Mengapa Anak Harus Makan Protein Hewani?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah terpikir apakah protein hewani seperti ikan, ayam daging, makanan laut, dan telur dapat digantikan oleh protein nabati saja? Sebelum kita memutuskan hal tersebut, mari simak penjelasan berikut ini ya!

Dalam memenuhi kebutuhan protein pada anak, maka sebaiknya kita tidak hanya berpikir bagaimana mencukupi jumlahnya saja, tetapi lebih rinci lagi kita harus juga mempertimbangkan kualitas protein agar anak terhindar dari malnutrisi. Kualitas protein ini mencakup ketersediaan serta kemudahan dicernanya asam amino setelah makanan dikonsumsi, dicerna, hingga diserap oleh tubuh kita. Ingat ya Ibu dan Ayah, asam amino merupakan zat terkecil yang menyusun protein. Bisa kita andaikan bahwa protein seperti tembok rumah, dan asam amino merupakan batu bata serta semen yang menyusun protein tersebut.

Nah, bahan makanan sumber protein yang berasal dari nabati memiliki kualitas protein serta kemampuan cerna yang lebih rendah daripada protein hewani, serta mengandung lebih sedikit mineral seperti seng, zat besi, dan kalsium. Sebaliknya protein dari sumber hewani memiliki kualitas protein lebih baik serta mengandung vitamin B12, besi heme, vitamin A, seng, dan kalsium. Dalam suatu penelitian pada anak usia 12-36 bulan didapatkan bahwa konsumsi protein hewani berkaitan dengan peningkatan tinggi badan anak yang lebih baik sehingga berpotensi dalam menurunkan angka kejadian stunting.

Selanjutnya apakah protein nabati menjadi tidak penting? Nah, protein nabati seperti misalnya tahu, tempe, kacang hijau, kacang merah, dan kedelai tentu saja tetap penting diberikan karena selain melengkapi kebutuhan protein, bahan makanan tersebut juga mengandung serat yang sangat baik untuk kesehatan pencernaan anak serta mengandung berbagai fitonutrien yang berperan dalam pencegahan penyakit.

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Kaimila Y, Divala O, Agapova SE, et.al. Consumption of Animal-Source Protein is Associated with Improved Height-for-Age Z scores in Rural Malawian Children Aged 12-36 Months, Nutrients 2019.
  2. Mahan LK, Escott-Stump S. Krause’s Food & Nutrition Therapy. 2008.

Susu

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Salam Sehat, Keluarga Kejora! Semoga di tengah pandemi COVID-19 ini kita semua masih tetap sehat dan semangat, ya… Semoga kita semua mendapatkan nutrisi yang optimal sehingga semua dalam kondisi yang sehat.

Bicara mengenai nutrisi, tentunya kita tidak asing dengan bahan makanan berupa susu. Seringkali kita bingung untuk mengetahui susu mana yang terbaik untuk diberikan bagi si Kecil. Susu memang memiliki peran penting dalam nutrisi anak, mulai dari bayi yang minum ASI, balita yang makan sereal dengan susu, hingga remaja yang memasukkan susu ke dalam smoothie.

Berikut adalah beberapa pilihan susu bagi anak:

  • Susu sapi murni (3,25% lemak susu) dan susu kambing yang dipasteurisasi diperkaya dengan vitamin D dan asam folat adalah susu pilihan yang cocok untuk anak-anak di bawah usia dua tahun.
  • Setelah usia dua tahun, susu kedelai yang diperkaya (fortifikasi) dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi.
  • Pilihan seperti almond, kelapa, beras, rami dan minuman nabati lainnya, tidak mengandung cukup protein dan lemak untuk memenuhi kebutuhan balita yang sedang tumbuh.
  • Sementara susu almond yang diperkaya dan minuman nabati lainnya dapat ditawarkan setelah usia dua tahun, namun tidak dihitung sebagai alternatif dari susu sapi.

Macam-macam Jenis Susu

  1. Susu Sapi: telah ada selama berabad-abad dan merupakan pilihan konsumen yang paling populer. Berasal dari kelenjar susu sapi. Perbedaan antara jenis-jenis susu sapi adalah persentase lemak yaitu whole milk, (mengandung) 2% lemak, 1% lemak, atau skim. Dari susu murni hingga susu skim, konsistensi susu menjadi lebih encer/cair dan rasanya menjadi lebih manis. Susu sapi adalah sumber protein, kalsium, dan vitamin B12. Vitamin B12 adalah nutrisi yang ditemukan secara alami dalam produk hewani yang sangat penting untuk fungsi otak, sistem saraf, dan pembentukan sel darah baru. Susu sapi adalah satu-satunya susu yang mengandung vitamin B12.
  2. Susu Almond: adalah pilihan bebas susu sapi yang dibuat dengan merendam dan menggiling almond dengan air. Susu almond mengandung tinggi magnesium, selenium, dan vitamin E. Susu almond dapat mendukung fungsi kekebalan tubuh, tulang, dan menyediakan banyak antioksidan. Untuk anak yang sensitif terhadap laktosa, susu almond adalah alternatif yang baik karena bebas laktosa dan kolesterol.
  3. Susu Kedelai: terdiri dari kedelai kering dan ditumbuk dengan air. Susu kedelai adalah sumber protein dan kalsium bagi yang memiliki intoleransi terhadap laktosa.
  4. Susu Rami/Hemp: dibuat dengan merendam benih rami dalam air dan kemudian menggilingnya. Pilihan ini lebih tinggi protein dan lemak sehat. Lemak dalam sebagian besar susu rami adalah asam lemak esensial tak jenuh seperti omega-6 dan omega-3 yang membantu membangun jaringan baru. Rami juga merupakan sumber vitamin B yang baik
  5. Susu Oat: terdiri dari gandum dan air. Susu oat mengandung tinggi serat larut dan beta-glukan. Beta-glukan sangat bagus untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.. Namun, susu gandum memiliki kandungan protein yang rendah.
  6. Susu Beras/Air tajin: dianggap paling hipoalergenik dari semua pilihan susu. Susu berat dibuat dengan merebus nasi, beras merah, atau pati beras merah. Susu ini adalah pilihan baik untuk mengontrol tekanan darah karena tingginya kadar magnesium.
  7. Santan: dibuat dengan mengambil daging bagian dalam kelapa, dididihkan dan kemudian disaring. Tekstur santan yang lebih kental, mengandung trigliserida rantai menengah (MCT) yang memberikan energi dan asam laurat untuk meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.

Jika anak-anak tidak menyukai susu sapi cair, memiliki intoleransi laktosa, atau pada keluarga vegan, kandungan nutrisi yang ditemukan dalam susu sapi dapat tersedia dalam bahan makanan lain. Anak-anak masih dapat memenuhi kebutuhan nutrisi harian mereka tanpa susu dengan melalui asupan makan yang terencana dengan baik termasuk makanan lain yang kaya protein, kalsium, kalium, dan vitamin A dan D. Makanan yang terbuat dari susu sapi, seperti yogurt, kefir, dan keju, juga dapat memberikan pilihan untuk memasukkan nutrisi dari susu ke dalam makanan anak bahkan jika anak itu tidak suka susu sapi cair.

Menggunakan hanya susu untuk mencapai rekomendasi kebutuhan kalsium bukanlah ide yang bijaksana. Kebutuhan kalsium dari susu baru dapat terpenuhi jika minum lebih dari tiga cangkir susu sehari. Hal ini, dapat membuat anak kekenyangan sehingga tidak mau makanan anak, yang berakibat berisiko terhadap anemia defisiensi zat besi serta ketidakseimbangan nutrisi lainnya.

Jika anak Anda lebih memilih alternatif susu non-susu, seperti susu almond atau beras, pilihlah versi yang diperkaya dengan kalsium dan vitamin D. Kemudian, Anda harus memastikan untuk menawarkan makanan lain sepanjang hari yang mengandung protein, karena sebagian besar susu-susu alternatif mengandung protein sangat rendah.

Secara umum, sebagian besar anak mendapat manfaat dari mengonsumsi susu sapi, atau produk susu sapi, setelah mereka berusia 12 bulan (jika mereka tidak memiliki alergi susu). Perlu diingat bahwa balita yang masih menyusui 2-3 kali sehari atau yang masih minum susu formula, tidak memerlukan susu sapi tambahan.

Berapa Banyak Susu yang Dibutuhkan Anak-Anak?

Hal ini tergantung dari usia dan kebutuhan anak, tetapi rekomendasi yang biasa adalah:

1 hingga 2 tahun         : 2 gelas susu setiap hari

Usia 3 tahun ke atas    : 3 gelas susu setiap hari

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

WELLNESS is the solution to prevent ILLNESS

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora… Di tengah maraknya wabah COVID-19 ini, tentu penting bagi kita untuk meningkatkan dan menjaga imunitas agar terhindar dari penyakit berbahaya tersebut. Bagaimana caranya, ya? Makan makanan yang sehat sangat penting untuk menjaga imunitas. Selain itu, perlu juga ditunjang dengan minum air putih yang cukup, dan berolahraga.

Sekarang, kita bahas satu-satu, ya!

A) Makan Makanan yang sehat

  1. Karbohidrat

Untuk pemenuhan karbohidrat, pilihlah karbohidrat yang kompleks dan usahakan dari bahan yang alami. Contoh karbohidrat yang dimaksud adalah ubi, jagung, kentang, singkong, dan nasi. Kalau nasi kuning yang diberi kunyit itu, bagaimana? Tentu saja boleh. Karbohidrat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan ini mengandung banyak vitamin dan mineral yang disediakan alam. Sebisa mungkin batasi karbohidrat dari processed foods, seperti mie instan, roti, produk hasil tepung dan gula, semua kue dan minuman yang tinggi gula. Walaupun kebanyakan dari produk-produk ini ditambahkan vitamin dan mineral, tetap saja kita memiliki risiko mengonsumsi garam, gula, pengawet, pewarna, dan bahan aditif lain secara berlebihan.

  1. Protein dan Lemak
  • Protein hewani

Ikan merupakan protein hewani dengan kandungan lemak terbaik. Untuk protein hewani yang bersumber dari daging kambing, ayam, sapi, carilah yang memiliki kandungan lemak yang rendah. Lemak hewani yang terlalu banyak dapat meningkatkan risiko radang dalam tubuh kita. Hindari pengolahan secara deep fry dan bagian yang  gosong jika diolah dengan cara dibakar atau dipanggang. Bagian gosong ini mengandung nitrosamine yang sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan kanker.

  • Protein nabati

Protein nabati tentu sangat baik untuk tubuh kita. Sumber protein nabati  yang dapat kita konsumsi adalah kacang hijau, kacang merah, tauge, dan biji-bijian. Cara konsumsinya pun beragam, bisa dijadikan sayur seperti sup kacang merah. Untuk cara yang lebih menyenangkan, kacang hijau dapat dibuat menjadi bubur kemudian langsung dikonsumsi, atau dimasukkan ke dalam plastik kecil dan dibekukan menjadi es. Untuk tauge dan biji-bijian diketahui sangat baik karena mengandung banyak vitamin E dan mineral-mineral.

  • Lemak

Lemak yang baik sangat penting untuk komponen membran sel kita. Makanlah lemak dari bahan makanan sumber lemak sehat seperti alpukat, ikan salmon, cemilan kacang almond, walnut dan kacang lainnya. Tentu lemak baik ini perlu dikonsumsi dengan benar. Hindari mengonsumsi coklat yang mengandung almond, jus alpukat dengan susu kental manis, dan granola bars, karena lebih banyak gulanya daripada lemak baik itu sendiri.

  1. Serat, Vitamin, dan Mineral

Sumber vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan dalam menjaga sistem imun juga berasal dari konsumsi sayur dan buah-buahan. Mengonsumsi sayur dan buah-buahan yang bervariasi sangat penting karena setiap jenis sayuran dan buah-buahan memiliki kandungan vitamin dan mineral yang berbeda, dan semuanya dibutuhkan untuk metabolisme tubuh kita.

Variasi buah dan sayuran ini juga sebaiknya memperhatikan berbagai warna yang menandakan jenis kandungan antioksidan yang berbeda juga: baik yang berwarna merah seperti tomat, apel, buah bit, bayam merah; atau yang berwarna oranye dan kuning: seperti labu, ubi, jeruk, wortel; warna hijau: bayam, bok choy, selada, brokoli; putih: sawi, kecambah, lobak, kembang kol; biru dan ungu: anggur, plum, bit, kol ungu, ubi ungu, terong.

Buah dan sayuran mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan alami dengan bioavailability yang baik. Artinya, vitamin dan mineral ini dapat diserap dan digunakan dalam sistem pertahanan tubuh dengan baik.

Buah-buahan seperti jambu biji, kiwi, jeruk, mangga, tomat, paprika merupakan buah-buahan dan sayuran yang mengandung vitamin C dan sangat baik dikonsumsi pada saat wabah COVID19. Vitamin C adalah antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas, serta digunakan dalam berbagai enzim dalam proses metabolisme tubuh kita. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang kekurangan vitamin C mengalami penurunan imunitas dan lebih rentan terhadap infeksi.

Walaupun banyak orang telah mengetahui peranan vitamin D untuk pembentukan dan kekuatan tulang dan gigi, masih banyak orang yang belum mengetahui peranan vitamin D untuk imunitas. Vitamin D dalam tubuh dibentuk dari sinar UV B matahari melalui kulit dan juga didapatkan dari bahan makanan sumber vitamin D. Hasil penelitian menunjukkan, orang-orang yang memiliki kadar vitamin D yang rendah lebih berisiko mengalami infeksi (infeksi saluran pernafasan, virus influenza, maupun infeksi bakteri) dibandingkan mereka yang memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi. Beberapa makanan sumber kaya vitamin D: ikan salmon, jamur, beberapa makanan yang difortifikasi (susu sapi, susu soya, tahu, yogurt, cereal, jus jeruk), kuning telur.

B) Minum Air Putih

Minum air putih atau air mineral juga tidak kalah penting dalam menjaga imunitas, karena semua proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh kita sangat membutuhkan sekali air putih. 60% tubuh kita juga terdiri dari air, lho! Berapa banyak air putih yang dibutuhkan oleh seseorang? Jumlah air putih yang dibutuhkan untuk seorang dewasa sehat berkisar 25-30ml/kgBB/hari. Sedangkan lansia membutuhkan cairan lebih sedikit, yaitu sekitar 1500 ml/hari.

C) Aktivitas fisik, olahraga dan menjaga kebersihan

Aktivitas fisik dan olahraga dengan intensitas ringan-sedang juga sangat berperan menjaga sistem imun kita. Berjalan sebanyak 10.000 langkah sehari dan melakukan olahraga dengan intensitas ringan-sedang selama 30 menit per hari (atau 150 menit per minggu) adalah gaya hidup aktif yang disarankan. Menjalankan gaya hidup aktif ini dapat meningkatkan imunitas kita.

Editor: drg. Valeria Widita W

Cegah Anemia, Cegah Stunting

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Tahukah Ayah dan Ibu bahwa ternyata 1 dari 2 ibu hamil di Indonesia masih mengalami anemia? Lebih tepatnya 48.9% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Salah satu penyebab anemia yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau yang sering disebut anemia defisiensi besi.

Zat besi merupakan salah satu unsur terpenting yang membentuk hemoglobin dalam sel darah merah yang akan membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi meningkat untuk dapat mencukupi kebutuhan pasokan oksigen yang diangkut oleh darah ke janin. Apabila hemoglobin tidak cukup, maka kapasitas darah untuk mengangkut oksigen ke janin akan menurun dan mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin. Kondisi ini dapat meningkatkan kejadian kelahiran prematur serta berat badan janin yang rendah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko stunting. Oleh sebab itu, intervensi gizi spesifik pada ibu hamil menjadi salah satu sasaran prioritas dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024

Anemia tidak hanya disebabkan oleh kekurangan zat besi, namun dapat juga karena kekurangan zat gizi lain seperti asam folat dan vitamin B12. Tetapi, yang akan dibahas lebih lanjut mengenai kecukupan zat besi pada ibu hamil. Pada trimester 2 dan 3, ibu hamil membutuhkan tambahan 9 dan 13 mg zat besi dibandingkan dengan kebutuhan sebelum hamil. Biasanya dokter kandungan atau bidan akan memberikan suplementasi tambahan zat besi untuk ibu hamil.

Zat besi dalam bahan makanan terdapat dalam dua bentuk, yaitu besi heme dan besi non-heme. Besi heme terdapat dalam bahan makanan hewani, seperti daging sapi, ati ayam dan ati sapi, seafood, ikan, kerang, dan unggas. Sekitar 50 sampai 60% besi dalam daging sapi, ikan, dan unggas merupakan besi heme, dan sisanya merupakan besi non-heme. Sedangkan besi non-heme terutama terdapat pada bahan makanan nabati (kacang-kacangan, buah, sayur, biji-bijian, dan tahu), dan produk dairy (susu, keju, telur). Selain dari sumber alamiah tersebut, zat besi juga bisa didapatkan dari bahan makanan yang difortifikasi atau diperkaya seperti roti, pasta, dan sereal.

Besi heme lebih mudah diserap oleh saluran cerna dibandingkan dengan besi non-heme. Sedangkan untuk besi non-heme terdapat beberapa faktor yang dapat membantu penyerapannya (enhancer), seperti fruktosa (gula buah), asam askorbat (vitamin C), dan asam sitrat. Pahami pula bahwa penyerapan besi non-heme juga bisa dihambat oleh zat tanin yang ada pada teh dan kopi, oksalat pada bayam, cokelat dan teh, serta mineral lain seperti kalsium, zinc dan mangan. Bahkan minum kopi saat makan atau segera setelah makan dapat menurunkan penyerapan besi hingga 40% lho, Ayah dan Ibu!

Penyerapan besi non-heme (termasuk yang ada pada suplemen) membutuhkan kondisi yang asam pada lambung dan penyerapannya mudah dihambat oleh berbagai faktor, maka mengonsumsi suplemen besi sebaiknya dalam kondisi perut kosong dan tidak dikonsumsi bersama dengan suplemen lain. Selain itu saat makan, ada baiknya Ibu tidak mengonsumsi teh, minuman cokelat atau kopi agar penyerapan zat besi dapat optimal, dan gantilah dengan minuman tinggi vitamin C seperti jus buah ataupun buah potong!

Editor: drg Rizki Amalia

 

Sumber:

  1. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting 2018-2024. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan.
  2. Maternal Anemia and Pregnancy outcomes: a Systematic Review and Meta-analysis. Int J of Pediatrics 2016.
  3. The International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO) recommendation on adolscent, preconception, and maternal nutrition: “Think Nutrition First”. Int J of Gynecology and Obstetrics 2015.
  4. Essential Trace and Ultratrace Minerals. Advanced Nutrition and Human Metabolism, 6 edition. 2013.

 

 

Diet Bebas Gluten

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Saat ini kita sering sekali mendengar adanya makanan bebas gluten. Para influencer yang melakukan diet bebas gluten juga banyak yang memberikan testimonial bahwa tubuh menjadi terasa lebih sehat. Benarkah makanan bebas gluten itu lebih sehat? Apakah semua orang atau anak dapat mengikuti diet bebas gluten?

Apa itu gluten?

Gluten adalah protein yang ditemukan pada biji-bijian (grains) seperti gandum, rye, spelt dan barley. Protein utama pada gluten adalah glutenin dan gliadin. Gliadin inilah yang sering ditemukan pada masalah kesehatan.

Saat tepung terigu dicampurkan dengan air, protein gluten akan membentuk jaringan lengket dengan konsistensi seperti lem. Bentuk seperti lem tersebut yang membuat adonan elastis dan membuat roti mengembang ketika dipanggang dan juga enak dikunyah, memberikan tekstur empuk.

Bahan makanan bebas gluten yang berkembang dekade terakhir ini memiliki tingkat penjualan yang terus meroket. Penjualan makanan bebas gluten secara global diperkirakan mencapai $4,89 milyar pada tahun 2021, meningkat tajam dari $2,84 milyar pada tahun 2012. Peningkatan penjualan makanan bebas gluten ini terjadi bukan hanya karena banyaknya peningkatan konsumen yang memang membutuhkan diet bebas gluten, namun juga pada jumlah konsumen yang tidak membutuhkan diet bebas gluten, pembeli dengan alasan kesehatan, hingga trend yang juga meningkat.

Apakah semua orang dapat mengikuti diet bebas gluten?

Banyak sekali orang menerapkan diet bebas gluten untuk dirinya dan bahkan anaknya. Makanan bebas gluten memang aman untuk dimakan, tapi bukan berarti memiliki nilai kalori yang rendah. Banyak makanan dan snack bebas gluten memiliki kalori dan lemak yang tinggi. Selain itu, makanan ini seringkali juga tidak diperkaya dengan vitamin dan mineral. Sehingga, seseorang yang melakukan diet bebas gluten tanpa diawasi dokter gizi klinik tentunya akan meningkastkan risiko orang tersebut tidak mendapatkan beberapa zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Makanan bebas gluten seringkali rendah zat besi,kalsium, zinc, vitamin B12, folat dan juga serat.

Siapa saja yang membutuhkan diet bebas gluten?

Terdapat beberapa kondisi yang memerlukan diet bebas gluten yaitu:

  • Penyakit seliak (celiac disease)

Merupakan reaksi autoimun terhadap gluten. Diagnosis penyakit seliak dilakukan oleh dokter melalui serangkaian pemeriksaan mulai dari riwayat medis, pemeriksaan fisik hingga pemeriksaan darah atau biopsi. Anak-anak biasanya terdiagnosis penyakit seliak usia 6 bulan–2 tahun pada saat mulai MPASI mencoba makanan yang mengandung gluten. Gejala penyakit seliak tersering adalah diare, penurunan selera makan, sakit perut dan kembung, pertumbuhan terganggu, dan berat badan turun. Terapi satu-satunya untuk penyakit seliak adalah diet bebas gluten secara ketat.

  • Alergi gandum

Orang dengan alergi gandum memiliki reaksi imun terhadap protein di dalam gandum. Reaksi terhadap gandum tersebut dapat terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi gandum. Reaksi yang dapat dialami antara lain: mual, nyeri perut, gatal, bengkak pada bibir dan lidah, sulit bernafas atau anafilaksis. Orang dengan alergi gandum tidak dapat makan bahan makanan dari gandum tapi masih bisa mengonsumsi gluten dari bahan makanan selain gandum. Anak-anak dengan alergi gandum dapat mengalami perbaikan setelah dewasa, tapi satu-satunya yang harus dilakukan adalah diet bebas gandum.

  • Non-celiac gluten sensitivity

NCGS bukan merupakan respon autoimun (seperti penyakit seliak) ataupun bukan respon imun (seperti alergi gandum). Saat ini belum terdapat tes untuk menegakkan diagnosis sensitivitas gluten, namun dapat dilakukan pemeriksaan biopsy dan tes alergi untuk menyingkirkan diagnosis penyakit seliak atau alergi gandum. Selain itu, jika gejala yang dialami anak mengalami perbaikan setelah menjalani diet bebas gluten seringkali diagnosis sensitivitas gluten ditegakkan.

Bahan Makanan yang mengandung gluten

  • Makanan berbasis gandum seperti dedak gandum, tepung terigu, spelt, durum, kamut dan semolina
  • Jelai / barley
  • Gandum hitam/ rye
  • Triticale
  • Malt
  • Ragi

Di bawah ini adalah beberapa makanan yang mengandung bahan-bahan yang mengandung gluten:

  • Semua roti berbasis gandum.
  • Semua pasta berbasis gandum.
  • Kecuali berlabel bebas gluten.
  • Makanan panggang. Kue, muffin, pizza, remah roti dan kue kering.
  • Makanan ringan. Permen, bar muesli, kerupuk, makanan siap saji, kacang panggang, keripik rasa dan popcorn, pretzel.
  • Kecap asin, saus teriyaki, saus hoisin, bumbu, saus salad.
  • Bir, minuman beralkohol rasa.
  • Makanan lainnya. Couscous, kaldu (kecuali berlabel bebas gluten).

Cara termudah untuk menghindari gluten adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung bahan tunggal. Jika tidak, kita harus membaca label makanan dari sebagian besar makanan yang dibeli.

Oat sebenarnya merupakan bahan makanan bebas gluten secara alami. Namun, seringkali terkontaminasi dengan gluten, karena mungkin diproses di pabrik yang sama dengan makanan berbasis gandum.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber

  1. Transparency Market Research. Gluten-free Food Products Market
    to reach US$4.89 bn by 2021; Driven by Rising Number of Celiac Disease Patients across the globe: TMR. 2017.
  2. Elliott C. The Nutritional Quality of Gluten-Free Pro- ducts for Children. 2018;142(2):e20180525

Merkuri dalam Ikan dan Makanan Laut

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Untuk sebagian orang, konsumsi ikan dan makanan laut seringkali dihindari karena dianggap mengandung merkuri yang berbahaya. Wah, sayang sekali kalau demikian ya, padahal ikan merupakan salah satu sumber protein berkualitas tinggi. Selain itu, sebagian besar ikan memiliki kadar lemak rendah, dan lemak yang terdapat pada ikan merupakan lemak tidak jenuh eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA) yang bermanfaat bagi tubuh. Ikan juga merupakan sumber selenium, zinc, iodine, besi, serta vitamin B12, vitamin A dan D.

Merkuri atau yang dikenal juga dengan raksa merupakan elemen yang secara alamiah memang ada di udara, air, ataupun tanah.  Merkuri dapat juga merupakan kontaminan dari limbah pabrik maupun aktivitas pertambangan. Di dalam air atau sedimen, molekul merkuri ini akan berubah menjadi metilmerkuri yang sifatnya berbahaya untuk otak dan sistem saraf pusat apabila seseorang terpapar dalam jumlah berlebihan. Selain itu, paparan terhadap merkuri juga dapat menyebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim.

Hampir semua ikan mengandung setidaknya sejumlah kecil metilmerkuri karena metilmerkuri ini akan masuk melalui makanan ikan. Oleh sebab itu, metilmerkuri ini akan terdapat dalam kadar tinggi pada ikan-ikan berukuran besar yang memangsa ikan kecil dan pada ikan yang masa hidupnya lebih panjang.

Ada anggapan bahwa ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari ikan dan makanan laut agar terhindar dari paparan merkuri. Akan tetapi, berbagai penelitian telah menyimpulkan bahwa nutrisi pada ikan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin selama kehamilan dan selama masa pertumbuhan anak.

Selanjutnya, bila kita harus tetap mengonsumsi ikan, maka apakah dengan mencuci, membersihkan, dan mengolah ikan dapat menurunkan kadar merkuri dari ikan yang akan dikonsumsi? Jawabannya tidak, ya Ayah dan Ibu Kejora. Merkuri terdapat di seluruh jaringan tubuh ikan, sehingga mencuci dan memasaknya tidak akan mengurangi kadar merkuri. Cara paling tepat untuk mengurangi jumlah paparan merkuri adalah dengan memilih ikan yang akan dikonsumsi berdasarkan daftar yang dikeluarkan oleh US EPA (Environmental Protection Agency) dan US FDA (Food and Drug Administration) berikut ini:

  1. Best Choices (dikonsumsi 2 hingga 3 saji per minggu), contohnya adalah:
  • anchovy
  • atlantic mackerel
  • black sea bass
  • catfish
  • kepiting
  • herring
  • lobster
  • tiram
  • salmon
  • sardin
  • scallop
  • udang
  • cumi
  • tuna, canned light
  1. Good choices (dikonsumsi 1 saji per minggu), contohnya adalah:
  • kerapu
  • halibut
  • mahi-mahi
  • kakap
  • tuna, albacore
  • tuna, yellowfin
  1. Choices to avoid (kadar merkuri tertinggi)
  • king mackerel
  • marlin
  • hiu
  • swordfish
  • tuna, bigeye

Seberapakah yang disebut dengan 1 saji/serving?

  • Untuk dewasa: 4 oz (1 oz = 28.3g)
  • Untuk anak usia 2 tahun: 1 oz dan ditingkatkan hingga 4 oz saat anak berusia 11 tahun

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. FDA News Release: FDA and EPA issue final fish consumption advice, January 2017.
  2. 2015-2020 Dietary Guidelines for Americans
  3. World Health Organization, Mercury and health, March 2017

Boba, Minuman Kekinian untuk Anak

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, M.Gizi. Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Gerai minuman bubble teashop memang menjadi tren dan sangat menyenangkan sekarang ini. Tentu saja, anak dan remaja juga seringkali mengonsumsi minuman kekinian tersebut. Perpaduan bubble pearl atau tapioca pearl yang kenyal dan manis dipadu dengan beragam minuman manis seperti teh, susu, kopi, sirup dengan berbagai rasa menjadikan minuman ini favorit untuk semua kalangan.

Berita yang cukup menghebohkan beberapa bulan yang lalu adalah seorang anak remaja berusia 14 tahun di Cina diberitakan mengalami sakit perut dan sembelit sehingga dibawa ke rumah sakit. Beberapa hari sebelumnya, anak tersebut seringkali mengonsumsi bubble tea. Setelah dilakukan tindakan CT scan ternyata ditemukan gambaran butiran bola-bola di dalam  perut anak tersebut yang cukup banyak. Sehingga anak tersebut diberikan pencahar untuk dapat mengeluarkan tumpukan bola-bola tersebut.

Bubble pearl ini terbuat dari tepung kanji atau tapioka, dicampur sedikit gula. Beberapa produk ada yang ditambahkan tepung terigu. Untuk membentuk bola-bola tapioka, semua bahan dicampur dengan air, diuleni, dibentuk bulat, kemudian direbus. Tapioka merupakan pati yang diekstrak dari akar singkong, komposisi gizi  terdiri dari karbohidrat  dan sedikit protein. Tapioka yang mengandung pati resisten tersebut sulit dicerna oleh tubuh  dan cepat memberikan rasa kenyang.

Bubble pearl dalam minuman tersebut seringkali disajikan dengan sedotan besar yang meningkatkan risiko tersedak pada anak terutama pada anak dibawah 4 tahun. Bubble pearl yang dihisap dapat tidak sengaja masuk ke dalam saluran pernapasan. Jika ingin mencoba bubble tea/boba, pastikan anak berusia di atas 4 tahun untuk mengurangi risiko tersedak.

Bubble tea seringkali mengandung kafein karena dicampur dalam teh hitam atau hijau dan disajikan dalam gelas yang cukup besar. Diperkirakan dalam 400 ml bubble tea mengandung kafein sebesar 130 mg, yang merupakan kadar yang cukup besar untuk anak kecil. Selain itu, bubble tea dengan berbagai campuran di dalamnya dapat mencapai energi sebesar 500 kalori dalam gelas terbesarnya. Kalori tersebut merupakan 1/3 kebutuhan anak dalam sehari. Kalori sebesar itu, setengahnya (200 kalori) berasal dari lemak dan sisanya adalah berupa gula. Asupan gula dan lemak yang cukup tinggi ini dapat meningkatkan risiko untuk obesitas pada anak.

Jika ingin mengonsumsi bubble tea/boba untuk anak pastikan tidak terlalu sering (1 kali dalam 1-2 minggu) dan setelah makan utama. Pilihlah gelas dengan ukuran terkecil dan tingkat kemanisan yang terendah. Hindari memilih susu yang ditambahkan dalam boba berupa krimer atau susu kental manis. Orang tua juga dapat meminta untuk mengurangi atau bahkan tidak menggunakan bubble pearl untuk anak. Jika menambahkan bubble pearl, minumlah boba tersebut dalam posisi duduk/ tidak berjalan dan sambil bicara.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Pentingnya Air untuk Tubuh Kita

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Salam sehat, Keluarga Kejora!

 

Selama ini kita sudah sering mendengar atau membaca bagaimana sebaiknya kita menjaga kesehatan: dengan keseimbangan nutrisi yang baik, aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup. Mungkin banyak dari kita yang juga sudah pernah mendengar berapa banyak air yang harus kita konsumsi setiap hari, bukan? Ya, untuk seorang dewasa dianjurkan untuk minum sedikitnya 8 gelas cairan sehari. Untuk mendapatkan nutrisi yang seimbang, manusia memang membutuhkan tidak hanya makanan yang bergizi, namun juga air yang cukup.

 

Jumlah sebanyak 8 gelas ini tidak harus berasal dari air putih saja, namun juga dari sayuran dan buah-buahan yang mengandung banyak air seperti selada, tomat, semangka, lemon, berry, jeruk, dan timun. Ingat, walaupun jus buah juga merupakan alternatif untuk mendapatkan kebutuhan cairan harian, jus buah yang seringkali dijual di swalayan mengandung banyak gula tambahan atau pemanis buatan. Selain itu, minuman yang seringkali dipasarkan untuk kesehatan seperti minuman ion juga seringkali memiliki kandungan gula dan pemanis buatan yang tidak kalah banyak dibandingkan dengan minuman soda.

 

Tahukah Ayah dan Bunda, manusia dapat bertahan hidup selama lebih dari 3 minggu tanpa makanan sama sekali, sedangkan hanya mampu bertahan hidup 3 hari tanpa air! Tentu saja banyak faktor seperti kebutuhan cairan individual yang dipengaruhi usia dan berat badan, seberapa banyak konsumsi cairan dan pemakaian cairan tubuh, suhu dan aktivitas fisik.

 

Sebenarnya, seberapa pentingkah air? Apa efek yang akan kita rasakan ketika kita dehidrasi? Apakah dehidrasi berbahaya?

 

Sebanyak 60% tubuh manusia terdiri dari air, dan setiap sel tubuh kita membutuhkan air untuk berfungsi optimal. Apa saja sih, alasan air penting untuk tubuh kita?

 

1. Produksi Air Liur (Saliva)

Air adalah komponen utama penyusun air liur. Saliva mengandung sedikit garam elektrolit, lendir, dan enzim. Saliva dibutuhkan untuk memecahkan makanan padat dan mempertahankan kesehatan mulut. Tubuh kita dapat memproduksi saliva yang cukup jika konsumsi cairan kita cukup. Produksi saliva akan menurun seiring dengan bertambahnya usia, juga beberapa jenis obat-obatan atau terapi.

 

2. Mengatur Suhu Tubuh

Ketika kita melakukan aktivitas fisik dan berada pada lingkungan yang panas, tubuh kita akan berkeringat. Keringat ini juga merupakan cara untuk mempertahankan suhu tubuh tetap dingin. Ketika kita tidak cukup minum air, suhu tubuh kita dapat meningkat dan kadang-kadang terasa seperti demam. Jadi, saat melakukan aktivitas fisik yang mengeluarkan keringat lebih banyak daripada biasanya, kita harus memastikan cukup mengonsumsi air supaya tidak terjadi dehidrasi.

 

3. Air berfungsi untuk lubrikasi/pelumas yang melindungi jaringan, persarafan tulang  belakang, dan persendian.

Konsumsi air yang cukup akan menyediakan cairan yang cukup untuk melindungi bagian persendian, saraf tulang belakang, dan jaringan. Pelumas yang cukup akan mendukung kegiatan aktivitas fisik dan mengurangi rasa tidak nyaman pada kondisi seperti radang sendi.

 

4. Tubuh kita menggunakan air untuk membuang sisa metabolisme melalui pernafasan, urin, dan buang air besar.

Ketika kita berkeringat, kita membutuhkan air untuk menggantikan cairan yang terbuang dari keringat. Air yang cukup juga diperlukan untuk mencegah konstipasi (sembelit) sehingga bisa buang air besar teratur. Organ ginjal kita juga menggunakan air untuk proses filtrasi. Cukup air akan membantu kerja ginjal dan mencegah terbentuknya batu ginjal

 

5. Air memaksimalkan performa fisik

Konsumsi air yang cukup selama aktivitas fisik atau olahraga sangat penting. Atlit dapat mengalami kehilangan cairan 6-10% dari nerat badannya selama melakukan aktivitas fisik. Air yang cukup akan mempengaruhi kinerja otot, kekuatan dan ketahanan seseorang dalam melakukan aktivitasnya. Olahraga dengan intensitas tinggi seperti basket memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadi dehidrasi. Olahraga intensitas tinggi di tengah udara dan cuaca panas, tanpa konsumsi air dapat berdampak serius: tekanan darah rendah dan hipertermia (suhu tubuh yang meningkat). Dehidrasi ekstrim dapat menyebabkan kejang dan bahkan kematian.

 

6. Mencegah konstipasi

Mengonsumsi sayur dan buah-buahan untuk sumber serat bukanlah satu-satunya cara untuk mencegah konstipasi/sembelit. Konsumsi air yang cukup juga sangat penting untuk kelancaran saluran cerna: air yang cukup akan membantu pergerakan makanan dalam usus. JIka Ayah atau Ibu mengalami sembelit, cobalah untuk mengonsumsi air terlebih dulu.

 

7. Membantu proses pencernaan

Air yang diminum saat sebelum, sesudah maupun pada saat makan, dapat membantu tubuh untuk memecahkan makanan lebih mudah. Dengan demikian, zatgizi yang berasal dari bahan makanan juga akan diserap tubuh dengan lebih efektif.

 

8. Membantu absorpsi zat gizi

Selain membantu proses pemecahan makanan, air juga membantu kelarutan vitamin dan mineral dari bahan makanan yang kita konsumsi. Setelah itu, air juga membantu menghantarkan komponen vitamin ini ke seluruh tubuh.

 

9. Menjaga berat badan

Beberapa penelitian sudah membuktikan, efek air putih yang cukup dapat membantu seseorang menjaga berat badannya.

 

10. Membantu menjaga kadar oksigen dalam sirkuasi darah

 

11. Meningkatkan sistem pertahanan/kekebalan tubuh

Konsumsi air yang cukup dapat mengurangi atau mencegah beberapa penyakit seperti konstipasi, batu ginjal, asma-akibat-olahraga, infeksi saluran kemih, juga hipertensi.

 

12. Meningkatkan produksi energi

Air yang cukup akan mempengaruhi energi yang kita hasilkan dalam tubuh. Air dapat mengaktivasi metabolisme yang terjadi dalam tubuh. Sebuah penelitian menemukan, konsumsi 500 ml air putih dapat meningkatkan metabolisme tubuh hingga 30%.

 

13. Berperan dalam fungsi kognitif otak

Hidrasi cairan merupakan kunci untuk memiliki fungsi kognitif yang baik. Dehidrasi akan mengakibatkan kurangnya fokus, tidak mengantuk, dan gangguan memori jangka pendek.

 

14. Membantu dalam menjaga mood

Air juga berperan dalam fungsi kognitif otak. Kurangnya konsumsi air, dehidrasi, akan mengganggu mood. Dehidrasi dapat menyebabkan perasaan lelah, bingung dan cemas.

 

15. Membantu dalam mencegah proses penuaan (anti aging)

Air yang cukup akan menjaga hidrasi kulit. Selain itu, air juga akan membantu dalam proses pembentukan kolagen. Namun, air saja tidak cukup untuk mencegah proses penuaan. Proses ini juga dipengaruhi gen, juga proteksi terhadap sinar matahari.

 

16. Mencegah Dehidrasi

Dehidrasi adalah hasil ketika kita tidak mengonsumsi cairan yang cukup. Dehidrasi berat dapat berakibat sangat berbahaya, antara lain: pembengkakan ukuran otak, gagal ginjal, juga kejang.

 

Berikut ini adalah beberapa tips untuk mencegah dehidrasi dan memastikan kebutuhan cairan kita tercukupi:

  • Selalu membawa botol air minum kemanapun kita pergi
  • Mempunyai alarm pengingat seberapa banyak yang sudah kita minum dan mengingatkan kita untuk minum, jika memang kita sering lupa minum.

Editor: drg. Valeria Widita

 

 

 

Tepatkah Pemberian Madu untuk Bayi?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Kali ini kita akan menjawab pertanyaan ‘tepatkah pemberian madu untuk bayi?’

Tentu saja jawabannya tidak, ya Ayah dan Ibu. Meskipun madu diketahui dapat meredakan gejala batuk pada anak, pemberian madu pada anak di bawah usia 1 tahun dilarang oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) dan the American Academy of Pediatrics (AAP). Mengapa demikian? Karena madu bisa saja terkontaminasi oleh spora bakteri Clostridium botulinum yang bisa menyebabkan penyakit infant botulism.

Saluran cerna pada bayi di bawah usia 1 tahun masih belum sempurna (immature), sehingga spora bakteri Clostridium botulinum dapat tumbuh menjadi bakteri aktif. Selanjutnya bakteri tersebut akan menghasilkan racun yang akan menghambat kerja sistem saraf. Bagaimana spora bakteri ini bisa ada pada madu? Sebenarnya spora ini terdapat di mana saja di alam, seperti di air, tanah, debu, dan bahkan udara. Spora ini tidak berbahaya, namun dalam kondisi kurang oksigen, spora ini bisa berkembang menjadi bakteri dan menghasilkan toksin atau racun. Nah, karena madu biasanya dikonsumsi mentah tanpa diproses (tanpa dipanaskan, pasteurisasi, sterilisasi, atau iradiasi), maka bisa saja madu mengandung spora yang masih dorman (belum aktif) sehingga ketika masuk ke dalam saluran cerna bayi yang belum sempurna akan berubah menjadi bakteri aktif.

Karena toksin bakteri ini menghambat kerja saraf, maka gejala yang timbul adalah kelemahan otot, mulai dari konstipasi (sulit buang air besar), bayi tampak gelisah, menangis lemah, sulit makan, dehidrasi, sampai akhirnya bisa melumpuhkan otot-otot pernapasan sehingga terjadi gagal napas.

Oleh sebab itu, ingatlah untuk selalu memberikan ASI eksklusif untuk bayi sampai usia 6 bulan. Pemberian ASI eksklusif berarti tidak memberikan cairan tambahan apapun kepada bayi, termasuk air putih yang ditambahkan madu. Selain itu, jangan tambahkan madu pada MP-ASI bayi hingga usia 12 bulan. Saluran cerna anak di atas usia 1 tahun sudah lebih sempurna/mature, sehingga spora bakteri ini tidak akan dapat berkembang menjadi bakteri aktif dan madu sudah boleh diberikan.

 

Editor: drg Rizki Amalia

 

Referensi:

American Academy of Pediatric

Center of Disease Control Prevention

Permen untuk Anak?

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Anak-anak dilahirkan dengan preferensi untuk rasa manis. Telah diketahui bahwa cairan ketuban dan juga pada ASI memiliki rasa yang manis. Paparan alami di dalam rahim dan ASI, menjelaskan bagaimana preferensi rasa manis dimulai. Penelitian juga menunjukkan bahwa bayi mengalami relaksasi dan ketenangan setelah mencicipi sesuatu yang manis.

Paparan awal terhadap makanan manis tidak hanya menyebabkan peningkatan preferensi untuk anak-anak, tetapi juga preferensi untuk kadar gula yang lebih tinggi dalam makanan. Respons kesenangan di otak diaktifkan oleh makanan yang sangat enak, seperti yang mengandung gula, lemak, dan garam. Komponen makanan ini memicu bahan kimia otak yaitu dopamine yang memberikan efek kesenangan untuk tubuh. Begitu anak-anak mengalami kesenangan dari makan makanan tertentu, mereka mungkin merasakan keinginan untuk memakannya lagi.

Di Indonesia banyak terdapat permen dan manisan yang tersedia untuk anak-anak, yang seringkali menggunakan bahan pewarna makanan. BPOM telah mengatur dan menjamin keamanan pewarna makanan buatan yang beredar, sehingga makanan dengan pewarna makanan dianggap aman untuk dikonsumsi.

Namun, beberapa anak dapat mengalami perubahan perilaku, seperti hiperaktif, ketika mereka mengkonsumsi makanan dengan warna makanan buatan. Apalagi anak dengan  ADHD, mungkin saja mengalami perilaku yang memburuk ketika makan makanan dengan pewarna makanan.

Seorang anak yang menunjukkan perubahan perilaku ketika dia makan permen, tidak selalu disebabkan oleh gula saja, walaupun memang seringkali gula menjadi pemicu utama. Asupan gula yang tinggi akan meningkatkan kadar dopamin dalam tubuh,  lalu dengan cepat turun ketika kadar gula darahnya merosot. Penurunan gula darah yang cepat ini dapat menimbulkan perubahan perilaku seperti mengamuk, berakting, merengek, atau perilaku negatif lainnya. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa anak tampak lebih sensitif terhadap gula dibandingkan anak lainnya.

Permen tentu saja meningkatkan total kalori asupan dalam diet anak, tetapi hanya memberikan sedikit nutrisi. Rekomendasi gula untuk anak-anak adalah dari 3 hingga 8 sendok teh gula setiap hari, tergantung pada usia. Kenyataannya, sekarang anak yang berusia kurang dari 1 tahun dapat mengkonsumsi gula 3-4 kali lipat dari rekomendasinya. Bahkan jumlah konsumsi gula ini dapat mencapai 21 sendok teh per hari untuk usia 4 -8 tahun dan 34 sendok teh per hari untuk remaja.

Selain gula dalam permen, perhatikan juga gula tersembunyi dalam makanan anak-anak sehari-hari yang tampak dan dipasarkan sebagai jenis makanan sehat seperti yoghurt buah, jus buah, saus buah MPASI, saus spageti, sereal, dan granola.

Gula tersembunyi tersebut tentu saja juga menambah total kalori harian untuk anak.

Strategi terbaik untuk mengendalikan asupan permen (gula) untuk anak adalah dengan memiliki kebijakan di rumah Anda masing-masing. Idealnya, pemberian permen dan makanan/minuman tinggi gula sudah direncanakan kapan akan disajikan, dengan menentukan frekuensi dan jumlah yang boleh dikonsumsi sehingga kesehatan anak tidak terganggu.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, Sp.GK