Anak dengan Clubfoot (Kaki Pengkor)

 

 

 

oleh dr. Aldo Fransiskus Marsetio, SpOT, BMedSc

Dokter Spesialis Orthopedi

Halo, Ayah dan Ibu Kejora! Pernah dengar sebutan kaki pengkor? Sebenarnya sebutan medis untuk penyakit ini adalah clubfoot atau congenital talipes equniovarus (CTEV), namun memang di masyarakat lebih dikenal sebagai kaki pengkor. Apakah bisa diperbaiki? Mari simak artikel berikut ya, Ayah dan Ibu.

Clubfoot adalah kelainan yang penyebabnya sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas, walaupun ada teori yang mengatakan berkaitan dengan genetik. Kelainan ini dapat terjadi pada salah satu atau kedua kaki. Namun, penyakit ini juga dapat terjadi bersamaan dengan penyakit kelainan di bagian tubuh lainnya, misalnya kelainan pada anggota tubuh bagian atas, atau tulang belakang. Clubfoot biasanya terjadi sejak bayi baru lahir, namun juga dapat terjadi saat anak sudah besar karena adanya ketidakseimbangan kekuatan otot, misalnya pada anak dengan cerebral palsy.

Kelainan kaki pada clubfoot akan mempengaruhi seluruh bagian dari kaki, yaitu bagian depan (forefoot), tengah (midfoot), dan belakang (hindfoot). Telapak kaki sang buah hati akan terlihat berputar ke arah dalam dan ke bawah, sedangkan jari-jari kakinya mengarah ke sisi dalam, dan tungkai yang terkena juga cenderung lebih kecil. Kelainan utama dari penyakit ini merupakan kelainan dari otot dan urat di sekitar kaki yang kaku dan tegang, bukan kelainan tulang. Namun, karena kekakuan dan penegangan ini, tulang-tulang di kaki menjadi tertarik ke sisi dalam. Kelainan ini dapat dideteksi dini saat sang bayi masih berada di dalam janin, dengan tingkat keakuratan yang tinggi apabila dilakukan pada saat trimester kedua. Akan tetapi tindakan diagnostik ini bukan untuk mengobati dini, melainkan ditujukan agar sang ibu dan keluarga dapat mempersiapkan diri pada saat sang bayi lahir serta menyusun rencana pengobatan segera setelah bayi lahir.

Karena kelainan pada clubfoot merupakan kelainan otot dan urat, setiap kelainan ini diperlukan perbaikan secara bertahap. Waktu terbaik untuk dilakukan penatalaksanaan ini adalah saat sang bayi masih berusia 1-2 minggu. Metode penatalaksanaan clubfoot diperkenalkan pertama kali oleh Profesor Ignacio Ponsetti dari Universitas Iowa, Amerika Serikat. Metode Ponsetti ini meliputi koreksi kelainan bentuk kaki dengan menggunakan gips. Gips ini dipakaikan selama 7 hari, dan akan dipakaikan kembali berulang sampai sekitar 5-6 kali.

Pada akhir periode pemasangan gips, kelainan bentuk kaki ini akan dievaluasi oleh dokter Orthopaedi apakah kelainan bentuk tersebut dapat terkoreksi dengan mudah dan baik. Apabila pemakaian gips serial kurang bisa mengoreksi kelainan bentuk tersebut, maka perlu dilakukan tindakan bedah untuk memanjangkan urat tendon Achilles, yakni urat di belakang tumit kaki. Tindakan bedah ini memerlukan bius total agar sang bayi tenang, namun tindakan bedah dilakukan dengan sayatan yang minimal.

Setelah tindakan operasi, kaki sang buah hati akan perlu dipasang gips kembali sekitar 2-3 minggu untuk mempertahankan posisi. Setelah periode tersebut, sang bayi akan dibuatkan alat khusus (Dennis Brown brace) agar dapat membantu mempertahankan posisi kaki. Pada awalnya, alat khusus ini akan dipakai selama hampir satu hari penuh, namun waktu pemakaian alat akan dikurangi seiring dengan perbaikan bentuk kaki. Alat ini perlu dipakai hingga usia 4 tahun.

Dennis Brown Brace

Sebagai orang tua, kesabaran dan kepatuhan terhadap instruksi dokter adalah kunci dari penanganan clubfoot ini. Penyakit ini tidak dapat dicegah karena penyebabnya yang belum diketahui secara pasti. Namun, bila diabaikan, sang buah hati akan mengalami kesulitan dan rasa nyeri saat berjalan. Konsekuensinya, anak akan menolak untuk belajar berjalan. Maka dari itu, peranan orang tua sangat penting untuk mendukung kesembuhan sang buah hati.

Editor: dr. Nurul Larasati

Referensi:

  1. Jowett C. R., Morcuende J. A., Ramachandran M. Management of congenital talipes equinovarus using the Ponseti method. The Journal of Bone and Joint Surgery. British volume 2011 93-B:9, 1160-1164.
  2. Siapkara A., Duncan R. Congenital talipes equinovarus: A Review of Current Management. The Journal of Bone and Joint Surgery. British volume 2007 89-B:8, 995-1000

 

Ibu, Mengapa Gigi Aku Berwarna Kuning?

 

 

 

oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

Hai Keluarga Kejora,

Apakah anda pernah mendapatkan pertanyaan si buah hati mengapa warna gigi tidak putih melainkan kuning? Atau saat gigi dewasa yang erupsi (tumbuh) warna gigi menjadi lebih kuning dibandingkan gigi anak sebelumnya? Atau mungkin Ayah dan Ibu pernah menyadari warna gigi anda terlihat lebih gelap dari beberapa tahun lalu?

Apa penyebab gigi berwarna kuning?

Sebelumnya, memang terdapat perbedaan paling mendasar dalam segi anatomi maupun warna baik dari gigi anak maupun gigi tetap. Pada gigi anak, lapisan permukaan email cenderung lebih tipis dan berwarna lebih putih. Hal ini yang menyebabkan gigi anak sering dinamakan gigi susu, karena warna gigi anak putih seperti susu. Sementara gigi tetap atau gigi dewasa memiliki warna lebih kekuningan dibandingkan gigi anak, karena lapisan permukaan yang lebih tebal dan warna dentin yang lebih kuning. Oleh karena itu, gigi permanen terlihat lebih kekuningan dibanding gigi susu.

Namun, selain dari perbedaan mendasar pada warna antara gigi susu dan gigi tetap, ada hal lain yang juga berpotensi membuat gigi mengalami perubahan warna. Beberapa hal dibawah ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi:

  1. Makanan dan minuman

Beberapa jenis makanan dan minuman dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi. Seperti teh, kopi, minuman bersoda dapat menyebabkan stain pada gigi.

  1. Tembakau dan kebiasaan merokok, bahan ini juga mengakibatkan terjadinya stain pada gigi dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi
  2. Kesehatan mulut yang buruk

Tidak memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, seringkali membuat kesehatan gigi dan mulut menjadi buruk. Rajin melakukan sikat gigi 2 kali sehari, membersihkan sisa makanan disela gigi dengan dengan dental floss, berkumur dengan cairan antiseptik untuk menghilangkan plak dan mengurangi produksi stain yang menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi.

  1. Menderita penyakit

Beberapa penyakit dapat mengakibatkan perubahan warna gigi terutama berkaitan dengan perawatan yang dilakukan. Sebagai contoh ; radiasi kepala dan leher, kemoterapi yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan warna gigi.

  1. Pengobatan

Beberapa obat seperti antibiotik tetracycline, doxycycline dapat menyebabkan perubahan warna gigi, terutama bila diberikan pada usia anak-anak masa pertumbuhan. Chlorhexidine, Cetylpyridinium chloride juga dapat menyebabkan stain pada gigi. Beberapa obat golongan antihistamin dan obat hipertensi juga dapat menyebabkan perubahan warna gigi.

  1. Bahan Material Gigi

Beberapa bahan material yang digunakan dalam kedokteran gigi terutama dalam penambalan seperti restorasi amalgam, seringkali dalam waktu lama dapat menyebabkan warna hitam keabu-abuan pada gigi.

  1. Penambahan Usia

Semakin bertambahnya usia, lapisan email bagian luar menjadi semakin tipis atau usang, sehingga warna kuning yang berasal dari lapisan dentin tampak lebih terlihat.

  1. Genetik

Pada beberapa orang sering terdapat email gigi dengan warna lebih gelap, terang maupun lapisan permukaan yang lebih keras.

  1. Lingkungan

Konsumsi kandungan fluoride yang cukup tinggi dari lingkungan, seperti kadar fluoride dalam air atau kadar penggunaan yang tinggi seperti aplikasi fluoride di pasta gigi, suplemen fluoride dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna.

  1. Trauma

Mengalami trauma seperti terjatuh yang mengenai bagian gigi sehingga menyebabkan kerusakan cukup berat terutama pada usia anak-anak. Gigi yang mengalami trauma cukup berat seringkali menimbulkan perubahan warna pada gigi.

Bagaimana caranya agar kita bisa mencegah terjadinya perubahan warna pada gigi?

    • Menjaga kebersihan gigi dan mulut yang baik dan benar merupakan salah satu cara mencegah perubahan warna pada gigi, seperti sikat gigi 2x sehari, melakukan dental flossing untuk mengambil sisa makanan yang tersisa di sela gigi serta rajin melakukan kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.
    • Melakukan perubahan gaya hidup seperti mengurangi konsumsi kopi, teh dan minuman bersoda juga menghentikan kebiasaan merokok agar gigi tidak mudah berubah warna.
    • Apabila penampakan gigi anda terlihat tidak normal karena perubahan warna yang terlalu besar mungkin anda bisa mengunjungi dokter gigi untuk melakukan konsultasi mengenai permasalahan gigi anda.

      Berikut beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk gigi yang mengalami perubahan warna:

      A. Veneer gigi

      B. Whitening office

      C. Home bleaching

      D. Bonding

Sumber :

https://www.webmd.com/oral-health/guide/tooth-discoloration
http://dentalresource.org/topic53stainedteeth.html

Perlukah Si Kecil Belajar Meminta Maaf?

 

 

 

 

oleh Amanda Triwulandari, M. Psi.

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Ayah dan Ibu, pernah engga sih kepikiran, “Perlu engga ya, anakku meminta maaf?” Mungkin, di satu sisi kita merasa bahwa si kecil tidak perlu meminta maaf karena ia masih kecil, namun di sisi lain kita juga merasa penting untuk mengajarkan si kecil meminta maaf dan mengetahui bahwa perbuatan yang ia lakukan adalah suatu kesalahan. Jadi, sebenarnya bagaimana ya baiknya? Perlu tidak, ya?

Para ahli mengatakan bahwa seorang si kecil tidak perlu dipaksa untuk meminta maaf saat melakukan suatu kesalahan. Akan tetapi, hal ini bukan berarti si kecil dibiarkan saja ketika melakukan kesalahan, terutama jika merugikan orang lain. Saat si kecil melakukan kesalahan, orang dewasa atau Ayah dan Ibu perlu memberikan penjelasan terkait alasan perilaku tersebut tidak baik untuk dilakukan. Selain menjelaskan perilaku yang salah, maka Ayah dan Ibu juga hendaknya memberikan informasi perilaku yang benar atau perilaku yang sebaiknya dilakukan. Memaksa si kecil untuk mengucapkan kata maaf, hanya akan membuat si kecil mengucapkan kata maaf dengan tidak tulus dan justru menjadi tidak paham arti kata ‘maaf’ tersebut.

Kadangkala, ada si kecil yang sulit sekali untuk mengungkapkan kata maaf, namun ada yang justru mudah mengungkapkan kata ‘maaf’. Pernahkah Ayah dan Ibu melihat ada si kecil yang mudah mengungkapkan kata ‘maaf’ namun kembali melakukannya? Kadangkala, si kecil mengeluarkan kata ‘maaf’ untuk menyenangkan orang dewasa dan menghindari hukuman. Akhirnya, kata ‘maaf’  yang sering dikeluarkan oleh si kecil justru berujung pada kelegaan pada Ayah dan Ibu. Namun, setelah Ayah dan Ibu lengah, si kecil bisa saja kembali melakukan perbuatan serupa. Hal ini bisa dikarenakan si kecil belum betul-betul paham makna dari kata ‘maaf’. 

Jadi, Apa yang perlu dilakukan ketika si kecil melakukan kesalahan?

1. Bicara dari hati ke hati

Saat si kecil melakukan kesalahan, ajaklah ia untuk bicara dari hati ke hati. Mulailah berfokus pada perasaan yang si kecil miliki. Bisa jadi, si kecil melakukan hal yang kurang baik karena satu alasan. Misalnya saat si kecil tidak meminjamkan mainan kepada adiknya dan memilih untuk merajuk. Bisa jadi ini adalah wujud dari perasaan cemburu.

Ayah dan Ibu dapat menanyakan, “mengapa kamu melakukan itu?” Setelah si kecil mengungkapkannya, Ayah dan Ibu dapat menanyakan perasaan si kecil ketika berada di posisi anak atau pihak lain. Hal ini perlu dilakukan agar si kecil tahu bahwa orangtua tetap ada untuknya sekalipun ia melakukan hal yang salah. 

Setelah tahap tadi selesai, ajak si kecil berfokus pada perasaan dari orang lain. Misalnya, “dik, kalau misalnya kamu mau pinjam mainan tapi sama temanmu tidak diperbolehkan gimana?” Jika diperlukan, lakukan role play agar si kecil betul-betul merasakan hal serupa.

Setelah si kecil mendapatkan dua sudut pandang, maka rangkumkan perasaan si kecil, perasaan orang lain, hal yang salah, serta hal yang harus dilakukan ke depannya. 

2. Ajarkan formula dalam mengungkapkan kata maaf

Jika ingin mengajarkan si kecil kata ‘maaf’, maka ajarkan si kecil mengenai formula kata ‘maaf’ yang lengkap dan bermakna. Kata maaf yang baik, bukan hanya sekedar mengucapkan ‘maaf’ saja, namun mengandung penjelasan mengenai perbuatan atau perilaku yang salah, alasan mengapa perilaku tersebut salah, dan solusi di masa depan. Misalnya saja saat si kecil tidak sengaja memukul dahi temannya. Ajarkan si kecil untuk mengungkapkan, “aku meminta maaf karena memukul dahimu. Itu salah karena dahimu pasti sakit sekali. Besok aku tidak akan mengulanginya kembali.”

3. Jadilah contoh yang baik 

Ingatlah bahwa si kecil pasti belajar melalui contoh dari orang-orang terdekat, misalnya saja ayah, ibu, atau orang lain di rumah. Berusahalah untuk bukan hanya sekedar mengucap maaf, namun betul-betul mengungkapkan perasaan bersalah dengan cara yang bermakna dan positif. 

4. Selalu konsisten

Selalu berusaha untuk konsisten juga menjadi hal yang penting. Berbagai aturan yang jelas dan disepakati oleh keluarga mengenai batasan perilaku yang diperbolehkan dan tidak juga sebaiknya diterapkan di rumah. Hal ini supaya si kecil juga tidak bingung terkait perilaku yang boleh dan tidak diperbolehkan.

 

Editor: drg Valeria Widita Wairooy

Sumber:

Smith, C. E. , Chen, D. & Harris, P. L. (2010). When the happy victimizer says sorry: Children’s understanding of apology and emotion.  British Journal of Developmental Psychology Vol 28. 727-746.

 

Apakah Anak Gemuk Berarti Sehat?

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Senang sekali kita bisa kembali bertemu untuk membahas topik menarik berkaitan dengan kesehatan anak. Nah, kali ini Kejora akan mengajak Ayah dan Ibu untuk mengenal kegemukan atau OBESITAS pada anak. 

Apa itu obesitas?

Obesitas adalah kelebihan berat badan akibat lemak berlebihan yang disimpan dalam tubuh. Obesitas pada anak dapat dimulai sejak usia balita hingga remaja. Asupan makanan yang berlebih merupakan penyebab utama obesitas (obesitas primer atau nutrisional) dan hanya sekitar 10% oleh karena kelainan hormon, sindrom atau kerusakan gen (obesitas sekunder atau non-nutrisional).

Bagaimana mengenali obesitas?

Cara mudah mengetahui anak obesitas diantaranya dengan melihat bentuk pipi yang tembem, dagu rangkap, leher tampak pendek, perut membuncit dan berlipat, payudara membesar, kedua tungkai umumnya berbentuk X, dan pada anak laki penis tampak kecil dan terbenam. Selain ciri fisik tadi, keadaan ini dapat dipastikan dengan melakukan pengukuran berat badan terhadap tinggi badan dan menghitung indeks massa tubuh (IMT). Obesitas pada anak usia < 2 tahun ditegakkan jika Z score > +3 SD dengan menggunakan grafik IMT WHO 2006, sedangkan pada anak usia 2-18 tahun menunjukkan nilai IMT di atas P95 dengan grafik IMT CDC 2000.

Apakah obesitas pada anak berbahaya?

Anak gemuk dapat mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti ngorok, gangguan tidur (sleep apnea), tekanan darah tinggi (hipertensi), kadar kolesterol tinggi, perlemakan hati, masalah postur dan perkembangan tulang ekstremitas, masalah psikososial, kencing manis (diabetes mellitus), dan masih banyak lagi. Nah, supaya hal ini tidak terjadi, pahamilah obesitas sejak anak masih kecil.

Bagaimana cara mencegah obesitas?

Cara mencegah anak menjadi obesitas adalah pemberian ASI eksklusif, mengurangi camilan, makanan manis dan ‘junk food’, memperbanyak aktivitas fisik yang disesuaikan dengan usia, serta membatasi ‘screen time’ pada anak dengan panduan yang bisa dibaca dari salah satu topik bahasan Kejora yang berjudul ‘Mendidik Anak pada Era Digital’. 

Apakah yang dapat dilakukan pada buah hati yang mengalami obesitas?

Bila anak mengalami obesitas, sebaiknya konsultasi dengan dokter spesialis anak. Prinsip tata laksana anak dengan obesitas adalah menerapkan pola makan yang benar, aktivitas fisik yang adekuat, dan modifikasi perilaku dengan orangtua sebagai panutan. Target untuk menurunkan berat badan 0,5 kg dalam seminggu atau turun mencapai 20% diatas berat badan ideal. 

Pola makan terjadwal dengan makan besar 3x/hari dan camilan 2x/hari (camilan diutamakan dalam bentuk buah segar), diberikan air putih di antara jadwal makan utama dan camilan, serta lama makan 30 menit/kali. Panduan makanan berupa traffic light diet dapat diterapkan. Buah dan sayur, daging tanpa lemak, ikan, kacang, roti gandum, susu rendah lemak dan air termasuk green food pada traffic light diet yaitu dapat dikonsumsi setiap hari. Yellow food adalah makanan yang boleh dikonsumsi dalam porsi kecil, tetapi tidak setiap hari yaitu daging olahan rendah lemak dan garam, produk roti dan sereal olahan, susu tinggi lemak, kue dan biskuit rendah lemak dan gula. Red food adalah makanan yang boleh dikonsumsi 1x/minggu, diantaranya berupa gorengan, daging olahan tinggi lemak, kue, minuman manis dan coklat.

Latihan fisik disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, dan kemampuan fisis anak. Keluarga ikut berpartisipasi dalam mendukung keberhasilan anak dan jangan lupa memberi pujian terhadap setiap perilaku sehat yang anak lakukan. 

 

Referensi

  1. Rekomendai Ikatan Dokter ANak Indonesia. Diagnosis, tatalaksana dan pencegahan obesitas pada anak dan remaja. Dalam: Sjarif DR, Gultom LC, Hendarto A, Lestari ED, Sidharta IGL, Mexitalia M, penyunting. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi ke-1, 2014.
  2. Sjarif DR. Obesitas anak dan remaja. Dalam: Sjarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasar SS, penyunting. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2011.h.230-41.

Hand, foot, and mouth disease/ flu Singapura

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Keluarga Kejora..

Ayah dan Ibu pasti sudah pernah mendengar istilah “flu Singapura, kan? Sebenarnya seperti apa sih “flu Singapura” itu dan bagaimana ciri-cirinya?

 

Apa sih penyebab flu Singapura?

Flu Singapura, dengan nama lain hand, foot, and mouth disease (HFMD) atau penyakit tangan, kaki, dan mulut, umumnya disebabkan oleh Coxsackievirus tipe A16 dan Human Enterovirus 71.

 

Bagaimana penyebaran flu Singapura?

Penyebaran flu Singapura atau HFMD di lingkungan sekolah dapat terjadi di dalam ruang kelas. Infeksi tidak hanya dapat dialami oleh siswa, namun juga guru atau orangtua.

Penyebaran virus HFMD dari penderita dapat terjadi melalui cairan hidung (ingus), tenggorokan (ludah atau dahak), lesi kulit yang pecah, dan feses. Peningkatan kemungkinan penyebaran virus dapat terjadi akibat beberapa hal seperti kontak erat dengan penderita (berbicara, memeluk, mencium), terpapar melalui udara (bersin atau batuk), kontak dengan feses penderita, dan kontak dengan objek atau permukaan yang tercemar oleh virus HFMD (gagang pintu, permukaan meja, perabotan, dll).

Virus sangat mudah ditularkan oleh penderita HFMD di minggu pertama gejala muncul atau sakit. Terkadang virus masih dapat ditularkan setelah beberapa hari atau minggu, bahkan setelah gejala dan tanda infeksi pada penderita telah hilang.

 

Bagaimana tanda dan gejalanya?

  • Umumnya menyerang anak-anak.
  • Periode inkubasi sekitar 3-10 hari.
  • Diawali dengan demam, tidak enak badan, nyeri tenggorokan/menelan, nafsu makan menurun.
  • Setelah demam 1-2 hari, timbul bintik-bintik merah di rongga mulut (umumnya berawal di bagian belakang langit-langit mulut dan dapat menyebar ke area lidah) yang kemudian pecah menjadi sariawan. Kemudian timbul ruam kulit dan bintik-bintik dengan batas kemerahan di telapak tangan dan kaki dalam 1-2 hari.

  • Ruam juga dapat muncul di tungkai, lengan, bokong, dan kulit sekitar kemaluan.

 

Bagaimakah cara mengobatinya?

  • Fase penyembuhan umumnya terjadi dalam 10 hari.
  • Tidak ada pengobatan khusus untuk HFMD, pengobatan bersifat simptomatik untuk mengatasi keluhan yang ditimbulkannya. Parasetamol dapat diberikan untuk mengatasi demam dan nyeri.
  • Kompres hangat dan pemberian minum yang lebih sering juga membantu menurunkan demam anak. Pada anak yang lebih besar, kumur-kumur dengan obat kumur dapat mengurangi nyeri akibat luka-luka di mulut.

 

Sumber:

  • Cameron AC, Widmer RP. Handbook of Pediatric Dentistry, 4thed. Mosby Elsevier; 2013.
  • Greenberg MS, Glick M. Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment, 10th ed.  BC Decker Inc; 2003.

Makanan Beku Sehat Ngga Sih?

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Makanan beku (Frozen food)

Seringkali kita lebih memilih untuk menggunakan makanan beku dalam mempersiapkan makanan untuk keluarga, apalagi di musim liburan pasca lebaran seperti ini. Makanan beku memang menjadi pilihan karena dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama jika disimpan dalam freezer dan dalam persiapan untuk dihidangkan juga tidak membutuhkan waktu yang lama. Seringkali, makanan beku membantu untuk berhemat karena dengan menyimpan bentuk beku dari bahan makanan yang dibeli dalam jumlah banyak, kita seringkali mendapatkan harga yang lebih murah. Selain itu, makanan beku juga memudahkan kita untuk menyimpan makanan yang tidak habis dimakan sehingga mengurangi jumlah makanan yang terbuang.

Apakah makanan beku sehat?

Membekukan makanan tidak menentukan makanan tersebut sehat atau tidak sehat. Hal ini tergantung dari kandungan nutrisi makanan yang akan dibekukan. Membekukan buah dan sayuran akan lebih sehat dibandingkan membekukan pizza, snack dan makanan lain yang kurang sehat. Jika makanan yang akan dibekukan bergizi, akan tetap bergizi setelah dibekukan.

Apakah membekukan makanan mengubah kandungan gizi?

Membekukan makanan tidak mempengaruhi kalori, serat dan jumlah mineral. Namun, dapat mengubah beberapa vitamin, seperti folat dan vitamin C. Tapi secara umum, kandungan gizi  dapat dipertahankan selama proses pembekuan.

Membekukan makanan juga tidak memengaruhi kandungan lemak, protein, karbohidrat ataupun gula. Kandungan air dapat berubah karena proses “thawing(makanan beku dibiarkan dalam suhu ruangan hingga bagian beku mencair) makanan. Jika hanya air yang berkurang karena proses thawing, maka kalori dalam makanan tidak akan berpengaruh, tapi akan merubah ukuran porsi makanan tersebut.

Bagaimana memilih makanan beku yang sehat?

Jika membeli makanan beku, pilihlah produk yang tidak terlalu tinggi pemberian tambahan gula, natrium, atau saus tinggi kalorinya. Pilihlah sayuran beku tanpa penambah rasa (plain), hindari memilih sayur dengan perasa/ekstra saus. Begitu juga dengan buah, pilihlah buah beku tanpa tambahan gula atau sirup.

Memilih makanan beku berupa makananutama atau snack harus lebihdiperhatikan. Seringkali, makanan beku tersebut tinggi lemak jenuh, natrium, gula dan kalori. Bandingkan label nutrisi dari setiap makanan beku yang ingin dibeli dan pilihlah yang lebih “sehat” dibandingkan yang lain. Membeli makanan beku seperti pizza, snack rolls, sandwich, burrito, fried chicken sebaiknya dihindari.

Pilihlah daging, ikan, seafood, dan ayam beku tanpa tambahan bahan makanan lain atau tanpa perasa. Hindari makanan beku seperti ayam tepung, fish stick, corn dog dan makanan lain yang menggunakan tambahan tepung atau perasa.

Tips membekukan makanan di rumah

Hampir semua makanan yang dibeli dan dimasak dapat dibekukan. Namun, trerdapat beberapa makanan yang tidak dapat dibekukan seperti telur mentah bercangkang, mayonais, salad dressing, saus creamy dan makanan yang mengandung instruksi untuk tidak dibekukan.

Buah sebaiknya tanpa kulit, dipotong kecil dan dimasukkan ke dalam plastik/freezer bag kecil dalam porsi per kali makan. Buah beku ini dapat digunakan untuk smoothies atau makanan lain yang menggunakan buah dalam resepnya.

Sayur dapat dibekukan namun membutuhkan perhatian lebih. Sayuran sebaiknya di-blanching sebelum dimasukan ke dalam plastik/freezer bag. Untuk mem-blanching/blansir sayuran adalah dengan merebus sayuran hingga mendidih selama beberapa menit dan langsung dicelupkan kedalam air es untuk menghentikan proses pematangan, karena dalam keadaan panas, proses pematangan sayur masih tetap berlangsung, sehingga sayuran dapat berubah warna menjadi coklat. Namun jika dicelup ke dalam air es, proses pematangan berhenti dan tekstur dan kesegaran dapat dipertahankan.

Daging, ayam dan ikan mentah dapat dibungkus alumunium foil, plastik tebal atau plastik makanan khusus freezer dan disimpan pada wadah makanan yang akan dibekukan. Makanan sisa atau makanan sudah siap santap yang memang akan dibekukan juga sebaiknya dibekukan dalam wadah untuk menghindari kontaminasi makanan.

Tips untuk thawing dan menyiapkan makanan beku

Sayuran beku biasanya tidak perlu di thawing sebelum dimasak. Sayuran beku dapat langsung direbus, kukus atau dimasukkan dalam microwave. Buah dan berries sebaiknya didiamkan dalam suhu ruangan sebentar saja sebelum digunakan, namun jangan sampai thawing sempurna, karena akan menjadi mushy (tekstur buah membubur).

Daging beku membutuhkan thawing sebelum dimasak, karena tanpa proses thawing, daging dapat menjadi terlalu matang di bagian luar dan masih mentah di bagian tengah. Cara melakukan thawing daging adalah dengan meletakkan daging (dalam kemasan plastik) di dalam kulkas (chiller) atau air dingin. Jangan diletakkan pada suhu ruangan dalam waktu yang terlalu lama karena dapat menumbuhkan bakteri dalam daging jika dibiarkan selama lebih 1 jam.

editor: dr. Kristina Joy H, M.Gizi, Sp.GK

Waspada Infeksi Monkeypox

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

Halo Ayah dan Ibu Kejora..

Akhir – akhir ini banyak pemberitaan mengenai waspada Monkeypox, karena di bandara Singapura telah ditemukan 1 orang dikarantina karena mengalami Monkeypox. Berbagai upaya dilakukan untuk memutus rantai penularan penyakit tersebut, sebenarnya Apa itu Monkeypox, Apa gejalanya dan bagaimana penanganannya? Berikut akan kita bahas bersama.

Apa sih penyakit monkeypox atau cacar monyet?

Monkeypox adalah penyakit karena virus yang langka, terutama ditemukan di Afrika Tengah dan Barat. Virus dan gejala penyakit monkeypox ini mirip dengan smallpox atau cacar api yang sudah dieradikasi di tahun 1980.

Bagaimana cara penularannya?

Virus penyebab monkeypox ini adalah virus zoonosis, yaitu ditularkan dari hewan ke manusia. Hewan yang bisa menularkan biasanya monyet dan binatang pengerat. Penularan bisa terjadi jika manusia berkontak dengan darah, cairan tubuh atau lesi kulit hewan yang terinfeksi. Memakan daging hewan yang terkontaminasi tanpa dimasak dengan matang juga berisiko menyebakan penularan.

Penularan antar manusa sangat jarang terjadi. Penularan terjadi melalui cairan tubuh seperti dahak dan ingus, lesi kulit dan benda yang terkontaminasi dengan cairan tubuh penderita dalam jangka waktu lama.

Apa sih Gejalanya?

Gejala monkeypox mirip dengan infeksi virus pada umumnya. Infeksi monkeypox dibagi menjadi 2 periode:

  1. Periode infasi (0-5 hari) demam, sakit kepala berat, pembesaran kelenjar getah bening, pegal dan badan terasa sangat lemas.
  2. Periode lesi kulit (1-3 hari dari demam) muncul lesi mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian menjadi krusta/keropeng. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang. Seluruh area kulit bisa terkena, termasuk mukosa mulut, kelamin dan mata.

Monkeypox biasanya dapat sembuh sendiri dalam 2-3 minggu. Namun dapat terjadi komplikasi, terutama pada anak atau pasien dengan gangguan daya tahan tubuh.

Bagaimana penanganannya?

Sampai saat ini belum ada obat atau vaksinasi yang spesifik untuk monkeypox. Vaksin chickenpox 85% efektif dalam mencegah monkeypox, namun saat ini vaksin tersebut sudah tidak diproduksi luas.

Bagaimana cara pencegahan agar tidak terinfeksi Monkeypox?

  • Mengurangi risiko transmisi hewan ke manusia pada daerah endemis:
    • Menghindari kontak dengan hewan liar terutama monyet, primata dan hewan pengerat.
    • Memasak daging hewan sampai matang sebelum dikonsumsi
    • Menggunakan sarung tangan dan proteksi tubuh saat kontak dengan hewan yang sakit
  • Mengurangi risiko transmisi manusa ke manusia:
    • Tidak kontak dengan pasien yang terinfeksi monkeypox dan cairan tubuhnya.
    • Memakai sarung tangan ketika merawat pasien atau anggota keluarga yang sakit
    • Cuci tangan setiap berkontak dengan pasien atau anggota keluarga yang sakit
    • Apabila curiga anggota keluarga menderita monkeypox segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diperiksa dan diisolasi bila perlu.

Sumber:

Erosi Kornea, Cedera Mata yang Sering Terjadi pada Anak

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

Halo ayah dan ibu Kejora… Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Oh ya ayah dan ibu Kejora erosi kornea ini cukup sering terjadi pada anak-anak, karena anak masih belum awas terhadap barang-barang yang mereka mainkan apalagi bila sedang bermain dengan teman-teman di sekolah maupun di tempat umum. Erosi kornea bisa terjadi jika tercolok jari teman sekolah, tidak sengaja terkena lemparan mainan teman dan lain sebagainya. Erosi kornea terjadi pada salah satu bagian dari organ mata yang penting untuk penglihatan yaitu kornea. Kornea adalah lapisan mata yang tidak memiliki warna/bening yang berada paling depan. Erosi atau abrasi kornea sering terjadi dimana 80% kasus mata yang datang ke unit gawat darurat, adalah karena erosi ini. Nah ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa sih erosi/abrasi kornea itu dan penyebabnya apa saja dan bagaimana penanganannya.

Apa yang dimaksud dengan Erosi Kornea?

Erosi atau abrasi kornea merupakan terkelupasnya/robeknya lapisan paling atas/depan dari kornea yaitu lapisan epitel. Lapisan kornea terdiri dari banyak ujung-ujung saraf sehingga apabila terjadi erosi maka akan terasa sakit dan perih sekali. Jadi Ayah dan ibu kejora jika sang buah hati menangis kencang setelah bermain dengan teman-temannya dan tidak mau membuka matanya karena sakit waspadalah mungkin matanya mengalami erosi kornea ini.

Gambar 1. Gambaran lapisan-lapisan pada kornea, erosi kornea terjadi pada lapisan epitel (diberi tanda box)

Gambar 2. Gambaran erosi atau abrasi kornea

Apa saja yang dapat menyebabkan Erosi kornea?

Erosi kornea biasanya terjadi akibat trauma mekanik yang antara lain adalah :

  1. Tercolok jari/fingernails (paling sering)
  2. Terkena lemparan benda asing ke arah mata dengan kecepatan yang tinggi
  3. Menggosok-gosok mata terlalu kuat
  4. Terkelupas pada saat mencopot lensa kontak (biasanya pada pengguna lensa kontak, jarang terjadi pada anak)

Apa saja tanda dan gejala jika sang buah hati mengalami Erosi kornea?

  1. Sangat nyeri/sakit -> kadang sampai mata sulit untuk dibuka
  2. Mata menjadi berair
  3. Mata menjadi merah
  4. Mata terasa perih
  5. Pandangan buram
  6. Mata menjadi sensitive terhadap cahaya/sinar (fotofobia)

Gambar 3. Tanda erosi kornea -> mata merah, berair, erosi (gambaran warna hijau merupakan area yang mengalami erosi)

Apa penanganan yang dilakukan jika sang buah hati mengalami Erosi kornea?

Ayah dan ibu kejora, erosi kornea cukup sering terjadi pada anak-anak karena kadang kita tidak dapat mengontrol anak 100 persen bila mereka sedang bermain di sekolah maupaun di tempat bermain umum dan kadang anak-anak masih belum tahu bahaya dari mainan yang mereka mainkan. Apabila anak-anak ayah dan ibu kejora tiba-tiba menangis kesakitan setelah terlempar mainan oleh temannya atau tidak sengaja tercolok jari temannya, segeralah bawa ke dokter mata. Erosi kornea dapat sembuh sempurna tanpa meninggalkan bekas.

Penanganan yang dilakukan dokter jika terjadi erosi kornea adalah :

  1. Dilakukan patching kencang dengan perban selama 8 jam

Gambar 4. Patching therapy

  1. Dipasang bandage contact lens selama 1-3 hari


Gambar 5. Bandage lens therapy

  1. Diberikan obat tetes antibiotik
  2. Diberikan obat tetes pelembab (artificial tears).

Penggunaan patching atau lensa kontak ditentukan dari luasnya erosi kornea dan apakah si anak kooperatif atau tidak. Biasanya bila erosinya luas dan anak kooperatif dapat dilakukan pemasangan lensa kontak. Pemasangan lensa kontak atau pemberian patching kencang bertujuan untuk memberikan ruang dan waktu bagi epitel kornea untuk melakukan regenerasi. Penyembuhan/ regenerasi dari epitel kornea antara 24 – 48 jam.

Sumber :

  1. American Academy of Ophthalmology staff. The eye. In: American Academy of Ophthalmology Staff, editor. Fundamental and principle of ophthalmology. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014. p. 38-9
  2. Boyd K. What is corneal erosion ?. 2019. Available from https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-corneal-erosion
  3. Wilman D, Melnason SW. Corneal injury . Available from : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459283/
  4. Guy’ and St Thomas’ NHS staff. Corneal abrasion. 2018. Available from : https://www.guysandstthomas.nhs.uk/resources/patient-information/eye/corneal-abrasion.pdf
  5. Wilson E. Pediatric cataracts : overview. 2015. Available from : https://www.aao.org/disease-review/pediatric-cataracts-overview

Mudik yang Menyenangkan untuk Si Kecil

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Keluarga Sehat Kejora! Bulan Ramadan ini tentunya menjadi bulan yang special, ya, untuk kita dan keluarga, termasuk si Kecil. Setelah berpuasa selama satu bulan, tentunya ada momen lebaran yang kita rayakan. Bagi keluarga yang ingin menikmati liburan di rumah atau bepergian di dalam kota, tentunya merupakan pilihan yang menyenangkan. Namun, bagi keluarga yang merencanakan untuk pergi mudik ke kampung halaman, sebaiknya memperhatikan beberapa hal agar anak merasa nyaman selama perjalanan.

Pertama, beri tahu sebelumnya bahwa keluarga akan menempuh perjalanan mudik. Pemberitahuan meliputi: kota tujuan, berapa lama waktu perjalanan, alat transportasi apa yang akan digunakan, dan aktivitas apa saja yang dapat dilakukan di kota tujuan. Orangtua dapat menunjukkan destinasi menarik yang dapat dikunjungi di kota tujuan, melalui diskusi bersama dengan Si Kecil apabila ia memiliki preferensi tempat untuk dikunjungi. Destinasi wisata yang bersifat edukatif juga akan memberi manfaat positif untuk anak, yaitu menambah pengetahuannya. Ceritakan juga perkiraan waktu tempuh perjalanan. Hal ini untuk mengantisipasi si Kecil yang kaget karena berpikir bahwa perjalanan lebih singkat dari seharusnya. Perhitungkan pula arus lalu lintas yang lebih padat pada hari raya ini dibandingkan hari biasa. Setelah itu, orangtua dapat menunjukkan gambar atau memberitahu alat transportasi yang akan digunakan untuk menempuh perjalanan. Orang tua juga bisa menceritakan berbagai kisah menarik yang memiliki latar belakang alat transportasi tersebut. Misalnya: menggunakan tokoh kartun Tayo jika menggunakan bus, atau tokoh di film Plane jika menggunakan pesawat.

Kedua, mempersiapkan perlengkapan anak. Baik perlengkapan yang digunakan untuk keseharian (seperti baju, makanan, dan lain-lain), maupun yang dapat membuat Si Kecil merasa lebih nyaman. Misalnya mainan favorit atau boneka kesukaannya. Si Kecil juga dapat memilih sendiri makanan ringan yang akan dibawa untuk dikonsumsi selama di perjalanan. Selain itu, jangan lupa mempersiapkan obat-obatan dan barang personal lain yang dibutuhkan. Aktivitas mempersiapkan kebutuhan anak ini baik jika dilakukan bersama, karena akan melatih anak untuk menyiapkan barangnya sendiri.

Ketiga, memahami karakter anak saat berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai macam latar belakang. Saat lebaran merupakan saat bersilaturahmi, yang berarti anak akan banyak berinteraksi dengan anggota keluarga, teman Ayah dan Ibu, tetangga, maupun orang-orang yang baru ditemuinya. Saat berkumpul misalnya, anak akan selalu diminta untuk memperkenalkan diri, bermain bersama anak sebayanya, menjawab pertanyaan dari orang dewasa lain, dan sebagainya. Akan menjadi masalah jika anak merasa orangtua terlalu memaksa mereka untuk mudah beradaptasi dan berbaur dengan anak lain, sedangkan anak membutuhkan waktu terlebih dahulu untuk masuk ke dalam lingkungan baru. Untuk itu, pahamilah temperamen anak kita. Apakah anak termasuk easy child yang mudah membaur dengan lingkungan baru; ataukah tipe slow to warm up yang biasanya mengobservasi terlebih dahulu keadaan di sekitarnya serta membutuhkan waktu untuk masuk ke lingkungan baru; ataukah tipe difficult child yang proses adaptasinya lambat.

Sekian pembahasan kali ini mengenai beberapa tips agar Si Kecil menikmati liburan saat mudik ke kampung halaman. Semoga berguna ya! Selamat liburan dan pulang ke kampung halaman masing-masing, Keluarga Kejora!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Tips Menjaga Asupan Sehat untuk Si Kecil Selama Liburan

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Libur telah tiba! Libur telah tiba!

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Sebentar lagi kita akan memasuki masa liburan, ya? Liburan kali ini akan terasa lebih panjang karena libur Hari Raya Idul Fitri akan dilanjutkan dengan libur kenaikan kelas. Nah, apakah keluarga Kejora sudah punya rencana liburan?

Agar keluarga Kejora bisa menikmati liburan dengan menyenangkan, kita harus pandai menjaga kesehatan supaya keluarga terhindar dari segala penyakit ataupun gangguan kesehatan lainnya. Salah satu yang bisa membuat kita tetap sehat dan berenergi adalah dengan mengonsumsi makanan dengan gizi yang sesuai. Namun seringkali liburan menjadi kendala buat kita untuk tetap makan sehat karena jadwal perjalanan yang padat membuat kita harus menunda waktu makan, terbatasnya pilihan makanan sehat, hingga keinginan mencicipi berbagai makanan lokal yang enak-enak, tapi belum tentu nutrisinya sesuai. Nah, agar kita tetap bisa menjaga asupan sehat selama liburan, simak tips berikut ya keluarga Kejora!

Sebelum memulai perjalanan liburan, baik dengan menggunakan kendaraan sendiri atau alat transportasi lain seperti pesawat, kereta api, bahkan kapal laut, maka ada hal sederhana yang bisa kita siapkan. Pertama, pastinya Ayah dan Ibu bisa membuat jadwal perjalanan liburan serta melakukan riset kecil-kecilan untuk kemungkinan rumah makan yang bisa didatangi dan menu apa saja yang bisa dipilih. Kedua, ajak si kecil untuk turut menyiapkan bekal makanan ringan apa yang ingin dibawa dengan Ayah dan Ibu ikut mengarahkan pilihan yang sehat dan bisa memberikan energi cukup untuk keluarga. Contoh makanan ringan yang bisa dibawa saat berlibur, misalnya buah segar yang tidak mudah busuk (anggur, jeruk, pisang yang kulitnya masih utuh) atau buah kering, popcorn, kacang-kacangan, roti isi selai kacang atau isi daging/ayam, susu kotak/yogurt, atau crackers gandum. Nah, susun makanan dan minuman ringan tersebut dalam satu tas kecil yang mudah dibawa dan mudah untuk diakses ketika sedang berada dalam perjalanan. Maskapai penerbangan biasanya memperbolehkan untuk membawa makanan anak-anak ke dalam kabin.

Ketika sudah dalam perjalanan liburan, tetap terapkan jadwal makan yang teratur agar asupan nutrisi tetap terjaga. Ingatkan anggota keluarga untuk beristirahat sejenak sesuai dengan jadwal makan ataupun snacking. Bila keluarga Kejora bepergian dengan mobil dan si kecil masih memiliki risiko tersedak, maka sebaiknya mobil berhenti sebentar dan keluarga bisa makan di rest area dengan lebih aman.
Selain menjaga asupan makanan, jangan lupa juga untuk selalu mengingatkan anak-anak untuk minum, karena biasanya ketika mereka asik bermain atau berada dalam perjalanan panjang kebutuhan minum menjadi terabaikan. Anak di bawah 10 tahun membutuhkan air sekitar 1200 – 1900 mL setiap hari. Sediakan dalam botol minum favoritnya agar anak semangat untuk minum dan terhindar dari dehidrasi. Ajak anak untuk tetap aktif dan menikmati liburan karena hal tersebut juga menjadi kunci untuk bisa istirahat dengan cukup di malam hari.

Selamat berlibur, Keluarga Kejora!

Sumber:

Academy of Nutrition and Dietetics
Academy of Culinary Nutrition