oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, keluarga sehat Kejora Indonesia!

Kehadiran ayah dan bunda merupakan hal utama yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan si kecil. Ayah dan bunda adalah orang pertama yang seharusnya memberikan kasih sayang dan mengajarkan si kecil dalam banyak hal. Namun, dalam beberapa kondisi, beberapa anak harus dihadapkan  pada situasi kehilangan orangtua karena kematian.

Menghadapi kehilangan orangtua bukanlah hal yang mudah bagi si kecil  Kematian orang tua dapat menjadi salah satu peristiwa paling traumatis yang dialami seorang anak. Efek psikologis dari kematian orang tua dapat memengaruhi perkembangan anak selama sisa hidupnya. Yuk, kenali beberapa dampak yang bisa muncul pada si kecil ketika mengalami kehilangan orang tua :

Aspek Emosional

  1. Kecemasan dan ketakutan

Figur ayah diidentikkan sebagai sosok pelindung bagi keluarga.  Oleh karena itu, kehilangan seorang ayah dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpercayaan yang besar pada si kecil. Si kecil berpotensi tumbuh menjadi anak yang tidak tahu bagaimana melindungi diri mereka sendiri atau bagaimana menghadapi tantangan dalam hidup yang dapat memengaruhi munculnya kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi masalah.

  1. Kurang kasih sayang

Salah satu kebutuhan mendasar manusia adalah cinta. Kehilangan orang tua dapat membuat kebutuhan kasih sayang si kecil tidak terpenuhi. Situasi ini dapat membuat si kecil mengalami perasaan hampa dan kosong hingga dewasa.

  1. Perasaan inferior dan kurang berharga

Kehilangan orangtua dapat membuat si kecil berpikir bahwa diri mereka lemah dan lebih rendah dibandingkan dengan teman sebayanya yang memiliki keluarga utuh. Selain itu, tidak adanya figur orang tua dapat membuat si kecil menyalahkan diri sendiri, merasa tidak berharga, dan tidak berdaya dibanding anak-anak lain, sehingga memengaruhi keberhargaan diri dan kepercayaan diri si kecil.

  1. Permasalahan psikologis lainnya
    • Gangguan dalam pengembangan bahasa.
    • Kesulitan bicara.
    • Gangguan psikosomatis
    • Depresi, kecemasan, fobia, kemarahan, stress.
    • Asma, sakit kepala, masalah perut.
    • Bunuh diri.

Aspek Perilaku

  1. Kurangnya keterampilan

Salah satu proses pembelajaran si kecil adalah melalui modeling orang tuanya. Kehilangan role model membuat si kecil tidak lagi dapat belajar skill yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

  1. Kriminalitas dan penggunaan obat-obatan terlarang

Perasaan marah, sedih dan sakit akibat kehilangan orangtua dapat membuat si kecil melampiaskan perasaannya terhadap tindakan amoral seperti kriminalitas dan penggunaan obat terlarang.

  1. Masalah seksual

Dampak seksual akibat kematian orangtua dapat memberikan respon yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan cenderung mencari figur ayah pada orang lain khususnya dalam hubungan romantik. Sedangkan pada anak laki-laki, bisa memengaruhi perkembangan seksualitas dan dapat menyebabkan masalah identitas seksual.

  1. Kegagalan akademik

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa nilai akademik anak dengan orang tua tunggal lebih rendah dibanding anak yang memiliki keluarga lengkap.

Aspek Sosial

  1. Sulit bersosialisasi

Dalam lingkungan yang ideal, orang tua menjadi pengasuh, panutan dan pemimpin yang mendisiplinkan kehidupan si kecil. Si kecil mempelajari aturan dan nilai pertama melalui orang tua mereka terlebih dahulu. Tanpa figur orangtua, si kecil menjadi bingung dan tidak memiliki pengetahuan serta keterampilan sosial.

Bagaimana seharusnya Ayah atau Bunda membantu menghadapi si kecil yang kehilangan?

  1. Perhatikan bahasa yang digunakan saat menjelaskan kematian.

Gunakan bahasa yang sederhana dan langsung. Jangan takut untuk menggunakan kata-kata seperti “meninggal” dan “mati” . Untuk anak yang lebih muda, bunda juga dapat mengatakan “Jantung ayah berhenti berdetak,” dan menekankan kalau jantung dan pernapasan itu hal yang dibutuhkan agar tetap hidup.

  1. Dengarkan dan hibur.

Setiap anak bereaksi berbeda ketika mengetahui bahwa orang yang dikasihinya meninggal. Ada yang menangis, dan ada mengajukan pertanyaan. Ada juga yang tidak bereaksi sama sekali. Tidak apa-apa. Tetap bersama si kecil, tawarkan pelukan, sediakan diri untuk mendengarkan ceritanya, jawab pertanyaan atau dampingi meskipun dalam keadaan diam.

  1. Refleksikan perasaannya.

Dorong anak-anak untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan dan rasakan  setelah kehilangan. Terbuka pada si kecil terkait perasaan sendiri karena hal ini dapat membantu si kecil untuk merasa nyaman dengan perasaan mereka. Katakan hal-hal seperti, “Bunda tahu kamu merasa sangat sedih. Bunda juga sangat sedih. Kita berdua sangat mencintai ayah, dan ayah juga pasti mencintai kita.”

  1. Lakukan aktivitas yang membuat perasaan si kecil lebih baik.

Berikan kenyamanan yang dibutuhkan si kecil. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan atau membicarakan topik yang membantu perasaan si kecil merasa sedikit lebih baik misalnya bermain, membuat karya seni atau pergi ke suatu tempat bersama.

  1. Beri si kecil waktu untuk sembuh dari kehilangan.

Menyembuhkan kesedihan itu membutuhkan waktu. Pastikan Bunda atau Ayah juga pelan-pelan menyembuhkan dirinya agar bisa membantu anak untuk kembali pulih. Tetap buat percakapan dengan si kecil untuk melihat bagaimana perasaan dan tindakannya terkait kesedihan tersebut.

Editor: drg. Valeria Widita W

Sumber :

https://insamer.com/en/the-effect-of-parental-death-on-child_2264.html

https://kidshealth.org/en/parents/death.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *