Pit and Fissure Sealant

 

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Semoga sehat selalu ya..
Apakah sudah pernah mendengar istilah pit and fissure sealant sebelumnya?
Atau malah masih asing dengan istilah tersebut? Pit and fissure sealant itu dapat melindungi gigi dari proses gigi berlubang loh Ayah dan Ibu. Yuk kita bahas lebih lanjut..

 

Apakah sealant itu dan bagaimana cara kerjanya?

Sealant adalah salah satu cara yang aman dan tanpa rasa sakit yang dilakukan untuk melindungi gigi Anda maupun si kecil dari proses gigi berlubang. Sealant merupakan lapisan pelindung yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi-gigi geraham yang memiliki ceruk-ceruk yang sempit dan dalam (pit dan fissure). Kondisi gigi dengan pit dan fissure yang dalam sangat berpotensi menjadi tempat menumpuknya sisa makanan. Jika tidak dibersihkan, maka akan berubah menjadi pusat berkembangnya bakteri, yang lama kelamaan bisa menyebabkan karies. Dengan kata lain, pit dan fissure yang dalam merupakan habitat utama bakteri Streptococcus mutans. Lapisan sealant ini dapat menjadi pelindung dari sisa makanan serta bakteri agar tidak masuk dan terjebak dalam ceruk-ceruk tadi, sehingga menyebabkan terjadinya karies. Bahan yang digunakan yaitu resin komposit dan ionomer kaca fuji VII.

 

Kapan pit and fissure sealant dapat dilakukan?

Sealant dapat dilakukan segera setelah gigi geraham permanen pertama tumbuh, yaitu saat anak berusia 6-7 tahun. Selain itu, selanjutnya pada saat gigi geraham permanen kedua tumbuh, yaitu saat anak berusia 11-14 tahun.

 

Apakah setelah melakukan prosedur sealant, gigi harus tetap dibersihkan?

Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa prosedur ini tidak dapat menggantikan sikat gigi maupun flossing. Namun, prosedur ini dapat mencegah timbulnya lubang dan menghentikan proses karies di tahap awal sehingga lubang gigi tidak bertambah besar dan parah. Faktanya, sealant dapat menurunkan risiko lubang pada gigi geraham belakang hingga 80%. Pada Oktober 2016, CDC (Centers for Disease Control) melaporkan pentingnya sealant pada anak usia sekolah. Menurut CDC, anak usia sekolah tanpa sealant berisiko 3 kali lebih besar untuk mengalami lubang pada gigi dibandingkan dengan anak yang telah menjalani prosedur sealant.

 

Sumber:

https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/dental-sealants

https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/s/sealants

https://jada.ada.org/action/showPdf?pii=S0002-8177%2814%2961434-3

https://www.dentalhealth.org/pit-and-fissure-sealants

Gigi pada Bayi Baru Lahir: Apakah Normal?

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo Ayah dan Ibu kejora,

Apakah pernah ada yang memiliki pengalaman bayi anda baru saja lahir namun sudah memiliki gigi dalam rongga mulutnya?

Apakah yang Dimaksud dengan Natal Teeth?

Gigi susu anak biasanya pertama kali mulai tumbuh paling cepat di usia 4-7 bulan. Gigi yang pertama kali tumbuh adalah gigi seri pada rahang bawah. Namun, apabila bayi anda sudah memiliki gigi sejak baru lahir, maka kondisi seperti ini memiliki istilah yang disebut “natal teeth”. Natal teeth ini cukup jarang terjadi, hanya terjadi sekitar 1 kasus dari 2000 kelahiran.

Apakakah Penyebab dan Faktor Risiko Natal Teeth?

Penyebab dari natal teeth belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa kondisi medis yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya natal teeth yaitu pada bayi dengan celah bibir dan langit-langit mulut, serta bayi yang lahir dengan kelainan pada struktur dentin (salah satu struktur pembentuk gigi). Ada pula beberapa sindrom yang dapat menyebabkan terjadinya natal teeth, yaitu sindrom: Sotos, Hallerman-Streiff, Pierre-Robin, dan Ellis-van Creveld.

Selain kondisi medis di atas, ada beberapa faktor risiko juga yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya natal teeth, yaitu faktor keturunan (biasanya ada anggota keluarga yang juga memiliki kejadian serupa), serta adanya malnutrisi selama masa kehamilan.

Apa sajakah Tipe-tipe Natal Teeth?

Kebanyakan kasus yang terjadi hanya melibatkan satu gigi saja. Gigi yang paling sering muncul adalah gigi seri rahang bawah, diikuti dengan gigi seri rahang atas. Sangat jarang sekali ditemukan natal teeth pada gigi geraham belakang.

Apabila bayi anda mengalaminya, dokter yang merawat dapat menentukan tipe mana yang dimiliki oleh bayi anda dari 4 tipe di bawah ini, yaitu:

  1. Natal teeth yang tumbuh dengan sempurna dan memiliki akar, walaupun gigi tersebut goyang.
  2. Gigi yang sangat goyang dan tidak memiliki akar.
  3. Gigi yang sudah terlihat baru muncul pada permukaan gusi.
  4. Gigi yang baru akan muncul dan masih sedikit tertutup permukaan gusi.

Tipe yang dimiliki oleh bayi anda akan sangat menentukan risiko untuk terjadinya komplikasi lebih lanjut, dan juga dapat membantu dokter untuk menentukan perlu atau tidaknya untuk melakukan perawatan.

Kapan Perlu Dilakukan Perawatan pada Natal Teeth?

Natal teeth yang tidak goyang biasanya tidak perlu dirawat, namun bila ada bagian mahkota yang tajam, maka bagian tersebut dapat diasah/dibulatkan oleh dokter gigi. Apabila tipe natal teeth goyang dan apalagi tidak memiliki akar, maka dapat dilakukan pencabutan. Hal ini dikarenakan tipe yang seperti ini dapat menyebabkan bayi anda mengalami peningkatan risiko tersedak karena tidak sengaja menelan gigi tersebut. Selain itu juga adanya gangguan menyusui, luka pada lidah, serta luka pada puting ibu pada saat menyusui.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

Menjaga Kebersihan Rongga Mulut Diri dan Keluarga di Masa Pandemi

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu kejora, pandemi virus Corona yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia benar-benar telah mengubah cara kita dalam mengakses pelayanan kesehatan yah.. Tidak terkecuali dalam hal perawatan gigi.

Virus ini tidak pandang bulu dan dapat mengenai siapapun, dapat ditularkan melalui droplet yang dapat menyebar melalui batuk atau bersin. Bahkan saat seseorang sedang melakukan pembicaraan normal (yang seringkali kita abaikan). Partikel droplet yang besar (yang dapat terlihat / kasat mata) dapat mendarat dalam jarak beberapa meter dari kita, namun partikel yang lebih kecil dapat melayang di udara dan jatuh pada jarak yang lebih jauh. Oleh karena itulah, penting bagi kita untuk selalu menggunakan masker saat bepergian, sering mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah,  serta mengatur jarak aman dengan orang sekitar. Selain itu, kebiasaan buruk meludah sembarangan juga harus dihentikan. Hal-hal tersebut sangat penting, tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita terlebih lagi keluarga yang kita sayangi.

Bisakah kita tetap pergi ke dokter gigi dalam masa pandemi ini?

Hampir semua pelayanan gigi hanya melayani tindakan kegawatdaruratan untuk meminimalkan penyebaran virus Corona. Oleh karena itu, apabila ingin melakukan kunjungan ke dokter gigi, terlebih dahulu pastikan perawatan apa saja yang masih bisa dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat maupun yang biasa dikunjungi. Sebisa mungkin, hindari melakukan kunjungan tanpa melakukan perjanjian. Bersiaplah apabila mengalami penundaan ataupun pembatalan, bahkan untuk jadwal perawatan yang telah dibuat jauh hari.

Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut di masa pandemi ini?

Pandemi COVID-19 ini sepertinya akan tetap berada di sekitar kita selama beberapa bulan ke depan, atau terburuknya, bahkan dalam jangka waktu tahunan. Oleh karena itu, selama Anda tidak memiliki kasus kegawatdaruratan, maka menjaga kebersihkan gigi dan mulut sangatlah penting.

Hal-hal yang dapat dilakukan, antara lain adalah:

  • Jangan pernah berbagi sikat gigi dengan orang lain

Tidak peduli seberapa dekat hubungan anda dengan orang sekitar yang tinggal serumah dengan Anda (bahkan dengan keluarga terdekat sekalipun), jangan pernah bertukar / berbagi sikat gigi Anda dengan siapapun. Sikat gigi adalah barang personal yang tidak seharusnya dapat dipinjamkan / diberikan pada orang lain. Hal ini merupakan salah satu cara baik virus, maupun penyakit lain dapat ditularkan. Pastikan juga untuk menyimpan sikat dalam gelas secara terpisah satu sama lain dengan anggota keluarga lainnya, dan jangan menyimpan sikat gigi dalam wadah tertutup terutama bila baru saja digunakan agar tidak lembab.

  • Gantilah sikat gigi Anda secara rutin

Gantilah sikat gigi paling tidak 3 bulan sekali atau bahkan lebih cepat apabila bulu sikat sudah terlihat rusak sebelum jangka waktu tersebut. Hal ini sangat penting agar Anda dapat tetap menyikat gigi dengan efektif, karena bulu sikat yang telah rusak tidak dapat membersihkan dengan maksimal. Mengganti sikat gigi Anda secara rutin dapat meminimalkan penyebaran bakteri. Apabila sebelumnya Anda telah terinfeksi virus Corona, maka segera ganti sikat gigi Anda.

  • Pastikan untuk menutup penutup toilet sebelum disiram

Tempat penyimpanan sikat gigi pada saat tidak dipakai sangatlah penting. Bila tempat penyimpanannya dekat dengan toilet, maka setiap seseorang melakukan prosedur penyiraman / flushing, maka ada kemungkinan cipratan beserta virus maupun bakteri yang dapat keluar dari toilet dan mendarat pada permukaan sikat gigi. Oleh karena itu, pastikan letak sikat gigi anda tidak berdekatan dengan toilet dan lebih baik lagi tutuplah penutup toilet sebelum disiram.

  • Bersihkan kamar mandi secara rutin

Kamar mandi kita adalah tempat dimana kita biasanya membersihkan diri, serta menyimpan sikat gigi, handuk, dan beberapa barang personal lainnya. Oleh karena itu, bersihkan kamar mandi secara teratur dengan produk berbahan dasar pemutih.

  • Jangan lupa untuk tetap melakukan hal-hal mendasar

Sikat gigi Anda 2 kali sehari (saat pagi dan malam menjelang tidur) dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Gunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi yang tidak dapat terjangkau sikat gigi. Selain itu, perbanyak minum air putih dan kurangi asupan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

Kebiasaan yang Baik untuk Kesehatan Gigi Bayi dan Balita

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Hai Ayah dan Ibu Kejora..

Apakah Ayah dan Ibu tahu, bahwa gigi pada anak sudah memiliki risiko untuk menjadi berlubang sejak pertama kali tumbuh?

Proses lubang/pembusukkan gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda seringkali disebut dengan “baby bottle tooth decay”atau “early childhood caries”. Namun, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir. Berita baiknya, lubang pada gigi anak dapat dicegah, terutama dengan cara menjaga kebiasaan yang baik sedini mungkin.

Yuk, kita simak tanya jawab dengan drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA yang akan menjelaskan lebih lanjut tentang kesehatan gigi  pada bayi dan balita.

Dok, seperti apa sih proses tumbuh gigi (teething) itu?

Tumbuh gigi merupakan salah satu ritual awal dalam fase kehidupan. Biasanya, gigi sulung pada anak akan lengkap berjumlah 20 gigi pada saat anak sudah berusia 3 tahun. Seiring dengan bertumbuhnya anak, rahang mereka juga akan berkembang dan memberi ruang bagi tumbuhnya gigi permanen. Gigi depan anak (4 gigi pertama) biasanya mulai tumbuh saat usia 6 bulan, walaupun ada pula anak-anak yang belum memiliki gigi sampai usia 12 atau 14 bulan. Saat gigi mulai tumbuh, beberapa bayi akan rewel dan mudah marah, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau mengiler lebih banyak daripada biasanya. Diare, ruam, dan demam bukanlah gejala normal dari bayi yang akan tumbuh gigi. Maka, apabila bayi mengalami gejala tersebut, segeralah hubungi dokter. Ayah dan Ibu, urutan pertumbuhan gigi sulung pada anak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Dok, apakah ada langkah mudah untuk menjaga kesehatan gigi?

Ada lima langkah yang dapat dilakukan yaitu menyikat gigi dengan pasta gigi mengandung fluoride, membatasi penggunaan alat makan bersama dan empeng, makan makanan sehat (sayur dan buah), berkunjung rutin ke dokter gigi dan mintalah dokter gigi untuk melakukan pelapisan ceruk gigi pada anak.

Dok, bagaimana sih cara menjaga kesehatan mulut bayi?

Mulailah membersihkan rongga mulut bayi sejak beberapa hari setelah proses kelahiran. Caranya adalah dengan mengusap gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.

Lalu dok, bagaimana cara membersihkan gigi pada anak?

  • Untuk anak dengan usia kurang dari 3 tahun, orangtua/pengasuh harus mulai menyikat gigi anak segera setelah gigi pertama tumbuh secara perlahan. Caranya adalah dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.

  • Sikatlah gigi dengan menggunakan sikat gigi anak dan pasta gigi yang mengandung fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun. Apabila anak sudah memiliki 2 gigi yang saling berkontak satu sama lain, mulailah untuk menggunakan dental floss. Cara ini dilakukan hingga Ayah dan Ibu yakin bahwa anak dapat menyikat gigi sendiri, yaitu saat gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik saat anak sudah berusia 8-9 tahun. Setelah itu, dianjutkan dengan mengawasi kegiatan sikat gigi anak.

  • Kegiatan menyikat gigi dilakukan 2 kali sehari (pagi dan malam hari) atau sesuai dengan saran dokter gigi. Selalu awasi anak saat menyikat gigi dan ingatkan agar tidak menelan pasta gigi secara berlebihan.

Kapan dilakukan kunjungan pertama ke dokter gigi?

Mulailah jadwalkan kunjungan ke dokter gigi segera setelah gigi sulung anak pertama kali muncul. ADA (American Dental Association) merekomendasikan kunjungan pertama ke dokter gigi 6 bulan setelah gigi pertama anak mulai tumbuh dan paling lambat dilakukan saat anak berusia 1 tahun. Untuk membuat kunjungan terasa menyenangkan, lakukan hal berikut:

  • Pertimbangkan untuk membuat kunjungan di pagi hari saat anak cenderung tenang dan kooperatif.
  • Simpan kekhawatiran/kecemasan yang Ayah dan Ibu miliki dan jangan tunjukkan kepada anak. Anak dapat merasakan emosi Ayah dan Ibu, sehingga harus ditunjukkan emosi yang positif.
  • Hindari menggunakan kunjungan sebagai hukuman atau ancaman.
  • Hindari menyuap/menyogok anak.
  • Komunikasikan pada anak mengenai kunjungan ke dokter gigi.

 

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.mouthhealthy.org/en/babies-and-kids/healthy-habits

Baby Bottle Tooth Decay

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Ada anggapan bahwa, “Gigi sulung kan hanya sementara, dok… Nanti juga kalau rusak akan diganti dengan gigi permanen.”

Gigi sulung memang hanya sementara, namun tetap sangat penting untuk dijaga. Coba Ayah dan Ibu pikirkan lagi ya..

Anak-anak membutuhkan gigi yang sehat dan kuat untuk mengunyah makanan, berbicara, serta tersenyum. Gigi sulung juga berguna sebagai pemandu agar gigi permanen dapat tumbuh dengan benar. Oleh karena itu, sangat penting untuk mulai memperkenalkan cara menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan akan berlanjut hingga anak beranjak dewasa.

Lubang pada gigi sulung sangat rentan untuk terjadi. Bila lubang pada gigi sulung tidak dirawat, maka bisa timbul rasa sakit dan infeksi. Bahkan, apabila lubang pada gigi sudah sangat parah, maka gigi sulung harus dicabut. Hal ini akan menyebabkan beberapa masalah seperti asupan nutrisi anak yang dapat terganggu akibat anak kesulitan untuk makan, masalah dalam berbicara, serta dapat mengganggu perkembangan gigi permanen. Selain itu, kemungkinan gigi permanen tumbuh berantakan atau berjejal, akan semakin besar.

Apakah itu “baby bottle tooth decay”?

Proses pembusukan atau lubang gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda disebut dengan “Baby bottle tooth decay” atau “Early childhood caries”. Kondisi ini terjadi saat cairan yang manis atau bergula alami, seperti susu (ASI, susu formula, susu UHT) atau jus buah, menempel pada gigi bayi dan anak dalam waktu yang lama.

Bakteri dalam rongga mulut akan tumbuh dengan subur pada lingkungan yang kaya akan gula tersebut, kemudian akan menghasilkan produk asam yang akan menyerang dan melemahkan struktur gigi.

Apa penyebabnya?

Salah satu penyebab tersering adalah frekuensi cairan manis yang terlalu lama berkontak dengan gigi. Hal ini dapat terjadi saat bayi tertidur dengan menggunakan botol yang diisi dengan cairan manis, atau empeng yang telah dicelup pada cairan gula atau sirup.  Memberikan cairan manis baik saat tidur siang maupun malam hari sangat berbahaya. Hal tersebut dikarenakan jumalh aliran saliva atau air liur berkurang pada saat tidur. Kurangnya aliran saliva menyebabkan pembersihan sisa cairan manis tidak berjalan dengan baik.

Lubang pada gigi juga dapat disebabkan oleh bakteri yang ditularkan oleh ibu atau pengasuh kepada anak melalui saliva. Saat ibu atau pengasuh memasukkan sendok makan atau empeng bersih anak ke dalam mulutnya, kemudian memberikannya kepada anak, maka bakteri ini dapat berpindah ke rongga mulut anak.

Bagaimana cara pencegahannya?

Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir ya… Berita baiknya, lubang pada gigi dapat dicegah dengan menerapkan kebersihan gigi dan mulut sedini mungkin, dengan cara:

  • Bersihkan gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.
  • Saat gigi pertama anak mulai tumbuh, mulailah untuk menyikat gigi anak secara perlahan dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak, serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung fluoride, hingga usia anak 3 tahun. Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.
  • Sikat gigi anak dengan pasta gigi ber-fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun.
  • Awasi kegiatan sikat gigi anak hingga gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik (umumnya hingga anak berusia 8-9 tahun).
  • Mulailah untuk menggunakan dental floss saat seluruh gigi telah tumbuh.
  • Pastikan anak mendapat cukup fluoride, yang dapat membantu mencegah terbentukknya lubang pada gigi. Bila sumber air lokal tidak mengandung fluoride, konsultasikan lebih lanjut pada dokter gigi mengenai bagaimana cara mendapat asupan fluoride (bisa dengan suplemen atau aplikasi fluoride topikal).
  • Buatlah jadwal kunjungan rutin ke dokter gigi yang dimulai saat anak menginjak usia 1 tahun. Yang perlu Ayah dan Ibu ingat, memulai kebiasaan baik sedini mungkin adalah kunci untuk menjaga kesehatan gigi jangka panjang.

Ada pun beberapa cara lain, yaitu:

  • Hindari mengisi botol susu dengan cairan manis dan minuman soda. Botol susu hanya digunakan untuk susu (asi perah maupun susu formula) dan air putih. Minuman soda tidak dianjurkan untuk anak, karena tidak mengandung nutrisi dan memiliki kandungan gula yang tinggi. Apabila anak sudah terlanjur memiliki kebiasaan mengkonsumsi cairan manis dan minuman soda, maka mulailah secara perlahan untuk mengurangi kandungan gula pada cairan manis secara bertahap selama 2-3 minggu. Lakukan hingga akhirnya botol hanya diisi dengan air putih saja.
  • Hindari membiarkan anak tertidur dengan botol susu yang berisi cairan selain air putih.
  • Hindari memberikan empeng yang dicelupkan dalam cairan apapun yang mengandung gula.
  • Kurangi asupan gula pada makanan anak, terutama snack di antara waktu makan utama.
  • Latih anak untuk mulai menggunakan cangkir saat anak sudah berusia 1 tahun.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.webmd.com/oral-health/guide/what-is-baby-bottle-tooth-decay#2
https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/baby-bottle-tooth-decay

Sumber gambar:

https://askthedentist.com/baby-bottle-tooth-decay/

Makanan untuk Gigi yang Kuat

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Memiliki gigi susu yang sehat dan kuat merupakan keinginan setiap orang tua terhadap anaknya. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mempertahankan kesehatan gigi anak seperti; pengecekan secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, penutupan lubang pada gigi, menjaga kebersihan mulut dengan berkumur sehabis makan, dan rajin menyikat gigi dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur.

Asupan bahan makanan yang baik juga tidak kalah pentingnya dalam menunjang kesehatan gigi. Ada banyak sumber makanan sehat yang bisa dikonsumsi, salah satunya yang mengandung sumber makanan kalsium.

Kalsium merupakan salah satu nutrisi penting untuk kesehatan gigi dan tulang. Pada gigi, kalsium dapat memperkuat lapisan luar permukaan gigi yakni email. Permukaan email gigi rentan terhadap adanya lubang (​karies)​ juga erosi. Karena email merupakan lapisan terluar dan menjadi pertahanan paling penting dalam kekuatan gigi. Dalam upaya menjaga gigi agar tetap kuat, dibutuhkan 1000-2000 mg jumlah kalsium per hari untuk dikonsumsi.

Tentu anda sering mendengar, sumber makanan yang memiliki kalsium cukup banyak berasal dari produk susu. Susu dan berbagai jenis makanan olahannya memang memiliki nilai kalsium yang cukup tinggi. Namun ternyata kalsium tidak hanya terdapat pada susu, banyak sumber makanan lain yang memiliki jumlah kandungan kalsium cukup tinggi. Beberapa jenis sumber makanan tersebut dapat menjadi alternatif pilihan bagi buah hati anda terutama yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi terhadap susu dan produk olahannya, namun tetap ingin mendapatkan nutrisi kalsium untuk tumbuh kembangnya.

Berikut merupakan jenis sumber bahan makanan yang memiliki nilai kandungan kalsium tinggi, seperti:

  1. Susu
  2. Keju
  3. Yoghurt
  4. Tahu. Bisa menjadi pilihan untuk kekuatan gigi.
  5. Ikan. Beberapa jenis seperti ikan sarden dan ikan salmon memiliki kandungan kalsiumtinggi
  6. Kacang-kacangan. Jenis kacang-kacangan banyak mengandung protein, serat vitamin,serta mineral. Kacang Almond, kacang kedelai merupakan jenis kacang yang tingginutrisi kalsium
  7. Sayuran hijau seperti kale, bayam
  8. Gandum. Cereal seperti corn flakes, roti
  9. Susu kedelai

Beberapa jenis makanan di atas baik untuk dikonsumsi, terutama bagi buah hati anda karena sedang mengalami masa tumbuh kembang. Namun apakah mereka masih bisa mengonsumsi jenis makanan kudapan yang manis atau ​snack ​yang terkadang memiliki kadar gula tinggi dan sangat berpotensi menjadi karies pada gigi? Tentu saja sebagai variasi konsumsi menu makan si kecil; snack, kudapan manis, boleh diberikan namun tetap harus memperhatikan batasan pemberian makanan tersebut.

Hal lain yang perlu diingat adalah selalu mengonsumsi air putih setiap hari, khususnya setelah mengonsumsi makanan manis. Tujuannya adalah agar tubuh anak terhindar dari dehidrasi dan menghindari sisa makanan tidak terlalu lama melekat pada permukaan gigi yang berpotensi membuat lubang pada gigi anak anda.

Sumber :

https://www.mouthhealthy.org/en/nutrition/food-tips/8-non-dairy-calcium-rich-foods-for-your-teeth

Kenali Lebih Lanjut Polip Pulpa pada Gigi Anak

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo ayah dan ibu,

Pernahkah si kecil mengalami sakit gigi khususnya saat mengunyah? Atau anda menyadari ada “daging tumbuh” di bagian tengah permukaan gigi yang berlubang serta mudah berdarah yang menyebabkan rasa kurang nyaman? Mungkin saja si kecil sedang mengalami polip pulpa yang ada di dalam giginya.

Apa itu pulpa polip?

Dalam artikel sebelumnya, dijelaskan bahwa ada 3 lapisan gigi. Lapisan terdalam disebut pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah. Jika lubang sudah mencapai lapisan pulpa maka tubuh akan memberikan reaksi pertahanan berupa polip, yaitu sebuah daging yang muncul di tengah dalam lubang gigi tersebut. Hal yang sering ditemukan apabila seorang anak mengalami pulpa polip pada giginya adalah rasa tidak nyaman karena polip yang tertekan atau tergesek makanan. Gesekan juga dapat menyebabkan polip tersebut mudah berdarah. Pulpa polip banyak terjadi pada gigi geraham susu.

Sumber

Biasanya si kecil menjadi tidak mau makan karena rasa tidak nyaman tersebut. Lalu apa yang sebaiknya dilkukan apabila si kecil mengalami polip pulpa?

Ada dua perawatan yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Perawatan saluran akar, yaitu pembersihan gigi sampai ke lapisan pulpa yang ada di akar gigi kemudian ditambal. Pembersihan ini termasuk menghilangkan polip tersebut dari gigi.
  • Pencabutan gigi, tindakan ini dilakukan bila kerusakan pada gigi susu cukup parah sehingga tidak dapat lagi dilakukan perawatan saluran akar dan penambalan. Dokter akan mendiagnosa gigi tersebut terlebih dulu untuk menentukan rencana perawatan yang tepat.

Jadi, Ayah Ibu Kejora tetap jaga kesehatan gigi anak anda dengan cara rutin menggosok gigi dua kali sehari yaitu pagi hari dan malam sebelum tidur serta kontrol ke dokter gigi secara teratur untuk menghindari adanya gigi berlubang dan kerusakan gigi lainnya.

Salam sehat kejora.

Sumber: https://www.dentalorg.com/pulp-polyp.html

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter Gigi?

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

American Academy of Pediatric Dentistry merekomendasikan pemeriksaan gigi anak dimulai sejak gigi pertamanya tumbuh, atau selambat-lambatnya pada ulang tahunnya yang pertama.

“Tapi kan gigi susunya belum lengkap, masa harus periksa ke dokter gigi?”

Ayah dan ibu, ke dokter gigi bukan hanya untuk diperiksa apakah ada gigi yang berlubang. Ayah dan ibu akan diberikan tips cara menjaga kesehatan gigi dan mulut anak, si kecil juga adapat “berkenalan” dengan dunia dokter gigi sejak dini. Jangan salah lho, tak sedikit anak yang di usia 1 tahun juga sudah memiliki gigi berlubang. Oleh karenanya kami menganjurkan untuk membawa anak anda ke dokter gigi agar diperiksa sejak dini. Keuntungannya antara lain:

  1. Membiasakan anak dengan lingkungan dokter gigi sehingga anak tidak takut. Jika datang saat gigi sudah berlubang dan sakit biasanya anak menjadi lebih cemas dan takut.
  2. Terkadang lubang gigi yang masih kecil memang tidak tampak kasat mata dan hanya dapat terdeteksi di dokter gigi dengan peralatan yang ada. Jika terdeteksi sejak dini maka perawatan yang dilakukan juga tentunya lebih cepat selesai.
  3. Ayah dan ibu bisa mendapatkan edukasi yang lengkap dari dokter gigi sehingga jika ada kebiasaan atau cara membersihkan gigi yang salah maka dapat diperbaiki segera.

Kalau ada gigi susu yang lubang apakah perlu ditambal? Nah jawabannya ada di artikel ini.

Jadi tunggu apalagi, yuk ajak anak ke dokter gigi!

Gigi Susu, Perlukah Ditambal?

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

“Kan masih gigi susu, Dok?”

Gigi manusia terdiri dari 3 lapisan yaitu email (yang kita lihat secara kasat mata berwarna putih), di bawahnya terdapat lapisan dentin dan yang terdalam adalah lapisan  pulpa. Lapisan pulpa tersusun atas saraf dan pembuluh darah.

Proses gigi berlubang atau karies gigi dimulai dari lapisan paling luar yaitu email. Bila lubang baru mencapai lapisan email biasanya belum ada keluhan, bila mencapai dentin maka terkadang mulai terasa ngilu (biasanya saat makan), dan saat sudah mencapai pulpa maka akan terasa nyeri spontan yang mengganggu aktivitas hingga tidak dapat tidur. Bila terus dibiarkan maka gusi akan bengkak lalu timbul seperti sariawan di gusi. Sariawan ini disebut abses, suatu kumpulan nanah produk dari bakteri. Lama kelamaan pipi dapat membengkak disertai demam karena infeksi. Proses ini dapat terjadi baik pada gigi susu maupun gigi permanen.

Semua gigi yang berlubang harus ditambal, namun jika lubang sudah mencapai lapisan pulpa maka harus dilakukan perawatan saraf atau perawatan saluran akar untuk membersihkan bakteri yang sudah menjalar sampai ke akar gigi. Setelah itu gigi akan ditambal, tambalan terdiri dari 2 lapis. Pertama tambalan pada akar gigi, yang tadinya berisi saraf akan diisi semen supaya akar rapat dan tidak menjadi tempat bakteri masuk, yang kedua adalah tambalan pada mahkota gigi supaya bentuk gigi kembali utuh.

Penjalaran gigi berlubang pada gigi susu lebih cepat mencapai pulpa sebab lapisan emailnya lebih tipis dibanding gigi permanen. Pencabutan gigi juga dapat menjadi pilihan perawatan gigi susu jika infeksi sudah terlalu meluas dan perawatan saraf gigi sudah tidak dapat dilakukan lagi. Namun bila gigi tersebut dicabut dan gigi permanen penggantinya masih belum waktunya tumbuh dapat menyebabkan gigi susu yang berada di sebelahnya bergeser sehingga ruangan menjadi rapat sehingga kelak gigi tetap penggantinya tidak memiliki ruangan untuk tumbuh. Gigi tersebut dapat mencari “jalan” lain untuk tumbuh dan menyebabkan gigi berjejal di kemudian hari. Disini nampak jelas bahwa selain untuk makan, bicara, dan fungsi estetika, gigi susu juga berfungsi sebagai penuntun arah gigi permanennya penggantinya untuk tumbuh. Bila memang pencabutan pencabutan gigi diperlukan namun gigi permanennya masih belum saatnya tumbuh dapat diatasi dengan menggunakan alat penjaga ruangan setelah pencabutan gigi yang disebut space maintainer.

Nah, sudah jelas kan ayah dan ibu alasan mengapa gigi susu harus ditambal? Karena itu ajaklah anak ke dokter gigi sejak dini supaya jika ada yang berlubang dapat dirawat sedini mungkin. Intip artikel ini untuk mengetahui waktu yang direkomendasikan untuk membawa anak ke dokter gigi.

Gigi Susu vs Gigi Permanen

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Kapan sih gigi susu pertama kali tumbuh?

Usia berapa gigi susu berganti menjadi gigi tetap? 

Gigi susu pertama kali tumbuh usia 6 bulan, umumnya gigi depan bawah terlebih dulu. Jangan kuatir ayah dan ibu, usia ini plus minus. Ada yang usia 5 bulan sudah tumbuh, ada yang 8 bulan, hingga ada yang 12 bulan. “Kalau saat lahir sudah langsung tumbuh gigi bagaimana dok?” Nah itu dapat dibaca di artikel ini ya!

Lalu perlu diingat bahwa setiap anak itu unik dan berbeda ya ayah dan ibu, ada yang saat tumbuh pertama kali hanya 1 gigi, ada yang langsung 2, bahkan ada yang beberapa tumbuh bersamaan langsung. Orang tua juga harus mengenali tanda-tanda gigi yang akan tumbuh, dapat dibaca disini artikelnya.

Jika sudah berusia 12 bulan belum ada gigi yang tumbuh sama sekali maka dapat mulai berkonsultasi dengan dokter gigi anak. Selanjutnya, gigi lainnya akan tumbuh satu persatu hingga akhirnya 20 gigi susu lengkap pada usia kurang lebih 3 tahun. Untuk lebih lengkapnya dapat membaca rangkuman pada gambar di bawah ini:

Sumber: link berikut

Kemudian gigi susu akan berganti menjadi gigi permanen, umumnya juga dimulai dari gigi bawah depan terlebih dulu. Gigi ini mulai berganti usia 6 tahun dan usia ini plus minus 1 tahun. “Jadi dok, mengapa pertumbuhan gigi susu dan gigi tetap bisa berbeda-beda?” Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan pergantian gigi. Untuk gigi susu, penelitian menunjukkan bahwa bayi yang berukuran lebih besar akan tumbuh gigi lebih cepat. Untuk gigi tetap ada beberapa faktor misalnya nutrisi, tinggi badan, penyakit sistemik, penyakit genetik, faktor hormon. Yang perlu diingat, sama seperti gigi susu, masing-masing gigi tetap memiliki waktu dan urutan untuk tumbuh yang dapat dilihat di gambar berikut:

Perlu diperhatikan bahwa jumlah gigi susu 20 buah dan gigi tetap 32 buah artinya ada gigi yang tumbuh tanpa menggantikan gigi sebelumnya atau tanpa didahului gigi lepas, salah satunya adalah gigi geraham tetap pertama. Tampak pada gambar di atas bahwa gigi geraham tetap pertama tumbuh usia 6-7 tahun sehingga terkadang orang tua berpikir gigi tersebut masih gigi susu, padahal bukan. Geraham tetap pertama tumbuh di gusi yang kosong area paling belakang setiap sisi (kanan atas, kanan bawah, kiri atas, dan kiri bawah). Jika sudah tumbuh anak diingatkan untuk menyikat gigi dengan baik hingga mencapai gigi paling belakang, sebab jika berlubang dan harus dicabut tidak ada gigi penggantinya lagi. Banyak kasus anak masih menyikat gigi dengan cara yang belum benar namun geraham tetap pertamanya sudah tumbuh sehingga sisa makanan bertumpuk dan lama kelamaan berlubang padahal gigi geraham penting untuk mengunyah makanan.

Sering pula orang tua bertanya “Dok, gigi anakku tampak bertumpuk, sepertinya gigi penggantinya sudah muncul tapi kok gigi susunya belum goyang ya dok?” Simak penjelasannya di artikel berikut ini!

Jadi ayah dan ibu, usia pergantian gigi ini berkaitan juga dengan pertanyaan “Mengapa gigi susu perlu ditambal jika berlubang”. Jika belum membaca artikelnya, klik artikel berikut ini.

Usia pergantian gigi menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dokter gigi untuk memutuskan apakah gigi susu yang berlubang harus ditambal atau dicabut, selain mempertimbangkan apakah kondisi akar masih baik dan jaringan di bawah gigi sudah terinfeksi atau belum.