oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 Hai Ayah dan Bunda Kejora!

Siapa Ayah dan Bunda di sini yang memiliki anak berusia 2-4 tahun? Yuk, acungkan tangan. Pernahkah Ayah dan Bunda mendengar istilah ‘terrible two’? Ya, anak yang memasuki usia dua tahun sering disebut dengan istilah ‘terrible two’. Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai terrible two.

Apa itu fase ‘terrible two’?

Fase‘terrible two’merupakan fase di mana si kecil mulai ingin diperlakukan sebagai little adult, yaitu ingin disamakan dengan orang dewasa. Pada fase ini si kecil biasanya menuntut untuk diberikan kebebasan memilih apa yang diinginkan. Selain itu, si kecil juga ingin menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan terhadap orang-orang di sekitarnya.

Berikut ciri-ciri perilaku terrible twoyang sering terjadi pada anak:

  • Anak mulai belajar mengatakan “tidak”

Pada fase ini, anak biasanya akan mulai memberikan penolakan kepada Ayah dan Bunda. Misalnya, tidak mau saat diminta makan, mandi, merapikan mainannya, dan lain sebagainya. Apa saja yang diucapkan oleh orangtua bisa jadi salah di mata si kecil. Hal ini  tentu bisa membuat Ayah dan Bunda menjadi bingung ya.

  • Anak lebih mudah marah ketika keinginannya tidak terpenuhi

Pada fase ini, si kecil menjadi lebih mudah kesal jika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Suasana hati si kecil juga biasanya makin sulit ditebak. Ia bisa menunjukkan berbagai perilaku tantrum, misalnya menangis, marah, berguling di lantai, hingga menggigit. Perilaku ini tentu membingungkan sekaligus sering membuat jengkel ya, Ayah dan Bunda.

  • Anak lebih berani dalam mengeksplorasi banyak hal

Semakin bertumbuh, anak akan semakin ingin mengeksplorasi berbagai macam hal di sekitarnya dan merasa sudah bisa melakukan berbagai hal sendiri. Sebenarnya hal ini tidak selamanya buruk, justru menjadi indikator bahwa si kecil sedang berkembang dengan pesat. Namun, orangtua perlu mengawasi si kecil supaya ia berperilaku tidak melewati batas dan membahayakan.

  • Anak menjadi keras kepala

Anak mulai menampilkan banyak keinginan dan seringkali tidak memedulikan kondisi saat itu. Ketika meninginkan sesuatu, si kecil akan menuntut terus-menerus sampai ia bisa mendapatkan hal yang diinginkan. Di fase ini, si kecil juga menjadi lebih sulit dan bandel ketika dinasehati oleh orangtuanya.

Apa penyebab anak mengalami fase ‘terrible two’?

Fase‘terrible two” terjadi karena anak sedang mengalami perkembangan yang luar biasa. Dalam istilah perkembangan psikologi sosial, istilah ‘terrible two’ biasa disebut disebut dengan autonomy, yaitu sebuah tugas perkembangan di mana anak mulai memunculkan dorongan untuk memegang kendali dan mengatur dirinya sendiri. Misanya, anak ingin melakukan semuanya sendiri dan mengikuti rutinitas orang dewasa di sekitarnya.

Sayangnya, pada fase ini si kecil belum bisa membedakan mana yang aman, kurang aman, dan berbahaya baginya. Itulah mengapa si kecil menjadi mudah marah, berkata tidak, keras kepala, dan membantah orangtua. Masa-masa ini juga merupakan masa yang penuh intrik dari si kecil sehingga hal ini menjadi tantangan untuk orangtua. Di satu sisi, Ayah dan Bunda harus punya kendali atas si kecil, namun di sisi lain Ayah dan Bunda juga harus mendorong perkembangan si kecil.

Tapi, jangan khawatir Ayah dan Bunda! Fase ini justru menunjukkan bahwa si kecil berkembang pesat secara kognitif dan emosi. Nah, dengan pola asuh yang tepat dan konsisten, si kecil akan bisa melewati fase ini dengan baik!

Berikut tips yang bisa dilakukan Ayah dan Bunda untuk menyikapi fase ‘terrible two’ pada si kecil:

  1. Bersikap tenang, sabar, dan tidak panik ketika si kecil mulai berulah

Hal pertama yang perlu dilakukan orangtua ketika menghadapi si kecil yang berulah adalah harus tenang dan tidak panik. Orangtua harus memahami psikologi anak sehingga bisa sabar dan telaten dalam menyikapi sikap si kecil.

  1. Sepakati aturan dan batasan dengan si kecil

Sebelum si kecil mulai berulah, lebih baik Ayah dan Bunda membuat aturan dan batasan bersama anak. Jelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh si kecil. Misalnya, jika si kecil ingin meminta sesuatu harus dengan cara baik-baik. Selain itu buatlah aturan-aturan sederhana untuk dilakukan si kecil, seperti membereskan mainannya selesai bermain, mandi dan makan teratur, dan lain sebagainya.

  1. Tegas dan konsisten

Ayah dan Bunda perlu secara konsisten menjalankan hal-hal yang dikatakannya. Ketika orangtua konsisten dalam menjalankan aturan main di dalam keluarga, si kecil akan lebih mudah memahami pola perilaku dan konsekuensi yang mengikuti pola perilaku tersebut.

  1. Bangun komunikasi dan interaksi yang positif dengan si kecil

Bangunlah komunikasi dan interaksi yang positif dengan si kecil agar Ayah dan Bunda lebih mengetahui apa yang anak rasakan dan inginkan. Interaksi yang positif juga efektif lo, Ayah dan Bunda, untuk mengatasi si kecil yang mudah rewel. Berikan penjelasan secara tepat menggunakan cara persuasif terhadap si kecil.

Menghadapi si kecil yang memasuki fase ‘terrible two’ memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Butuh kesabaran, konsistensi, dan interaksi yang positif antara orangtua dan si keci. Namun, percayalah dengan pola asuh yang tepat, si kecil bisa mengembangkan karakter yang positif di masa yang akan datang.

Sehat selalu ya Ayah dan Bunda!

 

479total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *