetap menjaga kebersihan saat datang ke dokter gigi dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan etika cuci tangan dengan bersih

Selain itu tetap jaga kebersihan gigi secara teratur agar mengurangi risiko sakit sehingga harus datang ke praktik dokter gigi.

Berikut tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan gigi di bulan Ramadan :

  1. Bau mulut

Ibadah puasa dengan tidak makan atau minum dalam waktu cukup lama, membuat mulut kering. Hal ini karena produksi saliva menurun dan tidak bisa menetralkan asam di dalam mulut sehingga timbul halitosis atau bau mulut. Untuk menghindari bau mulut tetap lakukan sikat gigi 2x sehari pada waktu pagi dan malam hari dan jaga kebersihan gigi dan mulut

  1. Beri jeda untuk sikat gigi setelah makan

Banyak orang berpikiran bahwa setelah makan harus langsung menyikat gigi agar sisa makanan tidak melekat di permukaan gigi dan membuat mulut menjadi segar. Namun, anggapan ini ternyata keliru. Setelah makan sebaiknya seseorang memberi jeda sekitar 30 menit sebelum sikat gigi. Hal ini agar menetralkan asam yang berasal dari konsumsi makanan, sehingga tidak merusak lapisan enamel

  1. Gunakan Dental Floss

Seringkali sisa makanan terdapat di sela gigi dan sulit dijangkau oleh sikat gigi. Jangan menggunakan tusuk gigi untuk membersihkannya karena akan mengiritasi gusi, namun gunakan benang gigi atau dental floss untuk membersihkan sisa makanan pada sela gigi

  1. Minum cukup air putih

Tubuh harus memiliki cukup cairan, saat puasa pun tetap harus menjaga konsumsi air agar tidak terjadi dehidrasi. Sebaiknya konsumsi 8 gelas air setiap hari, dengan pembagian 2 saat berbuka puasa, 4 malam dan 2 saat sahur

  1. Pemberian obat

Bila ada rasa sakit atau infeksi, dapat menghubungi dokter gigi anda untuk melakukan pengecekan terhadap gigi yang bermasalah. Apabila diberikan resep obat, bisa dikonsumsi dengan periode waktu tertentu seperti sahur, berbuka puasa atau saat menjelang tidur

  1. Konsumsi buah dan sayur dengan cukup

Kebutuhan nutrisi vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Sayur dan buah dapat memberikan vitamin dan mineral untuk menghindari penyakit mulut

  1. Hindari konsumsi makanan dengan bau berlebihan

Hal ini untuk mengurangi risiko bau mulut selama menjalankan ibadah puasa

Sumber :

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26147170/
https://www.researchgate.net/publication/279195908_Ramadan_fasting_and_dental_treatment_considerations_A_review
PB PDGI ( Pengurus Besar –  Persatuan Dokter Gigi Indonesia )

5 Hal Pentingnya Persetujuan Medis dalam Praktik Kedokteran Gigi (Informed Consent)

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora

Pernah tidak Anda mengalami suatu keadaan dimana saat Anda berhadapan dengan seorang dokter gigi dan berencana melakukan tindakan gigi, namun setelah dokter gigi memberikan informasi Anda diminta mengisi surat pernyataan sesaat sebelum tindakan dimulai?

Anda tidak perlu khawatir, surat pernyataan medis atau yang dikenal dengan informed consent merupakan salah satu elemen penting dalam tindakan kedokteran gigi terutama tindakan yang memiliki risiko tinggi.

Berikut merupakan informasi yang perlu anda ketahui mengenai persetujuan medis (informed consent) dalam praktik kedokteran gigi:

  1. Persetujuan medis (informed consent) adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas tindakan kedokteran gigi yang diajukan oleh dokter gigi setelah menerima informasi dan segala risiko yang akan terjadi.
  1. Persetujuan tindakan medis biasanya dilakukan pada tindakan kedokteran gigi yang memiliki risiko tinggi
  1. Persetujuan tindakan medis dianggap sah, apabila:
    • Pasien telah diberi penjelasan/informasi
    • Pasien atau wali dalam keadaan cakap (kompeten) untuk memberikan keputusan/persetujuan
    • Persetujuan diberikan secara sukarela

Selain itu persetujuan medis dapat disampaikan melalui berbagai cara:

    • Persetujuan tersirat atau tidak dinyatakan (implied consent)
    • Persetujuan yang dinyatakan (express consent) baik secara lisan (oral consent) dan tertulis (written consent)
  1. Fungsi penting Informed Consent :

Bagi dokter gigi, informed consent membuat rasa aman dalam menjalankan tindakan medis kepada pasien dan sebagai bahan pembelaan apabila terjadi gugatan yang timbul dari akibat yang tidak dikehendaki. Bagi pasien merupakan penghargaan atas haknya memperoleh hak informasi dan keputusan untuk menolak atau menyetujui suatu tindakan kedokteran gigi.

  1. Tindakan dalam praktek kedokteran gigi yang membutuhkan informed consent

Ada beberapa tindakan yang memiliki resiko tinggi, sehingga membutuhkan informed consent seperti :

    • Perawatan saluran akar
    • Pencabutan gigi
    • Anestesi untuk pencabutan gigi
    • Operasi gigi

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi anda, terutama perlindungan terhadap risiko saat tindakan dalam praktik kedokteran gigi

Salam Sehat Kejora

Cari Tahu Perbedaan Dokter Gigi, Ahli Gigi, Teknisi Gigi, Salon Kecantikan Gigi dan Tukang Gigi

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora

Mungkin anda familiar dengan situasi seperti ini, ada banyak sekali profesi menggunakan kata gigi dan membuat anda bingung mana yang seharusnya melakukan perawatan bila mengalami sakit gigi, penambalan gigi, pencabutan gigi atau pembuatan gigi tiruan. Ilustrasi yang sering anda temui di ruas jalan, seperti Salon Kecantikan Gigi, Tukang Gigi, Teknisi Gigi, Dokter Gigi, Ahli Gigi, Dokter Spesialis Gigi, Klinik Gigi, Rumah Sakit Gigi dan Mulut, hampir mirip satu dengan lainnya. Hal ini sering membuat masyarakat bertanya mana siapa yang akan melakukan perawatan pada gigi mereka. Tentu tidak ada yang salah dengan mencari informasi sebanyak mungkin, namun Kejora Indonesia membantu anda untuk memastikan bahwa tempat yang akan anda kunjungi untuk melakukan perawatan gigi sudah tepat.

Lantas apa yang membedakan?

Profesi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/PER/IV/2007 mengenai Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran

Dokter dan Dokter gigi adalah Dokter, Dokter spesialis, Dokter gigi, Dokter gigi spesialis, lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Selain itu setiap Dokter atau Dokter Gigi yang melakukan praktik kedokteran wajib memiliki SIP, yakni surat izin praktik sebagai bukti tertulis  bahwa Dokter tersebut telah memenuhi persyaratan untuk menjalankan praktik kedokteran. Anda pun bisa melakukan pengecekan memiliki melalui laman www.kki.go.id/cekdokter/form.

Lalu apa perbedaan antara Dokter gigi umum dan Dokter gigi spesialis? Perbedaan paling mendasar yakni cakupan jenis pelayanan yang dilakukan. Dokter gigi umum memiliki tugas pokok yang berperan dalam memberikan pelayanan tindakan dasar kedokteran gigi salah satu diantaranya yakni memberikan pelayanan promotif (promosi kesehatan), preventif (pencegahan penyakit), kuratif (pengobatan penyakit) dan rehabilitatif (pengembalian fungsi) serta melakukan pelayanan rujukan. Sementara Dokter gigi spesialis adalah orang yang melakukan tindakan penegakan diagnosa serta pelayanan gigi  lebih lanjut sesuai dengan bidang spesialisasinya ( Dokter Gigi Spesialis Gigi Anak, Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut, Dokter Gigi Spesialis Periodonsia, Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia, Dokter Gigi Spesialis Konservasi Gigi, Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut, Dokter Gigi Spesialis Ortodonti, dan Dokter Gigi Spesialis Radiologi Kesehatan Gigi).

Bagaimana dengan Salon kecantikan gigi, Tukang gigi, Ahli gigi, atau Teknisi gigi?

  1. Teknisi Gigi

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 372/Menkes/SK/III/2007

Teknisi gigi adalah orang yang telah menyelesaikan diploma 3 Teknik Gigi sesuai aturan yang berlaku. Teknisi gigi mempunyai tugas pokok dalam melaksanakan pelayanan laboratorium, yang meliputi bidang pembuatan prothesa cekat (gigi tiruan cekat), prothesa lepasan ( gigi tiruan lepasan), alat orthodonti dan prothesa maxillofacial

  1. Tukang Gigi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 39/2014

Tukang Gigi adalah orang yang mampu membuat dan memasang gigi tiruan lepasan. Gigi tiruan lepasan sebagian dan atau penuh yang terbuat dari bahan heat curing acrylic yang memenuhi ketentuan persyaratan kesehatan, salah satunya dengan tidak menutupi sisa akar gigi.

  1. Sementara Salon Kecantikan Gigi, Ahli Gigi tidak memiliki dasar kompetensi yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia

Fasilitas Kesehatan

Bila anda ingin melakukan perawatan gigi dan bertemu dengan Dokter gigi atau Dokter Gigi Spesialis ada berbagai macam fasilitas kesehatan yang bisa anda kunjungi seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskemas), Praktek Dokter Gigi Pribadi atau Praktek Dokter Gigi Bersama, Klinik, Rumah Sakit Swasta, RSUD, RS Pusat,atau bahkan Rumah Sakit Pendidikan yang biasanya bekerja sama dengan institusi pendidikan (Universitas). Hindari melakukan penanganan kesehatan gigi oleh oknum yang tidak memiliki kompetensi dengan alasan apapun, karena akan membahayakan kesehatan gigi bahkan nyawa anda.

Biaya

Biaya perawatan kesehatan gigi bervariasi namun identik dengan jumlah yang cukup besar. Sehingga banyak orang yang mengabaikan keluhan dan kebutuhan akan kesehatan gigi. Bukan hanya dari segi biaya saja, kontrol berulang atau bahkan keinginan untuk melakukan perawatan secara instan, bujuk rayu iklan di media sosial oleh oknum yang tidak kompetensi, membuat mind set sebagian orang untuk mencari alternatif perawatan gigi selain fasilitas dan tenaga kesehatan yang resmi sering dicari.

Sebetulnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dengan biaya lebih terjangkau saat ini, seperti layanan gratis pada beberapa bantuan kemanusiaan, Lembaga Keagamaan, Rumah Sakit Pendidikan dan kini ada Program Kesehatan berdasarkan UU No.24 th.2011 yakni BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang memberikan pelayanan kesehatan gigi baik dari tingkat 1 hingga tingkat lanjutan dengan biaya cukup terjangkau.

Sebagai gambaran dalam Pelayanan BPJS tingkat primer, berbagai hal berikut dapat dilakukan seperti; pemeriksaan, pengobatan, konsultasi medis, gawat darurat oro dental, pencabutan gigi sulung, pencabutan gigi permanen tanpa penyulit, obat pasca pencabutan gigi, tumpatan komposit atau GIC, pembersihan karang gigi ( 1 kali dalam setahun) hingga pembuatan gigi tiruan dengan limitasi/ plafon tertentu.

Harapan kami, informasi di atas dapat memudahkan anda keluarga Kejora Indonesia untuk memilih Fasilitas serta Tenaga Kesehatan Gigi yang kompetensi, tepat, dan bukan tempat yang tidak semestinya.

Untuk Indonesia yang lebih sehat. Salam, Kejora Indonesia.

Sumber

Http://www.kki.go.id
Http://www.bpjs-kesehatan.go.id
Http://www.persi.or.id
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/PER/IV/2007
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 39 /2014
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 372/Menkes/SK/III/2007

Ibu, Mengapa Gigi Aku Berwarna Kuning?

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Keluarga Kejora,

Apakah anda pernah mendapatkan pertanyaan si buah hati mengapa warna gigi tidak putih melainkan kuning? Atau saat gigi dewasa yang erupsi (tumbuh) warna gigi menjadi lebih kuning dibandingkan gigi anak sebelumnya? Atau mungkin Ayah dan Ibu pernah menyadari warna gigi anda terlihat lebih gelap dari beberapa tahun lalu?

Apa penyebab gigi berwarna kuning?

Sebelumnya, memang terdapat perbedaan paling mendasar dalam segi anatomi maupun warna baik dari gigi anak maupun gigi tetap. Pada gigi anak, lapisan permukaan email cenderung lebih tipis dan berwarna lebih putih. Hal ini yang menyebabkan gigi anak sering dinamakan gigi susu, karena warna gigi anak putih seperti susu. Sementara gigi tetap atau gigi dewasa memiliki warna lebih kekuningan dibandingkan gigi anak, karena lapisan permukaan yang lebih tebal dan warna dentin yang lebih kuning. Oleh karena itu, gigi permanen terlihat lebih kekuningan dibanding gigi susu.

Namun, selain dari perbedaan mendasar pada warna antara gigi susu dan gigi tetap, ada hal lain yang juga berpotensi membuat gigi mengalami perubahan warna. Beberapa hal dibawah ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi:

  1. Makanan dan minuman

Beberapa jenis makanan dan minuman dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi. Seperti teh, kopi, minuman bersoda dapat menyebabkan stain pada gigi.

  1. Tembakau dan kebiasaan merokok, bahan ini juga mengakibatkan terjadinya stain pada gigi dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi
  2. Kesehatan mulut yang buruk

Tidak memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, seringkali membuat kesehatan gigi dan mulut menjadi buruk. Rajin melakukan sikat gigi 2 kali sehari, membersihkan sisa makanan disela gigi dengan dengan dental floss, berkumur dengan cairan antiseptik untuk menghilangkan plak dan mengurangi produksi stain yang menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi.

  1. Menderita penyakit

Beberapa penyakit dapat mengakibatkan perubahan warna gigi terutama berkaitan dengan perawatan yang dilakukan. Sebagai contoh ; radiasi kepala dan leher, kemoterapi yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan warna gigi.

  1. Pengobatan

Beberapa obat seperti antibiotik tetracycline, doxycycline dapat menyebabkan perubahan warna gigi, terutama bila diberikan pada usia anak-anak masa pertumbuhan. Chlorhexidine, Cetylpyridinium chloride juga dapat menyebabkan stain pada gigi. Beberapa obat golongan antihistamin dan obat hipertensi juga dapat menyebabkan perubahan warna gigi.

  1. Bahan Material Gigi

Beberapa bahan material yang digunakan dalam kedokteran gigi terutama dalam penambalan seperti restorasi amalgam, seringkali dalam waktu lama dapat menyebabkan warna hitam keabu-abuan pada gigi.

  1. Penambahan Usia

Semakin bertambahnya usia, lapisan email bagian luar menjadi semakin tipis atau usang, sehingga warna kuning yang berasal dari lapisan dentin tampak lebih terlihat.

  1. Genetik

Pada beberapa orang sering terdapat email gigi dengan warna lebih gelap, terang maupun lapisan permukaan yang lebih keras.

  1. Lingkungan

Konsumsi kandungan fluoride yang cukup tinggi dari lingkungan, seperti kadar fluoride dalam air atau kadar penggunaan yang tinggi seperti aplikasi fluoride di pasta gigi, suplemen fluoride dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna.

  1. Trauma

Mengalami trauma seperti terjatuh yang mengenai bagian gigi sehingga menyebabkan kerusakan cukup berat terutama pada usia anak-anak. Gigi yang mengalami trauma cukup berat seringkali menimbulkan perubahan warna pada gigi.

Bagaimana caranya agar kita bisa mencegah terjadinya perubahan warna pada gigi?

    • Menjaga kebersihan gigi dan mulut yang baik dan benar merupakan salah satu cara mencegah perubahan warna pada gigi, seperti sikat gigi 2x sehari, melakukan dental flossing untuk mengambil sisa makanan yang tersisa di sela gigi serta rajin melakukan kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
    • Melakukan perubahan gaya hidup seperti mengurangi konsumsi kopi, teh dan minuman bersoda juga menghentikan kebiasaan merokok agar gigi tidak mudah berubah warna.
    • Apabila penampakan gigi anda terlihat tidak normal karena perubahan warna yang terlalu besar mungkin anda bisa mengunjungi dokter gigi untuk melakukan konsultasi mengenai permasalahan gigi anda.

      Berikut beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk gigi yang mengalami perubahan warna:

      A. Veneer gigi

      B. Whitening office

      C. Home bleaching

      D. Bonding

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/tooth-discoloration
http://dentalresource.org/topic53stainedteeth.html

Bagaimana Membatasi Camilan Manis pada Anak?

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu kejora..!

Kali ini saya akan membahas tentang konsumsi camilan manis pada si Kecil ya. Camilan manis tersebut seperti, permen, kue, biskuit, dan makanan atau minuman manis yang dikonsumsi oleh anak diantara waktu makan utama ternyata dapat menyebabkan terjadinya lubang pada gigi lho.

Bagaimana gula dapat menyerang gigi?

Kuman yang sering kita sebut bakteri, tidak terlihat oleh kasat mata ini hidup dalam rongga mulut kita. Sebagian besar bakteri ini dapat membentuk lapisan lengket yang disebut ‘plak’ pada permukaan gigi. Sukrosa (salah satu jenis gula) merupakan ‘makanan’ bagi bakteri. Saat si Kecil mengonsumsi camilan manis, bakteri dalam plak akan mengubah gula menjadi zat asam yang akhirnya akan melemahkan struktur gigi. Zat asam ini cukup kuat untuk menghancurkan lapisan email pada gigi. Proses inilah yang mengawali terjadinya lubang pada gigi. Bila si Kecil tidak mengonsumsi camilan manis dalam jumlah yang banyak, maka bakteri tidak akan memproduksi banyak zat asam sehingga proses lubang gigi dapat dicegah.

Bagaimana agar camilan manis yang dikonsumsi si Kecil tidak menyebabkan lubang pada gigi?

Ketahuilah batasannya

  • U.S. Food Drug Administration (FDA) merekomendasikan bahwa anak usia 3 tahun keatas tidak boleh mengonsumsi lebih dari 12.5 sendok teh gula tambahan (sama dengan 1 kaleng soda). World Health Organization (WHO) merekomendasikan bahwa orang dewasa tidak boleh mengonsumsi lebih dari 6 sendok teh gula tambahan, sedangkan anak-anak tidak lebih dari 3 sendok teh gula tambahan. Saat memilih camilan, perhatikan label komposisi gula pada camilan tersebut. Biasanya kandungan gula tertulis dalam satuan gram. Karena 1 sendok teh gula setara dengan 4 gram,pastikan agar camilan manis yang dikonsumsi si Kecil berkisar antara 12-50 gram/hari.
  • Memperbanyak konsumsi camilan yang mengandung gula alami seperti susu dan buah.

Hindari konsumsi minuman bersoda

Minuman bersoda sangat buruk bagi kesehatan gigi. Kandungan gula yang terdapat pada sekaleng soda dikatakan setara dengan jumlah gula yang direkomendasikan untuk anak selama 3 hari. Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara minuman soda yang dikonsumsi dengan kesehatan gigi yang buruk pada remaja.

Berhati – hatilah dengan kudapan manis yang lengket pada gigi

Apabila anda beranggapan bahwa kudapan buah yang dikeringkan (contoh/; kismis) merupakan kudapan sehat untuk anak, maka anda harus berhati-hati. Banyak orangtua kaget bahwa kudapan jenis ini lebih mirip dengan permen dibanding dengan buah. Bahkan, kudapan ini lebih buruk dibandingkan dengan permen karena konsistensinya yang lengket dapat melekat lebih lama pada permukaan gigi bila dibandingkan susu cokelat yang lebih mudah larut.

Jadilah contoh bagi si Kecil

Ayah dan ibu pasti akan melakukan apapun untuk sang buah hati, kan? Kalau begitu, apakah ayah dan ibu sanggup untuk melakukan hal-hal diatas pada diri sendiri? Memberi teladan bagi anak dapat membuat perbedaan besar dalam kesehatan seluruh keluarga. Apabila anda ingin mengubah kebiasaan si Kecil, maka lakukanlah hal yang sama dengan mereka dan jadilah teladan yang baik.

Sumber :

Editor : drg. Saka Winias,. M.Kes., Sp.PM

Kebiasaan yang Baik untuk Kesehatan Gigi Bayi dan Balita

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Hai Ayah dan Ibu Kejora..

Apakah Ayah dan Ibu tahu, bahwa gigi pada anak sudah memiliki risiko untuk menjadi berlubang sejak pertama kali tumbuh?

Proses lubang/pembusukkan gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda seringkali disebut dengan “baby bottle tooth decay”atau “early childhood caries”. Namun, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir. Berita baiknya, lubang pada gigi anak dapat dicegah, terutama dengan cara menjaga kebiasaan yang baik sedini mungkin.

Yuk, kita simak tanya jawab dengan drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA yang akan menjelaskan lebih lanjut tentang kesehatan gigi  pada bayi dan balita.

Dok, seperti apa sih proses tumbuh gigi (teething) itu?

Tumbuh gigi merupakan salah satu ritual awal dalam fase kehidupan. Biasanya, gigi sulung pada anak akan lengkap berjumlah 20 gigi pada saat anak sudah berusia 3 tahun. Seiring dengan bertumbuhnya anak, rahang mereka juga akan berkembang dan memberi ruang bagi tumbuhnya gigi permanen. Gigi depan anak (4 gigi pertama) biasanya mulai tumbuh saat usia 6 bulan, walaupun ada pula anak-anak yang belum memiliki gigi sampai usia 12 atau 14 bulan. Saat gigi mulai tumbuh, beberapa bayi akan rewel dan mudah marah, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau mengiler lebih banyak daripada biasanya. Diare, ruam, dan demam bukanlah gejala normal dari bayi yang akan tumbuh gigi. Maka, apabila bayi mengalami gejala tersebut, segeralah hubungi dokter. Ayah dan Ibu, urutan pertumbuhan gigi sulung pada anak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Dok, apakah ada langkah mudah untuk menjaga kesehatan gigi?

Ada lima langkah yang dapat dilakukan yaitu menyikat gigi dengan pasta gigi mengandung fluoride, membatasi penggunaan alat makan bersama dan empeng, makan makanan sehat (sayur dan buah), berkunjung rutin ke dokter gigi dan mintalah dokter gigi untuk melakukan pelapisan ceruk gigi pada anak.

Dok, bagaimana sih cara menjaga kesehatan mulut bayi?

Mulailah membersihkan rongga mulut bayi sejak beberapa hari setelah proses kelahiran. Caranya adalah dengan mengusap gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.

Lalu dok, bagaimana cara membersihkan gigi pada anak?

  • Untuk anak dengan usia kurang dari 3 tahun, orangtua/pengasuh harus mulai menyikat gigi anak segera setelah gigi pertama tumbuh secara perlahan. Caranya adalah dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.

  • Sikatlah gigi dengan menggunakan sikat gigi anak dan pasta gigi yang mengandung fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun. Apabila anak sudah memiliki 2 gigi yang saling berkontak satu sama lain, mulailah untuk menggunakan dental floss. Cara ini dilakukan hingga Ayah dan Ibu yakin bahwa anak dapat menyikat gigi sendiri, yaitu saat gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik saat anak sudah berusia 8-9 tahun. Setelah itu, dianjutkan dengan mengawasi kegiatan sikat gigi anak.

  • Kegiatan menyikat gigi dilakukan 2 kali sehari (pagi dan malam hari) atau sesuai dengan saran dokter gigi. Selalu awasi anak saat menyikat gigi dan ingatkan agar tidak menelan pasta gigi secara berlebihan.

Kapan dilakukan kunjungan pertama ke dokter gigi?

Mulailah jadwalkan kunjungan ke dokter gigi segera setelah gigi sulung anak pertama kali muncul. ADA (American Dental Association) merekomendasikan kunjungan pertama ke dokter gigi 6 bulan setelah gigi pertama anak mulai tumbuh dan paling lambat dilakukan saat anak berusia 1 tahun. Untuk membuat kunjungan terasa menyenangkan, lakukan hal berikut:

  • Pertimbangkan untuk membuat kunjungan di pagi hari saat anak cenderung tenang dan kooperatif.
  • Simpan kekhawatiran/kecemasan yang Ayah dan Ibu miliki dan jangan tunjukkan kepada anak. Anak dapat merasakan emosi Ayah dan Ibu, sehingga harus ditunjukkan emosi yang positif.
  • Hindari menggunakan kunjungan sebagai hukuman atau ancaman.
  • Hindari menyuap/menyogok anak.
  • Komunikasikan pada anak mengenai kunjungan ke dokter gigi.

 

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.mouthhealthy.org/en/babies-and-kids/healthy-habits

Penyebab Bau Mulut pada Anak

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Pernahkah anda menemukan kondisi buah hati saat berbicara kepada anda atau orang lain tercium aroma tidak sedap dari dalam mulutnya? Atau ia sendiri mengeluhkan bau yang tidak nyaman keluar dari rongga mulut? Bisa saja si kecil anda mengalami masalah bau mulut atau dalam dunia medis dikenal dengan nama halitosis.

Berbicara mengenai halitosis, kita akan menemukan berbagai pencetus bau mulut yang bisa terjadi baik pada usia dewasa maupun anak-anak. Faktor kesehatan gigi dan mulut yang buruk, atau mengonsumsi jenis makanan yang sarat akan aroma tertentu, seringkali menjadi patokan penyebab bau mulut. Nyatanya, bukan hanya faktor kesehatan gigi dan mulut serta aroma dari makanan saja, ada berbagai faktor pencetus lainnya yang seringkali luput dari perhatian kita.

Pada dasarnya, setiap makanan yang masuk di tubuh akan diurai pertama kali melalui organ gigi dan mulut. Jika anda atau si kecil tidak memperhatikan mengenai kebersihan gigi, seperti rajin menyikat gigi dan menggunakan ​dental floss, sisa makanan tersebut akan menempel pada permukaan gigi dengan waktu yang lebih lama dan hal ini menjadi pemicu hadirnya bau mulut.

Berikut beberapa penyebab bau mulut pada anak :

  1. Bakteri pada mulut

Bau mulut bisa terjadi kapan saja, salah satu penyebabnya adalah bakteri yang ada pada mulut. Sisa makanan menjadi sarang bakteri tumbuh di dalam mulut.

  1. Mulut kering (Dry Mouth)

Rongga mulut anda bisa saja tidak memproduksi cukup banyak saliva (air liur) dan menyebabkan mulut menjadi kering. Saliva merupakan elemen penting yang berfungsi untuk membersihkan sisa makanan secara alami di dalam mulut anda. Bila kadar saliva berkurang, mulut kita akan terasa kering bahkan terasa kurang bersih. Salah satu penyebab mulut kering yakni dalam pengobatan tertentu, masalah pada ​glandula saliva, dan bernafas melalui mulut.

  1. Bernafas melalui mulut

Saat seorang anak berbicara melalui mulut (karena hidung tersumbat atau kebiasaan tidur yang salah), hal ini memicu terjadinya ​xerostomia atau yang biasa dikenal mulut kering yaitu gejala yang terjadi saat produksi saliva berkurang atau berhenti memproduksi saliva. Hal ini menyebabkan saliva tidak bisa berfungsi membersihkan sisa makanan dan menyebabkan bau mulut.

  1. Kesehatan rongga mulut yang buruk

Bila anak anda tidak rajin menyikat gigi secara teratur, bisa mengakibatkan bau mulut. Karena dengan tidak teratur, sangat berpotensi membuat lubang pada gigi dan plak yang tidak dibersihkan bisa mengiritasi gusi. Selain itu, bagian lidah yang tidak dibersihkan juga menjadi tempat melekatnya sisa makanan yang berpotensi menghasilkan bau mulut. Jadi pastikan, anak anda menyikat gigi secara teratur dan membersihkan bagian lidah.

  1. Infeksi di rongga mulut

Bau nafas yang sulit hilang hingga periode cukup lama bisa saja disebabkan adanya lubang pada gigi, infeksi gigi, plak, serta lesi sariawan di dalam mulut.

  1. Objek asing

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, salah satunya melalui permainan. Mereka sangat suka bermain apa saja tidak terkecuali bermain dengan barang yang ukurannya kecil (mainan kecil, bahan makanan atau barang lain). Bila barang ini tersangkut di area hidung dan tidak segera diambil dapat berpotensi menjadi penyebab bau mulut.

  1. Makanan

Beberapa jenis makanan tertentu memiliki aroma yang kuat seperti; bawang putih, bawang bombay dan beberapa jenis bahan makanan lainnya yang berpotensi mengurangi kesegaran nafas buah hati tercinta

  1. Kondisi sakit atau dalam pengobatan medis

Apabila si kecil memiliki riwayat penyakit tonsilitis, penyakit sinus, alergi atau sedang dalam pengobatan penyakit tertentu, hal ini bisa membuat nafasnya menjadi tidak segar.

Terkadang kondisi bau mulut sering tidak disadari oleh setiap individu. Biasanya lawan bicara yang akan lebih merasakan efek dari nafas yang kurang baik. Sebagai orangtua, tentu anda tidak menginginkan hal ini terjadi pada anak anda bukan?

Karena selain anda merasa tidak nyaman, bisa saja hal ini mengurangi kadar percaya diri buah hati anda. Berikut tips menghilangkan bau mulut:

  1. Sikat gigi dan membersihkan sela gigi dengan ​dental floss

Lakukan sikat gigi secara teratur 2 kali sehari yakni pada pagi hari dan malam hari menurut aturan dari ​ADA (American Dental Association). Guna sikat gigi secara teratur yakni menghilangkan sisa makanan serta plak yang menempel pada permukaan gigi. Beri penjelasan kepada buah hati anda untuk tidak menelan pasta gigi yang digunakan.

  1. Sikat bagian lidah

Beri pemahaman bagi si kecil, bahwa sikat bagian lidah bersamaan saat menyikat gigi. Sisa makanan bisa saja melekat pada permukaan lidah dan berpotensi menimbulkan bakteri pada mulutnya.

  1. Ganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali

Periksa kondisi bulu sikat secara teratur dan buat jadwal untuk mengganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali. Karena dengan bulu sikat yang kondisinya baik, diharapkan dapat mengambil sisa-sisa makanan dengan efektif.

  1. Jaga agar cairan saliva cukup

Mengkonsumsi makanan sehat yang kaya akan serat dan air membantu menjaga kadar saliva tetap cukup didalam mulut. Selain itu, kebiasaan semakin sering mengunyah juga membantu meningkatkan kadar saliva.

  1. Minum air putih

Penuhi kebutuhan konsumsi air putih agar menjaga kondisi mulut tidak kering.

  1. Kontrol rutin ke dokter gigi

Cek secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, untuk mengetahui apakah ada gigi berlubang, plak dan karang gigi bahkan infeksi gigi yang dapat menimbulkan bau mulut.

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/bad-breath https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/bad-breath

Baby Bottle Tooth Decay

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Ada anggapan bahwa, “Gigi sulung kan hanya sementara, dok… Nanti juga kalau rusak akan diganti dengan gigi permanen.”

Gigi sulung memang hanya sementara, namun tetap sangat penting untuk dijaga. Coba Ayah dan Ibu pikirkan lagi ya..

Anak-anak membutuhkan gigi yang sehat dan kuat untuk mengunyah makanan, berbicara, serta tersenyum. Gigi sulung juga berguna sebagai pemandu agar gigi permanen dapat tumbuh dengan benar. Oleh karena itu, sangat penting untuk mulai memperkenalkan cara menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan akan berlanjut hingga anak beranjak dewasa.

Lubang pada gigi sulung sangat rentan untuk terjadi. Bila lubang pada gigi sulung tidak dirawat, maka bisa timbul rasa sakit dan infeksi. Bahkan, apabila lubang pada gigi sudah sangat parah, maka gigi sulung harus dicabut. Hal ini akan menyebabkan beberapa masalah seperti asupan nutrisi anak yang dapat terganggu akibat anak kesulitan untuk makan, masalah dalam berbicara, serta dapat mengganggu perkembangan gigi permanen. Selain itu, kemungkinan gigi permanen tumbuh berantakan atau berjejal, akan semakin besar.

Apakah itu “baby bottle tooth decay”?

Proses pembusukan atau lubang gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda disebut dengan “Baby bottle tooth decay” atau “Early childhood caries”. Kondisi ini terjadi saat cairan yang manis atau bergula alami, seperti susu (ASI, susu formula, susu UHT) atau jus buah, menempel pada gigi bayi dan anak dalam waktu yang lama.

Bakteri dalam rongga mulut akan tumbuh dengan subur pada lingkungan yang kaya akan gula tersebut, kemudian akan menghasilkan produk asam yang akan menyerang dan melemahkan struktur gigi.

Apa penyebabnya?

Salah satu penyebab tersering adalah frekuensi cairan manis yang terlalu lama berkontak dengan gigi. Hal ini dapat terjadi saat bayi tertidur dengan menggunakan botol yang diisi dengan cairan manis, atau empeng yang telah dicelup pada cairan gula atau sirup.  Memberikan cairan manis baik saat tidur siang maupun malam hari sangat berbahaya. Hal tersebut dikarenakan jumalh aliran saliva atau air liur berkurang pada saat tidur. Kurangnya aliran saliva menyebabkan pembersihan sisa cairan manis tidak berjalan dengan baik.

Lubang pada gigi juga dapat disebabkan oleh bakteri yang ditularkan oleh ibu atau pengasuh kepada anak melalui saliva. Saat ibu atau pengasuh memasukkan sendok makan atau empeng bersih anak ke dalam mulutnya, kemudian memberikannya kepada anak, maka bakteri ini dapat berpindah ke rongga mulut anak.

Bagaimana cara pencegahannya?

Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir ya… Berita baiknya, lubang pada gigi dapat dicegah dengan menerapkan kebersihan gigi dan mulut sedini mungkin, dengan cara:

  • Bersihkan gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.
  • Saat gigi pertama anak mulai tumbuh, mulailah untuk menyikat gigi anak secara perlahan dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak, serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung fluoride, hingga usia anak 3 tahun. Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.
  • Sikat gigi anak dengan pasta gigi ber-fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun.
  • Awasi kegiatan sikat gigi anak hingga gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik (umumnya hingga anak berusia 8-9 tahun).
  • Mulailah untuk menggunakan dental floss saat seluruh gigi telah tumbuh.
  • Pastikan anak mendapat cukup fluoride, yang dapat membantu mencegah terbentukknya lubang pada gigi. Bila sumber air lokal tidak mengandung fluoride, konsultasikan lebih lanjut pada dokter gigi mengenai bagaimana cara mendapat asupan fluoride (bisa dengan suplemen atau aplikasi fluoride topikal).
  • Buatlah jadwal kunjungan rutin ke dokter gigi yang dimulai saat anak menginjak usia 1 tahun. Yang perlu Ayah dan Ibu ingat, memulai kebiasaan baik sedini mungkin adalah kunci untuk menjaga kesehatan gigi jangka panjang.

Ada pun beberapa cara lain, yaitu:

  • Hindari mengisi botol susu dengan cairan manis dan minuman soda. Botol susu hanya digunakan untuk susu (asi perah maupun susu formula) dan air putih. Minuman soda tidak dianjurkan untuk anak, karena tidak mengandung nutrisi dan memiliki kandungan gula yang tinggi. Apabila anak sudah terlanjur memiliki kebiasaan mengkonsumsi cairan manis dan minuman soda, maka mulailah secara perlahan untuk mengurangi kandungan gula pada cairan manis secara bertahap selama 2-3 minggu. Lakukan hingga akhirnya botol hanya diisi dengan air putih saja.
  • Hindari membiarkan anak tertidur dengan botol susu yang berisi cairan selain air putih.
  • Hindari memberikan empeng yang dicelupkan dalam cairan apapun yang mengandung gula.
  • Kurangi asupan gula pada makanan anak, terutama snack di antara waktu makan utama.
  • Latih anak untuk mulai menggunakan cangkir saat anak sudah berusia 1 tahun.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.webmd.com/oral-health/guide/what-is-baby-bottle-tooth-decay#2
https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/baby-bottle-tooth-decay

Sumber gambar:

https://askthedentist.com/baby-bottle-tooth-decay/

Makanan untuk Gigi yang Kuat

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Memiliki gigi susu yang sehat dan kuat merupakan keinginan setiap orang tua terhadap anaknya. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mempertahankan kesehatan gigi anak seperti; pengecekan secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, penutupan lubang pada gigi, menjaga kebersihan mulut dengan berkumur sehabis makan, dan rajin menyikat gigi dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur.

Asupan bahan makanan yang baik juga tidak kalah pentingnya dalam menunjang kesehatan gigi. Ada banyak sumber makanan sehat yang bisa dikonsumsi, salah satunya yang mengandung sumber makanan kalsium.

Kalsium merupakan salah satu nutrisi penting untuk kesehatan gigi dan tulang. Pada gigi, kalsium dapat memperkuat lapisan luar permukaan gigi yakni email. Permukaan email gigi rentan terhadap adanya lubang (​karies)​ juga erosi. Karena email merupakan lapisan terluar dan menjadi pertahanan paling penting dalam kekuatan gigi. Dalam upaya menjaga gigi agar tetap kuat, dibutuhkan 1000-2000 mg jumlah kalsium per hari untuk dikonsumsi.

Tentu anda sering mendengar, sumber makanan yang memiliki kalsium cukup banyak berasal dari produk susu. Susu dan berbagai jenis makanan olahannya memang memiliki nilai kalsium yang cukup tinggi. Namun ternyata kalsium tidak hanya terdapat pada susu, banyak sumber makanan lain yang memiliki jumlah kandungan kalsium cukup tinggi. Beberapa jenis sumber makanan tersebut dapat menjadi alternatif pilihan bagi buah hati anda terutama yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi terhadap susu dan produk olahannya, namun tetap ingin mendapatkan nutrisi kalsium untuk tumbuh kembangnya.

Berikut merupakan jenis sumber bahan makanan yang memiliki nilai kandungan kalsium tinggi, seperti:

  1. Susu
  2. Keju
  3. Yoghurt
  4. Tahu. Bisa menjadi pilihan untuk kekuatan gigi.
  5. Ikan. Beberapa jenis seperti ikan sarden dan ikan salmon memiliki kandungan kalsiumtinggi
  6. Kacang-kacangan. Jenis kacang-kacangan banyak mengandung protein, serat vitamin,serta mineral. Kacang Almond, kacang kedelai merupakan jenis kacang yang tingginutrisi kalsium
  7. Sayuran hijau seperti kale, bayam
  8. Gandum. Cereal seperti corn flakes, roti
  9. Susu kedelai

Beberapa jenis makanan di atas baik untuk dikonsumsi, terutama bagi buah hati anda karena sedang mengalami masa tumbuh kembang. Namun apakah mereka masih bisa mengonsumsi jenis makanan kudapan yang manis atau ​snack ​yang terkadang memiliki kadar gula tinggi dan sangat berpotensi menjadi karies pada gigi? Tentu saja sebagai variasi konsumsi menu makan si kecil; snack, kudapan manis, boleh diberikan namun tetap harus memperhatikan batasan pemberian makanan tersebut.

Hal lain yang perlu diingat adalah selalu mengonsumsi air putih setiap hari, khususnya setelah mengonsumsi makanan manis. Tujuannya adalah agar tubuh anak terhindar dari dehidrasi dan menghindari sisa makanan tidak terlalu lama melekat pada permukaan gigi yang berpotensi membuat lubang pada gigi anak anda.

Sumber :

https://www.mouthhealthy.org/en/nutrition/food-tips/8-non-dairy-calcium-rich-foods-for-your-teeth