Tips Menghadapi Fase Phalic pada Anak, Fase Psikoseksual yang Sering Membuat Orangtua Khawatir


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

>Haii Ayah dan Bunda Kejora!

Tidak hanya perkembangan fisik dan psikologis, si kecil juga memiliki periode perkembangan psikoseksual. Menurut Sigmund Freud, masing-masing indvidu akan melewati beberapa fase psikoseksual dalam hidupnya, dimulai sejak tahapan bayi. Freud membagi perkembangan psikoseksual pada individu terbagi menjadi lima fase, yaitu fase oral, anal, phalic, laten, dan genital. Salah satu fase yang sering membuat orangtua khawatir adalah fase phalic. Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut!

  1. Apa itu Fase Phalic pada Perkembangan Psikoseksual Anak?

Fase phalic terjadi ketika si kecil berusia 3 – 5 tahun. Pada fase ini si kecil akan memperhatikan dan memegang alat kelaminnya sendiri. Hal ini dikarenakan pusat kenikmatan anak terletak di sekitar alat genitalnya.

Banyak orangtua menjadi bingung dan terkejut karena mungkin melihat si kecil:

  • Mulai penasaran akan perbedaan gender dan alat kelamin
  • Pernah menstimulasi alat kelaminnya secara ringan
  • Memegang dan memainkan alat kelaminnya

Ayah dan Bunda tak perlu langsung panik ya saat melihat hal tersebut. Mengapa? Perilaku anak tersebut didasarkan baik pada rasa ingin tahu karena penglihatan atas alat kelaminnya, maupun mulai adanya edukasi seks yang diajarkan terkait jenis kelamin. Pada usia 3 tahun, anak mulai memperhatikan dan membedakan perbedaan jenis kelamin antara anak laki-laki dan perempuan. Hal ini memicu anak untuk mulai mengeksplorasi tubuhnya. Keingintahuan dan eksplorasi si kecil akan tubuhnya, termasuk alat kelaminnya, tidaklah didasarkan pada hasrat seksualnya ya, Ayah dan Bunda. Pada usia tersebut, hasrat seksual anak seharusnya belum terbentuk.

  1. Bagaimana Menghadapi Fase Phalic pada Si Kecil?

Jangan langsung khawatir dan marah

Ayah dan Bunda mungkin akan khawatir dan bingung saat melihat si kecil memegang dan memainkan alat kelaminnya. Tak jarang orangtua langsung membentak dan memarahi si kecil. Jika orangtua langsung marah, justru akan membuat si kecil takut dan makin penasaran. Selain itu, dapat terekam dalam memori si kecil sehingga akan berpotensi menimbulkan persepsi buruk bagi anak akan konsep seksual di masa depannya. Seperti penjelasan di atas, perilaku tersebut adalah hal yang normal dan wajar, asalkan tidak berlebihan.

Alihkan perhatian anak

Alih-alih membentak, Ayah dan Bunda bisa mengalihkan perhatian si kecil dengan aktivitas lainnya. Misalnya dengan bermain, berolahraga, atau melakukan hobi yang disukai anak.

Jika si kecil bukan hanya menggesek-gesekkan kelaminnya, namun sudah berlebihan atau bertelanjang dan memegang-megang kelaminnya di depan orang lain. Tentu hal ini membuat orangtua tidak nyaman. Tak perlu langsung membentak si kecil di depan orang lain, Ayah dan Bunda bisa mengajak si kecil langsung ke tempat tenang/masuk ke kamar (jika di rumah) dan alihkan perhatiannya untuk melakukan aktivitas yang lain.

Beri penjelasan dengan baik pada si kecil

Saat situasi sedang tenang, cobalah untuk membangun interaksi positif dengan si kecil. Lalu Ayah dan Bunda bisa mulai member penjelasan pada si kecil. Jelaskan bahwa alat kelamin anak adalah bagian yang sensitif dan berharga, sehingga akan lecet jika dipegang terus-menerus. Selain itu, penting bagi anak untuk menjaga kesehatan dan higienitas alat kelamin.

Buat aktivitas yang produktif dan berikan lingkungan positif bagi si kecil

Rutinitas produktif dan positif, seperti belajar, berolahraga melakukan hobi, bisa menyalurkan energi anak ke arah yang positif. Pastikan juga lingkungan sosial si kecil positif ya, Ayah dan Bunda. Awasi lingkungan di mana si kecil beraktivitas dan ajarkanlah pentingnya menjaga dan menghormati tubuhnya dan tubuh orang lain.

  1. Apakah Fase Phalic akan Hilang dengan Sendirinya?

Ayah dan Bunda tidak perlu khawatir, fase phalic akan lewat dengan sendirinya ketika si kecil berusia 6 tahun ke atas. Pada usia ini, si kecil akan memasuki fase laten, di mana anak sudah akan lebih terfokus pada tumbuh kembang fisik dan kognitifnya.

Selama melewati fase phalic ini, Ayah dan Bunda sama-sama berperan penting untuk menciptakan suasana keterbukaan dan kenyamanan bagi si kecil. Ayah dan Bunda juga berperan penting untuk bisa memiliki waktu berkualitas agar dapat membangun komunikasi yang baik dengan si kecil. Dengan kenyamanan dan interaksi yang baik, akan lebih mudah bagi Ayah dan Bunda dalam memberikan edukasi seks yang tepat bagi si kecil.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa, M.Si

Secure attachment

 

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

 

Hai, Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah mendengar tentang secure attachment pada orang tua dan anak? Apa ya secure attachment itu?

Secure attachment adalah hubungan emosional yang didasari dengan perasaan aman yang terjalin oleh orangtua atau pengasuh utama dan anak. Secure attachment terbentuk ketika figure terdekat mampu memahami dan memberikan respon yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak.

 

Memangnya, apa pentingnya orang tua dan anak perlu memiliki secure attachment?

Secure attachment merupakan fondasi dasar yang memungkinkan anak untuk bebas mengeksplorasi banyak hal dengan perasaan aman. Secure attachment juga menjadi tempat pertama anak belajar mengatur perasaan dan tindakan mereka,  kemampun menyelesaikan masalah, kepercayaan, empati dan berbagai aspek penting lainnya dengan melihat perilaku orang yang memberi mereka perhatian dan kenyamanan. Secure attachment sangat berpengaruh besar untuk kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

 

Apa saja manfaat yang didapatkan oleh anak ketika orang tua mampu memberi secure attachment?

Dengan mendapatkan secure attachment, anak dapat:

  • Memiliki kemampuan self care.
  • Mampu meregulasi situasi stress dan emosi secara umum.
  • Memiliki self esteem yang baik.
  • Mampu menjalin relasi sehat dengan orang lain.
  • Mampu membangun rasa percaya dan hubungan positif di masa dewasa.

 

Nah, yang terakhir, hal apa saja yang bisa dilakukan orang tua untuk membangun secure attachment pada anak?

  • Tunjukkan perhatian dalam bentuk sentuhan dan kalimat.
  • Membuat kontak mata ketika berinteraksi dengan anak.
  • Mendengarkan dan memberikan perhatian secara penuh ketika bersama anak.
  • Cari tahu kebutuhan emosi anak dibalik setiap perilaku yang ia tunjukkan.
  • Berikan respon yang konsisten.
  • Berlatihlah untuk menyadari dan memenuhi kebutuhan pribadi.

Orangtua akan  mampu menyadari kebutuhan anak ketika mereka mampu menyadari kebutuhan diri mereka sendiri.

 

Editor: drg. Valeria Widita W

Cegukan pada Bayi Baru Lahir, Bahayakah?

 

 

 

 

 

oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Pengalaman pertama menjadi orang tua tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Ayah dan Ibu Kejora. Ketika memiliki bayi, tentu Ayah dan Ibu sudah memelajari terlebih dahulu bagaimana cara merawatnya, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta pertolongan pertama yang harus dilakukan Ketika buah hati sakit. Namun, terkadang ada kondisi tertentu yang sering membuat orang tua baru bingung, misalnya ketika bayi cegukan tapi tidak berhenti dalam waktu singkat.

Cegukan atau hiccups adalah kontraksi tiba-tiba yang tak disengaja dari diafragma dan otot sela iga. Akibatnya, timbul hisapan udara secara mendadak ke dalam paru melewati ruang antar pita suara, sehingga terjadi suara “hik” yang khas. Cegukan bisa terjadi pada orang dewasa, anak, bayi, bahkan janin dalam kandungan dan biasanya akan hilang dengan sendirinya atau hilang saat bayi tidur.

Cegukan sangat wajar terjadi pada bayi baru lahir. Sebagian bayi sudah mengalami cegukan sejak masih dalam kandungan, mulai sekitar bulan ke-6 kehamilan ketika paru sudah mulai berkembang. Cegukan juga merupakan suatu tahapan tumbuh kembang bayi, jadi bukanlah hal yang aneh dan tidak perlu dikhawatirkan.

 

Apa Penyebab Cegukan dan Apa Akibatnya?

Penyebab cegukan pada bayi baru lahir belum dapat dipastikan. Beberapa teori menyebutkan cegukan pada bayi baru lahir disebabkan oleh udara yang terperangkap di lambung selama menyusui, rangsangan mendadak pada diafragma seperti menyusu terlalu banyak dan cepat, pemberian susu yang terlalu dingin, iritasi akibat susu yang terlalu panas, mengajak bercanda sehingga bayi tertawa saat menyusu, dan batuk terlalu keras.

Cegukan berdasarkan lamanya dibagi menjadi akut, persisten dan intraktabel. Cegukan akut bila terjadi kurang dari 48 jam, cegukan persisten bila lebih dari 2 hari dan intraktabel berlangsung selama lebih dari 1 bulan.

Cegukan yang berlangsung lebih dari 48 jam harus diwaspadai dan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter untuk memastikan apakah terdapat kelainan yang serius. Beberapa kelainan yang dapat menimbulkan cegukan lebih dari 48 jam antara lain gangguan saraf diafragma, radang paru, kelainan pada otak seperti radang otak dan radang selaput otak, penyakit ginjal, atau gangguan keseimbangan elektrolit.

Cegukan akut dapat memberikan rasa yang tidak nyaman, refluks, gangguan emosi, bahkan kadang menyebabkan aspirasi, yaitu cairan masuk ke paru. Dalam jangka panjang cegukan yang berlanjut terus menerus dapat mempengaruhi kualitas hidup anak, karena dapat mengurangi asupan makanan sehingga menyebabkan dehidrasi, malnutrisi, kehilangan berat badan, dan gagal tumbuh.

 

Pemeriksaan pada Bayi dengan Cegukan

Cegukan akut biasanya tidak memerlukan evaluasi lebih lanjut karena akan membaik dengan sendirinya. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan bila terjadi cegukan persisten dan intraktabel. Dokter anak akan menanyakan riwayat, melakukan pemeriksaan menyeluruh, dan apabila perlu melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mencari penyebabnya. Terkadang pemeriksaan X-ray dada dapat membantu mencari kelainan pada paru yang menyebabkan cegukan. Pemeriksaan CT scan dan MRI mungkin dilakukan bila cegukan dicurigai disebabkan oleh kelainan pada otak.

 

Penanganan Cegukan

Bila bayi mengalami cegukan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat berhentinya cegukan, antara lain sering mengubah posisi saat sedang menyusui, menyendawakan bayi terlebih dahulu sebelum menyusui lagi, dan jika masih cegukan tetap berikan susu hingga bayi tenang. Jika bayi sering cegukan saat diberikan susu, maka berikan susu dalam jumlah sedikit namun sering. Bisa juga dicoba memberikan minum air hangat, atau ditidurkan berbaring dengan lutut ditekuk. Pada cegukan yang terus berlanjut, dokter mungkin akan memberikan beberapa obat, namun biasanya ini tidak dilakukan pada bayi baru lahir.

 

Bagaimana Mencegah Cegukan pada Bayi?

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya cegukan antara lain jangan memberikan makan atau minum terlalu cepat, memberikan air putih satu sampai dua sendok teh kepada bayi setelah minum susu, tidak mengajak bayi bercanda sesaat setelah minum susu, dan memberikan jeda waktu istirahat sekitar setengah jam setelah si bayi minum susu. Posisi saat menyusui atau minum dengan dot harus benar sehingga udara tidak masuk terlalu banyak saat minum susu. Jangan lupa sendawakan bayi setelah menyusu, ya.

 

Jadi, secara umum cegukan akut pada bayi dan anak merupakan hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Meskipun demikian, jangan anggap sepele cegukan yang berlangsung terus menerus lebih dari 48 jam ya, Ayah dan Ibu Kejora.

Editor: drg. Rahmatul Hayati

 

Referensi

  1. Chang FY, Lu CL. Hiccup: Mystery, Nature, and Treatment. J Neurogastroenterol Motil. 2012;18(2):123-30.
  2. Howes D. Hiccups: A new explanation for the mysterious reflex. Bioessays. 2012;34:451-3.
  3. de Hoyos A, Esparza EA, Cervantes-Sodi M. Non-erosive reflux disease manifested exclusively by protractedhiccups. J Neurogastroenterol Motil. 2010 Oct;16(4):424-7.
  4. García Callejo FJ, Redondo Martínez J, Pérez Carbonell T, Monzó Gandía R, Martínez Beneyto MP, Rincón Piedrahita I. Hiccups. Attitude in Otorhinolaryngology Towards Consulting Patients. A Diagnostic and Therapeutic Approach. Acta Otorrinolaringol Esp. 2017 Mar-Apr;68(2):98-105.
  5. Rey E, Elola-Olaso CM, Rodríguez-Artalejo F, Locke GR, Díaz-Rubio M. Prevalence of atypical symptoms andtheir association with typical symptoms of gastroesophageal reflux in Spain. Eur J Gastroenterol Hepatol. 2006Sep;18(9):969-75.
  6. Steger M, Schneemann M, Fox M. Systemic review: the pathogenesis and pharmacological treatment of hiccups. Aliment Pharmacol Ther. 2015 Nov;42(9):1037-50.

 

 

 

Serba-serbi Nyeri Punggung Bawah

oleh dr. Felix Adrian, Bmed.Sc, Sp.N

Dokter Spesialis Saraf

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Apakah Ayah dan Ibu Kejora pernah mengalami nyeri pada bagian punggung bawah? Sebenarnya apa penyebab dari nyeri punggung bawah, kapan sebaiknya memeriksakan diri ke dokter, dan bagaimana cara mencegahnya? Yuk kita cari tahu bersama!

Nyeri punggung bawah atau low back pain (LBP) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat sering ditemui sehari-hari. Menurut suatu penelitian di Amerika, terdapat sekitar 80% masyarakat Amerika yang pernah berkonsultasi dengan dokter karena mengalami nyeri punggung bawah. Penyebab umum dari nyeri punggung bawah dapat berasal dari struktur tulang belakang, otot punggung, sendi faset, bantalan tulang belakang, ketidakstabilan tulang belakang, dan kompresi saraf.

Secara garis besar nyeri punggung bawah dapat dibagi menjadi 2 tipe nyeri, yaitu nyeri aksial dan nyeri radikular. Pada nyeri aksial, nyeri dirasakan seperti kaku, tertarik, dan terdapat rasa berdenyut. Nyeri ini biasanya disebabkan oleh kekakuan otot, gangguan sendi faset, dan juga robekan pada diskus. Pada umumnya, lokasi nyeri pada nyeri aksial bisa ditunjuk oleh si penderita. Sedangkan pada nyeri radikular, nyeri dirasakan seperti tertusuk, kesemutan, atau sensasi tebal yang biasanya disebabkan oleh penjepitan saraf.

Terdapat beberapa tanda bahaya atau red flags pada nyeri punggung bawah yang perlu Ayah dan Ibu Kejora perhatikan, yaitu:

  1. Riwayat Keganasan: keluhan nyeri yang disertai dengan penurunan berat badan, nyeri menetap pada saat istirahat, atau penderita berusia > 50 tahun.
  2. Infeksi: keluhan nyeri disertai dengan demam yang sumbernya tidak jelas atau terdapat riwayat infeksi sesaat sebelum nyeri timbul.
  3. Fraktur: keluhan nyeri disertai dengan riwayat konsumsi obat “steroid” jangka panjang, osteoporosis, riwayat trauma seperti jatuh atau terbentur, atau penderita berusia > 70 tahun.
  4. Sindrom cauda ekuina: keluhan nyeri disertai dengan gangguan berkemih, kelemahan pada kedua kaki, atau sensasi tebal pada area bokong.
  5. Gejala neurologis fokal.
  6. Kegagalan perbaikan nyeri dengan terapi yang sudah adekuat selama > 4 minggu.

Apabila Ayah dan Ibu Kejora mengalami nyeri punggung bawah yang disertai dengan salah satu dari tanda-tanda di atas, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter anda.

Beberapa tips yang dapat Ayah dan Ibu Kejora dapat lakukan untuk mencegah nyeri punggung bawah adalah:

    1. Melakukan peregangan setiap pagi pada saat bangun tidur.
    2. Olahraga teratur.
    3. Menjaga postur yang baik ketika duduk, berdiri, atau beraktivitas.
    4. Menggunakan alas kaki yang tepat.
    5. Menggunakan tumpuan kaki ketika mengangkat barang berat.

Editor: Dinda Mawar Cita P., S.Ked

Referensi

  1. Bratton, RL. 1999. “Assessment and Management of Acute Low Back Pain.” Am Fam Physician.
  2. Chou, R., and LH Huffman. 2007. “Guideline for the evaluation and management of low back pain evidence review.” American Pain Society.
  3. Cooper, G. n.d. “Understanding Different Types of Back Pain.” Accessed 2021. https://www.spine-health.com/blog/understanding-different-types-back-pain.
  4. Purwata, TE, S. Henny, and DR Amril, eds. 2019. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Nyeri. N.p.: PERDOSSI.

Waduh, anakku terserang demam berdarah, aku harus kasih makan apa?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Ayah ibu Kejora pasti sudah familiar dengan demam berdarah. Ya, betul. Demam berdarah adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan berasa dari gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albocpictus. Demam berdarah umumnya ditandai dengan gejala demam terus menerus selama tiga hari atau lebih dan disertai dengan adanya penurunan trombosit dibawah nilai normal.

Umumnya, pada hari-hari pertama demam, anak juga akan mengeluhkan penurunan nafsu makan, nyeri-nyeri otot, nyeri dibelakang mata, nyeri ulu ati, mual hingga muntah.  Tidak bisa dipungkiri bahwa pada hari-hari pertama sakit, toleransi diet anak akan jauh menurun. Meski demikian, pada fase ini nutrisi yang adekuat sangat dibutuhkan oleh anak.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian nutrisi pada anak dengan demam berdarah.

  1. Konsistensi

Seperti yang sudah disampaikan diatas, pada dasarnya anak dengan demam berdarah akan mengeluhkan nyeri ulu ati, mual hingga muntah. Maka dari itu, pemilihan konsistensi makanan yang tepat sangat diperlukan.

Diet lunak (dapat juga bentuk cair) sangat direkomendasikan pada fase awal demam berdarah. Umumnya anak tidak mau makan apapun pada fase-fase awal sehingga, pemberian diet lunak maupun cair umumnya dapat ditoleransi dengan lebih baik pada anak.

Sangat penting bagi orang tua untuk memperhatikan status hidrasi anak. Orang tua harus memastikan anak tetap mau minum di fase-fase ini. Minum banyak air sangat dibutuhkan untuk menggantikan cairan yang hilang pada fase demam tinggi serta berperan untuk menurunkan suhu tubuh.

  1. Jumlah

Rasa mual yang dialami anak tentunya membuat anak enggan untuk makan dalam porsi besar. Sehingga, ayah dan ibu disarankan untuk memberikan makanan dalam porsi yang lebih kecil namun sering pada anak. Frekuensi makan dapat diberikan 5-6 kali per hari (setiap 2-3 jam)

  1. Komposisi

Penting sekali untuk tetap memperhatikan komposisi dari makanan atau minuman yang diberikan pada anak. Pada dasarnya makanan/minuman yang diberikan harus memiliki kandungan makronutrien dan mikronutrien yang adekuat.

Makanan yang diberikan harus tinggi protein karena pada dasarnya protein sangat berperan penting dalam perbaikan jaringan tubuh serta sistem kekebalan tubuh. Makanan yang tinggi protein dan mudah dicerna seperti susu dan telur dapat dipertimbangkan.

Makanan yang diberikan juga harus dipastikan kaya akan karbohidrat dan mudah dicerna.

Demam berdarah secara tidak langsung akan menurunkan kapasitas pencernaan anak sehingga akan sulit bagi anak untuk mencerna lemak secara sempurna. Sehingga, diet yang dianjurkan sebaiknya adalah yang rendah lemak.

Sangat penting untuk memastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi memiliki kandungan vitamin dan mineral yang adekuat sehingga pemberian sup sayuran, buah segar juga dapat dianjurkan.

Jangan lupa untuk memperhatikan kandungan rempah-rempah pada makanan yang dibuat. Karena anak dengan demam berdarah umumnya akan mengalami mual dan muntah, diet yang direkomendasikan adalah diet yang tidak pedas dan tidak mengandung rempah-rempah dengan aroma yang terlalu menyengat.

Jadi, apa saja makanan dan minuman yang direkomendasikan?

  • Buah jambu, apel, jeruk, delima. Buah yang kaya akan vitamin C dan K dinilai dapat membantu untuk peningkatan sistem imun tubuh
  • Sayur bayam, sop tomat, sup bit). Selain teksturnya yang lembut dan mudah dicerna, kandungan yang dimiliki tiap komponen sangat berperan penting untuk tubuh. Bayam kaya akan vitamin C, vitamin K, kalium, dan zat besi. Tomat kaya akan vitamin C dan kalium. Bit kaya akan vitamin C. Komponen-komponen tersebut berperan penting untuk keseimbangan elektrolit, serta untuk kecukupan mikronutrien tubuh.
  • Hindari makanan yang pedas, berminyak, dan goreng-gorengan.

Kesimpulannya, anak dengan demam berdarah pasti akan mengalami penurunan nafsu makan, sering mengeluhkan mual dan muntah. Sehingga, pemberian diet yang dianjurkan harus disesuaikan dengan kemampuan anak. Pemberian diet lunak atau cair di awal fase harus dicoba sampai anak dapat menoleransi diet padat. Pemberian jumlah diet yang disarankan adalah dalam jumlah kecil namun sering. Pastikan memberikan diet yang tinggi protein, tinggi karbohidrat dan rendah lemak yang kaya akan vitamin, mineral. Hindari makanan yang sulit dicerna, pedas, berminyak, maupun dengan bau terlalu menyengat.

References

  1. Mishra S, Agrahari K, Shah D. Prevention and Control of Dengue by Diet Therapy [Internet]. Dipterajournal.com. 2021 [cited 2 June 2021]. Available from: https://www.dipterajournal.com/pdf/2017/vol4issue1/PartA/4-1-10-484.pdf
  2. Comprehensive guidelines for prevention and control of dengue and dengue haemorrhagic fever. New Delhi, India: World Health Organization Regional Office for South-East Asia; 2011.
  3. John Hopkins Medicine. Dengue Fever
  4. Centers for Disease Control and Prevention. Your Infant has Dengue

 

Mitos atau Fakta: Menjahit Saat Hamil Anak Akan Sumbing/Cacat?

 

 

 

 

oleh dr. Devy Marischa Malik

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi

 

  1. Dokter, apa benar bila ibu hamil menjahit nanti anaknya akan sumbing atau mengalami kecacatan?

Tentu tidak, Keluarga Kejora!

Sumbing terjadi karena adanya kegagalan pembentukan dan pertemuan struktur wajah yang terjadi pada minggu keempat sampai dengan ketujuh masa kehamilan. Sumbing dapat terjadi pada bibir dan juga langit-langit mulut bayi.

  1. Apa saja faktor risiko terjadinya sumbing?

Faktor risiko terjadinya sumbing bervariasi, antara lain karena adanya penggunaan zat yang bersifat racun bagi janin seperti obat penenang, konsumsi alkohol dan sebagainya. Sumbing juga bisa diakibatkan karena adanya kelainan genetik pada bayi, seperti Sindroma Jarcho-Levin atau kelainan lainnya. Selain itu, jika Ibu mengidap diabetes mellitus atau merokok selama masa kehamilan, maka risiko janin mengalami sumbing akan meningkat.

Jadi, bukan karena menjahit saat kehamilan ya!

  1. Kapan bisa mengetahui bila bayi sumbing?

Sumbing dapat diketahui sejak dini yaitu sejak dalam masa kehamilan melalui pemeriksaan USG yang teratur dan berkala. Namun seringkali sumbing pada langit-langit sulit untuk diketahui melalui USG sehingga baru diketahui saat bayi lahir.

Penanganan sumbing pun sangat bervariasi, mulai dari tindakan operasi ringan hingga yang lebih berat dan terapi oral untuk menyempurnakan perkembangannya.

Editor: dr. Nurul Larasati

Beruntusan pada bayi: Apakah alergi makanan?

 

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Bayi ASI tiba-tiba ada ruam di wajah/badan, apakah penyebabnya?

Ruam pada bayi bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari eksim atau dermatitis sampai infeksi seperti virus atau bakteri. Berikut adalah beberapa penyebab ruam pada bayi (tanpa demam) yang sering terjadi:

  1. Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik merupakan salah satu masalah kulit paling sering ditemui pada anak. Dermatitis atopik seringkali timbul sebelum anak berusia 1 tahun. Gejalanya berupa ruam kemerahan, bintil-bintil berair, keropeng dan kulit kering yang gatal. Ruam basanya timbul di area pipi, dahi, kemudian meluas ke badan atau punggung tangan dan kaki. Dermatitis atopik biasanya diturunkan dan muncul karena adanya disfungsi sawar kulit, kelainan sistem imun tubuh dan pemicu dari lingkungan.

  1. Dermatitis Kontak Alergi/Iritan

Kulit bayi dan anak biasanya memiliki sawar yang belum sempurna seperti kulit orang dewasa, sehingga lebih gampang mengalami iritasi setelah kontak dengan bahan-bahan tertentu. Apabila muncul ruam di area yang terpajan seperti wajah, tangan, dan kaki dan ruam tersebut berbatas tegas, kemungkinan ruam merupakan reaksi kulit setelah kontak dengan suatu bahan atau yang disebut sebagai dermatitis kontak.

  1. Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik biasanya berupa ruam kemerahan dengan kulit mati/kerak berwarna kekuningan di area kulit kepala, alis, pipi, belakang telinga dan daerah lipatan seperti leher, ketiak dan lipat paha. Dermatitis seboroik biasanya terjadi karena pengaruh hormon ibu dan dapat hilang sendiri pada usia 6 bulan.

  1. Akne Neonatorum/Jerawat

Akne pada bayi baru lahir biasanya disebabkan hormon androgen dari ibu. Hormon tersebut akan merangsang kelenjar minyak bayi, sehingga menimbulkan keluhan berupa bintil kemerahan di wajah, leher dan punggung bayi. Hormon androgen tersebut bisa terus meningkat sampai usia 1 tahun, kemudian turun lagi hingga pubertas. Akne neonatus dan akne infantil biasanya dapat hilang sendiri.

  1. Miliaria

Miliaria atau biang keringat disebabkan oleh penyumbatan kelenjar keringat, sehingga keringat terjebak di bawah kulit. Penyumbatan ini terjadi biasanya karena pemakaian baju dan bedong yang terlalu ketat atau bayi berada di ruangan yang terlalu panas dan lembap. Biasanya ruam terlihat seperti bintil-bintil kecil putih dan kalau pecah berisi air. Ruam bisa ada di dada, punggung, wajah dan kepala. Biasanya ruam akan hilang sendiri apabila pemicu dihilangkan.

  1. Infeksi jamur

Penyebab ruam pada bayi bisa bermacam-macam, dengan tampilan yang mirip. Apabila ruam tidak hilang setelah 1-2 hari, semakin meluas, bayi terlihat gelisah, menggaruk-garuk sampai luka atau timbul demam, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mencari penyebabnya.

 

Apakah ruam pada bayi ASI ekslusif dapat disebabkan oleh makanan yang dimakan ibu?

ASI adalah sumber nutrisi yang paling optimal dan direkomendasikan sebagai nutrisi utama pada bayi, terutama bayi dibawah usia 6 bulan. Meski demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bisa terjadi reaksi alergi pada bayi terhadap makanan yang dimakan oleh ibu, terutama susu sapi, kacang dan ikan. Protein makanan tersebut dapat ditemukan pada ASI dalam jumlah yang cukup banyak untuk memicu reaksi alergi pada bayi yang sensitif terhadap makanan tersebut.

Pada bayi dengan ruam berulang yang didiagnosis sebagai dermatitis atopik sedang-berat, 1 dari 3 biasanya memiliki alergi pada makanan tertentu, terutama susu sapi, kacang-kacangan, ikan, telur dan kacang kedelai. Apabila ibu mengonsumsi makanan tersebut, bayi yang alergi terhadap makanan tersebut bisa timbul gejala seperti ruam kemerahan, gatal, bentol/biduran, sesak napas, diare, kolik, dan timbul darah di feses. Gejala bisa langsung timbul langsung setelah ibu konsumsi makanan tersebut dan menyusui atau bisa baru muncul setelah beberapa jam atau hari setelah bayi terpapar.

Meski demikian, alergi terhadap makanan tertentu sebetulnya jarang terjadi, oleh karena itu jangan langsung menghindari makanan tertentu apabila muncul ruam pada bayi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa restriksi makanan tertentu pada ibu hamil dan menyusui tidak mengurangi risiko terjadinya dermatitis atopik pada anak. Konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis kulit dan kelamin atau dokter spesialis anak bagian alergi imunologi apabila ada kecurigaan bayi mengalami alergi terhadap makanan tertentu. Restriksi makanan tertentu tanpa mengetahui dengan pasti apakah memang anak alergi akan berisiko menyebabkan anak menjadi kurang gizi dan gagal tumbuh.

 

Bagaimana mengetahui apakah ruam disebabkan oleh alergi makanan atau bukan?

Apabila orang tua curiga atau takut anaknya mengalami gejala alergi terhadap makanan tertentu, segera periksa ke dokter spesialis anak atau spesialis kulit dan kelamin.

Biasanya riwayat gejala yang timbul, makanan yang dikonsumsi dan perawatan kulit akan sangat membantu. Penting untuk membuat catatan harian makanan yang dikonsumsi dan gejala yang timbul. Alergi makanan bisa dicurigai apabila terjadi perburukan baik gejala kulit atau gejala lainnya beberapa saat setelah konsumsi jenis makanan yang baru. Meski demikian, hanya 35-50% dari pasien yang orang tuanya melaporkan alergi makanan benar-benar memiliki alergi terhadap makanan tersebut, oleh karena itu biasanya akan dilakukan beberapa pemeriksaan seperti skin prick test dan pemeriksaan darah.

Hasil pemeriksaan skin prick test ataupun darah tidak bisa berdiri sendiri. Hampir 90% anak dengan dermatitis atopik sedang-berat memiliki hasil skin prick test yang positif atau kadar antibodi terhadap makanan tertentu di darah. Namun hanya 35-40% dari anak dengan hasil tes positif tersebut yang benar-benar memiliki alergi terhadap makanan tertentu. Karena itu, tidak perlu untuk melakukan pemeriksaan alergi sendiri, terutama bila anak sudah pernah minum ASI saat ibu mengkonsumsi makanan yang dicurigai dan tidak muncul gejala.

Apabila riwayat klinis dan hasil pemeriksaan mendukung adanya alergi makanan tertentu, ibu akan diminta untuk tidak mengonsumsi makanan tersebut. Apabila setelah menghentikan konsumsi makanan tertentu terjadi perbaikan klinis, maka diagnosis alergi makanan jelas, namun setelah jangka waktu tertentu, makanan tersebut akan pelan-pelan dikonsumsi kembali sambil melihat kondisi anak karena seringkali alergi makanan akan mengalami perbaikan setelah anak mencapai usia tertentu.

Menegakkan diagnosis dan tata laksana alergi makanan cukup sulit dan memerlukan kerja sama antara dokter dan orang tua pasien. Sebaiknya orang tua tidak langsung melakukan pantangan makanan tanpa berkonsultasi dengan dokter dan mengkonfirmasi benar adanya alergi makanan tersebut. Bayi dan anak memerlukan nutrisi yang lengkap untuk proses tumbuh kembang. Selain melakukan pantangan makanan tertentu, penting untuk ibu berdiskusi dengan dokter mengenai alternatif makanan, sehingga nilai gizi ibu dan bayi tetap terpenuhi.

Alergi makanan biasanya akan membaik semakin anak bertambah usia. Karena itu, proses pantang makanan dan pengenalan makanan tersebut harus terus dipantau oleh dokter.

Editor: drg. Agnesia Safitri

 

Sumber:

  1. Rajani PS, Martin H, Groetch M, Järvinen KM. Presentation and Management of Food Allergy in Breastfed Infants and Risks of Maternal Elimination Diets. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020 Jan;8(1):52-67. doi: 10.1016/j.jaip.2019.11.007. Epub 2019 Nov 18. PMID: 31751757.
  2. Chadha A, Jahnke M. Common Neonatal Rashes. Pediatr Ann. 2019 Jan 1;48(1):e16-e22. doi: 10.3928/19382359-20181206-01. PMID: 30653638.
  3. Little C, Blattner CM, Young J. Update: Can breastfeeding and maternal diet prevent atopic dermatitis? Dermatol Pract Concept 2017;7(3):14. DOI: https://doi.org/10.5826/dpc.0703a14

Pemberian MPASI Terbaik untuk Sang Buah Hati


 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Hai Keluarga Kejora!

Enam bulan pertama Sang Buah Hati adalah periode terbaik untuk pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif. Periode berikutnya adalah masa penyapihan yaitu memberikan makanan pendamping-ASI (MP-ASI) bersama pemberian ASI untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas hal mendasar terkait pemberian MP-ASI terbaik untuk Sang Buah Hati.

MP-ASI merupakan makanan atau minuman selain ASI yang mengandung nutrien untuk diberikan kepada bayi selama periode penyapihan dari usia 6 bulan karena pada masa ini kandungan ASI tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan total energi, protein, dan beberapa mikronutrien seperti Fe, zinc, dan vitamin A. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition merekomendasikan pemberian MP-ASI tidak boleh lebih dini dari usia 17 minggu dan lebih terlambat dari 26 minggu. Pemberian terlalu dini (< 4 bulan) dapat meningkatkan risiko diare, dehidrasi, penurunan produksi ASI serta reaksi alergi. Apabila pemberian MP-ASI terlambat (> 7 bulan) dapat berpotensi terjadinya gagal tumbuh, defisiensi zat besi dan gangguan tumbuh kembang. Pemberian ASI tetap dapat dilanjutkan sampai usia 24 bulan.

Terdapat beberapa tanda yang perlu diperhatikan untuk memastikan Sang Buah Hati siap mendapatkan MP-ASI, diantaranya :

1. Kesiapan fisik berupa refleks ekstrusi sudah berkurang atau menghilang, perkembangan oromotor untuk menelan makanan yang lebih kental dan padat, sudah dapat memindahkan makanan dari bagian depan ke belakang mulut, mampu menahan kepala tetap tegak, dapat duduk tanpa atau hanya dengan sedikit bantuan serta mampu menjaga keseimbangan badan ketika tangan meraih benda di depannya.

2. Kesiapan psikologis, yaitu bayi menunjukkan sikap yang lebih mandiri dan eksploratif, tindakan keinginan makan (membuka mulutnya), rasa lapar (memajukan tubuh ke arah makanan), atau pun sebaliknya rasa tidak berminat/kenyang (menarik tubuh ke belakang)

Syarat yang harus dipenuhi dalam pemberian MP-ASI diantaranya tepat waktu (diberikan ketika ASI saja tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi), adekuat (MP-ASI memenuhi kebutuhan makro dan mikronutrien), aman- higienis (proses pembuatan dengan menggunakan cara, bahan, alat yang aman serta higienis), dan tepat cara pemberian (secara responsif dengan memperhatikan sinyal lapar dan kenyang anak). Pemberian MP-ASI dilakukan secara bertahap terkait jenis, tekstur, konsistensi, jumlah, serta frekuensinya.

Makanan padat pertama yang paling baik terbuat dari beras karena beras merupakan bahan paling hipoalergenik. Hal yang perlu diperhatikan dalam komponen pemberian MP-ASI diantaranya bit, wortel, sawi, bayam dan lobak tidak boleh diberikan untuk bayi usia < 6 bulan karena kandungan nitrat tinggi, madu tidak diberikan pada anak usia < 1 tahun, susu sapi belum boleh diberikan kepada bayi < 1 tahun kerena kandungan Fe rendah, tinggi Na, K, Cl dan mineral lainnya sehingga akan memperberat fungsi ginjal. Jangan memberikan produk makanan kalengan karena umumnya berkadar garam tinggi atau ada tambahan gula.

Untuk tumbuh kembang optimal bayi memerlukan asupan makronutrien, yaitu karbohidrat dan lemak sebagai sumber energi, protein hewani dan nabati, serta mikronutrien, yaitu vitamin dan mineral berupa zat besi, kalsium, zinc, vitamin C, vitamin A, dan folat. Jangan memaksa bayi menghabiskan MP-ASI, namun buatlah suasana menyenangkan dalam proses pemberian MP-ASI.

Jangan pernah putus asa ketika anak menolak suatu menu MP-ASI karena anak bahkan bisa memerlukan 10-15x upaya pemberian makanan sebelum menyukai menu tersebut. Jadikan momen pemberian makan adalah kesempatan orang tua untuk berinteraksi dengan Sang Buah Hati. Selamat berproses memberikan MP-ASI terbaik untuk Keluarga Kejora 

Editor: Maulidina Nabilah T., drg.

 

Sumber:
1. IDAI. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu. 2018.
2. DiMaggio DM, Cox A, Porto AF. Updates in Infant Nutrition. Pediatrics in Review 2017;38:449–62.

Mainan si Kecil Masuk ke Hidung!

 

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!
Seperti yang Ayah dan Ibu ketahui, ketika anak-anak sedang sering-seringnya mengeksplorasi lingkungan pasti memiliki rasa ingin tahu yang begitu tinggi terhadap tubuhnya sendiri dan lingkungan serta benda-benda di sekitar. Benda-benda yang sering menarik perhatian si kecil adalah batu baterai berbentuk bulat yang ada di dalam mainan, manik-manik, biji-bijian, dan mainan lain yang berukuran kecil. Tahukah Ibu dan Ayah Kejora seringkali si kecil penasaran dan memasukkannya ke dalam hidung, lho!

Apa yang terjadi kalau benda-benda tersebut dimasukkan ke dalam hidung? Tentunya hal ini akan mengganggu dan berakibat fatal. Benda – benda yang masuk ke dalam hidung dapat menyumbat dan menyebabkan infeksi pada daerah hidung dan sinus. Lebih parahnya lagi untuk benda-benda yang mengandung senyawa kimia seperti batu baterai dapat merusak struktur dan bentuk hidung. Ayah dan Ibu bisa belajar mengenali tanda-tanda bila ada benda atau mainan si kecil yang masuk ke dalam hidung.

Yuk, kenali tanda – tandanya!

    1. Ingus kehijauan satu sisi
    2. Hidung yang berbau pada satu sisi
    3. Ingus bercampur darah

Lalu, apa yang Ayah dan Ibu Kejora bisa lakukan jika curiga si kecil memasukkan benda ke dalam hidung?

  1. Perhatikan sekitar apakah ada benda-benda kecil yang dapat si kecil masukkan
  2. Ajak bicara si kecil dan tanyakan apakah dia memasukkannya
  3. Bawa ke dokter untuk dikeluarkan. Jangan dicoba keluarkan sendiri ya karena dapat berisiko melukai struktur hidung, perdarahan atau bahkan benda tersebut dapat terdorong lebih dalam sehingga turun ke saluran napas.

Yang paling penting, usahakan Ayah dan Ibu Kejora tetap tenang sehingga si kecil bisa segera mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Editor : drg. Rizki Amalia (@rizkiamalia234)

Sumber: B. J. Bailey, J. Johnson, C. Rosen. Bailey’s Head and Neck Surgery: Otolaryngology

Hiperkolesterolemia pada Anak

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK, FINEM

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Sekilas tentang Kolesterol Darah…

Kolesterol adalah salah satu jenis lemak yang diproduksi secara alami oleh organ hati, yang juga bisa didapatkan dari makanan. Kolesterol sebetulnya sangat penting dan berfungsi untuk pembentukan sel-sel sehat, vitamin, juga hormon.

Dalam bahasa sehari-hari, “kolesterol tinggi” seringkali dianggap sama dengan total kolesterol jahat (LDL) yang tinggi. Kita harus ingat, angka total kolesterol hanya memberikan gambaran sekilas mengenai kadar kolesterol darah, yang merupakan gabungan kadar kolesterol yang baik dan kolesterol jahat.

Saya pernah mendengar ada kolesterol jahat dan kolesterol baik…

Betul, kolesterol total terdiri dari high-density lipoprotein (HDL), low-density lipoprotein (LDL), dan trigliserida (Tg). Kolesterol HDL seringkali disebut juga sebagai kolesterol baik, sedangkan LDL seringkali disebut sebagai kolesterol jahat.

Selain memperhatikan jumlah kolesterol total, kita juga harus memperhatikan rasio antara kolesterol HDL, LDL, dan Tg. Kadar kolesterol jahat yang terlalu tinggi dengan kadar kolesterol baik yg terlalu rendah dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Benarkah hiperkolesterolemia bisa terjadi pada anak-anak?

Ya, benar.

Penyebab kadar kolesterol LDL dan trigliserida yang tinggi pada anak seringkali disebabkan oleh  faktor keturunan dan pola hidup yang tidak sehat. Misalnya, kebiasaan jajan makanan dan minuman berkalori tinggi dan mengandung gula dan lemak jenuh berlebihan seperti es krim, bobba milk tea, es krim, jus kemasan dengan kadar gula tinggi, makanan-makanan yang digoreng (terutama deep-fry), keripik, makanan hasil olahan dalam kemasan dengan pengawet, sosis dan kentang goreng, keju dan saus keju, cokelat, dll. Kurangnya aktivitas fisik juga dapat menurunkan kadar HDL.

Walaupun jarang terjadi, kondisi hiperkolesterolemia familial pada anak dapat terjadi dan menyebabkan proses penyumbatan pembuluh darah sejak dini.

Apa saja tanda dan gejala Hiperkolesterolemia pada Anak?

Tidak ada tanda atau gejala khusus yang menentukan kadar kolesterol tinggi pada anak.

Pemeriksaan kadar kolesterol darah pada anak direkomendasikan jika mengalami obesitas, riwayat kolesterol tinggi pada keluarga, atau menderita penyakit tertentu seperti penyakit diabetes dan penyakit ginjal.

Skrining kadar kolesterol pertama kali pada anak dapat dilakukan sejak anak berusia 9-11 tahun, dan diulang setiap 5 tahun sekali. Pemeriksaan ini bahkan bisa dilakukan sejak berusia 2 tahun, jika ada indikasi tertentu seperti obesitas, riwayat kadar kolesterol, riwayat penyakit jantung, dan riwayat stroke dalam keluarga.

Kadar kolesterol normal pada anak sedikit berbeda dengan orang dewasa.

Kategori Kadar yang dapat diterima (mg/dl) Borderline (mg/dl) Tinggi (mg/dl)
Total kolesterol < 170 170-199 ³ 200
LDL < 110 110-129 ³ 130
Trigliserida      
0-9 th < 75 75-99 ³ 100
10-19 th < 90 90-129 ³ 130
HDL > 45 40-45 < 40

 

 

Bagaimana cara untuk menurunkan kolesterol?

Tentu saja dengan menjaga asupan makanan kita. Makanan mempengaruhi kadar kolesterol darah melalui berbagai cara: beberapa jenis makanan dapat meningkatkan serat larut (oat, buah apel, buah pir, buah strawberry, alpukat, kacang merah, terong, chia seeds, psyllium husks, flax seeds, dll) yang akan mengikat kolesterol dan dibuang melalui saluran pencernaan; jenis makanan lain yang kaya lemak tidak jenuh (contoh: biji bunga matahari, kacang walnut, kacang almond, kacang pine, kacang brazil, wijen, kacang kedelai) yang dapat menurunkan LDL; juga beberapa jenis makanan yang mengandung plant sterol dan stanol yang akan mencegah tubuh menyerap kolesterol yang berlebihan. Ikan yang berlemak mengandung lemak Omega-3 yang dapat menurunkan LDL dan trigliserida dalam darah. Mengonsumsi ikan 2-3 kali dalam seminggu untuk menggantikan konsumsi daging merah dianjurkan.

Tentu saja, mengonsumsi makanan yang sehat ini harus dibarengi dengan mengurangi asupan makanan tinggi kalori, gula, dan lemak. Pemantauan berat badan yang teratur dan meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari juga sangat bermanfaat dalam menjaga kadar kolesterol darah yang optimal. Ingat, penggunaan suplemen dan obat-obatan pengontrol kadar kolesterol darah pada anak harus digunakan dalam pengawasan dokter, ya.

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi

Journal of Pediatric Health Care. 2019. Clinical Practice Recommendations for Pediatric Dyslipidemia.
American College of Cardiology. 2015. Pediatric Familial Hypercholesterolemia.
Medline Plus. National Institutes of Health, U.S. National Library of Medicine. High Cholesterol In Children and Teens.
Harvard Health Publishing. 2009. 11 Food That Lower Cholesterol.
Gavin, M. L . Kids Health. 2013. Cholesterol.
Doheny, K. Everyday Health. 2017. High Cholesterol in Children? It’s All Too Common.
Iliades, C. Everyday Health. 2017. 8 Foods That Can Cause High Cholesterol.
Heart UK. Low Cholesterol Diets & High Cholesterol Foods.
Steinbaum, S. R . WebMD. 2018. HDL Cholesterol: The Good Cholesterol.
Robinson, J. WebMD. 2016. High Cholesterol In Children.