Panduan Isolasi Mandiri untuk Orang Tanpa Gejala

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

 

Halo, Keluarga Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19 ini, mungkin beberapa di antara Keluarga Kejora harus melakukan isolasi mandiri karena merupakan kontak erat* dengan pasien COVID-19 atau sudah terkonfirmasi COVID-19 namun tanpa gejala (Orang Tanpa Gejala/OTG). OTG melakukan isolasi mandiri di rumah selama 10 hari sejak terkonfirmasi. Setelah 10 hari, OTG dapat kontrol ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) untuk dilakukan pemantauan klinis. Nah, apa saja ya yang perlu diperhatikan saat isolasi mandiri untuk menjaga kesehatan OTG dan keluarga?

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan OTG atau orang yang menjalani isolasi mandiri

  1. Tinggal di kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, namun apabila tidak memungkinkan maka gunakan masker medis dan jaga jarak minimal 1 meter dari orang lain.
  2. Jaga aliran ventilasi ruangan dengan cara membuka jendela kamar secara berkala.
  3. Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat berinteraksi dengan keluarga.
  4. Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin.
  5. Tinggal di rumah, tidak pergi bekerja, ke sekolah, atau ke tempat-tempat umum.
  6. Beristirahat, minum air dalam jumlah cukup, dan makan makanan bergizi.
  7. Apabila memungkinkan, gunakan kamar mandi dan toilet yang berbeda dengan anggota keluarga lainnya.
  8. Saat batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung dengan siku yang tertekuk atau gunakan tisu sekali pakai dan buang setelah memakainya.
  9. Ukur dan catat suhu tubuh 2 kali sehari, setiap pagi dan malam hari.
  10. Apabila sulit bernapas atau suhu tubuh meningkat lebih dari 38o celcius, segera hubungi fasilitas kesehatan atau petugas pemantau.

 

Beberapa hal yang penting dilakukan bagi orang yang merawat atau tinggal satu rumah dengan orang yang menjalani isolasi mandiri

  1. Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien, sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
  2. Pastikan orang yang menjalani isolasi mandiri cukup istirahat, minum air dalam jumlah cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi.
  3. Selalu menggunakan masker medis terutama saat satu ruangan dengan OTG. Hindari menyentuh masker saat menggunakannya dan segera buang masker setelah dipakai.
  4. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin: saat setelah kontak dengan OTG atau dengan barang-barang di sekitarnya; sebelum, saat, dan setelah menyiapkan makanan; sebelum dan sesudah makan; setelah menggunakan toilet; setelah batuk atau bersin; atau ketika tangan terlihat kotor.
  5. Sediakan peralatan makan, handuk, dan seprai khusus untuk OTG. Pisahkan dengan peralatan yang dipakai oleh anggota keluarga lain.
  6. Bersihkan dan lakukan disinfeksi permukaan barang terutama barang-barang yang sering disentuh oleh OTG, seperti gagang pintu, tombol lampu, tempat tidur, dan perabot lain.
  7. Bersihkan dan lakukan disinfeksi kamar mandi dan toilet setiap hari. Gunakan sabun atau deterjen, kemudian disinfeksi dengan cairan disinfektan yang mengandung sodium hipoklorit 0,1% dengan cara mengelap permukaan ruangan dan permukaan barang.
  8. Hubungi fasilitas kesehatan terdekat apabila OTG mengalami gejala yang memburuk atau kesulitan bernapas.
  9. Saat batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung dengan siku yang ditekuk atau gunakan tisu sekali pakai.
  10. Hindari menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan.
  11. Jaga ventilasi udara di rumah.
  12. Pantau kesehatan setiap anggota keluarga dan penghuni rumah dengan mengukur suhu tubuh setiap hari dan amati apakah ada batuk atau sesak. Hubungi fasilitas kesehatan apabila terdapat gejala tersebut.

Selain hal tersebut, cara mencuci pakaian juga penting untuk diperhatikan karena pakaian adalah barang yang paling lama bersentuhan dengan OTG.

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat mencuci pakaian OTG atau pasien suspek

  1. Cuci baju, handuk, dan seprai orang tersebut secara terpisah.
  2. Gunakan sarung tangan karet tebal sebelum menyentuh pakaian dan kain tersebut.
  3. Hindari membawa tumpukan pakaian dan kain tersebut dengan cara menyangganya dengan tubuh.
  4. Tempatkan pakaian dan kain kotor di wadah tertutup yang sudah ditandai agar tidak digunakan utnuk keperluan lain.
  5. Sebelum meletakkan pakaian dan kain kotor di wadah khusus, jika terdapat sisa muntah atau tinja bersihkan dahulu dengan alat yang datar dan keras lalu buang di toilet yang khusus digunakan oleh OTG.
  6. Cuci dan lakukan disinfeksi pakaian dan kain menggunakan mesin cuci dengan air bersuhu 60o-90o celcius dan deterjen. Sebagai alternatif, rendam pakaian dan kain kotor di air hangat dalam tabung atau ember besar, aduk menggunakan tongkat, lakukan dengan hati-hati agar air tidak terciprat keluar. Jika tidak ada air hangat, maka rendam pakaian dan kain kotor di cairan klorin 0.05% selama 30 menit.
  7. Cuci dan jemur pakaian dan kain di bawah sinar matahari.
  8. Segera cuci tangan setelah mencuci pakaian dan kain kotor tersebut.

*Kontak erat adalah orang yang terpapar dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 pada saat 2 hari sebelum dan 14 hari setelah gejala timbul pertama kali pada pasien terkonfirmasi COVID-19, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Kontak tatap muka dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19 dengan jarak 1 meter selama 15 menit atau lebih.
  2. Kontak fisik langsung dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19.
  3. Merawat pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19.

Demikian hal-hal yang dapat dilakukan oleh OTG maupun keluarga atau orang yang merawat OTG secara langsung maupun yang tidak. Semoga informasi ini bermanfaat, salam sehat untuk Keluarga Kejora!

Editor : drg. Agnesia Safitri

 

Sumber:

  1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Tatalaksana COVID-19. 2020
  2. World Health Organization. Home care for patients with suspected or confirmed COVID-19 and management of their contacts: interim guidance. August 2020.

Rekomendasi Penggunaan Masker pada Anak Selama Pandemi COVID-19

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo, Keluarga Kejora! Pandemi COVID-19 masih berlangsung hingga saat ini. Upaya pencegahan untuk menghindari infeksi virus SARS-CoV-2 terus digalakkan oleh pemerintah, instansi kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. Tentu Ayah dan Ibu juga tidak asing dengan istilah 3M pada era Pandemi COVID-19 ini, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak. Hal ini tentu mudah dilakukan oleh orang dewasa, namun bagaimana dengan anak? Jika ada kondisi mendesak yang mengharuskan anak diajak keluar rumah, apakah harus menggunakan masker? Apakah semua anak perlu menggunakan masker? Apakah masker bisa diganti dengan face shield pada anak agar anak lebih merasa nyaman?

Pada dasarnya, penggunaan masker merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari penularan COVID-19. Panduan dari WHO mengenai penggunaan masker pada anak menyatakan bahwa anak dibawah 5 tahun tidak disarankan untuk menggunakan masker. Hal ini berdasarkan alasan keamanan, kenyamanan, serta kemampuan anak untuk menggunakan masker dengan baik dan benar tanpa supervisi orang dewasa. Namun, dalam panduan tersebut juga dijelaskan bahwa penggunaan masker hendaknya menyesuaikan dengan rekomendasi lokal yang dikeluarkan pemerintah atau ahli kesehatan.

Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak merekomendasikan pada anak di bawah usia 2 tahun karena dikhawatirkan dapat mengganggu pernafasan mereka. Pada kelompok usia ini, penggunaan face shield lebih disarankan, meskipun tidak memberikan efek proteksi yang sama dengan penggunaan masker. Jika anak menggunakan face shield, maka face shield hendaknya menutupi seluruh wajah dengan panjang sampai dengan bawah dagu. Selama pemakaian face shield, anak harus selalu di bawah pengawasan orang tua. Pada bayi, yang lebih dianjurkan adalah penggunaan kereta dorong dengan penutup dalam pengawasan orang dewasa, serta penggunaan masker oleh orang-orang dewasa di sekitar bayi, disamping menerapkan etika batuk dan memperhatikan kebersihan tangan.

IDAI menyarankan penggunaan masker pada anak di atas 2 tahun untuk meminimalisir kemungkinan penularan COVID-19 di era pandemi ini. Masker yang sesuai untuk anak adalah Penggunaan masker juga perlu disesuaikan pada anak yang memiliki kondisi medis tertentu yang berpengaruh terhadap pernafasannya, misalnya menderita penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronik. Pada anak-anak dengan kondisi medis tersebut, penggunaan masker harus selalu di bawah pendampingan orang tua atau orang dewasa lain, serta sesuai dengan saran dari dokter yang merawat. Pada anak dengan kondisi medis tertentu yang membuatnya lebih rentan mengalami infeksi atau tertular COVID-19, penggunaan masker perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter yang merawat. Penggunaan masker pada anak juga harus memperhatikan ukuran serta cara penggunaannya, sehingga memberikan memberikan efek perlindungan yang efektif.

Mari kita terus menerapkan 3M untuk mencegah penularan COVID-19! Salam sehat Kejora!

Sumber:

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/question-and-answers-hub/q-a-detail/q-a-children-and-masks-related-to-covid-19
https://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/faq-pemakaian-masker
https://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pandangan-ikatan-dokter-anak-indonesia-mengenai-pencegahan-infeksi-covid-19-pada-anak

Tips Mengajarkan Tanggung Jawab pada Anak Selama Masa School from Home

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Keluarga Sehat Kejora!

Tidak terasa, ya, sudah 5 bulan kita #dirumahaja. Hampir seluruh aktivitas dilakukan di rumah saja, termasuk kegiatan persekolahan (School from Home) yang sudah mulai diberlakukan beberapa minggu lalu. Pasti ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan buat para Ayah dan Ibu, terlebih dengan adanya aktivitas lain yang juga menuntut untuk diselesaikan. Bila tidak terbiasa mendampingi anak belajar di rumah, situasi ini akan menjadi kegiatan menantang sekaligus menguras energi bagi orangtua. Perasaan kesal dan lelah saat mendampingi anak belajar di rumah adalah hal yang wajar, kok, karena beradaptasi dengan situasi baru memang tidak pernah mudah. Oleh karena itu, diperlukan penerimaan dan kesabaran yang luas dalam menghadapinya.

Kondisi belajar mengajar di kelas yang diawasi secara langsung oleh guru membuat anak lebih bisa mengontrol perilakunya, berbeda dengan di rumah yang minim pengawasan dari orangtua. Anak-anak cenderung lebih bebas melakukan tindakan yang ia inginkan sehingga tidak fokus terhadap materi yang diberikan. Hal paling ekstremnya mungkin anak sampai tidak mau belajar dari rumah. Hal ini tentu jadi masalah karnea membuat proses belajar menjadi kurang efektif dan anak ketinggalan pelajaran.  Oleh karena itu, dalam mendampingi anak untuk proses belajar, orangtua juga bisa sambil mengajarkan sikap disiplin dan tanggung jawab pada anak. Bertanggung jawab artinya melakukan sesuatu sesuai dengan harapan dan menerima hal yang menjadi konsekuensi dari perbuatan. Dengan anak belajar tanggung jawab, anak dapat mengetahui konsekuensi dari setiap pilihan yang ia lakukan. Hal ini akan melatih anak untuk mempertimbangkan terlebih dahulu setiap tindakannya. Beberapa prinsip yang perlu orangtua pahami ketika hendak mengajarkan tanggung jawab kepada anak diantaranya:

  1. Pastikan emosi orangtua stabil ketika sedang mendampingi anak.

Orangtua yang mendampingi anak dalam kondisi emosi tidak stabil dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan tidak aman sehingga ayah dan Ibu perlu menjaga kestabilan emosi agar tidak memberi dampak negatif terhadap anak.

  1. Bangun koneksi dengan anak.

Agar anak merasa nyaman dengan perlakuan yang ia terima, orangtua perlu membangun koneksi dengan anak terutama secara emosional. Mulailah dengan memvalidasi perasaan anak jika mereka sedang sedih, marah, takut, lelah, dll, misalnya “ Adek lagi ngerasa capek ya? Ga apa-apa kok. Adek boleh istirahat dulu”.

  1. Beri kesempatan anak belajar bertanggung jawab

Sebagian orangtua menganggap anak belum mampu melakukan apapun sehingga segala kebutuhan mereka selalu dipenuhi. Padahal situasi ini dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Coba beri kesempatan kepada anak untuk melakukan hal yang ia inginkan dan membantu mereka menyiapkan diri untuk menghadapi resiko yang mungkin akan terjadi.

  1. Samakan persepsi dengan pasangan dalam membuat aturan.

Tiap orangtua memiliki ekspektasi yang berbeda kepada anaknya. Memiliki ekspektasi itu boleh, tapi pastikan ekspektasi tersebut realistis untuk anak. Diskusikan secara pribadi dengan pasangan terkait harapan, metode bertanya dan konsekuensi yang akan dikenakan jika anak tidak patuh. Ketika anak tidak patuh atau bermasalah, usahakan agar orangtua berdua hadir untuk bernegosiasi terhadap permintaan anak.

  1. Cari waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak.

Cari waktu yang tepat untuk mendiskusikan harapan maupun permintaan Ayah dan Ibu kepada anak. Perhatikan kondisi anak secara fisik dan psikis sebelum mengajak mereka berdiskusi. Selain itu, minta persetujuan mereka apakah mereka mau dan siap untuk diajak berdisksusi atau tidak.

Selanjutnya, dalam mengajarkan sikap tanggung jawab pada anak terutama selama masa belajar dari rumah, ada beberapa cara yang Ayah dan Ibu bisa lakukan, diantaranya:

  1. Pahami keinginan anak.

Tidak semua hal yang menjadi harapan orangtua itu sesuai dengan harapan maupun kebutuhan anak. Anak terkadang memiliki kebutuhan dan harapan sendiri terkait hal yang membuatnya nyaman dan merasa aman… Dalam proses ini, orangtua perlu belajar memahami keingianan anak terutama yang berkaitan dengan proses belajar di rumah. Ayah dan Ibu bisa menanyakan  “Dek, gimana rasanya selama belajar dari rumah? Ada tidak hal yang adek mau sampaikan kepada Ibu? Ada tidak hal adek rasa tidak nyaman? Ada hal yang Ibu bisa bantu buat adek?”

  1. Komunikasikan perilaku yang diharapkan.

Setelah mengetahui keinginan anak, Ayah dan Ibu perlu untuk menerima emosinya terlebih dahulu. Apresiasi usaha anak yang telah terbuka mengutarakan keinginannya. Kemudian, Ayah dan Ibu dapat membangun diskusi dengan anak dengan mengkomunikasikan perilaku spesifik yang Ayah dan Ibu harapkan beserta aturannya, tanpa mengabaikan harapan anak. Dalam hal ini, Ayah dan Ibu bisa mengatakan “Terima kasih adek sudah terbuka dengan ayah dan Ibu untuk menyampaikan perasaan adek selama belajar di rumah. Ayah paham ini bukan hal yang mudah buat adek. Namun, ayah berharap adek mau coba lagi buat belajar sama Ibu X ya. Adek bisa menghadap ke depan laptop selama beberapa … menit. Jika adek merasa capek, adek boleh ngomong dan izin ke Ibu  X untuk menutup kameranya dulu agar adek bisa istirahat sebentar, baru setelah itu dilanjut lagi”.

  1. Jelaskan konsekuensi yang akan diperoleh pada anak

Saat mengajarkan sikap disiplin kepada anak, anak perlu memahami arti konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana dan fokus pada manfaat dan kerugian yang akan anak peroleh, misalnya “ Kalau adek mendengarkan penjelasan Ibu X dengan baik, adek akan lebih mudah untuk mengerjakan PRnya. Selain itu,  waktu adek untuk bermain bisa ditambah nanti jadi….menit. Namun, jika tidak  mendengarkan penjelasan dari  Ibu X, nanti adek akan kesulitan sendiri untuk mengerjakan PR yang diberikan. Selain itu, untuk sementara penggunaan handphone adek juga akan dibatasi”.

  1. Gunakan kalimat positif dan spesifik.

Perlu dipahami bahwa pemahaman anak masih terbatas. Selain itu, mereka belum diberi kemampuan untuk menganalisa informasi dengan baik sehingga pemilihan kata yang digunakan saat memberi tahu anak sangat menentukan tingkat pemahaman anak. Menggunakan kalimat yang cenderung negatif hanya akan membuat pemaknaan anak juga  menjadi negatif. Oleh karena itu, coba gunakan kalimat yang lebih positif dengan instruksi yang spesifik. Selain itu, kalimat yang diucapkan juga perlu masuk akal alias realistis. Misalnya “Dek, jangan main-main. Dengerin tuh gurunya ngomong”, mungkin bisa diganti dengan “Dek, kalau gurunya lagi menjelaskan, mama pengen adek bisa duduk tenang, menghadap ke laptop sambil membuka halaman buku yang Ibu gurunya minta untuk buka”. Ibu dapat meminta anak mengulangi instruksinya untuk memastikan anak sudah paham atau belum.

  1. Jelaskan sambil mencontohkan perilakunya.

Perlu dipahami bahwa anak lebih mudah belajar dengan cara meniru. Oleh  karena itu, memberikan pelajaran tanggung jawab kepada anak juga perlu ditunjukkan dengan perbuatan maupun perilaku dari orangtuanya. Misalnya, Ibu ingin agar anak membereskan buku/laptopnya setelah belajar. Ibu dapat membantu anak memahami maksud Ibu dengan menjelaskan sambil menunjukkan cara membereskan buku/laptop itu setelah belajar.

  1. Berikan apresiasi terhadap usaha yang sudah dilakukan.

Dalam mengerjakan sesuatu, anak mengeluarkan energi sehingga anak membutuhkan apresiasi atau penghargaan atas hal yang sudah ia kerjakan. Ciptakan suasana agar anak-anak merasa dihargai baik sebagai dirinya maupun usaha yang ia lakukan, misalnya dengan mengatakan “ Wah, adek hebat. Terima kasih hari ini sudah mau belajar dengan baik”.

Semoga tips kali ini dapat membantu Ayah dan Ibu mendampingi anak selama masa School from Home, ya! Tetap semangat, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber:

https://www.ahaparenting.com/parenting-tools/character/responsibility

https://www.verywellfamily.com/teaching-responsibility-to-your-child-3288496

https://pursuit.unimelb.edu.au/articles/five-tips-for-keeping-kids-learning-at-home

https://www.positivediscipline.com/articles/teaching-responsibility-when-does-it-happen

https://www.positivediscipline.com/articles/teaching-responsibility-when-does-it-happen

Tips Membantu Mengatasi Kecemasan pada Anak

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu, semoga Ayah dan Ibu dalam keadaan sehat!

Saat ini kita semua sedang menjalani masa transisi pandemi COVID 19. Selama 3 bulan ini keluarga kita mengalami perubahan cara hidup dan sangat memerlukan penyesuaian. Kecemasan, ketidakpastian, dan perubahan dapat menjadi sumber tekanan dalam hidup yang perlu dikenali. Bagaimana dengan anak-anak kita? Ternyata anak-anak pun bisa mengalami kecemasan karena perubahan situasi seperti ini. Mari kita pahami bersama bagaimana kita dapat menolong anak-anak kita untuk menghadapi kecemasan pada masa transisi pandemi COVID-19 ini.

  1. Ciptakan rutinitas

Salah satu cara terbaik untuk mengurangi kecemasan anak adalah dengan membuat rutinitas, sehingga anak merasa aman dan nyaman. Buat jadwal yang baru bersama anak; jadwal hidup sehat, seperti mendorong anak untuk tidur yang cukup, pola makan sehat yang teratur, dan melakukan aktivitas fisik yang terjadwal. Aktivitas fisik dapat dilakukan di dalam ruangan atau sekitar rumah. Tentukan target dan tempelkan jadwal tersebut dan pencapaiannya di tempat yang mudah dilihat (misalnya, di pintu kulkas) sehingga anak mengetahui pencapaian mereka. Berikan pujian kepada anak, karena pujian akan membantu meningkatkan perasaan mereka.

Jika anak belum memenuhi jadwal baru maka sampaikan bahwa tidak perlu khawatir dan  bisa dicoba lagi pada keesokan hari.

  1. Tingkatkan kebersamaan dan dengarkan cerita anak

Tingkatkan kebersamaan, tanyakan perasaan anak, dan dengarkan cerita anak tanpa memotongnya. Buka terus saluran komunikasi untuk mendukung anak-anak kita. Kita bisa menolong anak dengan membagikan cara kita menghadapi kecemasan kita. Beritahukan kepada anak bahwa merasa cemas adalah hal yang wajar, dan beri tahu bahwa kita sebagai orang tua selalu ada untuk membantu mereka mengatasi kecemasannya. Kita bisa mendukung anak dengan menanyakan apa kelebihan anak-anak kita? Sampaikan kelebihan-kelebihan tersebut saat anak-anak merasa cemas. Kita juga bisa membaca buku bersama anak saat ia merasa cemas. Seringkali anak hanya ingin mendengar bahwa kita ada untuk mereka dan mencintai mereka.

  1. Kenali tanda kecemasan lebih awal

Tanda kecemasan awal dapat berbeda dari satu anak ke anak lain, misalnya menggigit kuku, atau menjadi lebih rewel. Umumnya yang termasuk tanda kecemasan meliputi kekhawatiran berlebih, gelisah, selalu merasa lemas, kesulitan  konsentrasi/fokus dan tidak bisa tidur.

Anak tidak selalu dapat mengungkapkan dengan kata-kata, sehingga kecemasan dalam bentuk tantrum atau perilaku menyerang dapat terjadi. Pada remaja, kecemasan dapat berupa perilaku mengucilkan diri. Bicarakan dengan anak-anak Anda bila terdapat tanda-tanda tersebut.

  1. Ajarkan anak cara mengatasi kecemasan

Anak-anak bisa melakukan aktivitas fisik untuk mengurangi kecemasan, misalnya dengan menarik napas dalam secara teratur, menghitung mundur dari 100, atau ke ruangan yang aman dan nyaman di rumah. Buat ruangan di rumah yang nyaman untuk anak, misalnya kamar tidur atau ruang bermain. Sediakan sesuatu yang bisa disentuh seperti selimut, boneka, atau bola stress. Persiapkan aktivitas di dalam ruangan seperti membaca buku, menggambar atau menonton video.

  1. Fokus kepada hal yang bisa dikontrol

Ajarkan anak untuk fokus pada hal yang bisa mereka kendalikan, seperti menyelesaikan pekerjaan hari ini, mengucapkan aku sayang kamu atau menggambar untuk guru dan teman. Ajarkan anak untuk aktivitas pencegahan penyakit, seperti cuci tangan dan jaga jarak.

  1. Dorong anak untuk berpikir positif

Anda bisa meminta anak untuk menceritakan apa yang mereka pikirkan, lalu bantu anak menjelaskan berdasarkan fakta atau menerangkan sebab akibat dengan konstruksi yang positif. Selalu bersyukur untuk apa yang sudah didapat bersama anak Anda, dengan fokus kepada percakapan yang menyenangkan, sehingga mood mereka akan membaik.

  1. Tetap berhubungan dengan sesama

Penting sekali untuk tetap berelasi dengan orang lain dalam masa isolasi ini. Dengan telepon, video call, menggambar untuk teman sekelas atau guru atau mengirim surat atau email. Kita bisa mendesain jendela rumah kita atau membuat masker.

  1. Minta pertolongan tenaga Kesehatan/professional

Jika gejala cemas terus menetap atau sulit dikendalikan maka Anda perlu mendiskusikan dengan dokter atau psikolog. Tanda bahwa anak membutuhkan bantuan salah satunya adalah tidak bisa menyelesaikan tugas harian, tidak mau terlibat dalam aktivitas yang dahulu mereka sukai, atau tidak bisa tidur sehingga mempengaruhi aktivitas dan pola makan.

Semoga keluarga kita selalu sehat dalam masa pandemi ini dan kita bisa melewati dan melakukan penyesuaian yang terbaik untuk anak-anak kita.

Editor: dr. Sunita

Sumber: https://www.childrens.com/health-wellness/8-tips-for-managing-childrens-anxiety-about-covid-19

Perlukah Konsumsi Suplemen Vitamin C untuk Mencegah COVID-19?

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Halo, Keluarga Kejora! Tidak terasa ya, sudah lebih dari dua bulan sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Ayah dan Ibu Kejora pasti sudah mengetahui saat ini belum ada vaksin untuk mencegah penyakit ini. Ayah dan Ibu Kejora mungkin juga bertanya-tanya, “Apakah ada suplemen yang dapat dikonsumsi untuk mencegah penyakit ini?”. Salah satu suplemen yang banyak dipertanyakan oleh masyarakat adalah vitamin C. Bagaimana sebenarnya faktanya? Apakah konsumsi suplemen vitamin C dapat mencegah COVID-19?

Vitamin C adalah mikronutrien penting yang berperan sebagai antioksidan dan telah terbukti dapat mencegah terjadinya berbagai kanker. Vitamin C secara alami bisa didapatkan dari konsumsi buah dan sayuran seperti jeruk, anggur, kiwi, tomat, brokoli, dan bayam. Kadar vitamin C yang diperoleh dari mengonsumsi 5 porsi buah dan sayuran per hari adalah sebesar 200 mg; cukup untuk kebutuhan tubuh kita, karena kadar vitamin C minimal yang kita butuhkan adalah 100-120 mg/hari. Lalu, apakah suplemen vitamin C dalam bentuk tablet ataupun injeksi berguna dalam mencegah infeksi? Ada sebuah literatur yang mengumpulkan dan menganalisis berbagai penelitian mengenai hubungan antara suplemen vitamin C dengan common cold alias batuk pilek. Ternyata, literatur tersebut menyimpulkan tidak adanya peran yang bermakna dari konsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi (dosis 200 mg atau lebih) dalam mencegah timbulnya common cold. Selain itu, diketahui pula bahwa tidak terdapat hubungan antara konsumsi suplemen vitamin C dengan tingkat keparahan dan lama infeksi common cold, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

Kemudian, bagaimana sih pengaruh suplemen vitamin C pada pasien-pasien COVID-19? Mengingat bahwa penyakit ini masih sangat baru, maka berbagai obat dan suplemen yang berpotensi dapat meringankan dan/atau menyembuhkan penyakit ini, masih sedang diteliti, sehingga belum dapat ditarik suatu kesimpulan. Salah satu penelitian yang akan dilakukan adalah sebuah penelitian di Amerika Serikat yang memberikan vitamin C melalui infus pada pasien COVID-19 dewasa yang tergolong berat. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah suplementasi vitamin C dapat membantu menurunkan jumlah kematian dan menurunkan tingkat keparahan pasien COVID-19. Sayangnya, hingga saat ini belum ada penelitian yang menganalisis peran suplemen vitamin C untuk mencegah COVID-19. Oleh karena itu, belum diketahui apakah konsumsi suplemen vitamin C dapat mencegah seseorang tertular dan terinfeksi COVID-19. Semoga hasil penelitian-penelitian yang sedang berlangsung nantinya membawa kabar baik untuk kita semua ya, Keluarga Kejora!

Nah, sembari menunggu hasil penelitian vaksin yang dapat mencegah penyakit COVID-19, Keluarga Kejora tetap dapat menerapkan prinsip hidup sehat seperti tidur cukup, menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal, makan makanan yang bergizi dan seimbang, melakukan physical distancing, selalu memakai masker apabila terpaksa bepergian, dan rajin mencuci tangan dengan cara yang benar.

Sehat selalu ya, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Dinda Laras Chitadianti

Referensi

  1. Hemilä, H. Vitamin C and infections. Nutrients 2017;9(339):1-28
  2. Hemilä H, Chalker E, Treacy B, Douglas B. Vitamin C for preventing and treating the common cold. Cochrane Database of Systematic Reviews. In: The Cochrane Library, Issue 3, Art. No. CD000980. DOI: 10.1002/14651858.CD000980.pub1
  3. Kashioris MG. Early infusion of Vitamin C for treatment of novel COVID-19 acute lung injury (EVICT-CORONA-ALI). ClinicalTrials.gov
  4. National Institutes of Health. Vitamin C- fact sheet for health professionals. Available at https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminC-HealthProfessional/#h3

Fakta COVID-19 pada Anak

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Bunda Kejora!

Indonesia dan banyak negara di dunia sedang berjuang mengatasi pandemi COVID-19. Saat ini angka kejadian COVID-19 di Indonesia makin meningkat. Bagaimana sikap kita sebagai orang tua dalam menghadapi situasi ini? Tetap waspada, tidak panik dan melakukan langkah tepat adalah hal yang bijak. Oleh karena itu, mari kita ketahui fakta mengenai COVID-19 pada anak.

Apakah COVID-19?

Coronavirus Disease-2019 (COVID-19) adalah penyakit saluran napas yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, yaitu Novel Corona Virus 2019 atau nama lainnya adalah SARS Coronavirus 2. Penyakit ini dilaporkan pertama kali di Wuhan, China pada akhir tahun 2019 dan dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal 11 Maret 2020. Pandemi merupakan kondisi suatu penyakit menyebar dengan cepat dan luas meliputi banyak negara di dunia.

Apakah COVID-19 dapat menyerang anak?

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 31 Maret 2020 terdapat total laporan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 1528 kasus dengan angka kematian sebanyak 136 kasus (8,9%), kasus sembuh 81 kasus (5,3%) dan kasus anak sebanyak 20 kasus (1,3%).

Angka kejadian anak yang lebih rendah daripada dewasa tentunya tetap memerlukan kewaspadaan orang tua karena anak bisa saja tidak bergejala sehingga dapat menjadi sumber penularan (karier) bagi orang lain.

Bagaimana gejala klinis COVID-19 pada anak?

Novel corona virus merupakan 1 dari ratusan jenis virus lainnya, seperti influenza virus, parainfluenza, adenovirus, rhinovirus, dan masih banyak lagi jenis virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran napas akut atau yang sering dikenal dengan ISPA pada anak. Tanda dan gejala COVID-19 pada anak sulit dibedakan dari penyakit saluran pernapasan akibat virus lainnya. Gejala dapat berupa batuk, pilek, demam seperti penyakit common cold atau selesma yang umumnya bersifat ringan dan akan sembuh sendiri. Namun penyakit saluran pernapasan menjadi berbahaya apabila menyerang paru, yang mengakibatkan terjadinya radang paru atau yang disebut pneumonia. Kondisi ini ditandai dengan anak bernapas lebih cepat dan mengalami sesak napas.

Kapan harus membawa anak berobat ke dokter?

Bila anak sedang demam, batuk, pilek ringan, namun anak masih aktif dan asupan makan serta minum baik, sebaiknya tidak segera berkunjung ke fasilitas kesehatan. Namun jika terdapat tanda bahaya, seperti kesulitan bernapas yang ditandai dengan napas cepat dan sesak napas, anak lemas dan cenderung tidur, demam tinggi 39°C terus menerus selama tiga hari, kejang, tampak biru, asupan makan tidak baik, anak tidak dapat minum, buang air kecil berkurang, maka segera bawa anak ke fasilitas kesehatan. Jika ada kebingungan terkait COVID-19, maka Ayah dan Bunda Kejora dapat menghubungi petugas kesehatan melalui Hotline Center Corona Kementerian Kesehatan di nomor telepon 119 ext. 9.

Apakah vaksin penting diberikan pada anak di saat pandemi sedang berlangsung?

Saat ini belum ada vaksin untuk COVID-19. Namun kita tetap perlu melindungi Sang Buah Hati terhadap penyakit infeksi lainnya yang bisa dicegah dengan pemberian vaksin. Oleh karena imunisasi sebaiknya tetap diupayakan lengkap sesuai usia menurut jadwal rekomendasi yang berlaku. Imunisasi Hepatitis B (0), BCG, Polio (0), DTP+Hib+Hepatitis B (1) harus diberikan sesuai jadwal dan lebih baik jika dilengkapi dengan vaksin PCV serta influenza. Bila ragu dan ingin menunda pemberian imunisasi, sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan lain dengan batas penundaan, yaitu 1 bulan.

Apakah yang dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap COVID-19?

Saya mengajak Ayah dan Bunda Kejora untuk selalu ingat menjalankan pola hidup bersih dan sehat agar Sang Buah Hati terhindar dari sakit.

Pola hidup bersih diantaranya dengan mengajarkan anak untuk selalu mencuci tangan dengan 7 langkah yang tepat, yaitu cuci tangan pada telapak tangan, punggung tangan, seluruh jari, sela jari, ibu jari, ujung kuku dan pergelangan tangan sebelum dan sesudah makan, bermain, ke toilet, dan lainnya. Ajarkan anak untuk mengetahui etika batuk dan bersin yang benar. Gunakan masker dengan cara yang tepat, terutama saat anak sedang mengalami batuk dan pilek. Kondisi pandemic COVID-19, tidak boleh membuat kita lupa dengan penyakit infeksi lain yang juga berbahaya. Oleh karena itu Ayah dan Bunda juga perlu ingat untuk pemberantasan nyamuk dan waspada demam dengue dengan program 3 M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang, menggunakan kelambu, memakai obat anti nyamuk, dan lainnya).

Pola hidup sehat dengan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dilanjutkan dengan pemberian makan bergizi dengan pola seimbang, minum air putih yang cukup, olah raga secara teratur, istirahat yang cukup (tidur pada anak berkisar 10 jam/ hari tergantung rentang usia anak) dan jangan lupa untuk melengkapi imunisasi pada anak sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan berdasarkan usia Sang Buah Hati.

Apakah anak perlu minum vitamin atau suplemen supaya tetap sehat?

Belum ada rekomendasi mengenai pemberian vitamin atau pun suplemen pada anak untuk mencegah COVID-19. Jadi hal yang terutama untuk menjaga anak tetap sehat adalah dengan pemberian nutrisi lengkap seimbang, istirahat yang cukup, aktivitas fisik sesuai usia, penerapan perilaku hidup bersih sehat, serta usaha pencegahan penularan infeksi. Suplemen berupa vitamin, seperti vitamin C,D dan zinc ditujukan untuk mengatasi kekurangan mikronutrien, jika asupan makanan tidak adekuat.

Bagaimana memutus rantai penyebaran COVID-19?

Ayah dan Bunda Kejora demi kesehatan anak kita dan juga keselamatan orang lain, mari berupaya putuskan rantai penyebaran COVID-19 dengan tetap berada di rumah. Kita tidak pernah tahu apakah orang yang kita jumpai di luar rumah sedang sakit COVID-19 atau tidak. Orang yang terlihat sehat atau tidak bergejala (asimptomatik), masih mungkin karier virus tersebut. Namun karena daya tahan tubuhnya baik, maka orang itu tidak menimbulkan gejala klinis sakit. Hal yang berbahaya jika seorang yang karier berkontak dengan orang yang daya tahan tubuhnya tidak baik sehingga orang yang kontak tersebut menjadi sakit dan bahkan ia pun menjadi sumber penularan untuk orang lain yang ada di sekitarnya terutama orang tua yang sudah lanjut usia. Oleh karena itu mari kita tetap di rumah dan jika sangat terpaksa harus melakukan suatu keperluan di luar rumah penting melakukan physical distancing atau pembatasan jarak fisik dengan menjaga jarak minimal 1-2 meter antar orang. Mengapa perlu ada jarak?Berdasarkan penelitian, jarak penyebaran virus melalui droplet (percikan batuk atau bersin yang mengandung virus) dapat terjadi antar orang dengan jarak terdekat yaitu 6 feet (1,8 meter).

Apa yang dapat dikerjakan selama berada di rumah?

Ayah dan Bunda Kejora, mari kita manfaatkan waktu yang ada di rumah untuk meningkatkan quality time antar anggota keluarga. Ayah dan Bunda tidak perlu memaksa anak untuk melakukan suatu aktivitas, namun ciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan supaya anak pun merasa betah dan tidak bosan di rumah. Libatkan anak dalam kegiatan rumah sesuai dengan kemampuan dan usia anak, misalnya saja membantu ibu mempersiapkan bahan masakan, merapikan kamar, melipat baju secara mandiri atau membantu ayah mencuci mobil. Ajak anak melakukan kegiatan yang meningkatkan kreativitas sesuai usianya, misalnya membuat hiasan dinding untuk kamar, mewarnai gambar, dan sebagainya. Isi waktu dengan kegiatan bermanfaat seperti membaca buku bersama dan damping anak jika ada tugas dari sekolah dengan metode pembelajaran jarak jauh (E-learning). Komunikasi jarak jauh dengan video call, zoom, atau pun media komunikasi lainnya bisa menjadi pilihan untuk melepas kangen dengan kakek, nenek serta sahabat lainnya. Jangan lupa beribadah bersama dengan anak di rumah dan mari kita selipkan doa bagi bangsa ini.

Ayah dan Bunda Kejora mari kita bersatu untuk dukung bangsa ini melawan COVID-19. Setiap langkah positif yang kita lakukan adalah bentuk kepedulian kita untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes., Sp.PM

Referensi

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200401-sitrep-72-covid-19.pdf?sfvrsn=3dd8971b_2

https://www.kemkes.go.id/

UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Panduan COVID-19 pada Anak. 2020

COVID-19 pada Kehamilan

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Infeksi COVID-19 yang akhir-akhir ini sedang marak menyebabkan kekhawatiran bagi masyarakat, khususnya di Indonesia setelah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020 bahwa ada 2 WNI yang positif COVID-19. Karena penyakit ini masih baru, belum banyak data mengenai dampaknya pada kehamilan. Pada artikel ini akan dibahas mengenai apa yang sudah diketahui mengenai COVID-19 pada kehamilan, dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah COVID-19.

Apa gejala COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Demam (78%)
  • Batuk (44%)
  • Nyeri otot (33%)
  • Rasa lemas menyeluruh (22%)
  • Sesak nafas (11%)
  • Sakit tenggorok (22%)
  • Pada perempuan dengan riwayat bepergian ke daerah yang terdampak dalam waktu 14 hari terakhir, atau ada riwayat kontak dekat dengan orang yang positif menderita COVID-19 dalam 14 hari terakhir.

Apa dampak COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Kondisi penyakit yang lebih berat pada ibu, termasuk meningkatkan angka kematian
  • Dampak pada janin, termasuk persalinan preterm (prematur), ketuban pecah dini, dan gawat janin.
  • Dari studi yang ada, sebagian besar perempuan hamil dengan COVID-19 melahirkan dengan operasi sesar. Data saat ini juga menunjukkan belum ada penularan dari ibu ke janin dalam kandungan (transmisi vertikal).

Apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang memiliki gejala?

  • Melaporkan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
  • Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut akan merujuk ke rumah sakit yang sudah ditentukan untuk melayani COVID-19 (saat ini ada 100 rumah sakit di Indonesia)

Upaya pencegahan apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang masih sehat?

  • Menghindari kontak dengan orang sakit.
  • Batuk / bersin ke tisu, lalu buang tisu tersebut dan cuci tangan.
  • Bersihkan permukaan yang sering dipegang banyak orang, seperti gagang pintu, steker lampu, meja.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 20 detik setelah ke kamar mandi, sebelum makan, dan setelah bersin / batuk. Jika tidak tersedia air dan sabun, cuci tangan dengan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.
  • Sediakan ruangan / kamar terpisah bila ada anggota keluarga yang sakit.
  • Hindari bepergian ke daerah yang positif memiliki kasus COVID-19.

Apa yang dilakukan pada ibu dan bayi baru lahir?

  • Bayi baru lahir dari ibu yang positif COVID-19 juga dianggap sebagai pasien yang harus diperiksa dan diinvestigasi lebih lanjut.
  • Bayi baru lahir dirawat di ruangan terpisah dari ibu yang positif COVID-19.

Bagaimana dengan pemberian ASI pada bayi dari ibu positif COVID-19?
Dari data yang ada saat ini, tidak ditemukan virus Corona pada ASI. Oleh sebab itu, pada ibu yang memiliki gejala berat, dianjurkan untuk menyusui dengan cara memompa ASI, lalu diberikan ke bayi oleh orang yang sehat. Bila gejala ringan, maka ibu dapat menyusui langsung, dengan melakukan upaya pencegahan dan menggunakan masker.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK