Secure attachment

 

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini M.Psi., Psikolog

Psikolog

 

Hai, Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah mendengar tentang secure attachment pada orang tua dan anak? Apa ya secure attachment itu?

Secure attachment adalah hubungan emosional yang didasari dengan perasaan aman yang terjalin oleh orangtua atau pengasuh utama dan anak. Secure attachment terbentuk ketika figure terdekat mampu memahami dan memberikan respon yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak.

 

Memangnya, apa pentingnya orang tua dan anak perlu memiliki secure attachment?

Secure attachment merupakan fondasi dasar yang memungkinkan anak untuk bebas mengeksplorasi banyak hal dengan perasaan aman. Secure attachment juga menjadi tempat pertama anak belajar mengatur perasaan dan tindakan mereka,  kemampun menyelesaikan masalah, kepercayaan, empati dan berbagai aspek penting lainnya dengan melihat perilaku orang yang memberi mereka perhatian dan kenyamanan. Secure attachment sangat berpengaruh besar untuk kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

 

Apa saja manfaat yang didapatkan oleh anak ketika orang tua mampu memberi secure attachment?

Dengan mendapatkan secure attachment, anak dapat:

  • Memiliki kemampuan self care.
  • Mampu meregulasi situasi stress dan emosi secara umum.
  • Memiliki self esteem yang baik.
  • Mampu menjalin relasi sehat dengan orang lain.
  • Mampu membangun rasa percaya dan hubungan positif di masa dewasa.

 

Nah, yang terakhir, hal apa saja yang bisa dilakukan orang tua untuk membangun secure attachment pada anak?

  • Tunjukkan perhatian dalam bentuk sentuhan dan kalimat.
  • Membuat kontak mata ketika berinteraksi dengan anak.
  • Mendengarkan dan memberikan perhatian secara penuh ketika bersama anak.
  • Cari tahu kebutuhan emosi anak dibalik setiap perilaku yang ia tunjukkan.
  • Berikan respon yang konsisten.
  • Berlatihlah untuk menyadari dan memenuhi kebutuhan pribadi.

Orangtua akan  mampu menyadari kebutuhan anak ketika mereka mampu menyadari kebutuhan diri mereka sendiri.

 

Editor: drg. Valeria Widita W

Pemberian MPASI Terbaik untuk Sang Buah Hati


 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Hai Keluarga Kejora!

Enam bulan pertama Sang Buah Hati adalah periode terbaik untuk pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif. Periode berikutnya adalah masa penyapihan yaitu memberikan makanan pendamping-ASI (MP-ASI) bersama pemberian ASI untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas hal mendasar terkait pemberian MP-ASI terbaik untuk Sang Buah Hati.

MP-ASI merupakan makanan atau minuman selain ASI yang mengandung nutrien untuk diberikan kepada bayi selama periode penyapihan dari usia 6 bulan karena pada masa ini kandungan ASI tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan total energi, protein, dan beberapa mikronutrien seperti Fe, zinc, dan vitamin A. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition merekomendasikan pemberian MP-ASI tidak boleh lebih dini dari usia 17 minggu dan lebih terlambat dari 26 minggu. Pemberian terlalu dini (< 4 bulan) dapat meningkatkan risiko diare, dehidrasi, penurunan produksi ASI serta reaksi alergi. Apabila pemberian MP-ASI terlambat (> 7 bulan) dapat berpotensi terjadinya gagal tumbuh, defisiensi zat besi dan gangguan tumbuh kembang. Pemberian ASI tetap dapat dilanjutkan sampai usia 24 bulan.

Terdapat beberapa tanda yang perlu diperhatikan untuk memastikan Sang Buah Hati siap mendapatkan MP-ASI, diantaranya :

1. Kesiapan fisik berupa refleks ekstrusi sudah berkurang atau menghilang, perkembangan oromotor untuk menelan makanan yang lebih kental dan padat, sudah dapat memindahkan makanan dari bagian depan ke belakang mulut, mampu menahan kepala tetap tegak, dapat duduk tanpa atau hanya dengan sedikit bantuan serta mampu menjaga keseimbangan badan ketika tangan meraih benda di depannya.

2. Kesiapan psikologis, yaitu bayi menunjukkan sikap yang lebih mandiri dan eksploratif, tindakan keinginan makan (membuka mulutnya), rasa lapar (memajukan tubuh ke arah makanan), atau pun sebaliknya rasa tidak berminat/kenyang (menarik tubuh ke belakang)

Syarat yang harus dipenuhi dalam pemberian MP-ASI diantaranya tepat waktu (diberikan ketika ASI saja tidak dapat mencukupi kebutuhan bayi), adekuat (MP-ASI memenuhi kebutuhan makro dan mikronutrien), aman- higienis (proses pembuatan dengan menggunakan cara, bahan, alat yang aman serta higienis), dan tepat cara pemberian (secara responsif dengan memperhatikan sinyal lapar dan kenyang anak). Pemberian MP-ASI dilakukan secara bertahap terkait jenis, tekstur, konsistensi, jumlah, serta frekuensinya.

Makanan padat pertama yang paling baik terbuat dari beras karena beras merupakan bahan paling hipoalergenik. Hal yang perlu diperhatikan dalam komponen pemberian MP-ASI diantaranya bit, wortel, sawi, bayam dan lobak tidak boleh diberikan untuk bayi usia < 6 bulan karena kandungan nitrat tinggi, madu tidak diberikan pada anak usia < 1 tahun, susu sapi belum boleh diberikan kepada bayi < 1 tahun kerena kandungan Fe rendah, tinggi Na, K, Cl dan mineral lainnya sehingga akan memperberat fungsi ginjal. Jangan memberikan produk makanan kalengan karena umumnya berkadar garam tinggi atau ada tambahan gula.

Untuk tumbuh kembang optimal bayi memerlukan asupan makronutrien, yaitu karbohidrat dan lemak sebagai sumber energi, protein hewani dan nabati, serta mikronutrien, yaitu vitamin dan mineral berupa zat besi, kalsium, zinc, vitamin C, vitamin A, dan folat. Jangan memaksa bayi menghabiskan MP-ASI, namun buatlah suasana menyenangkan dalam proses pemberian MP-ASI.

Jangan pernah putus asa ketika anak menolak suatu menu MP-ASI karena anak bahkan bisa memerlukan 10-15x upaya pemberian makanan sebelum menyukai menu tersebut. Jadikan momen pemberian makan adalah kesempatan orang tua untuk berinteraksi dengan Sang Buah Hati. Selamat berproses memberikan MP-ASI terbaik untuk Keluarga Kejora 

Editor: Maulidina Nabilah T., drg.

 

Sumber:
1. IDAI. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu. 2018.
2. DiMaggio DM, Cox A, Porto AF. Updates in Infant Nutrition. Pediatrics in Review 2017;38:449–62.

Mainan si Kecil Masuk ke Hidung!

 

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!
Seperti yang Ayah dan Ibu ketahui, ketika anak-anak sedang sering-seringnya mengeksplorasi lingkungan pasti memiliki rasa ingin tahu yang begitu tinggi terhadap tubuhnya sendiri dan lingkungan serta benda-benda di sekitar. Benda-benda yang sering menarik perhatian si kecil adalah batu baterai berbentuk bulat yang ada di dalam mainan, manik-manik, biji-bijian, dan mainan lain yang berukuran kecil. Tahukah Ibu dan Ayah Kejora seringkali si kecil penasaran dan memasukkannya ke dalam hidung, lho!

Apa yang terjadi kalau benda-benda tersebut dimasukkan ke dalam hidung? Tentunya hal ini akan mengganggu dan berakibat fatal. Benda – benda yang masuk ke dalam hidung dapat menyumbat dan menyebabkan infeksi pada daerah hidung dan sinus. Lebih parahnya lagi untuk benda-benda yang mengandung senyawa kimia seperti batu baterai dapat merusak struktur dan bentuk hidung. Ayah dan Ibu bisa belajar mengenali tanda-tanda bila ada benda atau mainan si kecil yang masuk ke dalam hidung.

Yuk, kenali tanda – tandanya!

    1. Ingus kehijauan satu sisi
    2. Hidung yang berbau pada satu sisi
    3. Ingus bercampur darah

Lalu, apa yang Ayah dan Ibu Kejora bisa lakukan jika curiga si kecil memasukkan benda ke dalam hidung?

  1. Perhatikan sekitar apakah ada benda-benda kecil yang dapat si kecil masukkan
  2. Ajak bicara si kecil dan tanyakan apakah dia memasukkannya
  3. Bawa ke dokter untuk dikeluarkan. Jangan dicoba keluarkan sendiri ya karena dapat berisiko melukai struktur hidung, perdarahan atau bahkan benda tersebut dapat terdorong lebih dalam sehingga turun ke saluran napas.

Yang paling penting, usahakan Ayah dan Ibu Kejora tetap tenang sehingga si kecil bisa segera mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Editor : drg. Rizki Amalia (@rizkiamalia234)

Sumber: B. J. Bailey, J. Johnson, C. Rosen. Bailey’s Head and Neck Surgery: Otolaryngology

Pola Makan Sehat Anak Usia Sekolah

oleh dr. Pratama Wicaksana, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

 

Halo, Ayah dan Ibu! Anak usia sekolah cenderung sudah dapat memilih makanan yang mereka sukai. Selain dari preferensi anak, pilihan makanan tersebut terkadang dipengaruhi oleh kawan dan tawaranan makanan jajanan di luar rumah. Pengaruh yang kurang baik dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak seimbang, yang dalam waktu panjang dapat menyebabkan masalah malnutrisi, baik obesitas maupun stunting. Pada pembahasan kali ini, Kejora mengangkat tema pola makan sehat pada anak usia sekolah yang akan membahas lebih dalam mengenai pola makan sehat pada anak usia sekolah, fungsi nutrisi, dan makanan yang perlu dihindari.

Pola makan sehat merupakan perilaku mengatur jumlah dan jenis makanan sesuai kebutuhan kalori, makronutrien, dan mikronutrien. Anak usia sekolah memiliki aktivitas yang tinggi, keterpaparan yang tinggi terhadap sumber penyakit infeksi, serta memasuki masa pertumbuhan cepat pra-pubertas, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi mulai meningkat secara bermakna. Kebutuhan kalori anak usia sekolah berkisar antara 1.200 hingga 1.800 kilokalori per hari. Asupan lemak dibatasi antara 25-35% dari kebutuhan kalori total dengan persentasi lemak trans atau lemak jenuh kurang dari 10%. Konsumsi protein hewani mencakup 70% dari total asupan protein. Konsumsi serat per hari sekitar 25-30 gram dan garam tidak melebihi 2 gram per hari.

American Heart Association menekankan asupan penting bagi anak usia di atas 2 tahun yaitu sayur dan buah, serelia utuh (whole grain), susu atau produk susu tanpa atau rendah lemak, kacang-kacangan, ikan, dan daging tanpa lemak. Beberapa asupan yang perlu dibatasi adalah jus buah (tidak lebih dari 240-360 mL per hari), produk serelia olahan (refined grain), makanan dan minuman dengan pemanis tambahan (gula kurang dari 50 gram per hari), garam, kulit unggas, serta saos berkalori tinggi (saos krim atau saos keju).

Daging memegang peranan penting untuk asupan anak karena selain menyediakan energi dan protein juga mengandung mikronutrien seperti besi, zink, vitamin A, vitamin B kompleks, dan iodin. Besi dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah; zink berperan dalam pertumbuhan sel; vitamin A penting untuk kesehatan mata serta kekebalan tubuh, dan iodin bersama besi berperan dalam optimalisasi jaringan saraf. Dianjurkan setidaknya anak usia sekolah dalam seminggu mengkonsumsi dua porsi ikan (140 gram) per minggu. Ikan salmon, kembung, lele, dan gabus mengandung asam lemak omega 3 yang cukup tinggi yang baik untuk perkembangan fungsi kognitif dan penglihatan, kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta sistem kekebalan tubuh. Konsumsi susu rendah atau tanpa lemak 2-3 gelas per hari dapat membantu mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D harian. Kudapan sehat seperti buah segar, sayur, keju, produk roti, dan yogurt diberikan 3-4 kali per hari dan mencakup ¼ total asupan harian. Suplementasi vitamin dan mineral tidak rutin diberikan pada anak dengan riwayat pertumbuhan yang baik.

Selain kebutuhan nutrisi anak, orang tua juga perlu memperhatikan hal-hal teknis dalam pemberian nutrisi. Makanan yang disiapkan perlu dimasak hingga matang untuk menghindari kuman yang terdapat pada bahan makanan yang masih mentah. Selain itu, orang tua juga sebaiknya menciptakan suasana makan tanpa distraksi dan membiasakan makan bersama dalam keluarga yang dapat membantu menciptakan perilaku dan kebiasaan makan yang sehat.

Asupan nutrisi dan perilaku yang makan sehat juga sebaiknya diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup untuk menunjang kesehatan anak. Anak usia sekolah disarankan untuk melakukan aktivitas fisik selama 60 menit per hari. Penggunaan gawai oleh anak juga sebaiknya dibatasi agar anak tetap tertarik untuk bergerak aktif dalam keseharian.

Editor: Sunita

 

Sumber:

Duryea TK. Dietary recommendations for toddlers, preschool, and school-age children. Diunduh dari:https://www.uptodate.com/contents/dietary-recommendations-for-toddlers-preschool-and-school-age-children. Diakses pada 20 Maret 2021

Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary recommendations for children and adolescents: A guide for practitioners. Pediatrics. 2006;117:544-59

Cleghorn G. Role of red meat in the diet for children and adolescents. Nutr Diet. 2007;64:s143-6

P2PTM Kemenkes RI. Tips Pencegahan Obesitas untuk Anak & Remaja. Diunduh dari: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/page/37/tips-pencegahan-obesitas-untuk-anak-remaja. Diakses pada 10 April 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perasaan Bahagia Bisa Meningkatkan Sistem Imun, Benarkah?

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Salam sehat, Keluarga Kejora!

Selama pandemi COVID-19 ini, kita mungkin telah banyak mendengar sejumlah kiat yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari infeksi SARS-CoV-2. Salah satu dari tips tersebut adalah dengan merasa bahagia sebab perasaan bahagia dianggap dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Namun, apakah pendapat tersebut benar? Apakah ada bukti ilmiah yang mendukung opini tersebut? Mari kita simak pembahasan berikut ini.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Kata bahagia sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi mental atau emosional seseorang yang bersifat positif. Dari studi yang mempelajari tentang kaitan antara perilaku manusia dan kesehatan diketahui bahwa kondisi emosi seseorang dapat mempengaruhi perilakunya yang berkaitan dengan cara kerja berbagai organ di dalam tubuh, termasuk kekebalan tubuh, yang diperantarai oleh sistem saraf pusat. Perilaku yang dimaksud mencakup perilaku diri terhadap kebiasaan merokok, pola makan, atau olahraga, yang dapat meningkatkan atau merusak kesehatan seseorang.

Bukti ilmiah lain mengenai pengaruh faktor emosi terhadap kesehatan seseorang terlihat dari adanya pengaruh emosi terhadap perubahan biologis, misalnya kondisi stres pada seseoarang yang menyebabkan peningkatan tekanan darah, detak jantung, serta peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik. Ketiga hal tersebut selanjutnya dapat menyebabkan perubahan pada aliran darah yang berkaitan secara langsung terhadap risiko hipertensi dan penyakit jantung. Selain pada perubahan kerja organ, studi lain menunjukkan bahwa rasa cemas yang berlebihan dapat menurunkan fungsi imun tubuh. Sebaliknya, kondisi emosional yang positif dapat meningkatkan kekebalan tubuh sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah studi lain yang mengungkapkan adanya peningkatan kadar antibodi dalam saliva setelah seseorang diminta untuk menonton video humor. Hal serupa juga terlihat dalam sebuah studi yang menunjukkan respon imun yang lebih lemah pada individu yang divaksinasi dan dengan kondisi emosi yang negatif dibandingkan dengan individu yang divaksinasi namun memiliki kondisi emosional yang lebih positif.

Jadi, baik secara langsung maupun tidak langsung, terdapat sejumlah keterkaitan antara perasaan bahagia dengan sistem imun yang lebih baik dalam mengurangi risiko timbulnya penyakit. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk mendukung adanya kaitan langsung antara kondisi emosi positif terhadap penurunan risiko infeksi SARS-CoV-2.

Sumber:

Barak, Y. The immune system and happiness. Autoimmunity Reviews 5 (2006) p 523-527.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tips Menyiasati Bingung Puting Pada Ibu Menyusui

 

 

 

 

 

oleh dr. Meutia Ayuputeri, MRes, IBCLC

Dokter umum, Konselor menyusui

 

Halo ayah dan ibu Kejora

Setiap ibu menyusui memiliki tantangan masing-masing, salah satu diantara tantangan yang dihadapi adalah kondisi bayi yang menolak menyusu secara langsung setelah pemberian dot atau botol susu. Kondisi yang dikenal dengan bingung puting ini merupakan salah satu penyebab kecemasan pada ibu menyusui sehingga tingkat keberhasilan menyusui menjadi kurang maksimal. Lalu bagaimana menyiasati bingung puting pada bayi?

Pengertian Bingung Puting

Bingung puting adalah perilaku bayi yang kesulitan atau rewel menyusu pada payudara ibu setelah ada pemberian dot atau botol susu, sebelum proses menyusui antara ibu dan bayi terjalin dengan baik. Tidak semua kasus memiliki kesulitan berpindah dari menyusu langsung di payudara ibu dengan atau setelah minum dari botol atau dot. Namun beberapa di antara kasus yang terjadi pada bayi yang mengalami bingung puting memiliki kesulitan untuk kembali menyusu secara langsung pada payudara ibu

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghindari bingung puting:

  1. Beri waktu yang cukup sampai proses menyusui terjalin dengan baik dan terasa menjadi bagian dari keseharian ibu dan bayi
  2. Gendong bayi, meningkatkan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi
  3. Mencari posisi yang nyaman saat ibu menyusui bayi
  4. Beri pujian kepada buah hati anda apabila dapat menunjukkan keinginan untuk menyusu
  5. Kenali tanda-tanda bayi ingin menyusu, yakni menghisap pergelangan tangan atau kepalan jari, mencari sesuatu dengan mulutnya, terbangun dan rewel namun belum menangis.
  6. Apabila bayi perlu mendapat suplementasi ASI, ibu dapat mempertimbangkan alternatif metode pemberian ASI dengan sendok, cangkir, maupun alat suplementer
  7. Hubungi tenaga kesehatan atau konselor menyusui terlatih

Semoga artikel ini dapat meningkatkan semangat keluarga Kejora untuk terus menyusui dan memberikan ASI kepada buah hati anda tercinta.

Editor : drg. Annisa Sabhrina (@asabhrina)

 

Sumber:

https://www.llli.org/breastfeeding-info/nipple-confusion/

Mengajarkan Pendidikan Seksual untuk Anak Balita


 

 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Hallo Ayah Bunda Kejora!

Pendidikan seksual itu penting sepanjang usia; dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja, Ayah dan Bunda! Anak usia dini juga bisa mulai diberikan pendidikan seksual, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Sebab, pendidikan seksual bukan sesuatu yang tabu. Yuk, simak cara memberikan pendidikan seksual dan materi pendidikan seksual yang cocok bagi anak usia dini!

 

Kapan Waktu yang Tepat?

Pendidikan seksual itu tidak hanya diberikan ketika anak mulai remaja. Bunda dan Ayah juga bisa mulai memberikan pendidikan seksual pada anak usia dini, asalkan materi yang disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Pada usia balita (3-4 tahun), anak biasanya mulai mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dan mulai belajar tentang lingkungan sosial. Mereka akan mulai memperhatikan dan membandingkan dirinya dengan orang lain/temannya. Usia balita adalah usia yang tepat bagi orangtua untuk memperkenalkan mengenai pendidikan seksual pada si kecil.

 

Mengapa Pendidikan Seksual untuk Anak itu Penting?

  • Mencegah dan menghadapi era teknologi yang semakin maju: Seiring perkembangan teknologi, anak makin mudah mendapatkan akses internet dan informasi dari berbagai sumber, termasuk sosial media. Membahas seks dapat melindungi dan mencegah berbagai efek negatif yang diakibatkan dari perkembangan informasi tersebut.
  • Mendukung perkembangan dan pemahaman anak: Pendidikan seksual yang tepat dapat membantu si kecil melindungi dan menghargai tubuhnya sendiri.
  • Membangun kepercayaan dan kasih sayang: Dengan pendidikan seksual, orangtua dapat menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bisa terbuka dan berdiskusi hal yang paling pribadi sekalipun. Sehingga anak tidak mencari informasi sendiri/dari orang lain (yang belum tentu tepat dan aman).
  • Membantu si kecil melindungi dirinya sendiri: Dengan pendidikan seksual, anak akan lebih sadar dengan situasi lingkungannya dan mampu melindungi diri ketika ada orang yang memperlakukan pelecehan seksual, baik secara verbal ataupun tindakan.

 

Tahapan 3P dalam Memberikan Pendidikan Seksual terhadap Anak:

1. Persiapan Materi

Sebelum kita memberikan pendidikan seksual pada pada anak, Ayah dan Bunda harus terlebih dahulu paham tentang materi yang akan diajarkan. Ayah dan Bunda bisa mencari informasi pendidikan dari sumber terpercaya.

2. Pahami Perkembangan Anak

Ayah dan Bunda perlu mengetahui perkembangan kognitif anak di usia balita supaya tahu bagaimana cara menjelaskan tentang seks kepada anak balita. Pada usia balita, anak berada dalam tahapan belajar menggunakan konsep konkret. Berikut tips saat mengenalkan bagian-bagian tubuh, terutama alat vital pada si kecil:

  • Alat peraga/media, seperti boneka/buku bergambar yang sesuai dengan usia anak.
  • Suasana pengajaran harus menyenangkan, bisa dengan mendongeng.
  • Gunakan bahasa yang sederhana, singkat, dan mudah dimengerti.

3. Penjelasan Sebaik Mungkin

Saat si kecil bertanya, Ayah dan Bunda perlu menjelaskan dengan sebaik mungkin. Jika kita tidak tahu jawabannya atau bingung menjelaskannya, Ayah dan Bunda bisa minta waktu pada anak, misalnya: “Wah pertanyaan adik bagus sekali, Mama jelaskan besok ya. Mama cari tahu dulu, biar nanti Mama bisa jelasin ke adik”.

 

Materi Pendidikan Seksual untuk Anak Balita

1. Nama dan Fungsi Bagian Tubuh

2. Perbedaan Jenis Kelamin

Ayah dan Bunda bisa mengajarkan perbedaan laki-laki dan perempuan secara umum. Contoh: laki-laki biasanya bisa berkumis dan berjanggut. Rambut perempuan biasanya lebih panjang dari laki-laki. Kita juga bisa menambahkan jika ada atribut keagamaan yang bisa dijelaskan, misalnya perempuan memakai jilbab, laki-laki memakai peci.

3. Bagian Pribadi

– Berikan pengertian kepada anak mengenai bagian tubuh yang harus dilindungi/bagian pribadi, yaitu: bagian yang tertutup baju (harus selalu tertutup dan tidak boleh disentuh orang lain), yaitu: mulut, dada (pada perempuan namanya payudara), alat kelamin, dan pantat.

– Berikan peraturan siapa saja yang boleh menyentuh dirinya. Contoh:

  • Anak boleh mendapatkan pelukan dari keluarga dan ciuman hanya dari keluarga inti (atau dengan seijin orangtua).
  • Dokter, jika bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati.
  • Orangtua (dengan seijin dari anak): jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh.

4. Cara Menjaga Tubuh

Ajarkan anak:

  • Tidak boleh membuka/menunjukkan bagian tubuh pribadinya kepada orang lain (pengecualian: dokter karena bagian tubuh pribadi terluka/perlu diobati dan orangtua atau pengasuh dengan seijin dari anak jika ingin membantu mereka mengenakan pakaian/membersihkan tubuh).
  • Tidak boleh melihat bagian tubuh orang lain.
  • Melindungi tubuhnya dengan memakai baju, baik di rumah maupun di luar rumah.

5. Ajarkan 3 Tahap jika Anak Mengalami Pelecehan Seksual (Verbal maupun Perilaku):

  • Say No (Katakan TIDAK!): ajarkan anak untuk berani menolak pelecehan seksual dengan suara yang lantang dan tegas.
  • GO (Pergi): pergi ke tempat yang lebih aman/lebih ramai orang.
  • Tell (Beritahu): ajarkan anak menceritakan secara terbuka pada orangtua/orang dewasa yang dipercaya anak.

6. Tumbuhkan Rasa Percaya Anak pada Ayah dan Bunda

Ajarkan si kecil untuk tidak menyembunyikan apapun dari Ayah dan Bunda apabila ia ingin bertanya mengenai pendidikan seksual maupun saat mengalami pelecehan seksual; meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.

 

Memberikan pendidikan seksual pada si kecil memang tidak mudah, Ayah dan Bunda. Namun percayalah, dengan metode yang tepat, konsistensi, kesabaran, dan interaksi yang positif, kita bisa memberikan edukasi yang tepat baginya. Sehat selalu ya Ayah dan Bunda.

Editor : drg. Sita Rose Nandiasa, M.Si

 

 

Pit and Fissure Sealant

 

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Semoga sehat selalu ya..
Apakah sudah pernah mendengar istilah pit and fissure sealant sebelumnya?
Atau malah masih asing dengan istilah tersebut? Pit and fissure sealant itu dapat melindungi gigi dari proses gigi berlubang loh Ayah dan Ibu. Yuk kita bahas lebih lanjut..

 

Apakah sealant itu dan bagaimana cara kerjanya?

Sealant adalah salah satu cara yang aman dan tanpa rasa sakit yang dilakukan untuk melindungi gigi Anda maupun si kecil dari proses gigi berlubang. Sealant merupakan lapisan pelindung yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi-gigi geraham yang memiliki ceruk-ceruk yang sempit dan dalam (pit dan fissure). Kondisi gigi dengan pit dan fissure yang dalam sangat berpotensi menjadi tempat menumpuknya sisa makanan. Jika tidak dibersihkan, maka akan berubah menjadi pusat berkembangnya bakteri, yang lama kelamaan bisa menyebabkan karies. Dengan kata lain, pit dan fissure yang dalam merupakan habitat utama bakteri Streptococcus mutans. Lapisan sealant ini dapat menjadi pelindung dari sisa makanan serta bakteri agar tidak masuk dan terjebak dalam ceruk-ceruk tadi, sehingga menyebabkan terjadinya karies. Bahan yang digunakan yaitu resin komposit dan ionomer kaca fuji VII.

 

Kapan pit and fissure sealant dapat dilakukan?

Sealant dapat dilakukan segera setelah gigi geraham permanen pertama tumbuh, yaitu saat anak berusia 6-7 tahun. Selain itu, selanjutnya pada saat gigi geraham permanen kedua tumbuh, yaitu saat anak berusia 11-14 tahun.

 

Apakah setelah melakukan prosedur sealant, gigi harus tetap dibersihkan?

Hal yang harus diperhatikan adalah bahwa prosedur ini tidak dapat menggantikan sikat gigi maupun flossing. Namun, prosedur ini dapat mencegah timbulnya lubang dan menghentikan proses karies di tahap awal sehingga lubang gigi tidak bertambah besar dan parah. Faktanya, sealant dapat menurunkan risiko lubang pada gigi geraham belakang hingga 80%. Pada Oktober 2016, CDC (Centers for Disease Control) melaporkan pentingnya sealant pada anak usia sekolah. Menurut CDC, anak usia sekolah tanpa sealant berisiko 3 kali lebih besar untuk mengalami lubang pada gigi dibandingkan dengan anak yang telah menjalani prosedur sealant.

 

Sumber:

https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/dental-sealants

https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/s/sealants

https://jada.ada.org/action/showPdf?pii=S0002-8177%2814%2961434-3

https://www.dentalhealth.org/pit-and-fissure-sealants

PERLUKAH SUPLEMEN MINYAK IKAN UNTUK ANAK?

oleh dr. Yohannessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinis

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Ayah dan Ibu tentu sudah pernah mendengar tentang minyak ikan. Apakah Ibu/Ayah Kejora termasuk orangtua yang bertanya-tanya haruskah pemberian suplemen minyak ikan untuk anak? Sebelumnya, mari kita bahas apa kandungan dari minyak ikan.

Minyak ikan merupakan salah satu sumber dari EPA DHA yang termasuk dalam asam lemak omega-3 (asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang/PUFA). Baik EPA maupun DHA, sangat penting bagi perkembangan otak janin, perkembangan motorik dan penglihatan bayi, fungsi kognitif, juga sistem imun anak. Ayah dan Ibu Kejora dapat mengetahui peran DHA dalam kehamilan dengan klik artikel ini ya.

Mengenai pemberian suplemen minyak ikan (sirup/kapsul lunak), telah ada kajian literatur ilmiah (systematic review) yang menyimpulkan bahwa tidak ada manfaat pemberian suplemen PUFA rantai panjang pada bayi cukup bulan juga bayi prematur, namun juga dikatakan tidak ada efek samping berbahaya.

Penelitian lain juga menyatakan bahwa agar PUFA rantai panjang memberikan manfaat kesehatan yang optimal, sebaiknya diberikan dalam bentuk alami (dari sumber bahan makanan).

Selain minyak ikan, sumber PUFA lainnya adalah ASI, fatty fish, kacang kedelai, minyak kanola, minyak flaxseed, daging sapi, unggas, telur. Ikan yang mengandung tinggi EPA DHA pun tak hanya salmon, namun ikan tuna, bawal, tenggiri, kembung, patin, lele, juga belut juga tak kalah besar kandungannya. Berikut rincian jumlah kandungan EPA dan DHA dalam ikan:

Bagi Ibu/Ayah Kejora yang ingin memberikan suplemen minyak ikan, selalu konsultasikan terlebih dahulu pada dokter spesialis ya.

 

Sumber:

  • Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database of Systematic Reviews 2017.
  • Longchain polyunsaturated fatty acid supplementation in preterm infants. Cochrane Database of Systematic Reviews 2016.
  • Fat content and EPA and DHA levels of selected marine, freshwater fish and shellfish species from the east coast of Peninsular Malaysia. IFRJ 2012;19:815-21.

Konsumsi Probiotik untuk Ibu Hamil?

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Setiap Ibu pasti ingin memberikan nutrisi terbaik bagi bayinya. Tentunya, nutrisi yang terbaik ini bukan hanya dimulai dari makanan pertama bayi, namun juga sudah dimulai sejak masa kehamilan. Dari berbagai jenis makanan dan suplemen yang dipasarkan dengan manfaat kesehatan, probiotik sudah banyak diketahui bermanfaat untuk kesehatan saluran cerna. Makanan dan minuman yang mengandung probiotik semakin banyak dapat kita temukan di berbagai toko, supermarket, atau tempat perbelanjaan daring. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kimchi, kombucha, yogurt, kefir sudah semakin banyak diproduksi oleh home-industry maupun pabrik dan mudah didapatkan.

Nah, bagaimana dengan manfaat konsumsi probiotik selama kehamilan? Apakah probiotik yang berupa bakteri ini aman untuk dikonsumsi selama kehamilan?

Berdasarkan National Library of Medicine (NLM) dan National Institute of Health (NIH), probiotik mungkin aman selama kehamilan. Probiotik tidak bisa dikatakan aman secara pasti karena terdapat banyak sekali variasi probiotik dan penelitan yang masih terbatas. Secara umum, probiotik dikatakan aman untuk dikonsumsi karena suplementasi probiotik ini jarang diabsorpsi. Kemungkinan terjadinya infeksi dari probiotik ini dikatakan sangat kecil,  sekitar 1 banding 1 juta orang (kemungkinan infeksi Lactobacillus), dan 1 banding 5.6 juta orang yang mengonsumsi probiotik. Konsumsi probiotik juga tidak terbukti menyebabkan keguguran, kelainan janin, berat badan janin rendah atau dibutuhkannya operasi Caesar.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang secara alami terdapat sepanjang saluran cerna kita, dengan mayoritas berupa bakteria dan ragi. Berbagai penelitian menemukan bahwa jumlah mikroorganisme yang terdapat di seluruh tubuh kita sepuluh kali lipat lebih banyak daripada jumlah sel tubuh kita. Apa saja fungsi probiotik ini? Probiotik dapat membantu menghentikan diare akibat infeksi maupun antibiotik, mencegah keluhan sembelit, membantu mengatasi irritable bowel syndrome dan inflammatory bowel disease. Selama kehamilan, mikroorganisme yang mempengaruhi kesehatan bayi bukan hanya ditentukan oleh probiotik dalam saluran cerna ibu, namun juga pada probiotik yang berasal dari kulit, vagina dan ASI.  Walaupun saat ini mekanisme transfer probiotik dari ibu ke bayi ini masih diperdebatkan (apakah terjadi selama janin masih berada dalam kandungan atau setelah bayi dilahirkan), namun periode kehamilan adalah saat pertama probiotik ibu dapat mempengaruhi imunitas janin.

Mikroorganisme dari Ibu akan diberikan kepada bayi melalui proses kelahiran, air susu ibu (ASI), dan nantinya dari jenis makanan yang diberikan selama tumbuh kembang.

Probiotik yang berada dalam saluran cerna berhubungan dengan sistem imun. Probiotik bersifat anti-inflamasi atau anti radang dan mendukung sistem imun dalam kehamilan. Suplementasi probiotik selama kehamilan juga meningkatkan sel-sel imun dalam ASI, sehingga sel imun ini akan diturunkan kepada bayi, dan membentuk koloni bakteri baik dalam sistem pencernaan bayi tersebut. Dalam sebuah penelitian awal, probiotik yang dikonsumsi ibu hamil berhubungan dengan penurunan risiko pre-eklampsia dan kelahiran bayi prematur.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa probiotik mungkin aman selama kehamilan dan dapat dikonsumsi karena memberikan manfaat yang banyak sekali bagi ibu hamil dan bayi selama di masa kandungan.

Semoga artikel ini bermanfaat, ya, Keluarga Kejora. Salam sehat selalu!