Q&A Vaginal Birth After C-section (VBAC)

 

 

 

 

 

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

  1. Untuk kriteria pasien yang diperbolehkan VBAC, apakah Indonesia menganut kriteria dari ACOG 2019 (atau mungkin ada yang terbaru) ataukah POGI memiliki kriteria sendiri?

 

Vaginal Birth After C-section (VBAC) adalah persalinan normal setelah operasi sesar—bisa dilakukan persis setelah operasi sesar pada kehamilan sebelumnya ataupun diselingi dengan persalinan normal. Ada juga yang mengenal istilah TOLAC (Trial of Labor After C-section), yaitu percobaan persalinan normal setelah adanya riwayat operasi sesar sebelumnya.

Di Indonesia kita mengenal banyak kriteria untuk memasukkan Ibu ke dalam kandidat VBAC/ TOLAC. Rujukan yang digunakan diantaranya panduan dari RCOG atau ACOG. Untuk VBAC score sendiri (untuk mengetahui kelayakan seorang ibu untuk VBAC), POGI mengenal beberapa score seperti Flamm & Geiger score atau Weinstein score.

VBAC score dan kriteria VBAC disusun dengan tujuan melindungi ibu dan bayi dari komplikasi yang dapat terjadi selama proses persalinan.

 

  1. Jika hamil pertama SC lalu yang kedua VBAC dan ketiga SC, apakah yang keempat memungkinkan untuk VBAC kembali bila kondisi pasien masuk ke dalam kriteria VBAC di atas?

 

Ada banyak faktor yang perlu dinilai dalam persiapan VBAC, diantaranya yang paling penting adalah tidak adanya kontraindikasi untuk persalinan normal. Contoh kontraindikasinya antara lain riwayat bekas sayatan rahim vertikal pada sesar sebelumnya, jarak persalinan terakhir, adanya plasenta previa, panggul sempit pada ibu dan lain sebagainya.

Angka keberhasilan VBA2C (vaginal birth after 2 c-section) menurut RCOG adalah sekitar 71% dan terdapat peningkatan risiko terjadinya robekan rahim, kebutuhan transfusi darah akibat perdarahan, sampai dengan pengangkatan rahim (histerektomi).

 

  1. Berapa persen kemungkinan kegagalan VBAC dan mengharuskan SC?

 

Data menunjukkan hasil yang berbeda-beda untuk keberhasilan VBAC. Ada yang menunjukkan angka 43%, 57% atau 72-75%. Hal ini tentunya bergantung pada kondisi kehamilan ibu dan kondisi bayi dalam kandungan. Karena persalinan adalah kondisi yang sangat dinamis, sehingga pemantauan ketat harus dilakukan selama prosesnya. Hal ini mewajibkan ibu yang mau melakukan VBAC untuk berkonsultasi terlebih dahulu dan persalinan harus dilakukan di rumah sakit.

Bila selama pemantauan VBAC ditemukan hal yang membahayakan, seperti tidak sejahteranya kondisi janin melalui perekaman jantung janin, tersendatnya pembukaan, adanya tanda rahim robek dan lainnya, maka tindakan sesar harus segera dilakukan.

Editor: dr. Nurul Larasati

Deteksi Dini Kanker Serviks (Leher Rahim): Setelah Pap Smear, What’s Next?

 

 

 

 

oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Halo, Ibu Kejora!

Pasti Ibu Kejora sudah tidak asing lagi ya mendengar istilah Pap smear? Pap smear merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk medeteksi ada atau tidaknya kelainan pada serviks (leher rahim) yang dapat mengarah kepada kanker serviks. Lalu setelah pemeriksaan Pap smear, bagaimanakah tindak lanjutnya? Yuk, simak pembahasannya!

Deteksi dini kanker serviks (leher rahim) dapat dilakukan melalui beberapa pemeriksaan, antara lain:

  • Pap smear: pemeriksaan untuk mengambil lendir dari leher rahim, lalu diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat adanya kelainan atau tidak
  • Test HPV DNA: pemeriksaan untuk mencari ada tidaknya virus Human Papillomavirus (HPV) yang dapat menyebabkan perubahan ganas pada sel.
  • Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA): pemeriksaan leher rahim dengan pulasan asam asetat untuk melihat ada tidaknya perubahan yang mencurigakan, seperti adanya lesi acetowhite (daerah abnormal berwarna putih dengan batas tegas yang menandakan kemungkinan adanya lesi pra-kanker serviks).

Tujuannya adalah mendeteksi dini penyakit pada tahap pra-kanker serviks.

Pemeriksaan Pap smear dapat dikombinasi dengan test HPV DNA untuk memberikan hasil yang lebih sensitif. Pemeriksaan ini disebut Liquid Based Cytology (LBC) dan metode pengambilan sampelnya serupa dengan Pap smear. Hasil pemeriksaan biasanya akan keluar setelah 1–2 minggu.

Hasil Pap smear dengan atau tanpa test HPV DNA perlu dikonsultasikan dengan dokter kandungan untuk menentukan langkah selanjutnya. Apabila keduanya negatif, maka pemeriksaan dapat rutin diulangi setiap 3–5 tahun. Apabila ada hasil yang positif, terdapat beberapa tindak lanjut yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Pemeriksaan HPV DNA (bila sebelumnya hanya dilakukan Pap smear tanpa HPV DNA)
  • Pemeriksaan kolposkopi: pemeriksaan leher rahim dengan alat kolposkop untuk memberikan pembesaran dan dapat dilanjutkan dengan tindakan biopsi bila ada daerah yang dianggap mencurigakan
  • Krioterapi: terapi untuk menghancurkan sel-sel ganas dengan cara dibekukan.
  • Pada lesi derajat rendah, alternatif lain adalah mengulangi pemeriksaan Pap smear dan HPV DNA setelah 6 bulan–1 tahun.

Perlu diketahui bahwa kesembuhan lesi pra-kanker mendekati 100% bila diterapi dengan tepat dan baik. Apabila sudah mencapai tahap kanker, maka terapinya bergantung pada stadium kanker, pada stadium awal dilakukan pembedahan, pada stadium lanjut dilakukan kemoterapi dan radiasi.

Ayo, segera konsultasikan kesehatan Ibu Kejora ke dokter kandungan!

Editor: drg. Agnesia Safitri

Sumber:

American Society for Colposcopy and Cervical Pathology (ASCCP). Updated Consensus Guidelines for Managing Abnormal Cervical Cancer Screening Tests and Cancer Precursors. 2014.