Menjaga Kebersihan Rongga Mulut Diri dan Keluarga di Masa Pandemi

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu kejora, pandemi virus Corona yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia benar-benar telah mengubah cara kita dalam mengakses pelayanan kesehatan yah.. Tidak terkecuali dalam hal perawatan gigi.

Virus ini tidak pandang bulu dan dapat mengenai siapapun, dapat ditularkan melalui droplet yang dapat menyebar melalui batuk atau bersin. Bahkan saat seseorang sedang melakukan pembicaraan normal (yang seringkali kita abaikan). Partikel droplet yang besar (yang dapat terlihat / kasat mata) dapat mendarat dalam jarak beberapa meter dari kita, namun partikel yang lebih kecil dapat melayang di udara dan jatuh pada jarak yang lebih jauh. Oleh karena itulah, penting bagi kita untuk selalu menggunakan masker saat bepergian, sering mencuci tangan sebelum menyentuh area wajah,  serta mengatur jarak aman dengan orang sekitar. Selain itu, kebiasaan buruk meludah sembarangan juga harus dihentikan. Hal-hal tersebut sangat penting, tidak hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk melindungi orang-orang di sekitar kita terlebih lagi keluarga yang kita sayangi.

Bisakah kita tetap pergi ke dokter gigi dalam masa pandemi ini?

Hampir semua pelayanan gigi hanya melayani tindakan kegawatdaruratan untuk meminimalkan penyebaran virus Corona. Oleh karena itu, apabila ingin melakukan kunjungan ke dokter gigi, terlebih dahulu pastikan perawatan apa saja yang masih bisa dilakukan di fasilitas kesehatan terdekat maupun yang biasa dikunjungi. Sebisa mungkin, hindari melakukan kunjungan tanpa melakukan perjanjian. Bersiaplah apabila mengalami penundaan ataupun pembatalan, bahkan untuk jadwal perawatan yang telah dibuat jauh hari.

Apa yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut di masa pandemi ini?

Pandemi COVID-19 ini sepertinya akan tetap berada di sekitar kita selama beberapa bulan ke depan, atau terburuknya, bahkan dalam jangka waktu tahunan. Oleh karena itu, selama Anda tidak memiliki kasus kegawatdaruratan, maka menjaga kebersihkan gigi dan mulut sangatlah penting.

Hal-hal yang dapat dilakukan, antara lain adalah:

  • Jangan pernah berbagi sikat gigi dengan orang lain

Tidak peduli seberapa dekat hubungan anda dengan orang sekitar yang tinggal serumah dengan Anda (bahkan dengan keluarga terdekat sekalipun), jangan pernah bertukar / berbagi sikat gigi Anda dengan siapapun. Sikat gigi adalah barang personal yang tidak seharusnya dapat dipinjamkan / diberikan pada orang lain. Hal ini merupakan salah satu cara baik virus, maupun penyakit lain dapat ditularkan. Pastikan juga untuk menyimpan sikat dalam gelas secara terpisah satu sama lain dengan anggota keluarga lainnya, dan jangan menyimpan sikat gigi dalam wadah tertutup terutama bila baru saja digunakan agar tidak lembab.

  • Gantilah sikat gigi Anda secara rutin

Gantilah sikat gigi paling tidak 3 bulan sekali atau bahkan lebih cepat apabila bulu sikat sudah terlihat rusak sebelum jangka waktu tersebut. Hal ini sangat penting agar Anda dapat tetap menyikat gigi dengan efektif, karena bulu sikat yang telah rusak tidak dapat membersihkan dengan maksimal. Mengganti sikat gigi Anda secara rutin dapat meminimalkan penyebaran bakteri. Apabila sebelumnya Anda telah terinfeksi virus Corona, maka segera ganti sikat gigi Anda.

  • Pastikan untuk menutup penutup toilet sebelum disiram

Tempat penyimpanan sikat gigi pada saat tidak dipakai sangatlah penting. Bila tempat penyimpanannya dekat dengan toilet, maka setiap seseorang melakukan prosedur penyiraman / flushing, maka ada kemungkinan cipratan beserta virus maupun bakteri yang dapat keluar dari toilet dan mendarat pada permukaan sikat gigi. Oleh karena itu, pastikan letak sikat gigi anda tidak berdekatan dengan toilet dan lebih baik lagi tutuplah penutup toilet sebelum disiram.

  • Bersihkan kamar mandi secara rutin

Kamar mandi kita adalah tempat dimana kita biasanya membersihkan diri, serta menyimpan sikat gigi, handuk, dan beberapa barang personal lainnya. Oleh karena itu, bersihkan kamar mandi secara teratur dengan produk berbahan dasar pemutih.

  • Jangan lupa untuk tetap melakukan hal-hal mendasar

Sikat gigi Anda 2 kali sehari (saat pagi dan malam menjelang tidur) dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Gunakan dental floss untuk membersihkan sela-sela gigi yang tidak dapat terjangkau sikat gigi. Selain itu, perbanyak minum air putih dan kurangi asupan makanan dan minuman yang mengandung gula.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

Manajemen Kesehatan Gigi selama Bulan Ramadan dalam Kondisi Pandemi Covid-19

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi

Halo keluarga Kejora!

Ramadan adalah bulan ke-9 dalam penanggalan hijriah. Bulan suci yang dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini disebabkan dalam bulan Ramadan ada aktivitas penting yang dilakukan oleh seorang muslim dalam waktu sebulan penuh yakni, berpuasa.

Puasa merupakan salah satu rukun islam, yakni melakukan ibadah dengan menahan diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun bulan Ramadan kali ini cukup berbeda, dengan adanya pandemi wabah penyakit Covid-19. Beberapa kebijakan diberlakukan seperti pembatasan sosial, menjaga jarak, hingga bekerja, bersekolah dan beribadah dari rumah dengan tujuan mengurangi jumlah orang terkena virus Covid-19,

Meski harus melakukan kegiatan dari rumah, namun kita tetap harus menjaga kondisi kesehatan dan kebersihan tubuh agar selalu sehat dan keluar rumah seperlunya. Salah satu organ tubuh yang harus dijaga kebersihannya selama bulan puasa adalah kesehatan gigi.

Sakit gigi disaat menjalankan ibadah puasa tentu tidak nyaman, karena akan mempengaruhi kualitas ibadah saat sakit timbul. Namun, dokter gigi saat ini menjadi salah satu profesi yang memiliki risiko tinggi dapat terinfeksi virus Covid-19. Hal ini disebabkan kontak yang terlalu erat antara dokter gigi dan pasien serta percikan ludah atau air liur pasien yang dapat melekat pada permukaan alat, fasilitas kesehatan bahkan dokter gigi itu sendiri

Oleh karena itu, terdapat anjuran dari PDGI ( Persatuan Dokter Gigi Indonesia) bahwa dokter gigi dapat membantu pasien yang membutuhkan perawatan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri level 3 ( gambar terlampir ) dan hanya dapat menangani tindakan yang bersifat gawat darurat seperti ;

  1. Gusi bengkak karena infeksi
  2. Sakit atau nyeri gigi yang tidak tertahankan
  3. Pendarahan yang tidak terkontrol
  4. Trauma pada gigi dan tulang wajah akibat kecelakaan

Jadi bila terdapat keluhan pada gigi yang bersifat gawat darurat, anda tetap bisa melakukan perawatan. Tetapi bila tidak ada kondisi darurat sebaiknya anda menunda jadwal kunjungan ke dokter gigi di situasi pandemi. Beberapa hal dibawah ini juga harus diingat sebelum datang ke praktik dokter gigi :

  • Konsultasi keluhan gigi terlebih dahulu ke dokter gigi, untuk menentukan apakah perawatan bisa dilakukan atau tunda
  • Peralatan APD ( Alat Pelindung Diri ) dokter gigi dalam praktik menggunakan APD level 3
  • Buat perjanjian ke jadwal kunjungan untuk menghindari kontak dengan pasien lain
  • Tetap menjaga kebersihan saat datang ke dokter gigi dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan etika cuci tangan dengan bersih

Selain itu tetap jaga kebersihan gigi secara teratur agar mengurangi risiko sakit sehingga harus datang ke praktik dokter gigi.

Berikut tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan gigi di bulan Ramadan :

  1. Bau mulut

Ibadah puasa dengan tidak makan atau minum dalam waktu cukup lama, membuat mulut kering. Hal ini karena produksi saliva menurun dan tidak bisa menetralkan asam di dalam mulut sehingga timbul halitosis atau bau mulut. Untuk menghindari bau mulut tetap lakukan sikat gigi 2x sehari pada waktu pagi dan malam hari dan jaga kebersihan gigi dan mulut

  1. Beri jeda untuk sikat gigi setelah makan

Banyak orang berpikiran bahwa setelah makan harus langsung menyikat gigi agar sisa makanan tidak melekat di permukaan gigi dan membuat mulut menjadi segar. Namun, anggapan ini ternyata keliru. Setelah makan sebaiknya seseorang memberi jeda sekitar 30 menit sebelum sikat gigi. Hal ini agar menetralkan asam yang berasal dari konsumsi makanan, sehingga tidak merusak lapisan enamel

  1. Gunakan Dental Floss

Seringkali sisa makanan terdapat di sela gigi dan sulit dijangkau oleh sikat gigi. Jangan menggunakan tusuk gigi untuk membersihkannya karena akan mengiritasi gusi, namun gunakan benang gigi atau dental floss untuk membersihkan sisa makanan pada sela gigi

  1. Minum cukup air putih

Tubuh harus memiliki cukup cairan, saat puasa pun tetap harus menjaga konsumsi air agar tidak terjadi dehidrasi. Sebaiknya konsumsi 8 gelas air setiap hari, dengan pembagian 2 saat berbuka puasa, 4 malam dan 2 saat sahur

  1. Pemberian obat

Bila ada rasa sakit atau infeksi, dapat menghubungi dokter gigi anda untuk melakukan pengecekan terhadap gigi yang bermasalah. Apabila diberikan resep obat, bisa dikonsumsi dengan periode waktu tertentu seperti sahur, berbuka puasa atau saat menjelang tidur

  1. Konsumsi buah dan sayur dengan cukup

Kebutuhan nutrisi vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh selama berpuasa. Sayur dan buah dapat memberikan vitamin dan mineral untuk menghindari penyakit mulut

  1. Hindari konsumsi makanan dengan bau berlebihan

Hal ini untuk mengurangi risiko bau mulut selama menjalankan ibadah puasa

Sumber :

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26147170/
https://www.researchgate.net/publication/279195908_Ramadan_fasting_and_dental_treatment_considerations_A_review
PB PDGI ( Pengurus Besar –  Persatuan Dokter Gigi Indonesia )

Ibu, Mengapa Gigi Aku Berwarna Kuning?

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Keluarga Kejora,

Apakah anda pernah mendapatkan pertanyaan si buah hati mengapa warna gigi tidak putih melainkan kuning? Atau saat gigi dewasa yang erupsi (tumbuh) warna gigi menjadi lebih kuning dibandingkan gigi anak sebelumnya? Atau mungkin Ayah dan Ibu pernah menyadari warna gigi anda terlihat lebih gelap dari beberapa tahun lalu?

Apa penyebab gigi berwarna kuning?

Sebelumnya, memang terdapat perbedaan paling mendasar dalam segi anatomi maupun warna baik dari gigi anak maupun gigi tetap. Pada gigi anak, lapisan permukaan email cenderung lebih tipis dan berwarna lebih putih. Hal ini yang menyebabkan gigi anak sering dinamakan gigi susu, karena warna gigi anak putih seperti susu. Sementara gigi tetap atau gigi dewasa memiliki warna lebih kekuningan dibandingkan gigi anak, karena lapisan permukaan yang lebih tebal dan warna dentin yang lebih kuning. Oleh karena itu, gigi permanen terlihat lebih kekuningan dibanding gigi susu.

Namun, selain dari perbedaan mendasar pada warna antara gigi susu dan gigi tetap, ada hal lain yang juga berpotensi membuat gigi mengalami perubahan warna. Beberapa hal dibawah ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi:

  1. Makanan dan minuman

Beberapa jenis makanan dan minuman dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi. Seperti teh, kopi, minuman bersoda dapat menyebabkan stain pada gigi.

  1. Tembakau dan kebiasaan merokok, bahan ini juga mengakibatkan terjadinya stain pada gigi dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi
  2. Kesehatan mulut yang buruk

Tidak memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, seringkali membuat kesehatan gigi dan mulut menjadi buruk. Rajin melakukan sikat gigi 2 kali sehari, membersihkan sisa makanan disela gigi dengan dengan dental floss, berkumur dengan cairan antiseptik untuk menghilangkan plak dan mengurangi produksi stain yang menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi.

  1. Menderita penyakit

Beberapa penyakit dapat mengakibatkan perubahan warna gigi terutama berkaitan dengan perawatan yang dilakukan. Sebagai contoh ; radiasi kepala dan leher, kemoterapi yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan warna gigi.

  1. Pengobatan

Beberapa obat seperti antibiotik tetracycline, doxycycline dapat menyebabkan perubahan warna gigi, terutama bila diberikan pada usia anak-anak masa pertumbuhan. Chlorhexidine, Cetylpyridinium chloride juga dapat menyebabkan stain pada gigi. Beberapa obat golongan antihistamin dan obat hipertensi juga dapat menyebabkan perubahan warna gigi.

  1. Bahan Material Gigi

Beberapa bahan material yang digunakan dalam kedokteran gigi terutama dalam penambalan seperti restorasi amalgam, seringkali dalam waktu lama dapat menyebabkan warna hitam keabu-abuan pada gigi.

  1. Penambahan Usia

Semakin bertambahnya usia, lapisan email bagian luar menjadi semakin tipis atau usang, sehingga warna kuning yang berasal dari lapisan dentin tampak lebih terlihat.

  1. Genetik

Pada beberapa orang sering terdapat email gigi dengan warna lebih gelap, terang maupun lapisan permukaan yang lebih keras.

  1. Lingkungan

Konsumsi kandungan fluoride yang cukup tinggi dari lingkungan, seperti kadar fluoride dalam air atau kadar penggunaan yang tinggi seperti aplikasi fluoride di pasta gigi, suplemen fluoride dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna.

  1. Trauma

Mengalami trauma seperti terjatuh yang mengenai bagian gigi sehingga menyebabkan kerusakan cukup berat terutama pada usia anak-anak. Gigi yang mengalami trauma cukup berat seringkali menimbulkan perubahan warna pada gigi.

Bagaimana caranya agar kita bisa mencegah terjadinya perubahan warna pada gigi?

    • Menjaga kebersihan gigi dan mulut yang baik dan benar merupakan salah satu cara mencegah perubahan warna pada gigi, seperti sikat gigi 2x sehari, melakukan dental flossing untuk mengambil sisa makanan yang tersisa di sela gigi serta rajin melakukan kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
    • Melakukan perubahan gaya hidup seperti mengurangi konsumsi kopi, teh dan minuman bersoda juga menghentikan kebiasaan merokok agar gigi tidak mudah berubah warna.
    • Apabila penampakan gigi anda terlihat tidak normal karena perubahan warna yang terlalu besar mungkin anda bisa mengunjungi dokter gigi untuk melakukan konsultasi mengenai permasalahan gigi anda.

      Berikut beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk gigi yang mengalami perubahan warna:

      A. Veneer gigi

      B. Whitening office

      C. Home bleaching

      D. Bonding

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/tooth-discoloration
http://dentalresource.org/topic53stainedteeth.html

Kebiasaan yang Baik untuk Kesehatan Gigi Bayi dan Balita

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Hai Ayah dan Ibu Kejora..

Apakah Ayah dan Ibu tahu, bahwa gigi pada anak sudah memiliki risiko untuk menjadi berlubang sejak pertama kali tumbuh?

Proses lubang/pembusukkan gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda seringkali disebut dengan “baby bottle tooth decay”atau “early childhood caries”. Namun, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir. Berita baiknya, lubang pada gigi anak dapat dicegah, terutama dengan cara menjaga kebiasaan yang baik sedini mungkin.

Yuk, kita simak tanya jawab dengan drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA yang akan menjelaskan lebih lanjut tentang kesehatan gigi  pada bayi dan balita.

Dok, seperti apa sih proses tumbuh gigi (teething) itu?

Tumbuh gigi merupakan salah satu ritual awal dalam fase kehidupan. Biasanya, gigi sulung pada anak akan lengkap berjumlah 20 gigi pada saat anak sudah berusia 3 tahun. Seiring dengan bertumbuhnya anak, rahang mereka juga akan berkembang dan memberi ruang bagi tumbuhnya gigi permanen. Gigi depan anak (4 gigi pertama) biasanya mulai tumbuh saat usia 6 bulan, walaupun ada pula anak-anak yang belum memiliki gigi sampai usia 12 atau 14 bulan. Saat gigi mulai tumbuh, beberapa bayi akan rewel dan mudah marah, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau mengiler lebih banyak daripada biasanya. Diare, ruam, dan demam bukanlah gejala normal dari bayi yang akan tumbuh gigi. Maka, apabila bayi mengalami gejala tersebut, segeralah hubungi dokter. Ayah dan Ibu, urutan pertumbuhan gigi sulung pada anak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Dok, apakah ada langkah mudah untuk menjaga kesehatan gigi?

Ada lima langkah yang dapat dilakukan yaitu menyikat gigi dengan pasta gigi mengandung fluoride, membatasi penggunaan alat makan bersama dan empeng, makan makanan sehat (sayur dan buah), berkunjung rutin ke dokter gigi dan mintalah dokter gigi untuk melakukan pelapisan ceruk gigi pada anak.

Dok, bagaimana sih cara menjaga kesehatan mulut bayi?

Mulailah membersihkan rongga mulut bayi sejak beberapa hari setelah proses kelahiran. Caranya adalah dengan mengusap gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.

Lalu dok, bagaimana cara membersihkan gigi pada anak?

  • Untuk anak dengan usia kurang dari 3 tahun, orangtua/pengasuh harus mulai menyikat gigi anak segera setelah gigi pertama tumbuh secara perlahan. Caranya adalah dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.

  • Sikatlah gigi dengan menggunakan sikat gigi anak dan pasta gigi yang mengandung fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun. Apabila anak sudah memiliki 2 gigi yang saling berkontak satu sama lain, mulailah untuk menggunakan dental floss. Cara ini dilakukan hingga Ayah dan Ibu yakin bahwa anak dapat menyikat gigi sendiri, yaitu saat gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik saat anak sudah berusia 8-9 tahun. Setelah itu, dianjutkan dengan mengawasi kegiatan sikat gigi anak.

  • Kegiatan menyikat gigi dilakukan 2 kali sehari (pagi dan malam hari) atau sesuai dengan saran dokter gigi. Selalu awasi anak saat menyikat gigi dan ingatkan agar tidak menelan pasta gigi secara berlebihan.

Kapan dilakukan kunjungan pertama ke dokter gigi?

Mulailah jadwalkan kunjungan ke dokter gigi segera setelah gigi sulung anak pertama kali muncul. ADA (American Dental Association) merekomendasikan kunjungan pertama ke dokter gigi 6 bulan setelah gigi pertama anak mulai tumbuh dan paling lambat dilakukan saat anak berusia 1 tahun. Untuk membuat kunjungan terasa menyenangkan, lakukan hal berikut:

  • Pertimbangkan untuk membuat kunjungan di pagi hari saat anak cenderung tenang dan kooperatif.
  • Simpan kekhawatiran/kecemasan yang Ayah dan Ibu miliki dan jangan tunjukkan kepada anak. Anak dapat merasakan emosi Ayah dan Ibu, sehingga harus ditunjukkan emosi yang positif.
  • Hindari menggunakan kunjungan sebagai hukuman atau ancaman.
  • Hindari menyuap/menyogok anak.
  • Komunikasikan pada anak mengenai kunjungan ke dokter gigi.

 

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.mouthhealthy.org/en/babies-and-kids/healthy-habits

Baby Bottle Tooth Decay

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Ada anggapan bahwa, “Gigi sulung kan hanya sementara, dok… Nanti juga kalau rusak akan diganti dengan gigi permanen.”

Gigi sulung memang hanya sementara, namun tetap sangat penting untuk dijaga. Coba Ayah dan Ibu pikirkan lagi ya..

Anak-anak membutuhkan gigi yang sehat dan kuat untuk mengunyah makanan, berbicara, serta tersenyum. Gigi sulung juga berguna sebagai pemandu agar gigi permanen dapat tumbuh dengan benar. Oleh karena itu, sangat penting untuk mulai memperkenalkan cara menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan akan berlanjut hingga anak beranjak dewasa.

Lubang pada gigi sulung sangat rentan untuk terjadi. Bila lubang pada gigi sulung tidak dirawat, maka bisa timbul rasa sakit dan infeksi. Bahkan, apabila lubang pada gigi sudah sangat parah, maka gigi sulung harus dicabut. Hal ini akan menyebabkan beberapa masalah seperti asupan nutrisi anak yang dapat terganggu akibat anak kesulitan untuk makan, masalah dalam berbicara, serta dapat mengganggu perkembangan gigi permanen. Selain itu, kemungkinan gigi permanen tumbuh berantakan atau berjejal, akan semakin besar.

Apakah itu “baby bottle tooth decay”?

Proses pembusukan atau lubang gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda disebut dengan “Baby bottle tooth decay” atau “Early childhood caries”. Kondisi ini terjadi saat cairan yang manis atau bergula alami, seperti susu (ASI, susu formula, susu UHT) atau jus buah, menempel pada gigi bayi dan anak dalam waktu yang lama.

Bakteri dalam rongga mulut akan tumbuh dengan subur pada lingkungan yang kaya akan gula tersebut, kemudian akan menghasilkan produk asam yang akan menyerang dan melemahkan struktur gigi.

Apa penyebabnya?

Salah satu penyebab tersering adalah frekuensi cairan manis yang terlalu lama berkontak dengan gigi. Hal ini dapat terjadi saat bayi tertidur dengan menggunakan botol yang diisi dengan cairan manis, atau empeng yang telah dicelup pada cairan gula atau sirup.  Memberikan cairan manis baik saat tidur siang maupun malam hari sangat berbahaya. Hal tersebut dikarenakan jumalh aliran saliva atau air liur berkurang pada saat tidur. Kurangnya aliran saliva menyebabkan pembersihan sisa cairan manis tidak berjalan dengan baik.

Lubang pada gigi juga dapat disebabkan oleh bakteri yang ditularkan oleh ibu atau pengasuh kepada anak melalui saliva. Saat ibu atau pengasuh memasukkan sendok makan atau empeng bersih anak ke dalam mulutnya, kemudian memberikannya kepada anak, maka bakteri ini dapat berpindah ke rongga mulut anak.

Bagaimana cara pencegahannya?

Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir ya… Berita baiknya, lubang pada gigi dapat dicegah dengan menerapkan kebersihan gigi dan mulut sedini mungkin, dengan cara:

  • Bersihkan gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.
  • Saat gigi pertama anak mulai tumbuh, mulailah untuk menyikat gigi anak secara perlahan dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak, serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung fluoride, hingga usia anak 3 tahun. Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.
  • Sikat gigi anak dengan pasta gigi ber-fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun.
  • Awasi kegiatan sikat gigi anak hingga gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik (umumnya hingga anak berusia 8-9 tahun).
  • Mulailah untuk menggunakan dental floss saat seluruh gigi telah tumbuh.
  • Pastikan anak mendapat cukup fluoride, yang dapat membantu mencegah terbentukknya lubang pada gigi. Bila sumber air lokal tidak mengandung fluoride, konsultasikan lebih lanjut pada dokter gigi mengenai bagaimana cara mendapat asupan fluoride (bisa dengan suplemen atau aplikasi fluoride topikal).
  • Buatlah jadwal kunjungan rutin ke dokter gigi yang dimulai saat anak menginjak usia 1 tahun. Yang perlu Ayah dan Ibu ingat, memulai kebiasaan baik sedini mungkin adalah kunci untuk menjaga kesehatan gigi jangka panjang.

Ada pun beberapa cara lain, yaitu:

  • Hindari mengisi botol susu dengan cairan manis dan minuman soda. Botol susu hanya digunakan untuk susu (asi perah maupun susu formula) dan air putih. Minuman soda tidak dianjurkan untuk anak, karena tidak mengandung nutrisi dan memiliki kandungan gula yang tinggi. Apabila anak sudah terlanjur memiliki kebiasaan mengkonsumsi cairan manis dan minuman soda, maka mulailah secara perlahan untuk mengurangi kandungan gula pada cairan manis secara bertahap selama 2-3 minggu. Lakukan hingga akhirnya botol hanya diisi dengan air putih saja.
  • Hindari membiarkan anak tertidur dengan botol susu yang berisi cairan selain air putih.
  • Hindari memberikan empeng yang dicelupkan dalam cairan apapun yang mengandung gula.
  • Kurangi asupan gula pada makanan anak, terutama snack di antara waktu makan utama.
  • Latih anak untuk mulai menggunakan cangkir saat anak sudah berusia 1 tahun.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.webmd.com/oral-health/guide/what-is-baby-bottle-tooth-decay#2
https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/baby-bottle-tooth-decay

Sumber gambar:

https://askthedentist.com/baby-bottle-tooth-decay/

Mitos Pencabutan Gigi

 

 

 

oleh drg. Eva Yuli Andari, MA

Dokter Gigi Umum, Master of Arts in Health Management, Planning, and Policy

Menurut pusat data dan informasi kementrian kesehatan RI, pada tahun 2013 terdapat 26% masyarakat Indonesia yang mengalami masalah gigi dan mulut, namun hanya 31% dari mereka yang bermasalah yang mendapat perawatan. Banyak dari masyarakat Indonesia yang menolak dilakukan perawatan karena mitos-mitos soal perawatan gigi yang beredar. Ini dia mitosnya!

Mitos #1: Cabut Gigi Menyebabkan Kebutaan

Salah besar! Pencabutan gigi tidak akan menyebabkan kebutaan karena saraf gigi dan saraf mata itu berbeda sehingga tidak ada hubungan antara cabut gigi dengan kerusakan mata.

Mitos #2: Cabut Gigi = Sakit Luar Biasa

Yang ini bisa saja benar kalau tidak dilakukan anestesi atau pembiusan. Tapi tenang saja, sebelum pencabutan gigi, dokter gigi akan melakukan anestesi local disekitar gigi yang mau dicabut. Anestesinya bisa berupa semprotan, gel atau jarum suntik. Namun jarum suntik yang sekarang digunakan juga memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga kalaupun sakit, mungkin terasa seperti digigit semut. Setelah obat anestesi berjalan, maka gigi tidak akan terasa sakit lagi saat dilakukan pencabutan.

Mitos #3: Cabut Gigi Solusi Utama untuk Sakit Gigi

Eitss! Hati-hati ya Ayah, Ibu! Jangan buru-buru minta dicabut apabila kamu sakit gigi. Karena pencabutan gigi adalah pilihan yang terakhir dilakukan apabila gigi tersebut tidak bisa lagi dirawat dengan perawatan lain. Cabut gigi itu bisa diibaratkan seperti amputasi jari lho. Sekali hilang, tidak akan pernah tumbuh kembali (gigi dewasa).

Yang terpenting adalah lakukan pencabutan gigi di dokter gigi ya! Jangan sembarangan cabut sendiri atau pergi ke ahli gigi karena justru bisa merusak gigi kita.

Kenapa Kita Bisa Sariawan?

 

 

 

oleh drg. Eva Yuli Andari, MA

Dokter Gigi Umum, Master of Arts in Health Management, Planning, and Policy

Dalam satu tahun, Ayah dan Ibu berapa kali mengalami sariawan? Iklan di TV bilang, sariawan disebabkan karena panas dalam. Hmm… bener ngga ya? Coba kita cari tahu lebih banyak yuk biar tidak salah dalam mengobatinya.

Penyebab

Sariawan atau bahasa medisnya stomatitis aphtosa bisa disebabkan oleh berbagai macam hal. Diantaranya adalah:

  1. Trauma
    Sikat gigi yang terlalu keras, gigi yang tajam serta gesekan benda asing bisa membuat luka pada mulut kita.
  1. Kelelahan
    Kurangnya nutrisi dan vitamin bisa menyebabkan mulut mudah terkena sariawan lho.
  1. Penyakit Dalam
    Merasa sering sekali sariawan di mulut? Coba cek ke dokter/dokter gigimu! Sariawan merupakan salah satu ciri adanya penyakit pada tubuh kita.
  1. Hormonal
    Pada wanita, sariawan bisa terjadi pada saat pra-menstruasi. Hal ini disebabkan adanya penurunan hormon sehingga terjadi gangguan keseimbangan sel-sel di rongga mulut.

Cara menyembuhkan

Sariawan sebenarnya bisa sembuh sendiri dalam waktu kurang lebih 14 hari. Tapi daripada tersiksa menunggu 2 minggu, lebih baik diobati dengan obat kumur atau menggunakan krim yang diresepkan oleh dokter gigimu. Selain itu konsumsi makanan dan minuman yang baik bisa mempercepat penyembuhan sariawan.

Cara mencegah?

  • Minum air putih yang banyak
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayur
  • Jaga pola hidup, jangan terlalu stress
  • Apabila disebabkan trauma, segera ke dokter gigi untuk menghilangkan penyebab

Sariawan yang lebih dari 2 minggu bisa jadi merupakan salah satu ciri penyakit yang lebih parah lho. Karena itu jangan segan periksa ke dokter gigi untuk penanganan yang lebih tepat. Always remember that healthy smile is a beautiful smile!

Kebiasaan-kebiasaan yang Berpengaruh Buruk untuk Gigi

 

 

 

oleh drg. Eva Yuli Andari, MA

Dokter Gigi Umum, Master of Arts in Health Management, Planning, and Policy

Hai Ayah dan Ibu! Sudah tahu belum kalau ternyata ada banyaaak sekali kebiasaan buruk sehari-hari yang kita tidak sadari bisa menyebabkan rusaknya gigi kita. Efeknya gigi kita bisa menjadi maju, berantakan, trauma, hingga menyebabkan bau mulut. Hiii… ngga mau kan kayak begitu? Karena itu, yuk kita bahas dulu 6 kebiasaan yang paling sering dilakukan!

  1. Bruxism
    Bruxism atau menggesekkan gigi atas dengan gigi bawah sering kita lakukan tanpa kita sadari. Bahkan kadang saat tidurpun kita melakukannya lho. Ciri dari bruxism ini adalah gigi kita menjadi ‘aus’. Nah lho buruan cek ke dokter gigimu untuk menghindari kerusakan yang lebih parah.
  1. Menghisap ibu jari
    Hayo ngaku, siapa Ayah dan Ibu disini yang suka menghisap ibu jari dulu sewaktu kecil? Atau mungkin buah hatinya melakukan hal tersebut? Menghisap ibu jari dapat mengakibatkan gigi atas menjadi maju dan berantakan. So stop it if you still doing it!
  1. Menggigit benda asing
    Hindari menggunakan gigimu untuk ‘memegang’ sesuatu atau menggigit kuku. Lebih baik taruh di tempat lain daripada ditahan dengan gigi.
  1. Bernapas melalui mulut
    Selain tidak baik untuk kesehatan, bernapas melalui mulut juga bisa menyebabkan kondisi rongga mulut jadi kurang higienis.
  1. Menggigit lidah
    Ini juga salah satu hal yang kita suka tidak sadari yang bisa menyebabkan gigi depan kita menjadi berantakan.
  1. Menggigit bibir/pipi
    Merasa sering sariawan di bagian dalam pipi atau bibirmu? Nah ini kemungkinan karena kamu suka ‘iseng’ menggigitnya dikala beraktivitas.

Nah ada yang familiar dengan ‘bad habit’ diatas ngga? Kalau ada, segera hentikan kebiasaan burukmu dan segera periksa ke dokter gigi untuk penanganan selanjutnya.

Don’t let your bad habit destroy your teeth ya!

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter Gigi?

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

American Academy of Pediatric Dentistry merekomendasikan pemeriksaan gigi anak dimulai sejak gigi pertamanya tumbuh, atau selambat-lambatnya pada ulang tahunnya yang pertama.

“Tapi kan gigi susunya belum lengkap, masa harus periksa ke dokter gigi?”

Ayah dan ibu, ke dokter gigi bukan hanya untuk diperiksa apakah ada gigi yang berlubang. Ayah dan ibu akan diberikan tips cara menjaga kesehatan gigi dan mulut anak, si kecil juga adapat “berkenalan” dengan dunia dokter gigi sejak dini. Jangan salah lho, tak sedikit anak yang di usia 1 tahun juga sudah memiliki gigi berlubang. Oleh karenanya kami menganjurkan untuk membawa anak anda ke dokter gigi agar diperiksa sejak dini. Keuntungannya antara lain:

  1. Membiasakan anak dengan lingkungan dokter gigi sehingga anak tidak takut. Jika datang saat gigi sudah berlubang dan sakit biasanya anak menjadi lebih cemas dan takut.
  2. Terkadang lubang gigi yang masih kecil memang tidak tampak kasat mata dan hanya dapat terdeteksi di dokter gigi dengan peralatan yang ada. Jika terdeteksi sejak dini maka perawatan yang dilakukan juga tentunya lebih cepat selesai.
  3. Ayah dan ibu bisa mendapatkan edukasi yang lengkap dari dokter gigi sehingga jika ada kebiasaan atau cara membersihkan gigi yang salah maka dapat diperbaiki segera.

Kalau ada gigi susu yang lubang apakah perlu ditambal? Nah jawabannya ada di artikel ini.

Jadi tunggu apalagi, yuk ajak anak ke dokter gigi!

Gigi Susu, Perlukah Ditambal?

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

“Kan masih gigi susu, Dok?”

Gigi manusia terdiri dari 3 lapisan yaitu email (yang kita lihat secara kasat mata berwarna putih), di bawahnya terdapat lapisan dentin dan yang terdalam adalah lapisan  pulpa. Lapisan pulpa tersusun atas saraf dan pembuluh darah.

Proses gigi berlubang atau karies gigi dimulai dari lapisan paling luar yaitu email. Bila lubang baru mencapai lapisan email biasanya belum ada keluhan, bila mencapai dentin maka terkadang mulai terasa ngilu (biasanya saat makan), dan saat sudah mencapai pulpa maka akan terasa nyeri spontan yang mengganggu aktivitas hingga tidak dapat tidur. Bila terus dibiarkan maka gusi akan bengkak lalu timbul seperti sariawan di gusi. Sariawan ini disebut abses, suatu kumpulan nanah produk dari bakteri. Lama kelamaan pipi dapat membengkak disertai demam karena infeksi. Proses ini dapat terjadi baik pada gigi susu maupun gigi permanen.

Semua gigi yang berlubang harus ditambal, namun jika lubang sudah mencapai lapisan pulpa maka harus dilakukan perawatan saraf atau perawatan saluran akar untuk membersihkan bakteri yang sudah menjalar sampai ke akar gigi. Setelah itu gigi akan ditambal, tambalan terdiri dari 2 lapis. Pertama tambalan pada akar gigi, yang tadinya berisi saraf akan diisi semen supaya akar rapat dan tidak menjadi tempat bakteri masuk, yang kedua adalah tambalan pada mahkota gigi supaya bentuk gigi kembali utuh.

Penjalaran gigi berlubang pada gigi susu lebih cepat mencapai pulpa sebab lapisan emailnya lebih tipis dibanding gigi permanen. Pencabutan gigi juga dapat menjadi pilihan perawatan gigi susu jika infeksi sudah terlalu meluas dan perawatan saraf gigi sudah tidak dapat dilakukan lagi. Namun bila gigi tersebut dicabut dan gigi permanen penggantinya masih belum waktunya tumbuh dapat menyebabkan gigi susu yang berada di sebelahnya bergeser sehingga ruangan menjadi rapat sehingga kelak gigi tetap penggantinya tidak memiliki ruangan untuk tumbuh. Gigi tersebut dapat mencari “jalan” lain untuk tumbuh dan menyebabkan gigi berjejal di kemudian hari. Disini nampak jelas bahwa selain untuk makan, bicara, dan fungsi estetika, gigi susu juga berfungsi sebagai penuntun arah gigi permanennya penggantinya untuk tumbuh. Bila memang pencabutan pencabutan gigi diperlukan namun gigi permanennya masih belum saatnya tumbuh dapat diatasi dengan menggunakan alat penjaga ruangan setelah pencabutan gigi yang disebut space maintainer.

Nah, sudah jelas kan ayah dan ibu alasan mengapa gigi susu harus ditambal? Karena itu ajaklah anak ke dokter gigi sejak dini supaya jika ada yang berlubang dapat dirawat sedini mungkin. Intip artikel ini untuk mengetahui waktu yang direkomendasikan untuk membawa anak ke dokter gigi.