Ibu, Mengapa Gigi Aku Berwarna Kuning?

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Keluarga Kejora,

Apakah anda pernah mendapatkan pertanyaan si buah hati mengapa warna gigi tidak putih melainkan kuning? Atau saat gigi dewasa yang erupsi (tumbuh) warna gigi menjadi lebih kuning dibandingkan gigi anak sebelumnya? Atau mungkin Ayah dan Ibu pernah menyadari warna gigi anda terlihat lebih gelap dari beberapa tahun lalu?

Apa penyebab gigi berwarna kuning?

Sebelumnya, memang terdapat perbedaan paling mendasar dalam segi anatomi maupun warna baik dari gigi anak maupun gigi tetap. Pada gigi anak, lapisan permukaan email cenderung lebih tipis dan berwarna lebih putih. Hal ini yang menyebabkan gigi anak sering dinamakan gigi susu, karena warna gigi anak putih seperti susu. Sementara gigi tetap atau gigi dewasa memiliki warna lebih kekuningan dibandingkan gigi anak, karena lapisan permukaan yang lebih tebal dan warna dentin yang lebih kuning. Oleh karena itu, gigi permanen terlihat lebih kekuningan dibanding gigi susu.

Namun, selain dari perbedaan mendasar pada warna antara gigi susu dan gigi tetap, ada hal lain yang juga berpotensi membuat gigi mengalami perubahan warna. Beberapa hal dibawah ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi:

  1. Makanan dan minuman

Beberapa jenis makanan dan minuman dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi. Seperti teh, kopi, minuman bersoda dapat menyebabkan stain pada gigi.

  1. Tembakau dan kebiasaan merokok, bahan ini juga mengakibatkan terjadinya stain pada gigi dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi
  2. Kesehatan mulut yang buruk

Tidak memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, seringkali membuat kesehatan gigi dan mulut menjadi buruk. Rajin melakukan sikat gigi 2 kali sehari, membersihkan sisa makanan disela gigi dengan dengan dental floss, berkumur dengan cairan antiseptik untuk menghilangkan plak dan mengurangi produksi stain yang menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi.

  1. Menderita penyakit

Beberapa penyakit dapat mengakibatkan perubahan warna gigi terutama berkaitan dengan perawatan yang dilakukan. Sebagai contoh ; radiasi kepala dan leher, kemoterapi yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan warna gigi.

  1. Pengobatan

Beberapa obat seperti antibiotik tetracycline, doxycycline dapat menyebabkan perubahan warna gigi, terutama bila diberikan pada usia anak-anak masa pertumbuhan. Chlorhexidine, Cetylpyridinium chloride juga dapat menyebabkan stain pada gigi. Beberapa obat golongan antihistamin dan obat hipertensi juga dapat menyebabkan perubahan warna gigi.

  1. Bahan Material Gigi

Beberapa bahan material yang digunakan dalam kedokteran gigi terutama dalam penambalan seperti restorasi amalgam, seringkali dalam waktu lama dapat menyebabkan warna hitam keabu-abuan pada gigi.

  1. Penambahan Usia

Semakin bertambahnya usia, lapisan email bagian luar menjadi semakin tipis atau usang, sehingga warna kuning yang berasal dari lapisan dentin tampak lebih terlihat.

  1. Genetik

Pada beberapa orang sering terdapat email gigi dengan warna lebih gelap, terang maupun lapisan permukaan yang lebih keras.

  1. Lingkungan

Konsumsi kandungan fluoride yang cukup tinggi dari lingkungan, seperti kadar fluoride dalam air atau kadar penggunaan yang tinggi seperti aplikasi fluoride di pasta gigi, suplemen fluoride dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna.

  1. Trauma

Mengalami trauma seperti terjatuh yang mengenai bagian gigi sehingga menyebabkan kerusakan cukup berat terutama pada usia anak-anak. Gigi yang mengalami trauma cukup berat seringkali menimbulkan perubahan warna pada gigi.

Bagaimana caranya agar kita bisa mencegah terjadinya perubahan warna pada gigi?

    • Menjaga kebersihan gigi dan mulut yang baik dan benar merupakan salah satu cara mencegah perubahan warna pada gigi, seperti sikat gigi 2x sehari, melakukan dental flossing untuk mengambil sisa makanan yang tersisa di sela gigi serta rajin melakukan kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
    • Melakukan perubahan gaya hidup seperti mengurangi konsumsi kopi, teh dan minuman bersoda juga menghentikan kebiasaan merokok agar gigi tidak mudah berubah warna.
    • Apabila penampakan gigi anda terlihat tidak normal karena perubahan warna yang terlalu besar mungkin anda bisa mengunjungi dokter gigi untuk melakukan konsultasi mengenai permasalahan gigi anda.

      Berikut beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk gigi yang mengalami perubahan warna:

      A. Veneer gigi

      B. Whitening office

      C. Home bleaching

      D. Bonding

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/tooth-discoloration
http://dentalresource.org/topic53stainedteeth.html

Bagaimana Membatasi Camilan Manis pada Anak?

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu kejora..!

Kali ini saya akan membahas tentang konsumsi camilan manis pada si Kecil ya. Camilan manis tersebut seperti, permen, kue, biskuit, dan makanan atau minuman manis yang dikonsumsi oleh anak diantara waktu makan utama ternyata dapat menyebabkan terjadinya lubang pada gigi lho.

Bagaimana gula dapat menyerang gigi?

Kuman yang sering kita sebut bakteri, tidak terlihat oleh kasat mata ini hidup dalam rongga mulut kita. Sebagian besar bakteri ini dapat membentuk lapisan lengket yang disebut ‘plak’ pada permukaan gigi. Sukrosa (salah satu jenis gula) merupakan ‘makanan’ bagi bakteri. Saat si Kecil mengonsumsi camilan manis, bakteri dalam plak akan mengubah gula menjadi zat asam yang akhirnya akan melemahkan struktur gigi. Zat asam ini cukup kuat untuk menghancurkan lapisan email pada gigi. Proses inilah yang mengawali terjadinya lubang pada gigi. Bila si Kecil tidak mengonsumsi camilan manis dalam jumlah yang banyak, maka bakteri tidak akan memproduksi banyak zat asam sehingga proses lubang gigi dapat dicegah.

Bagaimana agar camilan manis yang dikonsumsi si Kecil tidak menyebabkan lubang pada gigi?

Ketahuilah batasannya

  • U.S. Food Drug Administration (FDA) merekomendasikan bahwa anak usia 3 tahun keatas tidak boleh mengonsumsi lebih dari 12.5 sendok teh gula tambahan (sama dengan 1 kaleng soda). World Health Organization (WHO) merekomendasikan bahwa orang dewasa tidak boleh mengonsumsi lebih dari 6 sendok teh gula tambahan, sedangkan anak-anak tidak lebih dari 3 sendok teh gula tambahan. Saat memilih camilan, perhatikan label komposisi gula pada camilan tersebut. Biasanya kandungan gula tertulis dalam satuan gram. Karena 1 sendok teh gula setara dengan 4 gram,pastikan agar camilan manis yang dikonsumsi si Kecil berkisar antara 12-50 gram/hari.
  • Memperbanyak konsumsi camilan yang mengandung gula alami seperti susu dan buah.

Hindari konsumsi minuman bersoda

Minuman bersoda sangat buruk bagi kesehatan gigi. Kandungan gula yang terdapat pada sekaleng soda dikatakan setara dengan jumlah gula yang direkomendasikan untuk anak selama 3 hari. Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara minuman soda yang dikonsumsi dengan kesehatan gigi yang buruk pada remaja.

Berhati – hatilah dengan kudapan manis yang lengket pada gigi

Apabila anda beranggapan bahwa kudapan buah yang dikeringkan (contoh/; kismis) merupakan kudapan sehat untuk anak, maka anda harus berhati-hati. Banyak orangtua kaget bahwa kudapan jenis ini lebih mirip dengan permen dibanding dengan buah. Bahkan, kudapan ini lebih buruk dibandingkan dengan permen karena konsistensinya yang lengket dapat melekat lebih lama pada permukaan gigi bila dibandingkan susu cokelat yang lebih mudah larut.

Jadilah contoh bagi si Kecil

Ayah dan ibu pasti akan melakukan apapun untuk sang buah hati, kan? Kalau begitu, apakah ayah dan ibu sanggup untuk melakukan hal-hal diatas pada diri sendiri? Memberi teladan bagi anak dapat membuat perbedaan besar dalam kesehatan seluruh keluarga. Apabila anda ingin mengubah kebiasaan si Kecil, maka lakukanlah hal yang sama dengan mereka dan jadilah teladan yang baik.

Sumber :

Editor : drg. Saka Winias,. M.Kes., Sp.PM

Kebiasaan yang Baik untuk Kesehatan Gigi Bayi dan Balita

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Hai Ayah dan Ibu Kejora..

Apakah Ayah dan Ibu tahu, bahwa gigi pada anak sudah memiliki risiko untuk menjadi berlubang sejak pertama kali tumbuh?

Proses lubang/pembusukkan gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda seringkali disebut dengan “baby bottle tooth decay”atau “early childhood caries”. Namun, Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir. Berita baiknya, lubang pada gigi anak dapat dicegah, terutama dengan cara menjaga kebiasaan yang baik sedini mungkin.

Yuk, kita simak tanya jawab dengan drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA yang akan menjelaskan lebih lanjut tentang kesehatan gigi  pada bayi dan balita.

Dok, seperti apa sih proses tumbuh gigi (teething) itu?

Tumbuh gigi merupakan salah satu ritual awal dalam fase kehidupan. Biasanya, gigi sulung pada anak akan lengkap berjumlah 20 gigi pada saat anak sudah berusia 3 tahun. Seiring dengan bertumbuhnya anak, rahang mereka juga akan berkembang dan memberi ruang bagi tumbuhnya gigi permanen. Gigi depan anak (4 gigi pertama) biasanya mulai tumbuh saat usia 6 bulan, walaupun ada pula anak-anak yang belum memiliki gigi sampai usia 12 atau 14 bulan. Saat gigi mulai tumbuh, beberapa bayi akan rewel dan mudah marah, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau mengiler lebih banyak daripada biasanya. Diare, ruam, dan demam bukanlah gejala normal dari bayi yang akan tumbuh gigi. Maka, apabila bayi mengalami gejala tersebut, segeralah hubungi dokter. Ayah dan Ibu, urutan pertumbuhan gigi sulung pada anak dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Dok, apakah ada langkah mudah untuk menjaga kesehatan gigi?

Ada lima langkah yang dapat dilakukan yaitu menyikat gigi dengan pasta gigi mengandung fluoride, membatasi penggunaan alat makan bersama dan empeng, makan makanan sehat (sayur dan buah), berkunjung rutin ke dokter gigi dan mintalah dokter gigi untuk melakukan pelapisan ceruk gigi pada anak.

Dok, bagaimana sih cara menjaga kesehatan mulut bayi?

Mulailah membersihkan rongga mulut bayi sejak beberapa hari setelah proses kelahiran. Caranya adalah dengan mengusap gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.

Lalu dok, bagaimana cara membersihkan gigi pada anak?

  • Untuk anak dengan usia kurang dari 3 tahun, orangtua/pengasuh harus mulai menyikat gigi anak segera setelah gigi pertama tumbuh secara perlahan. Caranya adalah dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.

  • Sikatlah gigi dengan menggunakan sikat gigi anak dan pasta gigi yang mengandung fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun. Apabila anak sudah memiliki 2 gigi yang saling berkontak satu sama lain, mulailah untuk menggunakan dental floss. Cara ini dilakukan hingga Ayah dan Ibu yakin bahwa anak dapat menyikat gigi sendiri, yaitu saat gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik saat anak sudah berusia 8-9 tahun. Setelah itu, dianjutkan dengan mengawasi kegiatan sikat gigi anak.

  • Kegiatan menyikat gigi dilakukan 2 kali sehari (pagi dan malam hari) atau sesuai dengan saran dokter gigi. Selalu awasi anak saat menyikat gigi dan ingatkan agar tidak menelan pasta gigi secara berlebihan.

Kapan dilakukan kunjungan pertama ke dokter gigi?

Mulailah jadwalkan kunjungan ke dokter gigi segera setelah gigi sulung anak pertama kali muncul. ADA (American Dental Association) merekomendasikan kunjungan pertama ke dokter gigi 6 bulan setelah gigi pertama anak mulai tumbuh dan paling lambat dilakukan saat anak berusia 1 tahun. Untuk membuat kunjungan terasa menyenangkan, lakukan hal berikut:

  • Pertimbangkan untuk membuat kunjungan di pagi hari saat anak cenderung tenang dan kooperatif.
  • Simpan kekhawatiran/kecemasan yang Ayah dan Ibu miliki dan jangan tunjukkan kepada anak. Anak dapat merasakan emosi Ayah dan Ibu, sehingga harus ditunjukkan emosi yang positif.
  • Hindari menggunakan kunjungan sebagai hukuman atau ancaman.
  • Hindari menyuap/menyogok anak.
  • Komunikasikan pada anak mengenai kunjungan ke dokter gigi.

 

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.mouthhealthy.org/en/babies-and-kids/healthy-habits

Penyebab Bau Mulut pada Anak

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Pernahkah anda menemukan kondisi buah hati saat berbicara kepada anda atau orang lain tercium aroma tidak sedap dari dalam mulutnya? Atau ia sendiri mengeluhkan bau yang tidak nyaman keluar dari rongga mulut? Bisa saja si kecil anda mengalami masalah bau mulut atau dalam dunia medis dikenal dengan nama halitosis.

Berbicara mengenai halitosis, kita akan menemukan berbagai pencetus bau mulut yang bisa terjadi baik pada usia dewasa maupun anak-anak. Faktor kesehatan gigi dan mulut yang buruk, atau mengonsumsi jenis makanan yang sarat akan aroma tertentu, seringkali menjadi patokan penyebab bau mulut. Nyatanya, bukan hanya faktor kesehatan gigi dan mulut serta aroma dari makanan saja, ada berbagai faktor pencetus lainnya yang seringkali luput dari perhatian kita.

Pada dasarnya, setiap makanan yang masuk di tubuh akan diurai pertama kali melalui organ gigi dan mulut. Jika anda atau si kecil tidak memperhatikan mengenai kebersihan gigi, seperti rajin menyikat gigi dan menggunakan ​dental floss, sisa makanan tersebut akan menempel pada permukaan gigi dengan waktu yang lebih lama dan hal ini menjadi pemicu hadirnya bau mulut.

Berikut beberapa penyebab bau mulut pada anak :

  1. Bakteri pada mulut

Bau mulut bisa terjadi kapan saja, salah satu penyebabnya adalah bakteri yang ada pada mulut. Sisa makanan menjadi sarang bakteri tumbuh di dalam mulut.

  1. Mulut kering (Dry Mouth)

Rongga mulut anda bisa saja tidak memproduksi cukup banyak saliva (air liur) dan menyebabkan mulut menjadi kering. Saliva merupakan elemen penting yang berfungsi untuk membersihkan sisa makanan secara alami di dalam mulut anda. Bila kadar saliva berkurang, mulut kita akan terasa kering bahkan terasa kurang bersih. Salah satu penyebab mulut kering yakni dalam pengobatan tertentu, masalah pada ​glandula saliva, dan bernafas melalui mulut.

  1. Bernafas melalui mulut

Saat seorang anak berbicara melalui mulut (karena hidung tersumbat atau kebiasaan tidur yang salah), hal ini memicu terjadinya ​xerostomia atau yang biasa dikenal mulut kering yaitu gejala yang terjadi saat produksi saliva berkurang atau berhenti memproduksi saliva. Hal ini menyebabkan saliva tidak bisa berfungsi membersihkan sisa makanan dan menyebabkan bau mulut.

  1. Kesehatan rongga mulut yang buruk

Bila anak anda tidak rajin menyikat gigi secara teratur, bisa mengakibatkan bau mulut. Karena dengan tidak teratur, sangat berpotensi membuat lubang pada gigi dan plak yang tidak dibersihkan bisa mengiritasi gusi. Selain itu, bagian lidah yang tidak dibersihkan juga menjadi tempat melekatnya sisa makanan yang berpotensi menghasilkan bau mulut. Jadi pastikan, anak anda menyikat gigi secara teratur dan membersihkan bagian lidah.

  1. Infeksi di rongga mulut

Bau nafas yang sulit hilang hingga periode cukup lama bisa saja disebabkan adanya lubang pada gigi, infeksi gigi, plak, serta lesi sariawan di dalam mulut.

  1. Objek asing

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, salah satunya melalui permainan. Mereka sangat suka bermain apa saja tidak terkecuali bermain dengan barang yang ukurannya kecil (mainan kecil, bahan makanan atau barang lain). Bila barang ini tersangkut di area hidung dan tidak segera diambil dapat berpotensi menjadi penyebab bau mulut.

  1. Makanan

Beberapa jenis makanan tertentu memiliki aroma yang kuat seperti; bawang putih, bawang bombay dan beberapa jenis bahan makanan lainnya yang berpotensi mengurangi kesegaran nafas buah hati tercinta

  1. Kondisi sakit atau dalam pengobatan medis

Apabila si kecil memiliki riwayat penyakit tonsilitis, penyakit sinus, alergi atau sedang dalam pengobatan penyakit tertentu, hal ini bisa membuat nafasnya menjadi tidak segar.

Terkadang kondisi bau mulut sering tidak disadari oleh setiap individu. Biasanya lawan bicara yang akan lebih merasakan efek dari nafas yang kurang baik. Sebagai orangtua, tentu anda tidak menginginkan hal ini terjadi pada anak anda bukan?

Karena selain anda merasa tidak nyaman, bisa saja hal ini mengurangi kadar percaya diri buah hati anda. Berikut tips menghilangkan bau mulut:

  1. Sikat gigi dan membersihkan sela gigi dengan ​dental floss

Lakukan sikat gigi secara teratur 2 kali sehari yakni pada pagi hari dan malam hari menurut aturan dari ​ADA (American Dental Association). Guna sikat gigi secara teratur yakni menghilangkan sisa makanan serta plak yang menempel pada permukaan gigi. Beri penjelasan kepada buah hati anda untuk tidak menelan pasta gigi yang digunakan.

  1. Sikat bagian lidah

Beri pemahaman bagi si kecil, bahwa sikat bagian lidah bersamaan saat menyikat gigi. Sisa makanan bisa saja melekat pada permukaan lidah dan berpotensi menimbulkan bakteri pada mulutnya.

  1. Ganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali

Periksa kondisi bulu sikat secara teratur dan buat jadwal untuk mengganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali. Karena dengan bulu sikat yang kondisinya baik, diharapkan dapat mengambil sisa-sisa makanan dengan efektif.

  1. Jaga agar cairan saliva cukup

Mengkonsumsi makanan sehat yang kaya akan serat dan air membantu menjaga kadar saliva tetap cukup didalam mulut. Selain itu, kebiasaan semakin sering mengunyah juga membantu meningkatkan kadar saliva.

  1. Minum air putih

Penuhi kebutuhan konsumsi air putih agar menjaga kondisi mulut tidak kering.

  1. Kontrol rutin ke dokter gigi

Cek secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, untuk mengetahui apakah ada gigi berlubang, plak dan karang gigi bahkan infeksi gigi yang dapat menimbulkan bau mulut.

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/bad-breath https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/bad-breath

Baby Bottle Tooth Decay

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Ada anggapan bahwa, “Gigi sulung kan hanya sementara, dok… Nanti juga kalau rusak akan diganti dengan gigi permanen.”

Gigi sulung memang hanya sementara, namun tetap sangat penting untuk dijaga. Coba Ayah dan Ibu pikirkan lagi ya..

Anak-anak membutuhkan gigi yang sehat dan kuat untuk mengunyah makanan, berbicara, serta tersenyum. Gigi sulung juga berguna sebagai pemandu agar gigi permanen dapat tumbuh dengan benar. Oleh karena itu, sangat penting untuk mulai memperkenalkan cara menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Kebiasaan ini diharapkan akan berlanjut hingga anak beranjak dewasa.

Lubang pada gigi sulung sangat rentan untuk terjadi. Bila lubang pada gigi sulung tidak dirawat, maka bisa timbul rasa sakit dan infeksi. Bahkan, apabila lubang pada gigi sudah sangat parah, maka gigi sulung harus dicabut. Hal ini akan menyebabkan beberapa masalah seperti asupan nutrisi anak yang dapat terganggu akibat anak kesulitan untuk makan, masalah dalam berbicara, serta dapat mengganggu perkembangan gigi permanen. Selain itu, kemungkinan gigi permanen tumbuh berantakan atau berjejal, akan semakin besar.

Apakah itu “baby bottle tooth decay”?

Proses pembusukan atau lubang gigi pada bayi dan anak di usia yang sangat muda disebut dengan “Baby bottle tooth decay” atau “Early childhood caries”. Kondisi ini terjadi saat cairan yang manis atau bergula alami, seperti susu (ASI, susu formula, susu UHT) atau jus buah, menempel pada gigi bayi dan anak dalam waktu yang lama.

Bakteri dalam rongga mulut akan tumbuh dengan subur pada lingkungan yang kaya akan gula tersebut, kemudian akan menghasilkan produk asam yang akan menyerang dan melemahkan struktur gigi.

Apa penyebabnya?

Salah satu penyebab tersering adalah frekuensi cairan manis yang terlalu lama berkontak dengan gigi. Hal ini dapat terjadi saat bayi tertidur dengan menggunakan botol yang diisi dengan cairan manis, atau empeng yang telah dicelup pada cairan gula atau sirup.  Memberikan cairan manis baik saat tidur siang maupun malam hari sangat berbahaya. Hal tersebut dikarenakan jumalh aliran saliva atau air liur berkurang pada saat tidur. Kurangnya aliran saliva menyebabkan pembersihan sisa cairan manis tidak berjalan dengan baik.

Lubang pada gigi juga dapat disebabkan oleh bakteri yang ditularkan oleh ibu atau pengasuh kepada anak melalui saliva. Saat ibu atau pengasuh memasukkan sendok makan atau empeng bersih anak ke dalam mulutnya, kemudian memberikannya kepada anak, maka bakteri ini dapat berpindah ke rongga mulut anak.

Bagaimana cara pencegahannya?

Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir ya… Berita baiknya, lubang pada gigi dapat dicegah dengan menerapkan kebersihan gigi dan mulut sedini mungkin, dengan cara:

  • Bersihkan gusi bayi dengan kasa atau kain lap bersih yang telah dibasahi dengan air hangat setiap selesai menyusui.
  • Saat gigi pertama anak mulai tumbuh, mulailah untuk menyikat gigi anak secara perlahan dengan menggunakan sikat gigi ukuran anak, serta selapis tipis (seukuran biji beras) pasta gigi yang mengandung fluoride, hingga usia anak 3 tahun. Tetap bersihkan dan lakukan pemijatan ringan pada area gusi yang belum ditumbuhi gigi.
  • Sikat gigi anak dengan pasta gigi ber-fluoride sebesar biji kacang polong pada anak usia 3-6 tahun.
  • Awasi kegiatan sikat gigi anak hingga gerakan motorik halusnya sudah berkembang dengan baik (umumnya hingga anak berusia 8-9 tahun).
  • Mulailah untuk menggunakan dental floss saat seluruh gigi telah tumbuh.
  • Pastikan anak mendapat cukup fluoride, yang dapat membantu mencegah terbentukknya lubang pada gigi. Bila sumber air lokal tidak mengandung fluoride, konsultasikan lebih lanjut pada dokter gigi mengenai bagaimana cara mendapat asupan fluoride (bisa dengan suplemen atau aplikasi fluoride topikal).
  • Buatlah jadwal kunjungan rutin ke dokter gigi yang dimulai saat anak menginjak usia 1 tahun. Yang perlu Ayah dan Ibu ingat, memulai kebiasaan baik sedini mungkin adalah kunci untuk menjaga kesehatan gigi jangka panjang.

Ada pun beberapa cara lain, yaitu:

  • Hindari mengisi botol susu dengan cairan manis dan minuman soda. Botol susu hanya digunakan untuk susu (asi perah maupun susu formula) dan air putih. Minuman soda tidak dianjurkan untuk anak, karena tidak mengandung nutrisi dan memiliki kandungan gula yang tinggi. Apabila anak sudah terlanjur memiliki kebiasaan mengkonsumsi cairan manis dan minuman soda, maka mulailah secara perlahan untuk mengurangi kandungan gula pada cairan manis secara bertahap selama 2-3 minggu. Lakukan hingga akhirnya botol hanya diisi dengan air putih saja.
  • Hindari membiarkan anak tertidur dengan botol susu yang berisi cairan selain air putih.
  • Hindari memberikan empeng yang dicelupkan dalam cairan apapun yang mengandung gula.
  • Kurangi asupan gula pada makanan anak, terutama snack di antara waktu makan utama.
  • Latih anak untuk mulai menggunakan cangkir saat anak sudah berusia 1 tahun.

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

Sumber:

https://www.webmd.com/oral-health/guide/what-is-baby-bottle-tooth-decay#2
https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/b/baby-bottle-tooth-decay

Sumber gambar:

https://askthedentist.com/baby-bottle-tooth-decay/

Makanan untuk Gigi yang Kuat

 

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Memiliki gigi susu yang sehat dan kuat merupakan keinginan setiap orang tua terhadap anaknya. Berbagai cara bisa dilakukan untuk mempertahankan kesehatan gigi anak seperti; pengecekan secara rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, penutupan lubang pada gigi, menjaga kebersihan mulut dengan berkumur sehabis makan, dan rajin menyikat gigi dua kali sehari yaitu pada pagi hari dan malam hari sebelum tidur.

Asupan bahan makanan yang baik juga tidak kalah pentingnya dalam menunjang kesehatan gigi. Ada banyak sumber makanan sehat yang bisa dikonsumsi, salah satunya yang mengandung sumber makanan kalsium.

Kalsium merupakan salah satu nutrisi penting untuk kesehatan gigi dan tulang. Pada gigi, kalsium dapat memperkuat lapisan luar permukaan gigi yakni email. Permukaan email gigi rentan terhadap adanya lubang (​karies)​ juga erosi. Karena email merupakan lapisan terluar dan menjadi pertahanan paling penting dalam kekuatan gigi. Dalam upaya menjaga gigi agar tetap kuat, dibutuhkan 1000-2000 mg jumlah kalsium per hari untuk dikonsumsi.

Tentu anda sering mendengar, sumber makanan yang memiliki kalsium cukup banyak berasal dari produk susu. Susu dan berbagai jenis makanan olahannya memang memiliki nilai kalsium yang cukup tinggi. Namun ternyata kalsium tidak hanya terdapat pada susu, banyak sumber makanan lain yang memiliki jumlah kandungan kalsium cukup tinggi. Beberapa jenis sumber makanan tersebut dapat menjadi alternatif pilihan bagi buah hati anda terutama yang memiliki intoleransi laktosa atau alergi terhadap susu dan produk olahannya, namun tetap ingin mendapatkan nutrisi kalsium untuk tumbuh kembangnya.

Berikut merupakan jenis sumber bahan makanan yang memiliki nilai kandungan kalsium tinggi, seperti:

  1. Susu
  2. Keju
  3. Yoghurt
  4. Tahu. Bisa menjadi pilihan untuk kekuatan gigi.
  5. Ikan. Beberapa jenis seperti ikan sarden dan ikan salmon memiliki kandungan kalsiumtinggi
  6. Kacang-kacangan. Jenis kacang-kacangan banyak mengandung protein, serat vitamin,serta mineral. Kacang Almond, kacang kedelai merupakan jenis kacang yang tingginutrisi kalsium
  7. Sayuran hijau seperti kale, bayam
  8. Gandum. Cereal seperti corn flakes, roti
  9. Susu kedelai

Beberapa jenis makanan di atas baik untuk dikonsumsi, terutama bagi buah hati anda karena sedang mengalami masa tumbuh kembang. Namun apakah mereka masih bisa mengonsumsi jenis makanan kudapan yang manis atau ​snack ​yang terkadang memiliki kadar gula tinggi dan sangat berpotensi menjadi karies pada gigi? Tentu saja sebagai variasi konsumsi menu makan si kecil; snack, kudapan manis, boleh diberikan namun tetap harus memperhatikan batasan pemberian makanan tersebut.

Hal lain yang perlu diingat adalah selalu mengonsumsi air putih setiap hari, khususnya setelah mengonsumsi makanan manis. Tujuannya adalah agar tubuh anak terhindar dari dehidrasi dan menghindari sisa makanan tidak terlalu lama melekat pada permukaan gigi yang berpotensi membuat lubang pada gigi anak anda.

Sumber :

https://www.mouthhealthy.org/en/nutrition/food-tips/8-non-dairy-calcium-rich-foods-for-your-teeth

Waktu yang Tepat untuk Mengganti Sikat Gigi

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Ayah dan Ibu Kejora,

Pernahkah terlintas dalam benak anda saat hendak menyikat gigi si kecil namun lupa kapan terakhir kali Anda mengganti sikat giginya? Lalu apakah sikat gigi tersebut masih layak digunakan atau sudah saatnya diganti? Yuk mari kita bahas, kapankah saat yang tepat mengganti sikat gigi Anda maupun si kecil.

Berdasarkan rekomendasi ADA American Dental Association sebaiknya setiap 3-4 bulan sekali, setiap orang mengganti sikat gigi yang digunakan. Kondisi ini dipengaruhi oleh frekuensi pemakaian sikat gigi dan tingkatan tekanan saat menyikat gigi. Karena, semakin besar frekuensi pemakaian sikat gigi dan besarnya tekanan saat menyikat gigi, mempengaruhi kondisi bulu sikat menjadi mudah patah. Apabila kondisi bulu sikat sudah tidak baik lagi, sebaiknya Anda segera mengganti sikat gigi. Hal ini dikarenakan sikat gigi memiliki peranan penting dalam kesehatan gigi yaitu membantu menghilangkan sisa makanan yang menempel di permukaan maupun di antara gigi serta sangat efektif untuk membantu menghilangkan plak.

Hal lain juga yang harus diperhatikan terutama sikat gigi pada anak yakni masih sesuaikah ukuran dari sikat gigi yang digunakan dengan usia anak anda. Selain itu bulu sikat harus dalam keadaan yang baik dan tidak mudah patah. Karena seringkali anak-anak mempunyai kebiasaan menggigit sikat gigi atau menyikat gigi terlampau keras sehingga menyebabkan waktu untuk mengganti sikat gigi relatif lebih pendek yaitu kurang dari 3-4 bulan.

Berikut hal yang harus anda perhatikan dalam merawat sikat gigi :

  1. Slogan sharing is caring mungkin baik dalam konteks berbagi kebaikan tetapi tidak dalam berbagi sikat gigi Anda dengan orang lain. Karena dengan berbagi sikat gigi atau bertukar sikat gigi dengan orang lain (bahkan anak Anda sekalipun), dapat menyebabkan perpindahan cairan tubuh atau mikroorganisme yang ada di mulut satu sama lain dan meningkatkan kemungkinan terjadinya risiko infeksi.
  2. Menurut ADA selalu membersihkan sikat gigi yang telah digunakan dengan air mengalir. Hal ini bertujuan untuk membersihkan sisa pasta gigi, sisa makanan maupun saliva (air liur) yang menempel di permukaan sikat.
  3. Meletakkan sikat gigi pada tempat terbuka yang bersih dan hindari meletakkan pada tempat tertutup. Hal ini dikarenakan, bagian tertutup tersebut berpotensi menumbuhkan bakteri pada bulu sikat.
  4. Meletakkan sikat gigi yang telah digunakan dengan posisi vertikal dengan bulu sikat pada bagian atas untuk memudahkan pengeringan bulu sikat.
  5. Menjaga selalu kebersihan sikat gigi Anda

Jadi, seberapa sering kita mengganti sikat gigi kembali kepada kebiasaan yang kita lakukan dan selalu melihat kondisi sikat gigi, agar kualitas kebersihan dan kesehatan gigi tetap terjaga.

Sumber:

https://www.ada.org/en/about-the-ada/ada-positions-policies-and-statements/statement-on-toothbrush-care-cleaning-storage-and-

Sumber gambar: https://dentaldelrioalgodones.com/4-reasons-change-toothbrush/

Kenali Lebih Lanjut Polip Pulpa pada Gigi Anak

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Halo ayah dan ibu,

Pernahkah si kecil mengalami sakit gigi khususnya saat mengunyah? Atau anda menyadari ada “daging tumbuh” di bagian tengah permukaan gigi yang berlubang serta mudah berdarah yang menyebabkan rasa kurang nyaman? Mungkin saja si kecil sedang mengalami polip pulpa yang ada di dalam giginya.

Apa itu pulpa polip?

Dalam artikel sebelumnya, dijelaskan bahwa ada 3 lapisan gigi. Lapisan terdalam disebut pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah. Jika lubang sudah mencapai lapisan pulpa maka tubuh akan memberikan reaksi pertahanan berupa polip, yaitu sebuah daging yang muncul di tengah dalam lubang gigi tersebut. Hal yang sering ditemukan apabila seorang anak mengalami pulpa polip pada giginya adalah rasa tidak nyaman karena polip yang tertekan atau tergesek makanan. Gesekan juga dapat menyebabkan polip tersebut mudah berdarah. Pulpa polip banyak terjadi pada gigi geraham susu.

Sumber

Biasanya si kecil menjadi tidak mau makan karena rasa tidak nyaman tersebut. Lalu apa yang sebaiknya dilkukan apabila si kecil mengalami polip pulpa?

Ada dua perawatan yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Perawatan saluran akar, yaitu pembersihan gigi sampai ke lapisan pulpa yang ada di akar gigi kemudian ditambal. Pembersihan ini termasuk menghilangkan polip tersebut dari gigi.
  • Pencabutan gigi, tindakan ini dilakukan bila kerusakan pada gigi susu cukup parah sehingga tidak dapat lagi dilakukan perawatan saluran akar dan penambalan. Dokter akan mendiagnosa gigi tersebut terlebih dulu untuk menentukan rencana perawatan yang tepat.

Jadi, Ayah Ibu Kejora tetap jaga kesehatan gigi anak anda dengan cara rutin menggosok gigi dua kali sehari yaitu pagi hari dan malam sebelum tidur serta kontrol ke dokter gigi secara teratur untuk menghindari adanya gigi berlubang dan kerusakan gigi lainnya.

Salam sehat kejora.

Sumber: https://www.dentalorg.com/pulp-polyp.html

Mitos Pencabutan Gigi

 

 

 

oleh drg. Eva Yuli Andari, MA

Dokter Gigi Umum, Master of Arts in Health Management, Planning, and Policy

Menurut pusat data dan informasi kementrian kesehatan RI, pada tahun 2013 terdapat 26% masyarakat Indonesia yang mengalami masalah gigi dan mulut, namun hanya 31% dari mereka yang bermasalah yang mendapat perawatan. Banyak dari masyarakat Indonesia yang menolak dilakukan perawatan karena mitos-mitos soal perawatan gigi yang beredar. Ini dia mitosnya!

Mitos #1: Cabut Gigi Menyebabkan Kebutaan

Salah besar! Pencabutan gigi tidak akan menyebabkan kebutaan karena saraf gigi dan saraf mata itu berbeda sehingga tidak ada hubungan antara cabut gigi dengan kerusakan mata.

Mitos #2: Cabut Gigi = Sakit Luar Biasa

Yang ini bisa saja benar kalau tidak dilakukan anestesi atau pembiusan. Tapi tenang saja, sebelum pencabutan gigi, dokter gigi akan melakukan anestesi local disekitar gigi yang mau dicabut. Anestesinya bisa berupa semprotan, gel atau jarum suntik. Namun jarum suntik yang sekarang digunakan juga memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga kalaupun sakit, mungkin terasa seperti digigit semut. Setelah obat anestesi berjalan, maka gigi tidak akan terasa sakit lagi saat dilakukan pencabutan.

Mitos #3: Cabut Gigi Solusi Utama untuk Sakit Gigi

Eitss! Hati-hati ya Ayah, Ibu! Jangan buru-buru minta dicabut apabila kamu sakit gigi. Karena pencabutan gigi adalah pilihan yang terakhir dilakukan apabila gigi tersebut tidak bisa lagi dirawat dengan perawatan lain. Cabut gigi itu bisa diibaratkan seperti amputasi jari lho. Sekali hilang, tidak akan pernah tumbuh kembali (gigi dewasa).

Yang terpenting adalah lakukan pencabutan gigi di dokter gigi ya! Jangan sembarangan cabut sendiri atau pergi ke ahli gigi karena justru bisa merusak gigi kita.

Penyebab Gigi Terasa Ngilu

 

 

 

oleh drg. Eva Yuli Andari, MA

Dokter Gigi Umum, Master of Arts in Health Management, Planning, and Policy

“Kalau habis makan panas jangan minum dingin ya! Nanti bisa merusak gigi!”. Hmm… Familiar dengan kata-kata tersebut nggak, teman Kejora? Banyak masyarakat yang mengira bahwa perubahan suhu ekstrim pada gigi menjadi alasan mengapa gigi kita menjadi sensitive (terasa ngilu).

Bener ngga ya? Mending kita cari tahu yuk hal-hal apa saja sih yang bisa menyebabkan gigi menjadi ngilu?

Penyebab

  1. Gigi Berlubang
    Gigi memiliki 3 lapisan yang terdiri dari email, dentin dan pulpa. Apabila gigi berlubang hingga mengenai lapisan kedua (dentin), maka bisa menyebabkan gigi menjadi ngilu karena pada dentin terdapat saluran yang meneruskan rangsang ke saraf gigi kita.
  1. Email Gigi yang Tipis
    Ketebalan email gigi pada tiap orang berbeda. Normalnya sekitar 2 mm. Gigi yang memiliki email tipis mudah mengalami hipersensitivitas.
  1. Akar gigi terekspos/terbuka
    Akar gigi bisa terekspos/terbuka apabila gigi tersebut ektrusi/memanjang (bisa dikarenakan gigi lawannya sudah hilang). Email pada daerah sekitar leher dan akar gigi sangat tipis karena itu bisa menyebabkan gigi lebih sensitif.

Cara Mengatasi

  1. Gunakan pasta gigi sensitif
    Pasta gigi sensitive mengandung bahan bahan yang bisa mengurangi rasa ngilu pada gigi.
  1. Periksa ke dokter gigi
    Check & recheck! barangkali ada lubang pada gigimu.

Nah jadi sudah tahu kan pada gigi yang sehat tidak akan terjadi rasa ngilu walaupun terkena rangsang panas maupun dingin pada waktu yang bersamaan. Apabila kalian mengalami tanda-tanda tersebut, hayooo mulai curiga ya, berarti ada yang salah tuh dengan gigi Ayah dan Ibu!

Jadi masih mau ngga makan minum panas dan dingin lagi? Kalau gigi sehat sih, siapa yang takuuuut! 😉