Sakit Kepala Saat Hamil, Kira-Kira Kenapa Ya?

oleh dr. Felix Adrian, Bmed.Sc, Sp.N

Dokter Spesialis Neurologi

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Keluhan sakit kepala pada saat kehamilan merupakan keluhan yang sering ditemukan dalam praktek sehari-hari. Mayoritas keluhan nyeri kepala pada kehamilan merupakan nyeri kepala primer (migrain dan sakit kepala tipe tegang). Sedangkan sebagian kecil bisa disebabkan oleh sakit kepala yang lebih serius/berbahaya, seperti pre-eklampsia, tumor, infeksi otak, stroke dan gangguan pada kekentalan darah.

Pada nyeri kepala tipe migrain, sekitar 50-80% justru akan membaik, terutama pada trimester ke-2 dan 3 kehamilan. Hal ini berhubungan dengan peningkatan kadar hormon progesteron pada trimester ke-2 dan 3. Perbaikan migrain pada kehamilan ini terjadi terutama pada pasien migrain yang berhubungan dengan menstruasi. Pengobatan migrain pada kehamilan juga sebaiknya dikonsultasikan kepada ahlinya, karena pengobatan migrain pada kehamilan berbeda dengan migrain pada umumnya, sebab banyak obat yang kontraindikasi pada kehamilan. Obat pencegahan migrain wajib dipertimbangkan terutama bila Ibu Kejora merasa terapi serangan migrain kurang memberikan manfaat.

Sakit kepala tipe tegang juga sering terjadi pada kehamilan, hal ini terutama disebabkan oleh kakunya otot-otot pada leher yang diakibatkan oleh kurang istirahat maupun stress. Sakit kepala tipe tegang umumnya tidak dirasa terlalu berat sehingga Ibu Kejora masih dapat beraktivitas dan keluhan sakit kepala membaik dengan meminum obat nyeri sederhana dan juga dengan rajin melakukan olahraga.

Tips untuk keluarga kejora untuk mengetahui apakah sakit kepala yang dirasakan merupakan indikasi yang berbahaya atau tidak adalah dengan metode SNOPP, yaitu:

  • S- gejala Sistemik→ yang dimaksud dengan gejala sistemik adalah suatu sakit kepala yang disertai dengan gejala umum seperti demam, penurunan kesadaran, delirium, dan tensi darah tinggi.
  • N- gejala Neurologis→ adanya gejala suatu kelainan syaraf, gejala berupa kelemahan separuh tubuh, pandangan ganda, dan kejang.
  • O- Onset → Sakit kepala hebat yang muncul mendadak atau sakit kepala yang rasanya berbeda dengan tipe nyeri kepala sebelumnya dialami Ibu Kejora. Pada pasien dengan sakit kepala tipe migrain dan sakit kepala tipe tegang, biasanya sudah ada riwayat sakit kepala sebelumnya.
  • P- di-Perberat→ sakit kepala yang dirasakan semakin hebat bila Ibu Kejora batuk, bersin dan mengedan
  • P- Progresi→ sakit kepala yang dirasakan semakin lama semakin hebat. Sakit kepala biasanya membaik dengan beristirahat atau meminum obat nyeri yang dijual bebas , tetapi semakin lama dirasakan semakin berat sehingga sudah tidak membaik dengan meminum obat.

Apabila ada keluhan sesuai dengan SNOPP, apa yang sebaiknya dilakukan Ibu Kejora? Sangat disarankan bila ada keluhan tersebut, segera konsultasikan ke dokter anda. Karena penting dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab dari keluhan sakit kepala tersebut.

Editor : drg. Rizki Amalia (@rizkiamalia234)

 

Referensi:

  1. Flemming, Kelly, and Lyell Jones, eds. 2015. Mayo Clinic Neurology Board Review. New York, USA: Oxford University Press.
  2. Klein, Autumn, Christina Scifres, and Janet F. Waters, eds. 2016. Neurological ilness in Pregnancy Principle and practice. 1st ed. London, UK: John Wiley & Sons, Ltd.
  3. Marsh, Michael, and Peter Brex, eds. 2012. Neurology and Pregnancy Clinical Management. 1st ed. London, UK: informa Healthcare.
  4. PERDOSSI. 2018. Diagnosis dan penatalaksanaan Nyeri Kepala. Edited by Made O. Adnyana and Hasan Sjahrir. 5ed ed. Jakarta, Indonesia: POKDI Nyeri Kepala.

Mengenal Keguguran

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Halo, Keluarga Kejora! Pembahasan kali ini temanya spesial untuk para Ibu, namun informasinya juga tidak kalah penting untuk para Ayah agar dapat menambah wawasan tentang kondisi yang mungkin terjadi pada pasangan saat hamil.

Pada awal kehamilan, ada berbagai macam keadaan patologis (tidak wajar) yang dapat terjadi, salah satunya adalah keguguran. Kondisi ini terjadi pada trimester pertama kehamilan dimana janin lahir jauh sebelum waktunya ia mampu bertahan hidup (viable). Keguguran disebut juga sebagai early pregnancy loss atau kematian mudigah, sedangkan dalam kedokteran disebut sebagai abortus. Menurut the National Center for Health Statistic, the Centers for Diasease Control and Prevention, dan World Health Organization, abortus adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau jika janin yang dilahirkan memiliki berat kurang dari 500 gram.

Abortus pun terbagi lagi menjadi abortus spontan, medicinalis, dan provokatus. Pada abortus spontan, keguguran terjadi secara sendirinya, sedangkan abortus medicinalis terjadi karena dipicu oleh pemakaian obat dengan indikasi medis seperti bila terjadi kematian mudigah (janin). Abortus juga dapat dilakukan dengan sengaja tanpa adanya indikasi medis dan bersifat illegal, yang disebut sebagai abortus provokatus.

Secara statistik, 55% abortus spontan yang terjadi pada usia kehamilan < 12 minggu disebabkan oleh adanya kelainan kromosom pada janin seperti autosomal trisomy atau monosomy X. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keguguran antara lain:

  1. Diabetes mellitus pada Ibu
  2. Hipotiroid pada Ibu
  3. Merokok (yang juga dapat memicu kelainan kromosom pada janin)
  4. Konsumsi alkohol berlebihan, terutama pada 8 minggu pertama kehamilan
  5. Konsumsi kafein berlebihan (rata-rata > 5 gelas/hari)
  6. Kelainan anatomis pada Ibu, seperti adanya mioma yang mengganggu proses implantasi (penanaman janin ke dinding rahim), kelainan rahim bawaan, dll.

Berdasarkan proses kejadiannya, abortus spontan dapat terbagi lagi menjadi:

  1. Abortus iminens

Dikenal sebagai ancaman keguguran. Pada kondisi ini Ibu mengeluhkan seperti adanya kontraksi atau kram perut bagian bawah atau timbulnya flek-flek dari jalan lahir. Namun, pada pemeriksaan dalam tidak terdapat pembukaan mulut rahim dan pemeriksaan ultrasonografi janin tetap dalam kondisi baik (denyut jantung dan gerak janin aktif). Pada kondisi seperti ini, para calon Ibu akan disarankan untuk tirah baring total (bedrest) disertai dengan pemberian obat untuk mengurangi kontraksi sambil dokter terus mencari tahu penyebab kontraksi.

  1. Abortus insipiens

Ialah suatu keadaan dimana keguguran sedang terjadi. Pada kondisi ini, janin sedang dalam proses pengeluaran, yang menyebabkan Ibu merasa mulas (kontraksi) yang hebat. Pada pemeriksaan dalam, tampak adanya pembukaan mulut rahim dan perdarahan yang terus menerus dari jalan lahir. Pada awal kondisi ini janin mungkin masih memiliki detak jantung, namun dikarenakan ini adalah suatu aborsi yang tidak terhindar, maka seiring berjalannya proses maka janin akan meninggal.

  1. Abortus inkomplit

Keadaan ini adalah lanjutan dari abortus insipiens, dimana hasil konsepsi (janin, kantong kehamilan, dan plasenta) sudah keluar namun terdapat bagian lainnya yang masih melekat pada dinding rahim. Tanda-tandanya ialah berkurangnya kontraksi, terbukanya serviks, dan adanya perdarahan dari rahim. Penanganannya bisa dengan pemberian obat atau dengan tindakan kuretase.

  1. Abortus komplit

Pada kondisi ini, seluruh hasil konsepsi telah keluar secara sempurna dari rahim. Ditandai dengan hilangnya rasa mulas/kontraksi, mulut rahim telah menutup, dan tidak ada perdarahan.

Selain abortus, apakah Ibu dan Ayah pernah mendengar istilah-istilah ini?

  • Blighted ovum atau unembryonic pregnancy

Yaitu suatu keadaan kehamilan dimana kantong kehamilan telah terbentuk dengan baik namun tidak ditemukan janin di dalamnya.

  • Missed abortion

Yaitu suatu keadaan dimana janin telah meninggal lama dan tertahan di dalam rahim.

Penanganan abortus

Teknik untuk mengeluarkan janin/konsepsi dari dalam rahim dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

  1. Pemakaian obat-obatan

Cara ini digunakan untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim sehingga hasil konsepsi atau sisa konsepsi dapat keluar. Risiko atau komplikasi dari tindakan ini ialah terjadinya abortus inkomplit.

  1. Tindakan kuretase

Tindakan ini adalah cara lain untuk membersihkan hasil konsepsi dalam rahim dengan menggunakan alat-alat kedokteran dan dilakukan oleh dokter spesialis kandungan. Pada serviks (mulut rahim) yang belum terbuka, pasien akan dirangsang menggunakan laminaria atau diberikan obat-obatan yang membantu pembukaan serviks sehingga kuretase dapat dilakukan. Risiko atau komplikasi dari tindakan ini ialah dapat terjadinya perforasi rahim.

Tindakan abortus yang ilegal atau yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab , seperti membeli obat secara bebas atau menggunakan alat tertentu untuk memaksa pembukaan serviks, dapat menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dan abortus septik yang dapat mengakibatkan kematian. Abortus septik ialah suatu kondisi terjadinya infeksi hebat pada rahim yang menyebar ke seluruh tubuh.

Kembalinya masa subur

Banyak sekali pasangan yang khawatiran mengenai kesuburannya setelah tindakan kuretase. Berapa lama bisa hamil kembali? Untuk menjadi perhatian, bahwa ovulasi dapat terjadi 14 hari setelah keguguran, sehingga kesuburan dapat segera kembali. Namun, jika Ibu belum berencana untuk hamil dalam waktu dekat pasca keguguran, maka pemilihan metode kontrasepsi perlu diperhatikan.

Ayah dan Ibu, penting sekali untuk kita menjaga kesehatan selama kehamilan. Hindari faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, dan bagi para Ayah, berikan dukungan yang penuh kepada pasangan agar ia dapat menjalani masa kehamilan dengan menyenangkan. Jangan lupa untuk periksakan kehamilan secara rutin dan kunjungi dokter bila ada hal yang mencurigakan.

Editor: dr. Nurul Larasati

Faktor yang Mempengaruhi Seorang Perempuan untuk Hamil

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Halo keluarga Kejora, tahukah kamu apa saja yang mempengaruhi seorang perempuan untuk bisa hamil?

Kehamilan umumnya terjadi secara alamiah dan merupakan harapan semua pasangan suami istri menunggu kelahiran si buah hati. Meski begitu, tidak semua perempuan dapat segera mengalami kehamilan. Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi:

  1. Faktor suami, yaitu adanya sperma yang memenuhi kriteria normal dan mampu membuahi sel telur (oosit).

Sumber: UNSW Embrology

  1. Kondisi mulut rahim (serviks) yang sehat, yang membantu jalannya sperma ke dalam rahim dan saluran indung telur.
  2. Adanya ovarium (indung telur) yang normal, yang mampu menghasilkan sel telur yang akan ditangkap ke dalam saluran indung telur.
  3. Saluran indung telur yang sehat, yang menangkap sel telur, membantu pergerakan sperma untuk dapat bertemu sel telur agar terjadi pembuahan dan membantu pergerakan hasil pembuahan (embrio) tersebut ke dalam rahim.
  4. Rahim yang sehat, yang akan menjadi tempat melekatnya bakal janin dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan normal selanjutnya.

Sumber: Anatomy-Medicine.com

Lalu, apa yang disebut masalah kesuburan dan kapankah dikatakan mengalami masalah kesuburan?

Sekitar 10-15% pasangan suami istri mengalami masalah kesuburan. Ada beberapa istilah medis terkait masalah kesuburan, yaitu infertilitas dan subfertilitas. Infertilitas secara umum merupakan kondisi di mana tidak terjadinya kehamilan selama satu tahun pada pasangan suami istri yang berhubungan seksual secara rutin tanpa adanya penggunaan kontrasepsi. Selain itu, beberapa klinisi lebih menyukai istilah subfertilitas yaitu kondisi perempuan atau pasangan yang tidak mandul tetapi mengalami kemampuan reproduksi yang rendah.

Sumber: Fritz MA, Speroff L, editors. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility 8th Edition.

Bila pasangan suami istri yang sudah satu tahun menikah dan tidak menunda untuk memiliki buah hati belum juga hamil, sebaiknya melakukan konsultasi lebih lanjut ke ahli terkait. Mengingat ada sejumlah pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk identifikasi masalah dari pasangan tersebut.

Editor: dr. Sunita22

Sumber:

Fritz MA, Speroff L, editors. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility 8th Edition. 2011. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. p:1137-90.

 

Mitos dan Fakta Nutrisi selama Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Keluarga Kejora, terutama para Ibu dan calon Ibu tentunya pernah mendengar saran dari keluarga dan teman mengenai nutrisi selama kehamilan bukan? Mungkin saran ini telah diteruskan turun-temurun selama beberapa generasi, atau mungkin Ibu dan calon Ibu Kejora baru saja mendengar saran baru dari seorang teman. “Selama hamil jangan makan nanas ya, nanti keguguran”, “Kalau kamu ngidam, harus diturutin loh… kalau nggak nanti anaknya ileran”, “Jangan makan pisang dempet, nanti bayinya kembar siam”, dan lain sebagainya.

Nah kali ini, Kejora akan membahas mengenai beberapa mitos dan fakta seputar nutrisi dalam kehamilan.

Bumil harus makan untuk dua orang

Secara teknis seorang ibu hamil memang makan untuk 2 orang, namun perlu diingat bahwa janin yang dihitung sebagai 1 orang masih berukuran sangat kecil. Selama bertumbuh dalam rahim Ibu, seorang janin hanya berukuran sebesar:

  • sebuah biji selasih (4 minggu) hingga sebuah jeruk nipis (13 minggu) selama trimester 1,
  • sebuah jeruk lemon (14 minggu) hingga sebongkah selada (27 minggu) selama trimester 2, dan
  • sebuah terong hingga sebuah semangka (28 – 42 minggu) selama trimester 3.

Karena ukuran janin yang jauh lebih mungil daripada Ibu, porsi makanan yang ditambahkan selama kehamilan tentunya tidak perlu sebanyak porsi untuk 2 orang dewasa. Ibu lebih baik memperhatikan kualitas makanan yang dimakan, bukan hanya kuantitas makanannya. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu merupakan bahan yang dipakai untuk pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil dalam Rahim. Pastikan kebutuhan nutrisi harian Ibu tercukupi dengan mengkonsumsi menu seimbang yang beragam.

Selama trimester dua dan tiga, Ibu hamil hanya memerlukan tambahan makanan sebanyak 300 kalori per hari. Seberapa banyak sih 300 kalori itu? Ibu dapat mencukupinya dengan mengkonsumsi sepotong ikan kukus berukuran sedang (240 kalori) dan satu buah jeruk ukuran sedang (60 kalori) atau sepotong roti sandwich telur (185 kalori) dengan segelas susu (125 kalori).