oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Halo Ayah dan Bunda Kejora!

Apakah ada Ayah dan Bunda yang memiliki anak berusia enam hingga tujuh tahun? Di usia ini biasanya anak sudah mulai memasuki tahapan sekolah awal ya.

Pada usia ini, anak dianggap sudah siap secara fisik dan psikologis untuk mengikuti kegiatan di sekolah. Fase usia ini adalah fase peralihan anak, dari taman kanak-kanak ke fase sekolah dasar. Anak harus beradaptasi dengan aturan di sekolah, tuntutan akademis di sekolah, dan beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru. Di satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa anak kita sudah makin bertumbuh dewasa. Namun, di sisi lain akan semakin banyak tantangan yang harus dihadapi si kecil.

Yuk, simak apa saja ciri perkembangan anak usia 7 tahun dan tips parenting di usia ini!

Ciri perkembangan anak 7 tahun

    • Perkembangan fisik dan motorik
      Pada usia ini, perkembangan motorik kasar dan halus anak sudah terkoordinasi dengan baik. Dari aspek motorik kasar, anak sudah bisa berjalan, berlari, meniti, melompat dengan seimbang. Ia juga sudah bisa melakukan banyak aktivitas motorik dengan lincah. Sementara dari aspek motorik halus, anak sudah mulai bisa menulis, memotong, menggambar, mewarnai dengan lebih rapi, dan lain sebagainya.
    • Perkembangan kognitif
      Menurut dari teori kognitif Piaget, pada usia tujuh tahun anak memasuki tahapan operasional konkret. Pada masa ini anak sudah mengembangkan pikiran logis dan sudah menggunakan penalaran yang rasional untuk menyelesaikan masalahnya. Pada usia ini, konsentrasi dan daya ingat si kecil juga makin meningkat. Selain itu, anak sudah mulai bisa memahami dan mengikuti instruksi sederhana yang diberikan orangtua maupun guru di sekolahnya. Di usia ini, anak mulai mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sederhana.
    • Perkembangan bahasa
      Dilihat dari perkembangan bahasanya, pada usia ini, kemampuan kosa kata anak dan tata bahasa anak berkembang pesat. Anak sudah mampu terlibat dalam percakapan dua arah yang lebih kompleks. Mereka juga sudah mulai bisa berbicara dan bercerita dengan lebih panjang dan logis.
    • Perkembangan sosio-emosional
      Pada usia ini, anak mulai mengembangkan kematangan emosi dan kemandirian. Anak mulai memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan emosinya dan emosi yang dirasakan orang lain. Mereka juga lebih stabil secara emosi, meskipun terkadang masih sulit mengontrol emosinya. Selain itu, pada fase ini si kecil juga sudah mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab dalam melakukan aktivitas bina diri sehari-hari.
      Sementara dari sosialisasi, pada usia ini anak sudah mulai bisa mengikuti aturan yang berlaku di lingkungannya. Biasanya mereka sudah mulai bisa bermain dalam permainan kelompok, bekerjasama dengan teman, dan mengikuti aturan permainan, meskipun terkadang masih perlu diingatkan.

Setelah mengetahui karakteristik perkembangan anak usia tujuh tahun, berikut tips Anti Panik bagi Ayah dan Bunda dalam menghadapi anak berusia tujuh tahun.

    1. Usia ini merupakan usia yang ideal bagi anak untuk mengembangkan keterampilan fisik dan motoriknya
      Ayah dan Bunda bisa memberikan berbagai aktivitas fisik-motorik bagi si kecil, seperti berenang, bermain sepeda roda dua, sepak bola, basket, menari, melukis, bermain musik, dan lain sebagainya. Hal ini bisa mengembangkan rasa percaya diri pada anak juga loh, Ayah dan Bunda.
    2. Ajarkan manajemen waktu dan kedisiplinan
      Ajarkan si kecil untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari untuk melatih kedisiplinan. Atur waktu kapan si kecil sekolah, belajar, mengikuti les, bermain, beristirahat, dan lain sebagainya.
    3. Ajarkan kemandirian
      Misalnya, memakai baju sendiri, mandi, menyiapkan barangnya, membereskan mainan, dan lain sebagainya. Aktivitas bina diri secara mandiri yang dilakukan anak sehari-hari bisa meningkatkan kemandirian, kematangan emosi, daya juang, rasa percaya diri, dan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah sehari-hari loh, Ayah dan Bunda.
    4. Ajarkan kemampuan belajar
      Memasuki usia sekolah, tentu menjadi tantangan bagi orang tua dan anakya. Belum lagi, tuntutan akademis di sekolah yang cukup tinggi. Bantulah dan dampingi si kecil belajar secara teratur. Di sekolah dasar, anak juga harus menghadapi berbagai tugas dan tujuan. Pastikan Ayah dan Bunda paham apa saja tugas dan jadwal ujian si kecil ya, sehingga bisa mendampingi si kecil menyelesaikan tugas dan mempersiapkan ujiannya dengan baik. Ciptakan juga suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi si kecil. Berikan waktu istirahat bagi si kecil setelah belajar kurang lebih 45 menit sehingga si kecil tidak cepat lelah. Ayah dan Bunda juga perlu memberikan apresiasi ketika si kecil sudah berusaha giat belajar.
    5. Kembangkan minat dan bakat anak
      Pada usia ini, anak mulai mengembangkan minat dan bakatnya terhadap berbagai bidang. Berikan kesempatan anak untuk mengeksplorasi berbagai hal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Minat dan bakat ini bukan hanya melulu tentang prestasi akademik loh. Ayah dan Bunda bisa ajak si kecil untuk mengeksplorasi minat dan bakat anak di berbagai bidang lainnya, seperti musik, olahraga, kesenian, dan lain sebagainya.
    6. Bimbingan untuk meregulasi emosinya dengan baik
      Meskipun pada usia ini si kecil sudah mengembangkan kematangan emosi, namun mereka masih memerlukan bimbingan orangtua agar ia tahu bagaimana mengatur emosinya. Dampingi dan bantulah anak untuk mengenal dan mengekspresikan emosinya. Pahami apa yang ia rasakan dan berikan dukungan bagi si kecil untuk mengetahui cara yang paling sesuai dalam meregulasi emosinya.
    7. Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak
      Biasanya ketika anak sudah mulai sekolah dan banyak kegiatan, kita sering lupa berinteraksi secara intens dengan anak. Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan si kecil setiap harinya tentang kegiatan di sekolah, teman-temannya, dan aktivitasnya setiap hari. Hal ini bisa membuat anak merasa dipahami, dihargai, dan didukung oleh orangtuanya.
    8. Ajarkan etika dalam bersosialisasi
      Memasuki usia sekolah dasar, si kecil perlu mengembangkan kemampuannya dalam bersosialisasi. Ajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan teman-temannya. Orangtua juga bisa mulai dengan mengajarkan three powerful words, yaitu kata maaf, terima kasih, dan minta tolong dengan sopan. Selain itu, penting juga bagi orangtua mengajarkan si kecil untuk tidak terlibat dalam bullying, baik sebagai pelaku maupun korban bullying. Ajarkan sikap peduli dan empati. Serta, ajarkan anak untuk berani mempertahankan diri dan bersikap tegas pada orang lain yang melakukan bullying padanya.

      Menghadapi si kecil yang memasuki fase sekolah dasar memang penuh tantangan. Namun, pola asuh yang tepat, si kecil bisa mengembangkan potensi-potensi dan konsep diri positif sejak kecil.

Sehat selalu Ayah dan Bunda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *