Ketika Si Kecil Suka Melamun

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora, pernahkah kebingungan ketika melihat si kecil kerap kali termenung saat mengerjakan sesuatu di rumah? Atau, pernahkah Ayah dan Ibu mendapat laporan dari sekolah bahwa si kecil sering termenung saat di kelas? Seringkali, kita kebingungan untuk menilai, apakah si kecil melamun karena daya imaginasinya yang luar biasa, atau dikarenakan si kecil mudah terdistraksi atau terganggu dengan pikirannya sendiri?

Fakta positif tentang melamun

Dalam Bahasa Inggris, melamun dikenal dengan sebutan daydreaming, mind-wandering, dan beberapa istilah lainnya. Sekalipun terkadang mengganggu aktivitas, berikut ini adalah beberapa fakta positif mengenai daydreaming.

  • Beberapa penelitian dalam neuroscience mengatakan bahwa anak yang melamun memiliki daya kreativitas yang lebih baik, dibandingkan dengan anak yang jarang melamun.
  • Saat daydreaming, anak kerap kali menemukan berbagai ide dan dapat membuat hubungan-hubungan dari ide itu dan menghasilkan sesuatu yang menarik.
  • Daydreaming dapat membuat anak menghasilkan skenario tertentu ketika menghadapi sesuatu. Hal ini dapat membuat anak menjadi siap ketika menghadapi tantangan tertentu.
  • Walaupun tidak terlihat melakukan apa-apa atau “zoning out”, sebenarnya si kecil melakukan aktivitas otak juga saat melamun. Aktivitas tersebut berguna untuk memproses informasi yang ia terima.

Walaupun memiliki fakta yang positif, orang tua tetap harus mengarahkan anak untuk melakukan daydreaming atau mind-wandering pada konteks yang tepat. Arahkan anak untuk berada di alam terbuka, hal ini membuat imajinasinya makin kaya dan positif bila ia termenung. Berikan buku bacaan fiksi yang positif dan bermanfaat, maka hal ini juga akan menjadi bahan imajinasi yang juga baik dan berguna.

Kapan melamun dapat menimbulkan masalah?

Dibalik segudang fakta menarik, maka tentu melamun juga dapat menimbulkan masalah. Berikut ini adalah tanda ketika Ayah dan Ibu dapat lebih memberikan perhatian atau bantuan pada anak ketika melamun.

  1. Ketika saat si kecil melamun, aktivitas sehari-harinya terganggu. Misalnya, selalu terlambat menyelesaikan PR, atau selalu tidak paham apa yang dibicarakan oleh guru atau orang tua karena asyik melamun.
  2. Ketika anak cenderung lebih memilih melamun sendiri dan enggan melakukan sosialisasi dengan orang lain.
  3. Ketika anak sering sekali melamun atau lupa akan sesuatu dan berujung kepada waktu yang terbuang, sehingga kesempatan belajar pun terbuang.
  4. Ketika anak yang sering melamun juga disertai dengan sangat mudah terdistraksi atau teralih perhatiannya.

Hal-hal diatas, perlu orang tua perhatikan dan menjadi bahan untuk melakukan observasi lanjutan kepada anak. Apabila mengalami kendala atau kebingungan, orang tua sebaiknya juga berdiskusi dengan pihak profesional, seperti psikolog di sekolah atau klinik terdekat.

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu untuk mengarahkan si kecil melamun pada konteks yang tepat, ya! Tetap semangat, Keluarga Sehat Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Referensi:
Zedelius, C. M & Schooler, J. W. (2006). The Richness of Inner Experience: Relating Styles of Daydreaming to Creative Processes. Front Psychol. 2015; 6: 2063. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4735674/

Mengasuh anak yang memasuki masa “Threenager”

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Saat anak berusia dua tahun tentunya Ayah dan Ibu senang dengan perkembangan bahasa anak. Umumnya, pada usia satu hingga dua tahun adalah usia dimana anak bisa berbicara satu kata dengan utuh untuk pertama kalinya. Sementara itu, pada usia dua hingga tiga tahun adalah usia dimana anak banyak bertanya mengenai nama benda di sekitarnya, cara kerja benda yang dilihatnya, dan berbagai hal. Memasuki usia tiga tahun, atau yang biasa disebut usia threenager, mulai terlihat perbedaan pada perkembangan anak. Pada usia ini, terdapat beberapa ciri utama anak yang membuat mereka seperti usia remaja.

Pertama, anak yang sudah dapat berkomunikasi dua arah dengan lancar mulai meningkatkan rasa ingin tahu yang dimilikinya dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Salah satunya terlihat dari jenis permainan yaitu berubah dari bermain sendiri menjadi bermain dengan melibatkan teman lain, baik terlibat secara tidak langsung (parallel play), maupun secara langsung meskipun dengan jalan cerita masing-masing (associative play). Anak juga mulai mempelajari aturan dan norma di sekitarnya. Dalam mempelajari aturan ini, tidak jarang ditemui anak menjadi senang melakukan argumen. Penting bagi orangtua untuk memfasilitasi keinginan eksplorasi anak, namun tetap memberikan batasan sesuai dengan aturan yang ingin diterapkan pada anak.

Kedua, anak pada usia ini sangat ingin berusaha untuk mencoba berbagai hal dengan usaha sendiri. Tak jarang dalam melakukan aktivitas yang tadinya dibantu atau bersama dengan orangtua, sekarang anak menjadi ingin untuk mencoba melakukannya sendiri. Hal ini merupakan hal yang baik bagi perkembangan anak, dan orangtua sebaiknya memfasilitasi anak dengan memberikan bantuan dengan teknik scaffolding. Orangtua melihat sejauh mana kemampuan yang dimiliki anak saat ini, dan memberi sedikit bantuan agar anak dapat menguasai kemampuan yang satu level lebih sulit. Misalnya, saat anak sudah dapat menggosok badan menggunakan sabun, namun, belum dapat membilas tubuh dengan bersih. Maka hal yang harus dibantu oleh orangtua yaitu memperhatikan bagian tubuh yang terdapat lipatan atau mempunyai potensi kurang bersih saat anak membilasnya.

Ketiga, anak mulai memiliki preferensi dalam berbagai hal yang terkadang menyulitkan orangtua. Jika anak sudah mulai menunjukkan bahwa ia memiliki preferensi, maka hal tersebut menunjukkan anak berani memberikan pilihan, dapat mengekspresikan diri melalui hal yang disukainya. Orangtua dapat membiarkan anak memilih, namun anak diminta untuk membantu menyiapkan atau membuat sesuai dengan preferensinya. Misalnya : saat anak ingin makan roti yang dibakar terlebih dahulu sebelum diolesi selai cokelat. Tujuannya agar anak mengetahui usaha yang dibutuhkan untuk menyiapkan hal yang diinginkannya, dan agar ia lebih memiliki komitmen untuk menghabiskan makanan tersebut.

Meskipun pada tahap usia ini muncul berbagai hal baru yang menantang bagi oragntua, namun jika kita menjadikan moment ini sebagai moment anak untuk belajar, ternyata bisa sangat berguna lho.

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Anti Panik Parenting Anak Usia Tujuh Tahun


 

 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

 

Halo Ayah dan Bunda Kejora!

Apakah ada Ayah dan Bunda yang memiliki anak berusia enam hingga tujuh tahun? Di usia ini biasanya anak sudah mulai memasuki tahapan sekolah awal ya.

Pada usia ini, anak dianggap sudah siap secara fisik dan psikologis untuk mengikuti kegiatan di sekolah. Fase usia ini adalah fase peralihan anak, dari taman kanak-kanak ke fase sekolah dasar. Anak harus beradaptasi dengan aturan di sekolah, tuntutan akademis di sekolah, dan beradaptasi dengan lingkungan sosial yang baru. Di satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa anak kita sudah makin bertumbuh dewasa. Namun, di sisi lain akan semakin banyak tantangan yang harus dihadapi si kecil.

Yuk, simak apa saja ciri perkembangan anak usia 7 tahun dan tips parenting di usia ini!

Ciri perkembangan anak 7 tahun

    • Perkembangan fisik dan motorik
      Pada usia ini, perkembangan motorik kasar dan halus anak sudah terkoordinasi dengan baik. Dari aspek motorik kasar, anak sudah bisa berjalan, berlari, meniti, melompat dengan seimbang. Ia juga sudah bisa melakukan banyak aktivitas motorik dengan lincah. Sementara dari aspek motorik halus, anak sudah mulai bisa menulis, memotong, menggambar, mewarnai dengan lebih rapi, dan lain sebagainya.
    • Perkembangan kognitif
      Menurut dari teori kognitif Piaget, pada usia tujuh tahun anak memasuki tahapan operasional konkret. Pada masa ini anak sudah mengembangkan pikiran logis dan sudah menggunakan penalaran yang rasional untuk menyelesaikan masalahnya. Pada usia ini, konsentrasi dan daya ingat si kecil juga makin meningkat. Selain itu, anak sudah mulai bisa memahami dan mengikuti instruksi sederhana yang diberikan orangtua maupun guru di sekolahnya. Di usia ini, anak mulai mengembangkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung sederhana.
    • Perkembangan bahasa
      Dilihat dari perkembangan bahasanya, pada usia ini, kemampuan kosa kata anak dan tata bahasa anak berkembang pesat. Anak sudah mampu terlibat dalam percakapan dua arah yang lebih kompleks. Mereka juga sudah mulai bisa berbicara dan bercerita dengan lebih panjang dan logis.
    • Perkembangan sosio-emosional
      Pada usia ini, anak mulai mengembangkan kematangan emosi dan kemandirian. Anak mulai memiliki kesadaran yang lebih tinggi akan emosinya dan emosi yang dirasakan orang lain. Mereka juga lebih stabil secara emosi, meskipun terkadang masih sulit mengontrol emosinya. Selain itu, pada fase ini si kecil juga sudah mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab dalam melakukan aktivitas bina diri sehari-hari.
      Sementara dari sosialisasi, pada usia ini anak sudah mulai bisa mengikuti aturan yang berlaku di lingkungannya. Biasanya mereka sudah mulai bisa bermain dalam permainan kelompok, bekerjasama dengan teman, dan mengikuti aturan permainan, meskipun terkadang masih perlu diingatkan.

Setelah mengetahui karakteristik perkembangan anak usia tujuh tahun, berikut tips Anti Panik bagi Ayah dan Bunda dalam menghadapi anak berusia tujuh tahun.

    1. Usia ini merupakan usia yang ideal bagi anak untuk mengembangkan keterampilan fisik dan motoriknya
      Ayah dan Bunda bisa memberikan berbagai aktivitas fisik-motorik bagi si kecil, seperti berenang, bermain sepeda roda dua, sepak bola, basket, menari, melukis, bermain musik, dan lain sebagainya. Hal ini bisa mengembangkan rasa percaya diri pada anak juga loh, Ayah dan Bunda.
    2. Ajarkan manajemen waktu dan kedisiplinan
      Ajarkan si kecil untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari untuk melatih kedisiplinan. Atur waktu kapan si kecil sekolah, belajar, mengikuti les, bermain, beristirahat, dan lain sebagainya.
    3. Ajarkan kemandirian
      Misalnya, memakai baju sendiri, mandi, menyiapkan barangnya, membereskan mainan, dan lain sebagainya. Aktivitas bina diri secara mandiri yang dilakukan anak sehari-hari bisa meningkatkan kemandirian, kematangan emosi, daya juang, rasa percaya diri, dan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah sehari-hari loh, Ayah dan Bunda.
    4. Ajarkan kemampuan belajar
      Memasuki usia sekolah, tentu menjadi tantangan bagi orang tua dan anakya. Belum lagi, tuntutan akademis di sekolah yang cukup tinggi. Bantulah dan dampingi si kecil belajar secara teratur. Di sekolah dasar, anak juga harus menghadapi berbagai tugas dan tujuan. Pastikan Ayah dan Bunda paham apa saja tugas dan jadwal ujian si kecil ya, sehingga bisa mendampingi si kecil menyelesaikan tugas dan mempersiapkan ujiannya dengan baik. Ciptakan juga suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi si kecil. Berikan waktu istirahat bagi si kecil setelah belajar kurang lebih 45 menit sehingga si kecil tidak cepat lelah. Ayah dan Bunda juga perlu memberikan apresiasi ketika si kecil sudah berusaha giat belajar.
    5. Kembangkan minat dan bakat anak
      Pada usia ini, anak mulai mengembangkan minat dan bakatnya terhadap berbagai bidang. Berikan kesempatan anak untuk mengeksplorasi berbagai hal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Minat dan bakat ini bukan hanya melulu tentang prestasi akademik loh. Ayah dan Bunda bisa ajak si kecil untuk mengeksplorasi minat dan bakat anak di berbagai bidang lainnya, seperti musik, olahraga, kesenian, dan lain sebagainya.
    6. Bimbingan untuk meregulasi emosinya dengan baik
      Meskipun pada usia ini si kecil sudah mengembangkan kematangan emosi, namun mereka masih memerlukan bimbingan orangtua agar ia tahu bagaimana mengatur emosinya. Dampingi dan bantulah anak untuk mengenal dan mengekspresikan emosinya. Pahami apa yang ia rasakan dan berikan dukungan bagi si kecil untuk mengetahui cara yang paling sesuai dalam meregulasi emosinya.
    7. Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak
      Biasanya ketika anak sudah mulai sekolah dan banyak kegiatan, kita sering lupa berinteraksi secara intens dengan anak. Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan si kecil setiap harinya tentang kegiatan di sekolah, teman-temannya, dan aktivitasnya setiap hari. Hal ini bisa membuat anak merasa dipahami, dihargai, dan didukung oleh orangtuanya.
    8. Ajarkan etika dalam bersosialisasi
      Memasuki usia sekolah dasar, si kecil perlu mengembangkan kemampuannya dalam bersosialisasi. Ajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan teman-temannya. Orangtua juga bisa mulai dengan mengajarkan three powerful words, yaitu kata maaf, terima kasih, dan minta tolong dengan sopan. Selain itu, penting juga bagi orangtua mengajarkan si kecil untuk tidak terlibat dalam bullying, baik sebagai pelaku maupun korban bullying. Ajarkan sikap peduli dan empati. Serta, ajarkan anak untuk berani mempertahankan diri dan bersikap tegas pada orang lain yang melakukan bullying padanya.

      Menghadapi si kecil yang memasuki fase sekolah dasar memang penuh tantangan. Namun, pola asuh yang tepat, si kecil bisa mengembangkan potensi-potensi dan konsep diri positif sejak kecil.

Sehat selalu Ayah dan Bunda.

Perlukah Si Kecil Belajar Meminta Maaf?

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu, pernah engga sih kepikiran, “Perlu engga ya, anakku meminta maaf?” Mungkin, di satu sisi kita merasa bahwa si kecil tidak perlu meminta maaf karena ia masih kecil, namun di sisi lain kita juga merasa penting untuk mengajarkan si kecil meminta maaf dan mengetahui bahwa perbuatan yang ia lakukan adalah suatu kesalahan. Jadi, sebenarnya bagaimana ya baiknya? Perlu tidak, ya?

Para ahli mengatakan bahwa seorang si kecil tidak perlu dipaksa untuk meminta maaf saat melakukan suatu kesalahan. Akan tetapi, hal ini bukan berarti si kecil dibiarkan saja ketika melakukan kesalahan, terutama jika merugikan orang lain. Saat si kecil melakukan kesalahan, orang dewasa atau Ayah dan Ibu perlu memberikan penjelasan terkait alasan perilaku tersebut tidak baik untuk dilakukan. Selain menjelaskan perilaku yang salah, maka Ayah dan Ibu juga hendaknya memberikan informasi perilaku yang benar atau perilaku yang sebaiknya dilakukan. Memaksa si kecil untuk mengucapkan kata maaf, hanya akan membuat si kecil mengucapkan kata maaf dengan tidak tulus dan justru menjadi tidak paham arti kata ‘maaf’ tersebut.

Kadangkala, ada si kecil yang sulit sekali untuk mengungkapkan kata maaf, namun ada yang justru mudah mengungkapkan kata ‘maaf’. Pernahkah Ayah dan Ibu melihat ada si kecil yang mudah mengungkapkan kata ‘maaf’ namun kembali melakukannya? Kadangkala, si kecil mengeluarkan kata ‘maaf’ untuk menyenangkan orang dewasa dan menghindari hukuman. Akhirnya, kata ‘maaf’  yang sering dikeluarkan oleh si kecil justru berujung pada kelegaan pada Ayah dan Ibu. Namun, setelah Ayah dan Ibu lengah, si kecil bisa saja kembali melakukan perbuatan serupa. Hal ini bisa dikarenakan si kecil belum betul-betul paham makna dari kata ‘maaf’. 

Jadi, Apa yang perlu dilakukan ketika si kecil melakukan kesalahan?

1. Bicara dari hati ke hati

Saat si kecil melakukan kesalahan, ajaklah ia untuk bicara dari hati ke hati. Mulailah berfokus pada perasaan yang si kecil miliki. Bisa jadi, si kecil melakukan hal yang kurang baik karena satu alasan. Misalnya saat si kecil tidak meminjamkan mainan kepada adiknya dan memilih untuk merajuk. Bisa jadi ini adalah wujud dari perasaan cemburu.

Ayah dan Ibu dapat menanyakan, “mengapa kamu melakukan itu?” Setelah si kecil mengungkapkannya, Ayah dan Ibu dapat menanyakan perasaan si kecil ketika berada di posisi anak atau pihak lain. Hal ini perlu dilakukan agar si kecil tahu bahwa orangtua tetap ada untuknya sekalipun ia melakukan hal yang salah. 

Setelah tahap tadi selesai, ajak si kecil berfokus pada perasaan dari orang lain. Misalnya, “dik, kalau misalnya kamu mau pinjam mainan tapi sama temanmu tidak diperbolehkan gimana?” Jika diperlukan, lakukan role play agar si kecil betul-betul merasakan hal serupa.

Setelah si kecil mendapatkan dua sudut pandang, maka rangkumkan perasaan si kecil, perasaan orang lain, hal yang salah, serta hal yang harus dilakukan ke depannya. 

2. Ajarkan formula dalam mengungkapkan kata maaf

Jika ingin mengajarkan si kecil kata ‘maaf’, maka ajarkan si kecil mengenai formula kata ‘maaf’ yang lengkap dan bermakna. Kata maaf yang baik, bukan hanya sekedar mengucapkan ‘maaf’ saja, namun mengandung penjelasan mengenai perbuatan atau perilaku yang salah, alasan mengapa perilaku tersebut salah, dan solusi di masa depan. Misalnya saja saat si kecil tidak sengaja memukul dahi temannya. Ajarkan si kecil untuk mengungkapkan, “aku meminta maaf karena memukul dahimu. Itu salah karena dahimu pasti sakit sekali. Besok aku tidak akan mengulanginya kembali.”

3. Jadilah contoh yang baik 

Ingatlah bahwa si kecil pasti belajar melalui contoh dari orang-orang terdekat, misalnya saja ayah, ibu, atau orang lain di rumah. Berusahalah untuk bukan hanya sekedar mengucap maaf, namun betul-betul mengungkapkan perasaan bersalah dengan cara yang bermakna dan positif. 

4. Selalu konsisten

Selalu berusaha untuk konsisten juga menjadi hal yang penting. Berbagai aturan yang jelas dan disepakati oleh keluarga mengenai batasan perilaku yang diperbolehkan dan tidak juga sebaiknya diterapkan di rumah. Hal ini supaya si kecil juga tidak bingung terkait perilaku yang boleh dan tidak diperbolehkan.

 

Editor: drg Valeria Widita Wairooy

Sumber:

Smith, C. E. , Chen, D. & Harris, P. L. (2010). When the happy victimizer says sorry: Children’s understanding of apology and emotion.  British Journal of Developmental Psychology Vol 28. 727-746.

 

Cara Belajar Si Kecil Tipe Visual, Auditori, atau Kinestetik?

 

 

 

 

oleh dr. Grace Hananta, C.Ht

Dokter Umum

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora! Kira-kira Ayah dan Ibu sudah kenal belum tipe belajar si kecil? Semoga sudah ya. Tetapi bila belum, semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu untuk lebih memahami cara belajar yang sesuai dengan si kecil. Dengan begitu, ia dapat belajar dengan lebih nyaman dan menstimulasi mereka untuk menjadi lebih berkembang.

 

Kesulitan belajar pada si kecil terkadang membuat orang tua merasa putus asa, terlebih bila ia disebut “bodoh” oleh sekitarnya. Ayah dan Ibu, ternyata masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika, menurut National Institute of Health (NIH), diperkirakan terdapat kasus kesulitan belajar sebanyak 15 – 20 persen total penduduk dan sekitar 4 persennya adalah populasi anak.

 

Perlu diketahui bahwa setiap anak memiliki cara belajarnya tersendiri. Misalnya, sebagian anak lebih memilih untuk belajar berkelompok dibanding sendirian karena ia lebih mudah menerima dan memproses informasi bila dilakukan pengulangan bersama-sama. Sebagian lain ada juga yang lebih memilih cara lain seperti melihat (visualisasi), mendengar, atau mengerjakan langsung dalam kehidupan sehari-hari agar lebih mudah memahami apa yang dipelajarinya. Untuk itu, orang tua harus terlebih dahulu memahami bagaimana tipe belajar si kecil sehingga mereka dapat lebih mengalami proses belajar yang nyaman dan menyenangkan.

 

Tipe-tipe Belajar

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika menyimpulkan bahwa 20-30% anak usia sekolah mengingat lebih kuat dengan cara mendengar, 40% mengingat kembali secara visual (menulis ulang, menggambarkan dalam pikiran apa yang dilihat/baca, menggunakan jari, dsb), dan sisanya kesulitan bila tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berangkat dari hal itu, tipe belajar seseorang dibagi menjadi tiga:

  1. Tipe Visual

Anak lebih optimal menyerap informasi bila dibaca atau dilihatnya. Warna, hubungan ruang, potret mental, dan gambar menonjol dalam modalitas ini. Beberapa ciri orang dengan tipe belajar visual, yaitu:

  • Pengeja yang baik dan dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran.
  • Lebih mengingat apa yang dilihat daripada yang didengar.
  • Mudah mengingat gambar, bentuk, warna, huruf angka.
  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis dan sering meminta orang lain untuk mengulangi ucapannya.
  • Lebih suka membaca daripada dibacakan dan pembaca yang cepat.
  • Mencoret-coret tanpa arti selama belajar atau hal lainnya.
  • Lebih mudah mempraktekan apa yang pernah dilihatnya.
  • Menyukai seni gambar.
  • Mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata yang tepat.
  • Biasanya tidak terganggu dengan keributan.
  • Lebih menyukai buku bergambar, foto, dan video.

2. Tipe Auditori

Anak lebih optimal menyerap informasi melalui apa yang didengarnya. Misalnya dalam bentuk musik, irama, dialog internal, atau suara lainnya. Anak yang dominan auditori memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Suka berbicara kepada diri sendiri saat belajar.
  • Perhatiannya mudah terpecah dan mudah terganggu oleh keributan.
  • Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca.
  • Senang membaca dengan keras dan mendengarkan.
  • Lebih suka meneruskan informasi secara lisan.
  • Berbicara dalam irama yang terpola.
  • Lebih suka musik daripada seni gambar.
  • Mudah mengingat lagu atau cerita.
  • Suka berbicara, suka berdiskusi dan menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar.
  • Mempunyai keterbatasan dengan pelajaran yang melibatkan visualisasi.
  • Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya.

3. Tipe Kinestetik

Anak lebih optimal menyerap informasi melalui gerak, emosi, dan sentuhan. Misalnya bila dicontohkan terlebih dahulu atau dengan membayangkan orang lain melakukan hal yang dipelajarinya. Ciri-ciri anak dengan tipe belajar kinestetik meliputi:

  • Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka saat berbicara.
  • Berdiri berdekatan saat berbicara dengan orang lain.
  • Suka menggerakan anggota tubuh saat membaca, mendengarkan atau bicara (kaki, jari tangan).
  • Ingin selalu mempraktekkan hal sedang diajarkan.
  • Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.
  • Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca.
  • Banyak menggunakan isyarat tubuh.
  • Tidak dapat diam untuk waktu yang lama.
  • Menyukai permainan yang menyibukkan.

Namun demikian, memungkinkan juga bila anak memiliki tipe campuran dari tiga tipe belajar diatas, misalnya Auditori-visual atau Visual-kinestetik atau ketiga-tiganya walau biasanya satu tipe belajar lebih mendominasi.

 

Strategi Belajar Tiap Tipe

Lantas, strategi belajar seperti apa yang dapat membantu masing-masing tipe?

1. Tipe Visual

Bagi anak-anak tipe visual akan lebih mudah belajar dengan media diagram, charts, gambar, film/video, dan perintah tertulis. Sehingga arahkanlah untuk membuat to-do list dan catatan tertulis atau bergambar.

 

2. Tipe Auditori

Bagi anak-anak tipe auditori akan lebih mudah belajar dengan mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh pengajarnya. Dengan variasi nada bicara dan bahasa tubuh akan membuat si kecil tetap tertarik dan perhatian terhadap materi yang diajarkan. Pada tipe ini, anak akan lebih menyerap pelajaran/ informasi dengan cara mendengarkan dan mengulang kembali pelajaran dengan bercerita tentang pelajarannya.

 

3. Tipe Kinestetik

Kebanyakan dari sekolah menggunakan cara belajar kinestetik: sentuhan, perasaan, pengalaman langsung tersentuh oleh tangan. Anak – anak dengan tipe ini sangat mudah belajar dengan aktifitas belajar yang aktif. Misalnya lab sains, presentasi drama, field trip, menari, dan aktivitas aktif lainnya.

Ayah dan Ibu, yuk kita mulai perhatikan dan kenali cara belajar si kecil. Berikanlah dukungan yang terbaik agar mereka tumbuh menjadi anak-anak hebat dan menggapai setiap potensi terbaik yang mereka bisa.

 

 

Sumber:

Farwell T. “Is your kid a visual, auditory or kinestetic learner?” https://www.familyeducation.com/school/multiple-intelligences/learning-styles-visual-auditory-kinesthetic

 

Mudik yang Menyenangkan untuk Si Kecil

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Bulan Ramadan ini tentunya menjadi bulan yang special, ya, untuk kita dan keluarga, termasuk si Kecil. Setelah berpuasa selama satu bulan, tentunya ada momen lebaran yang kita rayakan. Bagi keluarga yang ingin menikmati liburan di rumah atau bepergian di dalam kota, tentunya merupakan pilihan yang menyenangkan. Namun, bagi keluarga yang merencanakan untuk pergi mudik ke kampung halaman, sebaiknya memperhatikan beberapa hal agar anak merasa nyaman selama perjalanan.

Pertama, beri tahu sebelumnya bahwa keluarga akan menempuh perjalanan mudik. Pemberitahuan meliputi: kota tujuan, berapa lama waktu perjalanan, alat transportasi apa yang akan digunakan, dan aktivitas apa saja yang dapat dilakukan di kota tujuan. Orangtua dapat menunjukkan destinasi menarik yang dapat dikunjungi di kota tujuan, melalui diskusi bersama dengan Si Kecil apabila ia memiliki preferensi tempat untuk dikunjungi. Destinasi wisata yang bersifat edukatif juga akan memberi manfaat positif untuk anak, yaitu menambah pengetahuannya. Ceritakan juga perkiraan waktu tempuh perjalanan. Hal ini untuk mengantisipasi si Kecil yang kaget karena berpikir bahwa perjalanan lebih singkat dari seharusnya. Perhitungkan pula arus lalu lintas yang lebih padat pada hari raya ini dibandingkan hari biasa. Setelah itu, orangtua dapat menunjukkan gambar atau memberitahu alat transportasi yang akan digunakan untuk menempuh perjalanan. Orang tua juga bisa menceritakan berbagai kisah menarik yang memiliki latar belakang alat transportasi tersebut. Misalnya: menggunakan tokoh kartun Tayo jika menggunakan bus, atau tokoh di film Plane jika menggunakan pesawat.

Kedua, mempersiapkan perlengkapan anak. Baik perlengkapan yang digunakan untuk keseharian (seperti baju, makanan, dan lain-lain), maupun yang dapat membuat Si Kecil merasa lebih nyaman. Misalnya mainan favorit atau boneka kesukaannya. Si Kecil juga dapat memilih sendiri makanan ringan yang akan dibawa untuk dikonsumsi selama di perjalanan. Selain itu, jangan lupa mempersiapkan obat-obatan dan barang personal lain yang dibutuhkan. Aktivitas mempersiapkan kebutuhan anak ini baik jika dilakukan bersama, karena akan melatih anak untuk menyiapkan barangnya sendiri.

Ketiga, memahami karakter anak saat berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai macam latar belakang. Saat lebaran merupakan saat bersilaturahmi, yang berarti anak akan banyak berinteraksi dengan anggota keluarga, teman Ayah dan Ibu, tetangga, maupun orang-orang yang baru ditemuinya. Saat berkumpul misalnya, anak akan selalu diminta untuk memperkenalkan diri, bermain bersama anak sebayanya, menjawab pertanyaan dari orang dewasa lain, dan sebagainya. Akan menjadi masalah jika anak merasa orangtua terlalu memaksa mereka untuk mudah beradaptasi dan berbaur dengan anak lain, sedangkan anak membutuhkan waktu terlebih dahulu untuk masuk ke dalam lingkungan baru. Untuk itu, pahamilah temperamen anak kita. Apakah anak termasuk easy child yang mudah membaur dengan lingkungan baru; ataukah tipe slow to warm up yang biasanya mengobservasi terlebih dahulu keadaan di sekitarnya serta membutuhkan waktu untuk masuk ke lingkungan baru; ataukah tipe difficult child yang proses adaptasinya lambat.

Sekian pembahasan kali ini mengenai beberapa tips agar Si Kecil menikmati liburan saat mudik ke kampung halaman. Semoga berguna ya! Selamat liburan dan pulang ke kampung halaman masing-masing, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Menyikapi Si Kecil yang Pemarah


 

 

oleh Anita Carolina, S.Psi, M.Psi.

Psikolog

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Kecil-kecil cabai merah. Masih kecil sukanya marah-marah.

Kondisi emosi negatif seperti marah, kesal, dan tidak sabar bukan hanya dirasakan oleh orang dewasa. Kenyataannya, anak-anak pun dapat merasakan emosi tersebut. Merasakan emosi negatif adalah hal yang wajar dialami kita semua. Namun jika si kecil sering marah-marah dan mengekspresikan kemarahan tersebut dengan cara menjerit, marah-marah, mengamuk, bahkan memukul, tentu dapat membuat Ayah dan Ibu menjadi pusing ya? Jika dibiarkan, si kecil dapat tumbuh menjadi anak pemarah.

Sebelum menyikapi kebiasaan marah si kecil, Ayah dan Ibu perlu mengetahui penyebab anak suka marah-marah. Misalnya karena meniru sikap orang di sekitarnya yang suka marah, merasa tertekan, keinginannya tidak terwujud, diabaikan, merasa cemburu, atau memiliki masalah keluarga. Dengan mengetahui penyebab kemarahannya, orangtua dapat mencegah kemarahan pada si kecil.

Berikut tips untuk menyikapi si kecil yang pemarah:

  1. Berikan contoh

Anak merupakan pengamat yang baik. Mereka akan mengamati perilaku orang yang terdekat dengan mereka dan menirukannya. Jika Ayah dan Ibu suka berteriak dan marah, hati-hati, si kecil bisa meniru yang sama. Maka dari itu, penting untuk mencontohkan sikap saling menghargai, menyayangi, sabar, dan peduli dalam keluarga.

  1. Tetap bersikap tenang

Ayah dan Ibu jangan cepat emosi dan ingin langsung membentak si kecil ketika ia marah. Mengapa? Karena si kecil justru akan semakin sulit mengendalikan emosinya. Alih-alih membentak si kecil, berikan waktu sejenak hingga ia tenang. Kemudian, ajaklah si kecil berdiskusi secara baik-baik. Ingatkan secara tegas dan konsisten aturan yang telah disepakati bersama.

  1. Ajarkan si kecil mengenali dan mengekspresikan emosinya secara wajar

Ayah dan Ibu bisa mulai mengenalkan berbagai macam emosi pada si kecil, seperti sedih, senang, marah, takut, dan lain sebagainya. Terimalah dan dorong si kecil untuk mengungkapkan perasaannya supaya ia merasa dihargai. Misalnya, “Kakak sedang sedih ya makanya kakak nangis?” atau “Wah adik sedang senang ya hari ini.”

Kemudian, Ayah dan Ibu bisa mengarahkan si kecil untuk mengekspresikan emosi negatifnya secara lebih wajar. Misalnya ketika anak marah karena mainannya diambil oleh adiknya, Ayah dan Ibu bisa menyarankan, “Kakak, daripada menangis dan menjerit-jerit, coba Kakak minta baik-baik sama adik.”

  1. Ajarkan si kecil mengendalikan emosi

Mungkin saja si kecil mudah marah karena belum tahu strategi mengendalikan emosi. Ayah dan Ibu bisa ajarkan dengan berbagai macam cara. Misalnya, ajari si kecil untuk berpikir dulu sebelum marah-marah. Bujuklah ia dengan menghitung 1-10 secara perlahan sebelum ia marah, dengan harapan amarahnya akan mereda dan menjadi tenang selama proses berhitung. Ayah dan Ibu bisa juga mengajarkan si kecil untuk mengambil napas dalam-dalam supaya lebih tenang.

Jika si kecil sudah terlanjur marah-marah, ajak si kecil untuk meninggalkan sejenak hal yang membuatnya marah. Misalnya, jika si kecil marah pada kakaknya, bujuklah ia untuk menjauh dari kakaknya untuk sementara waktu. Selama berpisah dengan kakaknya, tenangkan si kecil agar amarahnya dapat terkendali. Jika sudah reda, latih si kecil dan kakak untuk saling memaafkan.

  1. Hargai usahanya

Tunjukkan apresiasi positif ketika si kecil berhasil menahan marah. Misalnya dengan memeluknya dan mengatakan “Hebat kakak lebih sabar.”

Pengendalian emosi akan menjadi bagian dari diri anak bila diajarkan dengan konsisten oleh orang tua. Orang tua pun membutuhkan waktu dan pengalaman agar dapat terus menerapkan hal ini.

Bagaimana Ayah dan Ibu Kejora? Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu dalam menyikapi si kecil yang suka marah-marah, ya!

Sumber:

  • Shapiro, L. E. (2004). 101 Ways to teach children social skills. United States of America: The Bureau For At-Risk Youth.
  • Rosanbalm, K.D., & Murray, D.W. (2017). Promoting self-regulation in early childhood: a practice brief. Washington, DC: Office of Planning, Research, and Evaluation, Administration for Children and Families, US. Department of Health and Human Services. Read More

Berkenalan dengan Positive Discipline

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

Halo, Ayah dan Ibu Kejora.

Sebelum mengenali positive discipline, mari kita berkenalan dengan kata discipline. Kata discipline berasal dari bahasa latin yaitu “disciplina”. Kata “disciplina” sendiri berarti memberikan instruksi atau mengajarkan suatu hal.

Apa itu Positive Discipline?

Positive discipline adalah cara memperkenalkan, mengarahkan dan memberkan contoh kepada anak-anak terkait jenis-jenis perilaku positif dan dapat diterima (acceptable behavior). Melalui positive discipline, anak-anak diberikan arahan atau contoh dengan cara yang tegas (firm) namun tetap hangat. Positive discipline berfokuskan pada relasi orang dewasa (orangtua, kakek-nenek, guru, dan lainnya) dan anak yang dibangun atas dasar rasa aman, hormat, percaya namun tetap diimbangi dengan ketegasan dan batasan yang jelas. Berdasarkan penelitian, maka manusia akan dapat belajar ketika berada dalam lingkungan yang aman.

Positive discipline tentu berbeda dengan proses disiplin menggunakan punishment (hukuman). Proses disiplin dengan cara menghukum membutuhkan aturan yang ketat dan harus dipatuhi serta memberikan hukuman bagi perilaku yang tidak diharapkan. Saat kita memberikan hukuman, anak-anak bisa saja mengikuti hal yang kita inginkan, akan tetapi hal tersebut tidak akan berlangsung lama.

Mengapa positive discipline penting?

  • Positive discipline memberikan anak aturan yang jelas namun tetap memperhatikan rasa berharga dalam diri anak tersebut.
  • Membangun rasa saling menghormati antara anak dan orang dewasa.
  • Positive Discipline membuat anak mau mengulang perilaku yang positif, karena melalui positive discipline anak akan merasa dihargai saat melakukan hal yang benar.
  • Membuat anak belajar bahwa mengikuti aturan dan batasan merupakan hal yang biasa dan menyenangkan.

Bagaimana cara melakukannya?

Ada banyak cara untuk menerapkan positive discipline pada anak. Orangtua dapat membeli buku tentang positive discipline atau mencari melalui media elektronik, namun pastikan bahwa sumbernya terpercaya.

Berikut kami rangkumkan beberapa hal untuk melakukan positive discipline:

  1. Jangan berfokus pada perilaku yang salah pada anak, namun tunjukkan perilaku yang benar atau yang diharapkan oleh ayah dan ibu.
  1. Selalu tunjukkan kehangatan kepada anak, akan tetapi tetaplah menjadi orangtua yang tegas dalam memberikan batasan. Batasan tetap diperlukan agar anak dapat berperilaku dalam batas aman dan wajar.
  1. Selalu berikan aturan dan batasan yang jelas dan konsisten.
  1. Bila anak melakukan kesalahan, libatkan anak untuk berdiskusi terkait solusi yang dapat dilakukan bersama.
  1. Selalu berikan quality time pada anak sehingga anak tidak merasa kurang diperhatikan.
  2. Pada kesempatan tertentu, orangtua dapat memberikan pilihan kepada anak. Hal ini membuat anak dapat merasa dilibatkan dan melatih diri untuk bertanggungjawab.

Sekian informasi terkait positive parenting yang dapat kami berikan. Ayah dan Ibu dapat melakukan riset melalui berbagai sumber terkait positive discipline. Terima kasih dan selamat mencoba.

 

Sumber:
Nelson, J. E. D., Tamborksi, M. N. (2016). Positive Discipline Parenting Tools. Harmony Books: New York

Berbicara Kanker pada Anak

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Tahukah Ayah dan Ibu,bahwa tanggal 15 Februari adalah Hari Kanker Anak Sedunia? Tentu sedih sekali melihat sikecil didiagnosis mengidap penyakit serius, seperti kanker. Namun ada beberapa hal yang tetap harus kita lakukan sebagai Ayah dan Ibu selain mendukung pengobatannya. Untuk itu,tim psikolog Kejora, Marcelina Melisa, S.Psi, M.Psi, yang akrab dipanggil Lina, bersedia berbincang mengenai bagaimana Berbicara Kanker Pada Anak. Sekarang, mari kita simak ya..

Halo, Kak Lina! Tentu sedih sekali ya jika kita melihat si kecil didiagnosis penyakit serius seperti kanker. Bagaimana sih cara Ayah dan Ibu untuk memberi tahu si kecil bahwa ia sedang sakit?

Halo juga, Kejora! Si kecil mungkin sadar bahwa kondisi dia sekarang dan sebelumnya berbeda. Tugas orang tua adalah menyampaikan bahwa aktivitas yang sehari-hari dilakukan oleh si kecil, nantinya akan sulit dilakukan, terutama saat sedang menjalani pengobatan. Misalnya, pada anak yang punya hobi menari, kita bisa tanya sama si kecil, kalau kita senang menari kita butuh apa aja sih. Mungkin nanti ia akan menjawab harus punya tenaga yang banyak. Lalu kita tanya ke dia, bagaimana keadaannya sekarang. Misal ia jawab tubuhnya lemas. Nah, perlahan kita giring ia untuk mengerti bahwa dia sedikit kesulitan melakukan aktivitas harian seperti biasanya. Namun, tekankan pada si kecil bahwa nanti ia akan bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.

Oke, jadi memang harus tetap diberi pengertian secara perlahan ya, Kak. Nah, untuk menyiasati agar ia tidak bosan ketika sedang istirahat, apa yang bisa dilakukan?

Tentu saja kita harus tetap kasih si kecil kegiatan alternatif. Seperti contoh sebelumnya ya, jika si kecil hobi menari, kita bisa putarkan berbagai video atau film anak-anak menari. Bahkan, bisa juga lho kita buat mini show dengan memakai boneka si kecil. Jadi kita buatkan panggung sederhana, seolah-olah anak sedang menari, konsepnya sama dengan simulasi. Kegiatan pengganti seperti ini penting diberikan pada si kecil agar ia tidak merasa bosan, terlalu kosong, ataupun sedih. Jadi, meskipun sedang sakit ia tetap ada kegiatan.

Selain perubahan aktivitas, pasti ada perubahan fisik selama pengobatan, misalnya, rambut rontok. Jika si kecil bertanya atau bahkan menangis karena rambutnya rontok, orang tua harus bagaimana?

Jika si kecil menangis karena melihat rambutnya rontok saat atau setelah pengobatan itu merupakan hal yang sangat wajar. Namanya juga anak-anak, mungkin saat itu mereka merasa sedih, kaget, dan campur aduk. Setelah anak selesai menangis dan sudah tenang, kita bisa jelaskan melalui gambar apa saja efek atau perubahan fisik kalau seseorang terkena kanker. Jelaskan juga kalau ini hanya bersifat sementara karena sedang menjalani pengobatan.

Selama mendampingi si kecil menjalani terapi dan pengobatan, tentu bisa saja Ayah dan Ibu menangis, bahkan kelepasan dan akhirnya menangis di depan si kecil. Apakah tidak apa-apa?

“Sebenarnya sah-sah saja jika Ayah dan Ibu menangis, karena pada dasarnya si kecil juga harus tahu berbagai emosi dalam suatu keadaan itu normal-normal saja. Tidak salah juga jika Ayah dan Ibu ingin tampil kuat di depan si kecil agar dapat mendukung dan menghiburnya. Hanya saja, Ayah dan Ibu kan juga manusia biasa, jadi tetap membutuhkan sarana untuk menyalurkan emosi, karena dikhawatirkan Ayah dan Ibu dapat meledak di saat yang kurang tepat. Kalau sampai akhirnya menangis di depan si kecil, ya tidak usah disesali. Berikan pengertian pada si kecil bahwa Ayah dan Ibu, juga si kecil sedang menjalani saat susah, namun tidak apa karena akan dijalani bersama-sama. Karena hal ini yang penting, yaitu penutupnya bahwa si kecil merasa oke bundanya sedih, tapi kita tetap bisa menjalani ini bersama.

Lalu bagaimana cara menumbuhkan optimisme pada si kecil setelah ia mengetahui bahwa ada perbedaan kondisi pada dirinya?

  • Tetap berikan fakta yang realistis, sesuai dengan informasi yang didapatkan dari dokter atau sumber dari profesional pada bidang onkologi. Misalnya mengenai durasi terapi, kemungkinan anak dapat melakukan aktivitas yang sebelumnya dilakukan, dan lain-lain.
  • Pertahankan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, minimalisasi perubahan drastis yang terjadi setelah anak terdiagnosis kanker. Misalnya, usahakan orang sekitar tidak menunjukkan simpati atau rasa sedih yang berlebihan, serta tetap berikan kesempatan pada anak untuk melakukan aktivitas yang biasa dilakukannya sejauh aktivitas tersebut diperbolehkan oleh dokter.
  • Terima apapun perasaannya sekalipun ia seringkali mengungkapkan emosi negatifnya, hindari mencegah anak menceritakan perasaannya karena orangtua tidak mau mendengar anak sedih atau belum siap menghadapinya.
  • Komunikasikan secara terbuka mengenai apapun yang ingin diketahui anak mengenai keadaannya. Apabila anak sudah dapat mengakses media atau internet, buat kesepakatan bahwa apapun keterangan yang didapatkan anak akan dibicarakan bersama dengan orangtua. Hal ini bertujuan agar mencegah anak mendapatkan informasi yang kurang tepat dari media.

Sekian bincang-bincang Kejora dengan Kak Lina. Terus dukung dan temani si kecil yang sedang didiagnosis sakit serius agar ia tetap optimis untuk sembuh. Tetap semangat, Keluarga Sehat Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Psychological First Aid (PFA)

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Akhir-akhir ini Indonesia sedang sering tertimpa bencana alam dan kejadian tidak menyenangkan lainnya. Nah, kira-kira apa, ya, yang bisa kita lakukan jika menemukan anak-anak maupun orang dewasa yang sedang mengalami peristiwa tidak menyenangkan seperti ini? Kali ini, mari berkenalan dengan Psychological First Aid, yuk!

Psychological First Aid (PFA) atau yang bisa juga disebut bantuan pertama psikologis adalah intervensi psikologi yang diberikan pada individu atau kelompok yang baru saja mengalami kejadian krisis. Kejadian krisis yang dimaksud dapat berupa peristiwa kehilangan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa yang sangat mengejutkan sehingga menimbulkan kecemasan atau ketakutan, ataupun ketika individu baru saja mengalami kecelakaan atau bencana alam. PFA diberikan sesegera mungkin setelah individu mengalami situasi krisis. PFA yang diberikan bersifat praktikal dan dalam waktu singkat, serta disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. PFA dapat dilakukan oleh siapa saja dan tidak harus dari profesional.

Hal yang paling penting adalah memahami prinsip dasar PFA. Terdapat 6 prinsip dasar yaitu melihat, mendengar, membuat nyaman, memberikan koneksi, memberikan rasa perlindungan, dan memberikan harapan. Sekarang kita bahas satu-persatu ya, Ayah dan Ibu Kejora!

  1. Melihat artinya mengamati keadaan penyintas dan lingkungan sekitar. Keadaan penyintas yang diamati termasuk emosi yang sedang dirasakannya, dan apakah penyintas terlihat ingin berkomunikasi. Sedangkan untuk lingkungan sekitar, kita harus mengamati sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penyintas.
  2. Mendengar di sini adalah mendengar aktif, dimana kita berusaha agar penyintas merasa dirinya diterima apa adanya.
  3. Membuat nyaman bisa dilakukan dengan mengakomodasi kebutuhan dasar seperti pengobatan luka fisik, memberikan sarana yang membuat rileks, dan lain-lain.
  4. Memberikan koneksi artinya mencari layanan yang sesuai dengan kebutuhan penyintas saat itu. Misalnya saat membutuhkan transportasi untuk menjenguk keluarga, kita memberi tahu bahwa terdapat layanan transportasi gratis.
  5. Memberikan rasa perlindungan artinya kita menjelaskan bahwa keadaan penyintas saat ini aman sehingga ia tidak perlu khawatir.
  6. Memberikan harapan yang realistis dilakukan dengan mengkomunikasikan hal yang dapat mengurangi kecemasan berdasarkan bantuan yang telah diterima penyintas saat ini, yang dapat mengurangi bebannya.

Selain untuk kasus paska bencana, PFA dapat diberikan kepada anak yang mengalami kejadian kurang mengenakkan, misalnya, anak kehilangan orang tua yang dikira menunggu pada hari pertama masuk sekolah. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa tenang pada anak, mengurangi kemungkinan berkembang menjadi peristiwa traumatis, dan mencegah dampak masalah menjadi lebih besar.

Dalam PFA terdapat keterampilan yang harus dimiliki, yaitu mendengar aktif. Terdapat tiga hal yang dilarang dalam mendengar aktif yaitu:

  1. Menghakimi, yaitu tidak menarik kesimpulan atau membuat penilaian yang membuat orang merasa mendapatkan penilaian yang kurang baik.
  2. Menasehati, berarti tidak memberikan nasehat yang tidak perlu dalam situasi tersebut, misalnya saat orang hanya ingin ceritanya didengarkan atau perasaannya diterima.
  3. Menginterogasi, berarti menahan diri untuk tidak menanyakan hal yang tidak perlu diketahui dan hanya memuaskan rasa ingin tahu kita. Hal yang harus dilakukan adalah menerima perasaan apapun yang sedang dimiliki penyintas, terlepas dari emosi positif maupun negatif.

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu Kejora apabila si kecil sedang mengalami peristiwa kurang menyenangkan, ya!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy