Apa Itu Cryptic Pregnancy?

 

 

 

 

oleh dr. Devi Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu dan Ayah Kejora! Apakah Ibu pernah dengar cerita yang sempat gempar di sosial media tentang ibu yang tidak tau dia hamil sampai waktunya persalinan? Hmmm.. Hamil tapi tidak merasakannya? Mungkinkah?

Mungkin sulit untuk dipercayai, namun pada beberapa perempuan terkadang tanda dan gejala kehamilan bisa sangat tersamarkan sehingga ia tidak mengetahui bahwa dirinya hamil. Hal seperti ini terjadi pada beberapa perempuan dan keadaan ini disebut sebagai cryptic pregnancy atau kehamilan cryptic. Istilah ini juga seringkali dikaitkan dengan denied-pregnancy.

Cryptic menurut kamus Merriam-Webster berarti sesuatu yang bersifat tersembunyi atau tidak diketahui. Kehamilan jenis ini, secara mencengangkan terjadi cukup sering, yaitu 1 dari 475 kehamilan. Sang Ibu biasanya baru menyadari kehamilannya antara usia kehamilan 20 minggu hingga saat persalinan. Ya benar, sang Ibu baru mengetahui bahwa dirinya hamil saat persalinan! Pada salah satu jurnal juga disebutkan bahwa kehamilan ini terjadi pada 1 dari 2500 kehamilan pada “Dunia Barat Modern”. Mengejutkan bukan?!

Pada beberapa jurnal kedokteran didapatkan laporan kasus mengenai seorang perempuan yang mengeluh mengalami nyeri perut hebat dan setelah dilakukan pemeriksaan di IGD ternyata perempuan tersebut mengalami keadaan persalinan.

Penyebab Cryptic Pregnancy

Beberapa penyebab terjadinya cryptic pregnancy antara lain:

  1. Siklus haid tidak normal. Ibu sebelumnya telah memiliki siklus haid yang tidak normal, sehingga ia menjadi biasa saja saat dirinya tidak mengalami haid selama beberapa bulan.
  2. Ibu dalam fase peri-menopause. Pada beberapa wanita yang berada dalam fase peri-menopause (fase menjelang menopause) seringkali terjadi haid yang tidak teratur dan selama beberapa bulan tidak haid. Sehingga seringkali sang Ibu merasa baik-baik saja saat tidak haid. Bahkan pada perempuan dalam fase ini atau yang merasa “sudah tua” sudah memiliki pemikiran bahwa dirinya tidak mungkin hamil, sehingga kehamilan sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh mereka.
  3. Tidak tampak tanda hamil. Ibu tidak mengalami mual muntah pada trimester awal, dan juga ia tidak mengalami pertumbuhan berat badan yang cukup berbeda selama kehamilan.
  4. Tidak terasa gerakan janin. Pada kasus seperti ini, bisa jadi persepsi seorang perempuan yang tidak menyangka dirinya hamil sehingga menyangka bahwa gerakan tersebut adalah gerakan saluran pencernaan biasa.

Apakah Cryptic Pregnancy Berbahaya?

Seperti yang kita ketahui bahwa dalam kehamilan terjadi banyak perubahan pada Ibu dan janin, dimana kesejahteraan keduanya saling terhubung. Sehingga kegagalan untuk menyadari kehamilan akan memberi dampak buruk pada Ibu dan/atau janin, seperti berikut ini:

  1. Tidak dilakukan kunjungan antenatal secara baik. Hal ini dapat berakibat tidak diketahuinya beberapa komplikasi seperti berat janin kurang, air ketuban berkurang dan sebagainya.
  2. Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium awal. Kondisi anemia, infeksi, dan sebagainya diketahui dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan. Contohnya, infeksi saluran kemih pada ibu hamil dapat memicu terjadinya kontraksi yang jika dibiarkan dapat menimbulkan persalinan prematur.
  3. Tidak dilakukannya skrining terhadap Ibu, terutama hipertensi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pre-eklampsia dan eklampsia
  4. Komplikasi pada bayi, seperti lahir prematur, berat lahir kecil (Kurang Masa Kehamilan/ KMK) hingga Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT).

Apa Yang Sebaiknya Dilakukan?

Pada Ibu yang masih dalam usia produktif perlu disadari bahwa kehamilan bisa terjadi kapanpun, bahkan saat Ibu dalam proteksi kontrasepsi. Ingat kan pembahasan sebelumnya mengenai alat kontrasepsi termasuk angka persentase kegagalannya? Berikut tips & trick untuk menghindari terjadinya cryptic pregnancy:

  1. Ketahui pola haid normal.
  2. Kenali tanda-tanda perubahan pada tubuh kita, misalnya mudah merasa lelah, nyeri pinggang, sering berkemih, atau rasa tidak nyaman pada daerah perut.
  3. Ibu yang dalam proteksi kontrasepsi dapat memeriksakan diri ke tenaga medis secara berkala, misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan atau satu kali setahun.

Jadi, cryptic pregnancy itu benar bisa terjadi ya. Kenali tubuh kita dengan baik dan selalu waspada.

Editor: dr. Nurul Larasati

COVID-19 pada Kehamilan

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Infeksi COVID-19 yang akhir-akhir ini sedang marak menyebabkan kekhawatiran bagi masyarakat, khususnya di Indonesia setelah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020 bahwa ada 2 WNI yang positif COVID-19. Karena penyakit ini masih baru, belum banyak data mengenai dampaknya pada kehamilan. Pada artikel ini akan dibahas mengenai apa yang sudah diketahui mengenai COVID-19 pada kehamilan, dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah COVID-19.

Apa gejala COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Demam (78%)
  • Batuk (44%)
  • Nyeri otot (33%)
  • Rasa lemas menyeluruh (22%)
  • Sesak nafas (11%)
  • Sakit tenggorok (22%)
  • Pada perempuan dengan riwayat bepergian ke daerah yang terdampak dalam waktu 14 hari terakhir, atau ada riwayat kontak dekat dengan orang yang positif menderita COVID-19 dalam 14 hari terakhir.

Apa dampak COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Kondisi penyakit yang lebih berat pada ibu, termasuk meningkatkan angka kematian
  • Dampak pada janin, termasuk persalinan preterm (prematur), ketuban pecah dini, dan gawat janin.
  • Dari studi yang ada, sebagian besar perempuan hamil dengan COVID-19 melahirkan dengan operasi sesar. Data saat ini juga menunjukkan belum ada penularan dari ibu ke janin dalam kandungan (transmisi vertikal).

Apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang memiliki gejala?

  • Melaporkan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
  • Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut akan merujuk ke rumah sakit yang sudah ditentukan untuk melayani COVID-19 (saat ini ada 100 rumah sakit di Indonesia)

Upaya pencegahan apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang masih sehat?

  • Menghindari kontak dengan orang sakit.
  • Batuk / bersin ke tisu, lalu buang tisu tersebut dan cuci tangan.
  • Bersihkan permukaan yang sering dipegang banyak orang, seperti gagang pintu, steker lampu, meja.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 20 detik setelah ke kamar mandi, sebelum makan, dan setelah bersin / batuk. Jika tidak tersedia air dan sabun, cuci tangan dengan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.
  • Sediakan ruangan / kamar terpisah bila ada anggota keluarga yang sakit.
  • Hindari bepergian ke daerah yang positif memiliki kasus COVID-19.

Apa yang dilakukan pada ibu dan bayi baru lahir?

  • Bayi baru lahir dari ibu yang positif COVID-19 juga dianggap sebagai pasien yang harus diperiksa dan diinvestigasi lebih lanjut.
  • Bayi baru lahir dirawat di ruangan terpisah dari ibu yang positif COVID-19.

Bagaimana dengan pemberian ASI pada bayi dari ibu positif COVID-19?
Dari data yang ada saat ini, tidak ditemukan virus Corona pada ASI. Oleh sebab itu, pada ibu yang memiliki gejala berat, dianjurkan untuk menyusui dengan cara memompa ASI, lalu diberikan ke bayi oleh orang yang sehat. Bila gejala ringan, maka ibu dapat menyusui langsung, dengan melakukan upaya pencegahan dan menggunakan masker.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

Mengenal Keguguran

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Halo, Keluarga Kejora! Pembahasan kali ini temanya spesial untuk para Ibu, namun informasinya juga tidak kalah penting untuk para Ayah agar dapat menambah wawasan tentang kondisi yang mungkin terjadi pada pasangan saat hamil.

Pada awal kehamilan, ada berbagai macam keadaan patologis (tidak wajar) yang dapat terjadi, salah satunya adalah keguguran. Kondisi ini terjadi pada trimester pertama kehamilan dimana janin lahir jauh sebelum waktunya ia mampu bertahan hidup (viable). Keguguran disebut juga sebagai early pregnancy loss atau kematian mudigah, sedangkan dalam kedokteran disebut sebagai abortus. Menurut the National Center for Health Statistic, the Centers for Diasease Control and Prevention, dan World Health Organization, abortus adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau jika janin yang dilahirkan memiliki berat kurang dari 500 gram.

Abortus pun terbagi lagi menjadi abortus spontan, medicinalis, dan provokatus. Pada abortus spontan, keguguran terjadi secara sendirinya, sedangkan abortus medicinalis terjadi karena dipicu oleh pemakaian obat dengan indikasi medis seperti bila terjadi kematian mudigah (janin). Abortus juga dapat dilakukan dengan sengaja tanpa adanya indikasi medis dan bersifat illegal, yang disebut sebagai abortus provokatus.

Secara statistik, 55% abortus spontan yang terjadi pada usia kehamilan < 12 minggu disebabkan oleh adanya kelainan kromosom pada janin seperti autosomal trisomy atau monosomy X. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keguguran antara lain:

  1. Diabetes mellitus pada Ibu
  2. Hipotiroid pada Ibu
  3. Merokok (yang juga dapat memicu kelainan kromosom pada janin)
  4. Konsumsi alkohol berlebihan, terutama pada 8 minggu pertama kehamilan
  5. Konsumsi kafein berlebihan (rata-rata > 5 gelas/hari)
  6. Kelainan anatomis pada Ibu, seperti adanya mioma yang mengganggu proses implantasi (penanaman janin ke dinding rahim), kelainan rahim bawaan, dll.

Berdasarkan proses kejadiannya, abortus spontan dapat terbagi lagi menjadi:

  1. Abortus iminens

Dikenal sebagai ancaman keguguran. Pada kondisi ini Ibu mengeluhkan seperti adanya kontraksi atau kram perut bagian bawah atau timbulnya flek-flek dari jalan lahir. Namun, pada pemeriksaan dalam tidak terdapat pembukaan mulut rahim dan pemeriksaan ultrasonografi janin tetap dalam kondisi baik (denyut jantung dan gerak janin aktif). Pada kondisi seperti ini, para calon Ibu akan disarankan untuk tirah baring total (bedrest) disertai dengan pemberian obat untuk mengurangi kontraksi sambil dokter terus mencari tahu penyebab kontraksi.

  1. Abortus insipiens

Ialah suatu keadaan dimana keguguran sedang terjadi. Pada kondisi ini, janin sedang dalam proses pengeluaran, yang menyebabkan Ibu merasa mulas (kontraksi) yang hebat. Pada pemeriksaan dalam, tampak adanya pembukaan mulut rahim dan perdarahan yang terus menerus dari jalan lahir. Pada awal kondisi ini janin mungkin masih memiliki detak jantung, namun dikarenakan ini adalah suatu aborsi yang tidak terhindar, maka seiring berjalannya proses maka janin akan meninggal.

  1. Abortus inkomplit

Keadaan ini adalah lanjutan dari abortus insipiens, dimana hasil konsepsi (janin, kantong kehamilan, dan plasenta) sudah keluar namun terdapat bagian lainnya yang masih melekat pada dinding rahim. Tanda-tandanya ialah berkurangnya kontraksi, terbukanya serviks, dan adanya perdarahan dari rahim. Penanganannya bisa dengan pemberian obat atau dengan tindakan kuretase.

  1. Abortus komplit

Pada kondisi ini, seluruh hasil konsepsi telah keluar secara sempurna dari rahim. Ditandai dengan hilangnya rasa mulas/kontraksi, mulut rahim telah menutup, dan tidak ada perdarahan.

Selain abortus, apakah Ibu dan Ayah pernah mendengar istilah-istilah ini?

  • Blighted ovum atau unembryonic pregnancy

Yaitu suatu keadaan kehamilan dimana kantong kehamilan telah terbentuk dengan baik namun tidak ditemukan janin di dalamnya.

  • Missed abortion

Yaitu suatu keadaan dimana janin telah meninggal lama dan tertahan di dalam rahim.

Penanganan abortus

Teknik untuk mengeluarkan janin/konsepsi dari dalam rahim dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

  1. Pemakaian obat-obatan

Cara ini digunakan untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim sehingga hasil konsepsi atau sisa konsepsi dapat keluar. Risiko atau komplikasi dari tindakan ini ialah terjadinya abortus inkomplit.

  1. Tindakan kuretase

Tindakan ini adalah cara lain untuk membersihkan hasil konsepsi dalam rahim dengan menggunakan alat-alat kedokteran dan dilakukan oleh dokter spesialis kandungan. Pada serviks (mulut rahim) yang belum terbuka, pasien akan dirangsang menggunakan laminaria atau diberikan obat-obatan yang membantu pembukaan serviks sehingga kuretase dapat dilakukan. Risiko atau komplikasi dari tindakan ini ialah dapat terjadinya perforasi rahim.

Tindakan abortus yang ilegal atau yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab , seperti membeli obat secara bebas atau menggunakan alat tertentu untuk memaksa pembukaan serviks, dapat menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dan abortus septik yang dapat mengakibatkan kematian. Abortus septik ialah suatu kondisi terjadinya infeksi hebat pada rahim yang menyebar ke seluruh tubuh.

Kembalinya masa subur

Banyak sekali pasangan yang khawatiran mengenai kesuburannya setelah tindakan kuretase. Berapa lama bisa hamil kembali? Untuk menjadi perhatian, bahwa ovulasi dapat terjadi 14 hari setelah keguguran, sehingga kesuburan dapat segera kembali. Namun, jika Ibu belum berencana untuk hamil dalam waktu dekat pasca keguguran, maka pemilihan metode kontrasepsi perlu diperhatikan.

Ayah dan Ibu, penting sekali untuk kita menjaga kesehatan selama kehamilan. Hindari faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, dan bagi para Ayah, berikan dukungan yang penuh kepada pasangan agar ia dapat menjalani masa kehamilan dengan menyenangkan. Jangan lupa untuk periksakan kehamilan secara rutin dan kunjungi dokter bila ada hal yang mencurigakan.

Editor: dr. Nurul Larasati

Manfaat Pemeriksaan USG pada Kehamilan

oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obsetri Ginekolog

Halo Keluarga Kejora! Salam sehat dan sejahtera.. Kali ini, kita akan membahas mengenai manfaat pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang biasanya dilakukan dalam pemeriksaan kehamilan yaa…

Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan USG?

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) adalah salah satu komponen penting dari pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan USG dilakukan oleh dokter yang kompeten, biasanya dokter spesialis kandungan, dengan menggunakan mesin USG untuk menilai kondisi kehamilan.

Apa yang dilakukan pada saat pemeriksaan USG?

Terdapat dua jenis pemeriksaan USG, yaitu transabdominal (dari perut), dan transvaginal (dari vagina).

  • Transabdominal: pemeriksaan ini yang umum dilakukan. Ibu akan berada dalam kondisi berbaring terlentang dan dokter akan menggunakan probe transabdomen untuk pemeriksaan.
  • Transvaginal: pemeriksaan ini biasanya memiliki indikasi khusus, seperti evaluasi kondisi kehamilan muda, menilai apakah terdapat kehamilan ektopik (kehamilan yang terjadi di lokasi di luar rahim), menilai plasenta bila dicurigai plasenta previa (lokasi plasenta berada di bawah dekat mulut rahim) pada pemeriksaan transabdomen, dan menilai panjang leher rahim (serviks). Ibu berada dalam posisi litotomi (telentang) dan dokter akan menggunakan probe (alat) transvagina yang dimasukkan ke dalam vagina ibu.

Kapan perlu dilakukan pemeriksaan USG?

Pemeriksaan USG dilakukan minimal 3 kali selama kehamilan, dan masing-masing pemeriksaan tersebut memiliki tujuan masing-masing. Waktu minimal untuk melakukan pemeriksaan tersebut adalah:

  1. 1 kali saat trimester 1 (10-13 minggu): menilai letak kehamilan di dalam atau luar kandungan, menilai kantong kehamilan, ukuran janin, viabilitas janin, dan kelainan lain pada kandungan. USG trimester 1 ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan karena akurasinya paling tinggi, dengan variasi hanya 3-5 hari.
  2. 1 kali saat trimester 2 (18-22 minggu): menilai apakah terdapat kelainan organ pada janin (skrining kelainan kongenital)
  3. 1 kali saat trimester 3 (28-32 minggu): menilai kondisi janin, plasenta, ketuban

Nah, dari hasil pemeriksaan USG standar biasanya akan diketahui jumlah dan letak janin, taksiran berat janin, posisi plasenta, kondisi ketuban, usia kehamilan, dan tanggal taksiran persalinan.

Apabila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG tambahan, seperti:

  • Penilaian ulang plasenta pada saat usia kandungan 28 minggu, 32 minggu, dan 36 minggu bila terdapat plasenta previa
  • Penilaian indeks cairan ketuban dan arus darah tali pusat pada kehamilan postterm (lewat waktu)
  • Penilaian kesejahteraan janin pada kondisi seperti hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia, dan diabetes
  • Pemantauan berkala pada kehamilan kembar
  • Penilaian khusus pada janin seperti penilaian kondisi janin (fetal echocardiography) atau detailed scan bila dicurigai adanya kelainan kongenital. Biasanya pemeriksaan USG khusus ini dilakukan oleh SpOG khusus yang mendalami USG atau konsultan fetomaternal.

Apakah pemeriksaan USG aman, dan apa bahayanya bila sering USG?

Pemeriksaan USG menggunakan gelombang suara untuk menilai kondisi bayi dan kehamilan. Karena menggunakan gelombang suara, maka USG aman dilakukan pada kehamilan (bukan menggunakan sinar radiasi / ionizing radiation seperti pada pemeriksaan rontgen atau CT scan). Saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa USG berbahaya bagi janin (cacat/kelainan janin, gangguan pertumbuhan janin, dll).

Mesin USG juga dibekali dengan biosafety profile, yaitu mechanical index (MI) dan thermal index (TI). Apabila MI dan TI dalam batas normal maka pemeriksaan dengan alat tersebut aman digunakan.

Apakah perlu rutin dilakukan USG 4 Dimensi (4D)?

USG 4D memiliki indikasi tertentu, yaitu menilai apakah ada kelainan pada permukaan tubuh bayi seperti kelainan pada wajah, kelainan pada rangka dan tengkorak. USG 4D tidak dapat menilai kondisi di dalam tubuh bayi. Oleh sebab itu USG 4D tidak perlu rutin dikerjakan.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber:
American College of Obstetrician and Gynecologists. FAQ – Ultrasound Exams.
Royal College of Obstetrician and Gynecologists. Antenatal Care.

Peran Kalsium untuk Hipertensi dalam Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hipertensi dalam kehamilan (pregnancy-induced hypertension, PIH) adalah meningkatnya tekanan darah (sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg) yang terjadi dalam masa kehamilan. Hipertensi yang terjadi selama kehamilan ini dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Hipertensi kronis: mereka yang memiliki tekanan darah tinggi (di atas 140/90 mmHg) sebelum kehamilan hingga awal hamil (sebelum usia kehamilan 20 minggu), atau hipertensi yang menetap hingga setelah melahirkan.
  • Hipertensi Gestasional: hipertensi yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dan hilang setelah ibu melahirkan,
  • Preeklampsia: Baik hipertensi kronis maupun hipertensi gestasional dapat berlanjut menjadi kondisi ini setelah usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala yang termasuk adalah hipertensi yang disertai adanya protein dalam urin ibu dan juga edema (pembengkakan) pada kedua kaki. Jika tidak ditangani dengan serius, pre-eklampsia ini dapat berlanjut menjadi eklampsia, dengan gejala yang mengancam nyawa seperti kejang hingga koma.

Terdapat ± 10% ibu hamil yang mengalami hipertensi gestasional selama kehamilannya, dan hipertensi gestasional ini harus diperhatikan dengan serius karena meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bagi ibu maupun bayi setelah lahir. Hipertensi dapat menyebabkan plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup, sehingga bayi dalam kandungan tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang cukup, sehingga dapat terjadi kelahiran prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Beberapa penelitian menemukan hubungan bahwa asupan kalsium dapat menyebabkan, mencegah, dan digunakan sebagai pengobatan untuk hipertensi. Contohnya, program diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) yang memberikan diet berisi 8-10 sajian sayuran dan buah-buahan dan hampir 3 sajian produk susu rendah lemak berhasil menurunkan tekanan darah sistolik hingga 5,5 mmHg dan diastolik 3,0 mmHg; jika dibandingkan dengan diet biasa yang rendah konsumsi sayuran, buah-buahan dan produk susunya. Efek suplementasi kalsium ini nampaknya paling relevan pada orang-orang yang sensitive terhadap garam natrium, mereka yang tidak tercukupi kebutuhan kalsiumnya, dan ibu hamil yang mengalami hipertensi gestasional.

Normalnya, dalam setiap kehamilan, terjadi penurunan tekanan darah dan secara perlahan kembali meningkat hingga akhir masa kehamilan. Dalam kehamilan, kalsium dibutuhkan untuk mineralisasi tulang janin. Oleh karena itu, kebutuhan kalsium ibu hamil meningkat sekitar 300 mg/hari. Bertambahnya volume darah pada ibu hamil dan bertambahnya ekskresi kalsium di urin juga menyebabkan peningkatan kebutuhan kalsium pada ibu hamil.

Siapa sajakah yang berisiko mengalami hipertensi gestasional?

  • ibu yang hamil pertama kalinya
  • riwayat keluarga (ibu atau saudara yang mengalami hipertensi gestasional)
  • kehamilan kembar
  • perempuan <20 th dan >40 th
  • obesitas
  • diabetes
  • konsumsi bahan makanan sumber kalsium yang rendah

Bagaimana cara mengetahui hipertensi gestasional?

Tekanan darah normal adalah 119/79 mmHg atau dibawahnya. Seorang yang mengalami tekanan darah tinggi ini pada umumnya tidak akan terlalu menunjukkan tanda atau gejala, sehingga pemeriksaan tekanan darah pada setiap kunjungan pemeriksaan harus dilakukan karena terkadang hipertensi dapat ditemukan pada seseorang tanpa tanda atau gejala apapun. Selain memeriksakan tumbuh-kembang janin dan aliran darah ke plasenta dalam kondisi yang baik, pastikan untuk memeriksa tekanan darah pada setiap pemeriksaan kehamilan, dan tanyakan pada dokter spesialis kandungan apakah pemeriksaan urin, fungsi ginjal dan fungsi pembekuan darah dibutuhkan untuk diperiksa.

Bagaimana cara untuk menghindari hipertensi gestasional?

Saat ini, belum ada cara yang pasti untuk menghindari hipertensi. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat dikontrol untuk mencegah hipertensi gestasional:

  • tidak menggunakan garam secara berlebihan
  • lebih banyak menggunakan bumbu/bahan bumbu masakan natural tanpa pengawet
  • menghindari makanan kemasan tinggi garam/penyedap monosodium glutamat (MSG), contoh: bumbu mi instan, keripik kentang dan keripik singkong kemasan, daging yang diawetkan (sosis, kornet, sarden, dll)
  • membaca label makanan, pilih makanan dengan kadar natrium rendah
  • minum air putih sedikitnya 8 gelas sehari
  • menurunkan berat badan (lingkar perut pria <90 cm, lingkar perut wanita <80 cm) (setiap penurunan 1 kg BB akan menurunkan ± 1 mmHg)
  • kurangi asupan makanan berminyak yang digoreng dan junkfood.
  • makan makanan yang sehat (membuat jurnal makanan: mencatat apa saja yang kita makan, berapa banyak, kapan dan mengapa; banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan tinggi kalium)
  • beristirahat dengan cukup
  • berolahraga secara teratur (150 menit/minggu atau 30 menit setiap hari) dapat menurunkan 5-8 mmHg
  • menaikkan posisi kaki beberapa kali sepanjang hari
  • berhenti merokok dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko penyakit jantung, dan meningkatkan kesehatan
  • hindari konsumsi alkohol
  • hindari konsumsi minuman yang mengandung kafein berlebihan (kopi, teh, coklat). Kafein dapat menaikkan tekanan darah hingga 10 mmHg
  • pada beberapa kondisi, dokter mungkin akan memberikan suplemen dan/atau obat.

Beberapa contoh makanan tinggi kalsium:

  • 1 gelas susu (276 mg)
  • 1 cup almond (367 mg)
  • 100 g tahu goreng (372 mg)
  • 1 cup bok choy (158 mg)
  • 1 gelas jus jeruk (72 mg)
  • 1 cup broccoli (74 mg)

Bagaimana dengan suplemen? Apakah suplementasi kalsium diperlukan?

Tidak semua orang membutuhkan suplementasi kalsium. Suplementasi kalsium dibutuhkan hanya pada ibu hamil yang tidak cukup mengonsumsi kalsium (<1000 mg) dari makanannya sehari-hari. Kebutuhan seorang ibu hamil adalah 1.200 – 1.400 mg kalsium per hari, dan disarankan tidak mengonsumsi kalsium >2.500 mg/hari. Konsumsi kalsium yang berlebihan dapat menyebabkan batu ginjal, juga mengganggu penyerapan seng (zinc) dan zat besi.

Untuk menentukan apakah seorang ibu hamil membutuhkan suplementasi, dapat dilakukan pemeriksaan kadar kalsium ion. Bila memang diperlukan, dokter akan memberikan suplementasi kalsium dan mungkin diberikan bersama dengan vitamin D, yang dapat membantu penyerapan kalsium.

Pentingnya Tes Toleransi Glukosa Oral pada Ibu Hamil

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Keluarga Kejora! Tahukah Anda bahwa ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO)? Apa tujuan dan makna dari pemeriksaan tersebut? Apakah TTGO perlu dijalani oleh semua ibu hamil? Yuk, kita simak pembahasan lebih lanjut tentang pemeriksaan ini.

Tes toleransi glukosa oral (TTGO) merupakan suatu pemeriksaan untuk mengetahui respons tubuh terhadap pemberian glukosa (gula sederhana). TTGO pada ibu hamil dilakukan sebagai penapisan (skrining) diabetes gestasional, yakni suatu jenis diabetes yang pertama kali ditemukan pada saat hamil.

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada usia kehamilan 24-28 minggu pada semua ibu hamil. Namun, pada ibu hamil dengan faktor risiko menderita diabetes gestasional, penapisan diabetes gestasional dapat dilakukan lebih awal atau sesuai petunjuk dokter yang merawat. Faktor risiko yang dimaksud antara lain:

  • obesitas
  • riwayat diabetes gestasional di kehamilan sebelumnya
  • riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir >4000 g
  • riwayat keluarga dengan diabetes

Penapisan diabetes gestasional perlu dilakukan karena adanya risiko kesehatan terhadap ibu dan risiko kesehatan terhadap bayi dalam kandungan. Risiko kesehatan terhadap ibu mencakup kemungkinan bayi dengan berat lahir besar yang akan mempengaruhi cara persalinan, perlunya induksi persalinan, atau persalinan dengan operasi Caesar. Beberapa risiko kesehatan bayi yang dapat terjadi adalah cedera saat proses persalinan, dilahirkan prematur, dan mengalami hipoglikemia (gula darah rendah) setelah dilahirkan.

Sebelum pemeriksaan tes toleransi glukosa oral dilakukan, Ibu akan diminta untuk puasa 8-12 jam. Kemudian, Ibu akan meminum air gula yang berisi 75 gram glukosa dalam 200 ml air yang diberikan pemeriksa. Selanjutnya, pemeriksa akan mengambil sampel darah melalui pembuluh darah vena (bukan melalui penusukan di ujung jari) setelah 1 dan 2 jam pemberian air gula.

Ibu mungkin didiagnosis dengan diabetes gestasional jika salah satu kondisi berikut ini ditemukan:

  • Gula darah puasa ≥ 92 mg/dL
  • Gula darah setelah 1 jam pemberian 75 g glukosa ≥ 180 mg/dL
  • Gula darah setelah 2 jam pemberian 75 g glukosa ≥ 153 mg/dL

Jika Ibu didiagnosis dengan diabetes gestasional, maka dokter yang merawat akan merencanakan tata laksana yang dapat melibatkan dokter spesialis kebidanan, penyakit dalam, gizi klinik, dan spesialis anak. Tujuan dari pengobatan multidisiplin tersebut adalah untuk mempertahankan gula darah puasa < 95 mg/dL dan gula darah 2 jam setelah makan <120 mg/dL serta mengantisipasi segala hal yang perlu dipersiapkan untuk mengoptimalkan proses kehamilan. Selain itu, pada Ibu yang terdiagnosis dengan diabetes gestasional, pemantauan gula darah perlu dilakukan hingga 6-12 minggu setelah persalinan dan setiap 3 tahun selama seumur hidup. Hal tersebut bermanfaat untuk menilai kemungkinan perkembangan kondisi menjadi diabetes melitus tipe 2.

Jadi, pemeriksaan TTGO pada wanita hamil sangat penting dilakukan. Konsultasikan selalu hasil pemeriksaan dan riwayat kesehatan Ibu dengan dokter yang merawat. Dengan demikian, penapisan diabetes gestasional dapat dilakukan dengan akurat dan memiliki makna dalam menilai risiko penyakit diabetes pada kehamilan. Semoga informasi ini bermanfaat.

Salam sehat Kejora!

Sumber:

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. 2013.
NICE Guidelines. Gestational diabetes: risk assessment, testing, diagnosis and management. 2019. 
American Diabetes Association. 2. Classification and diagnosis of diabetes: Standards of Medical Care in Diabetes. 2018. Diabetes Care 2018;41(Suppl. 1):S13–S27

Imunisasi dalam Kehamilan dan Masa Menyusui

 

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Halo Keluarga Kejora! Anda tentu pernah mendengar istilah imunisasi. Namun, tahukah Anda bahwa selain diberikan kepada bayi dan anak-anak, imunisasi juga ada yang perlu diberikan kepada orang dewasa? Lalu, apakah seorang ibu hamil boleh atau perlu mendapat imunisasi? Bagaimana dengan pemberian imunisasi pada ibu menyusui? Mari kita simak jawabannya di pembahasan mengenai imunisasi dalam kehamilan dan masa menyusui berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan imunisasi?

Imunisasi adalah suatu cara dimana seseorang dibuat kebal terhadap sebuah penyakit infeksi yang umumnya dilakukan dengan pemberian vaksin. Vaksin ini akan memicu tubuh seseorang untuk membuat sistem kekebalan sehingga orang tersebut memiliki perlindungan terhadap penyakit infeksi tersebut.

Apakah vaksinasi boleh diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui? Vaksin apa saja yang boleh diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui?

Secara umum, vaksin ada dua jenis yaitu vaksin hidup (termasuk vaksin hidup yang dilemahkan) dan tidak hidup. Pada kehamilan, jenis vaksin hidup tidak boleh diberikan karena memiliki risiko infeksi ke janin. Meskipun hingga saat ini tak ada laporan kecacatan dari vaksin hidup yang ada. Jenis vaksin virus dan bakteri yang tidak aktif serta toxoid dapat diberikan pada kehamilan. Untuk ibu menyusui vaksinasi dapat diberikan jika terdapat indikasi pemberiannya, kecuali vaksin Herpes Zoster dan typhoid oral.

Berikut ditampilkan berbagai jenis vaksin dan penggunaannya baik pada kehamilan dan masa menyusui.

Sumber: Diadaptasi dari Castillo, E, Poliquin, V. (2018). No. 357-Immunization in Pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada40(4), 478-489.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa banyak vaksin yang perlu diberikan pada kehamilan dengan kondisi tertentu (seperti berisiko tinggi mengalami infeksi tertentu, bepergian ke daerah endemik). Oleh karena itu, sebaiknya wanita hamil selalu konsultasikan mengenai rencana perjalanan dan riwayat kesehatan kepada dokter kandungan atau bidan yang merawat agar terhindar dari infeksi selama kehamilan.

Salam sehat Kejora!

Editor: dr. Sunita

Sumber:

www.who.int/topics/immunization/en/

Castillo, E, Poliquin, V. (2018). No. 357-Immunization in Pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada40(4), 478-489.

Mual Muntah saat Kehamilan

 

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai, Ibu sehat Kejora!

Pernahkah Ibu mendengar tentang morning sickness atau mual muntah selama kehamilan?

Yuk, kita simak tanya jawab dengan dr. Nessa Wulandari, MGizi, SpGK yang akan menjabarkan mengenai mual muntah selama kehamilan!

Dok, apa itu morning sickness atau mual muntah selama hamil?

“Mual muntah selama kehamilan (nausea vomiting of pregnancy/NVP) biasanya terjadi antara minggu keempat dan ke-8 kehamilan, kemudian berkurang pada pertengahan trimester kedua (sekitar minggu ke-14 hingga 16) kehamilan.

Jenis NVP yang berat disebut dengan hiperemesis gravidarum (HEG), yaitu mual muntah yang berlebihan. HEG dapat menyebabkan penurunan berat badan, juga ketidakseimbangan ion (elektrolit) dalam tubuh.”

Kenapa sih bisa mual dan muntah saat ibu hamil, Dok?

“NVP atau HEG terutama terjadi akibat peningkatan hormon kehamilan yang dinamakan human chorionic gonadotropin (hCG), juga progesteron. Namun, faktor-faktor lain dapat memengaruhi terjadinya NVP misalnya kontaminasi bakteri berbahaya dalam makanan/minuman, infeksi, ataupun faktor psikologis.”

Jadi, ada juga mual dan muntah berat, ya, Dok. Kalau mengalami mual dan muntah berat, apa yang harus dilakukan ibu hamil?

“Ibu sehat Kejora, apabila mengalami mual dan muntah berat sehingga mengurangi asupan makanan, segeralah berkonsultasi dengan dokter kandungan ya! Hati-hati juga dalam mengonsumsi obat anti mual/muntah tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.”

Tips dan trik apa saja yang bisa dilakukan ibu hamil untuk mengatasi mual dan muntah ringan dari segi nutrisi, Dok?

“Berikut kiat-kiat mengatasi mual dan muntah ringan saat kehamilan dari segi nutrisi:

  • Makan porsi kecil namun sering
  • Selingan atau snack tinggi protein contoh keju atau daging tanpa lemak (lean meat)
  • Hindari makanan porsi besar, sangat manis, pedas, atau tinggi lemak, bila tidak dapat ditoleransi.
  • Hindari makanan dengan aroma atau bumbu yang menyengat
  • Hindari langsung berbaring setelah makan
  • Hindariskipping meals
  • Saat mual muntah, jangan paksa untuk makan. Sementara itu, dapat mengemut es batu, setelah mual muntah mereda dapat mencoba makan makanan porsi kecil
  • Usahakan makan di tempat dengan sirkulasi udara lancar, bebas dari bau-bauan
  • Makan dan minum secara perlahan, tidak terburu-buru. Beri jeda antara makan dan minum (dibandingkan dengan minum saat sedang makan)
  • Hindari dehidrasi dengan tetap sering minum, di sela-sela jam makan
  • Jahe (jahe dapat memberikan manfaat dalam mengurangi keluhan mual dan muntah. Dapat berupa: memasak makanan dengan bumbu jahe, meminum minuman jahe, atau biskuit jahe).”

Terima kasih dr. Nessaatas penjelasannya mengenai mual dan muntah saat kehamilan. Jadi, Ibu Sehat Kejora tidak perlu khawatir ya bila mengalami mual dan muntah karena dapat mengikuti tips dan trik yang sudah dijelaskan oleh dr. Nessa.

Editor: Rizki Amalia

Sumber:

  1. American College of Obstetricians & Gynecologists (ACOG)
  2. Nutrition and Diagnosis-related Care (Escott-Stump)

 

Nutrisi Prakonsepsi

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai, Keluarga Sehat Kejora! Kali ini, kita akan membahas mengenai Nutrisi Prakonsepsi, atau nutrisi yang kita konsumsi sebelum terjadinya proses pembuahan (konsepsi). Tahukah Ayah dan Ibu bahwa makanan yang Ayah dan Ibu konsumsi dapat memengaruhi kesuburan? Ya, ternyata makanan yang Ayah dan Ibu konsumsi dapat memengaruhi bukan hanya lingkungan sel telur dan sperma terbentuk, namun juga kadar hormon yang terlibat dalam proses reproduksi, lho!

Mari kita simak sesi tanya jawab mengenai Nutrisi Prakonsepsi dengan dr. Arti Indira, MGizi, SpGK yaa..

Dok, saya pernah mendengar kalau status gizi tertentu dapat memengaruhi gangguan fertilitas. Benarkah demikian?

“Betul sekali. Seorang calon ibu yang mengalami obesitas akan menghasilkan beberapa jenis hormon (estrogen, leptin, dan androgen) yang lebih banyak. hormon-hormon ini dapat mengganggu siklus haid dan juga memengaruhi fertilitas. Sebaliknya, seorang calon ibu yang kekurangan gizi kronis juga bisa melahirkan bayi yang kecil dengan risiko kematian yang tinggi selama 1 tahun pertama kehidupan sang bayi. Seorang calon ibu yang mengalami gizi akut, misalnya pada situasi kelaparan/bencana/peperangan, dapat mengalami gangguan fertilitas, namun hal ini dapat teratasi ketika asupan sang calon ibu diperbaiki.”

Oh begitu dok.. jadi sebaiknya seorang calon Ibu betul-betul menjaga status gizinya sebelum hamil ya Dok… Nah, selain status gizi, apakah ada bahan makanan atau cara diet tertentu yang mengganggu kesuburan seseorang, Dok?

“Ya, ada. Seorang calon ibu sebaiknya memperhatikan konsumsi kafeinnya.. Asupan kafein sebanyak 300 mg sehari dapat menurunkan konsepsi (proses bersatunya sel telur dengan sperma) hingga 27%, sedangkan jika kafein ini dikonsumsi hingga 500 mg/hari, maka kemungkinan terjadinya konsepsi bisa berkurang hingga 50%.”

“Selain kafein, alkohol juga dapat menurunkan kadar estrogen dan testosterone, bahkan mengganggu siklus menstruasi. Asupan alkoholo 1-5 gelas per hari menurunkan konsepsi 39%, asupan alcohol > 10 gelas per hari menurunkan konsepsi hingga 66%.”

“Beberapa diet seperti diet vegetarian, diet dengan asupan lemak rendah dan asupan serat terlalu tinggi juga terbukti dapat memengaruhi hormon reproduksi.”

Oh begitu dok… Wah saya jadi terpikir, selain makanan atau status gizi apakah ada jenis olahraga yang dapat mengganggu kesuburan seorang calon Ibu?

“Pertanyaan yang bagus. Seorang calon Ibu yang melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dapat mengalami gangguan hormonal ataupun metabolik. Hal ini dapat terlihat dari pubertas yang terlambat maupun siklus menstruasi yang kacau. Massa lemak tubuh yang terlalu rendah juga berkaitan dengan penurunan densitas tulang, sehingga sang calon Ibu rentan mengalami patah tulang atau osteoporosis.”

Jadi ternyata makanan dan kegiatan yang kita lakukan sangat berperan untuk mendukung terjadinya konsepsi ya dok…

“Iya, benar sekali..”

Berapa lama sebelum hamilkah sebaiknya Ayah dan Ibu Kejora menjaga nutrisi ini Dok?

“Rekomendasi nutrisi yang disarankan untuk prakonsepsi adalah 3-6 bulan sebelum terjadinya konsepsi. Sebaiknya calon ayah dan ibu melakukan diet gizi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing, dengan target berat badan yang sesuai dengan indeks massa tubuh (IMT) yang normal. Jangan lupa perhatikan dan kurangi konsumsi kafein dan alkohol ya…”

Baik dok.. Dokter Arti, untuk pertanyaan terakhir, apakah ada vitamin yang harus diminum untuk menyiapkan kehamilan ini dok?

“Nah ini dia pertanyaan yang saya tunggu-tunggu. Walaupun dibutuhkan dalam jumlah yang kecil (dalam satuan microgram hingga milligram), seorang calon Ibu harus memastikan kecukupan asupan asam folat, kalsium, dan zat besi.

  • Asam folat sebanyak 400 mcg per hari, dapat mengurangi risiko cacat pada janin seperti spina bifida. Asam folat secara alami terutama terdapat dalam sayuran daun hijau gelap (contohnya bayam), buah sitrus, kacang-kacangan, legume, whole grains dan roti atau sereal fortifikasi. Apabila tidak dapat memenuhi asupan asam folat secara alami, dapat diberikan suplementasi.
  • Kalsium dalam jumlah 1000 mg dapat diperoleh dari 3 gelas @250 ml susu skim. Selain itu kalsium juga mudah didapatkan dari bahan makanan seperti yogurt rendah lemak, salmon, sardin, nasi, dan keju.
  • Zat besi juga disarankan untuk diberikan karena angka kejadian anemia di Indonesia yang cukup tinggi. Suplementasi zat besi 30-60 mg disarankan diberikan bersama dengan asam folat. Secara alami, zat besi dapat diperoleh dari sumber hewani (heme iron) seperti daging, hati ayam, ayam, dan ikan ataupun sumber nabati (non-heme iron) seperti sayuran hijau tua. Asupan bahan makanan zat besi tersebut sebaiknya dikonsumsi bersama dengan vitamin C (jeruk, kiwi, tomat, dll) sehingga akan meningkatkan penyerapan zat besi.

Wah baiklah dok, terima kasih banyak atas informasinya ya… Sangat bermanfaat sekali untuk calon Ayah dan Ibu Kejora yang berencana untuk menambah momongan.. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan ya dok…

Sama-sama, terima kasih kembali…

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Apakah Perlu Melakukan Skrining Prakonsepsi (Penapisan Sebelum Kehamilan)?

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Sahabat Kejora, bila Anda berencana untuk memiliki momongan, apakah perlu melakukan pemeriksaan skrining prakonsepsi (penapisan sebelum kehamilan)?

Sebelumnya, apa yang dimaksud dengan skrining prakonsepsi?

Skrining prakonsepsi adalah sebuah cara yang dilakukan untuk mengetahui risiko medis, perilaku, dan kondisi sosial kesehatan seorang perempuan atau luaran kehamilan melalui cara-cara tertentu secara medis.

Ada beberapa tujuan dari skrining prakonsepsi itu sendiri, antara lain:

  1. agar pasangan memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik terkait kesehatan sebelum kehamilan,
  2. agar calon ibu memasuki kehamilan dalam kondisi kesehatan yang optimal, dan
  3. untuk menurunkan risiko kehamilan yang tidak diharapkan dari riwayat kehamilan sebelumnya dengan melakukan persiapan sebelum kehamilan.

Konseling prakonsepsi ini sebaiknya dilakukan dengan melibatkan beberapa ahli terkait seperti dokter spesialis kandungan, penyakit dalam, dan dokter anak untuk mengetahui riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat medis, riwayat penyakit genetik, risiko penggunaan zat berbahaya, serta permasalahan status gizi.

Apa saja kondisi yang perlu diperhatikan bagi perempuan yang berencana hamil?

Ada banyak kondisi yang memerlukan perhatian khusus bila seorang perempuan berencana hamil. Secara umum, calon wanita hamil dikatakan berisiko tinggi jika terdapat paling tidak satu dari beberapa kondisi di bawah ini:

  • Usia ibu kurang dari 20 atau lebih dari 35 tahun
  • Riwayat kehamilan sebelumnya:
    • keguguran berulang
    • kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim)
    • riwayat operasi sesar
    • preeklampsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan)
    • persalinan preterm (kurang bulan)
    • perdarahan sebelum atau sesudah persalinan
    • riwayat janin dengan defek tabung neural (neural tube defect)
  • Menderita atau memiliki riwayat medis:
    • Hipertensi kronik (tekanan darah tinggi yang sudah menahun)
    • Diabetes mellitus (penyakit gula)
    • Epilepsi
    • Penyakit jantung dan pembuluh darah
    • Asma
    • Trombofilia (gangguan pembekuan darah)
    • Penyakit ginjal
    • Hepatitis B atau C
    • Anemia
    • Penyakit tiroid
    • Penyakit jaringan ikat, seperti rheumatoid arthritis, lupus
    • Masalah psikiatri atau kejiwaan
    • Kanker
    • Penyakit infeksi
    • Penyakit menular seksual
  • Memiliki riwayat penyakit genetik:
    • thalassemia, fenilketonuria, dan lainnya
  • Penggunaan zat berbahaya:
    • narkotika, rokok, dan alkohol
  • Status gizi:
    • Status gizi kurang (underweight)
    • Status gizi lebih (overweight atau obesitas)

Bila ada salah satu saja kondisi yang disebutkan di atas, maka sebaiknya Sahabat Kejora berkonsultasi dengan dokter mengenai skrining prakonsepsi agar memasuki kehamilan dengan kondisi yang optimal. Diharapkan dengan dilakukannya skrining prakonsepsi ini, maka luaran buruk saat kehamilan dapat diminimalisir atau bahkan dapat dihindari.

Editor: dr. Sunita

Sumber:
Chapter 8 Preconceptional Care. Cunningham FG, et al, editors. Williams Obstetrics 25th Edition. 2018. New York: McGraw-Hill. p:146-56.,/p>