oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Halo Keluarga Kejora! Semoga sehat selalu dimana pun berada yaa.

Ayah dan Bunda pasti sudah tahu, seorang anak akan mulai berperan aktif dan berfungsi mandiri secara bertahap sejak dilahirkan akibat berhentinya asupan nutrisi secara pasif melalui tali pusar ibu, termasuk pada proses makan. Seorang anak membutuhkan nutrisi yang cukup dan seimbang untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan juga perkembangan otaknya. Proses pemenuhan zat gizi yang sukses perlu peran serta dari anak dan orangtuanya, baik secara sosial maupun emosional. Proses makan ini tentunya membutuhkan peranan aktif oleh orang yang berada di lingkungan anak, yaitu keluarga (caregiver), dalam konteks sosiokultural. Tidak hanya anak tersebut yang harus aware dan memberi sinyal terhadap kebutuhannya, namun caregiver pun juga harus mampu mengenali sinyal ini dan merespon secara adekuat.

Nah, mari kita bahas lebih lanjut ya, Ayah dan Bunda.

Apa Sih yang Dimaksud dengan Kesulitan Makan pada Anak?

Kesulitan makan pada anak (feeding difficulty or disorders, avoidant/restrictive food intake disorders) merupakan kondisi dimana anak menghindari atau membatasi asupan makanannya. Kesulitan makan merupakan satu dari banyak hal yang sering dikeluhkan oleh orang tua saat datang ke dokter anak, dengan prevalensi 1 dari 4 anak yang dilaporkan mengalami keluhan terkait makan. Beberapa di antaranya memiliki gejala cukup berat yang dapat menyebabkan masalah serius dan membutuhkan terapi spesifik. Masalah makan pada balita antara lain mencakup picky eater, selective eater dan small eater.

Banyak orangtua masih beranggapan bahwa solusi anak sulit makan adalah pemberian vitamin/suplemen penambah nafsu makan, padahal sesungguhnya penyebab gangguan makan ini tidak hanya satu faktor, melainkan kombinasi beberapa faktor.

Apa Sajakah Faktor Penyebab Kesulitan Makan?

Penyebab kesulitan makan bervariasi, antara lain akibat penyakit atau kelainan organik yang mendasari, interaksi faktor biologis dan faktor lingkungan, terutama keluarga. Penyebab kesulitan makan yang paling banyak dijumpai adalah kurang optimalnya penetapan komposisi makanan, tekstur maupun tatacara pemberiannya. Di sisi lain, pengaruh sosiokultural, termasuk latar belakang sosial budaya serta adat istiadat orangtua/keluarga yang sangat bervariasi juga dapat mempengaruhi proses pemberian makanan ini. Penyebab gangguan makan bervariasi, antara lain:

  1. Masalah kesehatan kronis (infeksi telinga, infeksi saluran napas berulang, masalah gigi, kejang, dll)
  2. Gangguan pertumbuhan atau disabilitas perkembangan (spektrum autisma, gangguan hiperaktivitas, sindroma Down, riwayat kelahiran prematur, dll)
  3. Lamanya waktu pengosongan lambung
  4. Ketrampilan oral motor yang kurang optimal (disfagia), termasuk di dalamnya kelemahan otot atau ketegangan otot sekitar area mulut
  5. Riwayat pengalaman buruk atau ketidaknyamanan saat proses makan (nyeri akibat refluks, alergi, batuk, muntah atau tersedak)
  6. Riwayat pengalaman buruk atau ketidaknyamanan di sekitar area rongga mulut (riwayat pemakaian selang makan, ventilator, prosedur intervensi area mulut ataupun operasi)
  7. Gangguan sensoris (hipersensitif terhadap rasa, bau, dan tekstur)
  8. Ansietas atau kecemasan
  9. Temperamen atau kondisi emosi anak (sulit beradaptasi, hiperstimulasi)
  10. Konflik orangtua dan anak, gangguan cemas pada orangtua

Apakah Kesulitan Makan Berdampak pada Tumbuh Kembang Anak?

Kesulitan makan pada masa balita cukup sering ditemui, dan jika berlangsung lama dan berat, dapat berbahaya dan mengancam jiwa. Kesulitan makan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan masalah makan di usia balita dan tumbuh kembang anak pada periode selanjutnya. Akibat gizi kurang atau gizi buruk pada masa batita adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak, gangguan komposisi tubuh dan otot, gangguan metabolisme zat gizi lainnya seperti glukosa, lemak dan protein yang berdampak meningkatnya risiko diabetes, obesitas, penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke, kanker dan penuaan dini.

Dampak jangka panjang dapat berupa rendahnya kemampuan nalar, prestasi pendidikan, kekebalan tubuh, dan produktivitas kerja. Selain itu, kesulitan makan seringkali menjadi penyebab terganggunya kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial pada umumnya, seperti makan bersama anggota keluarga yang lain atau aspek psikososial lainnya.

Bagaimanakah Cara Mengevaluasi Kesulitan Makan pada Anak?

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kesulitan makan pada anak, sebagai berikut:

  1. Telaah riwayat medis dan perkembangan, pola pertumbuhan, dan gejala terkini
  2. Asesmen asupan nutrisi (food diary)
  3. Telaah kebiasaan atau pola makan dan sikap perilaku anak saat makan
  4. Pemeriksaan oleh para ahli sebagai berikut:
  • Evaluasi oleh dokter anak, sub spesialis gastroenterologi terkait masalah medis dari saluran cerna yang dapat menyebabkan kesulitan makan
  • Evaluasi oleh dokter gigi, terkait kondisi gigi geligi anak
  • Evaluasi oleh dokter rehabilitasi medik, terkait keterampilan oral motor dan kemampuan menelan atau mengunyah, serta keterampilan postur, motorik, dan sensorik lainnya yang terkait
  • Evaluasi psikolog klinis anak terkait perilaku makan pada anak
  • Evaluasi yang dilakukan oleh ahli pertumbuhan dan perkembangan anak lainnya

Bagaimanakah Tatalaksana Kesulitan Makan pada Anak?

Tatalaksana kesulitan makan pada anak didasarkan pada penyebab gangguan tersebut.  Bila penyebabnya adalah masalah medis atau organik, maka perlu segera dikenali dan ditangani sedini mungkin oleh profesional terkait. Untuk masalah keterampilan oral motor yang inadekuat, perlu diberikan latihan keterampilan oral motor yang dapat dilakukan baik oleh orang tua, maupun oleh dokter atau terapis dengan keahlian khusus. Penanganan masalah psikologis dapat ditangani oleh terapis perilaku atau psikolog. Penerapan feeding rules yang secara konsisten dilakukan di lingkungan keluarga terbukti memberikan pengaruh yang signifikan pada kesulitan makan anak kelompok picky eater dan small eater. Komitmen dan peran serta orang tua secara aktif dan konsisten sangat penting dalam menangani masalah kesulitan makan ini, supaya tidak berkepanjangan dan berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak di kemudian hari.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *