Yuk Mengenal Pertumbuhan Janin Terhambat!

 

 

 

 

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

Halo Ibu Kejora!

Apakah Ibu pernah mendengar suatu kondisi yang disebut pertumbuhan janin terhambat (PJT)? PJT, atau dalam Bahasa Inggris disebut Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) ialah suatu keadaan dimana janin mengalami kegagalan mencapai potensi pertumbuhannya. Ini adalah suatu proses yang terjadi didalam kandungan dan ditandai dengan adanya pertumbuhan janin yang tidak sesuai dengan usia kehamilan atau biasanya lebih kecil dari usia kehamilan. PJT dapat terjadi disetiap usia kehamilan, oleh karenanya penting untuk ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara teratur.

Mendeteksi PJT

Ibu, kondisi PJT dapat dideteksi sedari dini bila Ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. Untuk membantu penapisan PJT, beberapa faktor penting yang perlu Ibu perhatikan saat pemeriksaan kehamilan adalah sebagai berikut:

  1. Mengetahui usia kehamilan dengan pasti

Kesalahan mengetahui usia kehamilan dapat berakibat pada kesalahan penentuan taksiran berat janin. USG trimester pertama adalah saat yang paling tepat untuk mengetahui usia kehamilan.

  1. Pertambahan berat badan Ibu

Waspada bila Ibu tidak mengalami kenaikan berat badan pada kunjungan rutin.

  1. Kondisi umum Ibu

Kondisi umum yang perlu diperhatikan termasuk diantaranya adalah tekanan darah tinggi, penyakit metabolik, dan infeksi.

  1. Hasil pemeriksaan USG

Melalui pemeriksaan USG, Ibu dan dokter dapat mengetahui laju pertumbuhan janin dan juga taksiran beratnya, apakah sesuai dengan usia kehamilannya, ataukah lebih besar atau lebih kecil.

Semua bayi dengan berat lahir kecil disebabkan PJT?

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, kondisi PJT dapat menyebabkan ukuran dan berat badan janin tidak sesuai usia kehamilannya. Namun tidak semua bayi yang terlahir kecil disebabkan oleh PJT. Bayi dengan berat lahir kecil dapat dikarenakan hal-hal di bawah ini, seperti:

  1. Bayi prematur atau kurang dari 37 minggu
  2. Bayi kecil masa kehamilan dimana sang bayi memang memiliki kecenderungan proporsi badan yang kecil namun sehat dan bugar
  3. Bayi dengan pertumbuhan janin terhambat
  4. Bayi dengan anomali atau kelainan.

Dari keempat hal di atas, hanya bayi dengan kecil masa kehamilan yang dianggap kondisinya normal.

Seberapa parah PJT?

Sebagai bagian dari usaha penapisan PJT, ada hal-hal penting yang baiknya Ibu tanyakan atau ketahui saat memeriksakan kandungan di dokter. Pada pemeriksaan USG Ibu bisa tanyakan:

  1. Apakah taksiran berat janin sesuai dengan usia kehamilan?
  2. Apakah jumlah air ketuban sesuai dengan usia kehamilan?
  3. Bagaimana laju pertumbuhan janin?
  4. Bagaimana arus darah janin?

Derajat keparahan PJT bervariasi mulai dari ringan hingga berat dan dapat berlangsung pada berbagai usia kehamilan. Pada PJT derajat ringan, dokter akan melakukan evaluasi ketat namun masih dapat dikoreksi tanpa harus melahirkan janin. Namun pada PJT yang berat, janin tidak mendapatkan cukup nutrisi dan oksigen sehingga terjadi suatu keadaan asfiksia dan janin sudah tidak bisa berkompensasi lagi. Kondisi seperti ini biasanya menjadi pertimbangan kuat untuk dilakukan terminasi kehamilan atau persalinan. Kondisi PJT yang berat harus dievaluasi ketat oleh dokter dan juga perlu persiapan support NICU jika ternyata usia kehamilan masih kurang dari 37 minggu. Dengan demikian, bukan hanya dokter kandungan saja yang dibutuhkan tapi juga dokter spesialis anak yang nantinya akan merawat sang bayi.

Jadi, Ibu jangan lupa untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan ya! Tanyakan juga ke dokter mengenai empat hal di atas terkait kesesuaian pertumbuhan janin. Bila janin diketahui mengalami PJT, luangkan waktu lebih untuk berkonsultasi dengan dokter. Semoga Ibu dan janin selalu dalam keadaan baik dan sehat ya!

Editor: dr. Nurul Larasati

Donor ASI

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah ayah dan ibu mengetahui tentang donor ASI? Hal yang sering dibicarakan saat ini, terutama di kalangan keluarga yang baru memiliki bayi atau sedang dalam proses menyusui.

Kontributor Kejora Indonesia, dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC, CIMI, berbagi informasi penting mengenai donor ASI. Sebelum anda memutuskan untuk memberikan ASI atau menjadi donor ASI sebaiknya anda membaca poin di bawah ini.

Apa itu Donor ASI?

Donor ASI merupakan proses berbagi ASI, atau pemberian ASI seorang ibu untuk bayi yang bukan anak biologisnya. Mengapa kegiatan ini sering disebut sebagai donasi / donor ASI (breast milk donation), dan bukan berbagi ASI (breast milk sharing)? Karena ASI adalah cairan tubuh manusia, dan berpotensi membawa penyakit, risiko alergi, dan materi genetik seorang ibu, sehingga dunia kesehatan menempatkan donor ASI setara dengan donor darah. Oleh sebab itu proses donor ASI seharusnya dilakukan melalui proses penapisan dan pemeriksaan seperti layaknya proses donor darah.

Di Indonesia, sampai konten ini diterbitkan, belum ada Bank ASI yang terstandar. Praktik donor ASI yang banyak dilakukan di Indonesia merupakan praktik donor ASI informal melalui jaringan sosial, atau mulut ke mulut.

Meskipun proses informal, ada 4 pilar penting yang perlu diperhatikan dalam proses tukar-menukar atau berbagi ASI:

  1. Persetujuan tindakan

Semua pihak, baik yang memberi ASI (ibu donor) maupun ibu dan bayi dan keluarga penerima (resipien) harus memahami, mengerti, dan secara objektif menilai informasi terkait donor ASI termasuk keuntungan, risiko, konsekuensi medis, psikologis, dan sosiokultural pemberian ASI donor. Hal ini memudahkan para pihak untuk mengambil keputusan yang tepat. Dokter, bidan, konselor laktasi merupakan tenaga profesional yang tepat untuk berkonsultasi sebelum mengambil keputusan untuk donor ASI atau menerima donor ASI.

  1. Penapisan donor

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang ibu donor ASI untuk dapat memberikan ASInya untuk bayi lain. Secara umum, penapisan donor ASI terdiri dari penapisan mandiri, pengkajian kesehatan dan gaya hidup (seperti risiko infeksi HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C, peminum alkohol, merokok, pengguna Narkoba, ataupun sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi), serta pemeriksaan darah untuk penyakit-penyakit yang dapat menular melalui darah (HIV, dan HTLV).

  1. Penanganan yang aman

Penanganan yang aman meliputi kebersihan tangan saat memerah ASI, proses memerah ASI yang baik, kulit ibu donor yang sehat, serta penyimpanan ASI perah yang memadai.

  1. Proses pasteurisasi ASI donor

Semua ASI donor harus melalui proses pasteurisasi untuk memastikan virus dan bakteri yang mungkin terkandung dalam ASI. Proses pasteurisasi ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah dengan cara memanaskan ASI perah sampai suhu tertentu dan mempertahankannya dalam waktu tertentu. Pasteurisasi Holder memanaskan ASI perah dalam suhu 62.5°C selama 30 menit. Pasteurisasi pemanasan kilat (flash heating) menempatkan ASI perah pada suhu 72°C selama beberapa detik.

Demikian informasi mengenai donor ASI Keluarga Kejora, semoga bermanfaat terutama bagi anda yang sedang memiliki rencana untuk mencari donor ASI.

Editor: drg. Annisa Sabhrina

Referensi

The Four Pillars of Safe Breast Milk Sharing by Shell Walker and Maria Armstrong, from Midwifery Today (2012), 101, 34-37
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/donor-asi

Konsumsi Probiotik untuk Ibu Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Setiap Ibu pasti ingin memberikan nutrisi terbaik bagi bayinya. Tentunya, nutrisi yang terbaik ini bukan hanya dimulai dari makanan pertama bayi, namun juga sudah dimulai sejak masa kehamilan. Dari berbagai jenis makanan dan suplemen yang dipasarkan dengan manfaat kesehatan, probiotik sudah banyak diketahui bermanfaat untuk kesehatan saluran cerna. Makanan dan minuman yang mengandung probiotik semakin banyak dapat kita temukan di berbagai toko, supermarket, atau tempat perbelanjaan daring. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kimchi, kombucha, yogurt, kefir sudah semakin banyak diproduksi oleh home-industry maupun pabrik dan mudah didapatkan.

Nah, bagaimana dengan manfaat konsumsi probiotik selama kehamilan? Apakah probiotik yang berupa bakteri ini aman untuk dikonsumsi selama kehamilan?

Berdasarkan National Library of Medicine (NLM) dan National Institute of Health (NIH), probiotik mungkin aman selama kehamilan. Probiotik tidak bisa dikatakan aman secara pasti karena terdapat banyak sekali variasi probiotik dan penelitan yang masih terbatas. Secara umum, probiotik dikatakan aman untuk dikonsumsi karena suplementasi probiotik ini jarang diabsorpsi. Kemungkinan terjadinya infeksi dari probiotik ini dikatakan sangat kecil,  sekitar 1 banding 1 juta orang (kemungkinan infeksi Lactobacillus), dan 1 banding 5.6 juta orang yang mengonsumsi probiotik. Konsumsi probiotik juga tidak terbukti menyebabkan keguguran, kelainan janin, berat badan janin rendah atau dibutuhkannya operasi Caesar.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang secara alami terdapat sepanjang saluran cerna kita, dengan mayoritas berupa bakteria dan ragi. Berbagai penelitian menemukan bahwa jumlah mikroorganisme yang terdapat di seluruh tubuh kita sepuluh kali lipat lebih banyak daripada jumlah sel tubuh kita. Apa saja fungsi probiotik ini? Probiotik dapat membantu menghentikan diare akibat infeksi maupun antibiotik, mencegah keluhan sembelit, membantu mengatasi irritable bowel syndrome dan inflammatory bowel disease. Selama kehamilan, mikroorganisme yang mempengaruhi kesehatan bayi bukan hanya ditentukan oleh probiotik dalam saluran cerna ibu, namun juga pada probiotik yang berasal dari kulit, vagina dan ASI.  Walaupun saat ini mekanisme transfer probiotik dari ibu ke bayi ini masih diperdebatkan (apakah terjadi selama janin masih berada dalam kandungan atau setelah bayi dilahirkan), namun periode kehamilan adalah saat pertama probiotik ibu dapat mempengaruhi imunitas janin.

Mikroorganisme dari Ibu akan diberikan kepada bayi melalui proses kelahiran, air susu ibu (ASI), dan nantinya dari jenis makanan yang diberikan selama tumbuh kembang.

Probiotik yang berada dalam saluran cerna berhubungan dengan sistem imun. Probiotik bersifat anti-inflamasi atau anti radang dan mendukung sistem imun dalam kehamilan. Suplementasi probiotik selama kehamilan juga meningkatkan sel-sel imun dalam ASI, sehingga sel imun ini akan diturunkan kepada bayi, dan membentuk koloni bakteri baik dalam sistem pencernaan bayi tersebut. Dalam sebuah penelitian awal, probiotik yang dikonsumsi ibu hamil berhubungan dengan penurunan risiko pre-eklampsia dan kelahiran bayi prematur.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa probiotik mungkin aman selama kehamilan dan dapat dikonsumsi karena memberikan manfaat yang banyak sekali bagi ibu hamil dan bayi selama di masa kandungan.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Keluarga Kejora. Salam sehat selalu!

 

Lenting pada anak: Herpes atau bukan?

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Hai Ayah Ibu Kejora!

Topik kali ini adalah meembahas mengenai lenting pada anak. Akhir – akhir ini sering kali Ayah dan Ibu Kejora mungkin risau dengan munculnya lesi di kulit anak ini merupakan infeksi Herpes atau bukan.

Oleh karena itu kali ini kita akan mengenal lebih jauh mengenai infeksi herpes dan apa bedanya dengan lesi lenting lain yang mirip dengan infeksi herpes.

 

Apa itu virus Herpes?

Virus herpes simpleks (HSV), adalah infeksi yang menyebabkan herpes. Kondisi ini dapat menyebabkan anak memiliki luka di mulut dan area wajah lainnya.
Terdapat dua jenis virus herpes simpleks, di antaranya adalah:

  • HSV-1: Virus ini menyebabkan luka di sekitar mulut dan wajah. Sering terjadi pada anak dan orang dewasa.
  • HSV-2: Virus ini dapat menyebabkan luka genital, menular lewat hubungan seksual.

Ada juga jenis herpes lain, yaitu herpes zoster atau cacar ular. Herpes zoster biasanya terjadi pada anak yang pernah mengalami cacar. Virus cacar atau varisela zoster dapat kambuh kembali ketika daya tahan tubuh turun, namun hanya menimbulkan gejala di satu area tubuh dan biasanya hanya satu sisi. Berbeda dengan herpes simpleks, herpes zoster dapat terjadi dibagian tubuh manapun, termasuk area wajah, kepala, badan dan ekstremitas.

 

Bagaimana ciri-ciri herpes pada anak?

Herpes biasanya menimbulkan keluhan lenting berisi air yang terasa perih atau panas. Kadang diawali dengan kulit terasa perih dan kemerahan, baru kemudian muncul lenting berisi air.

Lenting biasanya pecah atau mengering menjadi luka dalam 1-2 minggu. Penyakit herpes biasanya dapat sembuh sendiri. Meski demikian, apabila penanganannya tidak tepat, seringkali terjadi infeksi bakter pada luka tersebut, sehingga menyebabkan bekas luka menjadi kehitaman, jaringan parut atau bopeng.

 

Bagaimana herpes pada anak menyebar?

Virus herpes simpleks dapat menular dari orang ke orang melalui kontak langsung. Herpes pada anak atau yang secara umum disebut dengan herpes simpleks merupakan infeksi virus yang sangat menular. HSV-1 merupakan virus yang rentan menyerang anak-anak yang ditularkan dari orang dewasa yang terinfeksi. Virus ini dapat menyebar melalui air liur, kontak dari kulit ke kulit, atau dengan menyentuh suatu benda yang telah terjangkiti virus.

 

Apakah herpes bisa berulang?

Setelah seorang anak terinfeksi virus herpes simpleks, virus akan menjadi tidak aktif dan bersembunyi di jaringan saraf tepi. Virus ini dapat muncul kembali pada saat sistem kekebalan tubuh menurun atau iritasi pada kulit yang dapat disebabkan oleh faktor lain. Namun rekurensi sangat bervariatif, ada anak yang tidak pernah mengalami kekambuhan, ada yang mengalami kekambuhan dalam beberapa bulan sampai tahun.

Beberapa faktor pemicu kekambuhan lesi herpes adalah:

  • Kelelahan dan stres
  • Paparan sinar matahari yang intens, panas,
  • Udara dingin, atau kering
  • Luka atau kerusakan pada kulit
  • Penyakit lain, seperti flu atau batuk pilek
  • Dehidrasi dan diet yang buruk
  • Hormon yang berfluktuasi (misalnya, selama periode menstruasi remaja, dll)

 

Apa yang harus dilakukan kalau anak mengalami lesi kulit seperti herpes?

Lesi khas herpes adalah lenting berisi air di area tertentu. Seringkali sulit membedakan antara herpes dengan kondisi kulit lain yang menyebabkan lenting berisi air seperti dermatitis venenata, infeksi bakterti atau impetigo, dermatitis kontak iritan, alergi obat, infeksi jamur dan lain-lain.

 

Hindari mendiamkan lesi kulit tersebut pada anak atau mengobati sendiri dengan bahan dapur atau membeli obat salep sendiri di apotek. Sebaiknya apabila curiga anak mengalami herpes, konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin, agar mendapat penanganan yang tepat dan tidak menimbulkan komplikasi. Obat herpes yang utama adalah antivirus oral, dan sebaiknya diberikan dalam 72 jam pertama ada keluhan. Karena itu sebaiknya tidak menunda untuk berkonsultasi ke dokter.
Sebelum berkonsultasi dengan dokter kulit dan kelamin, yang bisa dilakukan orang tua adalah:

 

Mencegah penularan atau rekurensi

  • Biasanya anak tertular dari orang dewasa atau anak lain yang sedang mengalami herpes juga. Jangan mencium anak apabila orang tua sedang memiliki lesi aktif.
  • Anak tidak boleh berbagi minuman atau peralatan, handuk, pasta gigi, atau barang lainnya untuk menghindari penyebaran infeksi
  • Penularan terutama dengan kontak kulit, apabila tidak yakin anak bisa menghindar kontak kulit selama ada lesi herpes, sebaiknya tidak usah beraktivitas di luar rumah.

 

Cara meringankan gejala

  • Berikan kompres dingin atau air bersih pada luka untuk mengurangi rasa perih.
  • Tetap bersihkan area yang mengalami luka/lenting dengan air dan sabun saat mandi
  • Usahakan agar anak tidak menggaruk atau mengelupas lenting atau luka. Hal ini bisa memicu infeksi bakteri di luka tersebut.

Referensi

  • SH James and RJ Whitley. Treatment of Herpes Simplex Virus Infections in Pediatric Patients: Current Status and Future Needs. Clin Pharmacol Ther. 2010 Nov; 88(5): 720–724.
  • Klatte, JM. Pediatric Herpes Simplex Virus Infection. https://emedicine.medscape.com/article/964866-overview

Penanganan Luka Jatuh Mandiri Di Rumah

 

oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah buah hati Ayah dan Ibu Kejora pernah mengalami luka jatuh saat berada di rumah? Lalu apa yang Ayah dan Ibu lakukan?

Luka dapat terjadi karena kecorobohohan, ketidaksengajaan, ketidakhatian dan kecelakaan manusia. Menurut US National Inpatient Sample 2012, jatuh adalah penyebab pertama kecelakaan yang menyebabkan perawatan di rumah sakit pada usia 0-14 tahun. Luka jatuh di rumah dapat terjadi karena buah hati terjatuh dari furnitur atau saat bermain di playground.

Sumber gambar: National Inpatient Sample, 2012. Healthcare Utilization Project. Agency for Healthcare Research and Quality

 

Definisi Luka
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh atau rusaknya kesatuan/komponen jaringan.

Berdasarkan mekanisme terjadinya, luka dibagi atas:

1. Luka gores (lacerated wound)*; terjadi akibat benda tajam seperti karena goresan kaca atau kawat.

2. Luka lecet (abraded wound)*; terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.

3. Luka tembus (penetrating wound); luka yang menembus organ tubuh dan biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung lukanya melebar.

4. Luka memar (contusion wound)*; terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak.

5. Luka tusuk (punctured wound); terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau, yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.

6. Luka bakar (combustio)
7. Luka gigitan dan sengatan serangga
*biasa terjadi di luka jatuh

 

Pertolongan Pertama Luka Jatuh

Pada masa pandemi seperti sekarang ini, banyak orang tua yang khawatir untuk membawa buah hatinya ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. Demikian pula jika anak mengalami luka jatuh sehingga oran tua bingung harus melakukan apa. Padahal, tidak semua luka jatuh perlu di bawa ke rumah sakit dan bisa dirawat oleh Ayah dan Ibu sendiri di rumah.
Hal-hal yang bisa dilakukan jika buah hati Ayah dan Ibu Kejora mengalami luka jatuh di antaranya:

  1. Jangan panik, bawa buah hati ke tempat aman dan tenangkan
  2. Atasi perdarahan dengan memberikan penekanan terus menerus selama lebih kurang 5 menit dengan kain kering yang bersih
  3. Berikan antinyeri secara simultan
  4. Bersihkan luka dengan air mengalir, bila memungkinkan dapat gunakan sabun bayi atau povidone iodine yang diencerkan
  5. Balut
  6. Kompres

 

Cara Memilih Balutan

Memilih balutan harus disesuaikan dengan jenis lukanya ya, Ayah dan Bunda.

1. Luka Gores

Prinsip balutan pada luka gores:

  • Mendekatkan tepi luka semaksimal mungkin dengan bantuan sterile strip/hypoallergenic tape
  • Menjaga suasana area luka menjadi lembab agar kondusif untuk prnyembuhan. Balutan harus dapat menyerap bila luka diprediksi akan basah atau memberi kelembaban bila luka kering.
    Contoh: penggunaan tulle-kassa-plester
    .

 

2. Luka Lecet

Bersihkan luka dengan lebih adekuat. Selama 2-3 hari pertama akan eksudatif sehingga lebih baik menggunakan tulle dan kassa lalu fiksasi dengan plester. Setelah 3 hari, oles salep sampai tulle lepas dengan sendirinya. Selain itu dapat juga digunakan hydrocolloid

hydrocolloid

3. Luka Memar

Penanganan luka memar yaitu dengan heparin topikal.

Balutan diganti apabila:

  • Kotor
  • Berbau tidak sedap
  • Lepas atau longgar
  • Demam tanpa alasan lain yang jelas
  • Tidak lebih dari 5 hari karena dapat menyebabkan kolonisasi kuman

 

Tanda Bahaya Jatuh

Apabila buah hati Ayah dan Ibu jatuh dan mengalami gejala-gejala di bawah ini, maka sebaiknya Ayah dan Ibu membawa buah hati segera ke rumah sakit. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Kejang
  • Mata juling
  • Meracau
  • Muntah berulang
  • Penglihatan berkurang
  • Tidak sadarkan diri
  • Tidur lama atau sulit dibangunkan
  • Bagian tubuh tidak dapat digerakkan dan nyeri hebat
  • Perdarahan yang sulit dihentikan
  • Perlu penjahitan; terutama jika luka pada area wajah, sendi, luka di area tidak longgar atau memiliki risiko terbentuk jaringan parut berlebih.

 

Ayah dan Ibu dapat melakukan pengawasan selama 2-3 hari.

Referensi:
Theddeus O.H Prasetyono, Panduan Klinis Manajemen Luka. ECG, Jakarta, 2016.
National Inpatient Sample, Healthcare Utilization Project. Agency for Healthcare Research and Quality. 2012

Mengenal Tanda-tanda Permasalahan Psikologis pada Buah Hati

oleh Mellissa Catalina Trisnadi, M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora pasti ingin dapat melindungi dan memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Ayah dan ibu juga akan berusaha sebaik mungkin memenuhi kebutuhan buah hati. Apabila buah hati jatuh dan luka, ayah dan ibu berusaha untuk mengobati lukanya. Apabila buah hati demam atau mengalami gejala-gejala fisik yang membuat buah hati tidak nyaman, ayah dan ibu akan membawanya ke dokter. Ketika buah hati bahagia, ayah dan ibu pun akan merasa bahagia.

Luka akibat terjatuh atau munculnya gejala-gejala fisik memang jauh lebih mudah dikenali. Namun, sering kali luka emosi yang buah hati alami cenderung sulit dideteksi ayah dan ibu. Luka emosi ini dapat disebabkan karena tekanan emosional seperti masalah dengan orang tua, teman-teman, guru atau pun tekanan dari tuntutan akademis. Buah hati kita terkadang tidak menyadarinya dan gejala yang muncul pun beragam. Gejala penyakit fisik juga bisa muncul akibat permasalahan emosi atau psikologis tertentu.

Apa yang Ayah dan Ibu Kejora perlu perhatikan untuk mengenali luka psikologis ini? Tanda-tanda tertentu dapat menjadi alarm apakah buah hati kita perlu penanganan lebih lanjut secara professional ke psikolog, di antaranya:

  1. Buah hati mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah
  2. Muncul perilaku agresif pada buah hati, seperti memukul ataupun menyakiti orang lain, baik secara fisik atau pun verbal
  3. Mencoba untuk menyakiti diri sendiri atau melakukan perilaku berulang seperti menarik rambut atau menggigit kuku.
  4. Menghindari kontak sosial dengan teman atau keluarga
  5. Mengalami perubahan mood tanpa penyebab yang jelas
  6. Mengalami perasaan takut atau perasaan lainnya yang ekstrem
  7. Merasa lelah dan tidak memiliki motivasi untuk melakukan aktivitas
  8. Sulit berkonsentrasi
  9. Sulit tidur dan mengalami mimpi buruk
  10. Buah hati banyak mengeluhkan sakit fisik
  11. Buah hati tidak memedulikan/mengabaikan penampilan fisiknya
  12. Terlalu terobsesi dengan berat dan bentuk badan serta penampilan
  13. Perubahan perilaku makan yang terlalu berlebih atau tidak nafsu makan

 

Jika tanda-tanda tersebut tampak pada buah hati Ayah dan Ibu Kejora, jangan panik dan menyalahkan diri sendiri ya. Hadapilah bersama dan lakukan hal berikut ini:

  1. Bicara terbuka pada buah hati bahwa ia perlu mendapat penanganan khusus dari psikolog.
  2. Cari informasi mengenai tenaga profesional/psikolog anak yang dapat membantu ayah dan ibu menangani permasalahan psikologis buah hati
  3. Berikan informasi sejelas mungkin pada buah hati mengenai apa saja yang akan dilalui bersama
  4. Bangun kembali kepercayaan dengan anak dan ayah serta ibu akan selalu ada bersama mereka
  5. Aktif berkonsultasi dengan psikolog karena proses terapi akan berjalan dengan baik apabila orang tua juga terlibat di dalamnya
  6. Hargai setiap perubahan-perubahan kecil dari proses terapi yang sedang dilakukan buah hati dan jangan patah semangat

 

Keterbukaan dan kebersamaan sebagai sebuah keluarga dalam menghadapi pengalaman yang sulit akan lebih meringankan beban ayah dan ibu. Ayah dan ibu juga dapat mencari support system untuk saling menguatkan satu sama lain. Mungkin di depan ayah dan ibu akan menemui banyak tantangan namun bukan berarti tidak dapat dilalui bersama.

 

Referensi:

Douglas, Ann. Parenting Through the Storm: Find Help, Hope, and Strength When Your Child Has Psychological Problems. New York: Guilford Press, 2016.

World Heart Day 2020: Use Heart to Beat Heart Disease

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, Keluarga Kejora!
Tanggal 29 September diperingati sebagai World Heart Day (WHD) atau Hari Jantung Sedunia, sebuah kampanye global untuk meningkatkan kesadaran akan penyakit kardiovaskular yang hingga saat ini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Tahukah Ayah dan Ibu Kejora bahwa proses penumpukan lemak di dinding pembuluh darah arteri sudah dapat dimulai sejak masa kanak-kanak dan dapat berdampak serius pada kehidupan dewasa mereka?

Dan tahukah Anda bahwa risiko penyakit kardiovaskular ini dapat dicegah dan diturunkan dengan cara menerapkan gaya hidup sehat?
Sesuai dengan kampanye Hari Jantung Sedunia tahun ini yaitu:

Mari menjadi bagian dalam memerangi penyakit kardiovaskular dengan menerapkan beberapa strategi di bawah ini, dimulai dari lingkaran terdekat kita, yaitu keluarga tercinta.

1. Stop rokok
Bahan kimia yang terkandung dalam rokok / tembakau dapat merusak jantung dan pembuluh darah Anda. Asap rokok mengurangi oksigen dalam darah, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung karena jantung Anda harus bekerja lebih keras untuk memasok cukup oksigen ke seluruh tubuh. Menurut penelitian, risiko penyakit jantung mulai menurun sehari setelah berhenti merokok. Setelah setahun tanpa rokok, risiko penyakit jantung turun menjadi setengah dari risiko perokok. Tidak peduli berapa lama atau berapa banyak Anda merokok, Anda akan mulai menuai hasilnya segera setelah berhenti.

2. Aktif bergerak
Aktivitas fisik harian yang teratur membantu Anda mengontrol berat badan dan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kondisi lain yang dapat membebani jantung, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan diabetes mellitus. American Heart Associations memberikan pedoman aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan berdasar pada bukti ilmiah terkini;
Rekomendasi aktivitas fisik untuk dewasa:

  • Lakukan aktivitas aerobik intensitas sedang sedikitnya 150 menit per minggu atau aktivitas aerobik berat (intensitas tinggi) sebanyak 75 menit per minggu, atau kombinasi keduanya
  • Tambahkan latihan beban atau resistensi (weight resistance training) setidaknya dua sesi per minggu
  • Kurangi waktu duduk
  • Dapatkan lebih banyak manfaat dengan menjadi aktif setidaknya 300 menit (5 jam) per minggu

Rekomendasi untuk anak – anak:

  • Anak – anak berusia 3 – 5 tahun harus aktif secara fisik dan memiliki banyak kesempatan untuk bergerak sepanjang hari
  • Anak – anak berusia di atas 5 tahun harus mendapatkan setidaknya 60 menit per hari aktivitas fisik intensitas sedang hingga tinggi. Durasi ini dapat dibagi menjadi dua (@ 30 menit) hingga tiga (@ 20 menit) periode sepanjang hari

Tetapkan batasan dalam menonton TV, penggunaan komputer dan gawai dalam menerapkan kebiasaan bergerak secara aktif. Hindari makanan sebagai hadiah (reward) atas prestasi anak; sebaliknya, rencanakan aktivitas fisik yang akan mereka nikmati.

Apabila Anda belum dapat memenuhi pedoman tersebut, jangan menyerah. Anda tidak harus berolahraga keras untuk mendapatkan manfaat, tetapi Anda dapat melihat manfaat yang lebih besar dengan meningkatkan intensitas, durasi, dan frekuensi latihan secara bertahap seiring waktu. Bagi anggota keluarga dengan penyakit jantung atau kondisi khusus lainnya, konsultasikan dengan dokter Anda sebelum memulai program berolahraga.

3. Terapkan pola makan sehat
Pola makan yang sehat dapat membantu melindungi jantung Anda, melindungi dari peningkatan tekanan darah dan kolesterol, serta mengurangi risiko diabetes tipe 2.

Makanan yang direkomendasikan antara lain: sayur dan buah yang bervariasi, kacang – kacangan, daging dan ikan tanpa lemak, makanan olahan susu yang rendah lemak atau bebas lemak, karbohidrat kompleks, dan lemak baik (contoh: minyak zaitun, alpukat).

Sedangkan yang harus dibatasi yaitu: garam, gula, alkohol, processed foods, lemak jenuh (daging merah dan makanan olahan susu full fat) dan lemak trans (makanan cepat saji, keripik).

Kemenkes Republik Indonesia memiliki panduan piring makan gizi seimbang; yaitu:

  • ½ dari piring makan terdiri dari sayuran dan buah
  • ¼ dari piring makan dipenuhi dengan biji – bijian utuh dari beras, gandum, atau pasta
  • ¼ dari piring makan diisi dengan protein

Bagaimana dengan piring makan Keluarga Kejora? Apakah sudah mendekati panduan piring makan yang telah direkomendasikan? 😉

4. Jaga Berat Badan Ideal
Salah satu cara untuk mengetahui apakah berat badan Anda sehat adalah dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT). IMT > 25 dianggap kelebihan berat badan dan umumnya dikaitkan dengan kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke.

Lingkar pinggang juga bisa menjadi alat yang berguna untuk mengukur seberapa banyak lemak perut yang Anda miliki. Risiko penyakit jantung Anda lebih tinggi jika ukuran pinggang Anda lebih besar dari 40 inci (101.6 cm) untuk pria dan 35 inci (88.9 cm) untuk wanita.

Penurunan berat badan sekecil 3 – 5 % dapat membantu menurunkan trigliserida, menurunkan kadar glukosa, dan mengurangi risiko diabetes. Penurunan berat badan lebih banyak dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah Anda.

5. Tidur yang Berkualitas
Orang yang kurang tidur memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas, tekanan darah tinggi, serangan jantung, diabetes, dan depresi. Tetapkan jadwal tidur dan patuhi dengan pergi tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari. Jagalah agar kamar tidur tetap gelap dan tenang, agar lebih mudah untuk tidur. Jika Anda merasa sudah cukup tidur tetapi masih lelah sepanjang hari, tanyakan kepada dokter apakah Anda perlu dievaluasi untuk memiliki obstructive sleep apnea (OSA), suatu kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Tanda – tanda OSA termasuk mendengkur keras, berhenti bernapas untuk waktu yang singkat selama tidur dan bangun terengah – engah.

6. Kelola Stres dan Emosi
Beberapa orang mengatasi stres dengan cara yang tidak sehat – seperti makan berlebihan, konsumsi alkohol, atau merokok. Menemukan cara alternatif untuk mengelola stres – seperti aktivitas fisik, latihan relaksasi atau meditasi – dapat membantu meningkatkan kesehatan Anda.

7. Lakukan pemeriksaan secara berkala
Kita telah mengetahui tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi mempercepat proses kerusakan jantung dan pembuluh darah. Tetapi tanpa pemeriksaan, Anda mungkin tidak akan tahu apakah Anda memiliki kondisi ini. Pemeriksaan berkala dapat memberi tahu keadaan tubuh Anda dan apakah perlu diambil tindakan selanjutnya.

  • Tekanan darah
    Mulai usia 18 tahun, tekanan darah Anda harus diukur setidaknya sekali setiap dua tahun. Jika Anda berusia 40 tahun ke atas, atau usia antara 18 – 39 tahun dan memiliki faktor risiko hipertensi, sebaiknya skrining tekanan darah dilakukan setahun sekali.
  • Kadar kolesterol
    Orang dewasa umumnya memeriksa kadar kolesterol mereka setidaknya sekali setiap empat hingga enam tahun. Skrining kolesterol biasanya dimulai pada usia 20, atau lebih awal apabila terdapat faktor risiko lain, seperti riwayat keluarga penyakit jantung yang menyerang lebih awal.
  • Skrining diabetes mellitus
    Jika berat badan Anda normal dan Anda tidak memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, skrining disarankan dimulai pada usia 45, dengan tes ulang setiap tiga tahun. Namun jika Anda memiliki faktor risiko diabetes, pemeriksaan lebih awal sangat direkomendasikan.

Menerapkan pola hidup sehat merupakan target jangka panjang yang sebaiknya dilakukan seumur hidup. Perubahan kecil namun konsisten akan memberikan dampak yang berkelanjutan dan terhindar dari fenomena rebound (kembali ke titik awal).

Anak – anak merupakan peniru ulung. Memberikan contoh kebiasaan hidup sehat merupakan sebuah investasi besar terbaik yang dapat kita berikan bagi mereka dan generasi mendatang. Berapapun usia Anda saat ini, tidak pernah ada kata terlambat atau bahkan terlalu dini untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Masa pandemi ini merupakan saat terbaik untuk memulai perubahan gaya hidup sehat, karena seluruh strategi di atas tentunya dapat meningkatkan kekebalan tubuh kita dari berbagai penyakit lain.

Semoga Keluarga Kejora selalu dalam keadaan sehat, ya.

Referensi:

  1. Mayo Clinic. Strategies to Prevent Heart Disease. Diunduh dari: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heart-disease/in-depth/heart-disease-prevention/art-20046502
  2. American Heart Association Recommendations for Physical Activity in Adults and Kids. Diunduh dari: https://www.heart.org/en/healthy-living/fitness/fitness-basics/aha-recs-for-physical-activity-in-adults
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/

Kesehatan Saluran Cerna Anak

 

 

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Keluarga Kejora! Pernahkah Ayah dan Ibu bertanya apa ada fungsi lain dari saluran cerna kita selain untuk mencerna makanan? Nah, ternyata ada lho! Ayah dan Ibu pasti sudah tahu bahwa saluran cerna memiliki fungsi mengolah dan mencerna makanan yang kita makan, membantu proses penyerapan nutrisi yang baik bagi tubuh, dan mengolah sisa makanan yang tidak dapat dicerna dalam bentuk feses. Namun, selain berfungsi untuk pencernaan dan penyerapan, ternyata 80% sistem kekebalan tubuh manusia terdapat di saluran cerna. Maka dari itu, saluran pencernaan merupakan sistem imun paling besar.

Gangguan pada saluran cerna bisa menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi sehingga tumbuh kembang anak tidak optimal, anak menjadi rentan sakit karena imun yang rendah, perilaku anak menjadi lebih agresif, dan bisa menyebabkan gangguan mood pada anak.

Ciri-ciri saluran cerna yang sehat pada anak adalah nafsu makan anak baik, nutrisi yang masuk dapat terserap dengan baik, pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan yang direkomendasikan, buang air besar teratur, kekebalan tubuh baik, mood dan suasana hati stabil, dan kulit anak tampak cerah dan sehat.

Salah satu cara untuk menjaga kesehatan saluran cerna adalah dengan memastikan jumlah mikrobiota baik dalam saluran cerna anak lebih banyak dibandingkan mikrobiota yang jahat. Di saluran cerna terdapat lebih dari 100.000 miliar mikroorganisme termasuk bakteri, virus, dan jamur yang kita kenal dengan mikrobiota usus. Perbandingan jumlah mikrobiota usus yang baik dengan yang jahat untuk menjaga kesehatan saluran cerna adalah 80% : 20%.

 

Perkembangan saluran cerna
Saluran cerna mulai berkembang sejak dari kandungan ibu. Setelah lahir, perkembangan saluran cerna dibagi menjadi beberapa fase:

  • Fase 1 dimulai 1-2 minggu setelah lahir
  • Fase 2 merupakan masa pemberian ASI untuk perkembangan
  • Fase 3 adalah fase pengenalan makanan lunak dan pengurangan frekuensi ASI
  • Fase 4 merupakan masa peralihan ke makanan dewasa
  • Fase 5 merupakan fase saluran cerna anak sudah matang seperti saluran cerna dewasa

Bila terjadi gangguan proses perkembangan saluran cerna ini, maka penyakit-penyakit pada saluran cerna dapat timbul.

ASI memiliki peran pada perkembangan saluran cerna di fase 1 dan 2. ASI berperan dalam membantu perkembangan mikroflora usus, pertumbuhan dan perkembangan fungsi pelindung, dan sistem imun dari saluran cerna. Kandungan laktoferin, oligosakarida dan imunoglobulin mencegah pertumbuhan bakteri jahat di saluran cerna, memberikan antibodi dan enzim yang baik untuk saluran cerna bayi, dan membantu mempercepat proses pematangan saluran cerna terutama pada bayi-bayi prematur.

 

Pembentukan mikrobiota usus pada bayi

Pembentukan mikrobiota usus berbarengan dengan proses perkembangan saluran cerna. Mikrobiota usus sudah mulai terbentuk sejak masih dalam kandungan dan berlanjut sampai 18 bulan dan 3 tahun setelah lahir.

Salah satu faktor yang memengaruhi komposisi mikrobiota usus pada bayi adalah metode persalinan. Bayi yang lahir secara normal akan mendapatkan mikroba yang kaya dengan Lactobacillus selama hari pertama kehidupan, jenis bakteri yang berbeda didapatkan oleh bayi yang lahir secara sectio cesaria.

Faktor lainnya adalah diet (ASI vs susu formula dan MPASI). ASI mengandung 107 sel bakteri/800 ml termasuk Lactobacillus dan Bifidobacterium yang merupakan bakteri baik untuk bayi. Selain itu ASI juga mengandung Human milk oligosaccharides (HMOs) yang merupakan sumber makanan bagi mikrobiota usus.

Penggunaan antibiotik, faktor genetik, dan lingkungan juga diketahui memengaruhi komposisi mikrobiota usus.

 

Cara meningkatkan kesehatan saluran cerna anak

Beberapa cara untuk meningkatkan kesehatan saluran cerna pada anak adalah:

    1. Perkenalkan anak dengan makanan yang mengandung banyak bakteri baik, contohnya makanan yang difermentasi seperti keju, tahu dan tempe.
    2. Berikan makanan yang banyak mengandung serat.
    3. Hindari makanan yang mengandung terlalu banyak gula.
    4. Hindari pemberian makanan kaleng dan siap saji (junk food).
    5. Hindari penggunaan antibiotik tanpa resep dokter.
    6. Jangan takut untuk membiarkan anak bermain di kebun dan dengan binatang.

Ayo, Ayah dan Ibu, kita jaga kesehatan saluran cerna anak-anak agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Pemeriksaan Penunjang dalam Diagnosis Alergi


 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, keluarga Kejora! Topik bahasan kali ini adalah mengenai pemeriksaan laboratorium yang dapat diminta oleh dokter untuk memastikan diagnosis alergi pada anak. Apa saja pemeriksaan laboratorium yang dimaksud? Seperti apa pemeriksaannya?

Alergi merupakan reaksi peradangan berlebihan sebagai respon kekebalan tubuh terhadap suatu allergen (bahan penyebab alergi). Alergi ini hnya muncul pada individu yang mengalami hipersensitivitas terhadap alergen. Penyebab alergi berbeda-beda pada setiap orang, dapat berupa alergi terhadap makanan, obat-obatan, serbuk sari, dan lain-lain. Gejala klinis alergi juga bervariasi antar individu, dapat berupa ruam kemerahan disertai gatal, mata merah dan berair ketika terpapar alergen, batuk dan pilek, dan lain-lain.

Dalam mendiagnosis alergi, selain dari riwayat dan pemeriksaan fisik, dokter mungkin membutuhkan pemeriksaan tambahan, seperti kadar IgE dalam darah, uji tusuk (skin prick test), uji suntik intradermal, dan uji tempel. IgE merupakan antibodi yang dibentuk oleh tubuh sebagai respon terhadap alergen. Pada individu yang mengalami alergi, kadar IgE dalam darah akan meningkat. Kadar IgE ini dapat diukur secara jumlah total dalam tubuh (kadar IgE total) atau secara spesifik (kadar IgE spesifik). Pada pemeriksaan kadar IgE spesifik, diperiksa kadar IgE terhadap alergen tertentu.

Selain pemeriksaan kadar IgE, uji tusuk juga dapat dibutuhkan untuk mengetahui penyebab alergi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meneteskan cairan yang mengandung alergen yang diperiksa pada kulit (biasanya dilakukan pada kulit lengan bawah). Setelah itu, kulit yang sudah diteteskan akan ditusuk dengan jarum kecil, sehingga alergen dapat masuk ke bawah permukaan kulit. Kulit akan dibiarkan selama 15-20 menit dan dievaluasi tanda alergi yang muncul. Pada pemeriksaan ini, biasanya dilakukan pemeriksaan alergi terhadap beberapa alergen sekaligus.

Gambar 1. Uji tusuk (skin prick test)

Serupa dengan uji tusuk, evaluasi alergi dapat dilakukan dengan melakukan penyuntikkan alergen secara intradermal. Setelah itu, ditunggu selama 15 menit dan dievaluasi reaksi alergi yang timbul. Kekurangan uji ini adalah dapat menyebabkan reaksi sistemik, sehingga uji ini lebih jarang dilakukan dibandingan dengan uji tusuk.

Pemeriksaan penunjang diagnosis alergi lainnya adalah uji tempel, terutama untuk evaluasi dermatitis kontak. Dermatitis kontak merupakan reaksi alergi yang timbul karena kontak dengan bahan tertentu. Uji tempel ini dilakukan dengan menempelkan plester yang mengandung alergen pada punggung. Evaluasi reaksi alergi dilakukan 48 jam setelah penempelan plester alergen. Selama 48-72 jam tersebut, pasien dianjurkan untuk tidak mandi atau berolahraga agar tidak berkeringat berlebihan.

Semoga pembahasan di atas membuat Ayah dan Ibu memiliki gambaran yang lebih baik tentang pemeriksaan penunjang untuk evaluasi alergi. Semoga bermanfaat!

Pilihan MP-ASI Pertama Untuk Si Kecil

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!
Ketika si Kecil sudah memasuki usia 6 bulan, berarti saatnya makan ya! Kita semua pasti sudah paham bahwa pemberian MP-ASI memang harus dimulai saat si Kecil masuk usia 6 bulan dan dapat diberikan lebih cepat pada kondisi khusus dan harus sudah atas pertimbangan dari dokter.

Ayah dan Ibu, ketika akan memulai MP-ASI seringkali kita khawatir apa yang kira-kira bisa diterima oleh si Kecil. Kalau dulu seringkali kita mendengar istilah menu MP-ASI tunggal, yang artinya bayi hanya diberikan satu jenis makanan terus-menerus selama sekitar 2 minggu. Sementara sebenarnya hal ini sudah tidak direkomendasikan lagi. Justru WHO menyarankan menu campuran sejak usia 6 bulan yang terdiri beraneka ragam sumber makanan agar kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi, terutama zat besi yang memang kadarnya dalam ASI sudah jauh berkurang sehingga harus dipenuhi dari MP-ASI.

Pada tahap awal ini, biasanya si Kecil diberikan makanan lumat. Makanan lumat di sini adalah makanan yang diblender halus atau disaring sehingga tekstur makanan menjadi lumat dan kental. Di usia 6-8 bulan, biasanya si Kecil diberikan 2x makan utama dan 1x selingan. Untuk dapat menyiapkan makanan lumat ini, maka ayah dan ibu memerlukan peralatan sederhana berikut: panci dan kukusan, saringan, mangkok serta sendok. Nah, untuk menghaluskan daging biasanya akan sulit kalau hanya menghaluskan dengan saringan, maka ada baiknya ibu juga memiliki blender atau bisa juga menggunakan food grinder agar bayi 6 bulan tetap sudah bisa mengonsumsi daging.

Berikut ini salah satu contoh menu MP-ASI campuran yang bisa diberikan mulai usia 6 bulan, yaitu: bubur hati ayam brokoli.


Bahan-bahan yang diperlukan:

  • beras 30g
  • hati ayam 30g
  • brokoli secukupnya
  • unsalted butter 5g
  • daun jeruk, salam, dan serai secukupnya./li>

    Cara membuat:

  • Rebus beras dengan air secukupnya
  • Tumis bawang merah cincang dengan unsalted butter, tambahkan daun jeruk, daun salam, dan serai masing-masing 1 lembar. Baru masukkan hati ayam yang sudah dipotong-potong. Tambahkan air sedikit. Masak hati hingga matang betul. Ingat bahwa bahan makanan sumber protein hewani harus benar-benar matang ya. Masukkan brokoli yang sudah dipotong-potong secukupnya saja, tidak perlu terlalu banyak.
  • Setelah semuanya matang, haluskan dengan blender atau bisa juga gunakan saringan

Resep ini untuk 2 kali makan ya! Ayah dan Ibu dapat menyimpan MP-ASI dalam wadah tertutup rapat dan letakkan di kulkas bawah. Akan lebih mudah bila ibu menyimpan MP-ASI dalam wadah kaca sehingga saat menghangatkan cukup dengan merendam MP-ASI dalam wadah tersebut dalam panci berisi air hangat dan siap untuk diberikan pada si Kecil.

Ayah dan ibu, tentunya konsistensi MP-ASI sesuaikan dengan kemampuan si Kecil ya. Setelah usia 8 bulan tentunya sudah tidak perlu bubur lumat lagi. Naikkan konsistensinya secara bertahap. Nah, untuk sumber protein hewani bisa diganti dengan ikan dori/lele/gurame/salmon atau ayam atau daging sapi.
Selamat mencoba!

Editor: drg Rizki Amalia

Sumber:

  • WHO. Guiding principles for complementary feeding of the breastfed child.2001.
  • IDAI. Rekomendasi Praktek Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. 2015