Pentingnya Tes Toleransi Glukosa Oral pada Ibu Hamil

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Keluarga Kejora! Tahukah Anda bahwa ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO)? Apa tujuan dan makna dari pemeriksaan tersebut? Apakah TTGO perlu dijalani oleh semua ibu hamil? Yuk, kita simak pembahasan lebih lanjut tentang pemeriksaan ini.

Tes toleransi glukosa oral (TTGO) merupakan suatu pemeriksaan untuk mengetahui respons tubuh terhadap pemberian glukosa (gula sederhana). TTGO pada ibu hamil dilakukan sebagai penapisan (skrining) diabetes gestasional, yakni suatu jenis diabetes yang pertama kali ditemukan pada saat hamil.

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada usia kehamilan 24-28 minggu pada semua ibu hamil. Namun, pada ibu hamil dengan faktor risiko menderita diabetes gestasional, penapisan diabetes gestasional dapat dilakukan lebih awal atau sesuai petunjuk dokter yang merawat. Faktor risiko yang dimaksud antara lain:

  • obesitas
  • riwayat diabetes gestasional di kehamilan sebelumnya
  • riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir >4000 g
  • riwayat keluarga dengan diabetes

Penapisan diabetes gestasional perlu dilakukan karena adanya risiko kesehatan terhadap ibu dan risiko kesehatan terhadap bayi dalam kandungan. Risiko kesehatan terhadap ibu mencakup kemungkinan bayi dengan berat lahir besar yang akan mempengaruhi cara persalinan, perlunya induksi persalinan, atau persalinan dengan operasi Caesar. Beberapa risiko kesehatan bayi yang dapat terjadi adalah cedera saat proses persalinan, dilahirkan prematur, dan mengalami hipoglikemia (gula darah rendah) setelah dilahirkan.

Sebelum pemeriksaan tes toleransi glukosa oral dilakukan, Ibu akan diminta untuk puasa 8-12 jam. Kemudian, Ibu akan meminum air gula yang berisi 75 gram glukosa dalam 200 ml air yang diberikan pemeriksa. Selanjutnya, pemeriksa akan mengambil sampel darah melalui pembuluh darah vena (bukan melalui penusukan di ujung jari) setelah 1 dan 2 jam pemberian air gula.

Ibu mungkin didiagnosis dengan diabetes gestasional jika salah satu kondisi berikut ini ditemukan:

  • Gula darah puasa ≥ 92 mg/dL
  • Gula darah setelah 1 jam pemberian 75 g glukosa ≥ 180 mg/dL
  • Gula darah setelah 2 jam pemberian 75 g glukosa ≥ 153 mg/dL

Jika Ibu didiagnosis dengan diabetes gestasional, maka dokter yang merawat akan merencanakan tata laksana yang dapat melibatkan dokter spesialis kebidanan, penyakit dalam, gizi klinik, dan spesialis anak. Tujuan dari pengobatan multidisiplin tersebut adalah untuk mempertahankan gula darah puasa < 95 mg/dL dan gula darah 2 jam setelah makan <120 mg/dL serta mengantisipasi segala hal yang perlu dipersiapkan untuk mengoptimalkan proses kehamilan. Selain itu, pada Ibu yang terdiagnosis dengan diabetes gestasional, pemantauan gula darah perlu dilakukan hingga 6-12 minggu setelah persalinan dan setiap 3 tahun selama seumur hidup. Hal tersebut bermanfaat untuk menilai kemungkinan perkembangan kondisi menjadi diabetes melitus tipe 2.

Jadi, pemeriksaan TTGO pada wanita hamil sangat penting dilakukan. Konsultasikan selalu hasil pemeriksaan dan riwayat kesehatan Ibu dengan dokter yang merawat. Dengan demikian, penapisan diabetes gestasional dapat dilakukan dengan akurat dan memiliki makna dalam menilai risiko penyakit diabetes pada kehamilan. Semoga informasi ini bermanfaat.

Salam sehat Kejora!

Sumber:

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. 2013.
NICE Guidelines. Gestational diabetes: risk assessment, testing, diagnosis and management. 2019. 
American Diabetes Association. 2. Classification and diagnosis of diabetes: Standards of Medical Care in Diabetes. 2018. Diabetes Care 2018;41(Suppl. 1):S13–S27

Imunisasi dalam Kehamilan dan Masa Menyusui

 

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Halo Keluarga Kejora! Anda tentu pernah mendengar istilah imunisasi. Namun, tahukah Anda bahwa selain diberikan kepada bayi dan anak-anak, imunisasi juga ada yang perlu diberikan kepada orang dewasa? Lalu, apakah seorang ibu hamil boleh atau perlu mendapat imunisasi? Bagaimana dengan pemberian imunisasi pada ibu menyusui? Mari kita simak jawabannya di pembahasan mengenai imunisasi dalam kehamilan dan masa menyusui berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan imunisasi?

Imunisasi adalah suatu cara dimana seseorang dibuat kebal terhadap sebuah penyakit infeksi yang umumnya dilakukan dengan pemberian vaksin. Vaksin ini akan memicu tubuh seseorang untuk membuat sistem kekebalan sehingga orang tersebut memiliki perlindungan terhadap penyakit infeksi tersebut.

Apakah vaksinasi boleh diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui? Vaksin apa saja yang boleh diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui?

Secara umum, vaksin ada dua jenis yaitu vaksin hidup (termasuk vaksin hidup yang dilemahkan) dan tidak hidup. Pada kehamilan, jenis vaksin hidup tidak boleh diberikan karena memiliki risiko infeksi ke janin. Meskipun hingga saat ini tak ada laporan kecacatan dari vaksin hidup yang ada. Jenis vaksin virus dan bakteri yang tidak aktif serta toxoid dapat diberikan pada kehamilan. Untuk ibu menyusui vaksinasi dapat diberikan jika terdapat indikasi pemberiannya, kecuali vaksin Herpes Zoster dan typhoid oral.

Berikut ditampilkan berbagai jenis vaksin dan penggunaannya baik pada kehamilan dan masa menyusui.

Sumber: Diadaptasi dari Castillo, E, Poliquin, V. (2018). No. 357-Immunization in Pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada40(4), 478-489.

Dari tabel di atas, terlihat bahwa banyak vaksin yang perlu diberikan pada kehamilan dengan kondisi tertentu (seperti berisiko tinggi mengalami infeksi tertentu, bepergian ke daerah endemik). Oleh karena itu, sebaiknya wanita hamil selalu konsultasikan mengenai rencana perjalanan dan riwayat kesehatan kepada dokter kandungan atau bidan yang merawat agar terhindar dari infeksi selama kehamilan.

Salam sehat Kejora!

Editor: dr. Sunita

Sumber:

www.who.int/topics/immunization/en/

Castillo, E, Poliquin, V. (2018). No. 357-Immunization in Pregnancy. Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada40(4), 478-489.

Mual Muntah saat Kehamilan

 

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai, Ibu sehat Kejora!

Pernahkah Ibu mendengar tentang morning sickness atau mual muntah selama kehamilan?

Yuk, kita simak tanya jawab dengan dr. Nessa Wulandari, MGizi, SpGK yang akan menjabarkan mengenai mual muntah selama kehamilan!

Dok, apa itu morning sickness atau mual muntah selama hamil?

“Mual muntah selama kehamilan (nausea vomiting of pregnancy/NVP) biasanya terjadi antara minggu keempat dan ke-8 kehamilan, kemudian berkurang pada pertengahan trimester kedua (sekitar minggu ke-14 hingga 16) kehamilan.

Jenis NVP yang berat disebut dengan hiperemesis gravidarum (HEG), yaitu mual muntah yang berlebihan. HEG dapat menyebabkan penurunan berat badan, juga ketidakseimbangan ion (elektrolit) dalam tubuh.”

Kenapa sih bisa mual dan muntah saat ibu hamil, Dok?

“NVP atau HEG terutama terjadi akibat peningkatan hormon kehamilan yang dinamakan human chorionic gonadotropin (hCG), juga progesteron. Namun, faktor-faktor lain dapat memengaruhi terjadinya NVP misalnya kontaminasi bakteri berbahaya dalam makanan/minuman, infeksi, ataupun faktor psikologis.”

Jadi, ada juga mual dan muntah berat, ya, Dok. Kalau mengalami mual dan muntah berat, apa yang harus dilakukan ibu hamil?

“Ibu sehat Kejora, apabila mengalami mual dan muntah berat sehingga mengurangi asupan makanan, segeralah berkonsultasi dengan dokter kandungan ya! Hati-hati juga dalam mengonsumsi obat anti mual/muntah tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.”

Tips dan trik apa saja yang bisa dilakukan ibu hamil untuk mengatasi mual dan muntah ringan dari segi nutrisi, Dok?

“Berikut kiat-kiat mengatasi mual dan muntah ringan saat kehamilan dari segi nutrisi:

  • Makan porsi kecil namun sering
  • Selingan atau snack tinggi protein contoh keju atau daging tanpa lemak (lean meat)
  • Hindari makanan porsi besar, sangat manis, pedas, atau tinggi lemak, bila tidak dapat ditoleransi.
  • Hindari makanan dengan aroma atau bumbu yang menyengat
  • Hindari langsung berbaring setelah makan
  • Hindariskipping meals
  • Saat mual muntah, jangan paksa untuk makan. Sementara itu, dapat mengemut es batu, setelah mual muntah mereda dapat mencoba makan makanan porsi kecil
  • Usahakan makan di tempat dengan sirkulasi udara lancar, bebas dari bau-bauan
  • Makan dan minum secara perlahan, tidak terburu-buru. Beri jeda antara makan dan minum (dibandingkan dengan minum saat sedang makan)
  • Hindari dehidrasi dengan tetap sering minum, di sela-sela jam makan
  • Jahe (jahe dapat memberikan manfaat dalam mengurangi keluhan mual dan muntah. Dapat berupa: memasak makanan dengan bumbu jahe, meminum minuman jahe, atau biskuit jahe).”

Terima kasih dr. Nessaatas penjelasannya mengenai mual dan muntah saat kehamilan. Jadi, Ibu Sehat Kejora tidak perlu khawatir ya bila mengalami mual dan muntah karena dapat mengikuti tips dan trik yang sudah dijelaskan oleh dr. Nessa.

Editor: Rizki Amalia

Sumber:

  1. American College of Obstetricians & Gynecologists (ACOG)
  2. Nutrition and Diagnosis-related Care (Escott-Stump)

 

Nutrisi Prakonsepsi

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai, Keluarga Sehat Kejora! Kali ini, kita akan membahas mengenai Nutrisi Prakonsepsi, atau nutrisi yang kita konsumsi sebelum terjadinya proses pembuahan (konsepsi). Tahukah Ayah dan Ibu bahwa makanan yang Ayah dan Ibu konsumsi dapat memengaruhi kesuburan? Ya, ternyata makanan yang Ayah dan Ibu konsumsi dapat memengaruhi bukan hanya lingkungan sel telur dan sperma terbentuk, namun juga kadar hormon yang terlibat dalam proses reproduksi, lho!

Mari kita simak sesi tanya jawab mengenai Nutrisi Prakonsepsi dengan dr. Arti Indira, MGizi, SpGK yaa..

Dok, saya pernah mendengar kalau status gizi tertentu dapat memengaruhi gangguan fertilitas. Benarkah demikian?

“Betul sekali. Seorang calon ibu yang mengalami obesitas akan menghasilkan beberapa jenis hormon (estrogen, leptin, dan androgen) yang lebih banyak. hormon-hormon ini dapat mengganggu siklus haid dan juga memengaruhi fertilitas. Sebaliknya, seorang calon ibu yang kekurangan gizi kronis juga bisa melahirkan bayi yang kecil dengan risiko kematian yang tinggi selama 1 tahun pertama kehidupan sang bayi. Seorang calon ibu yang mengalami gizi akut, misalnya pada situasi kelaparan/bencana/peperangan, dapat mengalami gangguan fertilitas, namun hal ini dapat teratasi ketika asupan sang calon ibu diperbaiki.”

Oh begitu dok.. jadi sebaiknya seorang calon Ibu betul-betul menjaga status gizinya sebelum hamil ya Dok… Nah, selain status gizi, apakah ada bahan makanan atau cara diet tertentu yang mengganggu kesuburan seseorang, Dok?

“Ya, ada. Seorang calon ibu sebaiknya memperhatikan konsumsi kafeinnya.. Asupan kafein sebanyak 300 mg sehari dapat menurunkan konsepsi (proses bersatunya sel telur dengan sperma) hingga 27%, sedangkan jika kafein ini dikonsumsi hingga 500 mg/hari, maka kemungkinan terjadinya konsepsi bisa berkurang hingga 50%.”

“Selain kafein, alkohol juga dapat menurunkan kadar estrogen dan testosterone, bahkan mengganggu siklus menstruasi. Asupan alkoholo 1-5 gelas per hari menurunkan konsepsi 39%, asupan alcohol > 10 gelas per hari menurunkan konsepsi hingga 66%.”

“Beberapa diet seperti diet vegetarian, diet dengan asupan lemak rendah dan asupan serat terlalu tinggi juga terbukti dapat memengaruhi hormon reproduksi.”

Oh begitu dok… Wah saya jadi terpikir, selain makanan atau status gizi apakah ada jenis olahraga yang dapat mengganggu kesuburan seorang calon Ibu?

“Pertanyaan yang bagus. Seorang calon Ibu yang melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dapat mengalami gangguan hormonal ataupun metabolik. Hal ini dapat terlihat dari pubertas yang terlambat maupun siklus menstruasi yang kacau. Massa lemak tubuh yang terlalu rendah juga berkaitan dengan penurunan densitas tulang, sehingga sang calon Ibu rentan mengalami patah tulang atau osteoporosis.”

Jadi ternyata makanan dan kegiatan yang kita lakukan sangat berperan untuk mendukung terjadinya konsepsi ya dok…

“Iya, benar sekali..”

Berapa lama sebelum hamilkah sebaiknya Ayah dan Ibu Kejora menjaga nutrisi ini Dok?

“Rekomendasi nutrisi yang disarankan untuk prakonsepsi adalah 3-6 bulan sebelum terjadinya konsepsi. Sebaiknya calon ayah dan ibu melakukan diet gizi seimbang yang sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing, dengan target berat badan yang sesuai dengan indeks massa tubuh (IMT) yang normal. Jangan lupa perhatikan dan kurangi konsumsi kafein dan alkohol ya…”

Baik dok.. Dokter Arti, untuk pertanyaan terakhir, apakah ada vitamin yang harus diminum untuk menyiapkan kehamilan ini dok?

“Nah ini dia pertanyaan yang saya tunggu-tunggu. Walaupun dibutuhkan dalam jumlah yang kecil (dalam satuan microgram hingga milligram), seorang calon Ibu harus memastikan kecukupan asupan asam folat, kalsium, dan zat besi.

  • Asam folat sebanyak 400 mcg per hari, dapat mengurangi risiko cacat pada janin seperti spina bifida. Asam folat secara alami terutama terdapat dalam sayuran daun hijau gelap (contohnya bayam), buah sitrus, kacang-kacangan, legume, whole grains dan roti atau sereal fortifikasi. Apabila tidak dapat memenuhi asupan asam folat secara alami, dapat diberikan suplementasi.
  • Kalsium dalam jumlah 1000 mg dapat diperoleh dari 3 gelas @250 ml susu skim. Selain itu kalsium juga mudah didapatkan dari bahan makanan seperti yogurt rendah lemak, salmon, sardin, nasi, dan keju.
  • Zat besi juga disarankan untuk diberikan karena angka kejadian anemia di Indonesia yang cukup tinggi. Suplementasi zat besi 30-60 mg disarankan diberikan bersama dengan asam folat. Secara alami, zat besi dapat diperoleh dari sumber hewani (heme iron) seperti daging, hati ayam, ayam, dan ikan ataupun sumber nabati (non-heme iron) seperti sayuran hijau tua. Asupan bahan makanan zat besi tersebut sebaiknya dikonsumsi bersama dengan vitamin C (jeruk, kiwi, tomat, dll) sehingga akan meningkatkan penyerapan zat besi.

Wah baiklah dok, terima kasih banyak atas informasinya ya… Sangat bermanfaat sekali untuk calon Ayah dan Ibu Kejora yang berencana untuk menambah momongan.. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan ya dok…

Sama-sama, terima kasih kembali…

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Apakah Perlu Melakukan Skrining Prakonsepsi (Penapisan Sebelum Kehamilan)?

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Sahabat Kejora, bila Anda berencana untuk memiliki momongan, apakah perlu melakukan pemeriksaan skrining prakonsepsi (penapisan sebelum kehamilan)?

Sebelumnya, apa yang dimaksud dengan skrining prakonsepsi?

Skrining prakonsepsi adalah sebuah cara yang dilakukan untuk mengetahui risiko medis, perilaku, dan kondisi sosial kesehatan seorang perempuan atau luaran kehamilan melalui cara-cara tertentu secara medis.

Ada beberapa tujuan dari skrining prakonsepsi itu sendiri, antara lain:

  1. agar pasangan memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik terkait kesehatan sebelum kehamilan,
  2. agar calon ibu memasuki kehamilan dalam kondisi kesehatan yang optimal, dan
  3. untuk menurunkan risiko kehamilan yang tidak diharapkan dari riwayat kehamilan sebelumnya dengan melakukan persiapan sebelum kehamilan.

Konseling prakonsepsi ini sebaiknya dilakukan dengan melibatkan beberapa ahli terkait seperti dokter spesialis kandungan, penyakit dalam, dan dokter anak untuk mengetahui riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat medis, riwayat penyakit genetik, risiko penggunaan zat berbahaya, serta permasalahan status gizi.

Apa saja kondisi yang perlu diperhatikan bagi perempuan yang berencana hamil?

Ada banyak kondisi yang memerlukan perhatian khusus bila seorang perempuan berencana hamil. Secara umum, calon wanita hamil dikatakan berisiko tinggi jika terdapat paling tidak satu dari beberapa kondisi di bawah ini:

  • Usia ibu kurang dari 20 atau lebih dari 35 tahun
  • Riwayat kehamilan sebelumnya:
    • keguguran berulang
    • kehamilan ektopik (kehamilan di luar rahim)
    • riwayat operasi sesar
    • preeklampsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan)
    • persalinan preterm (kurang bulan)
    • perdarahan sebelum atau sesudah persalinan
    • riwayat janin dengan defek tabung neural (neural tube defect)
  • Menderita atau memiliki riwayat medis:
    • Hipertensi kronik (tekanan darah tinggi yang sudah menahun)
    • Diabetes mellitus (penyakit gula)
    • Epilepsi
    • Penyakit jantung dan pembuluh darah
    • Asma
    • Trombofilia (gangguan pembekuan darah)
    • Penyakit ginjal
    • Hepatitis B atau C
    • Anemia
    • Penyakit tiroid
    • Penyakit jaringan ikat, seperti rheumatoid arthritis, lupus
    • Masalah psikiatri atau kejiwaan
    • Kanker
    • Penyakit infeksi
    • Penyakit menular seksual
  • Memiliki riwayat penyakit genetik:
    • thalassemia, fenilketonuria, dan lainnya
  • Penggunaan zat berbahaya:
    • narkotika, rokok, dan alkohol
  • Status gizi:
    • Status gizi kurang (underweight)
    • Status gizi lebih (overweight atau obesitas)

Bila ada salah satu saja kondisi yang disebutkan di atas, maka sebaiknya Sahabat Kejora berkonsultasi dengan dokter mengenai skrining prakonsepsi agar memasuki kehamilan dengan kondisi yang optimal. Diharapkan dengan dilakukannya skrining prakonsepsi ini, maka luaran buruk saat kehamilan dapat diminimalisir atau bahkan dapat dihindari.

Editor: dr. Sunita

Sumber:
Chapter 8 Preconceptional Care. Cunningham FG, et al, editors. Williams Obstetrics 25th Edition. 2018. New York: McGraw-Hill. p:146-56.,/p>

Faktor yang Mempengaruhi Seorang Perempuan untuk Hamil

 

 

 

oleh dr. Danny Maesadatu, Sp.OG

Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan

Halo keluarga Kejora, tahukah kamu apa saja yang mempengaruhi seorang perempuan untuk bisa hamil?

Kehamilan umumnya terjadi secara alamiah dan merupakan harapan semua pasangan suami istri menunggu kelahiran si buah hati. Meski begitu, tidak semua perempuan dapat segera mengalami kehamilan. Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi:

  1. Faktor suami, yaitu adanya sperma yang memenuhi kriteria normal dan mampu membuahi sel telur (oosit).

Sumber: UNSW Embrology

  1. Kondisi mulut rahim (serviks) yang sehat, yang membantu jalannya sperma ke dalam rahim dan saluran indung telur.
  2. Adanya ovarium (indung telur) yang normal, yang mampu menghasilkan sel telur yang akan ditangkap ke dalam saluran indung telur.
  3. Saluran indung telur yang sehat, yang menangkap sel telur, membantu pergerakan sperma untuk dapat bertemu sel telur agar terjadi pembuahan dan membantu pergerakan hasil pembuahan (embrio) tersebut ke dalam rahim.
  4. Rahim yang sehat, yang akan menjadi tempat melekatnya bakal janin dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan normal selanjutnya.

Sumber: Anatomy-Medicine.com

Lalu, apa yang disebut masalah kesuburan dan kapankah dikatakan mengalami masalah kesuburan?

Sekitar 10-15% pasangan suami istri mengalami masalah kesuburan. Ada beberapa istilah medis terkait masalah kesuburan, yaitu infertilitas dan subfertilitas. Infertilitas secara umum merupakan kondisi di mana tidak terjadinya kehamilan selama satu tahun pada pasangan suami istri yang berhubungan seksual secara rutin tanpa adanya penggunaan kontrasepsi. Selain itu, beberapa klinisi lebih menyukai istilah subfertilitas yaitu kondisi perempuan atau pasangan yang tidak mandul tetapi mengalami kemampuan reproduksi yang rendah.

Sumber: Fritz MA, Speroff L, editors. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility 8th Edition.

Bila pasangan suami istri yang sudah satu tahun menikah dan tidak menunda untuk memiliki buah hati belum juga hamil, sebaiknya melakukan konsultasi lebih lanjut ke ahli terkait. Mengingat ada sejumlah pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk identifikasi masalah dari pasangan tersebut.

Editor: dr. Sunita22

Sumber:

Fritz MA, Speroff L, editors. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility 8th Edition. 2011. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. p:1137-90.

 

Mitos dan Fakta Nutrisi selama Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Keluarga Kejora, terutama para Ibu dan calon Ibu tentunya pernah mendengar saran dari keluarga dan teman mengenai nutrisi selama kehamilan bukan? Mungkin saran ini telah diteruskan turun-temurun selama beberapa generasi, atau mungkin Ibu dan calon Ibu Kejora baru saja mendengar saran baru dari seorang teman. “Selama hamil jangan makan nanas ya, nanti keguguran”, “Kalau kamu ngidam, harus diturutin loh… kalau nggak nanti anaknya ileran”, “Jangan makan pisang dempet, nanti bayinya kembar siam”, dan lain sebagainya.

Nah kali ini, Kejora akan membahas mengenai beberapa mitos dan fakta seputar nutrisi dalam kehamilan.

Bumil harus makan untuk dua orang

Secara teknis seorang ibu hamil memang makan untuk 2 orang, namun perlu diingat bahwa janin yang dihitung sebagai 1 orang masih berukuran sangat kecil. Selama bertumbuh dalam rahim Ibu, seorang janin hanya berukuran sebesar:

  • sebuah biji selasih (4 minggu) hingga sebuah jeruk nipis (13 minggu) selama trimester 1,
  • sebuah jeruk lemon (14 minggu) hingga sebongkah selada (27 minggu) selama trimester 2, dan
  • sebuah terong hingga sebuah semangka (28 – 42 minggu) selama trimester 3.

Karena ukuran janin yang jauh lebih mungil daripada Ibu, porsi makanan yang ditambahkan selama kehamilan tentunya tidak perlu sebanyak porsi untuk 2 orang dewasa. Ibu lebih baik memperhatikan kualitas makanan yang dimakan, bukan hanya kuantitas makanannya. Makanan yang dikonsumsi oleh ibu merupakan bahan yang dipakai untuk pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil dalam Rahim. Pastikan kebutuhan nutrisi harian Ibu tercukupi dengan mengkonsumsi menu seimbang yang beragam.

Selama trimester dua dan tiga, Ibu hamil hanya memerlukan tambahan makanan sebanyak 300 kalori per hari. Seberapa banyak sih 300 kalori itu? Ibu dapat mencukupinya dengan mengkonsumsi sepotong ikan kukus berukuran sedang (240 kalori) dan satu buah jeruk ukuran sedang (60 kalori) atau sepotong roti sandwich telur (185 kalori) dengan segelas susu (125 kalori).