Benarkah Minum Susu Botol dalam Posisi Berbaring dapat Menyebabkan Radang Telinga?

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu tahu bahwa pemberian susu melalui botol dalam posisi berbaring dapat menyebabkan terjadinya peradangan dan terbentuknya cairan pada telinga bagian tengah ? Hal ini disebut otitis media efusi.

Tenggorok memiliki hubungan dengan telinga bagian tengah melalui sebuah saluran yang bernama tuba eustaschius. Letak saluran tuba eustaschius pada anak lebih mendatar sehingga anak-anak lebih berisiko mengalami otitis media efusi. Pemberian susu botol saat berbaring berisiko menyebabkan air susu tersebut mengalir ke dalam saluran tersebut sehingga menimbulkan reaksi radang sehingga terbentuk cairan di dalam telinga tengah.

Penggunaan botol susu konvensional tanpa ventilasi saat ini sudah mulai ditinggalkan karena memberikan efek tekanan negatif pada telinga tengah saat bayi menyedot. Pemilihan jenis botol susu yang digunakan juga mempengaruhi tekanan pada telinga tengah. Berdasarkan penelitian penggunaan botol susu dengan ventilasi akan memberikan tekanan positif pada telinga tengah sehingga risiko terjadinya peradangan pada telinga tengah lebih rendah. Botol susu yang memiliki ventilasi tekanan positif memiliki efek seperti breastfeeding.

Oleh karena itu:

  1. Hindari pemberian susu melalui botol dengan posisi berbaring / sampai anak tertidur
  2. Pemberian susu melalui botol dilakukan pada posisi tegak

  1. Gunakan botol dengan ventilasi

Otitis media efusi merupakan salah satu faktor risiko menyebabkan terjadinya infeksi telinga tengah berulang pada anak. Otitis media efusi juga merupakan salah satu penyebab terbanyak gangguan pendengaran pada anak. Gangguan pendengaran pada anak dapat berakibat pada penurunan performa belajar, gangguan tumbuh kembang, dan gangguan bersosialisasi.

Editor: drg. Rizki Amalia

Referensi:

  1. Di Francesco, R. C., Barros, V. B., & Ramos, R. (2016). Otite média com efusão em crianças menores de um ano [Otitis media with effusion in children younger than 1 year]. Revista paulista de pediatria : orgao oficial da Sociedade de Pediatria de Sao Paulo34(2), 148–153. https://doi.org/10.1016/j.rpped.2015.08.005
  2. Brown, Craig & Magnuson, Bengt. (2000). On the physics of the infant feeding bottle and middle ear sequela: Ear disease in infants can be associated with bottle feeding. International journal of pediatric otorhinolaryngology. 54. 13-20. 10.1016/S0165-5876(00)00330-X.
  3. Susan B. Tully, Yehuda Bar-Haim, Richard L. Bradley. (1995). Abnormal tympanography after supine bottle feeding. The Journal of Pediatrics, Volume 126, Issue 6, Pages S105-S111. (http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S002234769590249X).

Strain Baru Virus Corona Penyebab COVID-19: Apakah itu?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, Keluarga Kejora! Tentunya Ayah dan Ibu tidak asing dengan penyakit COVID-19 yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2. Beberapa minggu yang lalu, diberitakan adanya strain baru SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab COVID-19. Sebenarnya apa yang dimaksud strain baru virus corona? Apa bedanya dengan strain SARS-CoV-2 yang telah diketahui sebelumnya?

Berita mengenai penemuan adanya strain baru SARS-CoV-2 ini pertama kali diumumkan oleh Sekretasis Kesehatan Inggris Raya. Oleh karena virus strain baru ini ditemukan oleh para ilmuwan di Inggris, virus strain baru ini dikenal juga dengan UK Coronavirus Strain. Dibandingkan dengan SARS-CoV-2 yang telah diketahui sebelumnya, para ilmuwan menemukan adanya perubahan atau mutasi pada UK coronavirus strain. Salah satu mutasi yang dianggap signifikan adalah mutasi N501Y yang merupakan mutasi pada protein spike (S). Protein S ini merupakan bagian dari virus corona yang berikatan dengan reseptor ACE-2 pada manusia sebagai pejamu.

Sampai dengan tanggal 13 Desember 2020, telah ditemukan 1108 kasus COVID-19 di Inggris Raya. Para ilmuwan juga menyatakan bahwa tidak ada data bahwa virus strain tersebut diimpor dari luar Inggris, sehingga diperkirakan virus strain tersebut muncul di Inggris Raya. Telah diketahui sebelumnya bahwa SARS-CoV-2 merupakan virus RNA. Secara umum, virus RNA dapat mengalami mutasi seiring dengan proses replikasi virus. Hasil proses mutasi dapat bersifat menguntungkan host (pejamu) jika mutasi tersebut menyebabkan virus lebih sulit menginfeksi sel pejamu atau menguntungkan virus jika mutasi membuat virus menjadi lebih virulen atau berbahaya.

Lalu, bagaimana dengan mutasi yang terjadi pada UK Coronavirus strain ini? Apa makna lebih dari adanya temuan virus strain baru ini? Mengingat bahwa virus SARS-CoV-2 ini menjadi penyebab pandemi yang telah berlangsung kurang lebih 9 bulan terakhir, informasi mengenai temuan virus strain baru ini dapat menjadi suatu cara untuk memantau persebaran atau penularan, sehingga dapat dilakukan langkah untuk menghentikan peningkatan kasus secara tiba-tiba di suatu daerah. Hal lain yang menjadi perhatian dari temuan virus strain baru ini adalah apakah strain virus yang baru ini lebih berbahaya dibandingkan dengan strain virus yang telah diketahui sebelumnya. Adanya penemuan strain baru ini memang bersamaan dengan peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Inggris, sehingga mungkin ada kaitan antara keduanya. Namun, belum diketahui secara pasti apakah peningkatan jumlah kasus tersebut disebabkan oleh virus strain baru ini. Selain itu, belum ada bukti data yang menyatakan bahwa virus strain baru ini menyebabkan COVID-19 yang lebih berat.

Selain kedua hal di atas, tentu menjadi pertanyaan banyak pihak apakah vaksin yang telah dibuat tetap dapat digunakan untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2. Walaupun beberapa vaksin yang telah berhasil dibuat menargetkan protein S dan pada strain baru ditemukan mutasi protein S, para ahli masih optimis bahwa vaksin akan tetap efektif. Hal ini didasarkan pada teori bahwa vaksin memproduksi antibodi terhadap beberapa bagian dari protein S, sehingga sebuah mutasi pada bagian protein S tidak menjadikan vaksin tidak efektif. Meskipun demikian, para ahli juga menekankan bahwa jika mutasi virus tersebut terjadi terus-menerus, ada kemungkinan vaksin perlu disesuaikan dengan strain virus yang ditemukan di masyarakat.

Sumber:

Covid-19: New coronavirus variant is identified in UK. BMJ 2020;371:m4857 http://dx.doi.org/10.1136/bmj.m4857

Panduan Isolasi Mandiri untuk Orang Tanpa Gejala

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

 

Halo, Keluarga Kejora!

Di tengah pandemi COVID-19 ini, mungkin beberapa di antara Keluarga Kejora harus melakukan isolasi mandiri karena merupakan kontak erat* dengan pasien COVID-19 atau sudah terkonfirmasi COVID-19 namun tanpa gejala (Orang Tanpa Gejala/OTG). OTG melakukan isolasi mandiri di rumah selama 10 hari sejak terkonfirmasi. Setelah 10 hari, OTG dapat kontrol ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) untuk dilakukan pemantauan klinis. Nah, apa saja ya yang perlu diperhatikan saat isolasi mandiri untuk menjaga kesehatan OTG dan keluarga?

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan OTG atau orang yang menjalani isolasi mandiri

  1. Tinggal di kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, namun apabila tidak memungkinkan maka gunakan masker medis dan jaga jarak minimal 1 meter dari orang lain.
  2. Jaga aliran ventilasi ruangan dengan cara membuka jendela kamar secara berkala.
  3. Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat berinteraksi dengan keluarga.
  4. Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin.
  5. Tinggal di rumah, tidak pergi bekerja, ke sekolah, atau ke tempat-tempat umum.
  6. Beristirahat, minum air dalam jumlah cukup, dan makan makanan bergizi.
  7. Apabila memungkinkan, gunakan kamar mandi dan toilet yang berbeda dengan anggota keluarga lainnya.
  8. Saat batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung dengan siku yang tertekuk atau gunakan tisu sekali pakai dan buang setelah memakainya.
  9. Ukur dan catat suhu tubuh 2 kali sehari, setiap pagi dan malam hari.
  10. Apabila sulit bernapas atau suhu tubuh meningkat lebih dari 38o celcius, segera hubungi fasilitas kesehatan atau petugas pemantau.

 

Beberapa hal yang penting dilakukan bagi orang yang merawat atau tinggal satu rumah dengan orang yang menjalani isolasi mandiri

  1. Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien, sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
  2. Pastikan orang yang menjalani isolasi mandiri cukup istirahat, minum air dalam jumlah cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi.
  3. Selalu menggunakan masker medis terutama saat satu ruangan dengan OTG. Hindari menyentuh masker saat menggunakannya dan segera buang masker setelah dipakai.
  4. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin: saat setelah kontak dengan OTG atau dengan barang-barang di sekitarnya; sebelum, saat, dan setelah menyiapkan makanan; sebelum dan sesudah makan; setelah menggunakan toilet; setelah batuk atau bersin; atau ketika tangan terlihat kotor.
  5. Sediakan peralatan makan, handuk, dan seprai khusus untuk OTG. Pisahkan dengan peralatan yang dipakai oleh anggota keluarga lain.
  6. Bersihkan dan lakukan disinfeksi permukaan barang terutama barang-barang yang sering disentuh oleh OTG, seperti gagang pintu, tombol lampu, tempat tidur, dan perabot lain.
  7. Bersihkan dan lakukan disinfeksi kamar mandi dan toilet setiap hari. Gunakan sabun atau deterjen, kemudian disinfeksi dengan cairan disinfektan yang mengandung sodium hipoklorit 0,1% dengan cara mengelap permukaan ruangan dan permukaan barang.
  8. Hubungi fasilitas kesehatan terdekat apabila OTG mengalami gejala yang memburuk atau kesulitan bernapas.
  9. Saat batuk atau bersin, tutupi mulut dan hidung dengan siku yang ditekuk atau gunakan tisu sekali pakai.
  10. Hindari menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan.
  11. Jaga ventilasi udara di rumah.
  12. Pantau kesehatan setiap anggota keluarga dan penghuni rumah dengan mengukur suhu tubuh setiap hari dan amati apakah ada batuk atau sesak. Hubungi fasilitas kesehatan apabila terdapat gejala tersebut.

Selain hal tersebut, cara mencuci pakaian juga penting untuk diperhatikan karena pakaian adalah barang yang paling lama bersentuhan dengan OTG.

 

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat mencuci pakaian OTG atau pasien suspek

  1. Cuci baju, handuk, dan seprai orang tersebut secara terpisah.
  2. Gunakan sarung tangan karet tebal sebelum menyentuh pakaian dan kain tersebut.
  3. Hindari membawa tumpukan pakaian dan kain tersebut dengan cara menyangganya dengan tubuh.
  4. Tempatkan pakaian dan kain kotor di wadah tertutup yang sudah ditandai agar tidak digunakan utnuk keperluan lain.
  5. Sebelum meletakkan pakaian dan kain kotor di wadah khusus, jika terdapat sisa muntah atau tinja bersihkan dahulu dengan alat yang datar dan keras lalu buang di toilet yang khusus digunakan oleh OTG.
  6. Cuci dan lakukan disinfeksi pakaian dan kain menggunakan mesin cuci dengan air bersuhu 60o-90o celcius dan deterjen. Sebagai alternatif, rendam pakaian dan kain kotor di air hangat dalam tabung atau ember besar, aduk menggunakan tongkat, lakukan dengan hati-hati agar air tidak terciprat keluar. Jika tidak ada air hangat, maka rendam pakaian dan kain kotor di cairan klorin 0.05% selama 30 menit.
  7. Cuci dan jemur pakaian dan kain di bawah sinar matahari.
  8. Segera cuci tangan setelah mencuci pakaian dan kain kotor tersebut.

*Kontak erat adalah orang yang terpapar dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 pada saat 2 hari sebelum dan 14 hari setelah gejala timbul pertama kali pada pasien terkonfirmasi COVID-19, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Kontak tatap muka dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19 dengan jarak 1 meter selama 15 menit atau lebih.
  2. Kontak fisik langsung dengan pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19.
  3. Merawat pasien suspek atau terkonfirmasi COVID-19.

Demikian hal-hal yang dapat dilakukan oleh OTG maupun keluarga atau orang yang merawat OTG secara langsung maupun yang tidak. Semoga informasi ini bermanfaat, salam sehat untuk Keluarga Kejora!

Editor : drg. Agnesia Safitri

 

Sumber:

  1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan Tatalaksana COVID-19. 2020
  2. World Health Organization. Home care for patients with suspected or confirmed COVID-19 and management of their contacts: interim guidance. August 2020.

SIRKUMSISI DI MASA PANDEMI

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejora sedang merencanakan jadwal sirkumsisi si buah hati dalam waktu dekat? Jika iya, apakah Ayah dan Ibu Kejora merasa khawatir akan keamanan tindakan tersebut selama masa pandemi Covid-19? Mengingat sirkumsisi merupakan suatu tindakan bedah, Ayah dan Ibu Kejora tentu bertanya-tanya apakah tepat untuk melakukannya di saat pandemi ini. Bahkan mungkin ada yang memutuskan untuk menundanya. Oleh karena itu, mari kita simak penjelasan mengenai sirkumsisi di masa pandemi berikut ini ya, Ayah dan Ibu Kejora!

 

Apa Itu Sirkumsisi?

Sirkumsisi atau yang lebih sering dikenal dengan istilah sunat atau khitan adalah tindakan membuang kulit yang menutupi glans (kepala) penis hingga keseluruhan glans terbuka. Tindakan ini populer dilakukan di berbagai belahan dunia dan dapat dikatakan salah satu tindakan bedah tertua yang pernah ada.

Gambar 1. Gambaran penis sebelum dan sesudah sirkumsisi

Sumber gambar: https://www.babycenter.com

 

Mengapa Sirkumsisi Perlu Dilakukan?

Saat ini, sirkumsisi tidak hanya dilakukan atas dorongan agama atau sosiokultur tertentu. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tindakan ini semakin umum dilakukan karena indikasi kesehatan. Indikasi kesehatan sirkumsisi dapat berupa usaha pencegahan atau untuk kesembuhan.
Untuk langkah pencegahan, penelitian mendapati bahwa sirkumsisi membuat perawatan kebersihan penis menjadi lebih mudah dan menurunkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih, terutama bagi pasien yang diharuskan memakai kateter berkemih dalam waktu yang lama. Selain itu, dapat pula menurunkan risiko penyakit menular seksual di kemudian hari.

Selain itu, terdapat beberapa indikasi kesehatan untuk kesembuhan. Pertama, pada kondisi fimosis di mana kulit penis yang menutupi kepala penis menempel dan tidak dapat dibuka secara manual (dengan bantuan jari), disertai dengan keluhan nyeri berkemih, demam, atau gejala lain, maka tindakan sirkumsisi menjadi penting dilakukan.

Gambar 2. Ballooning karena fimosis akibat urin sulit keluar melalui celah sempit

Kondisi lain yang termasuk dalam emergensi yaitu parafimosis, di mana kulit tidak dapat dikembalikan untuk menutupi kepala penis setelah sebelumnya ditarik untuk membuka glans sehingga menjepit dan mengganggu aliran darah ke glans penis. Selain itu, infeksi penis berulang (balanoposthitis) juga merupakan indikasi sirkumsisi untuk kesembuhan.

Gambar 3. Glans penis menjadi bengkak dan bila tidak ditangani dengan baik dapat terjadi kematian jaringan glans penis

Selain indikasinya, kontraindikasi sirkumsisi juga perlu menjadi perhatian, yaitu kelainan genitalia eksterna seperti hipospadia, epispadia, mikropenis dan lain-lain yang mana kulit penis dibutuhkan untuk rekonstruksi. Kontraindikasi lainnya yaitu pasien tidak dalam keadaan sehat, kelainan pembekuan darah, penis dalam keadaan infeksi dan bayi yang masih prematur.

 

Kapan Waktu Terbaik Sirkumsisi?

Bila didapati tidak ada kontraindikasi, maka sirkumsisi dapat dilakukan sedini mungkin sejak lahir. Adapun keuntungan sirkumsisi saat awal kehidupan adalah penyembuhan luka yang relatif lebih baik, perdarahan yang lebih terkontrol saat tindakan sehingga waktu pengerjaan lebih singkat, anak tidak ada memori takut atas tindakan, dan keuntungan pencegahan kelainan medis didapat sejak dini.

Pada usia Usia 2-6 tahun, anak sedang sangat aktif bereksplorasi dan masih sulit untuk kooperatif sehingga dapat menjadi tantangan baik saat tindakan maupun perawatan setelah sunat. Untuk melancarkan tindakan, teknis bius umum akan memberikan hasil tindakan yang maksimal.

Perhatian lain yaitu pada usia 3-6 tahun di mana anak mengalami fase phallic, ditandai dengan castration anxiety atau kekhawatiran atas sesuatu terjadi pada organ genital. Untuk itu, perlu diberi pemahaman yang baik mengenai makna dan manfaat sirkumsisi pada anak.

 

Tips Sunat Aman di Masa Pandemi

  • Lebih baik memilih fasilitas kesehatan yang memiliki layanan kekhususan (RS ibu anak, fasilitas kesehatan khusus sunat, dll)
  • Memilih dokter yang berpengalaman dalam tindakan dan fasilitas kesehatan yang telah memiliki layanan sirkumsisi.
  • Menerapkan 3M dan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan fasilitas kesehatan, termasuk screening sesuai anjuran.
  • Konsultasi terlebih dahulu untuk membangun kepercayaan anak dengan dokter.
  • Meminimalisasi jumlah pengantar pasien.
  • Bila tidak emergensi, tindakan dilakukan dengan perencanaan dengan pihak fasilitas kesehatan sehingga menghindari waktu tunggu di fasilitas kesehatan telalu lama.

Editor: drg. Rahmatul Hayat

 

Referensi:

  1. U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Background, methods, and synthesis of scientific information used to inform the recommendations for providers counseling male patients and parents regarding male circumcision and the prevention of HIV infection, STIs, and other health outcomes. 2014.
  2. American Academy of Pediatrics Task Force on Circumcision. Male circumcision. Pediatrics. 2012; 130(3):e756–e785. 10.1542/peds.2012-1990.
  3. Frisch M, Earp BD. Circumcision of male infants and children as a public health measure in developed countries: a critical assessment of recent evidence. Glob Public Health. 2016.

Eksim di Tangan karena Sabun atau Hand Sanitizer

 

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Halo, Keluarga Kejora!

Sejak pandemi Covid-19, banyak sekali perubahan kebiasaan yang sudah kita jalani untuk mencegah penularan virus ini, salah satunya adalah menjaga kebersihan tangan. Virus corona rentan terhadap sabun yang mengandung surfaktan, alkohol dengan konsentrasi minimal 60%, dan beberapa bahan lainnya. WHO dan organisasi kesehatan besar lainnya menganjurkan untuk sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol 60%.

Praktik mencuci tangan ini dianjurkan untuk dilakukan setelah memegang barang atau permukaan benda yang tidak steril, setelah bersin/batuk dan menutup dengan tangan, sebelum makan, sebelum menyentuh wajah, setelah dari kamar mandi, dan ketika tangan terlihat kotor. Karena rekomendasi ini, belakangan terjadi peningkatan kasus eksim di tangan yang ditandai dengan ruam merah, gatal/perih, tangan terasa kering dan kasar sampai luka-luka.

 

Apakah eksim di tangan bisa terjadi pada anak?

Eksim pada tangan karena penggunaan sabun dan hand sanitizer dapat terjadi pada anak dan orang dewasa. Beberapa negara yang sudah memperbolehkan sekolah tatap muka, anak dianjurkan mencuci tangan setiap 2 jam sekali atau setelah berkontak dengan benda di tempat umum, bersin, batuk, sebelum dan setelah makan, serta keluar dari toilet. Di Denmark, survey yang dilakukan pada 30000 lebih anak menunjukan bahwa, insiden eksim di tangan pada anak meningkat dari 14.4% menjadi 50.1% saat sekolah mulai masuk. Sebagian besar terjadi dalam 3 hari pertama masuk sekolah. Risiko akan meningkat pada anak dengan kulit kering dan dermatitis atopik.

 

 

Kenapa bisa terjadi eksim di tangan karena sabun/hand sanitizer?

Eksim pada tangan ini dapat timbul karena dua reaksi. Reaksi yang pertama adalah reaksi dermatitis kontak iritan yaitu iritasi yang terjadi karena bahan yang terkandung pada sabun atau hand sanitizer, seperti deterjen dan alkohol. Bahan tersebut dapat merusak lapisan terluar kulit dan lapisan lemak di atas kulit sehingga ketahanan (barrier) kulit terganggu serta air mudah menguap dari kulit, hal ini menyebabkan kulit menjadi kering. Bahan tersebut juga dapat masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan menimbulkan reaksi radang. Keparahan reaksi iritasi tergantung pada dosis dan frekuensi pemakaian produk penyebab iritasi tersebut. Kulit akan mengalami perbaikan apabila kontak dengan bahan penyebab dihentikan.

Reaksi yang kedua adalah reaksi alergi. Reaksi alergi terjadi karena proses imunologi dari tubuh. Setiap orang bisa memiliki respon yang berbeda terhadap bahan yang berbeda. Reaksi alergi dapat dipicu oleh berbagai bahan yang terkandung pada sabun atau hand sanitizer, seperti alkohol, parfum, antiseptik, bahkan zat tidak aktif seperti pengawet dan pewarna yang terkandung dalam produk. Reaksi alergi biasanya tidak langsung terjadi dan walaupun penggunaan produk sudah dihentikan, keluhan masih tetap ada atau bertambah parah setelah beberapa saat.

 

Bagaimana cara mengatasi eksim di tangan karena sabun/hand sanitizer?

Meski demikian, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer tetap dianjurkan karena dapat mencegah penularan Covid-19. Terdapat beberapa cara untuk mengurangi keluhan eksim pada tangan yaitu memilih produk yang tidak mengandung iritan kuat, menghindari tindakan yang memperparah iritasi, dan menggunakan pelembap setelah mencuci tangan.

American Contact Dermatitis Society telah memberikan rekomendasi yang dapat membantu mengurangi keluhan eksim pada tangan karena produk hand hygiene, antara lain:

  1. Cuci tangan dengan air dingin atau suhu ruang dan hindari air panas.
  2. Keringkan tangan dengan handuk/tisu halus dan jangan menggosok tangan keras-keras.
  3. Sabun tidak harus mengandung antibakteri.
  4. Hindari sabun/hand sanitizer dengan bahan yang dapat memicu alergi, seperti zat pewangi dan pewarna.
  5. Pilih sabun atau hand sanitizer yang mengandung pelembap, seperti glyserin.
  6. Gunakan pelembap krim atau salep setelah mencuci tangan.
  7. Pada malam hari, gunakan pelembap yang lengket dan tutup dengan sarung tangan setelahnya.
  8. Hindari penggunaan salep yang mengandung antibiotik atau antiseptik.
  9. Hindari pemakaian plester, terutama yang mengandung antibiotik dan antiseptik.
  10. Hindari menggaruk sampai luka atau mengopek kulit mati di tangan.

Apabila keluhan eksim pada tangan atau kulit kering tidak membaik setelah melakukan langkah-langkah tersebut, segera konsultasikan ke Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Pada beberapa kasus, perlu dilakukan uji tempel untuk mengetahui bahan penyebab reaksi alergi pada kulit. Pada kasus yang berat dan tidak membaik dengan pelembap, perlu diberikan obat-obat antiiritasi seperti kortikosteroid yang harus digunakan dalam pengawasan dokter. Memakai obat antiiritasi atau salep antiiritasi/antijamur/antibiotik yang dibeli sendiri dan tidak diawasi dokter dapat memperparah keluhan dan menyebabkan efek samping, seperti kulit menjadi tipis dan mudah luka bila pemakaian tidak tepat.

Editor: drg. Agnesia Safitri

 

Referensi:

  1. WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care: First Global Patient Safety Challenge Clean Care Is Safer Care. Geneva: World Health Organization; 2009. 14, Skin reactions related to hand hygiene. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK144008/
  2. Rundle CW, dkk. Hand hygiene during COVID-19: Recommendations from the American Contact Dermatitis Society. J Am Acad Dermatol.83(6). 2020
  3. Anne B. Simonsen, Iben F. Ruge, Anna S. Quaade, Jeanne D. Johansen, Jacob P. Thyssen, Claus Zachariae, Increased occurrence of hand eczema in young children following the Danish hand hygiene recommendations during the COVID ‐19 pandemic , Contact Dermatitis, 10.1111/cod.13727, (2020)

Jadwal Imunisasi IDAI 2020

 

 

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Keluarga Kejora! Apakah Ayah dan Ibu sudah tahu mengenai rekomendasi terbaru imunisasi anak? Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara berkala meninjau ulang jadwal imunisasi untuk anak di Indonesia dengan mempertimbangkan berbagai program imunisasi di Indonesia dan rekomendasi WHO. Jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2020 mempertimbangkan WHO position paper terbaru dan Permenkes No. 12 tahun 2017.

Perubahan-perubahan pada jadwal imunisasi meliputi imunisasi Hepatitis B; Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV); Bacillus Calmette Guerine (BCG); Difteri, Tetanus, Pertusis (DTP); Haemophilus Influenzae B (Hib); Pneumokokus; Rotavirus; Influenza; Campak dan Rubela; Japanese Encephalitis (JE); Varisela; Hepatitis A; Dengue; dan Human Papiloma Virus (HPV).

 

Yuk, kita bahas bersama-sama, Ayah dan Ibu Kejora!

1. Hepatitis B

Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, pemberian imunisasi hepatitis B (HB) disarankan untuk dilakukan dalam waktu 12 jam setelah lahir. Sedangkan, di dalam jadwal imunisasi tahun 2020 sebaiknya diberikan segera setelah lahir pada semua bayi sebelum berumur 24 jam.

Namun untuk bayi dengan berat kurang dari 2.000 gram, imunisasi HB ditunda sampai umur bayi 1 bulan atau lebih. Hal ini dikarenakan sebagian besar bayi kurang dari 2.000 gram tidak dapat memberikan respon imun seperti bayi cukup bulan dan berat lahir normal. Namun mulai umur kronologis 1 bulan, bayi baru dapat memberikan respon imun yang baik.

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020, imunisasi HB selain diberikan pada umur 2, 3 dan 4 bulan, juga diberikan pada umur 18 bulan bersama dengan DTP. Dengan tambahan pada umur 18 bulan diharapkan menghasilkan proteksi lebih tinggi pada umur sekolah dan remaja.

2. Inactivated Poliovirus Vaccine (IPV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 IPV paling sedikit harus diberikan 1 kali saja. Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 IPV minimal diberikan 2 kali sebelum berumur 1 tahun. Pemberian ini diharapkan memberikan perlindungan lebih tinggi terhadap polio serotipe 2. Mengingat cakupan IPV di Indonesia masih sangat rendah, sedangkan OPV tidak mengandung polio serotipe 2 dan cVDPD2 masih ditemukan di beberapa negara, sehingga dianjurkan memberikan IPV minimal 2 kali sebelum berumur 1 tahun.

3. Bacillus Calmette Guerine (BCG)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, BCG optimal diberikan umur 2 bulan. Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 sebaiknya diberikan segera setelah lahir atau sesegera mungkin sebelum bayi berumur 1 bulan.

Bila tidak dapat diberikan tepat pada waktu lahir, sebaiknya diberikan segera tidak ditunda sebelum terpapar infeksi. Bila berumur 3 bulan atau lebih vaksin diberikan jika uji tuberkulin negatif, bila uji tuberkulin tidak tersedia BCG dapat diberikan.

4. Difteri, Tetanus, Pertusis (DTP)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 booster DTP diberikan pada umur 5 tahun, sedangkan di jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 booster diberikan pada umur 5-7 tahun (setara dengan program BIAS kelas 1), umur 10-11 tahun (setara dengan program BIAS kelas 5), dan selanjutnya pada umur 18 tahun. Hal ini mengingat perlindungan terhadap pertusis dengan vaksin aseluler akan menurun sebelum berumur 6 tahun, maka diperlukan booster sebelum berumur 6 tahun.

5. Haemophilus Influenzae B (Hib)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 booster Hib diberikan pada umur 15-18 bulan, sedangkan di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan pada umur 18 bulan bersama dengan DTP.

6. Pneumokokus (PCV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, bila vaksin PCV diberikan pada umur 7-12 bulan, maka vaksin diberikan 2 kali dengan interval 2 bulan; dan pada umur lebih dari 1 tahun diberikan 1 kali. Keduanya perlu booster pada umur lebih dari 12 bulan atau minimal 2 bulan setelah dosis terakhir. Pada anak umur di atas 2 tahun PCV diberikan cukup satu kali.

Di jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 jika belum pernah diberikan pada umur 7-12 bulan, PCV diberikan 2 kali dengan jarak minimal 1 bulan dan booster setelah umur 12 bulan dengan jarak minimal 2 bulan dari dosis sebelumnya. Jika belum pernah diberikan pada umur 1-2 tahun, PCV diberikan 2 kali dengan jarak 2 bulan. Jika belum pernah diberikan pada umur 2-5 tahun untuk PCV-10 diberikan 2 kali dengan jarak minimal 2 bulan, sedangkan jika memakai PCV-13 diberikan 1 kali saja.

7. Rotavirus

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 vaksin rotavirus monovalent (RV1) diberikan 2 dosis, dosis pertama diberikan mulai umur 6 minggu, dosis kedua diberikan dengan interval minimal 4 minggu dan diselesaikan paling lambat 24 minggu.

Jika memakai vaksin rotavirus pentavalent (RV5) diberikan dalam 3 dosis, dosis pertama diberikan pada umur 6-12 minggu, dosis kedua interval antar dosis 4-10 minggu, dan dosis ketiga diselesaikan maksimal pada umur 32 minggu.

8. Influenza

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017, imunisasi influenza diberikan pada umur lebih dari 6 bulan, sedangkan dalam jadwal imunisasi tahun 2020 dapat diberikan sejak umur 6 bulan.

9. Campak dan Rubella

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 pada umur 9 bulan diberikan imunisasi campak, sedangkan di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan tambahan imunisasi rubella (MR). Bila sampai umur 12 bulan belum mendapat vaksin MR, dapat diberikan MMR (mumps tidak boleh diberikan sebelum umur 1 tahun).

10. Japanese Encephalitis (JE)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi JE diberikan mulai umur 12 bulan, sedangkan di dalam jadwal 2020 mulai diberikan pada umur 9 bulan. Imunisasi JE direkomendasikan untuk daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Surveilans JE di Indonesia tahun 2016 terdapat 9 provinsi melaporkan kasus JE, yaitu Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Kepulauan Riau.

11. Varisela

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi varisela diberikan setelah umur 12 bulan, terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Apabila diberikan pada umur lebih dari 13 tahun perlu 2 dosis dengan interval minimum 4 minggu.

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 imunisasi varisela diberikan mulai umur 12-18 bulan. Pada umur 1 -12 tahun diberikan 2 dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan. Pada umur 13 tahun atau lebih diberikan 2 dosis dengan interval 4 sampai 6 minggu.

12. Hepatitis A

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi Hepatitis A diberikan mulai umur 2 tahun, diberikan sebanyak 2 kali dengan interval 6-12 bulan. Sedangkan, di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan mulai umur 1 tahun, dengan dosis kedua diberikan setelah 6 bulan sampai 12 bulan kemudian.

13. Dengue

Pada jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi dengue diberikan pada umur 9-16 tahun dengan jadwal 0, 6 dan 12 bulan. Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 ditambahkan prasyarat diberikan pada anak umur 9-16 tahun yang pernah dirawat dengan diagnosis dengue dan konfirmasi dengan deteksi antigen (NS-1 atau PCR ELISA) atau IgM anti dengue. Bila tidak ada konfirmasi tersebut dilakukan pemeriksaan serologi IgG anti dengue untuk membuktikan apakah pernah terinfeksi dengue.

14. Human Papilloma Virus (HPV)

Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2017 imunisasi HPV diberikan pada anak perempuan mulai umur 10 tahun. Di dalam jadwal imunisasi IDAI tahun 2020 diberikan umur 9-14 tahun sebanyak 2 kali dengan jarak 6-15 bulan (atau pada program BIAS kelas 5 dan 6). Umur 15 tahun atau lebih diberikan 3 kali dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan (vaksin bivalen) atau jadwal 0, 2 dan 6 bulan (vaksin quadrivalen).

Imunisasi adalah upaya pemberian bahan antigen untuk mendapatkan kekebalan pada tubuh manusia terhadap agen biologis penyebab penyakit. Imunisasi bertujuan agar tubuh dapat melindungi dirinya sendiri. Penting untuk memenuhi jadwal imunisasi agar anak terhindar dari penyakit berbahaya.

Sumber

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0-18 tahun Rekomendasi IDAI tahun 2020. Desember 2020.

Perasaan Bahagia Bisa Meningkatkan Sistem Imun, Benarkah?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, Keluarga Kejora!

Selama pandemi COVID-19 ini, kita mungkin telah banyak mendengar sejumlah kiat yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari infeksi SARS-CoV-2. Salah satu dari tips tersebut adalah dengan merasa bahagia sebab perasaan bahagia dianggap dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun, apakah pendapat tersebut benar? Apakah ada bukti ilmiah yang mendukung opini tersebut? Mari kita simak pembahasan berikut ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Kata bahagia sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi mental atau emosional seseorang yang bersifat positif. Dari studi yang mempelajari tentang kaitan antara perilaku manusia dan kesehatan diketahui bahwa kondisi emosi seseorang dapat mempengaruhi perilakunya yang berkaitan dengan cara kerja berbagai organ di dalam tubuh, termasuk kekebalan tubuh, yang diperantarai oleh sistem saraf pusat. Perilaku yang dimaksud mencakup perilaku diri terhadap kebiasaan merokok, pola makan, atau olahraga, yang dapat meningkatkan atau merusak kesehatan seseorang.

Bukti ilmiah lain mengenai pengaruh faktor emosi terhadap kesehatan seseorang terlihat dari adanya pengaruh emosi terhadap perubahan biologis, misalnya kondisi stres pada seseoarang yang menyebabkan peningkatan tekanan darah, detak jantung, serta peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik. Ketiga hal tersebut selanjutnya dapat menyebabkan perubahan pada aliran darah yang berkaitan secara langsung terhadap risiko hipertensi dan penyakit jantung. Selain pada perubahan kerja organ, studi lain menunjukkan bahwa rasa cemas yang berlebihan dapat menurunkan fungsi imun tubuh. Sebaliknya, kondisi emosional yang positif dapat meningkatkan kekebalan tubuh sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah studi lain yang mengungkapkan adanya peningkatan kadar antibodi dalam saliva setelah seseorang diminta untuk menonton video humor. Hal serupa juga terlihat dalam sebuah studi yang menunjukkan respon imun yang lebih lemah pada individu yang divaksinasi dan dengan kondisi emosi yang negatif dibandingkan dengan individu yang divaksinasi namun memiliki kondisi emosional yang lebih positif.

Jadi, baik secara langsung maupun tidak langsung, terdapat sejumlah keterkaitan antara perasaan bahagia dengan sistem imun yang lebih baik dalam mengurangi risiko timbulnya penyakit. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk mendukung adanya kaitan langsung antara kondisi emosi positif terhadap penurunan risiko infeksi SARS-CoV-2.

Sumber:

Barak, Y. The immune system and happiness. Autoimmunity Reviews 5 (2006) p 523-527.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Mengajarkan Pendidikan Seksual untuk Anak Balita


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Ayah Bunda Kejora!

Pendidikan seksual itu penting sepanjang usia; dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja, Ayah dan Bunda! Anak usia dini juga bisa mulai diberikan pendidikan seksual, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Sebab, pendidikan seksual bukan sesuatu yang tabu. Yuk, simak cara memberikan pendidikan seksual dan materi pendidikan seksual yang cocok bagi anak usia dini!

 

Kapan Waktu yang Tepat?

Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja. Bunda dan Ayah juga bisa mulai memberikan pendidikan seksual pada anak usia dini, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Pada usia balita (3-4 tahun), anak biasanya mulai mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dan mulai belajar tentang lingkungan sosial. Mereka akan mulai memperhatikan dan membandingkan dirinya dengan orang lain/temannya. Usia balita adalah usia yang tepat bagi orangtua untuk memperkenalkan mengenai pendidikan seksual pada si kecil.

 

Mengapa Pendidikan Seksual untuk Anak itu Penting?

  • Mencegah dan menghadapi era teknologi yang semakin maju: Seiring perkembangan teknologi, anak makin mudah mendapatkan akses internet dan informasi dari berbagai sumber, termasuk sosial media. Membahas seks dapat melindungi dan mencegah berbagai efek negatif yang diakibatkan dari perkembangan informasi tersebut.
  • Mendukung perkembangan dan pemahaman anak: Pendidikan seksual yang tepat dapat membantu si kecil melindungi dan menghargai tubuhnya sendiri.
  • Membangun kepercayaan dan kasih sayang: Dengan pendidikan seksual, orangtua dapat menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bisa terbuka dan berdiskusi hal yang paling pribadi sekalipun. Sehingga anak tidak mencari informasi sendiri/dari orang lain (yang belum tentu tepat dan aman).
  • Membantu si kecil melindungi dirinya sendiri: Dengan pendidikan seksual, anak akan lebih sadar dengan situasi lingkungannya dan mampu melindungi diri ketika ada orang yang memperlakukan pelecehan seksual, baik secara verbal ataupun tindakan.

 

Tahapan 3P dalam Memberikan Pendidikan Seksual terhadap Anak:

1. Persiapan Materi

Sebelum kita memberikan pendidikan seksual pada pada anak, Ayah dan Bunda harus terlebih dahulu paham tentang materi yang akan diajarkan. Ayah dan Bunda bisa mencari informasi pendidikan dari sumber terpercaya.

2. Pahami Perkembangan Anak

Ayah dan Bunda perlu mengetahui perkembangan kognitif anak di usia balita supaya tahu bagaimana cara menjelaskan tentang seks kepada anak balita. Pada usia balita, anak berada dalam tahapan belajar menggunakan konsep konkret. Berikut tips saat mengenalkan bagian-bagian tubuh, terutama alat vital pada si kecil:

  • Alat peraga/media, seperti boneka/buku bergambar yang sesuai dengan usia anak.
  • Suasana pengajaran harus menyenangkan, bisa dengan mendongeng.
  • Gunakan bahasa yang sederhana, singkat, dan mudah dimengerti.

3. Penjelasan Sebaik Mungkin

Saat si kecil bertanya, Ayah dan Bunda perlu menjelaskan dengan sebaik mungkin. Jika kita tidak tahu jawabannya atau bingung menjelaskannya, Ayah dan Bunda bisa minta waktu pada anak, misalnya: “Wah pertanyaan adik bagus sekali, Mama jelaskan besok ya. Mama cari tahu dulu, biar nanti Mama bisa jelasin ke adik”.

 

Materi Pendidikan Seksual untuk Anak Balita

1. Nama dan Fungsi Bagian Tubuh

2. Perbedaan Jenis Kelamin

Ayah dan Bunda bisa mengajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan secara umum. Contoh: laki-laki biasanya bisa berkumis dan berjanggut. Rambut perempuan biasanya lebih panjang dari laki-laki. Kita juga bisa menambahkan jika ada atribut keagamaan yang bisa dijelaskan, misalnya perempuan memakai jilbab, laki-laki memakai peci.

3. Bagian Pribadi

– Berikan pengertian kepada anak mengenai bagian tubuh yang harus dilindungi/bagian pribadi, yaitu: bagian yang tertutup baju (harus selalu tertutup dan tidak boleh disentuh orang lain), yaitu: mulut, dada (pada perempuan namanya payudara), alat kelamin, dan pantat.

– Berikan peraturan siapa saja yang boleh menyentuh dirinya. Contoh:

  • Anak boleh mendapatkan pelukan dari keluarga dan ciuman hanya dari keluarga inti (atau dengan seijin orangtua).
  • Dokter, jika bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati.
  • Orangtua (dengan seijin dari anak): jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh.

4. Cara Menjaga Tubuh

Ajarkan anak:

  • Tidak boleh membuka/menunjukkan bagian tubuh pribadinya kepada orang lain (pengecualian: dokter karena bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati dan orangtua atau pengasuh dengan seijin dari anak jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh).
  • Tidak boleh melihat bagian tubuh orang lain.
  • Melindungi tubuhnya dengan memakai baju, baik di rumah maupun di luar rumah.

5. Ajarkan 3 Tahap jika Anak Mengalami Pelecehan Seksual (Verbal maupun Perilaku):

  • Say No (Katakan TIDAK!): ajarkan anak untuk berani menolak pelecehan seksual dengan suara yang lantang dan tegas.
  • GO (Pergi): pergi ke tempat yang lebih aman/lebih ramai orang.
  • Tell (Beritahu): ajarkan anak menceritakan secara terbuka pada orangtua/orang dewasa yang dipercaya anak.

6. Tumbuhkan Rasa Percaya Anak pada Ayah dan Bunda

Ajarkan si kecil untuk tidak menyembunyikan apapun dari Ayah dan Bunda apabila ia ingin bertanya mengenai pendidikan seksual maupun saat mengalami pelecehan seksual; meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.

 

Memberikan pendidikan seksual pada si kecil memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Namun percayalah, dengan metode yang tepat, konsistensi, kesabaran, dan interaksi yang positif, kita bisa memberikan edukasi yang tepat baginya. Sehat selalu ya Ayah dan Bunda.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa, M.Si

 

 

Mengenal Obat Tradisional

 

 

 

 

 

oleh Jodi Tiara Rahmania, S.Farm, Apt

Apoteker/ Farmasis

 

Halo, Keluarga Kejora! Pernahkah Keluarga Kejora menggunakan obat-obatan tradisional yang umumnya berbasis tanaman dalam kehidupan sehari-hari? Baik hanya sebagai suplemen makanan untuk menjaga imunitas maupun sebagai pengobatan untuk indikasi suatu keluhan penyakit? Selama masa pandemi covid-19 ini, penggunaan obat-obatan berbasis tanaman tampaknya semakin menjadi favorit banyak keluarga di Indonesia. Karena meningkatnya minat keluarga Indonesia terhadap penggunaan obat tradisional, mulai banyak juga bermunculan produk obat-obatan tradisional baru di pasaran dengan klaim memiliki berjuta manfaat bagi kesehatan. Tapi tahukah keluarga kejora bahwa sebetulnya agar dapat mengklaim keamanan dan manfaat suatu obat berbasis tanaman itu memerlukan berbagai tahapan proses yang tidak mudah? Walaupun dianggap aman, penggunaan obat tradisional apabila berlebihan dan tidak cermat justru dapat membahayakan kesehatan di kemudian hari. Keluarga Kejora pasti tidak mau menanggung kerugian tersebut di masa depan, kan? Oleh karena itu, yuk kita cari tahu lebih lanjut apa yang harus Keluarga Kejora perhatikan dalam memilih produk obat tradisional agar kesehatan keluarga kejora tetap terjaga!

Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan obat tradisional? Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang biasanya terdiri dari bahan tumbuhan, hewan, mineral, ekstrak atau kombinasi dari bahan-bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan. Di Indonesia, obat tradisional yang memiliki izin edar dari Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan diklasifikasi dalam 3 kategori produk yaitu:

  1. Jamu
    Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, umumnya masih tersedia dalam bentuk serbuk seduhan, dijadikan dalam pil atau cairan dan sudah digunakan secara turun menurun selama bertahun-tahun untuk tujuan kesehatan tertentu. Produk jamu yang memiliki izin edar dari BPOM biasanya memiliki logo lingkaran hijau dengan ranting daun hijau di bagian kemasannya.
  2. Obat Herbal Terstandar (OHT)
    OHT adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam (dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral). Proses produksi OHT dilakukan dengan teknologi maju. Studi khasiat OHT sudah ditunjang oleh pembuktian ilmiah untuk kandungan berkhasiat, memenuhi standar pembuatan esktrak, pembuatan obat tradisional yang higienis dan uji toksisitas. Produk OHT di pasaran biasanya diidentifikasi dengan adanya logo jari-jari daun dalam lingkaran hijau pada bagian kemasannya.
  3. Fitofarmaka
    Fitofarmaka adalah kategori obat tradisional yang paling tinggi, masih tetap berasal dari bahan alam akan tetapi tingkat kualitasnya dapat disejajarkan dengan obat modern kimia karena proses pembutannya telah terstandar, khasiatnya sudah ditunjang adanya bukti ilmiah sampai sudah dilakukan uji klinis pada manusia. Kategori fitofarmaka banyak digunakan di sarana pelayanan kesehatan. Produk kategori fitofarmaka di pasaran biasanya memiliki logo berupa kepingan salju dalam lingkaran hijau.

Tahukah keluarga kejora walaupun obat tradisional itu alami dan terlihat mudah karena berasal dari alam, ternyata pengembangannya tidak mudah, loh. Bahkan faktanya per bulan Maret 2020, tercatat hanya terdapat 62 produk kategori OHT dan 24 fitofarmaka. Oleh sebab itu, kelurga kejora harus tetap cermat ya saat memilih produk obat tradisional. sama seperti memilih obat konvensional, keluarga kejora sangat disarankan hanya memilih produk yang memiliki izin edar dan terdaftar di BPOM agar keamanan dan efektifitasnya terjamin sehingga tidak membahayakan kesehatan, terutama untuk anak-anak. Gunakan produk yang terjamin kandungan kebersihannya dan keamanannya. Sebisa mungkin selalu konsultasikan dengan dokter apabila ayah dan ibu ingin menggunakan obat tradisional untuk anak-anak yah!

Studi yang dilakukan khususnya di negara-negara berkembang, menunjukan bahwa penggunaan obat tradisional itu lebih dipilih dan mengalahkan penggunaan obat-obatan konvensional, bahwa obat tradisional itu 2 sampai 3 tingkat lebih diminati. Umumnya karena harga obat tradisional umumnya jauh lebih murah, akses untuk memperoleh yang jauh lebih mudah, serta banyak orang yang menganggap bahwa tanaman obat atau obat yang berbasis tanaman pasti lebih aman dan resiko efek samping yang merugikan juga lebih rendah daripada obat konvensional. Padahal, faktanya kalau kita tidak hati-hati dan rasional dalam penggunaan obat tradisional juga dapat berdampak negatif atau bahkan memperburuk kondisi kesehatan. Agar tetap aman dalam kondisi obat tradisional keluarga kejora dapat mengikut anjuran dari badan pemeriksaan obat dan makanan saat mengkonsumsi obat tradisional, yaitu:

  • Baiknya dalam penggunaan obat tradisional jangan dilakukan bersamaan dengan obat konvensional
  • Patut waspada apabila saat mengkonsumsi obat tradisional efek yang ditimbulkan cepat karena ada kemungkinan penambahan zat kimia di dalamnya
  • Perhatikan informasi peringatan atau perhatian khususnya apabila ada efek samping yang rentan dengan kondisi kesehatan serta baca aturan pakai sebelum mengkonsumsi obat tradisional.

Nah, setelah mengenal obat tradisional dan mengetahui cara penggunaan obat tradisional yang baik, Keluarga Kejora sudah siap ya untuk lebih cermat dan selektif dalam memilih obat tradisional, baik untuk sekedar menjaga kesehatan atau mengobati keluhan yang dirasakan. Apabila ada anggota keluarga yang sakit, Ayah dan Ibu Kejora ingin menggunakan obat tradisional jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu ya! Selain itu, patuhi pula anjuran dokter dalam penggunaan obat ya!

 

Editor : drg. Rahmatul Hayati (@rahmatulhayati)

 

Sumber:

Materi edukasi tentang peduli obat dan pangan aman, BPOM – 2015

Herbal medicine: current status and the future, Sanjoy Kumar pal, Yogeshwer Shukla (Pal & Shukla, 2002)

Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan No. 32 tahun 2019 tentang persyaratan keamanan dan mutu obat tradisional, BPOM – 2019