oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Bayi ASI tiba-tiba ada ruam di wajah/badan, apakah penyebabnya?

Ruam pada bayi bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari eksim atau dermatitis sampai infeksi seperti virus atau bakteri. Berikut adalah beberapa penyebab ruam pada bayi (tanpa demam) yang sering terjadi:

  1. Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik merupakan salah satu masalah kulit paling sering ditemui pada anak. Dermatitis atopik seringkali timbul sebelum anak berusia 1 tahun. Gejalanya berupa ruam kemerahan, bintil-bintil berair, keropeng dan kulit kering yang gatal. Ruam basanya timbul di area pipi, dahi, kemudian meluas ke badan atau punggung tangan dan kaki. Dermatitis atopik biasanya diturunkan dan muncul karena adanya disfungsi sawar kulit, kelainan sistem imun tubuh dan pemicu dari lingkungan.

  1. Dermatitis Kontak Alergi/Iritan

Kulit bayi dan anak biasanya memiliki sawar yang belum sempurna seperti kulit orang dewasa, sehingga lebih gampang mengalami iritasi setelah kontak dengan bahan-bahan tertentu. Apabila muncul ruam di area yang terpajan seperti wajah, tangan, dan kaki dan ruam tersebut berbatas tegas, kemungkinan ruam merupakan reaksi kulit setelah kontak dengan suatu bahan atau yang disebut sebagai dermatitis kontak.

  1. Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik biasanya berupa ruam kemerahan dengan kulit mati/kerak berwarna kekuningan di area kulit kepala, alis, pipi, belakang telinga dan daerah lipatan seperti leher, ketiak dan lipat paha. Dermatitis seboroik biasanya terjadi karena pengaruh hormon ibu dan dapat hilang sendiri pada usia 6 bulan.

  1. Akne Neonatorum/Jerawat

Akne pada bayi baru lahir biasanya disebabkan hormon androgen dari ibu. Hormon tersebut akan merangsang kelenjar minyak bayi, sehingga menimbulkan keluhan berupa bintil kemerahan di wajah, leher dan punggung bayi. Hormon androgen tersebut bisa terus meningkat sampai usia 1 tahun, kemudian turun lagi hingga pubertas. Akne neonatus dan akne infantil biasanya dapat hilang sendiri.

  1. Miliaria

Miliaria atau biang keringat disebabkan oleh penyumbatan kelenjar keringat, sehingga keringat terjebak di bawah kulit. Penyumbatan ini terjadi biasanya karena pemakaian baju dan bedong yang terlalu ketat atau bayi berada di ruangan yang terlalu panas dan lembap. Biasanya ruam terlihat seperti bintil-bintil kecil putih dan kalau pecah berisi air. Ruam bisa ada di dada, punggung, wajah dan kepala. Biasanya ruam akan hilang sendiri apabila pemicu dihilangkan.

  1. Infeksi jamur

Penyebab ruam pada bayi bisa bermacam-macam, dengan tampilan yang mirip. Apabila ruam tidak hilang setelah 1-2 hari, semakin meluas, bayi terlihat gelisah, menggaruk-garuk sampai luka atau timbul demam, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mencari penyebabnya.

 

Apakah ruam pada bayi ASI ekslusif dapat disebabkan oleh makanan yang dimakan ibu?

ASI adalah sumber nutrisi yang paling optimal dan direkomendasikan sebagai nutrisi utama pada bayi, terutama bayi dibawah usia 6 bulan. Meski demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bisa terjadi reaksi alergi pada bayi terhadap makanan yang dimakan oleh ibu, terutama susu sapi, kacang dan ikan. Protein makanan tersebut dapat ditemukan pada ASI dalam jumlah yang cukup banyak untuk memicu reaksi alergi pada bayi yang sensitif terhadap makanan tersebut.

Pada bayi dengan ruam berulang yang didiagnosis sebagai dermatitis atopik sedang-berat, 1 dari 3 biasanya memiliki alergi pada makanan tertentu, terutama susu sapi, kacang-kacangan, ikan, telur dan kacang kedelai. Apabila ibu mengonsumsi makanan tersebut, bayi yang alergi terhadap makanan tersebut bisa timbul gejala seperti ruam kemerahan, gatal, bentol/biduran, sesak napas, diare, kolik, dan timbul darah di feses. Gejala bisa langsung timbul langsung setelah ibu konsumsi makanan tersebut dan menyusui atau bisa baru muncul setelah beberapa jam atau hari setelah bayi terpapar.

Meski demikian, alergi terhadap makanan tertentu sebetulnya jarang terjadi, oleh karena itu jangan langsung menghindari makanan tertentu apabila muncul ruam pada bayi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa restriksi makanan tertentu pada ibu hamil dan menyusui tidak mengurangi risiko terjadinya dermatitis atopik pada anak. Konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis kulit dan kelamin atau dokter spesialis anak bagian alergi imunologi apabila ada kecurigaan bayi mengalami alergi terhadap makanan tertentu. Restriksi makanan tertentu tanpa mengetahui dengan pasti apakah memang anak alergi akan berisiko menyebabkan anak menjadi kurang gizi dan gagal tumbuh.

 

Bagaimana mengetahui apakah ruam disebabkan oleh alergi makanan atau bukan?

Apabila orang tua curiga atau takut anaknya mengalami gejala alergi terhadap makanan tertentu, segera periksa ke dokter spesialis anak atau spesialis kulit dan kelamin.

Biasanya riwayat gejala yang timbul, makanan yang dikonsumsi dan perawatan kulit akan sangat membantu. Penting untuk membuat catatan harian makanan yang dikonsumsi dan gejala yang timbul. Alergi makanan bisa dicurigai apabila terjadi perburukan baik gejala kulit atau gejala lainnya beberapa saat setelah konsumsi jenis makanan yang baru. Meski demikian, hanya 35-50% dari pasien yang orang tuanya melaporkan alergi makanan benar-benar memiliki alergi terhadap makanan tersebut, oleh karena itu biasanya akan dilakukan beberapa pemeriksaan seperti skin prick test dan pemeriksaan darah.

Hasil pemeriksaan skin prick test ataupun darah tidak bisa berdiri sendiri. Hampir 90% anak dengan dermatitis atopik sedang-berat memiliki hasil skin prick test yang positif atau kadar antibodi terhadap makanan tertentu di darah. Namun hanya 35-40% dari anak dengan hasil tes positif tersebut yang benar-benar memiliki alergi terhadap makanan tertentu. Karena itu, tidak perlu untuk melakukan pemeriksaan alergi sendiri, terutama bila anak sudah pernah minum ASI saat ibu mengkonsumsi makanan yang dicurigai dan tidak muncul gejala.

Apabila riwayat klinis dan hasil pemeriksaan mendukung adanya alergi makanan tertentu, ibu akan diminta untuk tidak mengonsumsi makanan tersebut. Apabila setelah menghentikan konsumsi makanan tertentu terjadi perbaikan klinis, maka diagnosis alergi makanan jelas, namun setelah jangka waktu tertentu, makanan tersebut akan pelan-pelan dikonsumsi kembali sambil melihat kondisi anak karena seringkali alergi makanan akan mengalami perbaikan setelah anak mencapai usia tertentu.

Menegakkan diagnosis dan tata laksana alergi makanan cukup sulit dan memerlukan kerja sama antara dokter dan orang tua pasien. Sebaiknya orang tua tidak langsung melakukan pantangan makanan tanpa berkonsultasi dengan dokter dan mengkonfirmasi benar adanya alergi makanan tersebut. Bayi dan anak memerlukan nutrisi yang lengkap untuk proses tumbuh kembang. Selain melakukan pantangan makanan tertentu, penting untuk ibu berdiskusi dengan dokter mengenai alternatif makanan, sehingga nilai gizi ibu dan bayi tetap terpenuhi.

Alergi makanan biasanya akan membaik semakin anak bertambah usia. Karena itu, proses pantang makanan dan pengenalan makanan tersebut harus terus dipantau oleh dokter.

Editor: drg. Agnesia Safitri

 

Sumber:

  1. Rajani PS, Martin H, Groetch M, Järvinen KM. Presentation and Management of Food Allergy in Breastfed Infants and Risks of Maternal Elimination Diets. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020 Jan;8(1):52-67. doi: 10.1016/j.jaip.2019.11.007. Epub 2019 Nov 18. PMID: 31751757.
  2. Chadha A, Jahnke M. Common Neonatal Rashes. Pediatr Ann. 2019 Jan 1;48(1):e16-e22. doi: 10.3928/19382359-20181206-01. PMID: 30653638.
  3. Little C, Blattner CM, Young J. Update: Can breastfeeding and maternal diet prevent atopic dermatitis? Dermatol Pract Concept 2017;7(3):14. DOI: https://doi.org/10.5826/dpc.0703a14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *