oleh Dr. dr. Ariani Widodo, SpA(K)

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Apakah si kecil sudah mulai diajari untuk buang air besar dan kecil sendiri di toilet? Kemampuan anak untuk buang air besar sendiri di toilet merupakan salah  satu tahap perkembangan yang penting bagi anak agar bisa menjadi lebih mandiri. Membantu anak dalam toilet training menjadi tantangan bagi orangtua. Kuncinya adalah kepekaan untuk mengenali isyarat dan kesiapan anak untuk belajar.

Tidak ada usia yang benar-benar tepat untuk memulai toilet training. Tahapan perkembangan dan keterampilan yang dibutuhkan anak untuk belajar ke toilet mulai terlihat pada usia anak 18 bulan hingga 2,5 tahun, sehingga disarankan untuk mulai mengajari sebelum usia 2 tahun.

Tanda anak telah siap

Anak Ayah dan Ibu menunjukkan tanda telah siap bila:

  1. Bisa mengikuti perintah sederhana, seperti ‘berikan bola itu pada Ayah’
  2. Sudah bisa berjalan dan dapat duduk dalam periode tertentu
  3. Sudah menunjukkan tanda kemandirian, termasuk bisa mengatakan tidak
  4. Tertarik bila melihat orang lain menggunakan kamar mandi, misalnya mengikuti ke kamar mandi
  5. Bisa menjaga popok tetap kering untuk 2 jam atau lebih
  6. Sudah mampu menyampaikan rasa ingin buang air (besar atau kecil)
  7. Mulai tidak nyaman dengan popok
  8. Mampu melepas dan mengenakan pakaiannya sendiri

Namun, perlu Ayah dan Ibu ingat bahwa tidak semua tanda ini perlu muncul ketika anak telah siap memuali toilet training.

Saatnya memulai toilet training

Jika si kecil telah siap memulai toilet training, hal pertama yang perlu dilakukan adalah tentukan apakah Ayah dan Ibu ingin memulai toilet training dengan pispot atau langsung di kamar mandi.

Hal kedua yang perlu disiapkan adalah perlengkapan yang tepat. Contohnya bila si kecil memakai toilet maka perlu disiapkan tangga agar anak bisa menggapai toilet. Ayah dan Ibu juga perlu menyiapkan dudukan toilet yang lebih kecil agar anak bisa duduk dengan nyaman dan pas. Anak umumnya merasa lebih “aman” bila menggunakan pispot dibandingkan dengan dudukan toilet, karena kaki mereka menyentuh lantai.

Hal ketiga adalah, mulailah toilet training ketika Ayah dan Ibu tidak memiliki rencana besar yang dapat mengubah aktivitas harian Anda, seperti pergi liburan atau pindah rumah atau memutuskan untuk memiliki anak lagi. Proses toilet training akan lebih baik jika orangtua dan anak mempunyai kegiatan harian yang rutin.

Tunda toilet training jika Ayah dan Ibu memiliki rencana berpergian dalam jangka waktu lama, sekitar kelahiran anak berikutnya, pindah ke rumah baru, dan jika anak sakit (khususnya jika diare).

Tips untuk memulai toilet training:

  • Ajarkan pada si kecil beberapa kata jika ingin buang air besar atau kecil – seperti pipis, pup, atau saya harus ke toilet.
  • Jika Ayah dan Ibu mengganti popok si kecil, letakkan popok yang basah dan kotor ke pispot/ toilet dan beritahu anak jika buang air besar atau buang air kecil baiknya di pispot atau toilet – hal ini membantu si kecil mengerti apa kegunaan pispot.
  • Biarkan si kecil mencoba duduk di dudukan toilet kecil agar ia mengenali peralatan tersebut.
  • Biarkan si kecil melihat anggota keluarga lainnya dalam menggunakan toilet, dan beritahu apa yang sedang dilakukan.
  • Pastikan anak makan dengan makanan serat tinggi dan banyak minum air putih sehingga tidak terjadi konstipasi. Konstipasi akan mempersulit proses toilet training.
  • Jangan memaksa anak, biarkan dia belajar dengan sendirinya. Jika ia tidak tertarik atau tidak mau menjalani toilet training, tunggu hingga dia mau mencoba toilet training
  • Untuk anak lelaki, lebih baik ajarkan terlebih dahulu untuk buang air kecil dengan cara duduk terlebih dahulu sebelum mengajarkan buang air kecil dalam posisi berdiri.

Pelaksanaan toilet training

Mulailah toilet training saat waktu Ayah dan Ibu kosong dan tidak memiliki rencana pergi dari rumah seharian.

Timing

  • Mulailah toilet training dengan jam yang sama setiap harinya, seperti 45 menit setelah minum air dalam jumlah yang banyak. Toilet training sesungguhnya dimulai ketika anak mulai tertarik dengan proses pembelajaran toilet training.
  • Biarkan anak duduk di pispot atau toilet 15-30 menit setelah makan.
  • Perhatikan tanda-tanda ketika si kecil memerlukan toilet – seperti perubahan postur yang mungkin menandakan ingin buang air, perubahan ekspresi wajah, atau menjadi lebih diam atau bulak-balik ke ruangan yang berbeda sendiri.
  • Jika anak tidak buang air besar atau kecil setelah 3-5 menit didudukan di pispot atau dudukan toilet kecil, sebaiknya diturunkan saja. Jangan biarkan anak duduk dalam jangka waktu lama, karena anak akan menganggap hal tersebut sebagai hukuman.

Beri semangat dan ingatkan si kecil

  • Puji anak karena mau mencoba (walau prosesnya lambat), terutama ketika ia berhasil. Hal ini menyebabkan anak mengetahui bahwa dia melakukan hal yang baik.
  • Dalam beberapa kesempatan, tanyakan pada anak apakah dia perlu pergi ke toilet. Ingatkan secara gentle agar anak tidak merasa ditekan oleh Ayah dan Ibu.
  • Jika si kecil mengompol atau buang air besar di celana, Ayah dan Ibu tidak perlu marah. Anak bisa saja tidak sengaja mengompol atau buang air besa di celana, jadi cukup bersihkan saja tanpa komentar apapun.

Pakaian

  • Hentikan menggunakan popok (kecuali pada malam hari dan ketika tidur siang). Mulai pakaikan celana dalam. Anda bisa mengajak si kecil memilih celana dalam, ini akan menjadi hal menarik dan menyenangkan untuknya.
  • Pakaikan pakaian yang mudah dilepaskan oleh si kecil. Jika cuaca panas, Ayah dan Ibu boleh membiarkan anak hanya menggunakan celana dalam saja saat di rumah.

Higiene

  • Bersihkan pantat anak hingga ia bisa belajar melakukannya sendiri. Ingat: bersihkan dari depan ke belakang, terutama pada anak perempuan.
  • Ajarkan pada anak lelaki untuk menggoyangkan kemaluannya setelah buang air kecil untuk mencegah sisa tetesan air kemih.
  • Ajarkan anak untuk mencuci tangannya setelah buang air besar dan kecil.

Berpergian saat toilet training

Akan lebih baik bila Ayah dan Ibu tetap berada di rumah ketika si kecil memulai toilet training, namun hal itu sulit dihindari bila memang mendesak.

Bila terpaksa keluar, pastikan lokasi toilet terdekat. Ketika orangtua ke pusat perbelajaan, tanyakan pada anak jika dia perlu menggunakan toilet ketika sedang melewati toilet.

Lebih baik sediakan pakaian dan celana dalam cadangan ketika berpergian dengan anak hingga ia benar-benar percaya diri menggunakan toilet. Selain itu perlu bawa kantung plastik untuk membawa pakaian atau celana dalam yang basah dan kotor.

Jika Ayah dan Ibu menitipkan si kecil di rumah saudara atau tempat penitipan anak, pastikan orang yang menjaga dan mendampinginya mengetahui bahwa ia sedang menjalani toilet training. Hal ini agar si kecil dapat menjalani rutinitas dalam menggunakan toilet seperti saat dia di rumah.

Masalah yang terjadi saat toilet training

Kebanyakan anak mengalami masalah dalam menjalani toilet training ketika anak dalam keadaan stress. Contohnya ketika anak 2 atau 3 tahun berhadapan dengan adiknya atau merasa tertekan dan menganggap toilet training seperti hukuman.

Ketika anak mengalami masalah toilet training secara terus-menerus, konsultasikan dengan dokter anak Anda.

Orangtua harus meluangkan waktu dan bersabar selama proses ini. Semua pengasuh di rumah perlu memiliki persepsi dan metode yang sama. Fokuskan pada pemahaman anak akan pentingnya menggunakan toilet, tidak perlu harus buru-buru agar bisa ke toilet sendiri. Biarkan anak maju sesuai dengan kecepatan perkembangan mereka masing-masing. Semangat selalu ya, Ayah dan Ibu!

Editor: dr. Nurul Larasati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *