Panduan Isolasi Mandiri untuk Orang Tanpa Gejala

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

 

Halo, Keluarga Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19 ini, mungkin beberapa di antara Keluarga Kejora harus melakukan isolasi mandiri karena merupakan kontak erat* dengan pasien COVID-19 atau sudah terkonfirmasi COVID-19 namun tanpa gejala (Orang Tanpa Gejala/OTG). OTG melakukan isolasi mandiri di rumah selama 10 hari sejak terkonfirmasi. Setelah 10 hari, OTG dapat kontrol ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) untuk dilakukan pemantauan klinis. Nah, apa saja ya yang perlu diperhatikan saat isolasi mandiri untuk menjaga kesehatan OTG dan keluarga?

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan OTG atau orang yang menjalani isolasi mandiri

  1. Tinggal di kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, namun apabila tidak memungkinkan maka gunakan masker medis dan jaga jarak minimal 1 meter dari orang lain.
  2. Jaga aliran ventilasi ruangan dengan cara membuka jendela kamar secara berkala.
  3. Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat berinteraksi dengan keluarga.
  4. Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin.
  5. Tinggal di rumah, tidak pergi bekerja, ke sekolah, atau ke tempat-tempat umum.
  6. Beristirahat, minum air dalam jumlah cukup, dan makan makanan bergizi.
  7. Apabila memungkinkan, gunakan kamar mandi dan toilet yang berbeda dengan anggota keluarga lainnya.
  8. Saat batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung dengan siku yang tertekuk atau gunakan tisu sekali pakai dan buang setelah memakainya.
  9. Ukur dan catat suhu tubuh 2 kali sehari, setiap pagi dan malam hari.
  10. Apabila sulit bernapas atau suhu tubuh meningkat lebih dari 38o celcius, segera hubungi fasilitas kesehatan atau petugas pemantau.

 

Beberapa hal yang penting dilakukan bagi orang yang merawat atau tinggal satu rumah dengan orang yang menjalani isolasi mandiri

  1. Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien, sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
  2. Pastikan orang yang menjalani isolasi mandiri cukup istirahat, minum air dalam jumlah cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi.
  3. Selalu menggunakan masker medis terutama saat satu ruangan dengan OTG. Hindari menyentuh masker saat menggunakannya dan segera buang masker setelah dipakai.
  4. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin: saat setelah kontak dengan OTG atau dengan barang-barang di sekitarnya; sebelum, saat, dan setelah menyiapkan makanan; sebelum dan sesudah makan; setelah menggunakan toilet; setelah batuk atau bersin; atau ketika tangan terlihat kotor.
  5. Sediakan peralatan makan, handuk, dan seprai khusus untuk OTG. Pisahkan dengan peralatan yang dipakai oleh anggota keluarga lain.
  6. Bersihkan dan lakukan disinfeksi permukaan barang terutama barang-barang yang sering disentuh oleh OTG, seperti gagang pintu, tombol lampu, tempat tidur, dan perabot lain.
  7. Bersihkan dan lakukan disinfeksi kamar mandi dan toilet setiap hari. Gunakan sabun atau deterjen, kemudian disinfeksi dengan cairan disinfektan yang mengandung sodium hipoklorit 0,1% dengan cara mengelap permukaan ruangan dan permukaan barang.
  8. Hubungi fasilitas kesehatan terdekat apabila OTG mengalami gejala yang memburuk atau kesulitan bernapas.
  9. Saat batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung dengan siku yang ditekuk atau gunakan tisu sekali pakai.
  10. Hindari menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan.
  11. Jaga ventilasi udara di rumah.
  12. Pantau kesehatan setiap anggota keluarga dan penghuni rumah dengan mengukur suhu tubuh setiap hari dan amati apakah ada batuk atau sesak. Hubungi fasilitas kesehatan apabila terdapat gejala tersebut.

Selain hal tersebut, cara mencuci pakaian juga penting untuk diperhatikan karena pakaian adalah barang yang paling lama bersentuhan dengan OTG.

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat mencuci pakaian OTG atau pasien suspek

  1. Cuci baju, handuk, dan seprai orang tersebut secara terpisah.
  2. Gunakan sarung tangan karet tebal sebelum menyentuh pakaian dan kain tersebut.
  3. Hindari membawa tumpukan pakaian dan kain tersebut dengan cara menyangganya dengan tubuh.
  4. Tempatkan pakaian dan kain kotor di wadah tertutup yang sudah ditandai agar tidak digunakan utnuk keperluan lain.
  5. Sebelum meletakkan pakaian dan kain kotor di wadah khusus, jika terdapat sisa muntah atau tinja bersihkan dahulu dengan alat yang datar dan keras lalu buang di toilet yang khusus digunakan oleh OTG.
  6. Cuci dan lakukan disinfeksi pakaian dan kain menggunakan mesin cuci dengan air bersuhu 60o-90o celcius dan deterjen. Sebagai alternatif, rendam pakaian dan kain kotor di air hangat dalam tabung atau ember besar, aduk menggunakan tongkat, lakukan dengan hati-hati agar air tidak terciprat keluar. Jika tidak ada air hangat, maka rendam pakaian dan kain kotor di cairan klorin 0.05% selama 30 menit.
  7. Cuci dan jemur pakaian dan kain di bawah sinar matahari.
  8. Segera cuci tangan setelah mencuci pakaian dan kain kotor tersebut.

*Kontak erat adalah orang yang terpapar dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 pada saat 2 hari sebelum dan 14 hari setelah gejala timbul pertama kali pada pasien terkonfirmasi COVID-19, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Kontak tatap muka dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19 dengan jarak 1 meter selama 15 menit atau lebih.
  2. Kontak fisik langsung dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19.
  3. Merawat pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19.

Demikian hal-hal yang dapat dilakukan oleh OTG maupun keluarga atau orang yang merawat OTG secara langsung maupun yang tidak. Semoga informasi ini bermanfaat, salam sehat untuk Keluarga Kejora!

Editor : drg. Agnesia Safitri

 

Sumber:

  1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Tatalaksana COVID-19. 2020
  2. World Health Organization. Home care for patients with suspected or confirmed COVID-19 and management of their contacts: interim guidance. August 2020.

Pemeriksaan Rapid Test dan PCR Swab COVID-19

 

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, keluarga Kejora! Semoga semuanya dalam keadaan sehat ya!

Di masa pandemik COVID-19 ini, banyak pihak yang menawarkan pemeriksaan untuk penapisan atau mendiagnosis COVID-19. Sebenarnya apa saja pemeriksaan COVID-19? Berikut pembahasannya ya.

COVID-19 (Corona Virus Disease-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona dan pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada Desember 2019 lalu. Sejak awal dideteksi di Cina, penyakit ini menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, COVID-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional. Saat ini, banyak pihak menawarkan pemeriksaan penapisan dan diagnostik COVID-19, antara lain pemeriksaan rapid test dan swab.

Pemeriksaan rapid test COVID-19 merupakan metode pemeriksaan yang dipakai untuk melakukan penapisan COVID-19. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan darah dari ujung jari atau pembuluh darah vena dan bertujuan untuk mendeteksi antibodi (IgG dan/atau IgM) yang diproduksi tubuh sebagai bentuk perlawanan tubuh terhadap infeksi virus corona. Hasil pemeriksaan rapid test dikatakan positif jika terdapat garis pada tempat pemeriksaan IgG dan/atau IgM. Hasil pemeriksaan rapid test yang positif mengindikasikan bahwa orang tersebut pernah atau sedang terinfeksi dengan virus corona. IgG menandakan infeksi yang terjadi sudah lama, sedangkan IgM menandakan infeksi yang baru.

Gambar skematik pemeriksaan rapid test COVID-19

Sumber: https://antibody-antibodies.com/featured/accu-tell-covid-19-igg-igm-rapid-test-cassette-whole-blood-serum-plasma-coronavirus-test/

 

Hasil pemeriksaan rapid test yang negatif menunjukkan bahwa darah yang diperiksa tidak mengandung antibodi virus corona. Meskipun demikian, sebaiknya pemeriksaan dengan hasil yang negatif diulang setelah 7-10 hari untuk memastikan hasilnya benar negatif. Pengulangan dilakukan karena tubuh membutuhkan waktu untuk memproduksi antibodi setelah virus masuk ke dalam tubuh. Hasil pemeriksaan positif pada IgM mengindikasikan bahwa orang tersebut pernah terinfeksi dengan virus corona. Hasil pemeriksaan positif pada IgG menandakan bahwa kemungkinan terdapat infeksi virus corona yang baru. Pemeriksaan positif pada IgG perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan swab.

Sementara itu, untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi virus corona atau tidak atau untuk kepentingan diagnosis COVID-19, pemeriksaan yang digunakan adalah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dari sampel swab. Sampel dapat diambil dari swab atau apusan bagian dalam hidung (nasofaring) atau bagian dalam mulut (orofaring). Pada orang sakit, pemeriksaan PCR dapat menggunakan sampel dahak. Meskipun demikian, sampel dahak biasanya digunakan jika pasien sulit diambil apusan nasofaring atau orofaringnya. Dengan pemeriksaan PCR, materi genetik virus diperbanyak, sehingga dapat dideteksi. Hasil pemeriksaan swab yang positif menandakan bahwa seseorang terinfeksi virus corona. Sementara hasil pemeriksaan yang negatif menandakan bahwa orang tersebut tidak terinfeksi virus corona.

Kedua pemeriksaan ini biasanya akan disarankan oleh dokter jika pasien mengalami gejala-gejala yang dapat dicurigai sebagai gejala COVID-19, antara lain: batuk, sesak nafas, atau demam. Tentu saja tidak selalu gejala-gejala tersebut mengindikasikan infeksi virus corona. Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum melakukan pemeriksaan. Selain itu, pemeriksaan ini juga seringkali diminta oleh Perusahaan atau pemberi kerja untuk menapis atau mendiagnosis penyakit COVID-19.

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk keluarga Kejora semua!

 

Sumber:

Click to access Testing-Guidance.pdf


https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/symptoms-testing/testing.html

Fakta COVID-19 pada Anak

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Bunda Kejora!

Indonesia dan banyak negara di dunia sedang berjuang mengatasi pandemi COVID-19. Saat ini angka kejadian COVID-19 di Indonesia makin meningkat. Bagaimana sikap kita sebagai orang tua dalam menghadapi situasi ini? Tetap waspada, tidak panik dan melakukan langkah tepat adalah hal yang bijak. Oleh karena itu, mari kita ketahui fakta mengenai COVID-19 pada anak.

Apakah COVID-19?

Coronavirus Disease-2019 (COVID-19) adalah penyakit saluran napas yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, yaitu Novel Corona Virus 2019 atau nama lainnya adalah SARS Coronavirus 2. Penyakit ini dilaporkan pertama kali di Wuhan, China pada akhir tahun 2019 dan dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal 11 Maret 2020. Pandemi merupakan kondisi suatu penyakit menyebar dengan cepat dan luas meliputi banyak negara di dunia.

Apakah COVID-19 dapat menyerang anak?

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tanggal 31 Maret 2020 terdapat total laporan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 1528 kasus dengan angka kematian sebanyak 136 kasus (8,9%), kasus sembuh 81 kasus (5,3%) dan kasus anak sebanyak 20 kasus (1,3%).

Angka kejadian anak yang lebih rendah daripada dewasa tentunya tetap memerlukan kewaspadaan orang tua karena anak bisa saja tidak bergejala sehingga dapat menjadi sumber penularan (karier) bagi orang lain.

Bagaimana gejala klinis COVID-19 pada anak?

Novel corona virus merupakan 1 dari ratusan jenis virus lainnya, seperti influenza virus, parainfluenza, adenovirus, rhinovirus, dan masih banyak lagi jenis virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran napas akut atau yang sering dikenal dengan ISPA pada anak. Tanda dan gejala COVID-19 pada anak sulit dibedakan dari penyakit saluran pernapasan akibat virus lainnya. Gejala dapat berupa batuk, pilek, demam seperti penyakit common cold atau selesma yang umumnya bersifat ringan dan akan sembuh sendiri. Namun penyakit saluran pernapasan menjadi berbahaya apabila menyerang paru, yang mengakibatkan terjadinya radang paru atau yang disebut pneumonia. Kondisi ini ditandai dengan anak bernapas lebih cepat dan mengalami sesak napas.

Kapan harus membawa anak berobat ke dokter?

Bila anak sedang demam, batuk, pilek ringan, namun anak masih aktif dan asupan makan serta minum baik, sebaiknya tidak segera berkunjung ke fasilitas kesehatan. Namun jika terdapat tanda bahaya, seperti kesulitan bernapas yang ditandai dengan napas cepat dan sesak napas, anak lemas dan cenderung tidur, demam tinggi 39°C terus menerus selama tiga hari, kejang, tampak biru, asupan makan tidak baik, anak tidak dapat minum, buang air kecil berkurang, maka segera bawa anak ke fasilitas kesehatan. Jika ada kebingungan terkait COVID-19, maka Ayah dan Bunda Kejora dapat menghubungi petugas kesehatan melalui Hotline Center Corona Kementerian Kesehatan di nomor telepon 119 ext. 9.

Apakah vaksin penting diberikan pada anak di saat pandemi sedang berlangsung?

Saat ini belum ada vaksin untuk COVID-19. Namun kita tetap perlu melindungi Sang Buah Hati terhadap penyakit infeksi lainnya yang bisa dicegah dengan pemberian vaksin. Oleh karena imunisasi sebaiknya tetap diupayakan lengkap sesuai usia menurut jadwal rekomendasi yang berlaku. Imunisasi Hepatitis B (0), BCG, Polio (0), DTP+Hib+Hepatitis B (1) harus diberikan sesuai jadwal dan lebih baik jika dilengkapi dengan vaksin PCV serta influenza. Bila ragu dan ingin menunda pemberian imunisasi, sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan lain dengan batas penundaan, yaitu 1 bulan.

Apakah yang dapat dilakukan sebagai tindakan pencegahan terhadap COVID-19?

Saya mengajak Ayah dan Bunda Kejora untuk selalu ingat menjalankan pola hidup bersih dan sehat agar Sang Buah Hati terhindar dari sakit.

Pola hidup bersih diantaranya dengan mengajarkan anak untuk selalu mencuci tangan dengan 7 langkah yang tepat, yaitu cuci tangan pada telapak tangan, punggung tangan, seluruh jari, sela jari, ibu jari, ujung kuku dan pergelangan tangan sebelum dan sesudah makan, bermain, ke toilet, dan lainnya. Ajarkan anak untuk mengetahui etika batuk dan bersin yang benar. Gunakan masker dengan cara yang tepat, terutama saat anak sedang mengalami batuk dan pilek. Kondisi pandemic COVID-19, tidak boleh membuat kita lupa dengan penyakit infeksi lain yang juga berbahaya. Oleh karena itu Ayah dan Bunda juga perlu ingat untuk pemberantasan nyamuk dan waspada demam dengue dengan program 3 M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang, menggunakan kelambu, memakai obat anti nyamuk, dan lainnya).

Pola hidup sehat dengan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dilanjutkan dengan pemberian makan bergizi dengan pola seimbang, minum air putih yang cukup, olah raga secara teratur, istirahat yang cukup (tidur pada anak berkisar 10 jam/ hari tergantung rentang usia anak) dan jangan lupa untuk melengkapi imunisasi pada anak sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan berdasarkan usia Sang Buah Hati.

Apakah anak perlu minum vitamin atau suplemen supaya tetap sehat?

Belum ada rekomendasi mengenai pemberian vitamin atau pun suplemen pada anak untuk mencegah COVID-19. Jadi hal yang terutama untuk menjaga anak tetap sehat adalah dengan pemberian nutrisi lengkap seimbang, istirahat yang cukup, aktivitas fisik sesuai usia, penerapan perilaku hidup bersih sehat, serta usaha pencegahan penularan infeksi. Suplemen berupa vitamin, seperti vitamin C,D dan zinc ditujukan untuk mengatasi kekurangan mikronutrien, jika asupan makanan tidak adekuat.

Bagaimana memutus rantai penyebaran COVID-19?

Ayah dan Bunda Kejora demi kesehatan anak kita dan juga keselamatan orang lain, mari berupaya putuskan rantai penyebaran COVID-19 dengan tetap berada di rumah. Kita tidak pernah tahu apakah orang yang kita jumpai di luar rumah sedang sakit COVID-19 atau tidak. Orang yang terlihat sehat atau tidak bergejala (asimptomatik), masih mungkin karier virus tersebut. Namun karena daya tahan tubuhnya baik, maka orang itu tidak menimbulkan gejala klinis sakit. Hal yang berbahaya jika seorang yang karier berkontak dengan orang yang daya tahan tubuhnya tidak baik sehingga orang yang kontak tersebut menjadi sakit dan bahkan ia pun menjadi sumber penularan untuk orang lain yang ada di sekitarnya terutama orang tua yang sudah lanjut usia. Oleh karena itu mari kita tetap di rumah dan jika sangat terpaksa harus melakukan suatu keperluan di luar rumah penting melakukan physical distancing atau pembatasan jarak fisik dengan menjaga jarak minimal 1-2 meter antar orang. Mengapa perlu ada jarak?Berdasarkan penelitian, jarak penyebaran virus melalui droplet (percikan batuk atau bersin yang mengandung virus) dapat terjadi antar orang dengan jarak terdekat yaitu 6 feet (1,8 meter).

Apa yang dapat dikerjakan selama berada di rumah?

Ayah dan Bunda Kejora, mari kita manfaatkan waktu yang ada di rumah untuk meningkatkan quality time antar anggota keluarga. Ayah dan Bunda tidak perlu memaksa anak untuk melakukan suatu aktivitas, namun ciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan supaya anak pun merasa betah dan tidak bosan di rumah. Libatkan anak dalam kegiatan rumah sesuai dengan kemampuan dan usia anak, misalnya saja membantu ibu mempersiapkan bahan masakan, merapikan kamar, melipat baju secara mandiri atau membantu ayah mencuci mobil. Ajak anak melakukan kegiatan yang meningkatkan kreativitas sesuai usianya, misalnya membuat hiasan dinding untuk kamar, mewarnai gambar, dan sebagainya. Isi waktu dengan kegiatan bermanfaat seperti membaca buku bersama dan damping anak jika ada tugas dari sekolah dengan metode pembelajaran jarak jauh (E-learning). Komunikasi jarak jauh dengan video call, zoom, atau pun media komunikasi lainnya bisa menjadi pilihan untuk melepas kangen dengan kakek, nenek serta sahabat lainnya. Jangan lupa beribadah bersama dengan anak di rumah dan mari kita selipkan doa bagi bangsa ini.

Ayah dan Bunda Kejora mari kita bersatu untuk dukung bangsa ini melawan COVID-19. Setiap langkah positif yang kita lakukan adalah bentuk kepedulian kita untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.

Editor: drg. Saka Winias, M.Kes., Sp.PM

Referensi

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200401-sitrep-72-covid-19.pdf?sfvrsn=3dd8971b_2

https://www.kemkes.go.id/

UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Panduan COVID-19 pada Anak. 2020

PENGUMUMAN PENTING BAGI PASIEN GIGI TERKAIT COVID-19

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Semakin menyebarluasnya virus Corona di negara kita akhir-akhir ini pasti menimbulkan keresahan baik bagi orang awam maupun tenaga kesehatan. Terkait dengan hal ini, ada beberapa himbauan yang dianjurkan, terutama bagi Anda maupun si buah hati yang memiliki jadwal ke dokter gigi. Namun sebelum membahas lebih lanjut mengenai himbauan tersebut, yuk kita belajar sedikit mengenai virus ini dan bagaimana gejalanya.

 

Apakah itu Coronavirus?

Coronavirus merupakan sekelompok besar virus yang beberapa di antaranya menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia dan sebagian lainnya beredar di antara hewan-hewan tertentu. Sebenarnya coronavirus yang terdapat pada hewan jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia, kemudian menyebar lagi di antara manusia lainnya. Wabah Coronavirus sebelumnya termasuk sindrom SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome). COVID-19 adalah nama penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus, SARS-CoV-2. Cara penularan virus ini masih dipelajari lebih lanjut, namun sejauh ini telah diketahui bahwa virus ini dapat ditularkan melalui droplet maupun kontak langsung dengan penderita.

 

Apa gejala COVID-19?

Gejala yang dijumpai mirip dengan penyakit flu, yaitu demam, batuk, radang tenggorokan, serta adanya sesak / kesulitan bernapas. Mayoritas penderita memiliki gejala ringan, namun beberapa penderita yang memiliki komplikasi medis maupun bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun dapat memiliki gejala yang lebih berat termasuk terjadinya pneumonia.

 

Bagaimana himbauan kunjungan ke dokter gigi terkait dengan wabah ini?

Dengan semakin mewabahnya virus ini di berbagai belahan dunia dan sebagai upaya mitigasi terhadap penyebarannya, maka Organisasi-organisasi Kedokteran Gigi di berbagai negara seperti ADA (American Dental Association)  maupun PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) sepakat untuk mengeluarkan himbauan bagi dokter gigi maupun pasien. Secara garis besarnya, himbauan ini berupa penundaan prosedur elektif dan tidak penting sehingga kunjungan hanya dibatasi pada tindakan kegawatdaruratan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir penularan COVID-19 di antara pasien dan petugas kesehatan, serta mengurangi kemungkinan terjadinya keterbatasan APD (Alat Perlindungan Diri) bagi petugas kesehatan yang memerlukan. Tindakan kegawatdaruratan gigi yang dimaksud disini adalah:

  • Rasa sakit pada gigi yang parah dan tidak tertahankan.
  • Adanya pembengkakan pada gusi, wajah, maupun leher.
  • Perdarahan dalam rongga mulut yang tidak dapat dihentikan.
  • Trauma / kecelakaan yang melibatkan area rongga mulut.

Hal ini akan dilakukan selama 2-3 minggu kedepan sembari melihat perkembangan situasi lebih lanjut. Jadi, apabila Ayah dan Ibu Kejora maupun si buah hati memiliki jadwal kunjungan ke dokter gigi selain tindakan kegawatdaruratan di atas, harap ditunda dulu ya…

Mari kita bantu pemerintah kita untuk mengurangi penyebaran virus ini dengan mematuhi anjuran social distancingatau yang dikenal dengan gerakan #dirumahsaja supaya tidak menularkan maupun ketularan virus ini. Hal ini juga akan sangat membantu meringakan kami sebagai tenaga medis, lho..

 

We stay at clinic for you… You stay at home for us!!”

Editor   : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Sumber:

 

COVID-19 pada Kehamilan

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Infeksi COVID-19 yang akhir-akhir ini sedang marak menyebabkan kekhawatiran bagi masyarakat, khususnya di Indonesia setelah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020 bahwa ada 2 WNI yang positif COVID-19. Karena penyakit ini masih baru, belum banyak data mengenai dampaknya pada kehamilan. Pada artikel ini akan dibahas mengenai apa yang sudah diketahui mengenai COVID-19 pada kehamilan, dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah COVID-19.

Apa gejala COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Demam (78%)
  • Batuk (44%)
  • Nyeri otot (33%)
  • Rasa lemas menyeluruh (22%)
  • Sesak nafas (11%)
  • Sakit tenggorok (22%)
  • Pada perempuan dengan riwayat bepergian ke daerah yang terdampak dalam waktu 14 hari terakhir, atau ada riwayat kontak dekat dengan orang yang positif menderita COVID-19 dalam 14 hari terakhir.

Apa dampak COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Kondisi penyakit yang lebih berat pada ibu, termasuk meningkatkan angka kematian
  • Dampak pada janin, termasuk persalinan preterm (prematur), ketuban pecah dini, dan gawat janin.
  • Dari studi yang ada, sebagian besar perempuan hamil dengan COVID-19 melahirkan dengan operasi sesar. Data saat ini juga menunjukkan belum ada penularan dari ibu ke janin dalam kandungan (transmisi vertikal).

Apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang memiliki gejala?

  • Melaporkan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
  • Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut akan merujuk ke rumah sakit yang sudah ditentukan untuk melayani COVID-19 (saat ini ada 100 rumah sakit di Indonesia)

Upaya pencegahan apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang masih sehat?

  • Menghindari kontak dengan orang sakit.
  • Batuk / bersin ke tisu, lalu buang tisu tersebut dan cuci tangan.
  • Bersihkan permukaan yang sering dipegang banyak orang, seperti gagang pintu, steker lampu, meja.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 20 detik setelah ke kamar mandi, sebelum makan, dan setelah bersin / batuk. Jika tidak tersedia air dan sabun, cuci tangan dengan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.
  • Sediakan ruangan / kamar terpisah bila ada anggota keluarga yang sakit.
  • Hindari bepergian ke daerah yang positif memiliki kasus COVID-19.

Apa yang dilakukan pada ibu dan bayi baru lahir?

  • Bayi baru lahir dari ibu yang positif COVID-19 juga dianggap sebagai pasien yang harus diperiksa dan diinvestigasi lebih lanjut.
  • Bayi baru lahir dirawat di ruangan terpisah dari ibu yang positif COVID-19.

Bagaimana dengan pemberian ASI pada bayi dari ibu positif COVID-19?
Dari data yang ada saat ini, tidak ditemukan virus Corona pada ASI. Oleh sebab itu, pada ibu yang memiliki gejala berat, dianjurkan untuk menyusui dengan cara memompa ASI, lalu diberikan ke bayi oleh orang yang sehat. Bila gejala ringan, maka ibu dapat menyusui langsung, dengan melakukan upaya pencegahan dan menggunakan masker.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

Apa Itu Pneumonia Wuhan?

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo, keluarga Kejora! Apakah Ayah dan Bunda pernah mendengar atau membaca berita tentang pneumonia Wuhan yang saat ini mewabah di kota Wuhan, Cina? Apa sebenarnya pneumonia Wuhan itu?

Pneumonia Wuhan adalah suatu infeksi paru-paru yang disebabkan oleh salah satu jenis virus corona. Penyakit ini dinamakan pneumonia Wuhan karena kasus pneumonia ini pertama kali ditemukan kasusnya di kota Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019. Penyakit ini ditemukan sebagai pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya dan dapat berakibat fatal. Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata pneumonia ini disebabkan oleh virus corona. Hingga awal Januari 2020, tiga kasus pneumonia Wuhan telah dilaporkan di Thailand, 1 kasus ditemukan di Jepang, 1 kasus di Korea Selatan, 1 kasus di Taiwan, dan 1 kasus di Amerika Serikat. Dari semua kasus tersebut, setiap kasus diduga memiliki riwayat bepergian dari dan ke kota Wuhan. Pemerintah Cina juga telah melaporkan adanya kemungkinan penularan dari manusia ke manusia lain, dengan 15 kasus ditemukan pada tenaga kesehatan.

Virus corona yang menyebabkan pneumonia Wuhan (2019-nCoV) diketahui serupa dengan virus Middle Eastern Respiratory Syndrome (MERS) dan virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang pernah dikenal sebelumnya. Waktu yang diperlukan sejak virus corona 2019-nCoV masuk ke tubuh hingga menyebabkan gejala sakit serupa dengan virus MERS dan SARS, yaitu sekitar 2 minggu. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa beberapa kasus berhubungan dengan paparan pada pasar seafood di kota Wuhan. Namun, penyebab pasti cara infeksi pneumonia Wuhan ini belum diketahui.

Gejala umum yang dapat ditemukan pada pneumonia Wuhan, antara lain batuk kering atau berdahak, demam dan sesak nafas. Gejala penyerta lainnya adalah sakit kepala, nyeri tenggorok, lemas, dan pilek. Namun, tidak semua orang yang menderita berbagai gejala tersebut dapat dianggap menderita pneumonia Wuhan. Oleh sebab itu, masyarakat disarankan untuk waspada dan memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami gejala-gejala tersebut. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah pneumonia Wuhan serupa dengan pencegahan penyakit pada umumnya, yaitu menjaga kebersihan diri terutama kebersihan tangan dengan sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menghindari kontak dengan orang sakit, dan menggunakan masker jika sedang batuk dan atau kontak dengan orang sakit.

Referensi:
https://www.who.int/china/news/detail/09-01-2020-who-statement-regarding-cluster-of-pneumonia-cases-in-wuhan-china
https://www.nhs.uk/news/medical-practice/novel-coronavirus-limited-spread-between-people/
https://www.imperial.ac.uk/mrc-global-infectious-disease-analysis/news–wuhan-coronavirus/