Bolehkah Minum Kopi Decaf saat Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Belakangan ini, minuman berbasis kopi semakin populer sehingga dapat kita temukan di mana-mana. Dahulu, minuman berbasis kafein ini dikonsumsi untuk alasan meningkatkan energi dan mengurangi rasa kantuk.  Bukan hanya kopi hitam pahit dan es kopi susu, saat ini banyak kombinasi kopi dengan berbagai sirup, teh, susu, hingga kopi decaf. Bahkan, kopi ini bukan hanya dijual dalam bentuk biji kopi, kopi bubuk, atau minuman siap saji dalam gelas – saat ini banyak gerai yang menjual kopi dalam kemasan botol 1 liter, sehingga memudahkan siapapun untuk mengonsumsinya.

Ibu hamil biasanya akan memilih untuk mengurangi konsumsi kopi atau bahkan tidak mengonsumsi kopi sama sekali untuk menghindari risiko kesehatan. Nah, mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan kopi decaf, ya? Kan, kopi decaf memiliki kandungan kafein rendah. Apakah kopi decaf boleh dikonsumsi saat sedang hamil?

 

KAFEIN DAN KEHAMILAN

Kafein adalah stimulan yang sebetulnya dapat ditemukan dalam berbagai tumbuhan. Selain kopi, beberapa tumbuhan lain yang mengandung kafein antara lain adalah teh, kokoa/coklat, dan guarana. Beberapa penelitian juga menemukan manfaat dari konsumsi kafein terhadap penyakit jantung, penyakit hati/liver, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Selama kehamilan, proses metabolisme kafein akan berjalan lebih lambat, dan kafein juga dapat menembus plasenta- hingga dapat masuk ke dalam aliran darah janin- disana kafein tidak dapat dimetabolisme.

Walaupun mekanismenya belum diketahui secara pasti, beberapa penelitian dengan hewan mencoba menunjukkan bahwa konsumsi kafein yang tinggi selama kehamilan berhubungan dengan berat badan lahir bayi yang rendah, restriksi pertumbuhan, keguguran, dan peningkatan risiko overweight pada masa pertumbuhan anak. Saat ini penelitian masih terus berjalan, dan hubungan antara konsumsi kafein dengan risiko negatif selama kehamilan bervariasi pada setiap orang. Dengan informasi yang diketahui saat ini, perhimpunan kedokteran obstetri ginekologi American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memberikan rekomendasi konsumsi kafein pada wanita hamil yaitu kurang dari 200 mg dari total konsumsi kafein per hari.

Satu gelas (240 ml) kopi hitam mengandung sekitar 96 mg kafein, sehingga berbagai rekomendasi memberikan batas maksimal konsumsi kopi hitam adalah 2 gelas (475 ml) per hari.

 

BERAPA BANYAK KAFEIN DALAM KOPI DECAF?

Kata “decaf” merujuk pada decaffeinated, artinya sekitar 97% kafein dalam biji kopi telah diekstrak sehingga hanya sedikit sekali kafein yang terdapat dalam kopi decaf.

Satu cangkir (240 ml) kopi decaf mengandung sekitar 2,4 mg kafein, sedangkan 1 sajian espresso decaf (60 ml)  mengandung sekitar 0,6 mg kafein.

Bisa kita bandingkan jumlah kafein dalam jenis minuman kopi lainnya:

  • Espresso reguler: 127 mg dalam 1 sajian 60 ml
  • Kopi hitam reguler: 96 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Dark chocolate: 80 mg dalam 1 sajian 100 gram
  • Energy drinks: 72 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Teh hitam: 47 mg dalam 1 sajian 240 ml
  • Cola: 33 mg dalam 1 sajian 355 ml
  • Hot chocolate: 7 mg dalam 1 sajian 240 ml

Tentu saja jumlah kafein dalam kopi decaf jauh lebih kecil dibandingkan dengan jenis minuman kopi, teh, dan minuman olahan sumber kafein lainnya.

Namun perlu kita ingat juga, setiap jenis kopi memiliki kandungan kafein yang berbeda-beda. Salah satu penelitian pada kopi decaf menunjukkan kadar kafein hingga 14 mg dalam 1 sajian 475 ml. Walaupun jumlah ini masih sangat kecil, sebaiknya kita selalu memperhatikan jumlah kafein yang terdapat dalam minuman kafein yang kita gunakan.

Sampai saat ini belum ada anjuran resmi mengenai berapa banyak kopi decaf yang boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Sebuah penelitian tahun 1997 menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi >= 3 gelas (710 ml) kopi decaf selama trimester pertama memiliki risiko keguguran hingga 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali. Sebuah penelitian lain tahun 2018 juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu wanita hamil yang mengonsumsi 400 mg kafein/hari mengalami peningkatan risiko aborsi spontan (terutama saat usia kandungan 9-19 minggu) hingga 20% dibandingkan dengan mereka yg mengonsumsi <50 mg kafein/hari. Perlu diperhatikan bahwa dalam penelitian ini peneliti juga menyertakan kemungkinan bias yang ada (kelangsungan hidup janin, gejala mual-muntah selama kehamilan, dan pola makan pada setiap ibu hamil).

Mengganti minuman kopi dengan kopi decaf tentu saja akan menurunkan jumlah konsumsi kafein harian. Namun jika ingin menghindari konsumsi kafein selama kehamilan sama sekali, Ibu bisa memilih minuman teh herbal atau teh buah, infused water dengan buah-buahan citrus dan madu, ataupun golden milk (campuran susu dengan turmerik yg terdapat dalam bubuk kunyit).

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31818639/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9270953/

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27573467/

 

Program Hamil: Merencanakan Kehamilan dengan Baik

 

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Kehamilan adalah sebuah proses luar biasa yang menyebabkan perubahan pada ibu, perkembangan janin, dan dinamika keluarga. Oleh sebab itu kehamilan harus direncanakan dan dipersiapkan dengan optimal. Berikut beberapa tips untuk merencanakan kehamilan dengan baik.

 

Waktu Program Hamil

  • Diskusikan dengan pasangan kapan waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan kehamilan. Terkadang ada pasangan yang ingin langsung memiliki keturunan setelah menikah, ada yang ingin menunda. Sesuaikan dengan kondisi rumah tangga masing-masing dan jangan terbebani tekanan sosial.
  • Kenali kondisi tubuh masing-masing. Kehamilan akan lebih mudah dicapai dan lebih baik bila kondisi istri dan suami sehat, baik secara jasmani maupun mental-emosional. Jika ada kondisi medis atau riwayat penyakit sebelumnya, sebaiknya kondisi tersebut diatasi atau dikontrol terlebih dahulu dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan.
  • Asupan nutrisi yang baik dan seimbang tentunya juga akan mendukung terjadinya pembuahan, mempengaruhi pembentukan janin dan dapat mengurangi risiko penyakit pada ibu maupun janin selama masa kehamilan.

 

Hubungan Seksual saat Program Hamil

  • Waktu berhubungan seksual yang dianjurkan pada saat program hamil adalah setiap 2-3 hari.
  • Posisi berhubungan seksual & pencapaian orgasme pada perempuan tidak berhubungan dengan keberhasilan kehamilan.

 

Gaya Hidup saat Program Hamil

  • Selama program hamil, makanan sebaiknya bergizi lengkap dan seimbang (lihat contoh Isi Piringku). Kurangi konsumsi makanan instan, makanan yang banyak zat oksidatif seperti makanan yang banyak bagian gosongnya. Pilihlah jenis makanan yang berasal dari bahan makanan segar sehingga memiliki kandungan nutrisi tinggi, dengan memperhatikan porsi setiap jenis zat makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral), dan jangan lupa untuk memperhatikan asupan cairan dan melakukan aktivitas fisik.
  • Salah satu suplementasi yang dianjurkan pada saat program hamil adalah asam folat. Ibu hamil dapat mengonsumsi bahan makanan sumber yang mengandung asam folat tinggi seperti edamame, sayuran berdaun hijau seperti bayam atau selada, brokoli, alpukat, mangga, jeruk, jagung manis, kacang-kacangan dan biji-bijian.
  • Suplementasi vitamin lainnya harus dipertimbangkan terutama pada ibu malnutrisi dan ibu yang sering mengalami mual dan muntah sehingga asupannya berkurang. contoh: kalsium, zat besi, vitamin B6, vitamin D, seng, dll.
  • Ibu hamil harus memperhatikan berat badan sebelum hamil, serta rutin memperhatikan kenaikan berat badan selama kehamilan. Kenaikan berat badan yang terlalu berlebihan atau kurang akan berisiko pada kesehatan ibu dan janin.
  • Upayakan gaya hidup sehat. Kebiasaan seperti merokok (termasuk rokok elektrik) dan konsumsi alkohol sebaiknya dihentikan pada istri dan suami pada saat program hamil. Konsumsi kafein dibatasi menjadi 1-2 gelas per hari.

 

 

Kapan Harus Program Hamil ke Dokter?

  • Sekitar 50% pasangan baru menikah akan hamil dalam 6 bulan pertama, dan 80% akan hamil dalam 1 tahun pertama pernikahan.
  • Bila sudah 1 tahun menikah dan berhubungan seksual rutin tanpa menggunakan kontrasepsi dan belum hamil, kondisi ini disebut infertilitas. Infertilitas terjadi pada sekitar 1 dari 7 pasangan (sekitar 15%).
  • Penyebab infertilitas adalah 30-40% faktor perempuan, 30% faktor laki-laki, dan 30% tidak diketahui penyebabnya.
  • Dianjurkan untuk program hamil ke dokter kandungan, bila:
    1. Sebelum 1 tahun: usia > 35 tahun, terdapat riwayat gangguan haid, perdarahan, nyeri haid hebat pada perempuan
    2. Setelah 1 tahun berhubungan seksual rutin tanpa menggunakan kontrasepsi.

  

Editor: @dr.kristinajoy

 

https://www.nhs.uk/common-health-questions/pregnancy/how-can-i-increase-my-chances-of-getting-pregnant/

https://www.rcog.org.uk/en/patients/fertility/problems/

https://www.nhs.uk/conditions/infertility/

 

Kapan Harus Ke Dokter OBGYN Saat Pandemi?

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Keluarga Kejora! Dikala pandemi ini kita semua dihimbau oleh pemerintah untuk melakukan physical distancing dan berdiam di rumah kecuali terdapat kebutuhan yang mendesak. Hal ini berlaku bagi yang tinggal di kawasan zona merah pandemi Covid-19 ataupun tidak.

 

Nah, bagaimana dengan para Ibu yang sedang hamil? Mungkin terdapat keraguan pada Ibu untuk datang ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya untuk kontak dengan dokter dan tenaga medis. Tapi tenang, Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) cabang Jakarta sudah mengeluarkan himbauan untuk menunda kunjungan ke dokter spesialis kebidanan dan kandungan (OBGYN), kecuali terdapat kondisi darurat.

 

Yuk, kita kenali apa saja sih yang termasuk kondisi darurat dalam kehamilan:

  1. Mual muntah hebat

Atau disebut juga hiperemesis gravidarum. Paling sering terjadi pada trimester awal kehamilan dimana mual dan muntah lebih hebat dan lebih berat dibanding morning sickness. Kondisi ini dapat mengakibatkan kekurangan cairan atau dehidrasi dengan skala yang berbeda. Selain itu hiperemesisgravidarum juga bisa menyebabkan gangguan elektrolit tubuh, syok, dan penurunan kesadaran.

 

  1. Perdarahan

Adanya perdarahan dapat terjadi pada trimester berapapun dengan penyebab yang beragam. Jika terjadi pada trimester pertama, maka penyebabnya antara lain adalah keguguran atau hamil anggur (mola hidatidosa).

Perdarahan yang terjadi pada trimester kedua atau ketiga biasanya disebabkan karena:

  • Plasenta previae: suatu keadaan dimana ari-ari (plasenta) menutupi jalan lahir bagian dalam, baik seluruhnya ataupun sebagian. Keluhan perdarahan ini tanpa disertai kontraksi atau nyeri perut yang hebat. Lokasi plasenta dapat diketahui melalui pemeriksaan USG.
  • Solusio plasenta: suatu keadaan dimana terlepasnya sebagian plasenta di dalam rahim. Kondisi ini membahayakan sekali! Bayangkan bahwa plasenta adalah pemasok semua kebutuhan janin. Jika plasenta terlepas maka suplai oksigen dan kebutuhan nutrisi lain untuk janin bisa berkurang atau bahkan terhenti. Adanya solusio plasenta ini biasanya disebabkan oleh trauma seperti benturan pada perut Ibu atau karena penyakit penyulit seperti tekanan darah tinggi.

Perdarahan yang terjadi pada trimester dua atau tiga juga bisa menjadi pertanda dimulainya proses persalinan terutama jika disertai adanya kontraksi yang teratur.

 

  1. Kontraksi atau nyeri perut hebat

Kontraksi atau nyeri perut hebat dapat terjadi pada setiap trimester. Jika terjadi pada trimester pertama, maka kemungkinan terbesarnya ialah keguguran yang mengancam, terutama jika disertai dengan perdarahan. Namun, hal ini juga bisa disebabkan oleh keadaan darurat yang disebut sebagai kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan, misalnya di saluran telur. Kehamilan ektopik ini dapat menyebabkan pecahnya lokasi penempelan janin, sehingga dapat menyebabkan timbulnya perdarahan hebat di dalam perut yang memicu timbulnya nyeri hebat.

Pada trimester kedua atau ketiga, kontraksi atau nyeri perut hebat juga dapat menjadi tanda persalinan. Jika usia kehamilan masih kurang dari 37 minggu, maka keadaan ini dapat mengarah pada kondisi persalinan prematur.

Nyeri perut hebat juga bisa menjadi tanda adanya kelainan seperti usus buntu, kista terpuntir, atau infeksi saluran kemih. Maka dari itu jika Ibu merasakan hal ini segera periksakan diri ke dokter ya!

 

  1. Pecah ketuban

Hal ini dapat terjadi pada usia kehamilan berapapun. Ketuban yang telah pecah dapat menjadi pintu masuk terjadi infeksi, sehingga diperlukan penanganan dengan antibiotik yang tepat. Komplikasi yang dapat terjadi ialah infeksi, timbulnya kontraksi, hingga tali pusat yang ikut terlahir.

 

  1. Tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi ditandai dengan adanya pemeriksaan tekanan darah dengan hasil diatas 140/90 mmHg. Keadaan ini dapat timbul hanya pada saat kehamilan dan menghilang perlahan sampai dengan setelah 1 bulan. Adanya tekanan darah tinggi yang disertai dengan adanya hasil protein dalam urin menandakan bahwa Ibu mengalami keadaan serius yang disebut preeklamsia. Karenanya, tekanan darah tinggi dalam kehamilan memerlukan pemantauan dan pengaturan, dan juga evaluasi urin secara berkala.

Preeklamsi dapat menjadi awal dari komplikasi yang lebih serius seperti solusio plasenta, kerusakan ginjal, kerusakan liver, rendahnya trombosit hingga kejang.

 

  1. Nyeri kepala hebat

Nyeri kelapa hebat terutama pada trimester tiga seringkali menjadi tanda akan timbulnya kejang, terutama pada Ibu yang mengalami tekanan darah tinggi dalam kehamilan dan tidak terkontrol.

 

  1. Tidak merasakan gerakan janin

Gerakan janin umumnya bervariasi antara satu dengan lainnya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah letak plasenta. Rata-rata janin dapat bergerak hingga 32 kali dalam 1 jam, namun janin juga mempunyai kebiasaan seperti waktu untuk tidur. Jika Ibu merasakan adanya pengurangan gerakan janin, coba pantau gerakannya selama 2 jam; jika tidak terdapat gerakan, segera periksakan ke dokter.

 

  1. Kejang

Kejang terjadi dikarenakan kondisi yang disebut eklamsia, yang disertai dengan adanya tekanan darah tinggi dan dari pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya protein dalam urin. Terkadang sebelum kejang dapat diawali dengan nyeri kepala hebat. Jika hal ini terjadi, segera datang ke rumah sakit terdekat.

 

Selain hal-hal tersebut, ada pula beberapa kondisi lainnya yang membutuhkan pemantauan berkala dengan dokter OBGYN, antara lain:

  1. Berat Janin Kecil

Berat janin kecil yang tidak tertangani dengan baik dapat mengarah pada pertumbuhan janin terhambat. Penanganan dan skrining sedini mungkin dapat memberikan koreksi pada berat janin dan pencegahan pada keadaan yang lebih berat.

 

  1. Pertumbuhan janin terhambat

Pertumbuhan janin terhambat bukan hanya berat janin yang kecil (di bawah persentil 5), namun juga disertai pengurangan air ketuban dan tanda abnormalitas pembuluh darah janin. Pada keadaan berat, terminasi kehamilan atau persalinan adalah salah satu upaya yang ditempuh untuk meyelamatkan janin.

 

  1. Air ketuban berkurang

Air ketuban yang berkurang menjadi pertanda dari kondisi plasenta yang kurang baik atau kondisi janin yang kurang baik. Ibu harus memperbaiki asupan cairan agar dapat mengatasi pengurangan air ketuban ini.

 

  1. Anemia berat

Anemia berat yang terjadi pada Ibu tidak hanya berdampak pada sang Ibu tapi juga pada janin, bahkan sangat mungkin janin mengalami anemia di dalam kandungan. Penyebab anemia harus dapat diketahui dan dilakukan koreksi. Anemia pun dapat menjadi kontribusi timbulnya persalinan premature dan juga perdarahan pasca persalinan.

 

 

COVID-19 pada Kehamilan

 

 

 

 

oleh dr. Darrel Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Infeksi COVID-19 yang akhir-akhir ini sedang marak menyebabkan kekhawatiran bagi masyarakat, khususnya di Indonesia setelah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 Maret 2020 bahwa ada 2 WNI yang positif COVID-19. Karena penyakit ini masih baru, belum banyak data mengenai dampaknya pada kehamilan. Pada artikel ini akan dibahas mengenai apa yang sudah diketahui mengenai COVID-19 pada kehamilan, dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk mencegah COVID-19.

Apa gejala COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Demam (78%)
  • Batuk (44%)
  • Nyeri otot (33%)
  • Rasa lemas menyeluruh (22%)
  • Sesak nafas (11%)
  • Sakit tenggorok (22%)
  • Pada perempuan dengan riwayat bepergian ke daerah yang terdampak dalam waktu 14 hari terakhir, atau ada riwayat kontak dekat dengan orang yang positif menderita COVID-19 dalam 14 hari terakhir.

Apa dampak COVID-19 pada perempuan hamil?

  • Kondisi penyakit yang lebih berat pada ibu, termasuk meningkatkan angka kematian
  • Dampak pada janin, termasuk persalinan preterm (prematur), ketuban pecah dini, dan gawat janin.
  • Dari studi yang ada, sebagian besar perempuan hamil dengan COVID-19 melahirkan dengan operasi sesar. Data saat ini juga menunjukkan belum ada penularan dari ibu ke janin dalam kandungan (transmisi vertikal).

Apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang memiliki gejala?

  • Melaporkan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
  • Fasilitas pelayanan kesehatan tersebut akan merujuk ke rumah sakit yang sudah ditentukan untuk melayani COVID-19 (saat ini ada 100 rumah sakit di Indonesia)

Upaya pencegahan apa yang dapat dilakukan bila ada perempuan hamil yang masih sehat?

  • Menghindari kontak dengan orang sakit.
  • Batuk / bersin ke tisu, lalu buang tisu tersebut dan cuci tangan.
  • Bersihkan permukaan yang sering dipegang banyak orang, seperti gagang pintu, steker lampu, meja.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun setidaknya selama 20 detik setelah ke kamar mandi, sebelum makan, dan setelah bersin / batuk. Jika tidak tersedia air dan sabun, cuci tangan dengan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.
  • Sediakan ruangan / kamar terpisah bila ada anggota keluarga yang sakit.
  • Hindari bepergian ke daerah yang positif memiliki kasus COVID-19.

Apa yang dilakukan pada ibu dan bayi baru lahir?

  • Bayi baru lahir dari ibu yang positif COVID-19 juga dianggap sebagai pasien yang harus diperiksa dan diinvestigasi lebih lanjut.
  • Bayi baru lahir dirawat di ruangan terpisah dari ibu yang positif COVID-19.

Bagaimana dengan pemberian ASI pada bayi dari ibu positif COVID-19?
Dari data yang ada saat ini, tidak ditemukan virus Corona pada ASI. Oleh sebab itu, pada ibu yang memiliki gejala berat, dianjurkan untuk menyusui dengan cara memompa ASI, lalu diberikan ke bayi oleh orang yang sehat. Bila gejala ringan, maka ibu dapat menyusui langsung, dengan melakukan upaya pencegahan dan menggunakan masker.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

Mengenal Keguguran

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Halo, Keluarga Kejora! Pembahasan kali ini temanya spesial untuk para Ibu, namun informasinya juga tidak kalah penting untuk para Ayah agar dapat menambah wawasan tentang kondisi yang mungkin terjadi pada pasangan saat hamil.

Pada awal kehamilan, ada berbagai macam keadaan patologis (tidak wajar) yang dapat terjadi, salah satunya adalah keguguran. Kondisi ini terjadi pada trimester pertama kehamilan dimana janin lahir jauh sebelum waktunya ia mampu bertahan hidup (viable). Keguguran disebut juga sebagai early pregnancy loss atau kematian mudigah, sedangkan dalam kedokteran disebut sebagai abortus. Menurut the National Center for Health Statistic, the Centers for Diasease Control and Prevention, dan World Health Organization, abortus adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau jika janin yang dilahirkan memiliki berat kurang dari 500 gram.

Abortus pun terbagi lagi menjadi abortus spontan, medicinalis, dan provokatus. Pada abortus spontan, keguguran terjadi secara sendirinya, sedangkan abortus medicinalis terjadi karena dipicu oleh pemakaian obat dengan indikasi medis seperti bila terjadi kematian mudigah (janin). Abortus juga dapat dilakukan dengan sengaja tanpa adanya indikasi medis dan bersifat illegal, yang disebut sebagai abortus provokatus.

Secara statistik, 55% abortus spontan yang terjadi pada usia kehamilan < 12 minggu disebabkan oleh adanya kelainan kromosom pada janin seperti autosomal trisomy atau monosomy X. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keguguran antara lain:

  1. Diabetes mellitus pada Ibu
  2. Hipotiroid pada Ibu
  3. Merokok (yang juga dapat memicu kelainan kromosom pada janin)
  4. Konsumsi alkohol berlebihan, terutama pada 8 minggu pertama kehamilan
  5. Konsumsi kafein berlebihan (rata-rata > 5 gelas/hari)
  6. Kelainan anatomis pada Ibu, seperti adanya mioma yang mengganggu proses implantasi (penanaman janin ke dinding rahim), kelainan rahim bawaan, dll.

Berdasarkan proses kejadiannya, abortus spontan dapat terbagi lagi menjadi:

  1. Abortus iminens

Dikenal sebagai ancaman keguguran. Pada kondisi ini Ibu mengeluhkan seperti adanya kontraksi atau kram perut bagian bawah atau timbulnya flek-flek dari jalan lahir. Namun, pada pemeriksaan dalam tidak terdapat pembukaan mulut rahim dan pemeriksaan ultrasonografi janin tetap dalam kondisi baik (denyut jantung dan gerak janin aktif). Pada kondisi seperti ini, para calon Ibu akan disarankan untuk tirah baring total (bedrest) disertai dengan pemberian obat untuk mengurangi kontraksi sambil dokter terus mencari tahu penyebab kontraksi.

  1. Abortus insipiens

Ialah suatu keadaan dimana keguguran sedang terjadi. Pada kondisi ini, janin sedang dalam proses pengeluaran, yang menyebabkan Ibu merasa mulas (kontraksi) yang hebat. Pada pemeriksaan dalam, tampak adanya pembukaan mulut rahim dan perdarahan yang terus menerus dari jalan lahir. Pada awal kondisi ini janin mungkin masih memiliki detak jantung, namun dikarenakan ini adalah suatu aborsi yang tidak terhindar, maka seiring berjalannya proses maka janin akan meninggal.

  1. Abortus inkomplit

Keadaan ini adalah lanjutan dari abortus insipiens, dimana hasil konsepsi (janin, kantong kehamilan, dan plasenta) sudah keluar namun terdapat bagian lainnya yang masih melekat pada dinding rahim. Tanda-tandanya ialah berkurangnya kontraksi, terbukanya serviks, dan adanya perdarahan dari rahim. Penanganannya bisa dengan pemberian obat atau dengan tindakan kuretase.

  1. Abortus komplit

Pada kondisi ini, seluruh hasil konsepsi telah keluar secara sempurna dari rahim. Ditandai dengan hilangnya rasa mulas/kontraksi, mulut rahim telah menutup, dan tidak ada perdarahan.

Selain abortus, apakah Ibu dan Ayah pernah mendengar istilah-istilah ini?

  • Blighted ovum atau unembryonic pregnancy

Yaitu suatu keadaan kehamilan dimana kantong kehamilan telah terbentuk dengan baik namun tidak ditemukan janin di dalamnya.

  • Missed abortion

Yaitu suatu keadaan dimana janin telah meninggal lama dan tertahan di dalam rahim.

Penanganan abortus

Teknik untuk mengeluarkan janin/konsepsi dari dalam rahim dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

  1. Pemakaian obat-obatan

Cara ini digunakan untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim sehingga hasil konsepsi atau sisa konsepsi dapat keluar. Risiko atau komplikasi dari tindakan ini ialah terjadinya abortus inkomplit.

  1. Tindakan kuretase

Tindakan ini adalah cara lain untuk membersihkan hasil konsepsi dalam rahim dengan menggunakan alat-alat kedokteran dan dilakukan oleh dokter spesialis kandungan. Pada serviks (mulut rahim) yang belum terbuka, pasien akan dirangsang menggunakan laminaria atau diberikan obat-obatan yang membantu pembukaan serviks sehingga kuretase dapat dilakukan. Risiko atau komplikasi dari tindakan ini ialah dapat terjadinya perforasi rahim.

Tindakan abortus yang ilegal atau yang dilakukan secara tidak bertanggung jawab , seperti membeli obat secara bebas atau menggunakan alat tertentu untuk memaksa pembukaan serviks, dapat menyebabkan terjadinya perdarahan hebat dan abortus septik yang dapat mengakibatkan kematian. Abortus septik ialah suatu kondisi terjadinya infeksi hebat pada rahim yang menyebar ke seluruh tubuh.

Kembalinya masa subur

Banyak sekali pasangan yang khawatiran mengenai kesuburannya setelah tindakan kuretase. Berapa lama bisa hamil kembali? Untuk menjadi perhatian, bahwa ovulasi dapat terjadi 14 hari setelah keguguran, sehingga kesuburan dapat segera kembali. Namun, jika Ibu belum berencana untuk hamil dalam waktu dekat pasca keguguran, maka pemilihan metode kontrasepsi perlu diperhatikan.

Ayah dan Ibu, penting sekali untuk kita menjaga kesehatan selama kehamilan. Hindari faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya keguguran, dan bagi para Ayah, berikan dukungan yang penuh kepada pasangan agar ia dapat menjalani masa kehamilan dengan menyenangkan. Jangan lupa untuk periksakan kehamilan secara rutin dan kunjungi dokter bila ada hal yang mencurigakan.

Editor: dr. Nurul Larasati

Mengenal Tanda Awal Kehamilan

Oleh: dr. Devi Marischa Malik, Sp.OG

Dokter Spesialis Obsetri Ginekolog

 

Halo Keluarga Sehat Kejora,

Mungkin ada diantara Ayah dan Ibu disini yang baru menikah dan sedang menunggu hadirnya buah hati, atau juga mungkin sedang sibuk mengurus sang buah hati sehingga tak sadar saat adiknya hadir.

Mari kita mengenal gejala dan tanda awal kehamilan yang dapat berbeda pada tiap-tiap ibu. Sebelumnya mungkin kita perlu berkenalan dahulu dengan apa sih tanda dan gejala itu? Jadi, gejala itu adalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang dan bersifat sangat subjektif. Karena sifatnya yang subjektif, sehingga gejala ini bisa tidak semua dirasakan ataupun berat ringannya cukup bervariasi. Sedangkan tanda adalah perubahan yang terjadi pada tubuh seseorang, sehingga bersifat lebih objektif karena tanda ini dapat dikenali oleh orang lain  juga.

Berikut adalah gejala-gejala subjektif yang dapat terjadi di awal kehamilan:

  1. Berhentinya menstruasi

Berhentinya menstruasi – terutama pada perempuan dengan siklus yang teratur dan terjadi secara spontan (tanpa adanya ransangan obat-obatan hormonal) adalah salah satu pertanda adanya kemungkinan kehamilan. Sehingga seringkali kita mendengar jika seseorang dikatakan terlambat datang bulan maka kemungkinan besar ia hamil. Namun, berapakah lama waktu ideal kita bisa mengatakan bahwa terlambat datang bulan ini juga adalah prediksi kehamilan? Jika seseorang tidak datang bulan melebihi 10 hari dari waktu haid seharusnya, maka ini dapat menjadi tanda awal kehamilan.

Namun, perlu diketahui juga bahwa adanya proses implantasi janin (yaitu proses penanaman janin pada dinding rahim) juga seringkali menimbulkan perdarahan yang terkadang dianggap sebagai menstruasi oleh para ibu.

Perlu diperhatikan juga bahwa pada keadaan seperti masa menyusui ASI eksklusif dimana haid belum kembali, tidak tertutup kemungkinan bahwa kehamilan dapat terjadi, karena ovulasi (yaitu pelepasan sel telur) terjadi sebelum munculnya menstruasi.

 

  1. Morning sickness

Yaitu keluhan mual dan muntah yang timbul pada trimester pertama kehamilan. Keluhan ini muncul biasanya sebelum usia kehamilan mencapai 9 minggu dan berangsur menghilang pada 13-14 minggu. Meskipun disebutnya morning sickness, namun keluhan ini tidak hanya muncul pada pagi hari. Derajat keparahannya pun bisa beragam pada tiap individu, dari mulai yang ringan sampai dengan memerlukan pengobatan rawat inap.

Keluhan morning sickness yang berat disebut sebagai hyperemesis gravidarum yang biasanya terjadi pada 3% kehamilan. Pada keluhan ini, ibu dapat kehilangan berat badan sampai dengan 5% dari berat badan sebelum hamil dan dapat juga disertai dengan berbagai derajat dehidrasi.

 

  1. Seringnya berkemih

Hal ini biasanya terjadi pada usia kehamilan 8 minggu sampai dengan 12 minggu. Hal ini terjadi dikarenakan 3 hal, diantaranya kandung kemih terletak persis didepan bagian bawah Rahim dan posisinya menempel pada dinding rahim, maka saat rahim mulai membesar dapat memberikan penekanan pada kandung kemih yang menimbulkan sensasi ingin bekemih, terutama pada ibu dengan uterus berposisi antefleksi. Selain itu, adanya perubahan fisiologi tubuh menyebabkan perempuan hamil polyuria (sering berkemih). Keluhan biasanya akan membaik seelah usia kehamilan melewati 12 minggu.

 

  1. Rasa tidak nyaman pada payudara

Biasanya timbul sensasi payudara terasa penuh pada usia kehamilan 6 sampai dengan 8 minggu. Hal ini disebabkan adanya pembesaran payudara karena adanya penambahan vaskularisasi pada payudara.

 

  1. Kelelahan

Pada awal kehamilan mulai terjadi penambahan volume darah sebagai upaya kompensasi pemenuhan kebutuhan janin. Penambahan volume darah ini terutama terjadi pada peningkatan volume plasma darah yang menyebabkan penurunan pada kadar hemoglobin dan hematokrit, terlebih lagi jika dari sebelum kehamilan Ibu mengalami kekurangan zat besi, maka nilai hemoglobin dapat semakin menurun sehingga terkadang perubahan ini menyebabkan Ibu merasa mudah lelah.

Selain itu, pada saat hamil, mulai terjadi perubahan pada fungsi jantung yang dimulai pada usia kehamilan terutama pada 8 minggu awal kehamilan. Jantung Ibu akan mulai memberikan pompa darah yang lebih banyak dari sebelumnya, hal ini disebut cardiac output. Untuk meningkatkan cardiac output  ini maka akan terjadi penurunan tahanan pada pembuluh darah dan peningkatan denyut jantung. Hal ini berefek pada penurunan tekanan darah Ibu pada awal-awal kehamilan dan juga menjadi pemicu Ibu merasa lelah pada awal-awal kehamilan.

 

Nah jika hal-hal diatas adalah keluhan-keluhan yang sifatnya subjektif, maka yang berikut ini adalah tanda-tanda kehamilan yang bersifat objektif.

  1. Perubahan warna payudara

Pada Ibu yang baru pertama kali hamil, dapat tampak adanya pembuluh vena halus pada payudara. Begitupun akan tampak perubahan warna areola (puting payudara) menjadi lebih gelap.

 

  1. Perubahan pada organ genitalia

Adanya penambahan vaskular juga ditemukan pada organ genitalia luar seperti vagina dan mulut rahim, sehingga organ ini akan memberikan warna kebiruan karena bayang-bayang dari pembuluh darah. Selain itu, mulut rahim juga menjadi lebih lunak.

 

  1. Perubahan ukuran Rahim

Pada usia kehamilan 8 minggu rahim akan seukuran dengan telur bebek, pada usia kehamilan 12 minggu akan sebesar telur angsa. Dan seiring dengan pertambahan usia kehamilan, maka ukuran rahim pun akan semakin bertambah.

 

Pemeriksaan konfirmasi sangat diperlukan sebagai diagnosis pasti dari suatu kehamilan, adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah :

  1. Pemeriksaan beta hcg

Pada awal kehamilan, terdapat sel-sel yang bernama syncytiotrophoblast sebagai bagian dari produk kehamilan, sel-sel inilah yang nantinya akan menebus rahim dan membentuk palsenta. Sel-sel ini menghasilkan hormon hCG yang akan beredar dalam darah dan urin ibu. Adanya konfirmasi hormon ini pada tubuh ibu akan memberikan hasil positif kehamilan. Pemeriksaan beta hcg dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah dan urin. Pemeriksaan yang mudah didapat, mudah digunakan, ekonomis dan cukup akurat ialah pemeriksaan test pack yang seringkali kita lakukan, yaitu mendeteksi beta hcg melalui air seni. Namun pemeriksaan ini akurasi nya berbeda-beda dan baru dapat memberi penilaian yang cukup akurat setelah usia kehamilan diatas 5 minggu.

 

  1. USG

Nah, ini adalah pemeriksaan konfirmasi untuk menentukan usia kehamilan ibu. Pada usia kehamilan 4 – 5 minggu, melalui pemeriksaan USG transvaginal, sudah dapat ditemukan kantong kehamilan. Sementara itu, denyut jantung janin sudah dapat ditemukan pada usia kehamilan 6 minggu atau setelahnya.

USG diawal kehamilan cukup penting untuk dilakukan lho. Berikut

manfaat USG yang dilakukan diawal kehamilan ;

  • menentukan apakah kantong kehamilan berada didalam rahim secara baik, atau kah berada dilokasi yang tidak seharusnya
  • menentukan apakah kehamilan berkembang dengan baik yang ditandai dengan adanya janin dengan detak jantung yang positif dalam kantong kehamilan ataukah belum atau tidak ditemukan janin
  • untuk menentukan usia kehamilanm sehingga dapat memprediksi waktu persalinan
  • menjadi pemeriksaan penapisan (screening awal) adanya kelainan pada janin yang dapat dilakukan pada usia kehamilan 11 sampai dengan 14 minggu

 

Editor: drg. Valeria Widita W

Referesi:

  1. Cunningham, Gary; Leveno, Kenneth; Bloom, Steven; Dahe, Jodi; Hoffman, Barbara, et al. Williams Obstetrics 25th Ed. McGraw-Hill Education. 2018
  2. Dutta, DC. Text Book of Obstetrics. Sixth Ed. 2004
  3. Frequently Asked Questions Pregnancy. Morning Sickness : Nausea and Vomiting of Pregnancy. American College of Obstetricians and Gynecologist. 2018

Manfaat Pemeriksaan USG pada Kehamilan

oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obsetri Ginekolog

Halo Keluarga Kejora! Salam sehat dan sejahtera.. Kali ini, kita akan membahas mengenai manfaat pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang biasanya dilakukan dalam pemeriksaan kehamilan yaa…

Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan USG?

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) adalah salah satu komponen penting dari pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan USG dilakukan oleh dokter yang kompeten, biasanya dokter spesialis kandungan, dengan menggunakan mesin USG untuk menilai kondisi kehamilan.

Apa yang dilakukan pada saat pemeriksaan USG?

Terdapat dua jenis pemeriksaan USG, yaitu transabdominal (dari perut), dan transvaginal (dari vagina).

  • Transabdominal: pemeriksaan ini yang umum dilakukan. Ibu akan berada dalam kondisi berbaring terlentang dan dokter akan menggunakan probe transabdomen untuk pemeriksaan.
  • Transvaginal: pemeriksaan ini biasanya memiliki indikasi khusus, seperti evaluasi kondisi kehamilan muda, menilai apakah terdapat kehamilan ektopik (kehamilan yang terjadi di lokasi di luar rahim), menilai plasenta bila dicurigai plasenta previa (lokasi plasenta berada di bawah dekat mulut rahim) pada pemeriksaan transabdomen, dan menilai panjang leher rahim (serviks). Ibu berada dalam posisi litotomi (telentang) dan dokter akan menggunakan probe (alat) transvagina yang dimasukkan ke dalam vagina ibu.

Kapan perlu dilakukan pemeriksaan USG?

Pemeriksaan USG dilakukan minimal 3 kali selama kehamilan, dan masing-masing pemeriksaan tersebut memiliki tujuan masing-masing. Waktu minimal untuk melakukan pemeriksaan tersebut adalah:

  1. 1 kali saat trimester 1 (10-13 minggu): menilai letak kehamilan di dalam atau luar kandungan, menilai kantong kehamilan, ukuran janin, viabilitas janin, dan kelainan lain pada kandungan. USG trimester 1 ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan karena akurasinya paling tinggi, dengan variasi hanya 3-5 hari.
  2. 1 kali saat trimester 2 (18-22 minggu): menilai apakah terdapat kelainan organ pada janin (skrining kelainan kongenital)
  3. 1 kali saat trimester 3 (28-32 minggu): menilai kondisi janin, plasenta, ketuban

Nah, dari hasil pemeriksaan USG standar biasanya akan diketahui jumlah dan letak janin, taksiran berat janin, posisi plasenta, kondisi ketuban, usia kehamilan, dan tanggal taksiran persalinan.

Apabila diperlukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG tambahan, seperti:

  • Penilaian ulang plasenta pada saat usia kandungan 28 minggu, 32 minggu, dan 36 minggu bila terdapat plasenta previa
  • Penilaian indeks cairan ketuban dan arus darah tali pusat pada kehamilan postterm (lewat waktu)
  • Penilaian kesejahteraan janin pada kondisi seperti hipertensi dalam kehamilan, preeklamsia, dan diabetes
  • Pemantauan berkala pada kehamilan kembar
  • Penilaian khusus pada janin seperti penilaian kondisi janin (fetal echocardiography) atau detailed scan bila dicurigai adanya kelainan kongenital. Biasanya pemeriksaan USG khusus ini dilakukan oleh SpOG khusus yang mendalami USG atau konsultan fetomaternal.

Apakah pemeriksaan USG aman, dan apa bahayanya bila sering USG?

Pemeriksaan USG menggunakan gelombang suara untuk menilai kondisi bayi dan kehamilan. Karena menggunakan gelombang suara, maka USG aman dilakukan pada kehamilan (bukan menggunakan sinar radiasi / ionizing radiation seperti pada pemeriksaan rontgen atau CT scan). Saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa USG berbahaya bagi janin (cacat/kelainan janin, gangguan pertumbuhan janin, dll).

Mesin USG juga dibekali dengan biosafety profile, yaitu mechanical index (MI) dan thermal index (TI). Apabila MI dan TI dalam batas normal maka pemeriksaan dengan alat tersebut aman digunakan.

Apakah perlu rutin dilakukan USG 4 Dimensi (4D)?

USG 4D memiliki indikasi tertentu, yaitu menilai apakah ada kelainan pada permukaan tubuh bayi seperti kelainan pada wajah, kelainan pada rangka dan tengkorak. USG 4D tidak dapat menilai kondisi di dalam tubuh bayi. Oleh sebab itu USG 4D tidak perlu rutin dikerjakan.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Sumber:
American College of Obstetrician and Gynecologists. FAQ – Ultrasound Exams.
Royal College of Obstetrician and Gynecologists. Antenatal Care.

Peran Kalsium untuk Hipertensi dalam Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hipertensi dalam kehamilan (pregnancy-induced hypertension, PIH) adalah meningkatnya tekanan darah (sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg) yang terjadi dalam masa kehamilan. Hipertensi yang terjadi selama kehamilan ini dibagi menjadi 3, yaitu:

  • Hipertensi kronis: mereka yang memiliki tekanan darah tinggi (di atas 140/90 mmHg) sebelum kehamilan hingga awal hamil (sebelum usia kehamilan 20 minggu), atau hipertensi yang menetap hingga setelah melahirkan.
  • Hipertensi Gestasional: hipertensi yang terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dan hilang setelah ibu melahirkan,
  • Preeklampsia: Baik hipertensi kronis maupun hipertensi gestasional dapat berlanjut menjadi kondisi ini setelah usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala yang termasuk adalah hipertensi yang disertai adanya protein dalam urin ibu dan juga edema (pembengkakan) pada kedua kaki. Jika tidak ditangani dengan serius, pre-eklampsia ini dapat berlanjut menjadi eklampsia, dengan gejala yang mengancam nyawa seperti kejang hingga koma.

Terdapat ± 10% ibu hamil yang mengalami hipertensi gestasional selama kehamilannya, dan hipertensi gestasional ini harus diperhatikan dengan serius karena meningkatkan risiko kesakitan dan kematian bagi ibu maupun bayi setelah lahir. Hipertensi dapat menyebabkan plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup, sehingga bayi dalam kandungan tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang cukup, sehingga dapat terjadi kelahiran prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Beberapa penelitian menemukan hubungan bahwa asupan kalsium dapat menyebabkan, mencegah, dan digunakan sebagai pengobatan untuk hipertensi. Contohnya, program diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) yang memberikan diet berisi 8-10 sajian sayuran dan buah-buahan dan hampir 3 sajian produk susu rendah lemak berhasil menurunkan tekanan darah sistolik hingga 5,5 mmHg dan diastolik 3,0 mmHg; jika dibandingkan dengan diet biasa yang rendah konsumsi sayuran, buah-buahan dan produk susunya. Efek suplementasi kalsium ini nampaknya paling relevan pada orang-orang yang sensitive terhadap garam natrium, mereka yang tidak tercukupi kebutuhan kalsiumnya, dan ibu hamil yang mengalami hipertensi gestasional.

Normalnya, dalam setiap kehamilan, terjadi penurunan tekanan darah dan secara perlahan kembali meningkat hingga akhir masa kehamilan. Dalam kehamilan, kalsium dibutuhkan untuk mineralisasi tulang janin. Oleh karena itu, kebutuhan kalsium ibu hamil meningkat sekitar 300 mg/hari. Bertambahnya volume darah pada ibu hamil dan bertambahnya ekskresi kalsium di urin juga menyebabkan peningkatan kebutuhan kalsium pada ibu hamil.

Siapa sajakah yang berisiko mengalami hipertensi gestasional?

  • ibu yang hamil pertama kalinya
  • riwayat keluarga (ibu atau saudara yang mengalami hipertensi gestasional)
  • kehamilan kembar
  • perempuan <20 th dan >40 th
  • obesitas
  • diabetes
  • konsumsi bahan makanan sumber kalsium yang rendah

Bagaimana cara mengetahui hipertensi gestasional?

Tekanan darah normal adalah 119/79 mmHg atau dibawahnya. Seorang yang mengalami tekanan darah tinggi ini pada umumnya tidak akan terlalu menunjukkan tanda atau gejala, sehingga pemeriksaan tekanan darah pada setiap kunjungan pemeriksaan harus dilakukan karena terkadang hipertensi dapat ditemukan pada seseorang tanpa tanda atau gejala apapun. Selain memeriksakan tumbuh-kembang janin dan aliran darah ke plasenta dalam kondisi yang baik, pastikan untuk memeriksa tekanan darah pada setiap pemeriksaan kehamilan, dan tanyakan pada dokter spesialis kandungan apakah pemeriksaan urin, fungsi ginjal dan fungsi pembekuan darah dibutuhkan untuk diperiksa.

Bagaimana cara untuk menghindari hipertensi gestasional?

Saat ini, belum ada cara yang pasti untuk menghindari hipertensi. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat dikontrol untuk mencegah hipertensi gestasional:

  • tidak menggunakan garam secara berlebihan
  • lebih banyak menggunakan bumbu/bahan bumbu masakan natural tanpa pengawet
  • menghindari makanan kemasan tinggi garam/penyedap monosodium glutamat (MSG), contoh: bumbu mi instan, keripik kentang dan keripik singkong kemasan, daging yang diawetkan (sosis, kornet, sarden, dll)
  • membaca label makanan, pilih makanan dengan kadar natrium rendah
  • minum air putih sedikitnya 8 gelas sehari
  • menurunkan berat badan (lingkar perut pria <90 cm, lingkar perut wanita <80 cm) (setiap penurunan 1 kg BB akan menurunkan ± 1 mmHg)
  • kurangi asupan makanan berminyak yang digoreng dan junkfood.
  • makan makanan yang sehat (membuat jurnal makanan: mencatat apa saja yang kita makan, berapa banyak, kapan dan mengapa; banyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan tinggi kalium)
  • beristirahat dengan cukup
  • berolahraga secara teratur (150 menit/minggu atau 30 menit setiap hari) dapat menurunkan 5-8 mmHg
  • menaikkan posisi kaki beberapa kali sepanjang hari
  • berhenti merokok dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko penyakit jantung, dan meningkatkan kesehatan
  • hindari konsumsi alkohol
  • hindari konsumsi minuman yang mengandung kafein berlebihan (kopi, teh, coklat). Kafein dapat menaikkan tekanan darah hingga 10 mmHg
  • pada beberapa kondisi, dokter mungkin akan memberikan suplemen dan/atau obat.

Beberapa contoh makanan tinggi kalsium:

  • 1 gelas susu (276 mg)
  • 1 cup almond (367 mg)
  • 100 g tahu goreng (372 mg)
  • 1 cup bok choy (158 mg)
  • 1 gelas jus jeruk (72 mg)
  • 1 cup broccoli (74 mg)

Bagaimana dengan suplemen? Apakah suplementasi kalsium diperlukan?

Tidak semua orang membutuhkan suplementasi kalsium. Suplementasi kalsium dibutuhkan hanya pada ibu hamil yang tidak cukup mengonsumsi kalsium (<1000 mg) dari makanannya sehari-hari. Kebutuhan seorang ibu hamil adalah 1.200 – 1.400 mg kalsium per hari, dan disarankan tidak mengonsumsi kalsium >2.500 mg/hari. Konsumsi kalsium yang berlebihan dapat menyebabkan batu ginjal, juga mengganggu penyerapan seng (zinc) dan zat besi.

Untuk menentukan apakah seorang ibu hamil membutuhkan suplementasi, dapat dilakukan pemeriksaan kadar kalsium ion. Bila memang diperlukan, dokter akan memberikan suplementasi kalsium dan mungkin diberikan bersama dengan vitamin D, yang dapat membantu penyerapan kalsium.

Manajemen Perawatan Gigi pada Ibu Hamil

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Ayah dan Ibu Kejora

Apakah Ibu sedang hamil?

Apakah selama masa kehamilan, Ibu memiliki masalah kesehatan gigi?

Apakah Ibu hamil boleh melakukan perawatan gigi?

Yuk, mari kita cari tahu

Perawatan gigi seperti kontrol secara rutin dan melakukan pembersihan gigi pada ibu hamil tidak hanya aman, tetapi sangat dianjurkan untuk tetap menjaga kebersihan gigi dan mulut selama kehamilan. Peningkatan kadar hormon selama kehamilan sering menyebabkan gusi mudah bengkak, berdarah dan sisa makanan yang terselip di jaringan gusi maupun gigi mengakibatkan iritasi maupun infeksi. Perawatan gigi secara preventif sangat baik untuk dilakukan. Hal ini untuk menghindari infeksi rongga mulut yang dapat mengakibatkan kontraksi pada kehamilan anda.

Perawatan gigi seperti penambalan, pembersihan karang gigi, perawatan saluran akar, pencabutan gigi, bisa dilakukan saat hamil. Berdasarkan ADA dan ACOG untuk pengambilan radiologi gigi juga dapat dilakukan, namun sebaiknya melakukan konsultasi kepada dokter kandungan dengan pilihan terbaik yakni menunda hingga proses persalinan tiba. Sebaiknya juga Ibu hamil menunda perawatan gigi seperti pemutihan gigi, perawatan kosmetik gigi serta tindakan operasi gigi selama kehamilan.

Meskipun perawatan gigi secara preventif masih dapat dilakukan selama kehamilan, namun pilihan terbaik adalah menunda hingga proses persalinan. Hal ini agar mengurangi resiko pada janin meskipun dengan jumlah kecil

Waktu melakukan perawatan gigi bagi ibu hamil

Waktu terbaik untuk melakukan perawatan gigi, yaitu trimester kedua kehamilan. Karena memasuki trimester ketiga kehamilan, biasanya posisi duduk di dental unit dengan waktu yang lama membuat ibu hamil menjadi tidak nyaman. Tentu saja, waktu terbaik melakukan tindakan adalah menunda hingga proses kelahiran, apabila kondisi tidak terlalu mendesak

Rekomendasi Perawatan Gigi berdasarkan usia kehamilan

Trimester Pertama : Edukasi pasien, menjaga oral hygiene (kebersihan gigi dan mulut) dengan baik, lakukan kontrol plak, lakukan pembatasan perawatan gigi untuk kasus periodontal dan tindakan darurat karena janin yang masih terlalu dini

Trimester Kedua : Menjaga ​oral hygiene​, kontrol plak, dapat melakukan perawatan seperti pembersihan karang gigi, kuretase, pencabutan gigi, perawatan saluran akar, penambalan dengan konsultasi terlebih dahulu kepada dokter kandungan. Lakukan kontrol untuk penyakit mulut dan hindari paparan radiologi bila tidak terlalu dibutuhkan

Trimester Ketiga : Biasanya ibu hamil merasa sangat tidak nyaman karena janin semakin membesar. Buatlah perjanjian singkat di pagi hari bila anda ingin melakukan perawatan gigi. Tetap menjaga kebersihan gigi dan mulut / ​oral hygiene, pembersihan karang gigi, hindari perawatan dengan menggunakan radiologi.

Selama trimester ke-2 dan ke-3 pada beberapa ibu hamil sering terjadi penurunan tekanan darah. Usahakan posisi ibu hamil lebih tinggi dari posisi kaki. Untuk mengatasinya, sebaiknya ibu hamil berada dalam posisi miring ke kiri sekitar 10-12 cm atau menempatkan pasien 5% ke 15% pada posisi miring ke sisi kiri untuk meringankan tekanan pada vena cava inferior. Gunakan bantal kecil untuk menopang posisi tersebut agar lebih nyaman.

Peningkatan kadar hormon dan iritasi gusi yang berasal dari faktor lokal seperti plak gigi, menyebabkan beberapa kondisi penyakit mulut dan gusi muncul pada trimester pertama kehamilan hingga setelah melahirkan. Beberapa kondisi penyakit gigi dan mulut yang sering terjadi seperti gingivitis gravidarum, granuloma piogenik serta perubahan saliva.

Penting untuk diketahui, bahwa kehamilan tidak menyebabkan langsung penyakit periodontitis, tetapi semakin memperburuk kondisi yang telah ada selain karena peningkatan kadar hormon. Karena peningkatan kadar estrogen pada saliva, proliferasi di mukosa mulut dapat menyebabkan rongga mulut menjadi tempat yang baik untuk bakteri dapat tumbuh. Bila bakteri terus berada di dalam rongga mulut dan tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan karies / lubang pada gigi.

page2image4914208

Tips Perawatan Gigi selama Periode Kehamilan

    • ADA ( American Dental Association) merekomendasikan wanita hamil untuk melakukan konsumsi makanan secara seimbang, menyikat gigi menggunakan pasta gigi berfluoride dua kali sehari dan memakai dental floss
    • Melakukan perawatan secara preventif dan rutin melakukan kontrol gigi selama kehamilan
    • Informasikan kepada dokter gigi anda bahwa anda sedang hamil
    • Menunda segala tindakan perawatan gigi hingga trimester kedua, atau lebih baik menunda hingga proses persalinan
    • Usahakan posisi duduk selama perawatan gigi nyaman, jangan buat posisi menyilang selama duduk di ​dental chair
    • Bawa bantal kecil untuk menopang tubuh anda saat melakukan perawatan gigi
    • Buat diri anda nyaman selama perawatan gigi berlangsung

 

Sumber :

www.americanpregnancy.org/pregnancy-health/dental-work-and-pregnancy/

www.ada.org/en/member-centre/oral-health-topics/pregnancy

www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3768073/#!po=43.7500

Pentingnya Tes Toleransi Glukosa Oral pada Ibu Hamil

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo Keluarga Kejora! Tahukah Anda bahwa ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan tes toleransi glukosa oral (TTGO)? Apa tujuan dan makna dari pemeriksaan tersebut? Apakah TTGO perlu dijalani oleh semua ibu hamil? Yuk, kita simak pembahasan lebih lanjut tentang pemeriksaan ini.

Tes toleransi glukosa oral (TTGO) merupakan suatu pemeriksaan untuk mengetahui respons tubuh terhadap pemberian glukosa (gula sederhana). TTGO pada ibu hamil dilakukan sebagai penapisan (skrining) diabetes gestasional, yakni suatu jenis diabetes yang pertama kali ditemukan pada saat hamil.

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada usia kehamilan 24-28 minggu pada semua ibu hamil. Namun, pada ibu hamil dengan faktor risiko menderita diabetes gestasional, penapisan diabetes gestasional dapat dilakukan lebih awal atau sesuai petunjuk dokter yang merawat. Faktor risiko yang dimaksud antara lain:

  • obesitas
  • riwayat diabetes gestasional di kehamilan sebelumnya
  • riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir >4000 g
  • riwayat keluarga dengan diabetes

Penapisan diabetes gestasional perlu dilakukan karena adanya risiko kesehatan terhadap ibu dan risiko kesehatan terhadap bayi dalam kandungan. Risiko kesehatan terhadap ibu mencakup kemungkinan bayi dengan berat lahir besar yang akan mempengaruhi cara persalinan, perlunya induksi persalinan, atau persalinan dengan operasi Caesar. Beberapa risiko kesehatan bayi yang dapat terjadi adalah cedera saat proses persalinan, dilahirkan prematur, dan mengalami hipoglikemia (gula darah rendah) setelah dilahirkan.

Sebelum pemeriksaan tes toleransi glukosa oral dilakukan, Ibu akan diminta untuk puasa 8-12 jam. Kemudian, Ibu akan meminum air gula yang berisi 75 gram glukosa dalam 200 ml air yang diberikan pemeriksa. Selanjutnya, pemeriksa akan mengambil sampel darah melalui pembuluh darah vena (bukan melalui penusukan di ujung jari) setelah 1 dan 2 jam pemberian air gula.

Ibu mungkin didiagnosis dengan diabetes gestasional jika salah satu kondisi berikut ini ditemukan:

  • Gula darah puasa ≥ 92 mg/dL
  • Gula darah setelah 1 jam pemberian 75 g glukosa ≥ 180 mg/dL
  • Gula darah setelah 2 jam pemberian 75 g glukosa ≥ 153 mg/dL

Jika Ibu didiagnosis dengan diabetes gestasional, maka dokter yang merawat akan merencanakan tata laksana yang dapat melibatkan dokter spesialis kebidanan, penyakit dalam, gizi klinik, dan spesialis anak. Tujuan dari pengobatan multidisiplin tersebut adalah untuk mempertahankan gula darah puasa < 95 mg/dL dan gula darah 2 jam setelah makan <120 mg/dL serta mengantisipasi segala hal yang perlu dipersiapkan untuk mengoptimalkan proses kehamilan. Selain itu, pada Ibu yang terdiagnosis dengan diabetes gestasional, pemantauan gula darah perlu dilakukan hingga 6-12 minggu setelah persalinan dan setiap 3 tahun selama seumur hidup. Hal tersebut bermanfaat untuk menilai kemungkinan perkembangan kondisi menjadi diabetes melitus tipe 2.

Jadi, pemeriksaan TTGO pada wanita hamil sangat penting dilakukan. Konsultasikan selalu hasil pemeriksaan dan riwayat kesehatan Ibu dengan dokter yang merawat. Dengan demikian, penapisan diabetes gestasional dapat dilakukan dengan akurat dan memiliki makna dalam menilai risiko penyakit diabetes pada kehamilan. Semoga informasi ini bermanfaat.

Salam sehat Kejora!

Sumber:

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. 2013.
NICE Guidelines. Gestational diabetes: risk assessment, testing, diagnosis and management. 2019. 
American Diabetes Association. 2. Classification and diagnosis of diabetes: Standards of Medical Care in Diabetes. 2018. Diabetes Care 2018;41(Suppl. 1):S13–S27