Mengapa Anak Harus Makan Protein Hewani?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah terpikir apakah protein hewani seperti ikan, ayam daging, makanan laut, dan telur dapat digantikan oleh protein nabati saja? Sebelum kita memutuskan hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini ya!

Dalam memenuhi kebutuhan protein pada anak, maka sebaiknya kita tidak hanya berpikir bagaimana mencukupi jumlahnya saja, tetapi lebih rinci lagi kita harus juga mempertimbangkan kualitas protein agar anak terhindar dari malnutrisi. Kualitas protein ini mencakup ketersediaan serta kemudahan dicernanya asam amino setelah makanan dikonsumsi, dicerna, hingga diserap oleh tubuh kita. Ingat ya Ibu dan Ayah, asam amino merupakan zat terkecil yang menyusun protein. Bisa kita andaikan bahwa protein seperti tembok rumah, dan asam amino merupakan batu bata serta semen yang menyusun protein tersebut.

Nah, bahan makanan sumber protein yang berasal dari nabati memiliki kualitas protein serta kemampuan cerna yang lebih rendah daripada protein hewani, serta mengandung lebih sedikit mineral seperti seng, zat besi, dan kalsium. Sebaliknya protein dari sumber hewani memiliki kualitas protein lebih baik serta mengandung vitamin B12, besi heme, vitamin A, seng, dan kalsium. Dalam suatu penelitian pada anak usia 12-36 bulan didapatkan bahwa konsumsi protein hewani berkaitan dengan peningkatan tinggi badan anak yang lebih baik sehingga berpotensi dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Selanjutnya apakah protein nabati menjadi tidak penting? Nah, protein nabati seperti misalnya tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, dan kedelai tentu saja tetap penting diberikan karena selain melengkapi kebutuhan protein, bahan makanan tersebut juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan anak serta mengandung berbagai fitonutrien yang berperan dalam pencegahan penyakit.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Kaimila Y, Divala O, Agapova SE, et.al. Consumption of Animal-Source Protein is Associated with Improved Height-for-Age Z scores in Rural Malawian Children Aged 12-36 Months, Nutrients 2019.
  2. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 2008.

Cegah Anemia, Cegah Stunting

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Tahukah Ayah dan Ibu bahwa ternyata 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia masih mengalami anemia? Lebih tepatnya 48.9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Salah satu penyebab anemia yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau yang sering disebut anemia defisiensi besi.

Zat besi merupakan salah satu unsur terpenting yang membentuk hemoglobin dalam sel darah merah yang akan membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat untuk dapat mencukupi kebutuhan pasokan oksigen yang diangkut oleh darah ke janin. Apabila hemoglobin tidak cukup, maka kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke janin akan menurun dan mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin. Kondisi ini dapat meningkatkan kejadian kelahiran prematur serta berat badan janin yang rendah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting. Oleh sebab itu, intervensi gizi spesifik pada ibu hamil menjadi salah satu sasaran prioritas dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024

Anemia tidak hanya disebabkan oleh kekurangan zat besi, namun dapat juga karena kekurangan zat gizi lain seperti asam folat dan vitamin B12. Tetapi, yang akan dibahas lebih lanjut mengenai kecukupan zat besi pada ibu hamil. Pada trimester 2 dan 3, ibu hamil membutuhkan tambahan 9 dan 13 mg zat besi dibandingkan dengan kebutuhan sebelum hamil. Biasanya dokter kandungan atau bidan akan memberikan suplementasi tambahan zat besi untuk ibu hamil.

Zat besi dalam bahan makanan terdapat dalam dua bentuk, yaitu besi heme dan besi non-heme. Besi heme terdapat dalam bahan makanan hewani, seperti daging sapi, ati ayam dan ati sapi, seafood, ikan, kerang, dan unggas. Sekitar 50 sampai 60% besi dalam daging sapi, ikan, dan unggas merupakan besi heme, dan sisanya merupakan besi non-heme. Sedangkan besi non-heme terutama terdapat pada bahan makanan nabati (kacang-kacangan, buah, sayur, biji-bijian, dan tahu), dan produk dairy (susu, keju, telur). Selain dari sumber alamiah tersebut, zat besi juga bisa didapatkan dari bahan makanan yang difortifikasi atau diperkaya seperti roti, pasta, dan sereal.

Besi heme lebih mudah diserap oleh saluran cerna dibandingkan dengan besi non-heme. Sedangkan untuk besi non-heme terdapat beberapa faktor yang dapat membantu penyerapannya (enhancer), seperti fruktosa (gula buah), asam askorbat (vitamin C), dan asam sitrat. Pahami pula bahwa penyerapan besi non-heme juga bisa dihambat oleh zat tanin yang ada pada teh dan kopi, oksalat pada bayam, cokelat dan teh, serta mineral lain seperti kalsium, zinc dan mangan. Bahkan minum kopi saat makan atau segera setelah makan dapat menurunkan penyerapan besi hingga 40% lho, Ayah dan Ibu!

Penyerapan besi non-heme (termasuk yang ada pada suplemen) membutuhkan kondisi yang asam pada lambung dan penyerapannya mudah dihambat oleh berbagai faktor, maka mengonsumsi suplemen besi sebaiknya dalam kondisi perut kosong dan tidak dikonsumsi bersama dengan suplemen lain. Selain itu saat makan, ada baiknya Ibu tidak mengonsumsi teh, minuman cokelat atau kopi agar penyerapan zat besi dapat optimal, dan gantilah dengan minuman tinggi vitamin C seperti jus buah ataupun buah potong!

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

  1. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
  2. Maternal Anemia and Pregnancy outcomes: a Systematic Review and Meta-analysis. Int J of Pediatrics 2016.
  3. The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) recommendation on adolscent, preconception, and maternal nutrition: “Think Nutrition First”. Int J of Gynecology and Obstetrics 2015.
  4. Essential Trace and Ultratrace Minerals. Advanced Nutrition and Human Metabolism, 6 edition. 2013.

 

 

Diet Bebas Gluten

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Saat ini kita sering sekali mendengar adanya makanan bebas gluten. Para influencer yang melakukan diet bebas gluten juga banyak yang memberikan testimonial bahwa tubuh menjadi terasa lebih sehat. Benarkah makanan bebas gluten itu lebih sehat? Apakah semua orang atau anak dapat mengikuti diet bebas gluten?

Apa itu gluten?

Gluten adalah protein yang ditemukan pada biji-bijian (grains) seperti gandum, rye, spelt dan barley. Protein utama pada gluten adalah glutenin dan gliadin. Gliadin inilah yang sering ditemukan pada masalah kesehatan.

Saat tepung terigu dicampurkan dengan air, protein gluten akan membentuk jaringan lengket dengan konsistensi seperti lem. Bentuk seperti lem tersebut yang membuat adonan elastis dan membuat roti mengembang ketika dipanggang dan juga enak dikunyah, memberikan tekstur empuk.

Bahan makanan bebas gluten yang berkembang dekade terakhir ini memiliki tingkat penjualan yang terus meroket. Penjualan makanan bebas gluten secara global diperkirakan mencapai $4,89 milyar pada tahun 2021, meningkat tajam dari $2,84 milyar pada tahun 2012. Peningkatan penjualan makanan bebas gluten ini terjadi bukan hanya karena banyaknya peningkatan konsumen yang memang membutuhkan diet bebas gluten, namun juga pada jumlah konsumen yang tidak membutuhkan diet bebas gluten, pembeli dengan alasan kesehatan, hingga trend yang juga meningkat.

Apakah semua orang dapat mengikuti diet bebas gluten?

Banyak sekali orang menerapkan diet bebas gluten untuk dirinya dan bahkan anaknya. Makanan bebas gluten memang aman untuk dimakan, tapi bukan berarti memiliki nilai kalori yang rendah. Banyak makanan dan snack bebas gluten memiliki kalori dan lemak yang tinggi. Selain itu, makanan ini seringkali juga tidak diperkaya dengan vitamin dan mineral. Sehingga, seseorang yang melakukan diet bebas gluten tanpa diawasi dokter gizi klinik tentunya akan meningkastkan risiko orang tersebut tidak mendapatkan beberapa zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Makanan bebas gluten seringkali rendah zat besi,kalsium, zinc, vitamin B12, folat dan juga serat.

Siapa saja yang membutuhkan diet bebas gluten?

Terdapat beberapa kondisi yang memerlukan diet bebas gluten yaitu:

  • Penyakit seliak (celiac disease)

Merupakan reaksi autoimun terhadap gluten. Diagnosis penyakit seliak dilakukan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan mulai dari riwayat medis, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan darah atau biopsi. Anak-anak biasanya terdiagnosis penyakit seliak usia 6 bulan–2 tahun pada saat mulai MPASI mencoba makanan yang mengandung gluten. Gejala penyakit seliak tersering adalah diare, penurunan selera makan, sakit perut dan kembung, pertumbuhan terganggu, dan berat badan turun. Terapi satu-satunya untuk penyakit seliak adalah diet bebas gluten secara ketat.

  • Alergi gandum

Orang dengan alergi gandum memiliki reaksi imun terhadap protein di dalam gandum. Reaksi terhadap gandum tersebut dapat terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi gandum. Reaksi yang dapat dialami antara lain: mual, nyeri perut, gatal, bengkak pada bibir dan lidah, sulit bernafas atau anafilaksis. Orang dengan alergi gandum tidak dapat makan bahan makanan dari gandum tapi masih bisa mengonsumsi gluten dari bahan makanan selain gandum. Anak-anak dengan alergi gandum dapat mengalami perbaikan setelah dewasa, tapi satu-satunya yang harus dilakukan adalah diet bebas gandum.

  • Non-celiac gluten sensitivity

NCGS bukan merupakan respon autoimun (seperti penyakit seliak) ataupun bukan respon imun (seperti alergi gandum). Saat ini belum terdapat tes untuk menegakkan diagnosis sensitivitas gluten, namun dapat dilakukan pemeriksaan biopsy dan tes alergi untuk menyingkirkan diagnosis penyakit seliak atau alergi gandum. Selain itu, jika gejala yang dialami anak mengalami perbaikan setelah menjalani diet bebas gluten seringkali diagnosis sensitivitas gluten ditegakkan.

Bahan Makanan yang mengandung gluten

  • Makanan berbasis gandum seperti dedak gandum, tepung terigu, spelt, durum, kamut dan semolina
  • Jelai / barley
  • Gandum hitam/ rye
  • Triticale
  • Malt
  • Ragi

Di bawah ini adalah beberapa makanan yang mengandung bahan-bahan yang mengandung gluten:

  • Semua roti berbasis gandum.
  • Semua pasta berbasis gandum.
  • Kecuali berlabel bebas gluten.
  • Makanan panggang. Kue, muffin, pizza, remah roti dan kue kering.
  • Makanan ringan. Permen, bar muesli, kerupuk, makanan siap saji, kacang panggang, keripik rasa dan popcorn, pretzel.
  • Kecap asin, saus teriyaki, saus hoisin, bumbu, saus salad.
  • Bir, minuman beralkohol rasa.
  • Makanan lainnya. Couscous, kaldu (kecuali berlabel bebas gluten).

Cara termudah untuk menghindari gluten adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung bahan tunggal. Jika tidak, kita harus membaca label makanan dari sebagian besar makanan yang dibeli.

Oat sebenarnya merupakan bahan makanan bebas gluten secara alami. Namun, seringkali terkontaminasi dengan gluten, karena mungkin diproses di pabrik yang sama dengan makanan berbasis gandum.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber

  1. Transparency Market Research. Gluten-free Food Products Market
    to reach US$4.89 bn by 2021; Driven by Rising Number of Celiac Disease Patients across the globe: TMR. 2017.
  2. Elliott C. The Nutritional Quality of Gluten-Free Pro- ducts for Children. 2018;142(2):e20180525

Mengenal Ultra-Processed Foods (UPF bagian I)

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo Keluarga Sehat Kejora! Kali ini, kita akan membahas mengenai ultra-processed foods(UPF). Melalui terjemahan bahasa yang sederhana, UPF adalah makanan yang diproses “ultra”. Arti dari “processed foods” atau makanan-yang-telah-melalui-pemrosesan sendiri adalah bahan makanan yang telah diubah dari bentuk alaminya. International Food Information Council menjelaskan arti pemrosesan (makanan) sebagai “perubahan bahan makanan dalam bentuk apapun sebelum makanan itu siap dimakan”.  Proses pemanasan, pasteurisasi, pengalengan, dan pengeringa nsemuanya dapat dikategorikan sebagai pemrosesan makanan. Jadi, selain memetik apel dari pohon dan langsung memakannya atau memerah susu sapi segar dan langsung meminumnya, sesungguhnya sebagian besar makanan yang kita konsumsi merupakan makanan pemrosesan (processed foods, PF). Nah, lalu apa sih perbedaan makanan proses (PF) dengan makanan proses ultra (UPF)?

 

NOVA adalah salah satu alat yang telah divalidasi oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dan Pan American Health Organization untuk penelitian gizi dan kesehatan masyarakat yang membagi klasifikasi makanan berdasarkan pemrosesan makanan. Penelitian dan publikasi mengenai NOVA telah dilakukan sejak tahun 2009 karena kesadaran terhadap tingginya (pandemi) angka kejadian penyakit tidak menular yang berhubungan dengan diet/makanan, khususnya mengenai pemrosesan makanan.

 

NOVA mengkategorikan makanan menjadi 4 grup:

1. “Unprocessed or minimally processed foods” yaitu makanan yang tidak melalui pemrosesan atau sedikit sekali mengalami pemrosesan. Bahan makanan alami ini dapat merupakan bagian dari tumbuhan (biji, daging buah, daun, tunas, akar) atau hewan (otot, telur, susu), dan juga jenis jamur, ganggang, dan air.

Makanan dalam grup ini dapat dikonsumsi setelah melalui proses sederhana seperti membuang bagian yang tidak diperlukan, mengeringkan, memecahkan, menggiling, memotong, memfilter, memanggang, merebus, pasteurisasi, mendinginkan, membekukan, memasukkan dalam tempat makanan, di-vacuum, atau fermentasi non-alkoholik.

Contoh: buah/sayuransegar, perasan sari buah/sayur, buah/sayur yang didinginkan, dibekukan, dikeringkan; jagungutuh; legumes seperti kacang merah, kacang hijau, dll; akar-akaran seperti kentang dan singkong; jamur segar atau jamur kering; ikan dan makanan laut; telur; susu; bahkan dalam grup 1 ini juga termasuk granola yang terbuat dari sereal, kacang yang dikeringkan tanpa penambahan gula, minyak dan madu.

 

2. “Processed culinary ingredientsyaitu makanan dari grup 1 atau dari alam yang diproses dengan pressing (penekanan), refining, grinding (penggilingan), milling, spray drying.

Tujuan dari pengolahan bahan makanan grup 2 ini adalah untuk menciptakan produk yang digunakan di dapur rumah/restoran yang telah siap untuk digunakan untuk memberikan bumbu, rasa dan memasak makanan di grup 1.

contoh: gula dan molasses dari tebu atau bit, garam yang diolah dari air laut, madu yang diekstrak dari sarang lebah dan sirup dari pohon maple, minyak dari zaitun dan biji-bijian, mentega dari susu dan lemak hewani, juga starch(pati) dari jagung/tumbuhan lainnya.

 

3. “Processed foodsyaitu produk makanan yang ditambahkan gula, garam, minyak, atau makanan grup 2 ke dalam makanan grup 1. Kebanyakan makanan dalam grup ini memiliki 2 atau 3 bahan dalam komposisi makanannya. Proses yang dimaksud dalam grup ini termasuk berbagai jenis pengawetan atau cara memasak.

Tujuan pengolahan makanan di grup ini adalah untuk meningkatkan ketahanan makanan grup 1, atau untuk meningkatkan kualitas rasa.

contoh: sayuran dalam kaleng, kacang dan biji-bijian yang telah diberi garam atau gula/madu, buah dalam sirup yang dikalengkan, ikan kalengan, daging asap, dll.

 

4. “Ultra-processed foodsyaitu kelompok makanan yang pada umumnya merupakan hasil formulasi industri dengan komposisi makanan yang sangat banyak (biasanya lebih dari 5 jenis). Beberapa jenis bahan komposisi yang terdapat di dalam UPF: gula, minyak, lemak, garam, antioksidan, penyeimbang, pengawet. Bahan yang hanya dapat ditemukan dalam grup ini termasuk bahan yang biasanya tidak digunakan dalam proses memasak, juga zat aditif yang bertujuan untuk imitasi rasa dari grup 1 atau menyamarkan bau/rasa/warna yang tidak diinginkan. Biasanya bahan makanan dari grup 1 hanya memiliki proporsi sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali dari grup ini.

Bahan yang hanya ada pada produk UPF seringkali merupakan ekstrak dari makanan grup 1, seperti kasein, laktosa, whey, gluten, minyak hidrogenasi atau interesterifikasi, protein hidrolisat, isolate protein kedelai, maltodextrin, high fructose corn syrup; sedangkan aditif yang hanya bisa ditemukan dalam grup ini: pewarna, penstabil pewarna, perasa, peningkat perasa, pemanis non-gula, dan berbagai tambahan agen karbonasi, pengelmusi, dan lain-lain.

Tujuan utama industri UPF ini adalah menciptakan produk yang siap saji, untuk diminum atau dimakan, atau dipanaskan. Beberapa karakteristik makanan dalam grup ini adalah: hyperpalatibility (sangat gurih, sangat sedap), memiliki kemasan yang sangat menarik, menggunakan cara marketing yang agresif terhadap anak dan konsumen dewasa muda, klaim kesehatan, memiliki banyak keuntungan, penggunaan branding.

contoh: minuman soda, cemilan dalam kemasan, eskrim, coklat, permen, roti hasil produksi masal, margarin, biskuit, kue tart, “breakfast cereal”, “cereal” dan “energy bar”, minuman susu, “fruit yogurt”, minuman coklat, ekstrak daging dan saus instan, susu formula, “health” and “slimming” products, “nuggets”, sosis, burger, hot dog, pizza, hasil olahan daging, sup instan, mie instan, makanan penutup instan.

 

Editor: drg. Valeria Widita W

 

Boba, Minuman Kekinian untuk Anak

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Gerai minuman bubble teashop memang menjadi tren dan sangat menyenangkan sekarang ini. Tentu saja, anak dan remaja juga seringkali mengonsumsi minuman kekinian tersebut. Perpaduan bubble pearl atau tapioca pearl yang kenyal dan manis dipadu dengan beragam minuman manis seperti teh, susu, kopi, sirup dengan berbagai rasa menjadikan minuman ini favorit untuk semua kalangan.

Berita yang cukup menghebohkan beberapa bulan yang lalu adalah seorang anak remaja berusia 14 tahun di Cina diberitakan mengalami sakit perut dan sembelit sehingga dibawa ke rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya, anak tersebut seringkali mengonsumsi bubble tea. Setelah dilakukan tindakan CT scan ternyata ditemukan gambaran butiran bola-bola di dalam  perut anak tersebut yang cukup banyak. Sehingga anak tersebut diberikan pencahar untuk dapat mengeluarkan tumpukan bola-bola tersebut.

Bubble pearl ini terbuat dari tepung kanji atau tapioka, dicampur sedikit gula. Beberapa produk ada yang ditambahkan tepung terigu. Untuk membentuk bola-bola tapioka, semua bahan dicampur dengan air, diuleni, dibentuk bulat, kemudian direbus. Tapioka merupakan pati yang diekstrak dari akar singkong, komposisi gizi  terdiri dari karbohidrat  dan sedikit protein. Tapioka yang mengandung pati resisten tersebut sulit dicerna oleh tubuh  dan cepat memberikan rasa kenyang.

Bubble pearl dalam minuman tersebut seringkali disajikan dengan sedotan besar yang meningkatkan risiko tersedak pada anak terutama pada anak dibawah 4 tahun. Bubble pearl yang dihisap dapat tidak sengaja masuk ke dalam saluran pernapasan. Jika ingin mencoba bubble tea/boba, pastikan anak berusia di atas 4 tahun untuk mengurangi risiko tersedak.

Bubble tea seringkali mengandung kafein karena dicampur dalam teh hitam atau hijau dan disajikan dalam gelas yang cukup besar. Diperkirakan dalam 400 ml bubble tea mengandung kafein sebesar 130 mg, yang merupakan kadar yang cukup besar untuk anak kecil. Selain itu, bubble tea dengan berbagai campuran di dalamnya dapat mencapai energi sebesar 500 kalori dalam gelas terbesarnya. Kalori tersebut merupakan 1/3 kebutuhan anak dalam sehari. Kalori sebesar itu, setengahnya (200 kalori) berasal dari lemak dan sisanya adalah berupa gula. Asupan gula dan lemak yang cukup tinggi ini dapat meningkatkan risiko untuk obesitas pada anak.

Jika ingin mengonsumsi bubble tea/boba untuk anak pastikan tidak terlalu sering (1 kali dalam 1-2 minggu) dan setelah makan utama. Pilihlah gelas dengan ukuran terkecil dan tingkat kemanisan yang terendah. Hindari memilih susu yang ditambahkan dalam boba berupa krimer atau susu kental manis. Orang tua juga dapat meminta untuk mengurangi atau bahkan tidak menggunakan bubble pearl untuk anak. Jika menambahkan bubble pearl, minumlah boba tersebut dalam posisi duduk/ tidak berjalan dan sambil bicara.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Pentingnya Omega 3 untuk Anak

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Keluarga Kejora, tentunya kita seringkali mendengar iklan makanan atau suplementasi tambahan untuk anak berupa “omega-3”, “DHA”, atau “AA”, bukan? Sudahkah Ayah dan Ibu Kejora mengetahui apakah itu, dan apakah manfaatnya bagi perkembangan anak? Yuk, kita bahas lebih lanjut, ya!

 

Sebenarnya apakah omega-3 dan omega-6 itu?

Omega-3 atau docosahexaenoicacid(DHA) dan omega-6 atau arachidonicacid(AA) adalah dua jenis asam lemak yang terdapat dalam otak kita. Keduanya merupakan asam lemak esensial, yang artinya tubuh kita membutuhkan asupan makanan ini dari luar tubuh. Selain merupakan komponen utama penyusun otak, asam lemak esensial juga akan menentukan kualitas sistem saraf di otak, reaksi imun dan reaksi inflamasi. Keseimbangan asupan omega-6 dan omega-3 yang kita dapatkan dari makanan akan berdampak pada perkembangan dan kondisi kesehatan kita. Asam lemak omega-3 dapat ditemukan dalam kadar yang cukup tinggi pada beberapa jenis makanan seperti flaxseed dan ikan.

 

Ada berapa jenis kah asam lemak omega-3 dan omega-6?

Terdapat beberapa jenis asam lemak omega-3, namun biasanya yang menjadi fokus dalam berbagai penelitian adalah asam alfa-linolenat (alpha-linolenic acid, ALA); eciosapentaenoic acid(EPA); dan docosahexaenoic acid(DHA). Sementara, yang termasuk dalam golongan asam lemak omega-6 antara lain: asam linoleat (linoleic acid) dan asam arakidonat (arachidonic acid).

 

Bagaimana hubungan antara ibu hamil yang mengkonsumsi ikan yang merupakan sumber asam lemak omega-3 dengan perkembangan kognitif anak?

Berbagai penelitian menemukan adanya hubungan antara ibu hamil yang mengonsumsi ikan (bahan makanan sumber asam lemak omega-3) selama kehamilannya dengan perkembangan kognitif anak yang baik. Ibu hamil yang mengonsumsi ikan lebih banyak selama kehamilannya terbukti memiliki anak dengan kemampuan sosial dan bahasa yang sangat baik (penelitian dilakukan pada 7421 anak di Inggris saat berusia 15 bulan dan 18 bulan. Penelitian lainnya melihat bahwa anak dari ibu hamil yang jarang mengonsumsi makanan laut (seafood) memiliki IQ yang lebih rendah. Penelitian lain juga menghubungkan konsumsi makanan laut ibu hamil dengan kemampuan sosial anak, kemampuan motorik halus, juga perkembangan bahasa pada anak.

 

Nah, sebenarnya seberapa banyakkah konsumsi omega-3 yang kita butuhkan?

Menurut Institute of Medicine(IOM), Food and Nutrition Board, asupan yang dibutuhkan (adequate intake, AI) berdasarkan populasi sehat adalah sebagai berikut:

 

Asupan Omega-3 yang dibutuhkan berbagai kelompok Usia dan Jenis kelamin

(berdasarkan Adequate Intake, AI)

Usia Laki-laki Perempuan Hamil Menyusui
Lahir – 6 bulan* 0,5 g 0,5 g
7-12 bulan* 0,5 g 0,5 g
1-3 th** 0,7 g 0,7 g
4-8 th** 0,9 g 0,9 g
9-13 th** 1,2 g 1,0 g
14-18 th** 1,6 g 1,1 g 1,4 g 1,3 g
19-50 th** 1,6 g 1,1 g 1,4 g 1,3 g
51+ th** 1,6 g 1,1 g

*sebagai total omega-3

** sebagai ALA

 

Selanjutnya, apa saja bahan makanan yang mengandung omega-3?

ALA dapat ditemukan dalam berbagai minyak tumbuhan seperti flaxseed, kacang kedelai, dan minyak kanola. EPA dan DHA dapat ditemukan dalam ikan, minyak ikan, maupun minyak krill, namun sebetulnya EPA dan DHA ini disintesis oleh microalgae, bukan oleh ikan. Ketika ikan mengonsumsi phytoplanktonyang mengonsumsi microalgae, ikan memiliki endapan omega-3 dalam jaringan tubuhnya sehingga ikan mengandung omega-3.

Makanan Jumlah gram per sajian
ALA DHA EPA
Minyak Flaxseed, 1 sdm 7,26
Chia seeds, 1 ons 5,06
Walnut, 1 ons 2,57
Flaxseed, 1 sdm 2,35
Salmon, Atlantik, farmed, masak, 3 ons 1,24 0,59
Salmon, Atlantik, wild, masak, 3 ons 1,22 0,35
Minyak kanola 1,28
Sarden, kaleng, 3 ons 0,74 0,45
Minyak kedelai, 1 sdm 0,92
Mayones, 1 sdm 0,74
Tiram, eastern, wild, masak, 3 ons 0,14 0,23 0,30
Edamame, beku, ½ cup 0,28
Udang, masak, 3 ons 0,12 0,12
Lobster, masak, 3 ons 0,04 0,07 0,1
Tuna, light, canned in water, 3 ons 0,17 0,02
Scallop, masak, 3 ons 0,09 0,06
Tuna, yellowfin, masak, 3 ons 0,09 0,01
Kacang merah, dalam kaleng, ½cup 0,10
Daging sapi, 85% lean, masak, 3 ons 0,04
Roti, whole wheat, 1 slice 0,04
Telur, masak, 1 butir 0,03
Ayam, dada, bakar, 3 ons 0,02 0,01
Susu, low-fat (1%), 1 cup 0,01

Sumber: U.S. Department of Agriculture’s FoodData Central

 

Berikut ini adalah beberapa jenis ikan yang kaya akan omega-3:

Jenis Ikan EPA DHA
Ikan Salmon 247 983
Ikan Pipih 408 820
Ikan Mas 159 288
Ikan Bandeng 408 176
Ikan Mujair 201 136
Cumi-cumi 56 152

 

Bagaimana cara kita menyiasati agar si kecil mau mengkonsumsi makanan-makanan yang mengadung omega-3?

Tawarkan dan berikan beraneka ragam makanan yang mengandung asam lemak omega-3 daripada langsung memberikan dalam bentuk suplementasi. Sajikan ikan dengan cara yang disukai anak, misalnya dengan saus barbecue madu, teriyaki, dll. Jika si Kecil tidak menyukai ikan, dapat juga diberikan minyak flaxseed yang dicampurkan ke dalam selai kacang untuk sandwich atau smoothie. Flaxseed juga dapat diblender, dimasukkan dalam roti, sup, bahkan dalam tepung bumbu untuk membuat ayam masak goreng tepung. Chia seeds dapat digunakan sebagai topping untuk pudding, maupun dicampurkan dalam buah atau snack anak lainnya.

 

Lalu, bagaimana dengam suplementasi Omega-3?

Asam lemak omega-3 dapat ditemukan dalam berbagai formulasi suplemen termasuk minyak ikan, minyak krill, minyak ikan kod, juga produk vegetarian yang mengandung minyak algae (ganggang). Biasanya, satu sajian suplementasi minyak ikan mengandung 1000 mg minyak ikan dengan 180 mg EPA dan 120 mg DHA. Selain omega-3, sediaan suplementasi minyak ikan kod juga mengandung vitamin A dan vitamin D. Memang makanan laut (seafood) seringkali dikhawatirkan mengandung methyl mercury (logam berat yang beracun), namun dalam suplemen omega-3 tidak ditemukan kontaminan ini karena biasanya sudah dipisahkan saat pemrosesan dan pemurnian minyak ikan.

 

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Referensi:

  • Office of Dietary Supplements, National Institute of Health
  • Gonzalez FE & Báez RV. In Time: Importance of Omega 3 in Children’s Nutrition. 2017.

 

 

 

 

Apakah Anak Gemuk Berarti Sehat?

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Senang sekali kita bisa kembali bertemu untuk membahas topik menarik berkaitan dengan kesehatan anak. Nah, kali ini Kejora akan mengajak Ayah dan Ibu untuk mengenal kegemukan atau OBESITAS pada anak. 

Apa itu obesitas?

Obesitas adalah kelebihan berat badan akibat lemak berlebihan yang disimpan dalam tubuh. Obesitas pada anak dapat dimulai sejak usia balita hingga remaja. Asupan makanan yang berlebih merupakan penyebab utama obesitas (obesitas primer atau nutrisional) dan hanya sekitar 10% oleh karena kelainan hormon, sindrom atau kerusakan gen (obesitas sekunder atau non-nutrisional).

Bagaimana mengenali obesitas?

Cara mudah mengetahui anak obesitas diantaranya dengan melihat bentuk pipi yang tembem, dagu rangkap, leher tampak pendek, perut membuncit dan berlipat, payudara membesar, kedua tungkai umumnya berbentuk X, dan pada anak laki penis tampak kecil dan terbenam. Selain ciri fisik tadi, keadaan ini dapat dipastikan dengan melakukan pengukuran berat badan terhadap tinggi badan dan menghitung indeks massa tubuh (IMT). Obesitas pada anak usia < 2 tahun ditegakkan jika Z score > +3 SD dengan menggunakan grafik IMT WHO 2006, sedangkan pada anak usia 2-18 tahun menunjukkan nilai IMT di atas P95 dengan grafik IMT CDC 2000.

Apakah obesitas pada anak berbahaya?

Anak gemuk dapat mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti ngorok, gangguan tidur (sleep apnea), tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol tinggi, perlemakan hati, masalah postur dan perkembangan tulang ekstremitas, masalah psikososial, kencing manis (diabetes mellitus), dan masih banyak lagi. Nah, supaya hal ini tidak terjadi, pahamilah obesitas sejak anak masih kecil.

Bagaimana cara mencegah obesitas?

Cara mencegah anak menjadi obesitas adalah pemberian ASI eksklusif, mengurangi camilan, makanan manis dan ‘junk food’, memperbanyak aktivitas fisik yang disesuaikan dengan usia, serta membatasi ‘screen time’ pada anak dengan panduan yang bisa dibaca dari salah satu topik bahasan Kejora yang berjudul ‘Mendidik Anak pada Era Digital’. 

Apakah yang dapat dilakukan pada buah hati yang mengalami obesitas?

Bila anak mengalami obesitas, sebaiknya konsultasi dengan dokter spesialis anak. Prinsip tata laksana anak dengan obesitas adalah menerapkan pola makan yang benar, aktivitas fisik yang adekuat, dan modifikasi perilaku dengan orangtua sebagai panutan. Target untuk menurunkan berat badan 0,5 kg dalam seminggu atau turun mencapai 20% diatas berat badan ideal. 

Pola makan terjadwal dengan makan besar 3x/hari dan camilan 2x/hari (camilan diutamakan dalam bentuk buah segar), diberikan air putih di antara jadwal makan utama dan camilan, serta lama makan 30 menit/kali. Panduan makanan berupa traffic light diet dapat diterapkan. Buah dan sayur, daging tanpa lemak, ikan, kacang, roti gandum, susu rendah lemak dan air termasuk green food pada traffic light diet yaitu dapat dikonsumsi setiap hari. Yellow food adalah makanan yang boleh dikonsumsi dalam porsi kecil, tetapi tidak setiap hari yaitu daging olahan rendah lemak dan garam, produk roti dan sereal olahan, susu tinggi lemak, kue dan biskuit rendah lemak dan gula. Red food adalah makanan yang boleh dikonsumsi 1x/minggu, diantaranya berupa gorengan, daging olahan tinggi lemak, kue, minuman manis dan coklat.

Latihan fisik disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, dan kemampuan fisis anak. Keluarga ikut berpartisipasi dalam mendukung keberhasilan anak dan jangan lupa memberi pujian terhadap setiap perilaku sehat yang anak lakukan. 

 

Referensi

  1. Rekomendai Ikatan Dokter ANak Indonesia. Diagnosis, tatalaksana dan pencegahan obesitas pada anak dan remaja. Dalam: Sjarif DR, Gultom LC, Hendarto A, Lestari ED, Sidharta IGL, Mexitalia M, penyunting. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi ke-1, 2014.
  2. Sjarif DR. Obesitas anak dan remaja. Dalam: Sjarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasar SS, penyunting. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2011.h.230-41.

SERAT PADA ANAK

 

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ibu sehat Kejora!

Bagi Ibu yang memiliki anak berusia lebih dari 2 tahun tentu sering mendapati anak susah makan sayur atau buah. Ternyata kandungan serat pada sayur buah penting bagi kesehatan anak.

Serat memadatkan dan melembutkan konsistensi feses sehingga memperlancar proses buang air besar. Serat juga memiliki efek cepat mengenyangkan, mengurangi rasa lapar, dan meningkatkan pemecahan lemak.

Cara terbaik yang optimal dalam memperoleh serat yaitu dari variasi sumber bahan makanan, bukan dari suplemen. Sumber serat pada bahan makanan antara lain sayur, buah, biji-bijian. Pada anak di atas usia 2 tahun dapat diberikan serat dengan perhitungan (umur dalam tahun + 5) gram per hari. Misal, ibu memiliki anak berusia 3 tahun, maka serat yang diberikan sebesar 8 gram per hari, atau setara dengan 1,5 labu siam. Perlu diperhatikan bahwa bayi sebaiknya tidak diberikan porsi serat sebanyak anak yang lebih besar, karena beberapa jenis sayur buah dapat menghambat penyerapan nutrisi lain di tubuh bayi. Pada bayi, diterapkan prinsip mengenalkan sayur buah dalam jumlah sedikit.

Berikut beberapa tips agar anak menyuka sayur dan buah:

  • Pada anak yang lebih besar, beri pengertian tentang pentingnya serat bagi kesehatan tubuh
  • Ajak anak mengonsumsi makanan sehat dengan memilih makanan yang disukai dan dapat diterima anak. Tingkatkan juga konsumsi sayur dan buah. Buah potong dapat diberikan pada saat jam snack sebanyak 2 kali yaitu di antara sarapan dan makan siang, serta antara makan siang dan malam. Tak lupa menyertai makanan tinggi serat dengan tinggi asupan air.
  • Membiasakan pemberian serat pada anak dapat dimulai bertahap, misal berikan 1 porsi buah atau sayur per hari, kemudian ditingkatkan bertahap pada hari-hari berikutnya. Peningkatan secara bertahap ini dapat lebih diterima anak dibandingkan pemberian serat secara tiba-tiba dengan target porsi yang banyak.
  • Sebaiknya waktu makan tidak lebih dari 30 menit. Bila anak menunjukkan tanda-tanda tidak mau makan, tawarkan kembali makanan tanpa memaksa atau membujuk. Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan, akhiri proses makan.
  • Semangati anak agar makan sendiri.
  • Beri dorongan dan pujian setiap kali anak berhasil makan makanan sehat.
  • Libatkan anggota keluarga lain dan guru di sekolah untuk mendukung anak memilih makanan sehat.

Mari dorong anak-anak agar makan buah dan sayur sehingga kebutuhan serat dapat terpenuhi!

Editor: drg Rizki Amalia

Sumber:

  1. Dietary fiber and digestive health in children
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia
  3. American Academy of Pediatrics

Makanan Beku Sehat Ngga Sih?

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Makanan beku (Frozen food)

Seringkali kita lebih memilih untuk menggunakan makanan beku dalam mempersiapkan makanan untuk keluarga, apalagi di musim liburan pasca lebaran seperti ini. Makanan beku memang menjadi pilihan karena dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama jika disimpan dalam freezer dan dalam persiapan untuk dihidangkan juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Seringkali, makanan beku membantu untuk berhemat karena dengan menyimpan bentuk beku dari bahan makanan yang dibeli dalam jumlah banyak, kita seringkali mendapatkan harga yang lebih murah. Selain itu, makanan beku juga memudahkan kita untuk menyimpan makanan yang tidak habis dimakan sehingga mengurangi jumlah makanan yang terbuang.

Apakah makanan beku sehat?

Membekukan makanan tidak menentukan makanan tersebut sehat atau tidak sehat. Hal ini tergantung dari kandungan nutrisi makanan yang akan dibekukan. Membekukan buah dan sayuran akan lebih sehat dibandingkan membekukan pizza, snack dan makanan lain yang kurang sehat. Jika makanan yang akan dibekukan bergizi, akan tetap bergizi setelah dibekukan.

Apakah membekukan makanan mengubah kandungan gizi?

Membekukan makanan tidak mempengaruhi kalori, serat dan jumlah mineral. Namun, dapat mengubah beberapa vitamin, seperti folat dan vitamin C. Tapi secara umum, kandungan gizi  dapat dipertahankan selama proses pembekuan.

Membekukan makanan juga tidak memengaruhi kandungan lemak, protein, karbohidrat ataupun gula. Kandungan air dapat berubah karena proses “thawing(makanan beku dibiarkan dalam suhu ruangan hingga bagian beku mencair) makanan. Jika hanya air yang berkurang karena proses thawing, maka kalori dalam makanan tidak akan berpengaruh, tapi akan merubah ukuran porsi makanan tersebut.

Bagaimana memilih makanan beku yang sehat?

Jika membeli makanan beku, pilihlah produk yang tidak terlalu tinggi pemberian tambahan gula, natrium, atau saus tinggi kalorinya. Pilihlah sayuran beku tanpa penambah rasa (plain), hindari memilih sayur dengan perasa/ekstra saus. Begitu juga dengan buah, pilihlah buah beku tanpa tambahan gula atau sirup.

Memilih makanan beku berupa makananutama atau snack harus lebihdiperhatikan. Seringkali, makanan beku tersebut tinggi lemak jenuh, natrium, gula dan kalori. Bandingkan label nutrisi dari setiap makanan beku yang ingin dibeli dan pilihlah yang lebih “sehat” dibandingkan yang lain. Membeli makanan beku seperti pizza, snack rolls, sandwich, burrito, fried chicken sebaiknya dihindari.

Pilihlah daging, ikan, seafood, dan ayam beku tanpa tambahan bahan makanan lain atau tanpa perasa. Hindari makanan beku seperti ayam tepung, fish stick, corn dog dan makanan lain yang menggunakan tambahan tepung atau perasa.

Tips membekukan makanan di rumah

Hampir semua makanan yang dibeli dan dimasak dapat dibekukan. Namun, trerdapat beberapa makanan yang tidak dapat dibekukan seperti telur mentah bercangkang, mayonais, salad dressing, saus creamy dan makanan yang mengandung instruksi untuk tidak dibekukan.

Buah sebaiknya tanpa kulit, dipotong kecil dan dimasukkan ke dalam plastik/freezer bag kecil dalam porsi per kali makan. Buah beku ini dapat digunakan untuk smoothies atau makanan lain yang menggunakan buah dalam resepnya.

Sayur dapat dibekukan namun membutuhkan perhatian lebih. Sayuran sebaiknya di-blanching sebelum dimasukan ke dalam plastik/freezer bag. Untuk mem-blanching/blansir sayuran adalah dengan merebus sayuran hingga mendidih selama beberapa menit dan langsung dicelupkan kedalam air es untuk menghentikan proses pematangan, karena dalam keadaan panas, proses pematangan sayur masih tetap berlangsung, sehingga sayuran dapat berubah warna menjadi coklat. Namun jika dicelup ke dalam air es, proses pematangan berhenti dan tekstur dan kesegaran dapat dipertahankan.

Daging, ayam dan ikan mentah dapat dibungkus alumunium foil, plastik tebal atau plastik makanan khusus freezer dan disimpan pada wadah makanan yang akan dibekukan. Makanan sisa atau makanan sudah siap santap yang memang akan dibekukan juga sebaiknya dibekukan dalam wadah untuk menghindari kontaminasi makanan.

Tips untuk thawing dan menyiapkan makanan beku

Sayuran beku biasanya tidak perlu di thawing sebelum dimasak. Sayuran beku dapat langsung direbus, kukus atau dimasukkan dalam microwave. Buah dan berries sebaiknya didiamkan dalam suhu ruangan sebentar saja sebelum digunakan, namun jangan sampai thawing sempurna, karena akan menjadi mushy (tekstur buah membubur).

Daging beku membutuhkan thawing sebelum dimasak, karena tanpa proses thawing, daging dapat menjadi terlalu matang di bagian luar dan masih mentah di bagian tengah. Cara melakukan thawing daging adalah dengan meletakkan daging (dalam kemasan plastik) di dalam kulkas (chiller) atau air dingin. Jangan diletakkan pada suhu ruangan dalam waktu yang terlalu lama karena dapat menumbuhkan bakteri dalam daging jika dibiarkan selama lebih 1 jam.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

Tips Menjaga Asupan Sehat untuk Si Kecil Selama Liburan

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Libur telah tiba! Libur telah tiba!

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Sebentar lagi kita akan memasuki masa liburan, ya? Liburan kali ini akan terasa lebih panjang karena libur Hari Raya Idul Fitri akan dilanjutkan dengan libur kenaikan kelas. Nah, apakah keluarga Kejora sudah punya rencana liburan?

Agar keluarga Kejora bisa menikmati liburan dengan menyenangkan, kita harus pandai menjaga kesehatan supaya keluarga terhindar dari segala penyakit ataupun gangguan kesehatan lainnya. Salah satu yang bisa membuat kita tetap sehat dan berenergi adalah dengan mengonsumsi makanan dengan gizi yang sesuai. Namun seringkali liburan menjadi kendala buat kita untuk tetap makan sehat karena jadwal perjalanan yang padat membuat kita harus menunda waktu makan, terbatasnya pilihan makanan sehat, hingga keinginan mencicipi berbagai makanan lokal yang enak-enak, tapi belum tentu nutrisinya sesuai. Nah, agar kita tetap bisa menjaga asupan sehat selama liburan, simak tips berikut ya keluarga Kejora!

Sebelum memulai perjalanan liburan, baik dengan menggunakan kendaraan sendiri atau alat transportasi lain seperti pesawat, kereta api, bahkan kapal laut, maka ada hal sederhana yang bisa kita siapkan. Pertama, pastinya Ayah dan Ibu bisa membuat jadwal perjalanan liburan serta melakukan riset kecil-kecilan untuk kemungkinan rumah makan yang bisa didatangi dan menu apa saja yang bisa dipilih. Kedua, ajak si kecil untuk turut menyiapkan bekal makanan ringan apa yang ingin dibawa dengan Ayah dan Ibu ikut mengarahkan pilihan yang sehat dan bisa memberikan energi cukup untuk keluarga. Contoh makanan ringan yang bisa dibawa saat berlibur, misalnya buah segar yang tidak mudah busuk (anggur, jeruk, pisang yang kulitnya masih utuh) atau buah kering, popcorn, kacang-kacangan, roti isi selai kacang atau isi daging/ayam, susu kotak/yogurt, atau crackers gandum. Nah, susun makanan dan minuman ringan tersebut dalam satu tas kecil yang mudah dibawa dan mudah untuk diakses ketika sedang berada dalam perjalanan. Maskapai penerbangan biasanya memperbolehkan untuk membawa makanan anak-anak ke dalam kabin.

Ketika sudah dalam perjalanan liburan, tetap terapkan jadwal makan yang teratur agar asupan nutrisi tetap terjaga. Ingatkan anggota keluarga untuk beristirahat sejenak sesuai dengan jadwal makan ataupun snacking. Bila keluarga Kejora bepergian dengan mobil dan si kecil masih memiliki risiko tersedak, maka sebaiknya mobil berhenti sebentar dan keluarga bisa makan di rest area dengan lebih aman.
Selain menjaga asupan makanan, jangan lupa juga untuk selalu mengingatkan anak-anak untuk minum, karena biasanya ketika mereka asik bermain atau berada dalam perjalanan panjang kebutuhan minum menjadi terabaikan. Anak di bawah 10 tahun membutuhkan air sekitar 1200 – 1900 mL setiap hari. Sediakan dalam botol minum favoritnya agar anak semangat untuk minum dan terhindar dari dehidrasi. Ajak anak untuk tetap aktif dan menikmati liburan karena hal tersebut juga menjadi kunci untuk bisa istirahat dengan cukup di malam hari.

Selamat berlibur, Keluarga Kejora!

Sumber:

Academy of Nutrition and Dietetics
Academy of Culinary Nutrition