5 Tips Sukses Menyusui selama Bulan Ramadhan

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo Keluarga Kejora,

Tidak terasa bulan Ramadhan sudah didepan mata. Bagi anda yang ingin menjalankan kewajiban untuk berpuasa namun masih ingin menyusui si kecil, Kejora memiliki tips bagaimana cara mensiasati agar anda tetap bugar saat menyusui selama menjalankan ibadah puasa

  • Pilih menu sahur dan berbuka dengan gizi seimbang karbohidrat protein lemak dalam jumlah yang cukup. jangan lupa untuk memasukkan porsi sayur buah-buahan harian anda. menghindari makanan mengiritasi lambung seperti terlalu pedas atau berminyak.
  • Jaga asupan cairan tubuh. Tingkatkan asupan air putih 2 hari sebelum puasa dimulai. Jaga asupan cairan 2 Liter per hari selama puasa. Sumber cairan dapat diperoleh dari air putih, buah-buahan dan sari buah, sup, dll. Hal ini bertujuan agar tubuh ibu terhidrasi dengan baik pada saat mulai puasa. Dehidrasi berat memang dapat mengurangi pasokan ASI, namun puasa selama bulan Ramadhan digolongkan menjadi puasa jangka pendek. Penelitian menunjukan bahwa puasa jangka pendek tidak menurunkan pasokan ASI.
  • Untuk mengurangi hilangnya energi berlebih, kurangi aktivitas yang tidak perlu dan pajanan panas maupun sinar matahari berlebih.
  • Perhatikan pola BAB dan BAK bayi anda untuk memantau asupan cairannya. Kandungan ASI selama ibu puasa dapat mengalami beberapa perubahan, namun perubahan ini berjangka pendek dan dilaporkan tidak menimbulkan efek klinis maupun mempengaruhi pertumbuhan bayi.
  • Ibu-ibu menyusui dengan kelainan metabolisme seperti diabetes atau riwayat gula darah rendah, atau masalah kesehatan lain seperti kurang darah (anemia) dapat berkonsultasi dengan dokter. Konsultasi juga kepada dokter apabila anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai puasa dan menyusui.

Produksi Asi Optimal

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Hai ibu sehat Kejora, pernahkah/sedang atau khawatir produksi ASI berkurang atau sedikit? Yuk, kita belajar tentang apa saja sih faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI.  

Produksi ASI melalui 2 proses terkait yaitu rangsangan hormon-hormon, juga stimulasi isapan bayi/let-down reflex (juga pengosongan payudara dengan perah ASI). Produksi ASI juga dapat dipengaruhi faktor psikologis ibu seperti rasa cemas, stres, kelelahan.  

Nutrisi ibu sebelum, selama hamil, juga selama menyusui akan memengaruhi kualitas dan jumlah ASI yang dikeluarkan. Selama menyusui, ibu memerlukan 2300–2400 kkal/hari dengan komposisi sumber hidrat arang, protein, lemak, vitamin, mineral, serat yang seimbang.

Selama ibu menyusui, ibu memerlukan total sekitar 2300–2400 kkal per hari yang dapat dibagi menjadi 5–6 kali makan (makan utama dan selingan/snack). Kebutuhan protein ibu menyusui juga akan meningkat, sehingga membutuhkan total sekitar 76 g protein setiap harinya.

Bagi ibu yang sedang menyusui, disarankan konsumsi cairan 2–3 liter per hari yang dapat diperoleh dari makanan (sup) dan minuman.

Galaktogogue adalah zat/substansi yang dipercaya membantu merangsang, mempertahankan, meningkatkan produksi ASI. Nah, galaktogogue bisa dibedakan dari jenisnya yaitu farmakologis (obat-obatan) dan alami. Konsumsi galaktogogue yang berasal dari obat-obatan tentu saja harus berdasar atas konsultasi dengan dokter, ya ibu..  

Galaktogogue alami contohnya fenugreek, shavatari (asparagus), goat’s rue, milk thistle, anise basil, blessed thistle, biji fennel, alfalfa. Di Indonesia, khususnya di daerah Batak dikenal daun bangun-bangun (atau torbangun), di daerah Jawa umumnya menggunakan daun katuk, sedangkan di Sulawesi Utara seringkali menggunakan jantung pisang untuk meningkatkan produksi ASI.

Fenugreek (Trigonella foenum-graecum) termasuk kacang-kacangan (pea family). Fenugreek telah dikenal sebagai booster ASI sejak tahun 1945. Mekanisme kerjanya belum diketahui, namun fenugreek dapat memengaruhi produksi ASI dengan merangsang produksi payudara. Pada penelitian 1200 ibu yang menggunakan fenugreek, dilaporkan peningkatan produksi ASI dalam 24–72 jam setelah pemberian.

Daun katuk (Sauropus androgynus) banyak digunakan secara tradisional di Indonesia. Suatu penelitian menunjukkan kenaikan produksi ASI sebanyak 50,7% lebih banyak pada ibu yang mengonsumsi ekstrak daun katuk dibandingkan kelompok ibu yang tidak mengonsumsi daun katuk.

Ibu sehat Kejora, setelah mempelajari tentang faktor-faktor yang memengaruhi produksi ASI, alangkah baiknya sebelum mengonsumsi galaktogogue, sebaiknya kembali memperhatikan apakah teknik menyusui sudah benar, apakah ada kelainan/gangguan dari payudara ibu maupun si Kecil, juga faktor-faktor lain yang dapat menjadi penyebab kurangnya produksi ASI (misal aspek psikologis). Ibu sehat Kejora, hingga kini, belum ada rekomendasi penggunaan sumber-sumber bahan alami/herbal di atas sebagai galagtogogue.

Sumber:

Modern Nutrition in Health and Disease, Krause’s Food & Nutrition Therapy

IDAI, Journal of Human Lactation, The Annals of Pharmacotherapy

Fungsi ASI Sebagai Efek Penahan Nyeri pada Bayi Baru Lahir

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo ayah dan ibu kejora,

Tahukah anda bahwa Air Susu Ibu (ASI) memiliki efek penahan nyeri pada bayi baru lahir?

Bayi baru lahir (newborn) dapat merasakan nyeri, dan bahkan lebih sensitif terhadap nyeri dibanding orang dewasa. Nyeri pada bayi baru lahir dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan berdampak pada perkembangannya. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa pemberian ASI pada bayi baru lahir saat prosedur medis ringan seperti pengambilan darah atau penyuntikan obat/imunisasi merupakan salah satu metode untuk mengurangi nyeri non-farmakologis (tanpa obat).1 Bayi baru lahir yang mendapatkan ASI dengan menyusu langsung pada ibunya menunjukkan penurunan nyeri yang lebih efektif dibandingkan dengan bayi baru lahir yang diberikan Air Susu Ibu Perah (ASIP).

ASI mengandung pro-endorfin , yakni zat kimia sejenis morfin yang diproduksi tubuh manusia. Zat inilah yang diduga memiliki efek penahan nyeri pada bayi. Selama bayi menyusu langsung pada payudara ibunya, bayi akan mendapat rasa nyaman yang berasal dari hisapannya dan dekapan dari ibunya. Hal ini pun dapat menambah efek penahan rasa nyeri yang berasal dari ASI2, tentu dengan kondisi ibu menyusui dalam keadaan sehat untuk memberikan ASI.

Jadi, Ayah dan Ibu Kejora, penting diingat bahwa ASI bukan obat definitif (drug). Apabila Si Kecil Kejora sakit, ayo diperiksakan ke dokter untuk mendapat penanganan yang sesuai.

Sumber:

1 Shah PS, Aliwalas L, Shah V. Breastfeeding or breastmilk to alleviate procedural pain in neonates: A systematic review. Breastfeeding Medicine 2007; 2(2): 74-82.

2 Brovedani P. Analgesic effect of mother’s milk. In Davanzo R: Nutrition with human milk. Research and practice. 2010. Medela AG: Italy.

Editor : drg. Annisa Sabhrina

Imunisasi dalam Kehamilan dan Masa Menyusui

 

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Halo Keluarga Kejora! Anda tentu pernah mendengar istilah imunisasi. Namun, tahukah Anda bahwa selain diberikan kepada bayi dan anak-anak, imunisasi juga ada yang perlu diberikan kepada orang dewasa? Lalu, apakah seorang ibu hamil boleh atau perlu mendapat imunisasi? Bagaimana dengan pemberian imunisasi pada ibu menyusui? Mari kita simak jawabannya di pembahasan mengenai imunisasi dalam kehamilan dan masa menyusui berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan imunisasi?

Imunisasi adalah suatu cara dimana seseorang dibuat kebal terhadap sebuah penyakit infeksi yang umumnya dilakukan dengan pemberian vaksin. Vaksin ini akan memicu tubuh seseorang untuk membuat sistem kekebalan sehingga orang tersebut memiliki perlindungan terhadap penyakit infeksi tersebut.

Apakah vaksinasi boleh diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui? Vaksin apa saja yang boleh diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui?

Secara umum, vaksin ada dua jenis yaitu vaksin hidup (termasuk vaksin hidup yang dilemahkan) dan tidak hidup. Pada kehamilan, jenis vaksin hidup tidak boleh diberikan karena memiliki risiko infeksi ke janin. Meskipun hingga saat ini tak ada laporan kecacatan dari vaksin hidup yang ada. Jenis vaksin virus dan bakteri yang tidak aktif serta toxoid dapat diberikan pada kehamilan. Untuk ibu menyusui vaksinasi dapat diberikan jika terdapat indikasi pemberiannya, kecuali vaksin Herpes Zoster dan typhoid oral.

Berikut ditampilkan berbagai jenis vaksin dan penggunaannya baik pada kehamilan dan masa menyusui.

Sumber: Diadaptasi dari Castillo, E, Poliquin, V. (2018). No. 357-Immunization in Pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada40(4), 478-489.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa banyak vaksin yang perlu diberikan pada kehamilan dengan kondisi tertentu (seperti berisiko tinggi mengalami infeksi tertentu, bepergian ke daerah endemik). Oleh karena itu, sebaiknya wanita hamil selalu konsultasikan mengenai rencana perjalanan dan riwayat kesehatan kepada dokter kandungan atau bidan yang merawat agar terhindar dari infeksi selama kehamilan.

Salam sehat Kejora!

Editor: dr. Sunita

Sumber:

www.who.int/topics/immunization/en/

Castillo, E, Poliquin, V. (2018). No. 357-Immunization in Pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada40(4), 478-489.

Prinsip Dasar Donor ASI

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Pemberian donor ASI tidak semudah yang terlihat pada masyarakat umum. ASI adalah bahan makanan unik yang dihasilkan seorang ibu untuk bayinya. Hal utama dan paling penting dalam proses menyusui adalah Air Susu Ibu atau yang biasa dikenal dengan ASI (Mother’s Own Milk, MOM) harus diberikan pada bayi sesuai dengan kebutuhannya. Sebagian besar Ibu menyusui dapat memproduksi ASI yang cukup pada bayinya. Apabila hal ini tidak dapat tercapai, barulah dipertimbangkan penggunaan ASI donor.

Penggunaan ASI donor memiliki beberapa risiko seperti; penularan penyakit yang dapat menyebar melalui darah, ASI terkontaminasi bakteri atau zat dan obat-obatan berbahaya, serta ASI mengandung komponen genetik seorang Ibu donor sehingga dapat menurunkan komponen genetik ini pada anak resipien ASI.

Secara ideal, proses donor – resipien ASI dilakukan melalui Bank ASI. Seperti halnya proses donor – resipien darah melalui PMI ( Palang Merah Indonesia). Hanya saja di Indonesia belum ada sistem bank ASI yang memadai. Pendonoran ASI banyak dilakukan secara informal dari donor ke resipien.

Apabila seorang Ibu ingin mencari donor ASI untuk bayinya, sebaiknya secara medis mengetahui beberapa kondisi dari Ibu pemberi donor ASI untuk memastikan kondisi Ibu tersebut dalam keadaan baik.

Berikut beberapa hal yang perlu anda ketahui :

  • Ibu pemberi donor telah terbukti bebas dari penyakit menular yang berasal dari darah seperti Hepatitis B, Hepatitis C, HIV, serta HTLV
  • Pastikan ASI Donor ​dipasteurisasikan sebelum diberikan pada bayi. Salah satu cara pasteurisasi adalah dengan metode holder dimana ibu bisa merendam ASI Donor dalam suhu air 62.5 derajat selama 30 menit. Metode ini dapat membunuh virus HIV
  • Ibu pemberi donor ASI tidak sedang menjalani kemoterapi atau terapi radiasi. Tidak menerima transfusi darah atau transplantasi jaringan dalam 12 bulan terakhir
  • Tidak minum obat-obatan tertentu dan memberikan informasi obat serta jenis vitamin yang sedang dikonsumsi

Bagi Ibu menyusui yang berniat mendonorkan ASInya, pastikan ASI anda sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan anak anda sendiri. Jaga kebersihan alat pompa dan wadah penyimpan ASI. Biasakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, sebelum dan sesudah memerah ASI. Usia bayi donor dan resipien diusahakan sedekat mungkin. Pertimbangan-pertimbangan sosial lain seperti jenis kelamin bayi, diet ibu dikembalikan kepada masing-masing donor – resipien.

Editor : drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

Hubungan Ibu Menyusui dan Hepatitis B

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Hai Ayah dan Ibu

Tahukah anda,

Bahwa ibu hamil berisiko menularkan virus hepatitis pada bayi yang dikandungnya. Penularan ini terjadi pada 25-30% wanita carrier hepatitis B berusia produktif. Penularan hepatitis B paling banyak terjadi pada saat atau segera setelah persalinan, saat terjadi kontak antara bayi dengan cairan darah atau cairan tubuh ibu.

Belum terdapat cukup bukti penelitian untuk mendukung atau menyanggah penularan hepatitis B melalui aktivitas menyusui. Secara umum, semua bayi yang lahir dari ibu carrier(pembawa) hepatitis B boleh menyusu serta harus mendapatkan antibodi terhadap hepatitis B (imunoglobulin hepatitis B) pada 24 jam pertama kehidupan. Imunoglobulin ini merupakan antibodi yang aktif memerangi virus hepatitis B, berbeda dengan imunisasi hepatitis B yang mengandung protein virus hepatitis B bisa merangsang tubuh untuk menghasilkan antibodi terhadap hepatitis B. Imunisasi hepatitis B pada bayi dari ibu carrier (pembawa) harus tetap dilakukan sesuai jadwal demi menjamin terbentuknya antibodi hepatitis B.

Lantas bagaimana apabila puting ibu lecet dan berdarah dikala menyusui? Pada ibu carrier (pembawa) hepatitis B, ASI dapat mengandung virus. Karena itu, lembaga penanganan dan pencegahan infeksi di Amerika Serikat (Center for Disease Control and Prevention, CDC) merekomendasikan teknik pump and dump untuk kasus seperti ini. Selama puting luka berdarah, ibu disarankan untuk memerah ASI dan membuang hasil perahan tersebut. Ibu dapat kembali menyusui buah hatinya kembali apabila luka sudah sembuh. Selama tidak memberikan ASI, ibu dapat memberikan ASI perah sendiri, ASI donor yang sudah dipasteurisasi atau susu formula pada bayinya. Tentunya luka pada puting perlu dijaga kebersihannya dan bila perlu mendapat pengobatan.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.who.int/maternal_child_adolescent/documents/pdfs/hepatitis_b_and_breastfeeding.pdf
https://www.cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/maternal-or-infant-illnesses/hepatitis.html
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-pada-ibu-penderita-hepatitis-b

Pola Makan Tepat Bagi Ibu Menyusui

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Periode menyusui merupakan saat yang tepat untuk membuat pola makan anda menjadi lebih sehat. Hal ini akan memberikan manfaat bagi Ibu menyusui, bayi anda dan keluarga mulai sekarang hingga di masa yang akan datang.

Prinsip utama pola makan selama menyusui adalah makan bahan makanan yang sehat dengan gizi seimbang, karena pada dasarnya tidak ada pola makan khusus yang harus dijalani selama menyusui. Namun perlu diingat, selama menyusui anda diharapkan dapat menambah asupan energi sebesar 500 kkal di luar kebutuhan energi dasar anda.

Sebagai gambaran, 1 butir telur ceplok mengandung 92 kkal, 1 porsi roti burger dengan daging, saus, sayuran dan roti mengandung 300 kkal, 1 gelas minuman kopi susu mengandung 200-300 kkal. Namun apakah bahan-bahan makanan ini diperlukan ibu menyusui? Mari kita telusuri.

Untuk memilih menu makanan anda sehari-hari, gunakan selalu prinsip pola makan yang tepat dalam pemilihan sumber bahan makanan yang akan dikonsumsi. Berikut merupakan contoh bahan makanan yang baik untuk anda konsumsi selama periode menyusui :

  1. Buat prioritas untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, terutama buah dan sayur yang berwarna merah, hijau tua, dan ungu (bit, kale, paprika, pepaya, anggur) karena kaya akan vitamin, mineral dan antioksidan.
  2. Pilih protein berkualitas seperti daging rendah lemak, ikan, telur, serta kacang-kacangan. Anda juga dapat memasukkan biji-bijian seperti gandum, biji selasih, chia seed, flaxseed, ataupun quinoa sebagai sumber serat dan protein dalam menu anda sehari-hari.
  3. Jika harus mengkonsumsi karbohidrat kompleks seperti sereal, roti atau pasta, pilihlah yang mengandung biji gandum utuh (whole grain) untuk menambah asupan serat.
  4. Konsumsi produk susu yang rendah lemak dan gula, serta asupan kecil lemak tak jenuh dari berbagai jenis minyak sayur bagi tubuh anda.

Selalu ingat untuk makan dengan porsi secukupnya dalam interval waktu yang tetap, yakni sarapan atau makan pagi, makan siang, makan malam, serta makanan selingan. Untuk makanan selingan, buat prioritas untuk mengkonsumsi buah atau kacang-kacangan. Hindari makanan yang mengandung gula dan lemak tinggi seperti kue, coklat, atau minuman manis. Hal yang tak kalah pentingnya adalah kebutuhan akan cairan. Pastikan tubuh anda cukup akan cairan, dengan cara minum air putih sebagai sumber cairan utama.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber: https://www.nutrition.org.uk/healthyliving/nutrition4baby/feeding.html?start=1

Hindari Depresi Pasca Melahirkan dengan Mengenal Trimester Keempat Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo Ayah dan Ibu,

Tahukah anda bahwa saat ini periode setelah melahirkan dikenal dengan istilah “trimester keempat”. Persatuan dokter kebidanan dan kandungan Amerika Serikat (American College of Obstetricians and Gynecologists, ACOG)  pada Bulan April 2018 mengeluarkan pernyataan baru tentang pentingnya perawatan ibu setelah melahirkan. ACOG merekomendasikan kunjungan kontrol setelah melahirkan yaitu satu kali dalam waktu 6 minggu setelah persalinan. Data ACOG menyebutkan bahwa sebanyak 40% ibu setelah melahirkan sering lalai melakukan kunjungan kontrol setelah persalinan.

Padahal banyak sekali perubahan fisik dan emosional yang dialami para ibu setelah melahirkan. Sehingga kontrol setelah persalinan ke dokter kandungan dan kebidanan (obstetri-ginekologi) atau tenaga kesehatan lain (dokter anak, konselor menyusui, bidan, atau perawat) sangat dianjurkan  dalam tiga minggu pertama setelah persalinan dan diharapkan dapat berkelanjutan.

Di beberapa awal pekan pertama setelah persalinan menjadi waktu yang paling menantang bagi seorang ibu. Bagaimana tidak? Dengan adanya bekas luka persalinan baik spontan maupun melalui bedah sesar yang mulai bereaksi terhadap tubuh, juga tubuh seorang ibu baru sedang beradaptasi terhadap perubahan hormon. Yakni, hilangnya hormon progesteron dalam kehamilan dan mulai bekerjanya hormon oksitosin dan prolaktin untuk menyusui. Selain itu seorang ibu juga membutuhkan waktu khusus untuk merawat dan menyusui bayinya. Untuk itulah kondisi fisik, nutrisi, serta kondisi mental ibu harus dipastikan terjaga dengan baik.

Pastikan anda mengetahui berbagai hal berikut ini dari para tenaga kesehatan:

  • Perubahan emosi yang berlebihan setelah melahirkan
  • Pemulihan fisik setelah persalinan
  • Kebutuhan nutrisi ibu
  • Teknik menyusui dan perawatan bayi
  • Penanganan penyakit kronis yang berhubungan dengan kehamilan seperti eclampsia, dan diabetes
  • Perencanaan kehamilan dan kontrasepsi

Jadi Ayah dan Ibu, jangan anggap enteng trimester keempat kehamilan. Pastikan anda tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, karena periode ini begitu kritis untuk pemulihan kondisi ibu dan merupakan fondasi awal dalam membina hubungan ibu dan bayi.

Edited by drg. Annisa Sabhrina

Sumber:
https://www.acog.org/About-ACOG/News-Room/News-Releases/2018/ACOG-Redesigns-Postpartum-Care

Pekan Menyusui

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Pada pekan pertama di bulan Agustus ini kita merayakan Pekan Menyusui Sedunia untuk mengingatkan kita pentingnya menyusui dalam rangka meningkatkan kesehatan bayi di seluruh dunia.

Menyusui bayi dengan ASI adalah cara terbaik dan nutrisi terbaik yang dapat kita berikan bagi bayi yang kita sayangi.

WHO merekomendasikan inisiasi menyusui dini sejak 1 jam setelah bayi lahir hingga bayi berusia 6 bulan. Ayah dan ibu sebaiknya menyadari pentingnya produksi ASI pertama (kolostrum) yang mengandung nutrisi yang sangat kaya dan merupakan “vaksin” pertama bagi si kecil. Setelah itu, si kecil membutuhkan nutrisi tambahan selain mendapatkan ASI hingga berusia 2 tahun atau lebih.

ASI, Asupan Unik yang Kaya Nutrisi

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Minggu pertama Bulan Agustus setiap tahunnya selalu diperingati sebagai Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week) untuk meningkatkan kesadaran umum akan pentingnya pemberian ASI pada bayi. Aliansi menyusui dunia memberi tema Foundation of Life pada pekan ASI tahun 2018 ini. Mengapa demikian?

Banyak orang mengatakan bahwa proses menyusui adalah anugerah Tuhan yang bertahan seumur hidup bayi dan ibunya. ASI memberikan nutrisi yang dibutuhkan bayi dari sejak lahir. Bagi ibu, proses menyusui membangun kedekatan emosional dengan si bayi dan melindungi ibu dari risiko perdarahan sehabis melahirkan serta beberapa penyakit (seperti diabetes mellitus, kanker payudara, dan kanker ovarium) di usia lanjut. Selain nutrisi yang lengkap bagi bayi, ASI mengandung enzim aktif yang berperan membantu pencernaan seperti amilase dan lipase serta memerangi mikroba seperti lisosim. Faktor pertumbuhan yang terkandung dalam ASI berperan dalam pematangan usus bayi sehingga bayi dapat lebih baik mencerna dan menyerap nutrisi serta membantu perkembangan sistem saraf bayi.

ASI juga mengandung zat imun yang berperan mencegah infeksi seta alergi seperti sIgA (secretory immunoglobulin A), sel darah putih, dan lain-lain. Antibodi yang sudah dimiliki ibu juga dapat dikeluarkan dalam jumlah sedikit pada ASI untuk memberikan kekebalan tubuh sementara untuk si bayi. ASI juga mengandung ‘zat hidup’ lain seperti hormon pengontrol napsu makan leptin, ghrelin, serta adiponektin. Zat-zat tersebut membuat bayi yang mendapat ASI eksklusif memiliki risiko obesitas rendah pada masa kanak-kanaknya. Seluruh kandungan inilah yang membuat ASI unik dan menjadi bekal terbaik untuk membangun kesehatan si kecil.