Kelainan Kulit Alergi pada Anak

oleh dr. Nico Gandha, SpDV

Dokter Spesialis Dermatologi dan Venerologi

Halo Ayah dan Ibu semua! Tentu Ayah Ibu pernah mendengar istilah alergi. Tapi, apa sih sebenarnya alergi itu? Mengapa alergi bisa terjadi pada anak? Untuk mengenal lebih dalam tentang alergi, mari kita simak perbincangan dengan dr. Nico Gandha, SpDV berikut ini tentang kelainan kulit alergi pada anak.

Dok, apa sih alergi itu? Mengapa alergi bisa muncul?

Alergi merupakan respons peradangan berlebihan yang dibuat sistem imun tubuh terhadap suatu bahan penyebab alergi (disebut juga alergen). Hanya individu dengan sistem imun yang hipersensitif yang memunculkan gejala alergi apabila terpajan/terpapar dengan suatu alergen. Hal ini menyebabkan alergen penyebab alergi pada setiap orang dapat berbeda-beda. Secara garis besar, penyebab kelainan kulit alergi dapat dibedakan berdasarkan asalnya, yaitu dari dalam (misalnya, setelah memakan makanan atau obat tertentu) dan dari luar tubuh (sebagai contoh, setelah terkena bahan alergen dari lingkungan).

Apa saja bentuk kelainan kulit alergi, Dok? Apakah alergi pada anak selalu berupa ruam kemerahan pada kulit?

Istilah alergi sebenarnya tidak terbatas hanya pada kulit. Organ lain di tubuh kita juga dapat terkena alergi, misalnya saluran cerna dan saluran napas. Pada kulit, alergi dapat memberikan gambaran kelainan kulit yang beragam, mulai dari urtika (atau biduran), eksim, hingga lenting yang timbul pada tubuh. Tidak selalu berupa ruam kemerahan ya.

Bentuk kelainan kulit akibat alergi yang umum ditemukan pada anak antara lain eksim atopik, urtikaria, eksim kontak alergi, serta ruam alergi obat. Eksim atopik pada anak memiliki bentuk kelainan yang karakteristik, yaitu bercak merah gatal pada tempat tertentu di tubuh. Anak dengan eksim atopik memiliki bakat atopik (terdiri dari eksim atopik, rinitis alergi, atau asma) yang kemungkinan diturunkan dari orang tuanya. Kulit anak dengan bakat atopik, walaupun secara sepintas normal, sesungguhnya terjadi kelainan pada kulit mereka yang menyebabkan pelembap alami kulit berkurang jumlahnya. Oleh karena itu, kulit mereka rentan kering dan mengalami gangguan berupa eksim. Eksim yang terjadi pada anak dengan bakat atopik dapat dicetuskan (atau kambuh) baik dari makanan tertentu (misalnya telur, susu, kacang, makanan laut) maupun lingkungan, misalnya keringat, udara kering, bahan pakaian kasar/wol, sabun.

Bentuk kelainan kulit alergi lain yang dapat terjadi adalah urtikaria (bentol, biduran). Bila anak memiliki alergi bentuk ini, harus dilihat apakah keluhan masih akut (<6 minggu) atau sudah kronik (>6 minggu). Urtikaria yang akut pada anak umumnya disebabkan infeksi, baik saluran napas atas, gigi, atau saluran kemih. Jadi anak yang kulitnya biduran belum tentu sedang mengalami alergi, walaupun sebagian biduran pada anak memang dapat disebabkan oleh alergi, baik alergi terhadap makanan maupun obat. Apabila urtikaria sudah kronik, kemungkinan penyebab alerginya berasal dari faktor lingkungan, misalnya udara dingin, tungau debu rumah, bulu hewan, atau dapat pula disebabkan makanan tertentu. Urtikaria yang lebih parah dapat pula menimbulkan angioedema, yang lokasi proses peradangannya lebih dalam dibandingkan urtikaria. Angioedema ditandai dengan pembengkakan kulit pada kelopak mata, atau bibir. Pada kasus yang lebih berat, angioedema dapat menyerang saluran napas (laring) yang menimbulkan kegawatdaruratan medis dan membutuhkan penanganan segera. Urtikaria dan angioedema dapat muncul bersamaan ataupun sendiri-sendiri.

Gambar 1. Urtikaria pada lengan (gambar didapat dari allergyuk.org)

Gambar 2. Angioedema pada kelopak mata (gambar didapat dari en.wikipedia.org)

Selain itu, kelainan kulit alergi pada anak dapat pula berbentuk eksim kontak alergi. Cirinya adalah bercak merah timbul akibat penggunaan atau kontak langsung dengan suatu alergen. Misalnya, bercak gatal pada daun telinga pada anak dengan alergi anting nikel, bercak merah di sekitar mulut pada anak dengan kontak alergi terhadap pasta gigi, eksim di daerah kaki pada anak yang alergi terhadap bahan karet, kimia, atau pewarna sepatu, serta penggunaan bahan oles misalnya minyak tawon, kayu putih, balsem, atau obat oles antibiotik neomisin. Eksim kontak alergi perlu dibedakan dengan eksim kontak iritan, karena proses peradangan yang mendasarinya berbeda. Pada eksim kontak alergi, peradangan kulit didasari proses alergi, sedangkan pada eksim kontak iritan proses peradangannya disebabkan proses iritasi terhadap bahan tertentu, misalnya sabun antiseptik, feses dan urin pada popok bayi, dan minyak atau balsem.

Gambar 3. Eksim kontak alergi akibat penggunaan perhiasan dari nikel (gambar didapat dari medicinenet.com)

Selain berupa biduran (atau urtikaria), obat dapat menyebabkan kelainan kulit berupa ruam alergi obat. Bila urtikaria/angioedema akibat obat muncul beberapa menit hingga jam setelah konsumsi obat, ruam alergi obat umumnya timbul lebih lama setelah konsumsi obat, dapat beberapa hari atau minggu setelahnya. Ruam alergi obat juga dapat menyerupai ruam yang timbul akibat demam misalnya akibat infeksi virus. Untuk itu, perlu diperhatikan kondisi anak sebelum dan saat timbul keluhan, serta mengetahui pasti nama obat-obatan apa saja yang dikonsumsi anak sebelum terjadi keluhan ruam kulit.

Gambar 4. Ruam alergi obat (gambar didapat dari intranet.tdmu.edu.ua)

Bentuk kelainan kulit alergi yang lebih jarang ditemukan antara lain fixed drug eruption (kelainan lenting berulang pada tempat sama di tubuh yang disebabkan obat tertentu) dan sindrom steven-johnson. Sindrom ini merupakan reaksi alergi obat berat. Beberapa penyakit autoimun dapat pula dicetuskan kekambuhannya oleh makanan dan obat, misalnya eksim herpetiformis, penyakit autoimun berupa lenting di tubuh yang kekambuhannya dapat dicetuskan makanan mengandung gluten.

Kalau kemerahan pada pipi bayi atau sering disebut eksim susu itu apa ya, Dok? Apakah itu merupakan suatu bentuk alergi juga?

Eksim susu merupakan suatu bentuk eksim atopik yang banyak ditemukan pada bayi, ditandai dengan bercak kemerahan pada pipi. Pada bayi dengan eksim susu, susu dapat menjadi pencetus kambuhnya kelainan kulit eksim atopik pada pipinya (alergi terhadap faktor dari dalam tubuh). Namun, hal ini tidak berarti bayi dengan eksim atopik tidak boleh mengkonsumsi air susu ibu (ASI). Pada bayi dengan ASI eksklusif, eksim ini lebih mungkin disebabkan oleh bahan makanan yang dimakan ibu, misalnya kacang, makanan laut, telur, atau susu yang diminum ibu. Eksim susu ini biasanya diperberat dengan iritasi terhadap susu yang menempel langsung pada kulit pipi. Oleh karena itu, orangtua atau pengasuh sangat disarankan untuk membasuh susu yang menempel pada kulit pipi bayi dengan handuk halus.

Dok, apakah eksim atopik ini akan berlanjut hingga dewasa?

Eksim atopik ini memiliki tiga fase sesuai usia anak. Pada fase infantil (2 bulan – 2 tahun), kelainan kulit terutama ditemukan pada lokasi kedua pipi, leher, atau di tonjolan siku dan/atau lutut pada bayi yang telah merangkak.

Gambar 5. Eksim atopik pada bayi (gambar oleh Thomas Habif didapat dari merckmanuals.com)

Pada fase usia anak yang lebih besar (di atas 2 tahun hingga remaja), kelainan kulit umumnya ditemukan pada lipatan siku dan/atau lutut. Selain itu, dapat pula terjadi pada daerah leher. Umumnya daerah lipatan tersebut menjadi tebal karena garukan yang sering atau menyisakan bekas peradangan yang menghitam apabila kelainan kulitnya sedang mereda. Garukan berulang pada anak dengan eksim atopik juga dapat menyebabkan infeksi pada kulitnya.

Pada fase usia yang lebih besar (dewasa), eksim atopik dapat ditemukan dengan jumlah kasus yang lebih sedikit. Bila eksim atopik berlanjut pada usia dewasa, dapat disertai dengan rinitis alergi (radang selaput lendir hidung) atau asma. Oleh karena itu, eksim atopik harus dikontrol dengan terapi sejak dini untuk mencegah kelainan ikutan pada organ lain tersebut atau yang disebut dengan atopic march. Satu hal yang perlu diketahui, eksim atopik tidak dapat sembuh total 100% karena bakat atopik tersebut tetap ada, namun eksim atopik dapat dikontrol dengan menggunakan pelembap secara rutin dan menghindari penyebab kekambuhannya, baik penyebab dari faktor makanan maupun lingkungan.

Gambar 6. Eksim atopik pada anak (gambar didapat dari bestonlinemd.com)

Lalu, kapan orang tua perlu mencurigai bahwa suatu kelainan kulit pada anak disebabkan oleh alergi?

Secara umum, kelainan kulit alergi bisa dibedakan berdasarkan penyebab yang sering terjadi. Alergi terhadap makanan tertentu dapat menyebabkan kelainan kulit berbentuk urtikaria, eksim atopik, atau eksim herpetiformis, sedangkan alergi terhadap obat dapat menyebabkan urtikaria, ruam alergi obat, fixed drug eruption atau sindrom steven-johnson. Alergi yang disebabkan oleh faktor lingkungan dapat mencetuskan urtikaria, eksim atopik, atau eksim kontak. Oleh karena itu, riwayat dan cerita apa yang dialami, dimakan, dan riwayat perjalanan kelainan kulit anak, dan faktor yang kira-kira dapat menjadi penyebab amat penting dan perlu diperhatikan oleh orangtua atau pengasuh anak.

Jika anak dicurigai mengalami alergi, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?

Jika Ayah atau Ibu mencurigai si kecil mengalami alergi, sebaiknya periksakan kondisi si kecil dan konsultasikan dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Dermatologi dan Venereologi). Selain untuk mendiagnosis alergi, konsultasi ini penting untuk mengeksplorasi penyebab kelainan kulit alergi tersebut. Jika betul merupakan suatu alergi, maka dokter akan memberikan terapi yang sesuai dengan penyebab alergi dan untuk mengurangi gejala yang dirasakan, misalnya memberikan obat golongan antihistamin untuk mengatasi keluhan gatal.

Untuk terapi pasti penyebab, perlu diketahui terlebih dahulu penyebab alergi atau alergennya. Jika diperlukan, dokter juga akan menyarankan uji alergi untuk membantu mengetahui penyebab kelainan kulit alergi pada anak, misalnya uji tusuk, uji tempel, dan tes darah (IgE RAST). Setelah diketahui alergennya, dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai. Satu hal lagi, yang terpenting dalam penanganan alergi adalah menghindari faktor penyebab alergi tersebut.

Gambar 7. Uji tusuk pada lengan (gambar didapat dari drhuiallergist.com)
Gambar 8. Uji tempel pada punggung (gambar didapat dari welcomecure.com)

Editor: dr. Sunita

Bercak Putih pada Kulit Anak, Apakah Penyebabnya?

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Hai, Ayah dan Ibu Kejora! Apakah Ayah dan Ibu pernah menemukan bercak putih pada kulit si Kecil? Bercak putih atau disebut hipomelanosis di kulit merupakan permasalahan yang sering ditemukan pada anak. Keluhan ini seringkali tidak berbahaya, tetapi dapat pula menjadi tanda awal dari penyakit sistemik. Umumnya, bercak putih dibedakan berdasarkan waktu kemunculan (sejak lahir atau tidak) serta berdasarkan adanya keluhan pada organ lain. Berikut merupakan beberapa macam bercak putih pada anak yang sering ditemukan.

  1. Pitiriasis Alba

Pitiriasis alba merupakan bercak putih bersisik yang umumnya berbentuk bulat atau oval dengan diameter 0,5 sampai 2 sentimeter. Pitiriasis alba paling sering ditemukan di pipi, leher, dan lengan anak-anak pada usia 2-16 tahun.

Pitiriasis alba paling sering terjadi pada anak-anak yang memiliki kulit kering. Pada anak, bercak putih ini biasanya disebabkan oleh paparan sinar matahari yang terus-menerus. Keadaan ini sering terjadi pada anak dengan riwayat alergi, misalnya asma, bersin-bersin bila terpapar dingin atau debu, serta biduran.

Pitiriasis alba biasanya dapat hilang sendiri dan tidak berbahaya. Sebagai upaya pencegahan, oleskan tabir surya khusus anak, minimal 30 menit sebelum beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, perhatikan pula kebersihan dan kesehatan kulit dengan mandi menggunakan sabun yang lembut dan pelembap secara teratur setiap selesai mandi.

  1. Tinea Versicolor

Tinea versicolor, atau umumnya dikenal sebagai panu, merupakan infeksi jamur di permukaan kulit. Bercak putih karena infeksi jamur biasanya tampak lebih jelas dengan batas yang lebih tegas dibandingkan pitiriasis alba, dan terkadang disertai rasa gatal ringan. Selain itu, lokasi bercak putih karena jamur biasanya ditemukan di area yang lebih lembap seperti punggung dan pantat. Selain berwarna keputihan, infeksi jamur ini bisa berwarna cokelat atau merah muda.

Kondisi ini biasanya terjadi pada remaja usia 15 tahun. Masyarakat di daerah panas dan lembap sering terkena infeksi ini, terutama mereka yang berkeringat secara berlebihan, mengenakan pakaian yang ketat, sering menggunakan bahan minyak di kulit atau memiliki penyakit tertentu yang dapat memudahkan terjadinya infeksi jamur kulit ini.

Tinea versicolor dapat berulang, sehinggaapabila telah sembuh,seprei dan semua kain yang tersentuh kulit harus segera diganti dan dicuci. Selan itu, kulit anak juga perlu dijaga supaya tetap kering (tidak lembap) dengan memakai pakaian yang menyerap keringat, segera menyeka keringat setelah beraktivitas, dan lebih sering mengganti baju dalam bila berkeringat.

Untuk mendapatkan perawatan kulit lebih lanjut, sebaiknya segera kunjungi dokter spesialis kulit dan kelamin. Biasanya dokter akan meresepkan krim anti jamur. Walaupun infeksi jamur sudah sembuh, terkadang bercak putih akan menghilang lebih lama. Setelah beberapa minggu, bercak putih baru akan menghilang dan warna kulit yang baru akan menyesuaikan warna kulit asli.

  1. Vitiligo

Vitiligo merupakan kondisi hilangnya pigmen atau warna kulit dan menimbulkan bercak putih di atas kulit. Hingga saat ini, penyebab dari vitiligo belum dapat diketahui secara pasti. Lesi kulit pada vitiligo biasanya berwarna putih susu, berbatas tegas, tidak ada keluhan, dan dapat menyebar secara perlahan ataupun cepat.

Vitiligo sering ditemukan pada bagian tubuh yang terkena paparan matahari, seperti wajah atau tangan, kulit yang memiliki lipatan seperti siku, lutut, atau selangkangan, dan kulit di dekat mata, lubang hidung, pusar, hingga area kelamin. Vitiligo lebih banyak ditemukan pada orang yang bekulit lebih gelap.

Pengobatan vitiligo dapat menggunakan berbagai macam obat topikal dan fototerapi. Segeralah berkonsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Oleh karena kulit yang mengalami vitiligo kehilangan melanin, maka area tersebut lebih mudah terbakar oleh sinar matahari. Maka dari itu, jangan lupa untuk selalu mengoleskan tabir surya khusus anak di area vitiligo.

  1. Infeksi M. leprae

Bila anak mengeluhkan bercak putih yang terasa kebas atau tidak berkeringat, harus dicurigai adanya infeksi M. leprae. Umumnya bercak putih tersebut akan menebal atau berubah warna menjadi kemerahan. Terkadang keluhan juga disertai rasa kebas.

Apabila anak mengalami bercak putih yang terasa kebas, sebaiknya segera dibawa ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk diperiksa lebih lanjut. Apabila memang ada infeksi M. leprae, biasanya akan dilakukan pengobatan selama 6 sampai 12 bulan.

Ayah dan Ibu Kejora, perlu diingat bahwa meskipun sebagian besar keluhan bercak putih pada anak tidak berbahaya, tetapi bercak putih tersebut tetap perlu diperiksakan ke dokter spesialis kulit dan kelamin, sehingga dapat diketahui penyebabnya dan dilakukan tata laksana yang sesuai.

Sumber:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3764650/

https://www.perdoski.id/news/177-bercak-putih-pada-kulit-anak-haruskah-dikhawatirkan

Mengapa Harus Cuci Tangan?

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Hai, tahukah keluarga Kejora kalau kebiasaan mencuci tangan itu ternyata penting sekali, bahkan bisa mencegah infeksi berbahaya yang dapat membuat kita dirawat di rumah sakit?

Infeksi yang dapat terjadi akibat malas mencuci tangan pun bervariasi, dimulai dari infeksi ringan seperti flu, atau infeksi yang lebih berat, seperti radang selaput otak, bronkitis, dan hepatitis. Selain itu, infeksi lain yang sering dijumpai adalah infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran pencernaan (diare). Tercatat bahwa sekitar 1,8 juta balita di dunia meninggal setiap tahunnya karena radang paru dan diare.

Bakteri penyebab infeksi tersebut seringkali ditularkan melalui kontak dengan orang lain atau barang yang tercemar. Beberapa tindakan yang dapat menjadi sarana penyebaran bakteri antara lain yaitu:

  1. Memegang makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, padahal sebelumnya tangan tersebut telah bersentuhan dengan kotoran atau popok
  2. Menyentuh barang yang terkena air liur dari bersin atau batuk
  3. Tidak mencuci tangan setelah bermain dengan binatang peliharaan kesayangan
  4. Tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan yang tidak dimasak, seperti salad
  5. Memegang anggota tubuh, seperti mata, kulit, hidung, mulut yang sedang mengalami infeksi

Secara umum, ketika keluarga Kejora memakan atau menyentuh bagian tubuh tertentu tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, bakteri dari tangan yang tercemar tersebut dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan infeksi. Maka dari itu, mencuci tangan dapat mencegah penyebaran bakteri ke orang lain sekaligus melindungi diri sendiri. Diperkirakan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat melindungi 1 dari 3 anak yang mengalami diare dan 1 dari 5 anak yang mengalami pneumonia.

Bagaimana cara mencuci tangan yang baik?

  1. Basahi tangan dengan air yang bersih dan mengalir
  2. Gunakan sabun dan cuci tangan selama 20 detik. Gunakan sabun biasa dengan formulasi lembut sehingga tidak membuat tangan menjadi kering. Apabila menggunakan sabun antiseptik, sebaiknya sabun tersebut tidak terlalu sering digunakan.
  3. Cuci bagian sela jeri, punggung tangan, bawah kuku, dan pergelangan tangan
  4. Bilas sabun hingga bersih
  5. Keringkan dengan handuk bersih atau tisu

Kapan saja harus mencuci tangan?

  1. Sebelum menyentuh makanan dan minuman, baik saat menyiapkan makanan, memasak, ataupun makan
  2. Setelah menggunakan kamar mandi
  3. Setelah membersihkan rumah
  4. Setelah memegang binatang, termasuk binatang peliharaan
  5. Setelah mengunjungi atau merawat orang sakit
  6. Setelah batuk, bersin atau mengeluarkan lendir hidung
  7. Setelah beraktivitas di luar ruangan

Apakah boleh menggunakan hand sanitizer atau pembersih yang tidak dibilas?

  • Bila tidak tersedia air bersih dan sabun, boleh menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol 60%-90%. Hand sanitizer yang tidak mengandung alkohol tidak bekerja baik pada semua bakteri, melainkan hanya mengurangi jumlah bakteri, sehingga bakteri menjadi resisten terhadap produk tersebut
  • Hand sanitizer tidak bisa menghilangkan semua bakteri dan tidak efektif bila digunakan pada tangan yang kotor dan berminyak
  • Gunakan hand sanitizer sesuai petunjuk di kemasan. Pastikan seluruh area tangan telah terkena hand sanitizer tersebut

Edited by drg. Dinda Laras Chitadianti

Sumber:
https://www.cdc.gov/handwashing/show-me-the-science-hand-sanitizer.html
http://www.health.state.mn.us/handhygiene/why/5ways.html

Perlindungan terhadap Matahari pada Anak

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Penyebab utama kanker kulit adalah pajanan terhadap sinar matahari yang berlebihan tanpa perlindungan. Sunburn atau terbakar matahari merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker kulit, terutama melanoma dan karsinoma sel skuamosa.  Akhir- akhir ini jumlah kasus kanker kulit di usia kurang dari 30 tahun mulai meningkat, 80% dari total pajanan matahari seseorang terjadi sebelum usia 18 tahun. Sebagian besar anak dan dewasa muda masih belum terbiasa menggunakan perlindungan terhadap matahari sehingga memperbesar risiko untuk mengalami flek, tumor jinak dan kanker kulit di kemudian hari.  Dibandingkan dengan kulit orang dewasa, kulit bayi dan anak lebih tipis, lebih sedikit kandungan melaninnya, dan daya tahannya belum sempurna. Hal ini menyebabkan sinar matahari bisa menembus kulit lebih dalam dan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami banyak kerusakan dan dapat meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari.

Cara untuk melindungi kulit pada anak yang direkomendasikan American Academy of Pediatrics (AAP) sebagai berikut:

  • Dibawah 6 bulan : Hindari sinar matahari langsung
  • Diatas 6 bulan : Pakai baju atau topi yang melindungi dari sinar matahari langsung dan gunakan sunscreen pada kulit yang tidak tertutup pakaian. Gunakan sunscreen broad-spectrum, water-resistant sunscreen minimal SPF 30

Beberapa hal lain yang harus diperhatikan:

  • Hindari sinar matahari di siang hari atau berkativitas di tempat yang teduh seperti di bawah pohon, payung atau tenda
  • Pakaian yang melindungi. Kaus tangan panjang dan celana/rok panjang memberikan proteksi yang baik. Warna gelap lebih baik dari warna terang. Dan, beberapa baju khusus seperti baju renang/menyelam memiliki informasi mengenai SPFnya.
  • Pilih topi/pelindung kepala yang menutupi wajah, kepala, telinga dan leher. Topi baseball tidak menutupi area tersebut. Gunakan sunscreen pada area yang tidak tertutup.
  • Kacamata hitam. Melindungi mata dari sinar matahari, dapat mengurangi risiko katarak di kemudian hari. Gunakan kacamata yang nyaman dan melindungi hampir 100% UVA and UVB (ada tulisan SPFnya)

Tanda terpajan sinar matahari berlebihan antara lain wajah kemerahan, gatal, perih, terkelupas. Kulit yang tidak dilindung bisa mengalami kerusakan dalam 15 menit pajanan langsung matahari. Namun efek pajanan tersebut bisa baru terlihat 12 jam kemudian. Hindari pajanan matahari yang lebih lama ketika kulit anak sudah mulai kemerahan atau berubah warna. Sebagian besar orang Indonesia memiliki kulit tipe IV-V yang tidak mudah terbakar, namun mudah berubah warna menjadi lebih cokelat atau tanning.  Perubahan warna kulit merupakan tanda bahwa sudah terjadi kerusakan di kulit karena sinar matahari.

Sebelum memilh sunscreen, ketahui dulu istilah yang bisa ditemukan pada kemasan sunscreen di pasaran.

  • UVA dan UVB

Sinar matahari atau sinar ultraviolet (UV) terdiri dari UVA, UVB dan UVC. UVC tidak menembus atmosfer, sehingga hanya UVA dan UVB yang dapat merusak kulit. Sebagian besar sunscreen melindungi dari UVB, namun sebaiknya pilih sunscreen yang melindungi dari UVB dan UVA.

  • Sunscreen kimia dan fisika

Sunscreen fisik mengandung komponen inorganik yang bekerja dengan memantulkan atau menyebarkan sinar UV secara fisik. Contoh bahan sunscreen fisik adalah zinc oxide dan titanium oxide. Sunscreen fisik biasanya berwarna putih kapur dan terlihat keabuan ketika dioleskan. Sunscreen kimia bekerja dengan menyerap sinar UV secara kimia. Banyak dipakai dalam produk kosmetik karena tidak meninggalkan sisa warna putih di kulit.

  • SPF

SPF merupakan ukuran dari proteksi terhadap UVB. SPF merupakan rasio jumlah sinar UVB yang diperlukan untuk membuat kulit yang diproteksi menjadi merah dibandingkan kulit yang tidak diproteksi dalam waktu tertentu. Contoh: Bila kulit kita ‘terbakar’ setelah 5 menit pajanan matahari, maka bila kita memakai tabir surya SPF 30, kulit kita akan terlindungi selama 30x5menit : 150 menit. Tapi bukan berarti makin tinggi SPF boleh berlama-lama dalam pajanan matahari. Sunscreen tidak bisa melindungi lebih dari 2-3 jam tanpa pemakaian ulang.

  • PA

PA (Protection Grade of UVA) merupakan perlindungan terhadap UVA, biasanya tercantum di sunscreen produksi negara Asia. UVA tidak membuat kulit terbakar, namun mebuat penuaan kulit dan kerusakan yang menetap di kulit. PA ++ sampai +++ memberikan perlindungan tinggi dan sedang terhadap UVA, namun tidak berhubungan dengan waktu pajanan seperti pada SPF.

Kesimpulannya, pilihlah sunscreen broad spectrum (perlindungan UVA dan UVB), minimal SPF 30, water resistant (40-80 menit), teregistrasi POM/FDA.

Cara mengaplikasikan sunscreen:

  • Gunakan dalam jumlah yang cukup banyak (ikuti petunjuk di kemasan sunscreen)
  • Oleskan di area yang tidak terutup pakaian, termasuk hidung, telinga, punggung tangan dan kaki
  • Gunakan 15-30 menit sebelum terpapar matahari
  • Pakai setiap 2-3 jam, lebih sering bila berenang atau berkeringat (beberapa sunscreen water resistant selama waktu tertentu)
  • Gunakan walaupun cuaca mendung
  • Gunakan pada setiap aktivitas di luar ruangan, bukan hanya saat tertentu seperti di pantai atau gunung
  • Tiap sunscreen berbeda dan reaksi alergi selalu ada. Sebelum memakai sunscreen pertama kali, oleskan sedikit di punggung tangan atau leher dan pantau selama 24 jam apakah ada reaksi merah atau gatal.

Beberapa mitos seputar sunscreen:

  • Sunscreen bahaya untuk anak

Bahan aktif sunscreen biasanya sudah diuji berulang kali untuk menilai keamanannya dan melihat kemungkinan sensitisasi, iritasi, fototoksisitas dan karsinogenik. Sunscreen dengan merk yang sudah diakui badan POM dan FDA relatif aman, namun kemungkinan iritasi dan alergi seringkali tidak bisa dihindarkan dan berbeda tiap individu. Sunscreen kimia dapat diserap dalam jumlah sedikit oleh kulit. Sunscreen fisik tidak bisa diserap, misal titanium oksida, sehingga potensi gangguan sistemik hampir tidak ada.

  • Defisiensi vitamin D

Beberapa orang menganggap sunscreen bisa mempengaruhi kemampuan tubuh mengkonversi vitamin D, sehingga menyebabkan kekurangan vitamin D. Namun, beberapa penelitian terkahir membuktikan bahwa pemakaian sunscreen tidak mempengaruhi kadar vitamin D seseorang.

Edited by dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

May: Skin Cancer Awareness Month

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo keluarga sehat Kejora! Dalam rangka Skin Cancer Awareness month di bulan Mei ini, Kejora ingin berbagi informasi mengenai kanker kulit. Kanker kulit merupakan pertumbuhan abnormal sel kulit yang tidak terkontrol akibat kerusakan DNA pada sel kulit karena radiasi sinar ultraviolet. Bentuk kanker kulit bisa sedikit menonjol seperti tahi lalat ataupun rata dengan permukaan kulit di sekitarnya. Selain paparan sinar ultraviolet, beberapa hal lain yang membuat seseorang memiliki resiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker kulit, antara lain karena memiliki riwayat kanker kulit di keluarga, memiliki warna kulit yang lebih terang, serta memiliki kulit yang mudah terbakar jika terkena sinar matahari.

Jika menemukan lesi atau tanda pada kulit dengan berikut, maka sebaiknya waspada akan kanker kulit dan segera memeriksakan diri ke dokter kulit:

  1. Bentuknya tidak simetris
  2. Tepi yang tidak jelas
  3. Berwarna merah, pucat atau kebiruan. Jika berwarna coklat biasanya tidak berbahaya
  4. Membesar hingga lebih dari 6 mm
  5. Berubah bentuk atau warna
  6. Mudah berdarah

Kanker kulit dapat dicegah! Secara umum, menghindari paparan sinar matahari yang berlebihan dapat mencegah terjadinya kanker kulit, terutama sinar matahari antara jam 11 pagi dan 3 sore. Beberapa tips untuk mencegah paparan sinar matahari berlebih:

  1. Berpakaian yang menutup kulit pada saat terpapar sinar matahari. Menggunakan topi dan kacamata hitam juga dapat membantu melindungi wajah, kepala, telinga, dan leher.
  2. Menggunakan lotion tabir surya (sunscreen). Sebaiknya lotion yang digunakan dapat memberikan proteksi terhadap sinar UVA dan UVB dengan kadar SPF minimal 15 untuk kegiatan sehari-hari dan SPF 30 atau lebih jika aktivitas lebih banyak di luar ruangan. Lotion digunakan 30 menit sebelum kulit terpapar sinar matahari untuk memberikan waktu bagi lotion menyerap pada kulit. Ulangi penggunaannya setiap 2 jam atau lebih sering jika banyak berkeringat. Jika berenang, gunakan kembali lotion setelah selesai berenang.
  3. Hindari kegiatan berjemur di bawah sinar matahari. Indoor tanning dengan UV beds juga sebaiknya dihindari karena dapat merusak dan menimbulkan cedera pada kulit.