Benarkah Minum Susu Botol dalam Posisi Berbaring dapat Menyebabkan Radang Telinga?

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu tahu bahwa pemberian susu melalui botol dalam posisi berbaring dapat menyebabkan terjadinya peradangan dan terbentuknya cairan pada telinga bagian tengah ? Hal ini disebut otitis media efusi.

Tenggorok memiliki hubungan dengan telinga bagian tengah melalui sebuah saluran yang bernama tuba eustaschius. Letak saluran tuba eustaschius pada anak lebih mendatar sehingga anak-anak lebih berisiko mengalami otitis media efusi. Pemberian susu botol saat berbaring berisiko menyebabkan air susu tersebut mengalir ke dalam saluran tersebut sehingga menimbulkan reaksi radang sehingga terbentuk cairan di dalam telinga tengah.

Penggunaan botol susu konvensional tanpa ventilasi saat ini sudah mulai ditinggalkan karena memberikan efek tekanan negatif pada telinga tengah saat bayi menyedot. Pemilihan jenis botol susu yang digunakan juga mempengaruhi tekanan pada telinga tengah. Berdasarkan penelitian penggunaan botol susu dengan ventilasi akan memberikan tekanan positif pada telinga tengah sehingga risiko terjadinya peradangan pada telinga tengah lebih rendah. Botol susu yang memiliki ventilasi tekanan positif memiliki efek seperti breastfeeding.

Oleh karena itu:

  1. Hindari pemberian susu melalui botol dengan posisi berbaring / sampai anak tertidur
  2. Pemberian susu melalui botol dilakukan pada posisi tegak

  1. Gunakan botol dengan ventilasi

Otitis media efusi merupakan salah satu faktor risiko menyebabkan terjadinya infeksi telinga tengah berulang pada anak. Otitis media efusi juga merupakan salah satu penyebab terbanyak gangguan pendengaran pada anak. Gangguan pendengaran pada anak dapat berakibat pada penurunan performa belajar, gangguan tumbuh kembang, dan gangguan bersosialisasi.

Editor: drg. Rizki Amalia

Referensi:

  1. Di Francesco, R. C., Barros, V. B., & Ramos, R. (2016). Otite média com efusão em crianças menores de um ano [Otitis media with effusion in children younger than 1 year]. Revista paulista de pediatria : orgao oficial da Sociedade de Pediatria de Sao Paulo34(2), 148–153. https://doi.org/10.1016/j.rpped.2015.08.005
  2. Brown, Craig & Magnuson, Bengt. (2000). On the physics of the infant feeding bottle and middle ear sequela: Ear disease in infants can be associated with bottle feeding. International journal of pediatric otorhinolaryngology. 54. 13-20. 10.1016/S0165-5876(00)00330-X.
  3. Susan B. Tully, Yehuda Bar-Haim, Richard L. Bradley. (1995). Abnormal tympanography after supine bottle feeding. The Journal of Pediatrics, Volume 126, Issue 6, Pages S105-S111. (http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S002234769590249X).

Boleh Tidak Membersihkan Telinga Pakai Cotton Bud?

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah Ibu Kejora!

Seringkali kita membersihkan telinga dengan caramengorek telinga memakai cotton bud, tapi pernahkah Ayah dan Ibu bertanya sebenarnya boleh nggak sih membersihkantelinga pakai cotton bud? Mari simak jawabannya yang dijelaskan oleh dr Natasha Supartono, Sp.THT berikut ini.

 

Pada prinsipnya, penggunaan alat apa pun untuk membersihkan telinga hanya boleh dilakukan oleh dokter. Penggunaan cotton bud di rumah tidak dianjurkan karena malah dapat mendorong kotoran telinga lebih dalam serta dapat menyebabkan beberapa efek samping.

Gambar 1. Earwax/kotoran telinga yang terdorong cotton bud

Beberapa efek samping yang dapat terjadi antara lain:

1. Menumpuknya kotoran telinga ke dalam dan mengeras
2. Luka pada liang telinga
3. Luka pada gendang telinga yang dapat menyebabkan bolongnya gendang telinga
4. Infeksi bakteri/ jamur pada liang telinga

Gambar 2. Luka pada gendang telinga yang dapat menyebabkan bolongnya gendang telinga

Kotoran telinga/ serumen/ earwax akan terus diproduksi oleh liang telinga sebagai sistem pertahanan yang dapat melindungi telinga dari berbagai mikroorganisme dan benda asing. Jadi, kotoran telinga tersebut memiliki fungsi tersendiri dan berperan menjaga kesehatan telinga.

Setelah memproduksi kotoran, telinga juga mempunyai mekanisme untuk membersihkan diri. Kotoran yang diproduksi tersebut akan bergerak ke arah luar secara bersamaan dengan bergeraknya otot di sekitar telinga misalnya pada saat kita berbicara/ mengunyah. Oleh karena itu, pembersihan telinga cukup dilakukan dengan membersihkan liang telinga bagian luar dan daun telinga dengan lap basah. Cara seperti ini akan lebih aman untuk dilakukan di rumah. Jadi, tidak perlu pakai cotton bud untukmembersihkan telinga ya Ayah dan Ibu Kejora!

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber artikel:

Bailey tect of otolaryngology 2016

Sumber gambar:

https://www.drganent.com/blog/this-is-why-you-should-never-dig-your-ears-with-a-cotton-bud-aka-q-tip/

Kenali Fistul Preaurikula

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Keluarga Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu pernah mendengar tentang fistul preaurikula? Kali ini, mari kita cari tahu tentang fistul preaurikula.

Fistul preaurikula adalah lubang di depan telinga. Lubang ini normalnya tidak ada sehingga keberadaannya merupakan suatu kelainan bawaan. Lubang ini merupakan muara dari saluran yang mengarah ke liang telinga dan dapat terinfeksi. Pada prinsipnya, apabila tidak terjadi infeksi, maka lubang ini hanya merupakan kelainan yang tidak perlu ditindak lanjuti.

Gambar 1. Fistul preaurikula atau lubang di depan telinga

Sumber Gambar: https://dragonsurgery.com/ear-pits/

Tetapi, apabila terdapat tanda-tanda infeksi pada fistul preaurikula, Ayah dan Ibu harus melakukan konsultasi ke dokter THT, ya? Berikut tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai, yaitu:

  • Bengkak
  • Kemerahan
  • Nyeri
  • Bernanah
  • Demam

Gambar 2. Pembengkakan pada preaurikula

Sumber Gambar: https://www.healio.com/news/pediatrics/20120325/a-13-month-old-girl-with-pre-auricular-swelling

Tatalaksana yang biasa dilakukan pada fistul preaurikula adalah memastikan kebersihan daerah terinfeksi disertai obat-obatan anti radang atau antibiotik jika diperlukan. Jika terdapat infeksi berulang, maka dokter akan mempertimbangkan tindakan pembedahan untuk mengangkat saluran dan menutup lubang tersebut.

Referensi:

https://www.chop.edu/conditions-diseases/preauricular-pits