oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!
Kita tentu menyadari perkembangan jaman yang bergerak secara dinamis, berubah sangat cepat, dan kompetitif. Di satu sisi, hal ini memiliki dampak positif, yaitu makin banyak pilihan dan informasi semakin mudah didapatkan. Di sisi lain, tantangan dan kesulitan juga semakin banyak. Anak-anak kita, sebagai generasi berikutnya, perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik, agar siap menghadapi tantangan masa depan.

Untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan dan tantangan masa depan, bukan hanya diperlukan kompetensi saja, namun juga perlu memiliki karakter positif agar anak-anak kita bisa menjadi generasi yang siap menghadapi perkembangan jaman.

Salah satu karakter positif, yang bisa kita ajarkan sejak dini pada si kecil adalah Resiliensi. Anak yang tangguh / memiliki resilien akan tidak mudah menyerah dan bisa bangkit kembali saat menemui kesulitan dan tantangan. Yuk simak, penjelasan mengenai resiliensi dan bagaimana menumbuhkannya pada si kecil.

 

Apa itu Resiliensi pada Anak?
APA (American Psychological Association) menyatakan definisi resiliensi sebagai kemampuan untuk bisa beradaptasi dan bangkit dengan baik dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang dihadapi.

Resiliensi adalah bounce back atau bangkit kembali dari pengalaman sulit. Seperti trampolin, anak yang punya resilien, akan punya daya lenting yang baik. Self-resilience akan membuat individu terus maju menjalankan hidup bahkan dalam keadaan tersulit.

 

Mengapa Resiliensi Penting?
 Membantu anak mengantisipasi maupun mengenali peluang
 Mendorong anak mencapai goal-nya
 Mendorong tercapainya hidup sehat dan bahagia

Karakter resilien bukanlah karakter bawaan lahir yang berasal dari genetik, namun perlu diasah dan dilatih. Pada 5 tahun pertama kehidupannya, si kecil akan banyak mengembangkan dasar-dasar kepercayaan diri yang menjadi pondasi dalam menghadapi tantangan-tantangan tumbuh kembangnya. Maka dari itu, resiliensi perlu dilatih sejak dini.

 

Bagaimanakah Ciri Anak yang Resilien?
1. Emotional Well-Being: Mampu mengelola emosinya
2. Berani: Menghadapi rasa takutnya dan mau mencoba hal-hal baru
3. Autonomy: Mandiri, percaya diri (percaya kepada kemampuannya sendiri dalam kondisi tak terduga)
4. Problem Solving: Mampu memahami masalah dan bisa mengatasi atau memecahkan berbagai masalah
5. Social Competence: Bisa beradaptasi dan bersosialisasi dalam lingkungannya.

Rumus ABCDE Menumbuhkan Resiliensi pada Anak

1. A: Ada untuk anak
• Meluangkan waktu dan mendampingi anak bukan berarti mengambil alih secara penuh atau menghilangkan tantangan yang si kecil sedang hadapi. Kita bisa berikan contoh, tawarkan alternatif bantuan, dan berikan dukungan agar si kecil makin semangat dan merasa di dukung oleh kita.

2. B: Beri kesempatan
• Ciptakan lingkungan yang mendukung anak melalui tantangan dan peluang, akan melatih kemampuan adaptasi dan problem solving si kecil.

3. C: Cintai anak tanpa syarat
• Menerima anak apa adanya, bukan hanya ketika mereka pintar / sesuai harapan kita
• Mencintai anak dengan kasih sayang dan perhatian, namun tanpa memanjakan
• Cinta dari orangtua yang tulus dan tanpa syarat, akan membuat anak merasa aman, percaya diri, tidak ragu untuk mengeksplorasi dan belajar berbagai hal. Hal ini akan membantu anak dalam menghadapi berbagai proses (rintangan, kesulitan, dan tantangan).

“Behind every child who believes in himself is a parent who believed first”
– Matthew Jacobson –

4. D: Dukung secara positif
Artinya:
Berikan afirmasi positif. Contoh: “Kenapa sih salah terus!” diganti dengan “Ini susah ya, coba kamu lakukan pelan-pelan ya.. kamu pasti bisa, dek”
Fokus pada proses / usaha si kecil. Saat kita hanya fokus pada hasilnya, akan membuat si kecil merasa tertekan dan menghindari aktivitas menantang agar tidak mendapatkan respon negatif saat tidak berhasil.
• Dampingi si kecil menghadapi kegagalan. Jelaskan pada si kecil bahwa saat ia berbuat salah / gagal, adalah saat belajar sesuatu dan itu bukanlah hal yang menakutkan. Yang terpenting, mau mencoba kembali. Misal saat anak belajar makan sendiri, namun tumpah-tumpah. Sebisa mungkin jangan langsung memarahinya, ajari anak caranya dan kasih kesempatan coba lagi.


5. E: Emotional & Social wellbeing
Latih si kecil untuk bisa mengola emosinya. Ajarkan bahwa emosi boleh saja dirasakan dan diungkapkan, namun mereka pun perlu memikirkan tindakan yang harus dilakukan dalam meregulasi emosinya tersebut.
Latih keterampilan sosial si kecil agar ia mampu untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Ajarkan bagaimana ia mendapatkan teman baru, membuka perbincangan dengan orang baru (baik lebih tua, sepantaran, hingga lebih muda darinya).

 

Aktivitas yang bisa Mengembangkan Karakter Resilien pada Anak
• Aktivitas untuk meningkatkan resiliensi pada anak, harus bersifat: Purposeful Exposure atau ‘tantangan’, tujuannya untuk memberikan perubahan positif (transformasi) pada anak.
 Memberi tantangan lebih. Risikonya atau tantangannya medium.
 Memunculkan perubahan positif / kreativitas anak untuk memecahkan masalah
 Anak berperan aktif.

• Note: Saat memberikan tantangan, kita harus menyesuaikannya dengan kapasitas dan usia si kecil agar ia tahu batas dirinya sampai mana, kemampuan dirinya sampai mana, dan apa yang ia miliki untuk menghadapi masalah. Tingkatan tantangan perlu dilakukan secara teratur dan dengan bimbingan oleh orang dewasa.

• Ide Kegiatan Purposeful Exposure:
o 1-3 tahun:
Traveling/berlibur: Saat berlibur, anak akan belajar situasi baru di luar rutinitasnya. Ini akan menstimulasi kemampuan adaptasinya.
Sensory-Motoric activities: aktivitas fisik yang sesuai dengan usianya, akan bisa memberikan kesempatan anak untuk eksplorasi dan bergerak aktif
 Games: Orangtua bisa bermain bersama si kecil, agar kemampuan interaksi dan kreativitasnya meningkat
Art and craft: Buat proyek sederhana bersama keluarga, akan menstimulasi kreativitas dan problem solving anak.

o Untuk 3-6 tahun:
 Belajar skills baru: eksplorasi berbagai bidang / minat
 Ikutkan anak dalam berbagai kompetisi agar semakin percaya diri
 Mencoba berbagai pengalaman baru. Misalnya: kegiatan bersama di akhir pekan, traveling, dll
Social activity untuk meningkakan keterampilan sosial anak

“If parents want to give their children a gift, the best thing they can do is to teach their children to love challenges, be intrigued by mistakes, enjoy effort, and keep on learning.”
-Carol S. Dweck-

Melatih resiliensi pada anak memang tidak mudah. Namun, dengan pola asuh yang konsisten, cinta kasih yang tulus, dan teladan yang baik dari Ayah dan Ibu, anak-anak kita bisa tumbuh menjadi generasi masa depan yang kuat dan tangguh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *