Mencukupi Kebutuhan ASI untuk Si Kembar

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Keluarga Kejora!

Dalam mempersiapkan kelahiran bayi kembar dua atau lebih, beberapa pertanyaan dan kekhawatiran tentang menyusui kerap muncul. Bagaimana mencukupi kebutuhan si kembar? Apa yang harus saya lakukan supaya ASI cukup? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Yuk, kita bahas sedikit tentang definisi ASI dan menyusui. ASI (Air Susu Ibu) adalah cairan yang diproduksi oleh kelenjar ASI di payudara ibu selama hamil dan menyusui sebagai sumber makanan bagi bayi yang akan lahir. Kelenjar ASI sudah mulai aktif menghasilkan ASI pada minggu 16-19 kehamilan, namun karena tubuh ibu sedang fokus pada kehamilan, hormon kehamilan menekan produksi ASI ini sampai kelahiran bayi.

ASI eksklusif, atau dalam Bahasa Inggris disebut “exclusive breastfeeding” merupakan istilah yang dibuat oleh World Health Organization (WHO) sebagai bentuk rekomendasi pemberian makanan pada bayi dan anak. ASI eksklusif merupakan kondisi dimana bayi hanya minum ASI tanpa cairan atau makanan padat lainnya, kecuali cairan rehidrasi oral, sirup vitamin/mineral, ataupun obat.

Bayi direkomendasikan untuk mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan untuk kesehatan dan tumbuh kembang optimal. Selepas usia 6 bulan, bayi mendapatkan makanan komplementer dalam jumlah cukup dan aman berupa Makanan Pendamping ASI (MPASI), sementara ASI masih dapat dilanjutkan sampai usia 2 tahun.

Menyusui tetap merupakan bagian penting dari perjalanan seorang ibu dengan bayi kembarnya. ASI menjadi nutrisi penting bagi bayi kembar yang terkadang lahir dengan berat badan yang lebih rendah dibanding bayi tunggal. Karena hal ini, sangatlah penting bagi bayi kembar untuk mendapatkan ASI.

Berikut beberapa hal yang dapat ibu kejora lakukan sebagai persiapan untuk menyusui bayi kembar:

  1. Rencanakan Kelahiran dan Proses Menyusui

Carilah informasi dari dokter, bidan, rumah sakit atau sarana kesehatan tempat anda merencanakan akan menjalankan persalinan. Bicarakan dengan pasangan, keluarga dan penghuni rumah tentang rencana persalinan dan menyusui. Jaga kebugaran tubuh anda dengan makanan yang bergizi dan olahraga yang sesuai untuk kehamilan.

  1. Dekap, Gendong, Sentuh Si Kembar

Segera setelah persalinan, apabila kondisi memungkinkan segera lakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) yakni kontak kulit ke kulit dalam 1 jam pertama setelah si kembar lahir dengan tujuan supaya bayi mendapat kolostrum atau ASI pertama yang kaya zat gizi dan zat protektif untuk imunitas bayi. Selepas IMD, sebanyak mungkin, dekap, buai, gendong dan sentuh bayi anda sebagai bentuk bonding dan latihan menyusui.

  1. Menyusui dan Menghasilkan ASI yang Cukup

Teknik menyusui yang baik menjadi fondasi proses menyusui yang lancar. Dengan bayi kembar, usahakan ibu dan keluarga memahami cara menyusui bayi secara bersamaan (tandem) untuk manajemen waktu yang lebih efisien. Bayi kembar, seperti bayi-bayi lainnya menyusu sesuai kebutuhan (on-demand). Secara umum dengan persiapan dan bimbingan yang tepat, ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayi kembar. Namun demikian, kecukupan ASI utamanya diukur dari pertumbuhan bayi, bukan semata-mata dari jumlah ASI yang dapat dilihat dan diukur. Tenaga Kesehatan anda akan senantiasa memantau kondisi dan pertumbuhan si kembar pada bulan-bulan pertama kehidupannya.

  1. Menjaga Kondisi

Kebutuhan dan perawatan bayi kembar akan menyita waktu anda. Hal ini adalah sesuatu yang dipahami dan diterima ibu dan keluarga. Namun demikian, jangan lupa untuk menjaga diri anda sendiri dengan cara memahami kebutuhan anda. Makan, minum dan istirahat tetap menjadi kebutuhan utama. Sempatkan istirahat saat si kembar istirahat. Jangan sungkan untuk memanggil bantuan untuk mengerjakan pekerjaan domestik.

Pesan terakhir untuk ibu dan ayah kejora yang menanti kelahiran bayi kembar adalah jadilah diri sendiri. Pengalaman setiap orang tua dan bayi yang baru lahir sangatlah unik, terkadang tidak dapat dibandingkan satu dengan lainnya. Selamat menempuh perjalanan menyusui dengan si kembar!

Editor: Maulidina Nabilah T., drg.

Sumber:

World Health Organization, 2001, The World Health Organization’s Infant Feeding Recommendation.
Claire and Debby S., 2017, When There Are Two Breastfeeding Twins, England, La Leche League International.

Cara Mempersiapkan dan Menyiapkan ASI Perah

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, Ayah dan Ibu!

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan Ibu tidak memungkinkan untuk menyusui bayi secara langsung, baik karena alasan medis maupun non-medis. Dalam kondisi tersebut, ASI dapat diperah dan disimpan untuk diberikan kepada bayi saat dibutuhkan. Pembahasan kali ini akan mengulas tentang cara mempersiapkan dan menyimpan ASI perah, sehingga kualitas ASI tetap terjaga dan aman untuk dikonsumsi oleh bayi.

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan dan menyimpan ASI perah?

Hal yang paling utama yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan dan menyimpan ASI adalah kebersihan. Sebelum memerah atau mempersiapkan ASI, cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir. ASI dapat diperah secara manual menggunakan tangan atau menggunakan pompa ASI. Jika menggunakan pompa ASI, pastikan pompa ASI dalam kondisi bersih.

Selain itu, hal lain yang perlu diperhatikan adalah tempat penyimpanan ASI perah. Jika ASI diperah menggunakan tangan, maka ASI dapat langsung dimasukkan ke dalam botol ASI atau plastik khusus untuk penyimpanan ASI. Baik botol maupun plastik ASI harus dalam kondisi bersih. Jika menggunakan botol ASI yang dipakai berulang, maka botol harus sudah dicuci dan disterilkan. Proses sterilisasi bisa menggunakan alat sterilisasi ataupun dengan air mendidih.

Selanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah suhu penyimpanan ASI. ASI dapat disimpan di kulkas dengan suhu 4°C atau freezer. Suhu ini akan mempengaruhi lama penyimpanan ASI.

Bagaimana cara menyimpan ASI perah?

ASI perah dapat disimpan dalam botol atau plastik ASI, yang selanjutnya dapat disimpan di kulkas atau freezer. Sebaiknya ASI perah disimpan dalam jumlah yang dibutuhkan untuk 1 periode konsumsi oleh bayi sehingga tidak ada ASI yang terbuang. Sebelum disimpan, pastikan Ibu telah menulis tanggal pemerahan. Tanggal ini berguna untuk mengetahui lama ASI telah disimpan dan ASI perah mana yang sebaiknya digunakan terlebih dahulu.

Berapa lama ASI perah dapat disimpan?

Lama ASI dapat disimpan bergantung pada jenis ASI perah; apakah ASI baru diperah atau sudah pernah dibekukan dan dicairkan.

  Lokasi dan Suhu Penyimpanan
Jenis ASI perah Suhu ruang (25°C) Kulkas (4°C) Freezer ( -18°C)
ASI perah segar atau baru diperah 4 jam 4 hari Paling baik 6 bulan

Bisa bertahan sampai dengan 12 bulan

ASI perah cair yang sudah pernah dibekukan 1-2 jam 1 hari Tidak boleh dibekukan ulang

Tabel 1. Lokasi Penyimpanan dan Suhu Penyimpanan ASI Perah Berdasarkan Jenis ASI Perah

(sumber: https://www.cdc.gov/breastfeeding/recommendations/handling_breastmilk.htm)

Bagaimana cara mencairkan ASI perah yang sudah dibekukan?

Ada beberapa cara mencairkan ASI perah yang sudah dibekukan, antara lain:

  • Dipindahkan dari freezer ke kulkas biasa malam sebelumnya
  • Hangatkan botol atau plastik ASI dalam wadah berisi air hangat

Tidak disarankan untuk mencairkan ASI perah dalam microwave karena hal itu dapat merusak kandungan nutrisi di dalam ASI. Jika ASI sudah dihangatkan, ASI harus dikonsumsi dalam waktu 2 jam.

Semoga informasi tersebut dapat bermanfaat bagi Ibu yang akan menyimpan ASI perah untuk buah hati tercinta. Salam sehat Kejora!

Sumber:

https://www.cdc.gov/breastfeeding/recommendations/handling_breastmilk.htm

https://www.breastfeeding.asn.au/bf-info/breastfeeding-and-work/expressing-and-storing-breastmilk

Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Donor ASI

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah ayah dan ibu mengetahui tentang donor ASI? Hal yang sering dibicarakan saat ini, terutama di kalangan keluarga yang baru memiliki bayi atau sedang dalam proses menyusui.

Kontributor Kejora Indonesia, dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC, CIMI, berbagi informasi penting mengenai donor ASI. Sebelum anda memutuskan untuk memberikan ASI atau menjadi donor ASI sebaiknya anda membaca poin di bawah ini.

Apa itu Donor ASI?

Donor ASI merupakan proses berbagi ASI, atau pemberian ASI seorang ibu untuk bayi yang bukan anak biologisnya. Mengapa kegiatan ini sering disebut sebagai donasi / donor ASI (breast milk donation), dan bukan berbagi ASI (breast milk sharing)? Karena ASI adalah cairan tubuh manusia, dan berpotensi membawa penyakit, risiko alergi, dan materi genetik seorang ibu, sehingga dunia kesehatan menempatkan donor ASI setara dengan donor darah. Oleh sebab itu proses donor ASI seharusnya dilakukan melalui proses penapisan dan pemeriksaan seperti layaknya proses donor darah.

Di Indonesia, sampai konten ini diterbitkan, belum ada Bank ASI yang terstandar. Praktik donor ASI yang banyak dilakukan di Indonesia merupakan praktik donor ASI informal melalui jaringan sosial, atau mulut ke mulut.

Meskipun proses informal, ada 4 pilar penting yang perlu diperhatikan dalam proses tukar-menukar atau berbagi ASI:

  1. Persetujuan tindakan

Semua pihak, baik yang memberi ASI (ibu donor) maupun ibu dan bayi dan keluarga penerima (resipien) harus memahami, mengerti, dan secara objektif menilai informasi terkait donor ASI termasuk keuntungan, risiko, konsekuensi medis, psikologis, dan sosiokultural pemberian ASI donor. Hal ini memudahkan para pihak untuk mengambil keputusan yang tepat. Dokter, bidan, konselor laktasi merupakan tenaga profesional yang tepat untuk berkonsultasi sebelum mengambil keputusan untuk donor ASI atau menerima donor ASI.

  1. Penapisan donor

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang ibu donor ASI untuk dapat memberikan ASInya untuk bayi lain. Secara umum, penapisan donor ASI terdiri dari penapisan mandiri, pengkajian kesehatan dan gaya hidup (seperti risiko infeksi HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C, peminum alkohol, merokok, pengguna Narkoba, ataupun sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi), serta pemeriksaan darah untuk penyakit-penyakit yang dapat menular melalui darah (HIV, dan HTLV).

  1. Penanganan yang aman

Penanganan yang aman meliputi kebersihan tangan saat memerah ASI, proses memerah ASI yang baik, kulit ibu donor yang sehat, serta penyimpanan ASI perah yang memadai.

  1. Proses pasteurisasi ASI donor

Semua ASI donor harus melalui proses pasteurisasi untuk memastikan virus dan bakteri yang mungkin terkandung dalam ASI. Proses pasteurisasi ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan cara memanaskan ASI perah sampai suhu tertentu dan mempertahankannya dalam waktu tertentu. Pasteurisasi Holder memanaskan ASI perah dalam suhu 62.5°C selama 30 menit. Pasteurisasi pemanasan kilat (flash heating) menempatkan ASI perah pada suhu 72°C selama beberapa detik.

Demikian informasi mengenai donor ASI Keluarga Kejora, semoga bermanfaat terutama bagi anda yang sedang memiliki rencana untuk mencari donor ASI.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi

The Four Pillars of Safe Breast Milk Sharing by Shell Walker and Maria Armstrong, from Midwifery Today (2012), 101, 34-37
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

Pekan Menyusui Sedunia 2020

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19, kita merayakan Pekan Menyusui Sedunia (World Breastfeeding Week) yang jatuh pada minggu pertama bulan Agustus 2020. Pekan Menyusui Sedunia yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 1-7 Agustus, merayakan peran ibu menyusui dan meningkatkan kepekaan masyarakat awam terhadap menyusui.

Pada tahun 2020 ini, World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) menentukan tema “Support Breastfeeding for a Healthier Planet” sebagai bentuk dukungan menyusui terhadap lingkungan hidup.

Berikut manfaat menyusui terhadap lingkungan hidup dan kehidupan bermasyarakat:

  • Menyusui dapat mengurangi sampah botol, plastik, kardus kemasan serta mengurangi polusi yang diakibatkan proses produksi dan konsumsi Pengganti ASI (PASI). ASI adalah sumber daya terbarukan alami yang tidak memerlukan proses pengemasan, pemasaran, pengiriman, dan pembuangan.
  • Menurunkan kebutuhan listrik dan bahan bakar minyak yang diperlukan untuk produksi, pemasaran, distribusi, dan pembuangan PASI.
  • Menyusui eksklusif dapat menjadi metode kontrasepsi alami dan dapat menjarakkan kehamilan.
  • Bayi yang menyusu ASI menunjukkan respons imunologis yang lebih baik terhadap vaksin oral maupun suntikan.
  • Menurunkan biaya kebutuhan pokok keluarga. Pemberian PASI memakan biaya Rp. 300.000,00-800.000,00 per bulan.
  • Menyusui menurunkan angka kematian maupun kesakitan bayi sehingga menurunkan biaya pelayanan kesehatan yang harus ditanggung baik keluarga, asuransi, maupun pemerintah.
  • Menurunkan premi asuransi yang harus dibayar orang tua maupun pemberi kerja.
  • Meningkatkan produktivitas kerja orang tua karena bayi yang menyusu eksklusif rata-rata lebih jarang sakit.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.tensteps.org/benefits-of-breastfeeding-for-the-environment-society.shtml#:~:text=Breastfeeding%20does%20not%20waste%20scarce,packaging%2C%20shipping%2C%20or%20disposal.&text=Though%20less%20of%20a%20factor,sibling%20and%20the%20new%20infant.

Gangguan Mood pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Menyusui  merupakan bentuk kerjasama tim. Bukan hanya membutuhkan partisipasi aktif seorang ibu dan bayinya, namun juga perlu disokong oleh beberapa faktor seperti pasangan, keluarga besar, kebijakan di lingkungan kerja dan komunitas.1

Salah satu cara memberdayakan ibu untuk bisa mencapai keberhasilan menyusui adalah dengan mengenali kondisi mental ibu yang  dapat menjadi hambatan dalam menyusui.

Gangguan psikiatri postpartum secara umum dibagi menjadi 3, yakni baby blues, postpartum psychosis, dan postpartum depression (depresi postpartum). Baby blues memiliki insidens global 300-750 per 1000 ibu. Kondisi ini merupakan gangguan psikiatri paling dini karena rasa sedih ibu saat bersama bayi dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu satu minggu. Namun pada 10-15% kasus, 1 kondisi ibu yang mengalami baby blues dapat berkembang menjadi depresi postpartum.2

Depresi post partum terjadi pada 100-150 per 1000 ibu baru melahirkan dan perlu ditangani. Psikosis post partum merupakan kondisi psikosis yang muncul dalam empat minggu pertama postpartum dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Di negara maju, gangguan psikiatri postpartum termasuk depresi postpartum diperkirakan mencapai 18.6% (interval kepercayaan 95% , 18.0-19.2%).2 Depresi postpartum ini bila dibiarkan dapat mengganggu hubungan ibu dengan bayinya. Anak-anak dengan ibu yang mengalami depresi postpartum memiliki masalah kognitif, perilaku, dan interpersonal dibanding anak lainnya dengan ibu yang tidak memiliki kondisi yang sama. Anak-anak ini juga memiliki risiko lebih tinggi menderita berat badan kurang dan stunting.

Apabila seorang ibu menyusui merasakan ketidaksesuaian mood, segera cari pertolongan orang terdekat (suami, keluarga) maupun tenaga profesional (konselor, dokter, psikolog).

 

Editor : drg. Annisa Sabhrina

 

1 Webber E, Benedict J. Postpartum depression: A multi-disciplinary approach to screening, management and breastfeeding support.
Archives of Psychiatric Nursing, 2019;33(3):284-289.

2 Upadhyay RP, et al. Postpartum depression in India: a systematic review and meta-analysis. Bull World Health Organ 2017;95:706–717B
al.cfm.

Tahapan Menyusui Buah Hati

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Keluarga Kejora,

Kelenjar ASI pada payudara ibu sudah mulai aktif sejak minggu ke-16 kehamilan. Hormon kehamilan secara otomatis akan menghambat keluarnya ASI untuk menjaga kehamilan sampai cukup bulan. Setelah bayi dan ari-ari lahir peran hormon kehamilan mulai berkurang. Di sisi lain peran hormon menyusui akan meningkat yakni oksitosin dan prolaktin, yang bekerja untuk mengeluarkan dan menjaga lancarnya produksi ASI.

Kolostrum adalah ASI pertama yang keluar setelah bayi lahir. Kolostrum mengandung antibodi IgA sekretoris, laktoferin, sel darah putih, dan faktor-faktor pertumbuhan. Kolostrum memiliki fungsi utama untuk menyokong daya tahan tubuh dan pertumbuhan bayi di hari-hari pertama kehidupan.

ASI transisi / peralihan muncul saat kandungan laktosa di dalam ASI meningkat menjelang akhir minggu pertama setelah bayi lahir atau berkisar pada akhir minggu pertama setelah kelahiran bayi.

ASI matur mulai dihasilkan tubuh ibu sekitar minggu kedua setelah persalinan. Kandungan ASI matur kaya makronutrien seperti laktosa (karbohidrat), protein, dan lemak untuk mencukup kebutuhan nutrisi bayi. ASI juga mengandung cukup cairan untuk memenuhi kebutuhan cairan harian bayi.

Penggolongan ASI ini penting diketahui untuk dapat memahami tahapan menyusui. Ayah dan Ibu Kejora perlu mengetahui bahwa tahapan produksi ASI ini akan sejalan dengan kebutuhan minum bayi. Bayi cukup bulan yang lahir pada usia kehamilan 37-40 minggu dengan rentang berat 2500g-4000g memiliki kapasitas lambung lebih kurang 5-7 mL (1 sendok teh) pada hari pertama hidupnya. Volume ini akan meningkat menjadi sekitar 22-27 mL pada hari ketiga, dan 45-60 mL pada minggu pertama. Saat bayi berumur 1 bulan, bayi dapat menampung kurang lebih 80-150 mL dalam lambungnya.

Pastikan teknik menyusui yang tepat serta nutrisi Ibu dan Ayah yang paripurna untuk menjaga kesinambungan menyusui si kecil.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi:
Ballard OJ, Morrow AR. Human Milk Composition: Nutrients and Bioactive Factors. as: Pediatr Clin North Am. 2013 Feb; 60(1): 49–74.

Dukungan Solid Perjalanan Menyusui Keluarga

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Keluarga Kejora,

Menyusui merupakan salah satu tahapan penting dalam kehidupan seorang anak. Bagi ibu menyusui, hal ini dapat membantu dirinya dalam mengenal dan merawat bayi. Selain itu, dapat memberikan nutrisi dan kasih sayang terbaik sebagai fondasi kesehatan anak di masa depan.

Sama halnya seperti kehamilan, proses menyusui membutuhkan persiapan serta dukungan yang melibatkan berbagai elemen, seperti kedua orang tua, keluarga besar, tenaga kesehatan juga lingkungan.

Dukungan penuh bagi keluarga di setiap langkah menyusui, mulai dari kehamilan sampai akhir masa menyusui, seperti yang rekomendasi dari WHO melalui program 7 kontak laktasi plus, yakni :

    1. Pada usia kehamilan sekitar 28 minggu, diperkenalkan mekanisme dasar menyusui
    2. Pada usia kehamilan sekitar 36 minggu, sebaiknya dilakukan pemantapan materi dan diskusi tentang kesiapan keluarga
    3. Saat persalinan sebaiknya terjadi kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi baru lahir atau biasa dikenal dengan Inisiasi Menyusu Dini
    4. Pada hari-hari awal setelah persalinan, untuk bimbingan posisi menyusui baik dalam keadaan tidur/duduk (disesuaikan dengan kondisi ibu). Hal ini dilakukan untuk membantu perlekatan mulut bayi pada payudara ibu dengan baik.
    5. Setelah 1 minggu pasca persalinan, identifikasi tantangan yang ditemui saat menyusui. Juga tidak lupa memberikan dukungan pada ibu dan suami untuk tetap menyusui buah hati
    6. Setelah 30 hari persalinan, lakukan pemantauan tumbuh kembang bayi dan kesehatan ibu.
    7. Lakukan pengecekan setelah 2 bulan persalinan, untuk melakukan pemantauan serta persiapan apabila ibu bersiap untuk bekerja.

             + Kontak berikutnya disesuaikan dengan kebutuhan ibu dan suami terkait menyusui.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/program-pranatal-untuk-keberhasilan-menyusui

Materi Pelatihan Konseling Menyusui Modul 40 jam Kemenkes/WHO/UNICEF.

Asap Rokok dan Menyusui

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

Halo Keluarga Kejora,

Bayi dan anak-anak yang terpajan asap rokok memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia, asthma, bronkitis, infeksi telinga, sinusitis, alergi, dan iritasi mata. Sistem pencernaan bayi juga rentan terkena kolik akibat iritasi nikotin dari asap rokok.  Lebih jauh lagi, risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) bayi dengan kedua orang tua yang merokok tujuh kali lebih tinggi dibanding bayi yang orang tuanya bukan perokok.

Ibu yang merokok atau terpajan asap rokok pasif memiliki risiko berhenti menyusui lebih awal dan refleks keluarnya ASI (Let Down Reflex) terganggu. Kadar hormon prolaktin yang lebih rendah juga dapat menyebabkan pasokan ASI tidak optimal.

Bagaimanakah cara mengurangi bahaya asap rokok pada bayi anda?

  • Tetap menyusui

Menyusui memiliki keuntungan imunologis bagi bayi yang terpajan asap rokok.

  • Berhenti, atau setidaknya kurangi frekuensi merokok secara bertahap.

Ayo Ayah dan Ibu Kejora, manfaatkan momen kelahiran si kecil untuk berhenti merokok.

  • Apabila anda harus merokok, lakukan segera setelah menyusui di ruangan terpisah, untuk meminimalisasi pajanan nikotin ke bayi.

Editor drg. Annisa Sabhrina

Sumber:

Breastfeeding and Cigarette Smoking


https://www.llli.org/breastfeeding-info/smoking-and-breastfeeding/

Cukupkah ASI Saya?

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Ayah dan Ibu, apa kabar?  Ingatkah saat dahulu si kecil lahir? Umumnya kita semua akan dihinggapi pertanyaan yang sama, cukupkah ASI saya? Hal ini seringkali menjadi momok bagi semua orang tua, apakah setiap tangisan bayi berarti dia lapar? Kapan saatnya kita memberikan tambahan nutrisi selain ASI?

Terdapat beberapa hal yang bisa menjadi panduan untuk menilai kecukupan ASI seorang bayi. Parameter yang bisa dipakai adalah penurunan berat badan bayi, warna feses/BAB, jumlah BAK dan perilaku bayi.

Bayi akan mengalami perubahan berat badan saat 3-5 hari pertama kehidupan. Secara normal bayi akan mengalami penurunan berat badan. Umumnya penurunan berat badan yang dapat diterima adalah 7% dari berat lahir. Bila terdapat penurunan berat badan ≥10% dari berat badan lahir, maka kita pertimbangkan pemberian tambahan nutrisi/cairan selain ASI. Namun, keputusan memberikan nutrisi/cairan lain ini sebaiknya didahului konsultasi dengan dokter yang merawat bayi.

Feses atau tinja bayi akan mengalami perubahan warna seiring dengan jumlah ASI yang dikonsumsi bayi. Perubahan warna adalah dari berwarna gelap (hitam, hijau) menuju warna kuning keemasan dengan perubahan bentuk dari pasta lengket ke bubur berbiji kekuningan. Perubahan warna umumnya terjadi di hari ke-4 dan 5 kehidupan, bila tidak terjadi perubahan warna tinja maka kita perlu mengevaluasi apakah ASI yang diberikan cukup untuk bayi.

Pipis atau BAK juga menggambarkan kecukupan cairan. Umumnya seorang bayi akan mengalami BAK sesuai usia bayi. Saat usia bayi >5 hari maka diharapkan jumlah bak >6x/hari dengan warna kuning jernih.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah perilaku bayi. Seorang bayi akan tidur tenang selama 2-3 jam bila dalam kondisi kenyang. Menyusu efektif adalah menyusu dengan durasi 20-40 menit setiap kalinya. Bila seorang bayi menyusu selama >40 menit atau mudah sekali terbangun sekalipun telah menyusu selama >40 menit, maka kita harus melakukan evaluasi ulang kecukupan ASI. Rangkuman dapat dilihat pada tabel 1. Perubahan normal pada bayi baru lahir.

Semoga informasi ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam menilai kecukupan ASI untuk bayi tercinta.

 

Tabel 1. Perubahan normal pada bayi baru lahir

Usia (jam) Jumlah frekuensi menyusui Jumlah popok basah Frekuensi buang air besar (BAB) Warna tinja Kosistensi tinja Berat badan bayi
0-24 8 jam pertama: 1 atau lebih

8 jam kedua: 2 atau lebih

8 jam ketiga: 2 atau lebih

1 atau lebih 1-2 hitam Lengket Kehilangan 7% dari berat lahir (maksimal 10% dari berat lahir)
24-48 8-12 2 atau lebih 1-2 Kehijauan/hitam kemudian kecoklatan Lembek
48-72 8-12 3 atau lebih 3-4 Kehijauan/kuning Lembek
72-96 8-12 4 atau lebih 4 banyak atau 10 sedikit Kuning/berbiji Lembek/cair
Akhir minggu pertama 8-12 6 atau lebih 4 banyak atau 10 sedikit Kuning/berbiji Lembek/cair Berat mulai naik

Editor: dr. Sunita

Sumber

https://www.health.qld.gov.au/__data/assets/pdf_file/0033/139965/g-bf.pdf