Perlukah Mengonsumsi Makanan Organik?

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai, Keluarga Kejora!

Ketika si buah hati mulai memasuki masa pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), biasanya Ayah dan Ibu akan memilih bahan-bahan makanan organik yang seringkali dianggap lebih baik daripada bahan makanan non-organik. Meskipun harganya relatif mahal, Ayah dan Ibu biasanya berusaha untuk menyiapkan anggaran tambahan demi yang terbaik untuk si buah hati. Tapi, apakah manfaatnya sebesar harga yang harus dibayar?

Kita pahami dulu pengertian makanan organik, yuk! Makanan organik adalah makanan yang ditanam dengan cara-cara khusus tanpa menggunakan pestisida, pupuk buatan, bahan-bahan lainnya seperti antibiotik atau hormon. Nah, bahan makanan organik ini harus memenuhi sejumlah persyaratan agar dapat memperoleh label organik dari lembaga sertifikasi resmi. Jadi tidak asal berlabel organik, tetapi harus dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi yang terverifikasi.

Dengan label organik ini, apakah suatu makanan menjadi lebih baik dalam hal kandungan gizi maupun efeknya terhadap kesehatan? Sayangnya pada tahun 2010 dalam suatu tinjauan ilmiah oleh para peneliti yang dipublikasi di American Journal of Clinical Nutrition, tidak terbukti bahwa konsumsi makanan organik dapat memberikan manfaat kesehatan dari segi nutrisi. Pada tahun 2017 dilakukan tinjauan ilmiah kembali oleh beberapa peneliti dan didapatkan bahwa orang yang mengonsumsi makanan organik lebih sedikit terpapar pestisida, akan tetapi dampak dari paparan pestisida pada orang-orang yang mengonsumsi makanan non-organik (konvensional) juga tidak jelas pengaruhnya terhadap kesehatan. Selain itu, meskipun beberapa studi menunjukkan bahwa kandungan nutrisi pada makanan organik lebih baik daripada makanan non-organik, tapi perbedaan ini sangat kecil dan tidak bermakna pada populasi yang gizinya sudah baik. Oleh sebab itu, belum ada rekomendasi resmi bahwa makanan organik lebih baik dari makanan non-organik dan harus ditingkatkan konsumsinya.

Kita harus kembali lagi kepada Pedoman Gizi Seimbang untuk meningkatkan asupan sayur, buah, protein hewani dan nabati tanpa harus membedakan apakah produk tersebut organik atau tidak. Produk organik sudah pasti lebih mahal dari produk non-organik dan seringkali lebih terbatas untuk dijumpai, maka jangan sampai hal tersebut malah menghalangi Ayah dan Ibu untuk memberikan variasi makanan yang beragam untuk si buah hati. Hal yang paling penting adalah kita membeli bahan makanan di tempat yang terpercaya dan pilih bahan makanan yang masih segar sehingga kita bisa mendapatkan manfaat secara optimal.

Sumber:

Organic Food: Fact vs Perception. American Health Association. Last reviewed on 16 April 2018.

Dangour AD, Lock K, Hayter A, Aikenhead A, Allen E, et.al. Nutrition-related health effects of organic foods: a systematic review. American Journal of Clinical Nutrition 2010.

Brantsaeter AL, Ydersbond TA, Hoppin JA, et.al. Organic Food in the Diet: Exposure and Health Implications. Annual Reviews 2017

Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia tentang Pengawasan Pangan Olahan Organik. 2008.

Pentingnya Gizi Pada Masa Remaja

 

 

 

 

oleh dr. Grace Hananta, C.Ht

Dokter Umum

Ayah dan Ibu, apakah si kecil sekarang sudah beranjak remaja? Bagaimana dengan kebiasaan makan mereka selama ini? Remaja adalah anak yang berusia 10-19 tahun. Pada masa remaja, anak mengalami pertumbuhan biologis dan fisiologis yang pesat atau disebut juga sebagai growth spurt. Pertumbuhan yang pesat mengharuskan anak remaja mendapatkan nutrisi tinggi yang seimbang dan hal ini besar dipengaruhi juga oleh kebiasaan makannya sedari kecil.

Selain biologis dan fisiologis, pertumbuhan fisik seperti tinggi badan, berat badan dan komposisi tubuh juga banyak dipengaruhi oleh asupan nutrisi sang anak. Lima belas sampai dua puluh persen tinggi badan seseorang dicapai pada masa remaja, dan pertumbuhan remaja laki-laki lebih lambat namun berakhir lebih lama dibandingkan dengan remaja perempuan. Serupa juga dengan berat badan ideal saat dewasa dicapai 25-50% pada masa remaja. Anak laki-laki dan anak perempuan memiliki komposisi tubuh yang berbeda pada saat remaja. Contohnya jaringan otot remaja laki-laki lebih tinggi dibanding jaringan lemaknya, sedangkan sebaliknya pada remaja perempuan. Oleh karena itu, apabila kebutuhan nutrisi pada masa ini tidak terpenuhi, maka tumbuh kembangnya dapat menjadi terhambat dan berdampak hingga dewasa.

Malnutrisi pada remaja

Masalah nutrisi yang kerap ditemui pada remaja adalah defisiensi mikronutrien seperti zat besi, seng, iodium dan lainnya. Padahal, anemia (kekurangan zat besi) pada remaja memiliki dampak yang buruk seperti penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktivitas.

Selain anemia, malnutrisi pada remaja juga dapat menyebabkan stunting. Stunting adalah tinggi badan yang pendek atau di bawah rata-rata. Bila terjadi, kondisi ini dapat menimbulkan dampak serius seperti penurunan fungsi kognitif dan kekebalan tubuh, juga gangguan sistem metabolisme tubuh yang pada akhirnya dapat menimbulkan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, dan obesitas.

Kebutuhan nutrisi berdasarkan gender

Kebutuhan nutrisi remaja perempuan dan remaja laki-laki berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kebutuhan tumbuh kembang biologis dan fisiologis tubuhnya. Misalnya, kebutuhan zat besi pada remaja perempuan lebih banyak karena ia mengalami menstruasi setiap bulannya.

Namun, secara umum, kebutuhan nutrisi remaja meliputi:

  • Energi

Aktivitas, metabolisme basal dan peningkatan kebutuhan untuk menunjang percepatan tumbuh kembang mempengaruhi kebutuh energi remaja. Karena massa tubuh tanpa lemak pada remaja laki-laki lebih tinggi, maka metabolisme basal mereka pun lebih tinggi daripada remaja perempuan. Perhitungan kebutuhan energi lebih akurat apabila dihitung berdasarkan tinggi badan.

  • Protein

Kebutuhan protein tertinggi terjadi pada usia 11-14 tahun pada remaja perempuan dan 15-18 tahun pada remaja laki-laki. Kekurangan asupan protein pada masa ini akan menghambat maturasi seksual serta massa tubuh tanpa lemak.

  • Karbohidrat

Karbohidrat adalah sumber energi utama bagi tubuh. Kebutuhan yang dianjurkan adalah 50% atau lebih dari kebutuhan energi total yang bersumber dari karbohidrat kompleks (misalnya ubi, singkong, labu, beras coklat, beras merah). Sedangkan, asupan karbohidrat sederhana, seperti gula dan sirup, hanya dianjurkan maksimal 10-25%. Karbohidrat juga dapat menjadi sumber serat.

  • Lemak

Kebutuhan lemak sehat (tak jenuh) sangat penting dalam masa tumbuh kembang remaja. Pada gizi seimbang, asupan lemak ideal tidak lebih dari 30% energi total. Contoh makanan yang mengandung lemak sehat adalah alpukat, biji-bijian, kacang-kacangan, minyak zaitun, lemak ikan dan lain-lain. Sedangkan, lemak jenuh dianjurkan untuk tidak lebih dari 10% energi total, contohnya daging merah berlemak, susu, keju, kue-kuean dan lain-lain.

  • Mineral

Asupan mineral pada masa tumbuh kembang remaja harus menjadi salah satu perhatian utama. Kebutuhan kalsium tertinggi terjadi pada masa remaja untuk pembentukan massa tulang.  Disarankan asupan kalsium untuk remaja adalah 1.300 mg per hari baik dalam bentuk makanan/ minuman (yogurt, susu, sayuran hijau, kacang-kacang, dll) atau suplemen. Suplemen kalsium yang tidak lebih dari 500 mg absorpsinya lebih baik apabila bersamaan dengan makanan.

Selain kalsium, mineral lain yang penting adalah zat besi (Fe) untuk menopang pertumbuhan massa otot dan volume darah terutama pada remaja perempuan yang mengalami menstruasi dan Seng (Zn) yang berperan dalam pertumbuhan dan maturasi seksual.

  • Vitamin

Vitamin yang terutama diperlukan pada masa remaja adalah vitamin A, E, C dan asam folat. Pada remaja perokok, jumlah vitamin C dalam tubuh biasanya lebih rendah walaupun telah mengonsumsi dalam jumlah cukup karena stres oksidatif dari kandungan asap rokok.

  • Serat

Serat makanan penting untuk menjaga fungsi normal usus dan menjaga kadar gula darah serta mengurangi kemungkinan obesitas. Serat bisa didapat dari sayur-sayuran, buah-buahan, juga karbohidrat seperti quinoa dan gandum. Kebutuhan serat per hari dapat dihitung dengan rumus: usia + 5 gram dengan batas atas sebesar (usia + 10 gram).

Ayah dan Ibu, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, masa pubertas adalah masa dimana remaja sedang mengalami pertumbuhan fisik dengan pesat serta perkembangan dan maturasi seksual. Maka, mari kita pastikan kebutuhan nutrisi mereka tercukupi agar dapat mengurangi dampak negatif yang dapat berlanjut hingga dewasa.

Referensi:

  1. IDAI, S. R. (2013, 9 10). IDAI – Nutrisi Pada Remaja. Retrieved from IDAI: http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/nutrisi-pada-remaja
  2. Kenali Masalah Gizi Yang Ancam Remaja Indonesia. (2018, 5 15). Retrieved from Departemen Kesehatan Indonesia: http://www.depkes.go.id/article/view/18051600005/kenali-masalah-gizi-yang-ancam-remaja-indonesia.html

Nutrisi pada Psoriasis

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Ibu dan Ayah, tanggal 29 Oktober merupakan World Psoriasis Day dengan tema tahun ini: treat psoriasis seriously. Sudahkah Ibu dan Ayah mengetahui tentang penyakit ini? Mari kita mengenal lebih jauh tentang psoriasis.

Psoriasis merupakan penyakit kulit yang berkaitan dengan sistem imun tubuh. Bentuk kelainan kulit ini berupa kemerahan dan bersisik yang dapat ditemukan di kaki/tangan, wajah, kepala, dan daerah diaper rash. Tak hanya kulit, psoriasis juga dapat mengenai sendi-sendi tubuh yang menyebabkan keluhan nyeri sendi.

Sekitar 30% anak yang menderita psoriasis memiliki riwayat keluarga generasi pertama yang juga menderita psoriasis. Ibu dan Ayah juga harus tahu bahwa psoriasis dapat dipicu oleh beberapa faktor seperti infeksi, beberapa jenis obat tertentu, stres psikologik, dan luka pada kulit. Penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan antara anak yang menderita psoriasis dengan status gizi berlebih dan obesitas, oleh karena itu Ibu dan Ayah juga perlu memperhatikan pemberian nutrisi yang tepat bagi anak yang menderita psoriasis.

Untuk memudahkan dalam menyiapkan menu makanan sehari-hari, Ibu dan Ayah dapat mencontoh ‘Isi Piringku’ karena mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat yang sesuai dengan anjuran nutrisi bagi anak dengan psoriasis. Setiap kali makan, dalam 1 piring dapat diberikan ½ bagian piring yang terdiri dari sumber karbohidrat (contoh: nasi/kentang/umbi-umbian), protein dan lemak (contoh: ikan/daging/ayam, tahu/tempe), dan ½ bagian lain yang terdiri dari sayuran dan buah-buahan.

Nah, Ibu dan Ayah, pernahkah mendengar bahwa penderita psoriasis dianjurkan untuk menghindari makanan yang mengandung gluten? Berdasarkan bukti ilmiah, ternyata tidak dianjurkan pembatasan makanan dengan bahan dasar gluten bagi semua penderita psoriasis, kecuali terbukti sensitif/alergi terhadap gluten. Contoh makanan mengandung gluten adalah roti, pasta, sereal, crackers, cake, cookies.

Sumber: Pediatric Dermatology, JAMA.

Anemia pada Anak


 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Pernahkah Ayah dan Ibu menemukan buah hati terlihat pucat dan lemas? Gejala tanda tersebut dapat menunjukkan adanya anemia. Tahukah Ayah dan Ibu, bahwa anemia, khususnya akibat kekurangan zat besi (ADB), rentan pada bayi & anak. Di Indonesia, 40–45% balita mengalami ADB. Dampak ADB yaitu menurunkan kemampuan konsentrasi belajar anak, terhambatnya tumbuh kembang, juga menurunkan daya tahan tubuh.

Apa saja penyebab ADB? Pertumbuhan bayi usia 6–12 bulan yang cukup cepat merupakan salah satu risiko kekurangan zat besi, terutama bagi mereka yang predominan ASI & hanya diberi MPASI sumber zat besi/fortifikasi besi jarang (<2 kali/hari). Percepatan tumbuh masa kanak-kanak disertai rendahnya asupan besi dari makanan juga salah satu penyebab anak rentan terhadap kekurangan zat besi. Adanya infeksi, perdarahan saluran cerna, dan gangguan penyerapan nutrisi di saluran cerna juga merupakan faktor penyebab ADB.

Bagaimana Ayah dan Ibu dapat mengenali anemia? Bila bayi terlihat iritabel, atau anak tampak lemas, selera makan berkurang, sulit konsentrasi, cepat lelah, terlihat pucat, Ayah Ibu dapat mencurigai adanya anemia. Segeralah konsultasi dengan dokter jika Ayah Ibu menemukan gejala tanda di atas, agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan mendapatkan penanganan serta terapi yang tepat.

Bagaimana Ayah Ibu dapat mencegah terjadinya ADB pada bayi & anak? Sebagai pencegahan, IDAI merekomendasikan suplementasi besi untuk semua bayi dan anak (prioritas usia 0–5 tahun, terutama 0–2 tahun). Suplementasi juga diberikan hingga usia remaja. Dosis dan lama pemberian harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ya.

Pemberian ASI eksklusif pada bayi baru lahir cukup bulan juga merupakan bentuk pencegahan. Pada bayi yang lebih besar, MPASI yang diperkaya zat besi (fortifikasi) dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan zat besi. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan menghindari pemberian susu segar sapi berlebihan pada anak dan berikan makanan sumber zat besi mudah diserap/besi heme (daging, ikan, ayam, hati). Pemberian makanan sumber besi non-heme (kacang-kacangan, sayur, tofu) disarankan bersamaan dengan makanan tinggi vitamin C, misalnya jeruk, agar meningkatkan penyerapan zat besi. Namun, hindari pemberiannya bersamaan minum teh karena zat tanin dalam the menghambat penyerapan zat besi.

Sumber: IDAI, WHO, SKRT.

Vitamin D untuk Anak

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora! Mungkin Ayah dan Ibu sering mendengar bahwa anak-anak membutuhkan vitamin D, dan salah satu cara untuk mendapatkan vitamin D ini adalah dengan berjemur di sinar matahari. Sebetulnya apa sih vitamin D itu? Apakah kita hanya bisa mendapatkan vitamin D dari sinar matahari? Yuk kita bahas ya…

  • Apa sih vitamin D itu?

Vitamin D merupakan vitamin larut lemak yang penting untuk kesehatan tulang karena berperan dalam penyerapan kalsium dari dalam darah. Selain itu, vitamin D juga berperan untuk pengaturan sistem imun dan anti-peradangan. Vitamin D penting pada setiap tahap kehidupan manusia terutama sewaktu pertumbuhan cepat pada bayi dan remaja, juga ibu hamil dan menyusui. Sinar matahari merupakan sumber utama vitamin D, oleh karena itu kulit kita harus terpapar sinar matahari untuk mendapatkan vitamin D.

  • Bagaimana bila seseorang mengalami kekurangan/defisiensi vitamin D?

Kekurangan vitamin D yang berat pada anak dapat menyebabkan penyakit riketsia nutrisional. Riketsia memiliki gejala kelemahan otot, keterlambatan gerak motorik, pembesaran area pergelangan tangan dan lutut, tungkai berbentuk O, gangguan bentuk kepala, keterlambatan pertumbuhan gigi, penurunan kepadatan tulang dan rentannya infeksi.

  • Apa makanan sumber vitamin D?

Sebetulnya, makanan sumber vitamin D tidak terlalu banyak tersedia, contohnya adalah ikan salmon, tuna, sarden, makarel dan telur. Dalam 1 butir telur mengandung 20-40 IU vitamin D. Namun, terdapat beberapa bahan makanan yang difortifikasi dengan vitamin D seperti susu formula, yogurt, dan sereal. ASI mengandung vitamin D dalam jumlah yang kecil sehingga pemberian ASI saja belum dapat mencukupi kebutuhan vitamin D untuk anak-anak.

  • Indonesia termasuk negara tropis, apakah banyak anak-anak yang kekurangan vitamin D?

Berdasarkan hasil survei di Indonesia terdapat 43% anak perkotaan dan 44% anak pedesaan mengalami defisiensi vitamin D (kadar vitamin D darah <30 nmol/L). Defisiensi vitamin D tersebut terjadi karena kurangnya paparan sinar matahari, asupan makanan yang sedikit mengandung vitamin D, dan pemberian ASI berkepanjangan tanpa suplementasi vitamin D. Kurangnya paparan sinar matahari disebabkan karena gaya hidup anak yang sebagian besar berada dalam ruangan, kebiasaan menjemur bayi atau anak di pagi hari, dan penggunaan tabir surya.

  • Apakah semua anak perlu di skrining untuk pemeriksaan kadar vitamin D dalam darah?

Tidak, skrining kadar vitamin D dalam darah tidak disarankan untuk anak sehat yang tidak memiliki gejala, namun dapat dipertimbangkan pada anak yang berisiko tinggi atau memiliki gejala. Faktor risiko tersebut adalah kulit gelap, jarang terpapar sinar matahari, riwayat keluarga dengan defisiensi vitamin D, dan asupan kalsium rendah.

  • Bagaimana dosis suplementasi vitamin D untuk anak?

Suplementasi vitamin D untuk bayi (0-12 bulan) diberikan sebanyak 400 IU per hari, tanpa memandang jenis makanannya (ASI eksklusif atau tidak). Suplementasi vitamin D untuk anak >12 bulan diberikan sebanyak 600 IU per hari. Sedangkan untuk dosis suplementasi vitamin D pada anak dengan defisiensi vitamin D sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau gizi klinik.

  • Bagaimana rekomendasi berjemur untuk mendapatkan vitamin D?

Waktu yang dianjurkan untuk mendapatkan paparan sinar matahari langsung adalah pukul 10.00 sampai 15.00. Sinar matahari yang mengandung ultraviolet B berfungsi mengubah provitamin D di kulit menjadi vitamin D. Orang berkulit gelap memerlukan paparan sinar matahari yang lebih tinggi dibanding orang berkulit putih. Lama paparan sinar matahari belum terdapat kesepakatan karena dipengaruhi oleh postur tubuh, waktu berjemur, aktivitas fisik, musim, dan pemakaian tabir surya. Namun, disarankan paparan sinar matahari dalam jangka cukup tidak menyebabkan kulit terbakar (sunburn) sehingga tidak meningkatkan risiko kanker kulit.

Edited by dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Pentingnya Vitamin A untuk Si Kecil

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai keluarga Kejora! Berbicara mengenai vitamin A biasanya fungsinya erat dikaitkan dengan kesehatan mata saja ya? Nah, ternyata vitamin A juga banyak fungsi lainnya loh. Kita bahas sejenak yuk apa saja fungsi vitamin A ini.

Vitamin A memang diperlukan untuk pembentukan rhodopsin, yaitu pigmen pada sel-sel batang di retina yang berperan pada penglihatan dalam kondisi gelap atau kurang cahaya. Nah, selain itu vitamin A juga berperan dalam berbagai proses fisiologis tubuh, termasuk mempertahankan integritas dan fungsi seluruh jaringan permukaan (epitel) seperti epitel kulit, lapisan saluran napas, saluran cerna, dan kandung kemih. Vitamin ini juga berperan untuk sistem kekebalan tubuh, tumbuh kembang serta reproduksi.

Karena fungsinya yang beragam dan sangat penting bagi tubuh, mari kita kenali sumber bahan makanannya untuk memenuhi kebutuhan harian si kecil. Bahan makanan kaya akan vitamin A bisa didapatkan dari sumber hewani maupun nabati. Karena vitamin A termasuk yang larut lemak, maka vitamin ini membutuhkan lemak dalam makanan untuk membantu absorpsinya.

Vitamin A yang berasal dari hewani merupakan bentuk aktif yang disebut sebagai retinol. Contohnya hati, kuning telur, susu serta produk turunannya (keju dan butter). Sedangkan, vitamin A dari nabati memiliki bentuk karotenoid yang harus diubah dulu menjadi retinol pada saat proses pencernaan sebelum digunakan oleh tubuh. Contohnya mangga, pepaya, melon, labu kuning, serta sayuran seperti wortel, tomat, bayam, brokoli, sayuran hijau lainnya, serta ubi. Usahakan agar tidak memasak semua bahan makanan tersebut terlalu lama (overcooked) karena dapat menurunkan kandungan vitamin A.

Defisiensi Vitamin A

Selanjutnya, apa saja tanda-tanda bila seseorang mengalami kekurangan vitamin A?

Yang paling sering terjadi adalah buta senja atau kesulitan untuk melihat dalam kondisi kurang cahaya karena terganggunya pembentukan rhodopsin pada sel-sel batang selaput retina mata. Gejala lain adalah kekeringan pada mata atau yang disebut xerophthalmia, kerusakan kornea, hingga akhirnya terjadi kebutaan. Karena vitamin A juga memiliki peran penting dalam kekebalan tubuh, maka seringkali anak-anak yang mengalami kekurangan vitamin A akan meningkat risikonya untuk terjadi infeksi berat. Pada saat terjadinya infeksi, maka kebutuhan tubuh akan vitamin A akan semakin meningkat, sehingga keadaan defisiensi akan memperparah infeksi yang terjadi.

Suplementasi Vitamin A

Suplementasi vitamin A sebenarnya sudah dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 1978 dengan tujuan awal mencegah kebutaan dan meningkatkan daya tahan tubuh anak dari penyakit. Bulan Februari dan Agustus ditetapkan sebagai bulan suplementasi vitamin A sebagai salah satu strategi penanggulangan kekurangan vitamin A.

Sasaran suplementasi vitamin A adalah bayi, anak balita dan ibu nifas. Kapsul vitamin A dosis 100.000 IU (warna biru) untuk bayi, dan kapsul vitamin A dosis 200.000 IU (warna merah) untuk anak balita dan ibu nifas. Ayah dan ibu bisa mendapatkan suplementasi vitamin A ini di sarana fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, Puskesmas, Polindes/Poskesdes, balai pengobatan, dan praktek dokter/bidan swasta, posyandu, serta sekolah TK atau PAUD yang menyelenggarakan.

Sumber:

Gilbert, C. What is vitamin A and why do we need it? Community Eye Health, 2013; 26(84): 65.
Gropper SS, Smith JL. Fat-soluble vitamins. Dalam: Advanced Nutrition and Human Metabolism, 6ed. Wadsworth, 2013, hlm 371-86.
Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan. Panduan Manajemen Suplementasi Vitamin A, 2009.

Berkenalan dengan Vitamin

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Vitamin adalah zat organik tertentu yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk mengatur metabolisme. Vitamin dapat diperoleh dari konsumsi makanan dan minuman sehari-hari, namun vitamin tertentu dapat diproduksi oleh tubuh. Sumber berbagai vitamin dapat berasal dari makanan seperti buah-buahan, sayuran, dan suplemen makanan.

Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Vitamin tersebut terbagi atas vitamin yang larut dalam air yaitu vitamin C dan B (timin, riboflavin, niasin, asam pantotenat, biotin, vitamin B6, vitamin B12, dan folat) dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamn A,D, E, dan K). Walau memiliki peranan yang sangat penting, tubuh hanya dapat memproduksi vitamin D dan vitamin K dalam bentuk provitamin yang tidak aktif.

Vitamin larut dalam lemak tersimpan dalam sel-sel adiposit dan memerlukan lemak agar dapat diserap. Vitamin yang larut dalam lemak akan disimpan jika jumlahnya sudah berlebih dan akan digunakan untuk proses selanjutnya. Apabila mengonsumsi suplemen vitamin A, D, E, dan K secukupnya saja karena bila dikonsumsi berlebihan, vitamin ini tidak dibuang oleh tubuh sehingga dapat berbahaya bagi kesehatan Anda.

Sebaliknya vitamin yang larut dalam air tidak dapat disimpan dalam tubuh, oleh karena itu tubuh manusia perlu mengonsumsi vitamin larut air setiap hari dalam jumlah yang sesuai. Keunggulannya, vitamin jenis ini dapat diserap kapan pun tanpa harus membutuhkan lemak.

Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, namun jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka metabolisme di dalam tubuh dapat terganggu karena fungsi vitamin tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Keadaan ini disebut sebagai avitaminosis. Contohnya adalah bila kita kekurangan vitamin C dapat menyebabkan penyakit skorbut, gejalanya antara lain gusi berdarah, mimisan, sendi-sendi terasa nyeri, lemah dan penyembuhan luka akan lambat.

Asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh. Keadaan ini disebut sebgai hipervitaminosis. Misalnya hipervitamosis A yang dapat berupa akut (pada anak-anak yang tidak sengaja menelan suplemen) atau kronis (minum suplemen vitamin A dosis tinggi dalam jangka panjang) Gejala hipervitaminosis A akut dapat berupa mengantuk, iritabilitas, sakit perut, mual, muntah dan peningkatan tekanan pada otak. Sedangkan toksisitas vitamin A kronis dapat berupa perubahan penglihatan, nyeri tulang, bengkak pada tulang, sensitivitas pada sinar matahari dan kulit kering mengelupas.

Yuk Intip Buku Cerita Kejora!

Halo ayah dan ibu,

Bagaimana ya caranya menanamkan kebiasaan hidup sehat kepada si kecil? Bagaimana cara menjelaskan dengan cara yang menarik agar si kecil mau makan sayuran? Bagaimana cara menjawab pertanyaan si kecil misalnya ia bertanya “Kenapa sih aku harus sikat gigi?”

Kejora sebagai komunitas edukasi kesehatan menyadari kebutuhan tersebut, karena itu kami menyusun buku cerita bergambar sebagai media edukasi untuk anak. Ada 3 buah buku yang telah beredar yaitu “Berani ke Dokter Gigi”, “Gigiku Sehat dan Kuat”, serta “Makan Sehat Pahlawan Super”. Buku ini menggunakan bahasa sederhana, gambar menarik dan full colour, serta berisi gambar yang dapat dibuka-tutup (lift-the-flap book) untuk melatih perkembangan motorik anak. Selain itu di halaman terakhir selalu ada bonus dan games yang berkaitan dengan tema buku. Kami juga percaya bahwa bercerita atau mendongeng adalah salah satu metode edukasi yang tepat untuk anak-anak.

Gambar di atas adalah halaman sampul buku pertama. Buku ini ingin memberikan gambaran pada anak seperti apa ruangan dan alat dokter gigi serta proses penambalan gigi. Kami ingin menanamkan bahwa ke dokter gigi itu menyenangkan, dokter gigi bukanlah sosok yang menakutkan.

Nah, berikutnya adalah buku kedua kami yang berjudul “Gigiku Sehat dan Kuat”. Buku ini menjelaskan mengapa kita harus rajin menyikat gigi dan apa yang terjadi jika kita malas sikat gigi, tentunya juga dilengkapi tips menjaga kesehatan gigi.

Kalau ini adalah buku karya kami yang terbaru. Sesuai judulnya, buku ini menjelaskan bahwa kita harus makan makanan dengan gizi lengkap seimbang. Juga disertai penjelasan masing-masing fungsi komponen makanan tersebut dengan bahasa dan gambar sederhana.

Berikut review buku kami:

Sudah banyak yang memberikan review terhadap buku kami bahwa anak-anak menjadi lebih bersemangat untuk sikat gigi, ingin ke dokter gigi (untuk periksa gigi), tidak takut lagi untuk ke dokter gigi, mau makan sayuran, dan tidak memilih-milih makanan lagi lho! Jadi tunggu apa lagi, segera miliki buku kami dan dongengkan pada si kecil! Buku kami bisa didapatkan di Gramedia terdekat, pemesanan via website ini, atau kunjungi Instagram kami @kejora.id untuk pemesanan. Nantikan buku Kejora edisi berikutnya yaa 🙂

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

KIPI adalah salah satu reaksi tubuh pasien yang tidak diinginkan, muncul setelah pemberian vaksin. KIPI dapat terjadi dengan tanda atau kondisi yang berbeda-beda, mulai dari gejala efek samping ringan yang bersifat lokal berupa rasa nyeri, kemerahan dan pembengkakan area tubuh, hingga reaksi yang serius seperti anafilaktik.

KIPI berdasarkan jenis imunisasi:

  • BCG
    Orangtua perlu diberitahu bahwa dalam waktu 2-6 minggu setelah imunisasi BCG dapat timbul bisul kecil (papula) yang semakin membesar dan dapat terjadi ulserasi selama 2-4 bulan, kemudian menyembuh perlahan dengan menimbulkan jaringan parut. Bila ulkus mengeluarkan cairan orangtua dapat mengkompres dengan cairan antiseptik. Bila cairan bertambah banyak, koreng semakin membesar atau timbul pembesaran kelenjar regional (aksila), orangtua harus membawanya ke dokter.
  • Hepatitis B
    Kejadian ikutan pasca imunisasi pada hepatitis B jarang terjadi, segera setelah imunisasi dapat timbul demam yang tidak tinggi, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan, pembengkakan, nyeri, rasa mual dan nyeri sendi.
  • DPT
    Reaksi  yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DPT antara lain demam tinggi, rewel, di tempat suntikan  timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari.
  • DT
    Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi DT antara lain kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada bekas suntikan. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres dengan air dingin.
  • Polio Oral
    Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio, oleh karena itu orangtua / pengasuh tidak perlu melakukan tindakan apapun.
  • Campak dan MMR
    Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi campak dan MMR berupa rasa tidak nyaman di bekas penyuntikan vaksin. Selain itu dapat terjadi gejala-gejala lain yang timbul 5-12 hari setelah penyuntikan, yaitu demam tidak tinggi atau erupsi kulit halus/tipis yang berlangsung kurang dari 48 jam. Pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dapat terjadi sekitar 3 minggu pasca imunisasi MMR.KIPI tidak selalu terjadi pada setiap orang yang diimunisasi. Ayah & Ibu perlu mengetahui bahwa setelah imunisasi dapat timbul reaksi lokal di tempat penyuntikan atau reaksi umum berupa keluhan dan gejala tertentu, tergantung pada jenis vaksinnya. Reaksi tersebut umumnya ringan, mudah diatasi oleh orangtua atau pengasuh, dan akan hilang dalam 1 – 2 hari. Di tempat suntikan kadang-kadang timbul kemerahan, pembekakan, gatal, nyeri selama 1 sampai 2 hari. Kompres hangat dapat mengurangi keadaan tersebut. Kadang-kadang teraba benjolan kecil yang agak keras selama beberapa minggu atau lebih, tetapi umumnya tidak perlu dilakukan tindakan apapun.

Sebelum imunisasi, Ayah Ibu harus mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kontra atau risiko terjadinya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI):

  • Pernah mengalami KIPI yang berat pada imunisasi sebelumnya,
  • Alergi terhadap bahan yang juga terdapat di dalam vaksin,
  • Sedang mendapat pengobatan steroid, radioterapi atau kemoterapi,
  • Menderita sakit yang menurunkan imunitas (leukemia, kanker, HIV/AIDS),
  • Tinggal serumah dengan orang lain yang imunitasnya menurun (leukimia, kanker, HIV / AIDS),
  • Tinggal serumah dengan orang lain dalam pengobatan yang menurunkan imunitas (radioterapi, kemoterapi, atau terapi steroid)
  • pada bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi vaksin virus hidup (vaksin campak, poliomielitis, rubela)
  • pada 3 bulan sebelumnya mendapat imunoglobulin atau transfusi darah

Setelah diimunisasi, sebaiknya dipantau kondisi anak baik yang menimbulkan rasa tidak nyaman atau keabnormalan pada bagian tubuh tertentu. Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasca vaksinasi, dipertimbangkan untuk pemberian parasetamol 15 mg/kgbb kepada bayi/anak setelah imunisasi, terutama pasca vaksinasi DPT. Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan, maksimal 4 kali dalam 24 jam. Jika keluhan masih berlanjut, diminta segera kembali kepada dokter.

World Immunization Week

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Imunisasi merupakan cara efektif yang telah menyelamatkan jutaan orang lebih dari 25 penyakit sejak bayi hingga lansia (difteria, campak, pertussis, polio, tetanus, dll). WHO menyatakan, 2-3 juta kematian di dunia dapat dicegah melalui imunisasi. Di sisi lain, 19-22,6 juta anak-anak di dunia masih belum mendapatkan imunisasi dan mereka berisiko tinggi mengalami penyakit-penyakit yang fatal. Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) diperingati setiap minggu terakhir di bulan April. Peringatan ini bertujuan untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Tema yang diangkat WHO tahun 2018 ini adalah “Protected Together, #VaccinesWork”.

WHO memiliki target untuk menurunkan penyakit dan kematian dengan perlindungan imunisasi (termasuk campak, rubella, tetanus pada Ibu hamil dan anak) melalui program “The Global Vaccine Action Plan” (GVAP) sebelum tahun 2020. Mari kita sukseskan program ini bersama dengan memastikan setiap anak kita mendapatkan vaksin sesuai jadwal!

Nah, apakah ayah dan ibu ada yang masih bingung mengenai perbedaan imunisasi, vaksin, dan vaksinasi?

  • Imunisasi adalah suatu proses pembentukan imunitas (daya tahan/kekebalan tubuh) seseorang terhadap penyakit menular, biasanya dilakukan dengan pemberian vaksin.
  • Vaksin dibuat dari kuman (virus, bakteri, atau toksin) hidup yang dilemahkan/mati dalam jumlah sangat kecil. Vaksin yang diberikan akan menstimulasi sistem imun seseorang untuk memberikan perlindungan terhadap infeksi atau penyakit tertentu.
  • Vaksinasi adalah proses pemberian vaksin, umumnya diberikan dengan disuntik.

Berikut ini adalah jadwal imunisasi hasil rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2017. Untuk detailnya, Ayah Ibu dapat mengunjungi laman IDAI dan mengunduh jadwal ini dari link berikut.