Pergi ke Dokter Jantung saat Pandemi Covid-19, Kapan Waktu yang Tepat?

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, keluarga Kejora. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan semangat ya walaupun #dirumahaja. Mungkin beberapa Ayah dan Ibu Kejora memiliki kerabat dengan penyakit jantung dan sempat mengalami kebingungan selama pandemi ini, mengingat himbauan untuk membatasi aktivitas luar rumah yang non-esensial, termasuk menunda kunjungan ke dokter, kecuali mengalami beberapa kondisi darurat.

Sebelum kita membahas mengenai kunjungan ke dokter jantung selama pandemi, perlu diketahui mengapa pasien dengan penyakit jantung termasuk dalam golongan yang rentan untuk mengalami gejala yang berat saat mengalami infeksi, termasuk Covid-19 ini. Pada pasien jantung, sudah terdapat abnormalitas struktur dan/atau fungsi (kekuatan) jantung. Pada keadaan stabil tanpa infeksi saja, kemampuan fisik pasien sudah berkurang dan terbatas karena keluhan sesak nafas dan/atau nyeri dada yang dirasakan pasien. Dalam keadaan infeksi virus maupun bakteri yang menyerang saluran napas secara umum, keadaan demam akan menyebabkan metabolisme meningkat, kebutuhan oksigen bertambah, produksi lendir di saluran nafas dapat merangsang refleks batuk lebih banyak. Kumpulan keadaan ini akan membuat pasien jantung yang awalnya stabil menjadi merasakan keluhan yang lebih berat, lebih cepat mengalami perburukan kondisi yang akibatnya penyembuhan akan lebih sulit dan risiko kematian lebih tinggi.

Lalu bagaimana dengan pasien yang sebelumnya rutin berobat ke poliklinik jantung? Apakah semua kunjungan ke dokter harus ditunda termasuk menunda obat – obatan rutin?

Pasien dengan penyakit jantung sebaiknya tetap menjaga kondisi jantung agar selalu stabil dan terkontrol, dengan cara tetap melanjutkan obat – obatan rutin tanpa perubahan. Bila persediaan obat rutin mendekati habis, ikuti waktu kontrol sesuai instruksi dokter. Tetap jaga kekebalan tubuh dengan mencukupi nutrisi dengan gizi yang seimbang, rutin mengkonsumsi buah dan sayur mayur, hindari stress, istirahat yang cukup, olahraga dengan intensitas ringan-sedang dengan durasi 20-30 menit, secara teratur 3-4x/minggu. Tidak perlu melakukan olahraga yang melelahkan. Dapat juga melakukan jalan cepat, berlari, bersepeda santai, bahkan melatih kekuatan otot dengan beban apabila sudah terlatih dan terbiasa. Apabila merasa kurang asupan buah dan sayur, dapat dilengkapi dengan suplemen yang memiliki kandungan komposisi vitamin A, C, D, dan E, serta mineral seperti selenium dan zinc. Pada pasien yang dianjurkan untuk restriksi jumlah cairan, tetap mengikuti saran dokter.

Hingga pada saat artikel ini ditulis, tindakan operasi, kateterisasi jantung, pemasangan ring jantung yang tidak darurat banyak yang ditunda hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan, terutama di daerah zona merah Covid-19. Pembatasan ini bertujuan untuk menekan penyebaran Covid-19 di fasilitas kesehatan.

Namun prosedur dan pengobatan yang bersifat life-saving (menolong jiwa) atau darurat tetap dilakukan. Setiap orang yang dicurigai mengalami serangan jantung harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan secepat mungkin. Kekuatiran akan Covid-19 tidak boleh memperlambat penderita serangan jantung mendapat penanganan, karena semakin lambat pengobatan, semakin tinggi risiko komplikasi dan kematian akibat kerusakan otot jantung.

Kenali keluhan yang masuk dalam kategori gawat dan darurat di bidang jantung untuk menghindari keterlambatan penanganan. Beberapa kondisi kegawatdaruratan jantung dewasa antara lain:

  • Rasa sesak yang:
    • Memberat dengan posisi tidur, dan/atau
    • Tidak bisa tidur posisi rata (harus >2 bantal atau posisi duduk), dan/atau
    • Disertai batuk riak berdahak berwarna pink
  • Nyeri dada yang:
      • Seperti ditindih/ditimpa beban berat, dan/atau
      • Menjalar ke lengan atau punggung dan/atau leher,
      • Disertai mual, muntah, dan keringat dingin
  • Keluhan berdebar yang disertai pandangan gelap, rasa ingin pingsan, atau hingga hilang kesadaran

Untuk heart warrior (pasien anak dengan penyakit jantung bawaan), tetap lanjutkan obat rutin di rumah, kecuali mengalami kondisi gawat darurat jantung anak seperti:

  • Anak terlihat kebiruan semakin lama semakin biru
  • Sesak nafas sehingga terlihat tarikan dinding dada ke dalam
  • Anak berdebar-debar
  • Anak rewel yang sulit untuk ditenangkan
    • Anak dengan penyakit jantung bawaan kadangkala mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, termasuk terlambat bicara. Terutama pada bayi yang tidak dapat menjelaskan keluhan mereka, seringkali keadaan rewel yang sulit ditenangkan merupakan manifestasi dari keluhan sesak nafas atau tidak nyaman yang disebabkan masalah jantung mereka.

 

Apabila gejala – gejala tersebut terjadi pada orang – orang terdekat di sekitar Anda, segera periksakan ke dokter. Jika tidak ada dokter spesialis jantung yang sedang praktik saat itu, Anda dapat memeriksakan diri ke Unit Gawat Darurat terdekat untuk penanganan awal.

Rumah sakit sudah menjalankan berbagai protokol ketat bagi seluruh pengunjung, dimulai dari pemeriksaan suhu di pintu masuk, memberikan jarak antarkursi, mewajibkan penggunaan masker, hingga menyediakan fasilitas untuk mencuci tangan. Jika aturan ini diikuti, sambil terus menjaga jarak ke orang lain, tidak perlu kuatir untuk berobat ke rumah sakit. Beberapa rumah sakit juga saat ini menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan jarak jauh (telemedicine) yang sudah didukung oleh peraturan Konsil Kedokteran Indonesia dalam kondisi pandemi. Layanan ini dapat Anda gunakan pada kondisi yang stabil atau mengalami keraguan untuk berkunjung ke rumah sakit. Perlu diingat bahwa dengan adanya keterbatasan pemeriksaan fisik dan penunjang, layanan telemedicine di bidang kardiovaskular tidak untuk penegakkan diagnosis pasti. Namun dokter dapat memberikan saran apakah gejala yang Anda alami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut serta timing yang baik untuk konsultasi ke dokter apabila diperlukan untuk meminimalisir dari pajanan yang mungkin didapat di rumah sakit.

Saat ini pemerintah sedang mengkaji kesiapan fase kenormalan baru, yang memungkinkan beberapa kelonggaran dari aturan pembatasan sebelumnya. Fase apapun yang akan kita hadapi nantinya, pencegahan adalah hal yang utama. Karena jika sudah terinfeksi, manajemen Covid-19 menjadi lebih rumit pada penderita penyakit jantung. Lindungi kelompok rentan dengan cara selalu menjalani protokol kesehatan dan langkah pencegahan dengan ketat. Semoga keluarga Kejora selalu sehat, ya!

 

Editor  : drg. Valeria Widita W

Sumber:

 

 

Sindrom Brugada

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

Halo Keluarga Sehat Kejora.. Semoga sehat selalu..

Keluarga Kejora, apakah Anda akhir – akhir ini mendengar pernyataan bahwa kematian jantung mendadak dapat diakibatkan oleh Bulu Dada Syndrome?

Sebelum ada yang mencukur habis bulu dadanya karena informasi ini, perlu diklarifikasi bahwa kelainan yang dimaksud adalah Sindrom Brugada, yang hingga saat ini masih menjadi penyebab kematian jantung mendadak yang paling sering pada usia muda.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kelainan tersebut, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan Sindrom Brugada ini.

Sindrom Brugada adalah suatu gangguan irama jantung akibat kelainan genetik yang berpotensi mengancam jiwa. Sejak pertama kali dikenalkan pada tahun 1992 oleh Brugada bersaudara, jumlah kasus Brugada yang dilaporkan telah meningkat secara eksponensial hingga saat ini. Usia rata – rata kematian mendadak adalah 41 tahun, dengan usia saat diagnosis mulai dari 2 hingga 84 tahun. Ras dengan insiden tertinggi di Asia Tenggara di mana sebelumnya digambarkan sebagai Sudden Unexplained Nocturnal Death Syndrome (SUNDS) karena sindrom ini sering menyebabkan kematian mendadak saat seseorang sedang tertidur.

Pada dasarnya, setiap denyut jantung manusia dipicu oleh dorongan arus listrik yang dihasilkan oleh sel khusus seperti generator utama di ruang atas kanan jantung. Aliran listrik dari “generator utama” ini akan diteruskan melalui suatu saluran pori – pori hingga ke otot jantung. Aktivitas listrik yang sampai hingga serabut otot jantung ini menyebabkan otot jantung berkontraksi atau berdenyut. Pada Sindrom Brugada, saluran pori – pori tersebut mengalami gangguan akibat mutasi genetik, yang menyebabkan listrik jantung membentuk aliran sendiri di luar arus jalur yang seharusnya dan menyebabkan jantung berdetak tidak normal. Irama denyut jantung pada Sindrom Brugada dapat menjadi di luar kendali, tidak teratur, dan berbahaya. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa secara efektif dan darah yang beredar ke seluruh tubuh akan berkurang jumlahnya secara signifikan. Hal ini dapat menyebabkan pingsan jika irama abnormal tersebut berlangsung dalam waktu yang singkat (dalam hitungan detik), atau dapat menyebabkan kematian mendadak jika jantung tetap berada dalam irama yang di luar kendali dalam waktu yang lama (lebih dari tiga menit hingga hitungan jam).

Gejala Sindrom Brugada

Sindrom Brugada seringkali tidak memunculkan gejala apapun. Sindrom ini  terkadang terdiagnosis secara tidak sengaja saat pemeriksaan rekam jantung (EKG). Namun pada beberapa penderita, sindrom Brugada dapat menunjukkan gejala yang tidak jauh berbeda dengan gangguan irama jantung lainnya, seperti:

  • Rasa berdebar – debar,
  • Pusing,
  • Hilang kesadaran atau pingsan,
  • Sesak nafas,
  • Nyeri dada,
  • Kejang, hingga
  • Henti jantung

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Sindrom Brugada terjadi akibat perubahan atau mutasi satu atau beberapa gen yang berperan menjaga irama jantung agar tetap normal. Gen yang bermutasi tersebut diturunkan dari salah satu orangtua. Pria memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena sindrom Brugada. Munculnya gejala Sindrom Brugada juga dapat dipicu dan diperburuk oleh beberapa kondisi berikut:

  • Demam
  • Penyalahgunaan kokain
  • Gangguan ketidakseimbangan elektrolit

Diagnosis Sindrom Brugada

Diagnosis Sindrom Brugada dibuat berdasarkan riwayat klinis pasien, pemeriksaan fisik, rekam jantung, dan tes penunjang lainnya.

  • Rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG)

Alat ini akan merekam impuls listrik pada jantung anda, sehingga ketidakteraturan denyut jantung dapat terdeteksi. Terkadang gangguan irama jantung dapat tidak terdeteksi pada saat pemeriksaan, sehingga dokter Anda mungkin akan memberikan beberapa jenis obat selama pemeriksaan jantung dengan tujuan pola irama Sindrom Brugada akan muncul dan terlihat pada hasil rekam jantung.

  • Pemeriksaan elektrofisiologi jantung

Dokter mungkin pula menganjurkan pemeriksaan elektrofisiologi jantung (EP test) bila Anda pernah mengalami henti jantung mendadak. Tes ini juga memungkinkan dokter untuk mengetahui kecenderungan Anda dalam mengalami komplikasi Sindrom Brugada.

  • Tes genetik

Pemeriksaan genetik bisa dianjurkan bagi anggota keluarga dengan Sindrom Brugada, guna mengetahui apakah mereka menderita Sindrom Brugada atau tidak.

Kapan harus ke dokter?

Bila memiliki anggota keluarga yang menderita Sindrom Brugada atau riwayat anggota keluarga meninggal mendadak, sebaiknya Anda memeriksakan diri ke dokter jantung, agar penyakit ini dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin.

Bila Anda memiliki gejala gangguan irama jantung seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

Pengobatan Sindrom Brugada

Pengobatan Sindrom Brugada tergantung pada risiko irama jantung abnormal (aritmia) yang akan distratifikasi oleh dokter jantung. Salah satu terapi utama Sindrom Brugada yaitu pemasangan alat implantable cardioverter-defibrillator (ICD), atau implant alat kejut jantung otomatis yang akan terus memantau irama jantung anda dan memberikan kejutan listrik bila diperlukan untuk mengendalikan detak jantung yang tidak normal. Sebagai penanganan tambahan, dokter juga bisa memberikan obat – obatan yang bertujuan mengendalikan irama jantung penderita.

Pada keadaan gawat darurat seperti henti jantung mendadak, resusitasi jantung paru (RJP) harus segera diberikan dan segera bawa penderita ke IGD di rumah sakit terdekat.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan memberikan pencerahan mengenai Sindrom Brugada ini ya, Keluarga Kejora.

Editor: drg. Valeria Widita W

Referensi:

  1. Antzelevitch C, Brugada P, Brugada J, Brugada R, Towbin JA, Nademanee K. Brugada syndrome: 1992–2002: A historical perspective. J. Am. Coll. Cardiol. 2003;41;1665-1671.
  2. Brugada Foundation. Brugada Syndrome. Diunduh dari: https://www.brugada.org/en/muerte-subita-y-sindrome-brugada/brugada-syndrome.html
  3. Genetic and Rare Diseases Information Center. Brugada Syndrome. Diunduh dari: https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/1030/brugada-syndrome
  4. Mayo Clinic. Brugada Syndrome. Diunduh dari: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/brugada-syndrome/symptoms-causes/syc-20370489