oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Keluarga Sehat Kejora Indonesia!

Pernahkah Ayah dan Bunda mengalami masa di mana anak-anak sulit dipisahkan dari orangtua atau pengasuhnya? Misalkan ketika si kecil mulai masuk sekolah, daycare, atau ketika Bunda bekerja. Si kecil menjadi enggan berpisah dengan orangtua/pengasuhnya, menangis, memeluk erat, bahkan meronta-ronta ketika Ayah, Bunda, atau pengasuhnya hendak berpisah dari pergi dari si kecil?

Kondisi tersebut sering dikenal dengan istilah separation anxiety. Yuk, kenali lebih lanjut mengenai kondisi separation anxiety dan tips mengatasinya!

 

Apa itu Separation Anxiety?

Separation Anxiety merupakan rasa kecemasan dan ketakutan yang dirasakan anak ketika berpisah dengan figur lekatnya, seperti ayah / ibu /pengasuh yang paling dekat dengannya.

 

Apakah Separation Anxiety wajar terjadi pada anak?

Kondisi separation anxiety normal dialami oleh anak usia batita berusia 9-10 bulan dan mulai berangsur-angsur membaik di usia 2 tahun. Menjelang usia 8 atau 9 bulan, anak biasanya mulai bisa memahami figur lekatnya, misalnya ibu / ayahnya. Pada usia ini, anak mulai ingin lekat dengan ibu dan enggan diasuh oleh orang baru.  Biasanya, ketika ibu bekerja atau ada pengasuh baru, si kecil menjadi rewel.

Tidak semua anak mengalami separation anxiety. Sebagian anak mudah menghadapi perpisahan. Selain itu, ada anak yang sulit berpisah di awal saja, setelah beberapa kali sudah tidak sulit lagi ketika berpisah dengan figur lekatnya. Ada juga anak yang baru menunjukkan kecemasan berpisah ketika berusia 5-6 tahun.

Ayah dan Bunda tidak perlu langsung khawatir. Tidak semua anak yang mengalami rasa cemas / takut ketika berpisah dengan figur lekatnya, lantas menjadi permasalahan psikologis, atau dikenal dengan istilah separation anxiety disorder.

 

Lalu apa tanda-tanda separation anxiety pada anak?

  • Kecemasan / rasa khawatir ketika hendak berpisah dengan figur lekatnya
  • Tantrum ketika berpisah dengan figur lekatnya.
  • Menolak untuk sekolah, atau pergi ke tempat lain supaya bisa dekat dengan figur lekatnya.
  • Munculnya mimpi buruk yang berkaitan dengan masalah perpisahan
  • Takut sendirian
  • Munculnya masalah fisik, seperti pusing, sakit kepala, mual dan sebagainya, ketika berpisah dengan figur utama.

Jika tanda-tanda kecemasan tersebut dialami anak secara berlebihan dan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, Ayah dan Bunda bisa berkonsultasi dengan professional terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

 

Penyebab separation anxiety disorder pada anak:

  • Genetik

Orangtua atau sanak saudara yang punya sejarah gangguan kecemasan dapat menurunkan potensi gangguan kecemasan tersebut pada anaknya.

  • Temperamen anak

Anak dengan temperamen yang memiliki mood yang cenderung lebih sering negatif, lebih mudah mengalami kecemasan dan kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

  • Peristiwa traumatis

Peristiwa traumtatis yang dialami anak, seperti penyakit / kematian seseorang atau hewan peliharaan, lingkungan rumah / sekolah yang baru pada anak, perceraian orangtua, peristiwa buruk ketika bersama orang baru, bencana alam, dan lain sebagainya dapat membuat si kecil mengalami separation anxiety.

  • Pola asuh orangtua

Orangtua yang sangat protektif pada anak bisa memicu terjadinya separation anxiety pada si kecil.

 

Tips mengatasi separation anxiety pada anak:

 

  • Beri waktu adaptasi

Berikan waktu anak hingga merasa betah dan nyaman dengan suasana / lingkungan baru.

  • Menunjukkan dukungan positif

Berpisah dengan figur lekat anak tentu bukan hal yang mudah ya bagi mereka. Ayah dan Bunda bisa memberikan dukungan positif pada anak. Dorong si kecil untuk bisa menjalani dan beradaptasi dengan situasi / pengalaman baru. Ayah dan Bunda juga perlu sabar dalam mendampingi anak beradaptasi.

  • Beri pengertian

Hindari meninggalkan anak secara mendadak atau sembunyi-sembunyi karena justru akan membuat anak kaget dan dapat mengurangi kepercayaan anak pada Ayah dan Bunda. Sebaiknya, jika akan berpisah dengan anak, orangtua bisa menjelaskan secara perlahan-lahan, misalkan akan pergi selama berapa jam dan akan kembali berapa jam kemudian. Setelah itu, Ayah dan Bunda bisa berpamitan, berpelukan, mencium anak, dan mengucapkan selamat tinggal dengan baik-baik pada anak.

  • Bersikap positif

Jangan lupa untuk menunjukkan sikap positif kepada anak sebelum berpisah denganya. Mengapa? Karena jika kita terlihat sangat sedih dan cemas, anak juga akan merasa sedih dan cemas ketika berpisah dengan figur lekatnya. Tunjukkanlah senyum, keceriaan, bersikap santai, dan semangat sehingga si kecil menjadi lebih tenang saat menghadapi perpisahan.

  • Buat aktivitas yang menyenangkan sebelum berpisah

Buatlah aktivitas yang menyenangkan setiap kali akan berpisah dengan si kecil. Misalnya: sarapan bersama, bermain, berpelukan, dan lain sebagainya.

  • Berikan perhatian penuh saat bersama si kecil

Jika Ayah dan Bunda dapat memberikan kasih sayang dan perhatian yang penuh ketika bersama anak, mereka akan merasa disayangi dan tidak merasa kurang perhatian. Hal ini bisa membuat si kecil merasa lebih aman dan percaya diri ketika berpisah dari figur lekatnya karena merasa disayangi dan diperhatikan meskipun sedang tidak bersama figur lekatnya.

  • Perkenalkan si kecil dengan berbagai macam lingkungan

Ajaklah si kecil di berbagai macam situasi sosial yang baru. Misalkan, diajak ke daycare, playdate, perkumpulan ibu-ibu, berkunjung ke rumah saudara, bermain dengan tetangga / ke rumah teman, dan lain sebagainya.

  • Jadikan rutinitas

Ayah dan Bunda bisa melatih si kecil untuk belajar mandiri dari hal-hal yang sederhana, misalkan meninggalkan anak sejenak untuk pergi ke pasar, lalu naikkan durasi dan jaraknya. Selain itu, rutinitas yang teratur akan membantu anak dalam membangun kepercayaannya terhadap orangtua, dan dengan sendirinya ia akan tidak akan mudah rewel jika berpisah dengan orangtua.

  • Konsultasikan kepada profesional

Jika kecemasan pada anak makin parah dan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk konsultasikan kepada professional terdekat supaya si kecil segera mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Ayah dan Bunda, separation anxiety bukan hal yang harus ditakuti. Namun, Ayah dan Bunda perlu sabar dan selalu bersikap positif untuk membantusi kecil. Fase ini juga merupakan fase yang tepat untuk mengajarkan pada si kecil, bahwa ada waktu tertentu di mana kita tidak bisa selalu bersamanya.

Sehat selalu Ayah dan Bunda!

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

250total visits,1visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *