Menjaga Kebersihan Mainan di Rumah

 

 

 

 


oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu, apa kabar?

Dalam keadaan pandemi COVID-19 ini sudah menjadikebiasaan baru kita menjadi lebih rajin membersihkan peralatan di rumah. Kita juga semakin sering mendengar istilah disinfektan. Sebenarnya, apakah betul mainan anak perlu kita lakukan disinfeksi? Apa beda disinfeksi dengan sanitasi?

Proses pembersihan secara umum ternyata terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu:

  1. Pembersihan dengan deterjen atau sabun dan air bertujuan untuk menyingkirkan debu atau kotoran dari permukaan benda. Misal lantai, dinding, karper, jendela.
  2. Sanitasi dilakukan untuk menyingkirkan kotoran dan sedikit kuman. Beberapa benda atau permukaan yang dibersihkan dari kotoran lalu dilakukan sanitasi adalah kamar mandi, mainan, alat makan
  3. Beberapa benda atau permukaan dilakukan tahapan tambahan yaitu disinfeksi setelah proses pembersihan untuk membunuh kuman di permukaan benda.

Pemutih (bleach) yang mengandung sodium hypochloritemerupakan bahan aktif yang bisa membunuh mikroorganisme,termasuk bakteri dan virus. Bahan aktif ini dapat digunakan untuk keperluan sanitasi atau disinfeksi. Pemutih rumahan dengan kadar 5,25% artinya mengandung bahan aktif sebanyak52.500 ppm (part per million). Konsentrasi bahan aktif dalampemutih rumahan, cukup dikalikan 10.000 untuk mengubah % menjadi ppm.

Berapa konsentrasi pemutih yang diperlukan untuk melakukan sanitasi?

Untuk melakukan sanitasi maka konsentrasi pemutih yang diperlukan adalah 50-200 ppm. Bila pemutih rumahan Anda memiliki konsentrasi 5,25%, maka untuk membuat 50 ppm adalah dengan membuat konsentrasi 50 / 10.000 = 0,005%. Untuk membuat 5,25% menjadi 0,005% artinya 1 bagian 5,25% diencerkan menjadi 1000x. Secara sederhana, ini berarti 1 mililiter pemutih diencerkan dengan air sampai volume larutan menjadi 1 liter (diencerkan 1 : 1000)

Untuk membuat 100 ppm, maka langkahnya adalah 100 / 10.000 = 0,01%; 1 mL pemutih 5,25% ditambah air sampai volume larutanya 500 mL.

Selain konsentrasi, kita juga perlu memperhatikan suhu dan waktu kontak antara larutan pemutih dengan permukaan benda yang dibersihkan. Untuk sanitasi diperlukan waktu kontak sekitar 2 menit dan kering dengan diangin-anginkan, serta suhu antara 13-49 derajat Celsius (dapat dilakukan pada suhu ruangan). Larutan pemutih tersebut harus diganti setiap 24 jam bila akan dipergunakan kembali karena jika sudah dilarutkan larutan tersebut tidak stabil.

Setelah membuat larutan tersebut maka Ayah dan Ibu bisa membersihkan mainan anak sebelum dan setelah digunakan. Semoga upaya ini akan menjaga kesehatan anak-anak kita.

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://hnhu.org/health-topic/chlorine/

https://www.rapidtables.com/convert/number/Percent_to_PPM.html

www.tchd.org/242/Child-Care

https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/prevention/Pages/Cleaners-Sanitizers-Disinfectants.aspx

Adaptasi Kehidupan Baru pada Anak #dirumahaja

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Tidak terasa 4 bulan sudah berlalu sejak saya menulis topik bahasan ‘Fakta COVID-19 pada Anak’ untuk keluarga Kejora. Saat ini pandemi masih belum berakhir dan dalam 4 bulan ini kita sudah menyesuaikan diri dengan banyak kebiasaan baru, diantaranya #dirumahaja untuk memutus rantai penularan COVID-19. Yuk, kita pahami bersama adaptasi kehidupan baru untuk anak supaya mereka tetap dapat tumbuh dan berkembang optimal, meskipun di tengah pandemi.

Apakah pentingnya adaptasi kehidupan baru pada anak #dirumahaja?

Angka kejadian COVID-19 di Indonesia masih terus meningkat berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan. Terhitung 19 Juli 2020 terdapat 86.521 kasus terkonfirmasi dan 8,1% diantaranya adalah kasus anak dengan angka kematian anak adalah 1,5%. Hal tersebut tergolong tinggi dibandingkan kasus anak di negara lainnya. Oleh karena itu anak #dirumahaja dengan melakukan adaptasi kehidupan baru merupakan pilihan terbaik saat ini.

Perilaku hidup bersih dan sehat sebagai dasar proses beradaptasi dengan kehidupan baru

Ayah dan Ibu Kejora tidak boleh bosan untuk mengajarkan anak perilaku hidup bersih dan sehat, diantaranya adalah :

  • Cuci tangan yang bersih dengan menggunakan sabun sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.
  • Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.
  • Anak perlu makan dengan pola makan bergizi dan seimbang, olah raga teratur, berjemur dan istirahat yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Pentingnya peran orang tua untuk memberikan informasi dengan bahasa yang mudah kepada anak sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman tanpa perlu membuat mereka menjadi ketakutan. Hal tersebut memiliki andil untuk mencegah penyebaran COVID-19, diantaranya :

  • Anak menggunakan masker jika terpaksa keluar dari rumah dan melakukan prinsip physical distancing, yaitu menjaga jarak dengan orang lain minimal 1,5 meter.
  • Ajarkan anak untuk tidak memegang daerah wajah terutama mata, hidung, mulut.
  • Memberi pengertian pada anak untuk beraktivitas di dalam rumah.

Apakah ada dampak negatif bagi anak selama #dirumahaja?

Anak dan remaja merupakan kelompok yang rentan terdampak kesehatan jiwa dan psikososial akibat pandemi COVID 19. Anak mengalami rasa stres/tertekan, cemas dan bosan di rumah yang diekspresikan melalui emosi dan perilaku. Hal untuk mencegahnya, diantaranya :

  • Membuat jadwal kegiatan harian sesuai dengan usia anak.
  • Mengajak anak berbicara dengan tenang, penuh kasih sayang dan beri kesempatan untuk mengekspresikan perasaan dan mengungkapkan isi pikiran.
  • Memberi pujian dan motivasi terkait aktivitas yang dilakukan.
  • Fasilitasi interaksi anak dengan teman dan saudara melalui media sosial dengan pendampingan orangtua.
  • Membantu melakukan hobi atau hal yang disukai anak.
  • Hindari segala bentuk kekerasan fisik, psikologis dan sosial, seperti membentak atau kekerasan karena akan menambah stres dan marah.
  • Mengenali tanda masalah psikososial anak (gelisah, sedih, bosan, mudah tersinggung, agresif, dan menyendiri) dan segera konsultasi ke dokter, jika diperlukan.

Bagaimana proses belajar anak di sekolah?

Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan melakukan kegiatan belajar mengajar dalam bentuk pembelajaran jarak jauh. Usahakan Ayah atau Ibu Kejora dapat mendampingi Sang Buah Hati dalam proses belajar dan batasi penggunaan gawai di luar kegiatan sekolah untuk mencegah dampak negatif dari paparan sinar biru layar gawai.

Pesan bagi orang tua yang masih harus bekerja di luar rumah

Pastikan Ayah dan Ibu Kejora melakukan protokol kesehatan yang baik setelah menghabiskan seharian waktu di luar rumah, diantaranya adalah :

  • Buka sepatu sebelum masuk rumah.
  • Letakkan baju kotor di wadah khusus yang tertutup dan jauh dari jangkauan anak.
  • Bersihkan HP, kacamata atau benda lainnya yang dibawa dari luar dengan desinfektan.

Mari kita beradaptasi dengan kehidupan baru dengan selalu memperhatikan tumbuh kembang anak.

Editor: Saka Winias, drg., M.Kes., Sp.PM

Referensi:

https://covid19.go.id/peta-sebaran

https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/COVID-19/Pedoman-dukungan-keswa-psikososial-covid-19.pdf

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/children.html

https://www.who.int/maternal_child_adolescent/links/covid-19-mncah-resources-care-for-young-children/en/

Mengapa Anak Harus Makan Protein Hewani?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah terpikir apakah protein hewani seperti ikan, ayam daging, makanan laut, dan telur dapat digantikan oleh protein nabati saja? Sebelum kita memutuskan hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini ya!

Dalam memenuhi kebutuhan protein pada anak, maka sebaiknya kita tidak hanya berpikir bagaimana mencukupi jumlahnya saja, tetapi lebih rinci lagi kita harus juga mempertimbangkan kualitas protein agar anak terhindar dari malnutrisi. Kualitas protein ini mencakup ketersediaan serta kemudahan dicernanya asam amino setelah makanan dikonsumsi, dicerna, hingga diserap oleh tubuh kita. Ingat ya Ibu dan Ayah, asam amino merupakan zat terkecil yang menyusun protein. Bisa kita andaikan bahwa protein seperti tembok rumah, dan asam amino merupakan batu bata serta semen yang menyusun protein tersebut.

Nah, bahan makanan sumber protein yang berasal dari nabati memiliki kualitas protein serta kemampuan cerna yang lebih rendah daripada protein hewani, serta mengandung lebih sedikit mineral seperti seng, zat besi, dan kalsium. Sebaliknya protein dari sumber hewani memiliki kualitas protein lebih baik serta mengandung vitamin B12, besi heme, vitamin A, seng, dan kalsium. Dalam suatu penelitian pada anak usia 12-36 bulan didapatkan bahwa konsumsi protein hewani berkaitan dengan peningkatan tinggi badan anak yang lebih baik sehingga berpotensi dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Selanjutnya apakah protein nabati menjadi tidak penting? Nah, protein nabati seperti misalnya tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, dan kedelai tentu saja tetap penting diberikan karena selain melengkapi kebutuhan protein, bahan makanan tersebut juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan anak serta mengandung berbagai fitonutrien yang berperan dalam pencegahan penyakit.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Kaimila Y, Divala O, Agapova SE, et.al. Consumption of Animal-Source Protein is Associated with Improved Height-for-Age Z scores in Rural Malawian Children Aged 12-36 Months, Nutrients 2019.
  2. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 2008.

Susu

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora! Semoga di tengah pandemi COVID-19 ini kita semua masih tetap sehat dan semangat, ya… Semoga kita semua mendapatkan nutrisi yang optimal sehingga semua dalam kondisi yang sehat.

Bicara mengenai nutrisi, tentunya kita tidak asing dengan bahan makanan berupa susu. Seringkali kita bingung untuk mengetahui susu mana yang terbaik untuk diberikan bagi si Kecil. Susu memang memiliki peran penting dalam nutrisi anak, mulai dari bayi yang minum ASI, balita yang makan sereal dengan susu, hingga remaja yang memasukkan susu ke dalam smoothie.

Berikut adalah beberapa pilihan susu bagi anak:

  • Susu sapi murni (3,25% lemak susu) dan susu kambing yang dipasteurisasi diperkaya dengan vitamin D dan asam folat adalah susu pilihan yang cocok untuk anak-anak di bawah usia dua tahun.
  • Setelah usia dua tahun, susu kedelai yang diperkaya (fortifikasi) dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi.
  • Pilihan seperti almond, kelapa, beras, rami dan minuman nabati lainnya, tidak mengandung cukup protein dan lemak untuk memenuhi kebutuhan balita yang sedang tumbuh.
  • Sementara susu almond yang diperkaya dan minuman nabati lainnya dapat ditawarkan setelah usia dua tahun, namun tidak dihitung sebagai alternatif dari susu sapi.

Macam-macam Jenis Susu

  1. Susu Sapi: telah ada selama berabad-abad dan merupakan pilihan konsumen yang paling populer. Berasal dari kelenjar susu sapi. Perbedaan antara jenis-jenis susu sapi adalah persentase lemak yaitu whole milk, (mengandung) 2% lemak, 1% lemak, atau skim. Dari susu murni hingga susu skim, konsistensi susu menjadi lebih encer/cair dan rasanya menjadi lebih manis. Susu sapi adalah sumber protein, kalsium, dan vitamin B12. Vitamin B12 adalah nutrisi yang ditemukan secara alami dalam produk hewani yang sangat penting untuk fungsi otak, sistem saraf, dan pembentukan sel darah baru. Susu sapi adalah satu-satunya susu yang mengandung vitamin B12.
  2. Susu Almond: adalah pilihan bebas susu sapi yang dibuat dengan merendam dan menggiling almond dengan air. Susu almond mengandung tinggi magnesium, selenium, dan vitamin E. Susu almond dapat mendukung fungsi kekebalan tubuh, tulang, dan menyediakan banyak antioksidan. Untuk anak yang sensitif terhadap laktosa, susu almond adalah alternatif yang baik karena bebas laktosa dan kolesterol.
  3. Susu Kedelai: terdiri dari kedelai kering dan ditumbuk dengan air. Susu kedelai adalah sumber protein dan kalsium bagi yang memiliki intoleransi terhadap laktosa.
  4. Susu Rami/Hemp: dibuat dengan merendam benih rami dalam air dan kemudian menggilingnya. Pilihan ini lebih tinggi protein dan lemak sehat. Lemak dalam sebagian besar susu rami adalah asam lemak esensial tak jenuh seperti omega-6 dan omega-3 yang membantu membangun jaringan baru. Rami juga merupakan sumber vitamin B yang baik
  5. Susu Oat: terdiri dari gandum dan air. Susu oat mengandung tinggi serat larut dan beta-glukan. Beta-glukan sangat bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.. Namun, susu gandum memiliki kandungan protein yang rendah.
  6. Susu Beras/Air tajin: dianggap paling hipoalergenik dari semua pilihan susu. Susu berat dibuat dengan merebus nasi, beras merah, atau pati beras merah. Susu ini adalah pilihan baik untuk mengontrol tekanan darah karena tingginya kadar magnesium.
  7. Santan: dibuat dengan mengambil daging bagian dalam kelapa, dididihkan dan kemudian disaring. Tekstur santan yang lebih kental, mengandung trigliserida rantai menengah (MCT) yang memberikan energi dan asam laurat untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Jika anak-anak tidak menyukai susu sapi cair, memiliki intoleransi laktosa, atau pada keluarga vegan, kandungan nutrisi yang ditemukan dalam susu sapi dapat tersedia dalam bahan makanan lain. Anak-anak masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian mereka tanpa susu dengan melalui asupan makan yang terencana dengan baik termasuk makanan lain yang kaya protein, kalsium, kalium, dan vitamin A dan D. Makanan yang terbuat dari susu sapi, seperti yogurt, kefir, dan keju, juga dapat memberikan pilihan untuk memasukkan nutrisi dari susu ke dalam makanan anak bahkan jika anak itu tidak suka susu sapi cair.

Menggunakan hanya susu untuk mencapai rekomendasi kebutuhan kalsium bukanlah ide yang bijaksana. Kebutuhan kalsium dari susu baru dapat terpenuhi jika minum lebih dari tiga cangkir susu sehari. Hal ini, dapat membuat anak kekenyangan sehingga tidak mau makanan anak, yang berakibat berisiko terhadap anemia defisiensi zat besi serta ketidakseimbangan nutrisi lainnya.

Jika anak Anda lebih memilih alternatif susu non-susu, seperti susu almond atau beras, pilihlah versi yang diperkaya dengan kalsium dan vitamin D. Kemudian, Anda harus memastikan untuk menawarkan makanan lain sepanjang hari yang mengandung protein, karena sebagian besar susu-susu alternatif mengandung protein sangat rendah.

Secara umum, sebagian besar anak mendapat manfaat dari mengonsumsi susu sapi, atau produk susu sapi, setelah mereka berusia 12 bulan (jika mereka tidak memiliki alergi susu). Perlu diingat bahwa balita yang masih menyusui 2-3 kali sehari atau yang masih minum susu formula, tidak memerlukan susu sapi tambahan.

Berapa Banyak Susu yang Dibutuhkan Anak-Anak?

Hal ini tergantung dari usia dan kebutuhan anak, tetapi rekomendasi yang biasa adalah:

1 hingga 2 tahun         : 2 gelas susu setiap hari

Usia 3 tahun ke atas    : 3 gelas susu setiap hari

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Pemberian Makan Bayi dan Anak selama Pandemi

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

Halo, Ayah dan Ibu Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu tentu tahu bahwa nutrisi menjaga pertumbuhan sehat, meningkatkan perkembangan otak bayi dan anak, dan memperkuat sistem imun, sehingga mengurangi risiko terinfeksi virus atau penyakit terlebih lagi di saat pandemic seperti sekarang ini.

Nutrisi sangat penting pada 2 tahun pertama kehidupan anak. Nutrisi yang sesuai dengan usia anak akan mengurangi risiko overweight atau obesitas di kemudian hari, juga terhindar dari penyakit kronis di masa depan kehidupan.

Tetap teruskan pemberian ASI eksklusif bagi bayi hingga usia 2 tahun. Bagi bayi usia 6 bulan ke atas, mulai berikan MP-ASI dari bahan makanan segar dan bukan makanan olahan mengandung komposisi dari 4 grup jenis makanan (karbohidrat, protein dan lemak dari lauk hewani, nabati, sayur, serta buah) setiap harinya.

Nutrisi yang beragam dapat meningkatkan sistem imun anak. Berikan pola makan sehat seimbang terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, tak lupa sayur dan buah-buahan berwarna oranye/kuning, juga sayuran berwarna hijau tua. Ingatkan anak untuk minum air 8–10 gelas setiap harinya (termasuk dari makanan, misal sup, buah dan sayur berair seperti timun, tomat, bayam, jamur, melon, brokoli, jeruk, apel). Hindari pemberian makan makanan mengandung gula, garam, dan lemak jenuh/trans berlebihan.

Selalu utamakan makan makanan yang berasal dari masakan rumah dari bahan segar alami secara higienis untuk menjaga kualitas makanan keluarga. Dengan memasak makanan sendiri di rumah, Ayah dan Ibu mengetahui dengan jelas apa saja bahan-bahan masakan yang digunakan, dibandingkan membeli makanan jadi/junk food dari luar rumah. Ajak anak yang berusia lebih besar untuk membantu di dapur atau menyiapkan makanan di meja. Makan makanan rumah bersama keluarga mengurangi risiko kontak dengan virus.

Berikut panduan pemberian makan bagi bayi dan anak sesuai usia:

  • Usia 6–8 bulan: berikan makan 2–3 kali per hari dengan porsi setiap makan 2–3 sendok makan bertahap hingga ½ gelas atau 125 ml, konsistensi lumat/saring. Siapkan bubur saring/lumat dan tambahkan telur/daging matang, dan sayur. Buah dapat diberikan di jam selingan/snack. Jika bahan makanan segar tidak tersedia karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB), maka dapat digantikan dengan makanan keluarga yang ditumbuk (mashed) atau dibuat puree. Bila terpaksa, dapat digunakan produk kalengan/frozen dengan kandungan gula dan garamnya rendah. Konsistensi makanan lumat/saring yang diharapkan yaitu makanan cukup kental sehingga dapat menempel pada sendok. Makanan lumat/saring yang terlalu encer akan cepat membuat perut bayi terasa kenyang.
  • Usia 9–11 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap makan ½ gelas bertahap hingga ¾ gelas atau 200 ml, konsistensi lembik. Usia 9–11 bulan, bayi mulai belajar mengunyah makanan sehingga dapat mengonsumsi lauk yang dipotong kecil-kecil.
  • Usia 12–24 bulan: berikan makan 3–4 kali per hari dengan porsi setiap kali makan nasi ¾ gelas, lauk hewani 1 potong kecil, lauk nabati 1 potong kecil, ¼ gelas sayur, 1 potong buah. Anak mulai makan makanan keluarga dan makan sendiri dari piringnya. Tambahkan 1–2 selingan/snack sehat berupa buah atau sayur berupa potongan kecil-kecil dan lembut agar dapat digunakan sebagai finger foods. Pisang merupakan contoh yang dapat digunakan sebagai snack Hindari pemberian cemilan asin seperti keripik kemasan atau manis (kue kering, cake, coklat) atau minuman soda/konsentrat jus buah/sirup atau susu dengan rasa yang dapat dibeli dengan harga murah. Jenis makanan/minuman tersebut membahayakan kesehatan anak karena mengandung tinggi gula, garam, lemak trans, dan bahan kimiawi.
  • Jika terpaksa, bijak dalam memilih makanan instan bagi bayi/anak. Perhatikan kandungan nutrisi, pilihlah makanan yang tidak mengandung tinggi gula, garam, atau lemak trans/jenuh, serta seimbangkan dengan masakan rumah dari bahan segar.

Berikut panduan pemberian makan sesuai jenis makanan:

  • Protein diberikan sebanyak 2–3 porsi sehari. Protein hewani ikan (salah satunya jenis oily fish) minimal 2 kali per minggu. Kacang-kacangan merupakan protein nabati dan disarankan bagi anak di atas usia 5 tahun.
  • Buah untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–13 tahun sebanyak 350 ml
  • Sayur untuk anak usia 2–3 tahun sebanyak 200 ml per hari, usia 4–8 tahun sebayak 350 ml per hari. Variasikan sayuran antara lain sayuran dengan daun berwarna hijau, sayuran warna merah dan oranye.
  • Usahakan /tidak memasak sayur dan buah ovecooked karena dapat kehilangan beberapa sumber vitamin.
  • Jika terpaksa harus memakan sayur buah kalengan/kering, pilihlah tanpa tambahan garam atau gula.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber: Unicef, WHO EMRO, Perinasia Pelatihan MPASI

Terapi Fisik Dada pada Anak

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Halo Keluarga Kejora!

Di masa pandemi Covid-19 seperti ini, para Ibu pastinya khawatir bila si kecil terkena gangguan pernapasan, seperti halnya batuk, sulit bernapas, atau adanya slym atau reak yang sulit dikeluarkan.

Apakah batuk menandakan reaksi yang baik?

Perlu Ibu ketahui, bahwa sesungguhnya batuk merupakan mekanisme refleks kompleks tubuh yang sangat penting. Batuk menandakan tubuh anak sedang berusaha untuk meproteksi saluran pernapasannya sendiri dengan cara mengeluarkan suatu zat iritan, yang biasanya berupa lendir atau benda asing. Seorang anak usia sekolah yang sehat umumnya dapat batuk hingga 34 kali dalam sehari. Meskipun demikian, batuk yang berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan tidur dan akitivitas anak sehari-hari, sehingga menjadi salah satu penyebab tersering perlunya berkonsultasi dengan dokter anak. (1)

Batuk juga merupakan salah satu dari gejala adanya infeksi saluran pernapasan atas maupun bawah. Infeksi saluran napas bawah, terutama pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia. Penyakit saluran napas dapat meningkatkan jumlah dan kekentalan sekret atau cairan paru, sehingga menyebabkan gangguan gerakan silia (bulu getar paru-paru) dan batuk menjadi kurang efektif, sehingga bersihan jalan napas terganggu dan pada kondisi lanjut dapat menyebabkan sumbatan jalan napas. (2)

Bagaimanakan cara mencegah sumbatan jalan napas?

Terapi fisik dada dapat membantu mengatasi masalah sumbatan jalan napas, karena pada dasarnya, pada anak yang lebih kecil, kemampuan batuknya belum berkembang optimal. Melalui terapi fisik dada diharapkan dapat mencegah komplikasi penyakit lebih lanjut serta mengurangi kerusakan jaringan akibat radang. (3) Terapi fisik dada yang dikenal sebagai Airway Clearance Therapy (ACT) menggunakan gerakan pasif dan aktif.

Bagaimanakah Airway Clearance Therapy (ACT) dengan teknik pasif?

Gerakan pasif adalah gerakan yang dilakukan secara manual oleh tenaga ahli yang sudah terlatih, pada umumnya dilakukan oleh seorang fisioterapis anak. Teknik pasif ini dikenal dengan nama drainase postural, yang berupa pengaturan anak pada posisi tertentu untuk mengalirkan sekret jalan napas turun akibat pengaruh gravitasi. Drainase postural ini umumnya disertai teknik bersihan jalan napas perkusi dan vibrasi.(2) Teknik perkusi dilakukan dengan posisi telapak tangan membentuk kubah sambil menepuk bagian punggung ataupun dada anak. Sedangkan teknik vibrasi dilakukan dengan menempelkan telapak tangan Ibu pada dada atau punggung anak, seraya menggetarkan permukaan tubuh melalui telapak tangan Ibu. Kedua teknik ini bertujuan untuk melepaskan sekret yang lengket dari saluran napas bawah sehingga dapat lebih mudah keluar dari saluran napas atas melalui mekanisme batuk. (4)

Bagaimanakah Airway Clearance Therapy (ACT) dengan teknik aktif?

Di samping gerakan pasif, teknik ACT disertai pula dengan gerakan aktif berupa latihan pernapasan yang dapat dilakukan sendiri oleh anak terutama anak yang sudah lebih kooperatif. Untuk anak yang masih kecil, agar sesi latihan menjadi lebih menyenangkan, Ibu bisa melakukannya sambil mengajak anak bermain, menggelitik dada atau badannya, atau dengan cara bermain cilukba dengan boneka atau mainan anak sambil memposisikan anak sedikit miring atau tengkurap sehingga drainase postural menjadi lebih efektif. Anda dapat pula bermain pura-pura seraya memberi instruksi dengan suara yang aneh atau lucu sehingga anak menjadi lebih nyaman. Cara lain yang dapat digunakan misalnya dengan meminta anak untuk meniup gelembung sabun, tisu ataupun kain, sehingga dengan demikian pengembangan dada anak bertambah dan sekret lebih mudah keluar.

Beberapa teknik pernapasan aktif lainnya seperti Active Cycle of Breathing Technique (ACBT), teknik Autogenic Drainage (AD) dan Positive Expiratory Pressure (PEP) dapat diajarkan pada anak yang lebih besar sehingga pengeluaran dahak menjadi lebih optimal.

Ketiga teknik ini nanti akan kita bahas secara lebih detil pada kesempatan yang lain yaa Ibu Kejoraa.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Daftar Pustaka:

Fakta COVID-19 pada Anak

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Bunda Kejora!

Indonesia dan banyak negara di dunia sedang berjuang mengatasi pandemi COVID-19. Saat ini angka kejadian COVID-19 di Indonesia makin meningkat. Bagaimana sikap kita sebagai orang tua dalam menghadapi situasi ini? Tetap waspada, tidak panik dan melakukan langkah tepat adalah hal yang bijak. Oleh karena itu, mari kita ketahui fakta mengenai COVID-19 pada anak.

Apakah COVID-19?

Coronavirus Disease-2019 (COVID-19) adalah penyakit saluran napas yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, yaitu Novel Corona Virus 2019 atau nama lainnya adalah SARS Coronavirus 2. Penyakit ini dilaporkan pertama kali di Wuhan, China pada akhir tahun 2019 dan dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal 11 Maret 2020. Pandemi merupakan kondisi suatu penyakit menyebar dengan cepat dan luas meliputi banyak negara di dunia.

Apakah COVID-19 dapat menyerang anak?

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 31 Maret 2020 terdapat total laporan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 1528 kasus dengan angka kematian sebanyak 136 kasus (8,9%), kasus sembuh 81 kasus (5,3%) dan kasus anak sebanyak 20 kasus (1,3%).

Angka kejadian anak yang lebih rendah daripada dewasa tentunya tetap memerlukan kewaspadaan orang tua karena anak bisa saja tidak bergejala sehingga dapat menjadi sumber penularan (karier) bagi orang lain.

Bagaimana gejala klinis COVID-19 pada anak?

Novel corona virus merupakan 1 dari ratusan jenis virus lainnya, seperti influenza virus, parainfluenza, adenovirus, rhinovirus, dan masih banyak lagi jenis virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran napas akut atau yang sering dikenal dengan ISPA pada anak. Tanda dan gejala COVID-19 pada anak sulit dibedakan dari penyakit saluran pernapasan akibat virus lainnya. Gejala dapat berupa batuk, pilek, demam seperti penyakit common cold atau selesma yang umumnya bersifat ringan dan akan sembuh sendiri. Namun penyakit saluran pernapasan menjadi berbahaya apabila menyerang paru, yang mengakibatkan terjadinya radang paru atau yang disebut pneumonia. Kondisi ini ditandai dengan anak bernapas lebih cepat dan mengalami sesak napas.

Kapan harus membawa anak berobat ke dokter?

Bila anak sedang demam, batuk, pilek ringan, namun anak masih aktif dan asupan makan serta minum baik, sebaiknya tidak segera berkunjung ke fasilitas kesehatan. Namun jika terdapat tanda bahaya, seperti kesulitan bernapas yang ditandai dengan napas cepat dan sesak napas, anak lemas dan cenderung tidur, demam tinggi 39°C terus menerus selama tiga hari, kejang, tampak biru, asupan makan tidak baik, anak tidak dapat minum, buang air kecil berkurang, maka segera bawa anak ke fasilitas kesehatan. Jika ada kebingungan terkait COVID-19, maka Ayah dan Bunda Kejora dapat menghubungi petugas kesehatan melalui Hotline Center Corona Kementerian Kesehatan di nomor telepon 119 ext. 9.

Apakah vaksin penting diberikan pada anak di saat pandemi sedang berlangsung?

Saat ini belum ada vaksin untuk COVID-19. Namun kita tetap perlu melindungi Sang Buah Hati terhadap penyakit infeksi lainnya yang bisa dicegah dengan pemberian vaksin. Oleh karena imunisasi sebaiknya tetap diupayakan lengkap sesuai usia menurut jadwal rekomendasi yang berlaku. Imunisasi Hepatitis B (0), BCG, Polio (0), DTP+Hib+Hepatitis B (1) harus diberikan sesuai jadwal dan lebih baik jika dilengkapi dengan vaksin PCV serta influenza. Bila ragu dan ingin menunda pemberian imunisasi, sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan lain dengan batas penundaan, yaitu 1 bulan.

Apakah yang dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap COVID-19?

Saya mengajak Ayah dan Bunda Kejora untuk selalu ingat menjalankan pola hidup bersih dan sehat agar Sang Buah Hati terhindar dari sakit.

Pola hidup bersih diantaranya dengan mengajarkan anak untuk selalu mencuci tangan dengan 7 langkah yang tepat, yaitu cuci tangan pada telapak tangan, punggung tangan, seluruh jari, sela jari, ibu jari, ujung kuku dan pergelangan tangan sebelum dan sesudah makan, bermain, ke toilet, dan lainnya. Ajarkan anak untuk mengetahui etika batuk dan bersin yang benar. Gunakan masker dengan cara yang tepat, terutama saat anak sedang mengalami batuk dan pilek. Kondisi pandemic COVID-19, tidak boleh membuat kita lupa dengan penyakit infeksi lain yang juga berbahaya. Oleh karena itu Ayah dan Bunda juga perlu ingat untuk pemberantasan nyamuk dan waspada demam dengue dengan program 3 M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang, menggunakan kelambu, memakai obat anti nyamuk, dan lainnya).

Pola hidup sehat dengan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dilanjutkan dengan pemberian makan bergizi dengan pola seimbang, minum air putih yang cukup, olah raga secara teratur, istirahat yang cukup (tidur pada anak berkisar 10 jam/ hari tergantung rentang usia anak) dan jangan lupa untuk melengkapi imunisasi pada anak sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan berdasarkan usia Sang Buah Hati.

Apakah anak perlu minum vitamin atau suplemen supaya tetap sehat?

Belum ada rekomendasi mengenai pemberian vitamin atau pun suplemen pada anak untuk mencegah COVID-19. Jadi hal yang terutama untuk menjaga anak tetap sehat adalah dengan pemberian nutrisi lengkap seimbang, istirahat yang cukup, aktivitas fisik sesuai usia, penerapan perilaku hidup bersih sehat, serta usaha pencegahan penularan infeksi. Suplemen berupa vitamin, seperti vitamin C,D dan zinc ditujukan untuk mengatasi kekurangan mikronutrien, jika asupan makanan tidak adekuat.

Bagaimana memutus rantai penyebaran COVID-19?

Ayah dan Bunda Kejora demi kesehatan anak kita dan juga keselamatan orang lain, mari berupaya putuskan rantai penyebaran COVID-19 dengan tetap berada di rumah. Kita tidak pernah tahu apakah orang yang kita jumpai di luar rumah sedang sakit COVID-19 atau tidak. Orang yang terlihat sehat atau tidak bergejala (asimptomatik), masih mungkin karier virus tersebut. Namun karena daya tahan tubuhnya baik, maka orang itu tidak menimbulkan gejala klinis sakit. Hal yang berbahaya jika seorang yang karier berkontak dengan orang yang daya tahan tubuhnya tidak baik sehingga orang yang kontak tersebut menjadi sakit dan bahkan ia pun menjadi sumber penularan untuk orang lain yang ada di sekitarnya terutama orang tua yang sudah lanjut usia. Oleh karena itu mari kita tetap di rumah dan jika sangat terpaksa harus melakukan suatu keperluan di luar rumah penting melakukan physical distancing atau pembatasan jarak fisik dengan menjaga jarak minimal 1-2 meter antar orang. Mengapa perlu ada jarak?Berdasarkan penelitian, jarak penyebaran virus melalui droplet (percikan batuk atau bersin yang mengandung virus) dapat terjadi antar orang dengan jarak terdekat yaitu 6 feet (1,8 meter).

Apa yang dapat dikerjakan selama berada di rumah?

Ayah dan Bunda Kejora, mari kita manfaatkan waktu yang ada di rumah untuk meningkatkan quality time antar anggota keluarga. Ayah dan Bunda tidak perlu memaksa anak untuk melakukan suatu aktivitas, namun ciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan supaya anak pun merasa betah dan tidak bosan di rumah. Libatkan anak dalam kegiatan rumah sesuai dengan kemampuan dan usia anak, misalnya saja membantu ibu mempersiapkan bahan masakan, merapikan kamar, melipat baju secara mandiri atau membantu ayah mencuci mobil. Ajak anak melakukan kegiatan yang meningkatkan kreativitas sesuai usianya, misalnya membuat hiasan dinding untuk kamar, mewarnai gambar, dan sebagainya. Isi waktu dengan kegiatan bermanfaat seperti membaca buku bersama dan damping anak jika ada tugas dari sekolah dengan metode pembelajaran jarak jauh (E-learning). Komunikasi jarak jauh dengan video call, zoom, atau pun media komunikasi lainnya bisa menjadi pilihan untuk melepas kangen dengan kakek, nenek serta sahabat lainnya. Jangan lupa beribadah bersama dengan anak di rumah dan mari kita selipkan doa bagi bangsa ini.

Ayah dan Bunda Kejora mari kita bersatu untuk dukung bangsa ini melawan COVID-19. Setiap langkah positif yang kita lakukan adalah bentuk kepedulian kita untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes., Sp.PM

Referensi

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200401-sitrep-72-covid-19.pdf?sfvrsn=3dd8971b_2

https://www.kemkes.go.id/

UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Panduan COVID-19 pada Anak. 2020

Diet Bebas Gluten

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Saat ini kita sering sekali mendengar adanya makanan bebas gluten. Para influencer yang melakukan diet bebas gluten juga banyak yang memberikan testimonial bahwa tubuh menjadi terasa lebih sehat. Benarkah makanan bebas gluten itu lebih sehat? Apakah semua orang atau anak dapat mengikuti diet bebas gluten?

Apa itu gluten?

Gluten adalah protein yang ditemukan pada biji-bijian (grains) seperti gandum, rye, spelt dan barley. Protein utama pada gluten adalah glutenin dan gliadin. Gliadin inilah yang sering ditemukan pada masalah kesehatan.

Saat tepung terigu dicampurkan dengan air, protein gluten akan membentuk jaringan lengket dengan konsistensi seperti lem. Bentuk seperti lem tersebut yang membuat adonan elastis dan membuat roti mengembang ketika dipanggang dan juga enak dikunyah, memberikan tekstur empuk.

Bahan makanan bebas gluten yang berkembang dekade terakhir ini memiliki tingkat penjualan yang terus meroket. Penjualan makanan bebas gluten secara global diperkirakan mencapai $4,89 milyar pada tahun 2021, meningkat tajam dari $2,84 milyar pada tahun 2012. Peningkatan penjualan makanan bebas gluten ini terjadi bukan hanya karena banyaknya peningkatan konsumen yang memang membutuhkan diet bebas gluten, namun juga pada jumlah konsumen yang tidak membutuhkan diet bebas gluten, pembeli dengan alasan kesehatan, hingga trend yang juga meningkat.

Apakah semua orang dapat mengikuti diet bebas gluten?

Banyak sekali orang menerapkan diet bebas gluten untuk dirinya dan bahkan anaknya. Makanan bebas gluten memang aman untuk dimakan, tapi bukan berarti memiliki nilai kalori yang rendah. Banyak makanan dan snack bebas gluten memiliki kalori dan lemak yang tinggi. Selain itu, makanan ini seringkali juga tidak diperkaya dengan vitamin dan mineral. Sehingga, seseorang yang melakukan diet bebas gluten tanpa diawasi dokter gizi klinik tentunya akan meningkastkan risiko orang tersebut tidak mendapatkan beberapa zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Makanan bebas gluten seringkali rendah zat besi,kalsium, zinc, vitamin B12, folat dan juga serat.

Siapa saja yang membutuhkan diet bebas gluten?

Terdapat beberapa kondisi yang memerlukan diet bebas gluten yaitu:

  • Penyakit seliak (celiac disease)

Merupakan reaksi autoimun terhadap gluten. Diagnosis penyakit seliak dilakukan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan mulai dari riwayat medis, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan darah atau biopsi. Anak-anak biasanya terdiagnosis penyakit seliak usia 6 bulan–2 tahun pada saat mulai MPASI mencoba makanan yang mengandung gluten. Gejala penyakit seliak tersering adalah diare, penurunan selera makan, sakit perut dan kembung, pertumbuhan terganggu, dan berat badan turun. Terapi satu-satunya untuk penyakit seliak adalah diet bebas gluten secara ketat.

  • Alergi gandum

Orang dengan alergi gandum memiliki reaksi imun terhadap protein di dalam gandum. Reaksi terhadap gandum tersebut dapat terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi gandum. Reaksi yang dapat dialami antara lain: mual, nyeri perut, gatal, bengkak pada bibir dan lidah, sulit bernafas atau anafilaksis. Orang dengan alergi gandum tidak dapat makan bahan makanan dari gandum tapi masih bisa mengonsumsi gluten dari bahan makanan selain gandum. Anak-anak dengan alergi gandum dapat mengalami perbaikan setelah dewasa, tapi satu-satunya yang harus dilakukan adalah diet bebas gandum.

  • Non-celiac gluten sensitivity

NCGS bukan merupakan respon autoimun (seperti penyakit seliak) ataupun bukan respon imun (seperti alergi gandum). Saat ini belum terdapat tes untuk menegakkan diagnosis sensitivitas gluten, namun dapat dilakukan pemeriksaan biopsy dan tes alergi untuk menyingkirkan diagnosis penyakit seliak atau alergi gandum. Selain itu, jika gejala yang dialami anak mengalami perbaikan setelah menjalani diet bebas gluten seringkali diagnosis sensitivitas gluten ditegakkan.

Bahan Makanan yang mengandung gluten

  • Makanan berbasis gandum seperti dedak gandum, tepung terigu, spelt, durum, kamut dan semolina
  • Jelai / barley
  • Gandum hitam/ rye
  • Triticale
  • Malt
  • Ragi

Di bawah ini adalah beberapa makanan yang mengandung bahan-bahan yang mengandung gluten:

  • Semua roti berbasis gandum.
  • Semua pasta berbasis gandum.
  • Kecuali berlabel bebas gluten.
  • Makanan panggang. Kue, muffin, pizza, remah roti dan kue kering.
  • Makanan ringan. Permen, bar muesli, kerupuk, makanan siap saji, kacang panggang, keripik rasa dan popcorn, pretzel.
  • Kecap asin, saus teriyaki, saus hoisin, bumbu, saus salad.
  • Bir, minuman beralkohol rasa.
  • Makanan lainnya. Couscous, kaldu (kecuali berlabel bebas gluten).

Cara termudah untuk menghindari gluten adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung bahan tunggal. Jika tidak, kita harus membaca label makanan dari sebagian besar makanan yang dibeli.

Oat sebenarnya merupakan bahan makanan bebas gluten secara alami. Namun, seringkali terkontaminasi dengan gluten, karena mungkin diproses di pabrik yang sama dengan makanan berbasis gandum.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber

  1. Transparency Market Research. Gluten-free Food Products Market
    to reach US$4.89 bn by 2021; Driven by Rising Number of Celiac Disease Patients across the globe: TMR. 2017.
  2. Elliott C. The Nutritional Quality of Gluten-Free Pro- ducts for Children. 2018;142(2):e20180525

Toilet Training

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Apakah si kecil sudah mulai diajari untuk buang air besar dan kecil sendiri di toilet? Kemampuan anak untuk buang air besar sendiri di toilet merupakan salah  satu tahap perkembangan yang penting bagi anak agar bisa menjadi lebih mandiri. Membantu anak dalam toilet training menjadi tantangan bagi orangtua. Kuncinya adalah kepekaan untuk mengenali isyarat dan kesiapan anak untuk belajar.

Tidak ada usia yang benar-benar tepat untuk memulai toilet training. Tahapan perkembangan dan keterampilan yang dibutuhkan anak untuk belajar ke toilet mulai terlihat pada usia anak 18 bulan hingga 2,5 tahun, sehingga disarankan untuk mulai mengajari sebelum usia 2 tahun.

Tanda anak telah siap

Anak Ayah dan Ibu menunjukkan tanda telah siap bila:

  1. Bisa mengikuti perintah sederhana, seperti ‘berikan bola itu pada Ayah’
  2. Sudah bisa berjalan dan dapat duduk dalam periode tertentu
  3. Sudah menunjukkan tanda kemandirian, termasuk bisa mengatakan tidak
  4. Tertarik bila melihat orang lain menggunakan kamar mandi, misalnya mengikuti ke kamar mandi
  5. Bisa menjaga popok tetap kering untuk 2 jam atau lebih
  6. Sudah mampu menyampaikan rasa ingin buang air (besar atau kecil)
  7. Mulai tidak nyaman dengan popok
  8. Mampu melepas dan mengenakan pakaiannya sendiri

Namun, perlu Ayah dan Ibu ingat bahwa tidak semua tanda ini perlu muncul ketika anak telah siap memuali toilet training.

Saatnya memulai toilet training

Jika si kecil telah siap memulai toilet training, hal pertama yang perlu dilakukan adalah tentukan apakah Ayah dan Ibu ingin memulai toilet training dengan pispot atau langsung di kamar mandi.

Hal kedua yang perlu disiapkan adalah perlengkapan yang tepat. Contohnya bila si kecil memakai toilet maka perlu disiapkan tangga agar anak bisa menggapai toilet. Ayah dan Ibu juga perlu menyiapkan dudukan toilet yang lebih kecil agar anak bisa duduk dengan nyaman dan pas. Anak umumnya merasa lebih “aman” bila menggunakan pispot dibandingkan dengan dudukan toilet, karena kaki mereka menyentuh lantai.

Hal ketiga adalah, mulailah toilet training ketika Ayah dan Ibu tidak memiliki rencana besar yang dapat mengubah aktivitas harian Anda, seperti pergi liburan atau pindah rumah atau memutuskan untuk memiliki anak lagi. Proses toilet training akan lebih baik jika orangtua dan anak mempunyai kegiatan harian yang rutin.

Tunda toilet training jika Ayah dan Ibu memiliki rencana berpergian dalam jangka waktu lama, sekitar kelahiran anak berikutnya, pindah ke rumah baru, dan jika anak sakit (khususnya jika diare).

Tips untuk memulai toilet training:

  • Ajarkan pada si kecil beberapa kata jika ingin buang air besar atau kecil – seperti pipis, pup, atau saya harus ke toilet.
  • Jika Ayah dan Ibu mengganti popok si kecil, letakkan popok yang basah dan kotor ke pispot/ toilet dan beritahu anak jika buang air besar atau buang air kecil baiknya di pispot atau toilet – hal ini membantu si kecil mengerti apa kegunaan pispot.
  • Biarkan si kecil mencoba duduk di dudukan toilet kecil agar ia mengenali peralatan tersebut.
  • Biarkan si kecil melihat anggota keluarga lainnya dalam menggunakan toilet, dan beritahu apa yang sedang dilakukan.
  • Pastikan anak makan dengan makanan serat tinggi dan banyak minum air putih sehingga tidak terjadi konstipasi. Konstipasi akan mempersulit proses toilet training.
  • Jangan memaksa anak, biarkan dia belajar dengan sendirinya. Jika ia tidak tertarik atau tidak mau menjalani toilet training, tunggu hingga dia mau mencoba toilet training
  • Untuk anak lelaki, lebih baik ajarkan terlebih dahulu untuk buang air kecil dengan cara duduk terlebih dahulu sebelum mengajarkan buang air kecil dalam posisi berdiri.

Pelaksanaan toilet training

Mulailah toilet training saat waktu Ayah dan Ibu kosong dan tidak memiliki rencana pergi dari rumah seharian.

Timing

  • Mulailah toilet training dengan jam yang sama setiap harinya, seperti 45 menit setelah minum air dalam jumlah yang banyak. Toilet training sesungguhnya dimulai ketika anak mulai tertarik dengan proses pembelajaran toilet training.
  • Biarkan anak duduk di pispot atau toilet 15-30 menit setelah makan.
  • Perhatikan tanda-tanda ketika si kecil memerlukan toilet – seperti perubahan postur yang mungkin menandakan ingin buang air, perubahan ekspresi wajah, atau menjadi lebih diam atau bulak-balik ke ruangan yang berbeda sendiri.
  • Jika anak tidak buang air besar atau kecil setelah 3-5 menit didudukan di pispot atau dudukan toilet kecil, sebaiknya diturunkan saja. Jangan biarkan anak duduk dalam jangka waktu lama, karena anak akan menganggap hal tersebut sebagai hukuman.

Beri semangat dan ingatkan si kecil

  • Puji anak karena mau mencoba (walau prosesnya lambat), terutama ketika ia berhasil. Hal ini menyebabkan anak mengetahui bahwa dia melakukan hal yang baik.
  • Dalam beberapa kesempatan, tanyakan pada anak apakah dia perlu pergi ke toilet. Ingatkan secara gentle agar anak tidak merasa ditekan oleh Ayah dan Ibu.
  • Jika si kecil mengompol atau buang air besar di celana, Ayah dan Ibu tidak perlu marah. Anak bisa saja tidak sengaja mengompol atau buang air besa di celana, jadi cukup bersihkan saja tanpa komentar apapun.

Pakaian

  • Hentikan menggunakan popok (kecuali pada malam hari dan ketika tidur siang). Mulai pakaikan celana dalam. Anda bisa mengajak si kecil memilih celana dalam, ini akan menjadi hal menarik dan menyenangkan untuknya.
  • Pakaikan pakaian yang mudah dilepaskan oleh si kecil. Jika cuaca panas, Ayah dan Ibu boleh membiarkan anak hanya menggunakan celana dalam saja saat di rumah.

Higiene

  • Bersihkan pantat anak hingga ia bisa belajar melakukannya sendiri. Ingat: bersihkan dari depan ke belakang, terutama pada anak perempuan.
  • Ajarkan pada anak lelaki untuk menggoyangkan kemaluannya setelah buang air kecil untuk mencegah sisa tetesan air kemih.
  • Ajarkan anak untuk mencuci tangannya setelah buang air besar dan kecil.

Berpergian saat toilet training

Akan lebih baik bila Ayah dan Ibu tetap berada di rumah ketika si kecil memulai toilet training, namun hal itu sulit dihindari bila memang mendesak.

Bila terpaksa keluar, pastikan lokasi toilet terdekat. Ketika orangtua ke pusat perbelajaan, tanyakan pada anak jika dia perlu menggunakan toilet ketika sedang melewati toilet.

Lebih baik sediakan pakaian dan celana dalam cadangan ketika berpergian dengan anak hingga ia benar-benar percaya diri menggunakan toilet. Selain itu perlu bawa kantung plastik untuk membawa pakaian atau celana dalam yang basah dan kotor.

Jika Ayah dan Ibu menitipkan si kecil di rumah saudara atau tempat penitipan anak, pastikan orang yang menjaga dan mendampinginya mengetahui bahwa ia sedang menjalani toilet training. Hal ini agar si kecil dapat menjalani rutinitas dalam menggunakan toilet seperti saat dia di rumah.

Masalah yang terjadi saat toilet training

Kebanyakan anak mengalami masalah dalam menjalani toilet training ketika anak dalam keadaan stress. Contohnya ketika anak 2 atau 3 tahun berhadapan dengan adiknya atau merasa tertekan dan menganggap toilet training seperti hukuman.

Ketika anak mengalami masalah toilet training secara terus-menerus, konsultasikan dengan dokter anak Anda.

Orangtua harus meluangkan waktu dan bersabar selama proses ini. Semua pengasuh di rumah perlu memiliki persepsi dan metode yang sama. Fokuskan pada pemahaman anak akan pentingnya menggunakan toilet, tidak perlu harus buru-buru agar bisa ke toilet sendiri. Biarkan anak maju sesuai dengan kecepatan perkembangan mereka masing-masing. Semangat selalu ya, Ayah dan Ibu!

Editor: dr. Nurul Larasati

Otitis Media Efusi

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejoara sudah pernah mendengar mengenai Otitis Media Efusi atau OME? Otitis media efusi (OME) merupakan suatu keadaan adanya cairan non- infeksi yang terkumpul di dalam telinga tengah. Keadaan ini terjadi karena akumulasi cairan akibat terjadi radang berulang pada daerah saluran napas atas. Otitis media efusi umumnya dapat sembuh sendiri dalam waktu 4-6 minggu.

Gambar 1. Level udara-cairan di dalam telinga

OME terjadi karena adanya gangguan fungsi tuba eustaschius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan daerah hidung dan tenggorok) sehingga cairan pada telinga tengah tidak dapat mengalir dengan baik. Keadaan tersebut menyebabkan cairan menetap lebih lama dan menyebabkan terjadinya penurunan pendengaran. Keadaan- keadaan yang menyebabkan adanya gangguan fungsi tuba, antara lain:

  • Fungsi tuba belum berkembang sempurna pada anak
  • Pembesaran adenoid
  • Batuk pilek atau alergi yang menyebabkan pembengkakan pada lapisan telinga, tuba eustashius, hidung dan tenggorok

Otitis media efusi (OME) paling sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan – 3 tahun. Keadaan ini umumnya sulit untuk diketahui karena tidak terdapat gejala akut yang jelas. Gejala-gejala yang dapat terjadi antara lain:

  • Gangguan pendengaran
  • Anak tampak sering menarik atau memegang telinga dan terlihat tidak nyaman
  • Gangguan keseimbangan
  • Hambatan bicara

Keadaan ini dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu 4-6 minggu. Antibiotik tidak diperlukan jika tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi akut pada telinga. Apabila keadaan tidak membaik dalam waktu 2-3 bulan dan mengganggu perkembangan bicara serta performa si buah hati di sekolah, maka perlu dilakukan tindakan pemasangan pipa ventilasi pada gendang telinga untuk mengalirkan cairan keluar.

Tindakan pemasangan pipa ventilasi pada anak – anak umumnya dilakukan dalam pembiusan. Setelah pemasangan pipa dilakukan dan cairan di telinga tengah dikeluarkan maka pendengaran akan segera membaik. Pipa ventilasi akan terlepas dengan sendirinya dalam waktu kurang lebih 6-12 bulan dan gendang telinga akan menutup kembali.

Gambar 2. Prosedur pemasangan pipa ventilasi

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Forest, et al. Improving Adherence to Otitis Media Guidelines With Clinical Decision Support and Physician Feedback. Pediatrics Apr 2013, 131 (4) e1071-e1081; DOI: 10.1542/peds.2012-1988
  2. Bailey’s Head & Neck Surgery Otolaryngology 5th edition, 2014.
  3. Usatine, R.P. Air-fluid levels in ear. J Fam Pract. 2013 September;62(9), diakses dari https://www.mdedge.com/familymedicine/article/77660/air-fluid-levels-ear pada tanggal 12 Januari 2020.
  4. Donaldson, JD. Ear Tubes, diakses dari https://www.emedicinehealth.com/ear_tubes/article_em.htm#what_are_ear_tubes pada tanggal 12 Januari 2020.