oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Akhir-akhir ini, kalau kita simak di media sosial sedang viral mengenai mouth breathing. Sebenarnya mouth breathing itu apa, ya? Yuk, kita bahas tentang mouth breathing!

Mouth breathing merupakan istilah dari suatu keadaan bernapas melalui mulut. Manusia pada dasarnya diciptakan untuk bernapas melalui hidung. Udara yang masuk melalui hidung akan melalui proses penyaringan dan pengaturan kelembapan terlebih dahulu sebelum masuk ke paru-paru. Apabila ada kondisi yang menyebabkan hidung tersumbat, mulut akan terbuka sebagai mekanisme kompensasi untuk membantu kerja hidung, maka terjadilah proses bernapas melalui mulut. Udara yang masuk melalui mulut tidak mengalami proses penyaringan dan pengaturan kelembapan terlebih dahulu sehingga udara yang masuk ke dalam paru-paru melalui mulut tidak sebaik udara yang masuk melalui hidung.

Kondisi “mouth breathing” atau “bernapas melalui mulut” ini dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa. Penyebab pada anak dapat disebabkan oleh adanya sumbatan hidung misalnya pada rinosinusitis akut, rinosinusitis kronis, rinitis alergi, septum deviasi, pembesaran tonsil yang terletak di belakang hidung (hipertrofi adenoid), serta beberapa kelainan struktur wajah bawaan. Pada dasarnya, kondisi tersebut menyebabkan anak tidak dapat bernapas secara optimal melalui hidung karena terdapat sumbatan sehingga mulut terbuka ketika bernapas.

 

Mouth breathing yang kronis pada anak paling sering disebabkan oleh hipertrofi adenoid, hal ini menyebabkan terjadinya perubahan struktur wajah yang disebut facies adenoid. Perubahan struktur wajah yang terjadi antara lain:

  • Bagian puncak hidung mengecil, bibir atas memendek
  • Mulut terbuka, wajah memanjang
  • Perubahan sudut rahang bawah
  • Rahang bawah bagian depan mengecil menyebabkan ekspresi yang
  • kosong pada wajah
  • Gigi bagian atas menonjol dengan langit-langit yang meninggi
  • Pertumbuhan gigi bertumpuk karena rahang atas menyempit
  • Gigi seri menonjol

Keadaan mouth breathing ini erat kaitannya dengan gangguan pernapasan pada jalan napas atas saat tidur yaitu Sleep Disorder Breathing (SDB) yang kemudian dapat menjadi Obstructive Sleep Apnea (OSA). Sleep Disorder Breathing (SDB) ini ditandai dengan adanya ngorok dan/ atau peningkatan usaha napas karena adanya peningkatan resistensi pada jalan napas atas. Obstructive Sleep Apnea (OSA) ditandai dengan adanya periode henti napas selama lebih atau sama dengan 10 detik dan adanya peningkatan usaha napas yang terjadi sampai terbangun. Keadaan-keadaan gangguan tidur ini mengganggu pola tidur anak serta menyebabkan turunnya kadar oksigen di dalam tubuh sehingga menyebabkan anak kelelahan dan mengalami gangguan pertumbuhan.

Nah, artikel ini menambah informasi ayah dan ibu mengenai mouth breathing dan beberapa kaitannya dengan keadaan medis lain, ya. Jika si kecil mengalami beberapa gejala atau keadaan yang disebutkan di atas, segera konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *