WELLNESS is the solution to prevent ILLNESS

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora… Di tengah maraknya wabah COVID-19 ini, tentu penting bagi kita untuk meningkatkan dan menjaga imunitas agar terhindar dari penyakit berbahaya tersebut. Bagaimana caranya, ya? Makan makanan yang sehat sangat penting untuk menjaga imunitas. Selain itu, perlu juga ditunjang dengan minum air putih yang cukup, dan berolahraga.

Sekarang, kita bahas satu-satu, ya!

A) Makan Makanan yang sehat

  1. Karbohidrat

Untuk pemenuhan karbohidrat, pilihlah karbohidrat yang kompleks dan usahakan dari bahan yang alami. Contoh karbohidrat yang dimaksud adalah ubi, jagung, kentang, singkong, dan nasi. Kalau nasi kuning yang diberi kunyit itu, bagaimana? Tentu saja boleh. Karbohidrat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan ini mengandung banyak vitamin dan mineral yang disediakan alam. Sebisa mungkin batasi karbohidrat dari processed foods, seperti mie instan, roti, produk hasil tepung dan gula, semua kue dan minuman yang tinggi gula. Walaupun kebanyakan dari produk-produk ini ditambahkan vitamin dan mineral, tetap saja kita memiliki risiko mengonsumsi garam, gula, pengawet, pewarna, dan bahan aditif lain secara berlebihan.

  1. Protein dan Lemak
  • Protein hewani

Ikan merupakan protein hewani dengan kandungan lemak terbaik. Untuk protein hewani yang bersumber dari daging kambing, ayam, sapi, carilah yang memiliki kandungan lemak yang rendah. Lemak hewani yang terlalu banyak dapat meningkatkan risiko radang dalam tubuh kita. Hindari pengolahan secara deep fry dan bagian yang  gosong jika diolah dengan cara dibakar atau dipanggang. Bagian gosong ini mengandung nitrosamine yang sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan kanker.

  • Protein nabati

Protein nabati tentu sangat baik untuk tubuh kita. Sumber protein nabati  yang dapat kita konsumsi adalah kacang hijau, kacang merah, tauge, dan biji-bijian. Cara konsumsinya pun beragam, bisa dijadikan sayur seperti sup kacang merah. Untuk cara yang lebih menyenangkan, kacang hijau dapat dibuat menjadi bubur kemudian langsung dikonsumsi, atau dimasukkan ke dalam plastik kecil dan dibekukan menjadi es. Untuk tauge dan biji-bijian diketahui sangat baik karena mengandung banyak vitamin E dan mineral-mineral.

  • Lemak

Lemak yang baik sangat penting untuk komponen membran sel kita. Makanlah lemak dari bahan makanan sumber lemak sehat seperti alpukat, ikan salmon, cemilan kacang almond, walnut dan kacang lainnya. Tentu lemak baik ini perlu dikonsumsi dengan benar. Hindari mengonsumsi coklat yang mengandung almond, jus alpukat dengan susu kental manis, dan granola bars, karena lebih banyak gulanya daripada lemak baik itu sendiri.

  1. Serat, Vitamin, dan Mineral

Sumber vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan dalam menjaga sistem imun juga berasal dari konsumsi sayur dan buah-buahan. Mengonsumsi sayur dan buah-buahan yang bervariasi sangat penting karena setiap jenis sayuran dan buah-buahan memiliki kandungan vitamin dan mineral yang berbeda, dan semuanya dibutuhkan untuk metabolisme tubuh kita.

Variasi buah dan sayuran ini juga sebaiknya memperhatikan berbagai warna yang menandakan jenis kandungan antioksidan yang berbeda juga: baik yang berwarna merah seperti tomat, apel, buah bit, bayam merah; atau yang berwarna oranye dan kuning: seperti labu, ubi, jeruk, wortel; warna hijau: bayam, bok choy, selada, brokoli; putih: sawi, kecambah, lobak, kembang kol; biru dan ungu: anggur, plum, bit, kol ungu, ubi ungu, terong.

Buah dan sayuran mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan alami dengan bioavailability yang baik. Artinya, vitamin dan mineral ini dapat diserap dan digunakan dalam sistem pertahanan tubuh dengan baik.

Buah-buahan seperti jambu biji, kiwi, jeruk, mangga, tomat, paprika merupakan buah-buahan dan sayuran yang mengandung vitamin C dan sangat baik dikonsumsi pada saat wabah COVID19. Vitamin C adalah antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, serta digunakan dalam berbagai enzim dalam proses metabolisme tubuh kita. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang kekurangan vitamin C mengalami penurunan imunitas dan lebih rentan terhadap infeksi.

Walaupun banyak orang telah mengetahui peranan vitamin D untuk pembentukan dan kekuatan tulang dan gigi, masih banyak orang yang belum mengetahui peranan vitamin D untuk imunitas. Vitamin D dalam tubuh dibentuk dari sinar UV B matahari melalui kulit dan juga didapatkan dari bahan makanan sumber vitamin D. Hasil penelitian menunjukkan, orang-orang yang memiliki kadar vitamin D yang rendah lebih berisiko mengalami infeksi (infeksi saluran pernafasan, virus influenza, maupun infeksi bakteri) dibandingkan mereka yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi. Beberapa makanan sumber kaya vitamin D: ikan salmon, jamur, beberapa makanan yang difortifikasi (susu sapi, susu soya, tahu, yogurt, cereal, jus jeruk), kuning telur.

B) Minum Air Putih

Minum air putih atau air mineral juga tidak kalah penting dalam menjaga imunitas, karena semua proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh kita sangat membutuhkan sekali air putih. 60% tubuh kita juga terdiri dari air, lho! Berapa banyak air putih yang dibutuhkan oleh seseorang? Jumlah air putih yang dibutuhkan untuk seorang dewasa sehat berkisar 25-30ml/kgBB/hari. Sedangkan lansia membutuhkan cairan lebih sedikit, yaitu sekitar 1500 ml/hari.

C) Aktivitas fisik, olahraga dan menjaga kebersihan

Aktivitas fisik dan olahraga dengan intensitas ringan-sedang juga sangat berperan menjaga sistem imun kita. Berjalan sebanyak 10.000 langkah sehari dan melakukan olahraga dengan intensitas ringan-sedang selama 30 menit per hari (atau 150 menit per minggu) adalah gaya hidup aktif yang disarankan. Menjalankan gaya hidup aktif ini dapat meningkatkan imunitas kita.

Editor: drg. Valeria Widita W

Penanganan Ular

 

 

 

oleh dr. Nurul Larasati

Dokter Umum

*Bekerja sama dengan Safe Kids Indonesia dan Yayasan Sioux Ular Indonesia

Halo Keluarga Sehat Kejora! Belakangan ini ramai sekali pemberitaan mengenai ditemukannya ular di pemukiman warga di berbagai tempat. Satu ekor ular saja dapat menyebabkan keresahan, bagaimana bila ditemukan lebih banyak lagi ya. Apakah Ayah dan Ibu sudah pernah “berkenalan” dengan ular? Apa yang dapat kita lakukan bila berhadapan dengan situasi seperti ini? Yuk kita simak ulasannya.

Mitos dan Fakta

Mungkin Keluarga Kejora pernah menerima informasi yang menyebutkan kalau sedang camping di hutan, jangan lupa tebarkan garam disekitar tenda agar ular tidak mendekat. Betulkah seperti itu? Ternyata itu hanya mitos lho! Faktanya, ular tidak takut garam karena ia terlindungi oleh sisiknya. Ular juga tidak takut terhadap belerang, obat rayap, ataupun obat semut. Justru, yang tidak disukai oleh ular adalah bau yang menyengat karena akan mengganggu penciumannya, misalnya cuka.

Ayah dan Ibu Kejora, perlu diketahui pula bahwa tidak semua ular berbisa itu mematikan. Faktanya, hanya 77 dari 348 spesies ular di Indonesia yang bisanya mematikan. Namun, menjaga kewaspadaan tetap penting ya, Ayah dan Ibu. Lalu bagaimana dengan warna ular? Apakah warna-warna tertentu erat kaitannya dengan bisa yang mematikan? Ternyata itu juga hanya mitos!

Membedakan ular berbisa atau tidak

Seperti yang disebutkan sebelumnya, dari 348 spesies ular di Indonesia hanya 77 yang bisanya mematikan. Tipe ular dibedakan berdasarkan bisanya: highly venomous (sangat beracun) dan non venomous (tidak beracun). Kedua tipe ini memiliki karakteristik yang khas yang dapat membantu kita membedakannya.

Karakteristik dari ular yang highly venomous adalah gerakannya yang lambat. Selain itu, ia memiliki betuk kepala segitiga, mata berbentuk elips, dan memiliki sisik satu baris/ tidak terbagi di bagian buntut. Tipe ular ini membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa melalui taringnya dan memiliki lubang penginderaan panas (heat-sensing) di dekat hidungnya.

Berbeda dari ular yang highly venomous, karakteristik ular yang non-venomous hampir berkebalikan, seperti gerakannya yang cepat, bentuk kepala dan mata yang bulat, dan tidak memiliki taring bisa. Pada bagian buntut sisiknya terbagi menjadi dua baris. Tipe ular ini gigitannya tidak mematikan, namun membunuh mangsanya dengan cara membelit.

Mencegah ular datang ke rumah

Salah satu alasan ular mendatangi tempat tinggal adalah karena lapar. Bisa jadi hal itu terjadi karena telah putus rantai makanannya pada habitat sebelumnya. Agar dapat mencegah ular datang ke rumah, kita dapat belajar memahaminya melalui karakter biologi dari ular. Misalnya, ular sangat mengandalkan penciumannya yang berada pada lidahnya untuk mendeteksi mangsa dan musuh. Ia sangat sensitif dan tidak suka dengan bau yang menyengat. Bila area tempat tinggal kita sering kedatangan ular, trik ini dapat membantu mencegah ular datang ke rumah. Namun, dengan menjaga tempat tinggal kita bersih, ular pun akan segan untuk datang, karena pada dasarnya ular takut dengan manusia.

Ciri-ciri tempat yang disukai ular

Setiap hewan memerlukan tempat yang kondusif untuk hidup. Pastikan tempat tinggal kita bukan salah satunya ya, Ayah dan Ibu. Ciri-ciri tempat yang disukai ular termasuk diantaranya:

  1. Kering, tidak basah lantainya atau hanya sedikit lembab tanpa adanya genangan air.
  2. Tanpa cahaya atau gelap. Ular yang aktif pada malam hari (nokturnal) akan sembunyi di siang hari. Sedangkan, ular yang aktif pada siang hari (diurnal) akan tidur di malam hari di tempat yang sedikit terbuka.
  3. Di dalam lubang. Karena ular tidak berkaki atau tangan, maka ia akan memanfaatkan lubang yang telah dibuat oleh hewan lain.

Contoh tempat di sekitar rumah yang disukai oleh ular adalah plafon atap, lubang pondasi, saluran sampah, dan tumpukan material.

Yang dilakukan bila bertemu ular

Ayah dan Ibu, saat manusia bertemu dengan ular, bukan hanya manusia yang syok dan stres. Ular pun ternyata merasakan yang sama! Saat ular panik atau takut, yang ia lakukan hanyalah berlari, bertahan, mengancam, dan menyerang. Jangan sampai kita memprovokasi. Bagaimana agar ular tidak menyerang? Kita harus STOP. Maksudnya?

S Silent. Jangan bergerak. Ular akan merespon bila melihat gerakan. Jika kita diam, ular tidak bisa membedakan antara kita dan benda mati (misalnya pohon bila kita sedang berada dekat pepohonan).
T Think. Pikirkan ular macam apa ini? Highly venomous atau non venomous?
O Observe. Lihat sekitar kita. Apakah ada benda yang bisa membantu kita untuk memegang atau mengangkat ular, dan apakah memungkinkan untuk kita berpindah atau mundur.
P Prepare. Apa yang akan kita lakukan? Mengejar ular, menangkap, atau mundur?

Bila kita tidak berani mengambil aksi, kita cukup diam dan ular akan pergi sendiri. Ayah dan Ibu juga dapat menghubungi petugas Pemadam Kebakaran di nomor 113 untuk bantu menangani situasinya.

Penanganan gigitan ular

Ayah dan Ibu Kejora, yang paling penting dilakukan bila digigit ular adalah untuk tetap tenang dan tidak panik—jangan berteriak atau berlarian. Pindahlah ke tempat yang aman dan hubungi pemadam kebakaran (113) untuk bantuan. Bersihkan luka gigitan menggunakan air bersih dan sabun, lalu keringkan.

Lilitkan perban dan lakukan pembidaian pada area yang digigit untuk meminimalkan pergerakan (imobilisasi). Posisikan bagian yang luka lebih rendah dari posisi jantung. Bawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan Serum Anti Bisa Ular (SABU) atas saran dokter yang menangani dan diobservasi selama 2 x 24 jam. Penting diingat untuk menghindari obat-obatan tradisional, menghisap luka, ataupun mengikat luka dengan sangat kencang. Masa penyerangan mematikan bergantung kepada jenis ularnya, rata-rata sekitar 10 menit hingga 24 jam. Maka dari itu, penting sekali korban diberikan pertolongan yang memadai.

Semoga kita semua selalu terlindungi ya, Ayah dan Ibu Kejora!

Boba, Minuman Kekinian untuk Anak

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Gerai minuman bubble teashop memang menjadi tren dan sangat menyenangkan sekarang ini. Tentu saja, anak dan remaja juga seringkali mengonsumsi minuman kekinian tersebut. Perpaduan bubble pearl atau tapioca pearl yang kenyal dan manis dipadu dengan beragam minuman manis seperti teh, susu, kopi, sirup dengan berbagai rasa menjadikan minuman ini favorit untuk semua kalangan.

Berita yang cukup menghebohkan beberapa bulan yang lalu adalah seorang anak remaja berusia 14 tahun di Cina diberitakan mengalami sakit perut dan sembelit sehingga dibawa ke rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya, anak tersebut seringkali mengonsumsi bubble tea. Setelah dilakukan tindakan CT scan ternyata ditemukan gambaran butiran bola-bola di dalam  perut anak tersebut yang cukup banyak. Sehingga anak tersebut diberikan pencahar untuk dapat mengeluarkan tumpukan bola-bola tersebut.

Bubble pearl ini terbuat dari tepung kanji atau tapioka, dicampur sedikit gula. Beberapa produk ada yang ditambahkan tepung terigu. Untuk membentuk bola-bola tapioka, semua bahan dicampur dengan air, diuleni, dibentuk bulat, kemudian direbus. Tapioka merupakan pati yang diekstrak dari akar singkong, komposisi gizi  terdiri dari karbohidrat  dan sedikit protein. Tapioka yang mengandung pati resisten tersebut sulit dicerna oleh tubuh  dan cepat memberikan rasa kenyang.

Bubble pearl dalam minuman tersebut seringkali disajikan dengan sedotan besar yang meningkatkan risiko tersedak pada anak terutama pada anak dibawah 4 tahun. Bubble pearl yang dihisap dapat tidak sengaja masuk ke dalam saluran pernapasan. Jika ingin mencoba bubble tea/boba, pastikan anak berusia di atas 4 tahun untuk mengurangi risiko tersedak.

Bubble tea seringkali mengandung kafein karena dicampur dalam teh hitam atau hijau dan disajikan dalam gelas yang cukup besar. Diperkirakan dalam 400 ml bubble tea mengandung kafein sebesar 130 mg, yang merupakan kadar yang cukup besar untuk anak kecil. Selain itu, bubble tea dengan berbagai campuran di dalamnya dapat mencapai energi sebesar 500 kalori dalam gelas terbesarnya. Kalori tersebut merupakan 1/3 kebutuhan anak dalam sehari. Kalori sebesar itu, setengahnya (200 kalori) berasal dari lemak dan sisanya adalah berupa gula. Asupan gula dan lemak yang cukup tinggi ini dapat meningkatkan risiko untuk obesitas pada anak.

Jika ingin mengonsumsi bubble tea/boba untuk anak pastikan tidak terlalu sering (1 kali dalam 1-2 minggu) dan setelah makan utama. Pilihlah gelas dengan ukuran terkecil dan tingkat kemanisan yang terendah. Hindari memilih susu yang ditambahkan dalam boba berupa krimer atau susu kental manis. Orang tua juga dapat meminta untuk mengurangi atau bahkan tidak menggunakan bubble pearl untuk anak. Jika menambahkan bubble pearl, minumlah boba tersebut dalam posisi duduk/ tidak berjalan dan sambil bicara.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Apakah Perlu Melakukan Skrining Prakonsepsi (Penapisan Sebelum Kehamilan)?

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Sahabat Kejora, bila Anda berencana untuk memiliki momongan, apakah perlu melakukan pemeriksaan skrining prakonsepsi (penapisan sebelum kehamilan)?

Sebelumnya, apa yang dimaksud dengan skrining prakonsepsi?

Skrining prakonsepsi adalah sebuah cara yang dilakukan untuk mengetahui risiko medis, perilaku, dan kondisi sosial kesehatan seorang perempuan atau luaran kehamilan melalui cara-cara tertentu secara medis.

Ada beberapa tujuan dari skrining prakonsepsi itu sendiri, antara lain:

  1. agar pasangan memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik terkait kesehatan sebelum kehamilan,
  2. agar calon ibu memasuki kehamilan dalam kondisi kesehatan yang optimal, dan
  3. untuk menurunkan risiko kehamilan yang tidak diharapkan dari riwayat kehamilan sebelumnya dengan melakukan persiapan sebelum kehamilan.

Konseling prakonsepsi ini sebaiknya dilakukan dengan melibatkan beberapa ahli terkait seperti dokter spesialis kandungan, penyakit dalam, dan dokter anak untuk mengetahui riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat medis, riwayat penyakit genetik, risiko penggunaan zat berbahaya, serta permasalahan status gizi.

Apa saja kondisi yang perlu diperhatikan bagi perempuan yang berencana hamil?

Ada banyak kondisi yang memerlukan perhatian khusus bila seorang perempuan berencana hamil. Secara umum, calon wanita hamil dikatakan berisiko tinggi jika terdapat paling tidak satu dari beberapa kondisi di bawah ini:

  • Usia ibu kurang dari 20 atau lebih dari 35 tahun
  • Riwayat kehamilan sebelumnya:
    • keguguran berulang
    • kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim)
    • riwayat operasi sesar
    • preeklampsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan)
    • persalinan preterm (kurang bulan)
    • perdarahan sebelum atau sesudah persalinan
    • riwayat janin dengan defek tabung neural (neural tube defect)
  • Menderita atau memiliki riwayat medis:
    • Hipertensi kronik (tekanan darah tinggi yang sudah menahun)
    • Diabetes mellitus (penyakit gula)
    • Epilepsi
    • Penyakit jantung dan pembuluh darah
    • Asma
    • Trombofilia (gangguan pembekuan darah)
    • Penyakit ginjal
    • Hepatitis B atau C
    • Anemia
    • Penyakit tiroid
    • Penyakit jaringan ikat, seperti rheumatoid arthritis, lupus
    • Masalah psikiatri atau kejiwaan
    • Kanker
    • Penyakit infeksi
    • Penyakit menular seksual
  • Memiliki riwayat penyakit genetik:
    • thalassemia, fenilketonuria, dan lainnya
  • Penggunaan zat berbahaya:
    • narkotika, rokok, dan alkohol
  • Status gizi:
    • Status gizi kurang (underweight)
    • Status gizi lebih (overweight atau obesitas)

Bila ada salah satu saja kondisi yang disebutkan di atas, maka sebaiknya Sahabat Kejora berkonsultasi dengan dokter mengenai skrining prakonsepsi agar memasuki kehamilan dengan kondisi yang optimal. Diharapkan dengan dilakukannya skrining prakonsepsi ini, maka luaran buruk saat kehamilan dapat diminimalisir atau bahkan dapat dihindari.

Editor: dr. Sunita

Sumber:
Chapter 8 Preconceptional Care. Cunningham FG, et al, editors. Williams Obstetrics 25th Edition. 2018. New York: McGraw-Hill. p:146-56.,/p>

Anemia pada Anak


 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Pernahkah Ayah dan Ibu menemukan buah hati terlihat pucat dan lemas? Gejala tanda tersebut dapat menunjukkan adanya anemia. Tahukah Ayah dan Ibu, bahwa anemia, khususnya akibat kekurangan zat besi (ADB), rentan pada bayi & anak. Di Indonesia, 40–45% balita mengalami ADB. Dampak ADB yaitu menurunkan kemampuan konsentrasi belajar anak, terhambatnya tumbuh kembang, juga menurunkan daya tahan tubuh.

Apa saja penyebab ADB? Pertumbuhan bayi usia 6–12 bulan yang cukup cepat merupakan salah satu risiko kekurangan zat besi, terutama bagi mereka yang predominan ASI & hanya diberi MPASI sumber zat besi/fortifikasi besi jarang (<2 kali/hari). Percepatan tumbuh masa kanak-kanak disertai rendahnya asupan besi dari makanan juga salah satu penyebab anak rentan terhadap kekurangan zat besi. Adanya infeksi, perdarahan saluran cerna, dan gangguan penyerapan nutrisi di saluran cerna juga merupakan faktor penyebab ADB.

Bagaimana Ayah dan Ibu dapat mengenali anemia? Bila bayi terlihat iritabel, atau anak tampak lemas, selera makan berkurang, sulit konsentrasi, cepat lelah, terlihat pucat, Ayah Ibu dapat mencurigai adanya anemia. Segeralah konsultasi dengan dokter jika Ayah Ibu menemukan gejala tanda di atas, agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan mendapatkan penanganan serta terapi yang tepat.

Bagaimana Ayah Ibu dapat mencegah terjadinya ADB pada bayi & anak? Sebagai pencegahan, IDAI merekomendasikan suplementasi besi untuk semua bayi dan anak (prioritas usia 0–5 tahun, terutama 0–2 tahun). Suplementasi juga diberikan hingga usia remaja. Dosis dan lama pemberian harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ya.

Pemberian ASI eksklusif pada bayi baru lahir cukup bulan juga merupakan bentuk pencegahan. Pada bayi yang lebih besar, MPASI yang diperkaya zat besi (fortifikasi) dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan zat besi. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan menghindari pemberian susu segar sapi berlebihan pada anak dan berikan makanan sumber zat besi mudah diserap/besi heme (daging, ikan, ayam, hati). Pemberian makanan sumber besi non-heme (kacang-kacangan, sayur, tofu) disarankan bersamaan dengan makanan tinggi vitamin C, misalnya jeruk, agar meningkatkan penyerapan zat besi. Namun, hindari pemberiannya bersamaan minum teh karena zat tanin dalam the menghambat penyerapan zat besi.

Sumber: IDAI, WHO, SKRT.

May: Skin Cancer Awareness Month

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo keluarga sehat Kejora! Dalam rangka Skin Cancer Awareness month di bulan Mei ini, Kejora ingin berbagi informasi mengenai kanker kulit. Kanker kulit merupakan pertumbuhan abnormal sel kulit yang tidak terkontrol akibat kerusakan DNA pada sel kulit karena radiasi sinar ultraviolet. Bentuk kanker kulit bisa sedikit menonjol seperti tahi lalat ataupun rata dengan permukaan kulit di sekitarnya. Selain paparan sinar ultraviolet, beberapa hal lain yang membuat seseorang memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker kulit, antara lain karena memiliki riwayat kanker kulit di keluarga, memiliki warna kulit yang lebih terang, serta memiliki kulit yang mudah terbakar jika terkena sinar matahari.

Jika menemukan lesi atau tanda pada kulit dengan berikut, maka sebaiknya waspada akan kanker kulit dan segera memeriksakan diri ke dokter kulit:

  1. Bentuknya tidak simetris
  2. Tepi yang tidak jelas
  3. Berwarna merah, pucat atau kebiruan. Jika berwarna coklat biasanya tidak berbahaya
  4. Membesar hingga lebih dari 6 mm
  5. Berubah bentuk atau warna
  6. Mudah berdarah

Kanker kulit dapat dicegah! Secara umum, menghindari paparan sinar matahari yang berlebihan dapat mencegah terjadinya kanker kulit, terutama sinar matahari antara jam 11 pagi dan 3 sore. Beberapa tips untuk mencegah paparan sinar matahari berlebih:

  1. Berpakaian yang menutup kulit pada saat terpapar sinar matahari. Menggunakan topi dan kacamata hitam juga dapat membantu melindungi wajah, kepala, telinga, dan leher.
  2. Menggunakan lotion tabir surya (sunscreen). Sebaiknya lotion yang digunakan dapat memberikan proteksi terhadap sinar UVA dan UVB dengan kadar SPF minimal 15 untuk kegiatan sehari-hari dan SPF 30 atau lebih jika aktivitas lebih banyak di luar ruangan. Lotion digunakan 30 menit sebelum kulit terpapar sinar matahari untuk memberikan waktu bagi lotion menyerap pada kulit. Ulangi penggunaannya setiap 2 jam atau lebih sering jika banyak berkeringat. Jika berenang, gunakan kembali lotion setelah selesai berenang.
  3. Hindari kegiatan berjemur di bawah sinar matahari. Indoor tanning dengan UV beds juga sebaiknya dihindari karena dapat merusak dan menimbulkan cedera pada kulit.

World Asthma Day 2018: Never too Early, Never too Late

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Ayah Ibu! World Asthma Day  yang diperingati setiap tanggal 1 Mei mengangkat tema Never too Early, Never too Lateuntuk tahun 2018 ini, dengan maksud mengingatkan orang tua dan petugas kesehatan untuk kembali mengevaluasi gejala klinis dengan kemungkinan asma dan memastikan bahwa asma yang diderita terkontrol.

Asma merupakan salah satu penyakit kronis pada saluran nafas yang disebabkan oleh peradangan kronis pada saluran nafas, biasanya penyakit ini diderita sejak masa anak-anak. Asma merupakan penyakit yang muncul dalam bentuk episode atau serangan. Saat serangan asma, gejala yang diderita dapat berupa sesak nafas dan bunyi nafas mengi. Penyebab pasti asma belum diketahui, namun kombinasi dari faktor genetik atau keturunan dan lingkungan diduga menjadi penyebab terjadinya asma.

Kapan seorang anak perlu dicurigai menderita asma?

  • Jika terdapat riwayat keluarga dengan asma, terutama pada salah satu atau kedua orang tuanya.
  • Jika anak memiliki riwayat alergi
  • Jika anak mengalami mengi (suara yang dihasilkan ketika udara mengalir melalui saluran napas yang menyempit) saat mengalami batuk pilek

Dengan adanya hal tersebut, sebaiknya anak dievaluasi oleh Dokter apakah ada kemungkinan menderita asma atau tidak.

Pemicu serangan asma berbeda-beda pada setiap individu. Beberapa hal yang dapat memicu serangan asma antara lain:

  • Alergen, seperti tungau debu rumah pada karpet, tempat tidur, dsb; serbuk sari, dsb
  • Asap rokok
  • Polusi udara
  • Udara dingin
  • Pada beberapa orang, kondisi emosi yang berlebihan, seoerti: marah atau rasa cemas dapat memicu serangan asma. Hal yang sama juga dapat terjadi setelah aktivitas fisik yang berlebihan.

Hingga sekarang, pertanyaan apakah asma dapat disembuhkan masih dalam tahap penelitian. Hal yang lebih utama adalah memastikan asma terkontrol dengan menjauhkan alergen atau pemicu serangan asma dan menggunakan obat-obatan untuk mengontrol asma sehingga penderita asma dapat beraktivitas dengan nyaman dan memiliki kualitas hidup yang baik. Dengan mengontrol asma maka kita juga mencegah kondisi ini menjadi lebih berat lagi.