Kupas Tuntas Perkembangan Anak Berusia Kurang dari 1 Tahun

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!
Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung hampir 9 bulan membuat kita lebih sering berada di rumah dan tentunya meningkatkan durasi interaksi bersama Sang Buah Hati. Kesempatan tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk stimulasi perkembangan anak dan mendeteksi secara dini, jika terjadi gangguan perkembangan. Pada diskusi kali ini, Kejora akan membahas perkembangan anak yang berusia di bawah 1 tahun.


Apa yang dimaksud dengan perkembangan anak?
Selain tubuh yang bertambah tinggi dan besar, perubahan yang dapat dinilai seiring bertambahnya usia anak adalah perubahan kemampuan. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh menjadi  lebih kompleks yang merupakan hasil kematangan dari hubungan berbagai sistem tubuh. Secara garis besar, perkembangan anak meliputi 4 ranah, yaitu gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian.


Bagaimana perkembangan anak di bawah 1 tahun?
Ayah dan Bunda dapat memperhatikan kemajuan kemampuan anak di bawah usia 1 tahun secara signifikan. Pada ranah gerak/motorik kasar terlihat kemampuan bayi tengkurap, duduk dan mulai belajar berdiri. Perkembangan gerak/motorik halus dapat terlihat dari kemampuan mata bayi mengikuti gerak benda, kemampuan memegang dan menggenggam serta menjimpit. Perkembangan bicara dan bahasa bisa tampak sejak awal, yaitu bayi hanya mengoceh tanpa arti, kemudian mulai mengucap satu kata, serta akhirnya mulai beberapa suku kata. Bayi awalnya mudah tersenyum ketika sedang tidur nyenyak pada usia di bawah 2 bulan, dengan bertambahnya usia maka bayi mulai dapat mengenali orang di sekitarnya dan memberikan senyum sosial sebagai respons kegembiran atau sebaliknya menangis ketika mengetahui kondisi lingkungan yang berbeda dari biasanya.

 

Apakah perkembangan tiap anak selalu sama?
Perkembangan setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan kecepatan pencapaian perkembangan pun bisa berbeda. Jadi tidak perlu kuatir jika Sang Buah Hati baru bisa duduk tanpa pegangan di usia 6 bulan, sedangkan sepupunya sudah bisa melakukan hal serupa sejak usia 5 bulan. Meskipun demikian, tiap orang tua tentu perlu mengenali tanda bahaya adanya gangguan perkembangan.


Bagaimana mengenali adanya gangguan perkembangan?
Bayi dengan dan tanpa faktor risiko tetap memerlukan pemantauan perkembangan yang dianjurkan tiap bulan sampai dengan usia 1 tahun. Contoh bayi risiko tinggi  adalah bayi yang  mempunyai riwayat  lahir kurang bulan, berat lahir rendah, bayi baru lahir yang  mengalami infeksi, sesak napas, atau riwayat kejang dan sebagainya.

Semakin terlambat deteksi adanya gangguan perkembangan, maka makin sulit penanganannya. Tersedia kuesioner praskrining perkembangan (KPSP) yang berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak sesuai kelompok usianya. Kuesioner ini mudah dipahami orang tua dan dapat diakses melalui ponsel dengan aplikasi Primaku dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jika ada kecurigaan keterlambatan perkembangan anak, maka segera ajak anak untuk periksa ke dokter.

Selain menggunakan kuesioner, orang tua perlu mengenal tanda bahaya (red flags) perkembangan anak yang sederhana. Tanda bahaya gerak kasar, diantaranya adalah adanya gerakan yang asimetris atau tidak seimbang misalnya antara anggota tubuh bagian kiri dan kanan, gerakan yang tidak terkontrol , menetapnya refleks primitif (refleks yang muncul saat bayi) hingga lebih dari usia 6 bulan. Contoh tanda bahaya gerak halus, diantaranya bayi masih menggenggam setelah usia 4 bulan, dominasi satu tangan sebelum usia 1 tahun. Tanda bahaya pada ranah bahasa, seperti respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi serta tanda bahaya adanya gangguan di ranah sosialisasi diantaranya jarang tersenyum atau ekspresi kesenangan lain pada usia 6 bulan, kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah pada usia 9 bulan, bahkan tidak merespon panggilan namanya saat usia 1 tahun.

Seorang anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan hanya satu ranah saja, atau bahkan keterlambatan perkembangan yang bermakna pada dua atau lebih ranah yang dikenal dengan keterlambatan perkembangan umum atau global developmental delay.


Bagaimana mencegah terjadinya gangguan perkembangan?
Kebutuhan dasar anak berupa asuh, asih, dan asah harus dipenuhi untuk mencegah terjadinya gangguan perkembangan. Asuh adalah kebutuhan fisik-biomedis meliputi pemberian ASI eksklusif, dilanjutkan makanan pendamping ASI dengan pola gizi yang sesuai, kelengkapan imunisasi,  pengobatan bila anak sakit, kebersihan individu dan lingkungan yang baik dan sebagainya. Asih meliputi kebutuhan emosi dan kasih sayang, sedangkan asah merupakan kebutuhan stimulasi yang merupakan cikal bakal untuk proses belajar anak.

Stimulasi yang dilakukan juga terkait dengan usia anak, misalnya pada usia kurang dari 6 bulan maka bermain bersama Sang Buah Hati menggunakan mainan dengan warna mencolok atau mainan yang memiliki bunyi sangat menarik karena pada usia tersebut fungsi penglihatan dan pendengaran bayi mulai berkembang.

Bayi di atas 6 bulan sampai dengan 1 tahun mulai senang bergerak seperti rolling, duduk, merangkak, dan berdiri karena kemampuan gerak/motor kasarnya lebih berkembang. Oleh karena itu aneka permainan yang diberikan sebagai stimulasi pun juga lebih bervariasi. Kita dapat berikan bola, mainan kubus, boneka dan sebagainya. Makin banyak stimulasi yang dilakukan bersama orang tua tentu perkembangan anak akan menjadi makin optimal.
Mari bersama, kita kenali perkembangan Sang Buah Hati dan selalu semangat dalam memberikan stimulai yang kreatif dan inovatif, meskipun #dirumahaja supaya anak dapat menjadi generasi penerus bangsal yang unggul.

 

Referensi
Sekartini R, medise BE. Cerdas memilih mainan anak dan remaja. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2015.

Hageman RJ. Brain growth. Dalam: Hay WW, Groothuis JR, Hayward AR, Levin MJ, penyunting. Current pediatric diagnosis and treatment. Denver: Prentice-Hall; 1995. h. 69.

Feldman HM. Language disorders. Dalam: Berman S, penyunting. Pediatric Decision Making. Edisi ke-4. Philadelphia: Mosby, 2003.h.94-7.

Pit and Fissure Sealant

 

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Semoga sehat selalu ya..
Apakah sudah pernah mendengar istilah pit and fissure sealant sebelumnya?
Atau malah masih asing dengan istilah tersebut? Pit and fissure sealant itu dapat melindungi gigi dari proses gigi berlubang loh Ayah dan Ibu. Yuk kita bahas lebih lanjut..

 

Apakah sealant itu dan bagaimana cara kerjanya?

Sealant adalah salah satu cara yang aman dan tanpa rasa sakit yang dilakukan untuk melindungi gigi Anda maupun si kecil dari proses gigi berlubang. Sealant merupakan lapisan pelindung yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi-gigi geraham yang memiliki ceruk-ceruk yang sempit dan dalam (pit dan fissure). Kondisi gigi dengan pit dan fissure yang dalam sangat berpotensi menjadi tempat menumpuknya sisa makanan. Jika tidak dibersihkan, maka akan berubah menjadi pusat berkembangnya bakteri, yang lama kelamaan bisa menyebabkan karies. Dengan kata lain, pit dan fissure yang dalam merupakan habitat utama bakteri Streptococcus mutans. Lapisan sealant ini dapat menjadi pelindung dari sisa makanan serta bakteri agar tidak masuk dan terjebak dalam ceruk-ceruk tadi, sehingga menyebabkan terjadinya karies. Bahan yang digunakan yaitu resin komposit dan ionomer kaca fuji VII.

 

Kapan pit and fissure sealant dapat dilakukan?

Sealant dapat dilakukan segera setelah gigi geraham permanen pertama tumbuh, yaitu saat anak berusia 6-7 tahun. Selain itu, selanjutnya pada saat gigi geraham permanen kedua tumbuh, yaitu saat anak berusia 11-14 tahun.

 

Apakah setelah melakukan prosedur sealant, gigi harus tetap dibersihkan?

Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa prosedur ini tidak dapat menggantikan sikat gigi maupun flossing. Namun, prosedur ini dapat mencegah timbulnya lubang dan menghentikan proses karies di tahap awal sehingga lubang gigi tidak bertambah besar dan parah. Faktanya, sealant dapat menurunkan risiko lubang pada gigi geraham belakang hingga 80%. Pada Oktober 2016, CDC (Centers for Disease Control) melaporkan pentingnya sealant pada anak usia sekolah. Menurut CDC, anak usia sekolah tanpa sealant berisiko 3 kali lebih besar untuk mengalami lubang pada gigi dibandingkan dengan anak yang telah menjalani prosedur sealant.

 

Sumber:

https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/dental-sealants

https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/s/sealants

https://jada.ada.org/action/showPdf?pii=S0002-8177%2814%2961434-3

https://www.dentalhealth.org/pit-and-fissure-sealants

PERLUKAH SUPLEMEN MINYAK IKAN UNTUK ANAK?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Ayah dan Ibu tentu sudah pernah mendengar tentang minyak ikan. Apakah Ibu/Ayah Kejora termasuk orangtua yang bertanya-tanya haruskah pemberian suplemen minyak ikan untuk anak? Sebelumnya, mari kita bahas apa kandungan dari minyak ikan.

Minyak ikan merupakan salah satu sumber dari EPA DHA yang termasuk dalam asam lemak omega-3 (asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang/PUFA). Baik EPA maupun DHA, sangat penting bagi perkembangan otak janin, perkembangan motorik dan penglihatan bayi, fungsi kognitif, juga sistem imun anak. Ayah dan Ibu Kejora dapat mengetahui peran DHA dalam kehamilan dengan klik artikel ini ya.

Mengenai pemberian suplemen minyak ikan (sirup/kapsul lunak), telah ada kajian literatur ilmiah (systematic review) yang menyimpulkan bahwa tidak ada manfaat pemberian suplemen PUFA rantai panjang pada bayi cukup bulan juga bayi prematur, namun juga dikatakan tidak ada efek samping berbahaya.

Penelitian lain juga menyatakan bahwa agar PUFA rantai panjang memberikan manfaat kesehatan yang optimal, sebaiknya diberikan dalam bentuk alami (dari sumber bahan makanan).

Selain minyak ikan, sumber PUFA lainnya adalah ASI, fatty fish, kacang kedelai, minyak kanola, minyak flaxseed, daging sapi, unggas, telur. Ikan yang mengandung tinggi EPA DHA pun tak hanya salmon, namun ikan tuna, bawal, tenggiri, kembung, patin, lele, juga belut juga tak kalah besar kandungannya. Berikut rincian jumlah kandungan EPA dan DHA dalam ikan:

Bagi Ibu/Ayah Kejora yang ingin memberikan suplemen minyak ikan, selalu konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis ya.

 

Sumber:

  • Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database of Systematic Reviews 2017.
  • Longchain polyunsaturated fatty acid supplementation in preterm infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2016.
  • Fat content and EPA and DHA levels of selected marine, freshwater fish and shellfish species from the east coast of Peninsular Malaysia. IFRJ 2012;19:815-21.

Orangtua dan Nenek sebagai Tim dalam Menghadapi Anak Tantrum

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

Hai, Ayah dan Ibu Kejora!

Sering tidak mengalami kebingungan menghadapi anak yang tiba-tiba menangis, menjerit, menendang, memukul-mukul atau melarikan diri? Dalam keilmuan psikologi, perilaku yang ditunjukkan oleh anak-anak ini disebut tantrum. Tantrum merupakan episode yang terjadi ketika ada rasa marah atau frustasi yang ditandai dengan tangisan, teriakan, gerakan tubuh yang kasar, termasuk melempar barang, jatuh ke lantai, membenturkan kepala, tangan dan kaki ke lantai. Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa tantrum itu bukan hal yang negatif. Tantrum digunakan oleh anak sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan kebutuhan dan mengelola perasaan mereka. Hal ini terjadi karena anak sering kali belum memiliki kata-kata dan pengetahuan yang cukup untuk mengekspresikan emosi dengan benar. Biasanya tantrum terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Pada usia ini keterampilan sosial dan emosional anak baru mulai berkembang pada usia ini. Selain toddler, anak yang lebih besar juga masih bisa tantrum. Hal ini terjadi karena mereka belum mempelajari cara yang tepat untuk mengekspresikan atau mengelola perasaan.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya tantrum pada anak diantaranya:

  1. Hal ini biasanya menurun dari genetik sehingga lebih mudah memengaruhi intensitas dan kecepatan reaksi anak terhadap hal-hal yang membuatnya frustrasi. Anak-anak yang memiliki kecenderungan mudah marah mungkin lebih mudah mengamuk.
  2. Stres, lapar, kelelahan dan stimulasi berlebihan. Hal ini dapat mempersulit anak-anak untuk mengekspresikan dan mengelola perasaan serta perilaku.
  3. Situasi yang tidak dapat diatasi oleh anak-anak, misalnya, balita mungkin kesulitan mengatasinya jika anak yang lebih besar mengambil mainan.
  4. Ada tekanan yang kuat. Hal ini terjadi ketika ada kekhawatiran, ketakutan, rasa malu dan amarah yang dapat menjadi beban bagi anak-anak.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi tantrumnya anak:

  1. Usahakan untuk tetap tenang. Luangkan waktu sejenak untuk diri Ayah dan Ibu jika perlu. Jika Ayah dan Ibu marah, hal tersebut hanya akan mempersulit situasi bagi Ayah dan Ibu serta bagi anak. Saat berbicara, usahakan agar suara tetap tenang dan datar, dan bertindak dengan tenang.
  2. Menunggu amukannya reda. Jika anak tantrum dan tidak melakukan hal yang destruktif atau membahayakan, coba dibiarkan saja agar anak bisa mengekspresikan emosinya. Namun, jika anak melakukan hal yang berbahaya, coba pindahkan anak pada tempat yang mungkin membosankan buatnya. Jangan lupa untuk berikan batas waktu agar anak tahu bahwa ia perlu segera menyelesaikan amukannya. Usahakan agar tidak mengajaknya berbicara hingga ia menyelesaikan amukannya.
  3. Usahakan untuk tetap berada di sekitar anak ketika anak tantrum. Hal ini dilakukan agar anak tahu bahwa Ayah dan Ibu ada di sana sehingga ia tetap merasa aman. Tetapi jangan mencoba untuk berdebat dengan anak atau mengalihkan perhatian mereka.
  4. Validasi perasaan anak. Misalnya, ‘Pasti kesel ya mainannya diambil kakak”. Hal ini dapat membantu mencegah perilaku anak tidak terkontrol dan memberi kesempatan pada anak untuk mengatur ulang emosi.
  5. Ajak anak berkomunikasi dan gali kebutuhannya jika sudah tenang. Coba tanyakan apa yang rasakan dan apa yang ia butuhkan. Coba pahami apa yang anak butuhkan, lalu ajarkan anak untuk menyampaikan dengan baik hal yang ia inginkan.
  6. Bersikap konsisten. Jika sikap Ayah dan Ibu kadang memberikan apa yang diinginkan anak saat mereka mengamuk dan kadang tidak, anak bias jadi mengalami kebingungan dan tidak bisa belajar.

Pada beberapa kondisi, terutama untuk Ayah dan Ibu yang memiliki kegiatan lain, pengasuhan anak perlu dibantu oleh oleh orang lain, termasuk Kakek ataupun Nenek. Namun, hal ini bisa menjadi masalah terutama jika Kakek dan Nenek memberikan pengasuhan yang berbeda dengan pola asuh yang orangtua terapkan. Jika dibiarkan, hal ini tentu bisa memengaruhi perkembangan psikologis anak. Oleh karena itu, Ayah dan Ibu perlu menjadi tim dan bekerjasama dengan kakek dan nenek dalam memberikan pengasuhan pada anak, termasuk ketika menghadapi anak yang tantrum. Ada beberapa hal yang bisa Ayah dan Ibu lakukan kepada Kakek dan Nenek agar bisa menjadi tim yang baik dalam menghadapi anak tantrum:

  1. Gali pengetahuan Kakek dan Nenek dalam mengasuh anak. Seringkali Kakek dan Nenek menggunakan pola pengasuhan berbeda termasuk dalam menghadapi anak tantrum karena berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pribadi mereka tanpa benar-benar memahami dampaknya. Oleh karena itu, coba gali dan pahami lebih dalam hal yang mereka ketahui dan kemungkinan cara yang mereka pakai misalnya ketika anak tantrum, nenek langsung memberikan permen agar anak berhenti menangis tanpa tahu kebutuhan anak.
  2. Lakukan evaluasi pada pola pengasuhan yang diberikan oleh Kakek dan Nenek. Ayah dan Ibu dapat menyampaikan bahwa tindakan yang mereka lakukan bisa membuat anak belajar hal yang keliru misalnya sampaikan bahwa ketika anak tantrum artinya anak sedang mengekspresikan perasaan atau kebutuhannya sehingga sebagai orangtua, kita perlu belajar memahami kebutuhan tersebut. Jika langsung diberikan barang, tanpa benar-benar memahami kebutuhan anak, ada banyak dampak yang bisa muncul seperti anak bisa jadi akan menggunakan ‘tantrum’ tersebut sebagai strategi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, anak juga jadi tidak mengerti arti proses untuk mendapatkan sesuatu, anak tidak belajar komunikasi dan anak belajar cara mengeskpresikan emosi dengan tidak sehat.
  3. Komunikasikan secara terbuka pola pengasuhan yang diinginkan beserta alasannya. Ayah dan Ibu perlu mengkomunikasikan kepada Kakek dan Nenek terkait tujuan yang ingin dicapai dalam pengasuhan beserta cara-cara yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
  4. Buat batasan (Boundaries) antara orangtua dengan kakek/nenek. Dalam melakukan pengasuhan bersama terutama pada Kakek dan Nenek, tentu tidak semua hal dapat berjalan semaksimal yang diinginkan. Sadari dan pahami bahwa meminta orang lain dalam hal ini kakek atau nenek dalam mengasuh anak sangat mungkin memiliki kelemahan sehingga coba belajar untuk memahami. Buat batasan pada diri sendiri hal-hal yang menjadi tanggung jawab sendiri dan yang menjadi urusan kakek dan nenek misalnya jika terjadi kesalahan dalam memberikan penyikapan ketika anak tantrum, Ibu tidak perlu memarahi Nenek. Pahami bahwa hal tersebut wajar, dan fokuskan perhatian pada hal yang perlu diperbaiki dan dibutuhkan oleh anak agar dampaknya tidak terlalu parah.

Nah, semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu menangani si kecil yang tantrum, ya! Tetap semangat dan jaga kesehatan, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita W.

Source:

https://www.parents.com/toddlers-preschoolers/discipline/tantrum/a-parents-guide-to-temper-tantrums/

https://www.askdrsears.com/topics/parenting/discipline-behavior/bothersome-behaviors/temper-tantrums/managing-tantrums-older

https://raisingchildren.net.au/toddlers/behaviour/crying-tantrums/tantrumsa

https://www.mayoclinic.org/

 

Deteksi Dini dan Pencegahan Diabetes

oleh dr. Paramita Khairan, SpPD

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Pasti Ayah dan Ibu Kejora sudah sering mendengar istilah diabetes. Diabetes adalah suatu penyakit kronik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah karena metabolisme gula yang terganggu. Saat ini, angka pasien diabetes di Indonesia mencapai 7%, angka ini meningkat tajam jika dibandingkan angka pasien diabetes pada tahun 1980-an. Diabetes merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah yang merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kabar baiknya, penyakit diabetes dapat dicegah. Yuk, simak caranya!

Sebelum mengetahui cara pencegahannya, mari kenali dulu beberapa tipe diabetes:

  1. Diabetes tipe 1, merupakan gangguan autoimun yang menyebabkan sistem ketahanan tubuh menyerang dan merusak sel-sel di organ pankreas, sehingga pankreas tidak dapat memproduksi hormon insulin.
  2. Diabetes tipe 2, merupakan diabetes yang terjadi karena organ pankreas memproduksi hormon insulin, namun jumlahnya tidak mencukupi, sehingga kerja hormon insulin menjadi tidak efektif.
  3. Diabetes gestasional, merupakan diabetes yang hanya terjadi pada saat kehamilan.
  4. Diabetes tipe lain, merupakan diabetes yang disebabkan oleh pemakaian obat, penyakit lain-lain, dsb.

Diabetes tipe 2 adalah tipe diabetes yang paling banyak diderita, yuk simak pembahasannya lebih lanjut!

Gejala utama yang dapat dirasakan oleh penderita diabetes tipe 2 antara lain:

  1. Frekuensi buang air kecil meningkat, disebut juga dengan poliuri
  2. Sering merasa haus, disebut juga dengan polidipsi
  3. Sering merasa lapar, disebut juga dengan polifagi

Selain tiga gejala tersebut, gejala dan tanda lain juga dapat terjadi seperti turunnya berat badan (walaupun makan cukup banyak atau tidak sedang menjalankan program diet), sering merasa lelah, pandangan kabur, dan sering kesemutan.

Seringkali, gejala dan tanda diabetes belum tampak atau tidak dirasakan oleh penderita (disebut juga asimtomatik), sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk orang-orang yang berisiko tinggi mengalami diabetes tipe 2. Caranya cukup mudah untuk menilai apakah Ayah dan Ibu Kejora memiliki risiko tinggi terkena diabetes yaitu dengan menjawab pertanyaan tabel risiko di bawah ini:

 

Tes Risiko Diabetes Skor
1.     Berapa usia anda?

·        Kurang dari 40 tahun (0 poin)

·        40–49  tahun (1 poin)

·        50–59   tahun (2 poin)

·        60 tahun atau lebih (3 poin)

2.     Apakah anda laki-laki atau perempuan?

·        Laki-laki (1 poin)

·        Perempuan (0 poin)

3.     Bila anda perempuan, apakah anda pernah didiagnosis menderita diabetes gestasional (diabetes saat kehamilan)?

·        Pernah (1 poin)

·        Tidak pernah (0 poin)

4.     Apakah ayah, ibu, atau saudara kandung anda memiliki riwayat diabetes?

·        Ya (1 poin)

·        Tidak (0 poin)

5.     Apakah anda pernah didiagnosis menderita tekanan darah tinggi?

·        Ya (1 poin)

·        Tidak (0 poin)

6.     Apakah anda aktif secara fisik?

·        Ya (0 poin)

·        Tidak (1 poin)

7.     Termasuk dalam kategori apakah berat badan anda? (Silakan lihat dari tabel di bawah ini)
Total skor

Catatan: berat dan tinggi badan dalam satuan feet dan pound

Apabila skor Ayah dan Ibu Kejora 5 atau lebih, artinya berisiko tinggi terkena diabetes. Namun, hanya dokter yang dapat memastikan diagnosis tersebut adalah diabetes mellitus, ya!

Selain itu, jika Ayah dan Ibu Kejora memiliki karakteristik sebagai berikut:

    1. Indeks massa tubuh (IMT) ≥ 23 kg/m2. IMT dapat dihitung dengan cara:

    1. Kadar kolesterol baik (High Density Lipoprotein) < 35 mg/dL atau kadar trigliserida (lemak yang ada di dalam darah) > 250 mg/dL
    2. Perempuan dengan sindrom polikistik ovarium (gangguan hormon yang terjadi pada wanita usia subur)
    3. Memiliki ayah, ibu, dan/atau saudara kandung dengan penyakit diabetes
    4. Memiliki riwayat penyakit stroke
    5. Memiliki riwayat tekanan darah tinggi
    6. Tidak aktif secara fisik

Maka, segeralah periksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan gula darah.

Bagaimana jika Ayah dan Ibu Kejora tidak memiliki satu dari kriteria di atas atau memiliki skor risiko rendah (kurang dari 5)? Selamat! Berarti Ayah dan Ibu Kejora berisiko rendah terkena diabetes, tetapi untuk Ayah dan Ibu Kejora yang berusia 45 tahun ke atas, dianjurkan untuk tetap melakukan pemeriksaan diabetes sedini mungkin, ya!

Untuk memeriksa apakah seseorang terkena diabetes atau tidak, dokter akan menyarankan pemeriksaan gula darah sebagai berikut:

  1. Gula Darah Puasa (GDP)

Dilakukan setelah tidak makan dan minum, kecuali air putih selama 8-10 jam sebelum pemeriksaan.

  1. Gula Darah 2 Jam Setelah Makan

Dilakukan setelah mengonsumsi 75 g glukosa.

  1. Hemoglobin A1C

Mengetahui jumlah gula darah dalam 3 bulan terakhir.

Sebelum terjadi diabetes, terdapat keadaan yang disebut dengan prediabetes yaitu keadaan di mana sudah mulai terjadi gangguan metabolisme gula darah, namun belum terjadi diabetes. Berikut tanda-tanda prediabetes:

      1. Kadar gula darah puasa (GDP) sebesar 100–125 mg/dL, atau
      2. Kadar gula darah 2 jam setelah makan atau konsumsi 75 g glukosa sebesar 140–199 mg/dL, atau
      3. Kadar hemoglobin A1C sebesar 5.7%–6.4%.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora memenuhi kriteria tersebut, jangan panik dulu karena ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah atau memperlambat terjadinya diabetes.

Berikut program untuk penderita prediabetes guna mencegah dan memperlambat timbulnya penyakit diabetes:

  1. Turunkan berat badan hingga minimal 7% dalam 6 bulan pertama. Penurunan berat badan yang dianjurkan sebesar 0.5–1 kg per bulan.
  2. Lakukan aktivitas fisik dengan intensitas moderat minimal 150 menit per minggu, setara dengan intensitas jalan cepat (kecepatan 6.5 km/jam) atau 75 menit latihan otot. Aktivitas ini dapat dibagi menjadi 3 kali seminggu, minimal selama 10 menit per sesi. Aktivitas fisik yang termasuk dalam intensitas moderat, seperti:
    • berjalan ke toko atau tempat kerja,
    • berjalan dengan membawa barang bawaan kurang dari 25 kg,
    • bersepeda di jalan dengan beberapa tanjakan atau bersepeda statis,
    • bermain sepatu roda, basket, atau tenis,
    • berenang,
    • menari,
    • hiking,
    • yoga,
    • membersihkan rumah,
    • mengecat rumah, dan lain sebagainya.
    • Tidak merokok.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora dapat mencegah diabetes, maka kemungkinan untuk menjalani hidup yang sehat dan berkualitas pun akan meningkat, sehingga dapat senantiasa menemani sang buah hati. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora, salam sehat!

Editor: drg. Agnesia Safitri

Sumber:

      1. World Health Organization (WHO). Diabetes-Country profile: Indonesia. 2016
      2. World Health Organization (WHO). Noncommunicable Diseases-Country profile: Indonesia. 2016
      3. American Diabetes Association. Standards of medical care in diabetes-2020. Diabetes Care January 2020; vol 43 (suppl 1).

Kesehatan Tulang Anak

 

 

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

 

Halo, Keluarga Kejora! Ayah dan Ibu pasti selalu memikirkan kesehatan si buah hati secara keseluruhan, tetapi jangan lupa untuk memerhatikan yang spesifiknya juga ya, termasuk kesehatan tulang anak. Hal ini penting karena perilaku kita terhadap kesehatan tulang pada masa kecil menentukan kesehatan tulang pada masa tua.

Pertumbuhan dan masa depan

Siklus pertumbuhan tulang pada anak-anak dan remaja meliputi penyimpanan dan pembuangan. Pada fase ini, masa tulang lebih banyak yang disimpan daripada dibuang. Puncak masa tulang seseorang adalah pada akhir usia 20an dan sekitar 90% masa tulang diperoleh pada usia remaja-dewasa muda.

Petuah ‘menabunglah sejak dini’ tentu sering kita dengar dari orang tua kita. Sama seperti tabungan uang yang dimana ada sistem setor-tarik, tulang kita pun juga seperti tabungan. Pada usia lanjut, penyakit osteoporosis dapat menyerang siapa saja. Kondisi osteoporosis dapat digambarkan seperti tabungan tulang kita akan ‘ditarik’. Oleh sebabnya, demikian penting untuk ‘menyetor’ sejak usia kecil.

Faktor yang mempengaruhi masa tulang

Ayah dan Ibu, ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi kepadatan masa tulang seseorang. Diantara faktor tersebut ada hal yang bisa kita atur, dan ada yang tidak bisa kita atur. Faktor yang tidak dapat kita atur antara lain adalah jenis kelamin, ras, dan hormon. Sedangkan faktor yang dapat kita atur adalah nutrisi dan aktivitas fisik.

Jenis kelamin

Walaupun anak perempuan sepertinya lebih cepat tumbuh tinggi daripada laki-laki, kepadatan tulang anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan. Hal ini terjadi setelah usia pubertas dimana laki-laki dapat menabung lebih banyak masa tulang.

Ras

Anak-anak ras afrika dan kaukasia (Eropa/ Amerika) mempunyai masa tulang yang lebih tinggi daripada orang Indonesia yang merupakan ras Asia. Walaupun demikian, resiko mereka untuk terkena tulang keropos juga sama.

Hormon

Penelitian menemukan bahwa anak perempuan yang menstruasi di umur yang dini memiliki kepadatan tulang yang lebih baik. Sedangkan perempuan yang sering terlambat menstruasi, kerap kali memiliki kepadatan tulang yang lebih buruk.

Nutrisi

Elemen yang penting dalam kesehatan tulang adalah kalsium. Semakin lanjut usia, kemampuan untuk menyerap kalsium semakin berkurang. Oleh sebabnya sangat penting untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi kalsium sedini mungkin. Vitamin dan mineral lain yang juga berperan penting dalam kesehatan tulang antara lain adalah magnesium, zink, dan vitamin D.

Aktivitas fisik

Kegiatan yang memberikan beban terhadap tulang dapat merangsang pertumbuhan tulang dan peningkatan kepadatan tulang. Contohnya seperti gimnastik, mengangkat beban, bela diri, atau permainan.

Berapa banyak kalsium yang dibutuhkan?

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, kesehatan tulang identik dengan kalsium dan vitamin D. Namun seberapa banyak kalsium yang dibutuhkan per harinya? Kadar kalsium dalam milligram per hari dapat mengacu pada tabel berikut.

Usia Kalsium
Lahir – 6 bulan 200 mg
6 bulan – 1 tahun 260 mg
1-3 tahun 700 mg
4-8 tahun 1000 mg
9-18 tahun 1300 mg

 

Dalam mencukupi kebutuhan kalsium, tidak selalu perlu mengonsumsi suplemen. Faktanya, 1 gelas susu setara dengan sekitar 300mg kalsium, dan dapat mencukupi sekitar sepertiga kebutuhan kalsium anak-anak usia sekolah dasar. Itulah mengapa konsumsi susu minimal 1 gelas per hari sangat disarankan untuk nutrisi tulang anak.

 

“Anak saya tidak suka susu.”

Ayah dan Ibu, tidak semua anak bisa minum susu dan hal tersebut termasuk wajar. Ada 2 kemungkinan mengapa anak tidak bisa minum susu: tidak suka minum susu atau merasakan nyeri perut setelah minum susu.

Jika si kecil tidak gemar minum susu, cobalah membuat produk olahan susu. Misalnya dengan memberikan bubuk cokelat, mengganti air dengan produk susu pada makanan/ minuman tertentu. Namun bila ia merasa nyeri atau tidak nyaman pada perut setelah meminum susu, mungkin si kecil mempunyai intoleransi laktosa. Laktosa merupakan salah satu bentuk gula yang ditemukan pada susu dan produk makanan yang mengandung susu.

Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir bila si kecil tidak bisa mengonsumsi susu, karena kalsium pun bisa didapat dari berbagai sumber makanan, antara lain:

Kisaran kadar kalsium Makanan
≥300 mg Sarden tulang lunak

Keju cheddar

Yogurt

Susu

200-300 mg Keju cottage, mozzarella

Tahu

Jus jeruk

100-200 mg Salmon

Pudding

Es yogurt

Sereal

≤ 100 mg Sayuran daun hijau

Es krim

Susu kedelai

Krim asam

Roti putih

Brokoli

Roti gandum

Krim keju

Sumber kalsium yang terbaik adalah dari makanan murni. Akan tetapi jika anak anda memang kesulitan untuk mencukupi kebutuhan kalsium melalui makanan, maka pemberian suplemen kalsium dapat dipertimbangkan.

Olahraga penguat tulang

Seperti halnya otot, semakin kita banyak menggunakan tulang, maka semakin bertambah kekuatannya. Aktivitas fisik seperti apa pun sebenarnya baik untuk tulang. Tetapi aktivitas fisik yang berprinsip menumpu beban lebih efektif, antara lain: berjalan, berlari, lompat tali, menari, tenis, basket, gimnastik, sepak bola, voli, dan lain sebagainya. Aktivitas fisik seperti mengangkat beban juga dapat meningkatkan kekuatan tulang. Olahraga bersepeda atau berenang dapat membantu menjaga kesehatan, namun tidak berperan banyak dalam meningkatkan kepadatan tulang.

Apakah anak-anak dapat terkena tulang keropos?

Tulang keropos atau osteoporosis bukanlah penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Anak-anak pun juga dapat mengalaminya. Misalnya, jika si kecil mengonsumsi obat steroid jangka panjang, maka penyerapan kalsium di tubuhnya akan berkurang signifikan, sehingga tulangnya tidak sekuat anak seumurnya. Konsumsi alkohol dan rokok, baik perokok aktif maupun pasif (misalnya anggota serumah ada yang merokok), juga dapat berisiko menurunkan kepadatan tulang. Penyakit genetik/bawaan seperti osteogenesis imperfecta juga dapat menyebabkan tulang anak menjadi rapuh dan mudah patah.

Yuk, Ayah dan Ibu Kejora bantu si kecil memiliki tulang yang kuat dan sehat!

Editor: dr. Nurul Larasati

Apa itu Radang pada Gusi?

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Keluarga Kejora,

Apakah anda pernah mengalami situasi berikut? Saat anda sedang sikat gigi, gusi mengeluarkan darah? Atau gusi terlihat berdarah tanpa ada rangsangan seperti luka atau trauma?

Ada banyak penyebab gusi mengalami pendarahan, salah satunya adalah penyakit pada jaringan gusi. Gingivitis merupakan penyakit jaringan gusi yang terjadi akibat bakteri pada plak yang menempel pada permukaan gigi. Apabila plak melekat dalam waktu lama dan mengeras maka terbentuk karang gigi. Calculus atau karang gigi ini yang menjadi pencetus terjadinya peradangan pada gusi. Bila peradangan pada gusi semakin lanjut, kondisi tersebut dapat mengakibatkan periodontitis atau peradangan pada jaringan penyangga gigi.

Jika ayah dan ibu Kejora mengalami gingivitis, gusi akan mengalami perubahan dari bentuk normal. Warna gusi menjadi lebih merah, ukuran menjadi lebih besar dan terjadi penurunan gusi. Kondisi lain yang sering terjadi apabila seseorang mengalami gingivitis adalah bau mulut, perdarahan pada gusi baik spontan saat sedang menyikat gigi atau tanpa disadari.

Plak merupakan penyebab utama dari gingivitis, namun beberapa hal lain juga dapat memicu terjadi gingivitis seperti ;

  • Kebiasaan merokok
  • Kebersihan gigi dan mulut yang buruk
  • Kondisi mulut yang kering
  • Kekurangan nutrisi terutama vitamin c
  • Beberapa kondisi penyakit imunitas seperti leukimia, HIV/AIDS, pengobatan kanker
  • Perubahan hormonal seperti kehamilan, siklus menstruasi
  • Restorasi/ Penambalan gigi yang kurang baik sehingga mengakibatkan sisa makanan terselip dan sulit untuk dibersihkan

Cara terbaik untuk perawatan gingivitis adalah meningkatkan kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi dengan benar dan penggunaan dental floss. Tujuannya adalah menghilangkan plak yang menempel pada permukaan gigi. Pembersihan karang gigi dengan cara scalling terutama di sekitar gusi yang mengalami peradangan, juga merupakan cara efektif untuk menghilangkan gingivitis. Jangan lupa untuk kontrol rajin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk mengetahui kondisi gigi dan mulut anda agar terhindar dari penyakit gusi dan mulut.

Sumber:

https://www.webmd.com/oral-health/guide/gingivitis-periodontal-disease#1
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279593/

Tiga Faktor Penting yang Harus Diperhatikan Saat Menulis

 

 

 

 

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Hallo, Keluarga Kejora! Bagaimana kabar Keluarga Kejora? Semoga selalu diberikan perlindungan dan kesehatan oleh Tuhan YME.

Di masa pandemi ini saat Keluarga Kejora banyak melakukan kegiatan di rumah atau work from home atau school from home, Keluarga Kejora dapat saling mengamati posisi tubuh Ayah, Ibu atau Anak saat sedang bekerja atau sekolah di rumah ya, terutama saat sedang menulis.

Ternyata kegiatan menulis itu tidak hanya sekedar duduk di bangku, menyandarkan tangan di meja, dan memegang alat tulis dan kertas atau buku. Kegiatan menulis memerlukan postur yang baik agar tidak menyebabkan keletihan anggota tubuh dan hasil tulisan yang tidak optimal.

Nah, mari kita simak penjelasan selanjutnya.

Apa yang dimaksud dengan menulis?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menulis berasal dari kata tulis yang berarti ada huruf (angka dan sebagainya) yang dibuat (digurat dan sebagainya) dengan pena (pensil, cat, dan sebagainya). Menulis juga dapat berarti melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan, gambar atau lukisan.

Apakah ada dampak dari postur menulis yang kurang baik?

Anak dengan ketidakstabilan bagian tubuh atas (bahu, siku, lengan hingga pergelangan tangan) serta gangguan koordinasi bilateral (kontrol keseimbangan sisi kanan dan kiri tubuh), koordinasi mata dan tangan, dan crossing the midline (kemampuan satu sisi menyilang ke sisi lain) umumnya akan mengalami kebingungan dengan penggunaan tangan pada saat menulis serta pada memposisikan kertas dan alat tulisnya. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, dapat mengganggu performa menulis anak serta prestasi akademiknya di sekolah.

Apa sajakah faktor yang harus diperhatikan saat menulis?

Mengajarkan menulis dapat dimulai sejak usia dini. Pada saat anak belajar menulis, perhatikan 3 faktor penting yang sangat menunjang ketrampilan menulis ini. Tiga faktor ini adalah posture, pencil, dan paper atau disingkat sebagai 3P. Postur adalah posisi atau sikap tubuh terhadap anggota tubuh yang lain dan atau lingkungannya. Pada saat menulis, postur anak yang terbaik adalah posisi 90-90-90, artinya sudut yang terbentuk antara pinggul dengan paha; antara paha dengan tungkai bawah, serta antara tungkai bawah dengan kaki adalah 90 derajat. Posisi ini akan memberikan kondisi (tonus) otot di area batang tubuh (core muscles) yang baik, sehingga memperkuat stabilitas yang dibutuhkan untuk mekanika menulis. Selain itu pastikan bahwa kaki anak berada rata di atas lantai atau permukaan, serta kepalanya tegak, tidak berada di atas meja atau bersandar di atas tangannya.

Bagaimanakah cara memegang alat tulis yang baik?

Cara anak memegang alat tulis pada saat menulis juga harus diperhatikan. Salah satu faktor penyebab gangguan menulis adalah cara memegang alat tulis yang kurang tepat, sehingga membuat kekuatan tulisannya kurang optimal, tulisan kurang rapih, dan anak sering mengeluh cepat lelah dan akhirnya tidak bertahan melakukan tugasnya hingga selesai. Cara memegang alat tulis yang paling baik adalah posisi dynamic tripod pencil grip pada tangan dominan, dimana ibu jari, telunjuk, dan jari tengah memegang ujung alat tulis pada posisi ketiga jari tersebut seperti hendak menjumput sesuatu. Sementara dua jari lainnya (jari manis dan kelingking) berada menempel di telapak tangan bagian dalam dan berperan sebagai stabilisator tiga jari pertama tadi. Di sisi lain, tangan non-dominan berperan untuk memegang atau menstabilisasi alat tulis ataupun perlengkapan lain yang sedang dipegangnya. Dengan adanya posisi tangan seperti ini, maka pergelangan tangan termasuk jari-jari tangan akan lebih stabil dan optimal dalam memanipulasi alat tulisnya.

Lalu, bagaimana dengan posisi kertas?

Faktor terakhir yang harus diperhatikan adalah posisi kertas pada saat anak menulis. Letak sudut kertas terhadap badan anak akan menentukan ke arah mana anak mengarahkan tubuhnya. Kertas dapat diposisikan pada sudut antara 20-45 derajat untuk anak dengan tangan kanan dominan (kinan) dan sudut 30-45 derajat untuk anak dengan tangan kiri dominan (kidal). Posisi kertas tidak boleh berada di ujung meja namun secara bertahap dinaikkan ke atas seiring dengan anak menulis dari halaman kertas bagian atas hingga ke bawah, dan siku anak diusahakan tetap berada di atas meja.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk Keluarga Kejora ya. Para orangtua harus selalu memperhatikan, baik hasil tulisan anak maupun proses menulis itu sendiri. Dengan demikian, kemampuan akademis anak menjadi lebih optimal di kemudian hari.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Rekomendasi Penggunaan Masker pada Anak Selama Pandemi COVID-19

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo, Keluarga Kejora! Pandemi COVID-19 masih berlangsung hingga saat ini. Upaya pencegahan untuk menghindari infeksi virus SARS-CoV-2 terus digalakkan oleh pemerintah, instansi kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. Tentu Ayah dan Ibu juga tidak asing dengan istilah 3M pada era Pandemi COVID-19 ini, yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak. Hal ini tentu mudah dilakukan oleh orang dewasa, namun bagaimana dengan anak? Jika ada kondisi mendesak yang mengharuskan anak diajak keluar rumah, apakah harus menggunakan masker? Apakah semua anak perlu menggunakan masker? Apakah masker bisa diganti dengan face shield pada anak agar anak lebih merasa nyaman?

Pada dasarnya, penggunaan masker merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari penularan COVID-19. Panduan dari WHO mengenai penggunaan masker pada anak menyatakan bahwa anak dibawah 5 tahun tidak disarankan untuk menggunakan masker. Hal ini berdasarkan alasan keamanan, kenyamanan, serta kemampuan anak untuk menggunakan masker dengan baik dan benar tanpa supervisi orang dewasa. Namun, dalam panduan tersebut juga dijelaskan bahwa penggunaan masker hendaknya menyesuaikan dengan rekomendasi lokal yang dikeluarkan pemerintah atau ahli kesehatan.

Di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tidak merekomendasikan pada anak di bawah usia 2 tahun karena dikhawatirkan dapat mengganggu pernafasan mereka. Pada kelompok usia ini, penggunaan face shield lebih disarankan, meskipun tidak memberikan efek proteksi yang sama dengan penggunaan masker. Jika anak menggunakan face shield, maka face shield hendaknya menutupi seluruh wajah dengan panjang sampai dengan bawah dagu. Selama pemakaian face shield, anak harus selalu di bawah pengawasan orang tua. Pada bayi, yang lebih dianjurkan adalah penggunaan kereta dorong dengan penutup dalam pengawasan orang dewasa, serta penggunaan masker oleh orang-orang dewasa di sekitar bayi, disamping menerapkan etika batuk dan memperhatikan kebersihan tangan.

IDAI menyarankan penggunaan masker pada anak di atas 2 tahun untuk meminimalisir kemungkinan penularan COVID-19 di era pandemi ini. Masker yang sesuai untuk anak adalah Penggunaan masker juga perlu disesuaikan pada anak yang memiliki kondisi medis tertentu yang berpengaruh terhadap pernafasannya, misalnya menderita penyakit jantung bawaan, penyakit paru kronik. Pada anak-anak dengan kondisi medis tersebut, penggunaan masker harus selalu di bawah pendampingan orang tua atau orang dewasa lain, serta sesuai dengan saran dari dokter yang merawat. Pada anak dengan kondisi medis tertentu yang membuatnya lebih rentan mengalami infeksi atau tertular COVID-19, penggunaan masker perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter yang merawat. Penggunaan masker pada anak juga harus memperhatikan ukuran serta cara penggunaannya, sehingga memberikan memberikan efek perlindungan yang efektif.

Mari kita terus menerapkan 3M untuk mencegah penularan COVID-19! Salam sehat Kejora!

Sumber:

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/question-and-answers-hub/q-a-detail/q-a-children-and-masks-related-to-covid-19
https://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/faq-pemakaian-masker
https://www.idai.or.id/about-idai/idai-statement/pandangan-ikatan-dokter-anak-indonesia-mengenai-pencegahan-infeksi-covid-19-pada-anak

Boleh Tidak Membersihkan Telinga Pakai Cotton Bud?

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Ayah Ibu Kejora!

Seringkali kita membersihkan telinga dengan caramengorek telinga memakai cotton bud, tapi pernahkah Ayah dan Ibu bertanya sebenarnya boleh nggak sih membersihkantelinga pakai cotton bud? Mari simak jawabannya yang dijelaskan oleh dr Natasha Supartono, Sp.THT berikut ini.

 

Pada prinsipnya, penggunaan alat apa pun untuk membersihkan telinga hanya boleh dilakukan oleh dokter. Penggunaan cotton bud di rumah tidak dianjurkan karena malah dapat mendorong kotoran telinga lebih dalam serta dapat menyebabkan beberapa efek samping.

Gambar 1. Earwax/kotoran telinga yang terdorong cotton bud

Beberapa efek samping yang dapat terjadi antara lain:

1. Menumpuknya kotoran telinga ke dalam dan mengeras
2. Luka pada liang telinga
3. Luka pada gendang telinga yang dapat menyebabkan bolongnya gendang telinga
4. Infeksi bakteri/ jamur pada liang telinga

Gambar 2. Luka pada gendang telinga yang dapat menyebabkan bolongnya gendang telinga

Kotoran telinga/ serumen/ earwax akan terus diproduksi oleh liang telinga sebagai sistem pertahanan yang dapat melindungi telinga dari berbagai mikroorganisme dan benda asing. Jadi, kotoran telinga tersebut memiliki fungsi tersendiri dan berperan menjaga kesehatan telinga.

Setelah memproduksi kotoran, telinga juga mempunyai mekanisme untuk membersihkan diri. Kotoran yang diproduksi tersebut akan bergerak ke arah luar secara bersamaan dengan bergeraknya otot di sekitar telinga misalnya pada saat kita berbicara/ mengunyah. Oleh karena itu, pembersihan telinga cukup dilakukan dengan membersihkan liang telinga bagian luar dan daun telinga dengan lap basah. Cara seperti ini akan lebih aman untuk dilakukan di rumah. Jadi, tidak perlu pakai cotton bud untukmembersihkan telinga ya Ayah dan Ibu Kejora!

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber artikel:

Bailey tect of otolaryngology 2016

Sumber gambar:

https://www.drganent.com/blog/this-is-why-you-should-never-dig-your-ears-with-a-cotton-bud-aka-q-tip/