oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah Ibu Kejora!

Topik kali ini adalah meembahas mengenai lenting pada anak. Akhir – akhir ini sering kali Ayah dan Ibu Kejora mungkin risau dengan munculnya lesi di kulit anak ini merupakan infeksi Herpes atau bukan.

Oleh karena itu kali ini kita akan mengenal lebih jauh mengenai infeksi herpes dan apa bedanya dengan lesi lenting lain yang mirip dengan infeksi herpes.

 

Apa itu virus Herpes?

Virus herpes simpleks (HSV), adalah infeksi yang menyebabkan herpes. Kondisi ini dapat menyebabkan anak memiliki luka di mulut dan area wajah lainnya.
Terdapat dua jenis virus herpes simpleks, di antaranya adalah:

  • HSV-1: Virus ini menyebabkan luka di sekitar mulut dan wajah. Sering terjadi pada anak dan orang dewasa.
  • HSV-2: Virus ini dapat menyebabkan luka genital, menular lewat hubungan seksual.

Ada juga jenis herpes lain, yaitu herpes zoster atau cacar ular. Herpes zoster biasanya terjadi pada anak yang pernah mengalami cacar. Virus cacar atau varisela zoster dapat kambuh kembali ketika daya tahan tubuh turun, namun hanya menimbulkan gejala di satu area tubuh dan biasanya hanya satu sisi. Berbeda dengan herpes simpleks, herpes zoster dapat terjadi dibagian tubuh manapun, termasuk area wajah, kepala, badan dan ekstremitas.

 

Bagaimana ciri-ciri herpes pada anak?

Herpes biasanya menimbulkan keluhan lenting berisi air yang terasa perih atau panas. Kadang diawali dengan kulit terasa perih dan kemerahan, baru kemudian muncul lenting berisi air.

Lenting biasanya pecah atau mengering menjadi luka dalam 1-2 minggu. Penyakit herpes biasanya dapat sembuh sendiri. Meski demikian, apabila penanganannya tidak tepat, seringkali terjadi infeksi bakter pada luka tersebut, sehingga menyebabkan bekas luka menjadi kehitaman, jaringan parut atau bopeng.

 

Bagaimana herpes pada anak menyebar?

Virus herpes simpleks dapat menular dari orang ke orang melalui kontak langsung. Herpes pada anak atau yang secara umum disebut dengan herpes simpleks merupakan infeksi virus yang sangat menular. HSV-1 merupakan virus yang rentan menyerang anak-anak yang ditularkan dari orang dewasa yang terinfeksi. Virus ini dapat menyebar melalui air liur, kontak dari kulit ke kulit, atau dengan menyentuh suatu benda yang telah terjangkiti virus.

 

Apakah herpes bisa berulang?

Setelah seorang anak terinfeksi virus herpes simpleks, virus akan menjadi tidak aktif dan bersembunyi di jaringan saraf tepi. Virus ini dapat muncul kembali pada saat sistem kekebalan tubuh menurun atau iritasi pada kulit yang dapat disebabkan oleh faktor lain. Namun rekurensi sangat bervariatif, ada anak yang tidak pernah mengalami kekambuhan, ada yang mengalami kekambuhan dalam beberapa bulan sampai tahun.

Beberapa faktor pemicu kekambuhan lesi herpes adalah:

  • Kelelahan dan stres
  • Paparan sinar matahari yang intens, panas,
  • Udara dingin, atau kering
  • Luka atau kerusakan pada kulit
  • Penyakit lain, seperti flu atau batuk pilek
  • Dehidrasi dan diet yang buruk
  • Hormon yang berfluktuasi (misalnya, selama periode menstruasi remaja, dll)

 

Apa yang harus dilakukan kalau anak mengalami lesi kulit seperti herpes?

Lesi khas herpes adalah lenting berisi air di area tertentu. Seringkali sulit membedakan antara herpes dengan kondisi kulit lain yang menyebabkan lenting berisi air seperti dermatitis venenata, infeksi bakterti atau impetigo, dermatitis kontak iritan, alergi obat, infeksi jamur dan lain-lain.

 

Hindari mendiamkan lesi kulit tersebut pada anak atau mengobati sendiri dengan bahan dapur atau membeli obat salep sendiri di apotek. Sebaiknya apabila curiga anak mengalami herpes, konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin, agar mendapat penanganan yang tepat dan tidak menimbulkan komplikasi. Obat herpes yang utama adalah antivirus oral, dan sebaiknya diberikan dalam 72 jam pertama ada keluhan. Karena itu sebaiknya tidak menunda untuk berkonsultasi ke dokter.
Sebelum berkonsultasi dengan dokter kulit dan kelamin, yang bisa dilakukan orang tua adalah:

 

Mencegah penularan atau rekurensi

  • Biasanya anak tertular dari orang dewasa atau anak lain yang sedang mengalami herpes juga. Jangan mencium anak apabila orang tua sedang memiliki lesi aktif.
  • Anak tidak boleh berbagi minuman atau peralatan, handuk, pasta gigi, atau barang lainnya untuk menghindari penyebaran infeksi
  • Penularan terutama dengan kontak kulit, apabila tidak yakin anak bisa menghindar kontak kulit selama ada lesi herpes, sebaiknya tidak usah beraktivitas di luar rumah.

 

Cara meringankan gejala

  • Berikan kompres dingin atau air bersih pada luka untuk mengurangi rasa perih.
  • Tetap bersihkan area yang mengalami luka/lenting dengan air dan sabun saat mandi
  • Usahakan agar anak tidak menggaruk atau mengelupas lenting atau luka. Hal ini bisa memicu infeksi bakteri di luka tersebut.

Referensi

  • SH James and RJ Whitley. Treatment of Herpes Simplex Virus Infections in Pediatric Patients: Current Status and Future Needs. Clin Pharmacol Ther. 2010 Nov; 88(5): 720–724.
  • Klatte, JM. Pediatric Herpes Simplex Virus Infection. https://emedicine.medscape.com/article/964866-overview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *