oleh dr. Darrel  Fernando, Sp.OG

Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi

 

Ibu Kejora, pernah nggak sih mendengar atau mengenal teman, kerabat, atau artis yang menderita penyakit kanker serviks (leher rahim)? Nah, kali ini kita akan membahas mengenai vaksin HPV yang dapat mencegah terjadinya kanker serviks yaa..

Human Papillomavirus (HPV) adalah nama virus yang dapat menyebabkan kutil (warts) dan keganasan (kanker) pada manusia. Secara umum, HPV dibagi menjadi risiko rendah (low risk) dan risiko tinggi (high risk). HPV risiko rendah akan menyebabkan kutil dan kutil kelamin, sedangkan infeksi HPV risiko tinggi berpotensi menyebabkan kanker pada manusia, di antaranya kanker serviks, vagina, anus, penis, dan tenggorok. HPV ditularkan melalui kontak kulit langsung.

Salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat infeksi HPV adalah dengan vaksinasi HPV. Di Indonesia saat ini tersedia dua jenis vaksin HPV, yaitu

  1. Vaksin bivalent: memberikan perlindungan terhadap HPV risiko tinggi tipe 16 dan 18
  2. Vaksin quadrivalent: memberikan perlindungan terhadap HPV risiko rendah tipe 6 dan 11, serta HPV risiko tinggi tipe 16 dan 18.
  3. Di masa depan akan tersedia vaksin 9-valent

Efektivitas vaksin HPV untuk mencegah kanker adalah 70-99%, tergantung pada perilaku individu, status kesehatan dan kekebalan tubuh, serta kontak seksual sebelum/sesudah vaksinasi.

Kapan idealnya melakukan vaksinasi HPV?

Vaksinasi HPV idealnya dilakukan sebelum kontak seksual pertama. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2017 memberikan rekomendasi untuk vaksinasi HPV dimulai sejak anak berumur 12 tahun.

Bila sudah pernah melakukan kontak seksual, maka disarankan untuk pemeriksaan Pap smear terlebih dahulu, dan masih dapat melakukan vaksinasi HPV meskipun efektivitasnya berkurang. Vaksinasi HPV juga dapat membantu kekebalan tubuh untuk memberantas infeksi yang mungkin sudah terjadi.

Apakah bahaya / efek samping vaksin HPV?

Efek samping yang berat akibat vaksin HPV sangat jarang. Efek samping yang sering timbul adalah kemerahan atau nyeri pada area suntikan.

Selain vaksin HPV, apa lagi yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena kanker serviks?

  1. Hindari perilaku seksual risiko tinggi, seperti tidak berhubungan seksual sejak usia muda, tidak berganti pasangan seksual, dan menggunakan kondom saat berhubungan seksual.
  2. Melakukan skrining kanker serviks dengan pemeriksaan Pap smear, IVA, atau test HPV-DNA sejak usia 25 tahun, setiap 1-3 tahun sekali
  3. Konsultasikan ke dokter kandungan bila ada keluhan seperti nyeri saat berhubungan seksual, perdarahan pasca sanggama, dan keputihan terus menerus yang berbau busuk atau bercampur darah.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *