Mengenal Amandel pada Anak

 

 

 

 

oleh dr. Ellen Wijaya, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo Keluarga Sehat Kejora!

Topik kali ini kita akan membahas tonsil palatina atau AMANDEL pada anak. Banyak pertanyaan seputar amandel yang disampaikan orangtua pada praktek dokter sehari-hari. Bahkan tidak jarang yang periksa ke dokter dengan keluhan sang buah hati “sakit amandel”, atau menanyakan apakah amandel anaknya yang besar perlu dioperasi. Oleh karena itu, mari kita mengenal lebih jelas mengenai amandel pada anak.

Apa itu amandel?

Amandel atau tonsil palatina merupakan bagian dari kelenjar getah bening yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Amandel terlihat seperti benda bulat yang menyerupai bakso di kanan dan kiri ujung belakang rongga mulut yang dapat dilihat bila anak membuka mulut lebar sambil menjulurkan lidahnya.

Bahayakah jika amandel anak besar?

Sistem kelenjar getah bening, termasuk amandel mengalami perkembangan pesat saat anak berusia 5-15 tahun. Pada usia tersebut ukuran normal amandel anak dapat mencapai dua kali ukuran dewasa sehingga orang tua tidak perlu kuatir jika ukuran amandel anak besar, asalkan tidak disertai gejala peradangan.

Apakah itu radang amandel?

Radang amandel atau yang dikenal dengan tonsilitis merupakan infeksi pada saluran napas bagian atas yang dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Gejala yang dapat ditemukan diantaranya adalah amandel terlihat merah, nyeri dan bengkak sehingga tampak lebih membesar. Keluhan tersebut dapat disertai dengan demam, nyeri menelan, batuk, atau pun pembengkakan kelenjar getah bening di area leher.

Bagaimana penanganan radang amandel?

Radang amandel yang disebabkan akibat virus akan pulih dengan sendirinya. Hal yang perlu dilakukan oleh Ayah dan Ibu Kejora adalah memastikan buah hati lebih banyak minum air putih untuk mengurangi nyeri pada tenggorokan dan mencegah dehidrasi. Berikan anak makanan bergizi yang bertekstur lembut, jika terdapat keluhan nyeri menelan dan pastikan anak beristirahat yang cukup untuk memulihkan sistem kekebalan tubuhnya. Jika radang amandel disebabkan oleh bakteri, maka dokter akan memberikan antibiotik. Pastikan anak minum antibiotik sesuai anjuran yang diberikan oleh dokter.

Apakah amandel yang besar perlu dioperasi?

Ukuran amandel yang besar pada anak bukan merupakan alasan untuk dioperasi. Penyebab amandel perlu dioperasi adalah adanya gangguan napas saat anak tidur yang disebut obstructive sleep apnea syndrome (OSAS). Anak diduga mengalami OSAS, jika lebih dari 3 hari dalam seminggu tidurnya mendengkur, terdapat gejala henti napas saat tidur yang diikuti gelagapan seperti hendak terbangun, namun kemudian anak kembali tidur. Gejala lain yang bisa terjadi adalah sering mengantuk pada siang hari dan bahkan adanya gangguan prestasi belajar sekolah. Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis OSAS pada anak menggunakan polisomnografi (PSG).

Alasan kedua perlunya operasi adalah radang amandel dan tenggorokan (tonsilofaringitis) akibat kuman streptokokus yang terjadi hingga 7 kali atau lebih dalam 1 tahun terakhir, atau 5 kali per tahun dalam dua tahun berturut, atau 3 kali pertahun dalam 3 tahun berturut. Gejala radang amandel akibat kuman streptokokus, diantaranya adalah demam tinggi dengan nyeri tenggorokan yang berat, dan amandel terlihat sangat merah disertai bercak putih pada permukaannya sehingga anak memerlukan terapi antibiotik yang adekuat.

Jadi operasi amandel dilakukan hanya dengan indikasi yang sangat jelas. Apakah masih perlu kuatir dengan amandel sang buah hati? Semoga pembahasan ini bisa membantu Ayah dan Ibu Kejora dalam menghadapi keluhan pada anak berkaitan dengan amandel. Sampai bertemu pada topik ilmu kesehatan anak lainnya. 

 

Editor : Saka Winias

Sumber :

  1. Naning R, Triasih R, Setyati A. Faringitis, Tonsilitis, Tonsilofaringitis Akut. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2008.h.289-95.
  2. Supriyatno B. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) pada anak. Dalam: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB, penyunting. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi ke-1. Jakarta: IDAI; 2008.h.402-11.

Apa sih tongue-tie itu?

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

Halo, Keluarga Kejora! Pernahkah Ayah dan Ibu mendengar tentang istilah tongue-tie? Apakah benar bayi dengan tongue-tie akan mengalami kesulitan saat menyusu? Apakah tongue-tie dapat mempengaruhi perkembangan bicara anak? Mari kita simak pembahasan mengenai tongue-tie dengan dr. Yulianto, SpA berikut ini ya.

Dok, apa sih sebenarnya tongue-tie itu?

Tongue-tieatau ankyloglossiaadalah suatu kondisi di mana tali lidah/frenulum seseorang tebal atau pendek sehingga membuat lidahnya tidak bisa bergerak dengan bebas. Diperkirakan 10% dari populasi memiliki tongue-tie dan banyak bayi dengan tongue-tie tidak memerlukan tindakan apapun. Tanda-tanda bayi memiliki tongue-tie antara lain:

  • Bagian bawah lidah tebal atau tipis
  • Tidak dapat menjulurkan lidah melewati bibir
  • Tidak dapat mengangkat lidah ke langit-langit (saat menangis)
  • Kesulitan menggerakkan lidah kekiri dan kanan
  • Lidah berbentuk V atau hati saat menjulur ke luar
  • Ujung lidah mendatar

Sumber: https://www.childrens.health.qld.gov.au/wp-content/uploads/images/fact-sheets/tongue-tie-symptoms.jpg

 

Apakah benar bayi dengan tongue-tieakan mengalami kesulitan saat menyusu, Dok?

Tidak semua bayi dengan tongue-tie akan mengalami masalah menyusu. Penting untuk diingat bahwa bayi dengan tongue-tie juga banyak yang bisa menyusui dengan baik. Banyak permasalahan menyusui yang tidak disebabkan oleh tongue tie. Bila terdapat hal-hal seperti:

  • Bayi kesulitan mempertahankan pelekatan (latch-on)
  • Berbunyi saat menyusu
  • Kenaikan berat badan bayi tidak sesuai (<25 gram/hari)
  • Nyeri saat menyusui yang berlangsung sepanjang sesi menyusui
  • Puting Lecet
  • Puting berubah bentuk setelah menyusui

Jika ditemukan salah satu kondisi tersebut, sebaiknya konsultasi dan diskusikan dengan dokter anak Anda.

Lalu, mengenai perkembangan bicara. Apakah tongue-tieakan mengganggu perkembangan bicara anak?

Kondisi tongue-tie tidak menyebabkan anak mengalami gangguan perkembangan bicara atau keterlambatan bicara. Namun, tongue-tie dapat menyebabkan anak sulit mengartikulasikan huruf-huruf tertentu. Selain itu, ada juga masalah mekanik yang dapat terjadi, seperti kesulitan menjilat es krim atau memainkan alat musik tiup.

Selain tanda-tanda tongue-tie yang Dokter jelaskan sebelumnya, apa yang akan dilakukan dokter untuk mendiagnosis tongue-tiepada anak?

Selain dari pemeriksaan fisik, kita bisa menggunakan skor Hazelbaker, yang mengevaluasi penampilan lidah dan fungsi lidah. Bila fungsi lidah tidak terganggu, maka kondisi tongue-tietidak perlu dikhawatirkan. Skor fungsi lidah <11 menunjukkan adanya gangguan dan pada kondisi ini, frenotomi perlu dipertimbangkan terutama bila manajemen laktasi tidak berhasil. Frenotomi diperlukan bila skor penampilan lidah <8 dan skor fungsi lidah <11.

Dapat disimpulkan bahwa tongue-tie bisa menjadi bagian normal dari seorang bayi. Jika ditemukan masalah laktasi pada bayi yang memiliki tongue-tie, utamakan manajemen laktasi terlebih dahulu. Evaluasi penampilan dan fungsi lidah dengan menggunakan skor hazelbaker diperlukan untuk menilai kelayakan indikasi tindakan frenotomi.

Terima kasih atas informasinya ya, Dok. Semoga pembahasan mengenai tongue-tieini bisa bermanfaat untuk Ayah dan Ibu Kejora!

 

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://www.childrens.health.qld.gov.au/fact-sheet-tongue-tie-in-babies/

https://www.stanfordchildrens.org/en/service/ear-nose-throat/conditions/ankyloglossia

https://healthychildren.org/English/healthy-living/oral-health/Pages/Tongue-Tie-Infants-Young-Children.aspx

http://www.bhs.org.au/airapps/Services/au/org/bhs/govdoc/files/references/43040.pdf

 

 

Pentingnya Omega 3 untuk Anak

 

 

 

 

oleh dr. Kristina Joy Herlambang, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Keluarga Kejora, tentunya kita seringkali mendengar iklan makanan atau suplementasi tambahan untuk anak berupa “omega-3”, “DHA”, atau “AA”, bukan? Sudahkah Ayah dan Ibu Kejora mengetahui apakah itu, dan apakah manfaatnya bagi perkembangan anak? Yuk, kita bahas lebih lanjut, ya!

 

Sebenarnya apakah omega-3 dan omega-6 itu?

Omega-3 atau docosahexaenoicacid(DHA) dan omega-6 atau arachidonicacid(AA) adalah dua jenis asam lemak yang terdapat dalam otak kita. Keduanya merupakan asam lemak esensial, yang artinya tubuh kita membutuhkan asupan makanan ini dari luar tubuh. Selain merupakan komponen utama penyusun otak, asam lemak esensial juga akan menentukan kualitas sistem saraf di otak, reaksi imun dan reaksi inflamasi. Keseimbangan asupan omega-6 dan omega-3 yang kita dapatkan dari makanan akan berdampak pada perkembangan dan kondisi kesehatan kita. Asam lemak omega-3 dapat ditemukan dalam kadar yang cukup tinggi pada beberapa jenis makanan seperti flaxseed dan ikan.

 

Ada berapa jenis kah asam lemak omega-3 dan omega-6?

Terdapat beberapa jenis asam lemak omega-3, namun biasanya yang menjadi fokus dalam berbagai penelitian adalah asam alfa-linolenat (alpha-linolenic acid, ALA); eciosapentaenoic acid(EPA); dan docosahexaenoic acid(DHA). Sementara, yang termasuk dalam golongan asam lemak omega-6 antara lain: asam linoleat (linoleic acid) dan asam arakidonat (arachidonic acid).

 

Bagaimana hubungan antara ibu hamil yang mengkonsumsi ikan yang merupakan sumber asam lemak omega-3 dengan perkembangan kognitif anak?

Berbagai penelitian menemukan adanya hubungan antara ibu hamil yang mengonsumsi ikan (bahan makanan sumber asam lemak omega-3) selama kehamilannya dengan perkembangan kognitif anak yang baik. Ibu hamil yang mengonsumsi ikan lebih banyak selama kehamilannya terbukti memiliki anak dengan kemampuan sosial dan bahasa yang sangat baik (penelitian dilakukan pada 7421 anak di Inggris saat berusia 15 bulan dan 18 bulan. Penelitian lainnya melihat bahwa anak dari ibu hamil yang jarang mengonsumsi makanan laut (seafood) memiliki IQ yang lebih rendah. Penelitian lain juga menghubungkan konsumsi makanan laut ibu hamil dengan kemampuan sosial anak, kemampuan motorik halus, juga perkembangan bahasa pada anak.

 

Nah, sebenarnya seberapa banyakkah konsumsi omega-3 yang kita butuhkan?

Menurut Institute of Medicine(IOM), Food and Nutrition Board, asupan yang dibutuhkan (adequate intake, AI) berdasarkan populasi sehat adalah sebagai berikut:

 

Asupan Omega-3 yang dibutuhkan berbagai kelompok Usia dan Jenis kelamin

(berdasarkan Adequate Intake, AI)

Usia Laki-laki Perempuan Hamil Menyusui
Lahir – 6 bulan* 0,5 g 0,5 g
7-12 bulan* 0,5 g 0,5 g
1-3 th** 0,7 g 0,7 g
4-8 th** 0,9 g 0,9 g
9-13 th** 1,2 g 1,0 g
14-18 th** 1,6 g 1,1 g 1,4 g 1,3 g
19-50 th** 1,6 g 1,1 g 1,4 g 1,3 g
51+ th** 1,6 g 1,1 g

*sebagai total omega-3

** sebagai ALA

 

Selanjutnya, apa saja bahan makanan yang mengandung omega-3?

ALA dapat ditemukan dalam berbagai minyak tumbuhan seperti flaxseed, kacang kedelai, dan minyak kanola. EPA dan DHA dapat ditemukan dalam ikan, minyak ikan, maupun minyak krill, namun sebetulnya EPA dan DHA ini disintesis oleh microalgae, bukan oleh ikan. Ketika ikan mengonsumsi phytoplanktonyang mengonsumsi microalgae, ikan memiliki endapan omega-3 dalam jaringan tubuhnya sehingga ikan mengandung omega-3.

Makanan Jumlah gram per sajian
ALA DHA EPA
Minyak Flaxseed, 1 sdm 7,26
Chia seeds, 1 ons 5,06
Walnut, 1 ons 2,57
Flaxseed, 1 sdm 2,35
Salmon, Atlantik, farmed, masak, 3 ons 1,24 0,59
Salmon, Atlantik, wild, masak, 3 ons 1,22 0,35
Minyak kanola 1,28
Sarden, kaleng, 3 ons 0,74 0,45
Minyak kedelai, 1 sdm 0,92
Mayones, 1 sdm 0,74
Tiram, eastern, wild, masak, 3 ons 0,14 0,23 0,30
Edamame, beku, ½ cup 0,28
Udang, masak, 3 ons 0,12 0,12
Lobster, masak, 3 ons 0,04 0,07 0,1
Tuna, light, canned in water, 3 ons 0,17 0,02
Scallop, masak, 3 ons 0,09 0,06
Tuna, yellowfin, masak, 3 ons 0,09 0,01
Kacang merah, dalam kaleng, ½cup 0,10
Daging sapi, 85% lean, masak, 3 ons 0,04
Roti, whole wheat, 1 slice 0,04
Telur, masak, 1 butir 0,03
Ayam, dada, bakar, 3 ons 0,02 0,01
Susu, low-fat (1%), 1 cup 0,01

Sumber: U.S. Department of Agriculture’s FoodData Central

 

Berikut ini adalah beberapa jenis ikan yang kaya akan omega-3:

Jenis Ikan EPA DHA
Ikan Salmon 247 983
Ikan Pipih 408 820
Ikan Mas 159 288
Ikan Bandeng 408 176
Ikan Mujair 201 136
Cumi-cumi 56 152

 

Bagaimana cara kita menyiasati agar si kecil mau mengkonsumsi makanan-makanan yang mengadung omega-3?

Tawarkan dan berikan beraneka ragam makanan yang mengandung asam lemak omega-3 daripada langsung memberikan dalam bentuk suplementasi. Sajikan ikan dengan cara yang disukai anak, misalnya dengan saus barbecue madu, teriyaki, dll. Jika si Kecil tidak menyukai ikan, dapat juga diberikan minyak flaxseed yang dicampurkan ke dalam selai kacang untuk sandwich atau smoothie. Flaxseed juga dapat diblender, dimasukkan dalam roti, sup, bahkan dalam tepung bumbu untuk membuat ayam masak goreng tepung. Chia seeds dapat digunakan sebagai topping untuk pudding, maupun dicampurkan dalam buah atau snack anak lainnya.

 

Lalu, bagaimana dengam suplementasi Omega-3?

Asam lemak omega-3 dapat ditemukan dalam berbagai formulasi suplemen termasuk minyak ikan, minyak krill, minyak ikan kod, juga produk vegetarian yang mengandung minyak algae (ganggang). Biasanya, satu sajian suplementasi minyak ikan mengandung 1000 mg minyak ikan dengan 180 mg EPA dan 120 mg DHA. Selain omega-3, sediaan suplementasi minyak ikan kod juga mengandung vitamin A dan vitamin D. Memang makanan laut (seafood) seringkali dikhawatirkan mengandung methyl mercury (logam berat yang beracun), namun dalam suplemen omega-3 tidak ditemukan kontaminan ini karena biasanya sudah dipisahkan saat pemrosesan dan pemurnian minyak ikan.

 

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Referensi:

  • Office of Dietary Supplements, National Institute of Health
  • Gonzalez FE & Báez RV. In Time: Importance of Omega 3 in Children’s Nutrition. 2017.

 

 

 

 

Sudah Benarkah Tidur Bayi Anda?

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Halo, Ayah dan Ibu! Tahukah Anda bahwa ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan tidur bagi bayi baru lahir? Bolehkah bayi baru lahir tidur di tempat tidur yang sama dengan orang tuanya? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut ada di artikel berikut ini. Yuk, kita simak.

Pada bayi baru lahir, posisi tidur yang benar perlu diperhatikan. Hal ini terutama dilakukan untuk mencegah kejadian sudden infant death syndrome (SIDS). SIDS adalah kejadian meninggal mendadak tanpa sebab yang jelas pada bayi. SIDS biasanya terjadi pada bayi di bawah 6 bulan. Bayi dengan riwayat kelahiran prematur atau bayi dengan berat lahir rendah (< 2,5 kg) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami SIDS dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup bulan dengan berat badan yang baik.

Selain mencegah SIDS, posisi tidur yang benar untuk bayi perlu diatur untuk mencegah kejadian kematian bayi yang berhubungan dengan posisi atau cara tidur (misalnya, terbekap, cedera). Mengenai lingkungan tidur untuk bayi, American Academy of Pediatrics (AAP) merekemondasikan beberapa hal sebagai berikut:

  • Posisikan bayi tidur terlentang sampai usianya kurang lebih 1 tahun. Tidur dalam posisi tengkurap atau menyamping tidak disarankan karena posisi ini dinilai kurang aman bagi bayi. Usia 1 tahun menjadi batasan karena di usia tersebut bayi sudah dapat berubah posisi dari tengkurap ke terlentang atau sebaliknya dengan mudah.
  • Alas tidur bayi sebaiknya menggunakan kasur yang padat dan dilapisi kain yang ukurannya sesuai dengan kasur. Penggunaan bantal dan guling atau meletakkan boneka atau benda lunak lainnya tidak disarankan hal-hal tersebut meningkatkan risiko bayi terbekap saat tidur.
  • Tidak menyelimuti bayi dengan selimut yang tebal atau berlapis-lapis. Selimut hanya boleh diposisikan tidak lebih tinggi dari bahu. Selain itu, pastikan juga suhu ruangan tidak terlalu panas untuk bayi karena dapat menyebabkan bayi menjadi gelisah.
  • Posisikan bayi di tempat tidur dengan kaki bayi menyentuh ujung tempat tidurnya.
  • Tidak disarankan untuk menidurkan bayi di tempat tidur yang sama dengan Ayah dan Ibu, terutama jika Ayah atau Ibu adalah perokok atau sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menimbulkan rasa kantuk yang berlebihan.

Semoga informasi di atas dapat membantu Ayah dan Ibu untuk menghindari bayi dari risiko SIDS!

Sumber:

https://www.nhs.uk/conditions/sudden-infant-death-syndrome-sids/

https://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/reducing-risk-cot-death/

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/bolehkah-bayi-tidur-tengkurap-di-rumah

https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/Pages/American-Academy-of-Pediatrics-Announces-New-Safe-Sleep-Recommendations-to-Protect-Against-SIDS.aspx

Apakah Perdarahan Subkonjungtiva pada Anak Berbahaya?

 

 

 

oleh dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM

Dokter Spesialis Mata

 

Halo ayah dan ibu Kejora. Apa kabar keluarga sehat Kejora?

Bulan September ini topik mata yang akan dibahas adalah tentang perdarahan subkonjungtiva.

Apakah ayah dan ibu kejora tahu tentang perdarahan subkonjungtiva ?

Kenapa saya mengangkat topik ini karena kelainan ini sering membuat orang-orang khawatir apalagi bila terjadi pada anak kita sendiri. Kelainan ini dapat terjadi tiba-tiba tanpa disadari dan karena kelainan ini tidak terasa nyeri/sakit dan tidak mengakibatkan penurunan penglihatan kadang anak tidak menyadari namun orang lain seperti orang tua atau guru di sekolah yang panik melihat mata anak tiba-tiba tampak berdarah di bagian putihnya. Perdarahan subkonjungtiva ini terjadi pada lapisan di bawah konjungtiva (antara konjungtiva dan episklera). Pada lapisan tersebut banyak terdapat pembuluh darah sehingga apabila terjadi gesekan dapat pecah dan timbul perdarahan. Ayah dan ibu kejora yuk mari kita bahas apa itu perdarahan subkonjungtiva, penyebabnya dan faktor risiko apa saja dan bagaimana penanganannya.

Apa yang dimaksud perdarahan subkonjungtiva ?

Perdarahan subkonjungtiva merupakan suatu keadaan pecahnya pembuluh darah pada lapisan antara konjungtiva dan episklera. Kelainan ini timbul tiba-tiba/akut, tanpa disertai nyeri dan buram pada mata. Insiden perdarahan subkonjungtiva ini dilaporkan sebesar 2.9% diantara 8726 pasien dan meningkat seiring dengan pertambahan usia banyak ditemukan pada sisi temporal mata. Perdarahan subkonjungtiva dikatakan lebih banyak ditemukan pada laki-laki pada tipe traumatik dan pada perempuan pada perdarahan subkonjungtiva non traumatik. Meskipun dari kepustakaan dikatakan lebih banyak terjadi pada usia dewasa tua namun kondisi ini cukup membuat kepanikan terutama bila terjadi pada anak-anak.

 

Gambar 1. Gambaran lapisan konjungtiva pada mata normal

Apa penyebab dari perdarahan subkonjungtiva?

Penyebab perdarahan subkonjungtiva antara lain :

  1. Trauma mekanik (paling sering) àterkena benturan mainan, tersikut teman saat bermain , terkena lemparan bola, terpukul, terbentur, ataupun mengucek mata
  2. Infeksi konjungtiva /konjungtivitis
  3. Batuk kencang
  4. Bersin
  5. Muntah
  6. Mengedan/mengejan
  7. Mengangkat barang berat

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kelainan ini sebetulnya lebih banyak ditemukan pada usia dewasa-tua. Sehingga ada beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan perdarahan subkonjungtiva ini antara  lain :

  1. Tekanan darah tinggi
  2. Kencing manis
  3. Konsumsi obat pengencer darah (aspilet, aspirin, clopidogrel, Plavix)
  4. Gangguan jantung
  5. Gangguan darah

Apa saja tanda dan gejala dari perdarahan subkonjungtiva?

  1. Gambaran perdarahan/merah darah pada bagian putih mata
  2. Tidak terasa sakit
  3. Tidak mengganggu penglihatan
  4. Terjadi secara tiba-tiba (setelah trauma atau penyebab lain)

Gambar 2. Gambaran perdarahan subkonjungtiva yang ringan (sebagian konjungtiva)

Gambar 3. Gambaran perdarahan subkonjungtiva yang berat (seluruh konjungtiva)

Bagaimana menangani perdarahan subkonjungtiva pada anak?

Ayah dan ibu kejora, perdarahan konjungtiva ini memang tidak sering terjadi namun seperti yang saya tuliskan di atas kondisi ini cukup mengakibatkan kepanikan pada setiap orang yang mengalaminya terutama bila terjadi pada anak-anak.

Sebenarnya perdarahan subkonjungtiva ini dapat sembuh sendiri tanpa obat namun membutuhkan waktu yang tidak cepat yaitu kurang lebih 14 hari atau 2 minggu. Mekanismenya adalah darah pada lapisan subkonjungtiva tersebut akan diserap perlahan oleh tubuh kita sendiri. Terapi-terapi yang diberikan bertujuan untuk mempercepat terjadinya penyerapan dari darah tersebut. Terapi yang biasa diberikan oleh dokter mata adalah terapi konservatif antara lain :

  1. Air mata buatan/ Artificial tears
  2. Antibiotik tetes : untuk mencegah infeksi sekunder
  3. Agen-agen untuk pembekuan darah : asam traneksamat
  4. Obat untuk mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriktor)

Gambar 3. Gambaran kuning pada bagian atas konjungtiva menunjukkan proses penyerapan/penyembuhan

Jadi ayah dan ibu Kejora jangan panik bila menemukan mata anak tampak berdarah setelah bermain/jatuh, tetap tenang dan segeralah bawa ke dokter mata untuk memastikan kondisi tersebut

Referensi :

  1. Keskek NS, Cevher S, Ergin A. Analysis of subconjunctival hemorrhage. Pak J Med Sci 2013; 29(1):132-4
  2. Tarlan B, Kiratli H. Subconjunvtival haemorrhage : risk factor and potential indicators. Clinical ophthalmol 2013;7 : 1163-70
  3. Oxford eye hospital staff. Subconjunctival haemorrhage. 2009. Available from : https://www.ouh.nhs.uk/patient-guide/leaflets/files/100322haemorrhage.pdf
  4. Manchester university staff. Subconjunctival haemorrhage. 2017. Available from : https://mft.nhs.uk/app/uploads/sites/2/2018/04/REH-104.pdf

Permen untuk Anak?

 

 

 

 

oleh dr. Arti Indira, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Halo Keluarga Kejora…

Anak-anak dilahirkan dengan preferensi untuk rasa manis. Telah diketahui bahwa cairan ketuban dan juga pada ASI memiliki rasa yang manis. Paparan alami di dalam rahim dan ASI, menjelaskan bagaimana preferensi rasa manis dimulai. Penelitian juga menunjukkan bahwa bayi mengalami relaksasi dan ketenangan setelah mencicipi sesuatu yang manis.

Paparan awal terhadap makanan manis tidak hanya menyebabkan peningkatan preferensi untuk anak-anak, tetapi juga preferensi untuk kadar gula yang lebih tinggi dalam makanan. Respons kesenangan di otak diaktifkan oleh makanan yang sangat enak, seperti yang mengandung gula, lemak, dan garam. Komponen makanan ini memicu bahan kimia otak yaitu dopamine yang memberikan efek kesenangan untuk tubuh. Begitu anak-anak mengalami kesenangan dari makan makanan tertentu, mereka mungkin merasakan keinginan untuk memakannya lagi.

Di Indonesia banyak terdapat permen dan manisan yang tersedia untuk anak-anak, yang seringkali menggunakan bahan pewarna makanan. BPOM telah mengatur dan menjamin keamanan pewarna makanan buatan yang beredar, sehingga makanan dengan pewarna makanan dianggap aman untuk dikonsumsi.

Namun, beberapa anak dapat mengalami perubahan perilaku, seperti hiperaktif, ketika mereka mengkonsumsi makanan dengan warna makanan buatan. Apalagi anak dengan  ADHD, mungkin saja mengalami perilaku yang memburuk ketika makan makanan dengan pewarna makanan.

Seorang anak yang menunjukkan perubahan perilaku ketika dia makan permen, tidak selalu disebabkan oleh gula saja, walaupun memang seringkali gula menjadi pemicu utama. Asupan gula yang tinggi akan meningkatkan kadar dopamin dalam tubuh,  lalu dengan cepat turun ketika kadar gula darahnya merosot. Penurunan gula darah yang cepat ini dapat menimbulkan perubahan perilaku seperti mengamuk, berakting, merengek, atau perilaku negatif lainnya. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa anak tampak lebih sensitif terhadap gula dibandingkan anak lainnya.

Permen tentu saja meningkatkan total kalori asupan dalam diet anak, tetapi hanya memberikan sedikit nutrisi. Rekomendasi gula untuk anak-anak adalah dari 3 hingga 8 sendok teh gula setiap hari, tergantung pada usia. Kenyataannya, sekarang anak yang berusia kurang dari 1 tahun dapat mengkonsumsi gula 3-4 kali lipat dari rekomendasinya. Bahkan jumlah konsumsi gula ini dapat mencapai 21 sendok teh per hari untuk usia 4 -8 tahun dan 34 sendok teh per hari untuk remaja.

Selain gula dalam permen, perhatikan juga gula tersembunyi dalam makanan anak-anak sehari-hari yang tampak dan dipasarkan sebagai jenis makanan sehat seperti yoghurt buah, jus buah, saus buah MPASI, saus spageti, sereal, dan granola.

Gula tersembunyi tersebut tentu saja juga menambah total kalori harian untuk anak.

Strategi terbaik untuk mengendalikan asupan permen (gula) untuk anak adalah dengan memiliki kebijakan di rumah Anda masing-masing. Idealnya, pemberian permen dan makanan/minuman tinggi gula sudah direncanakan kapan akan disajikan, dengan menentukan frekuensi dan jumlah yang boleh dikonsumsi sehingga kesehatan anak tidak terganggu.

Editor: dr. Kristina Joy Herlambang, Sp.GK

Noise Induced Hearing Loss (NIHL)

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Hai, Keluarga Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejora sudah pernah mendengar tentang Noise Induced Hearing Loss?

Noise Induced Hearing Loss (NIHL) adalah gangguan pendengaran yang disebabkan karena paparan bising yang berlebihan. Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai gangguan tersebut, mari kita lihat dulu struktur telinga secara keseluruhan!

Telinga terdiri dari 3 bagian besar, yaitu telinga bagian luar, tengah dan dalam. Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga. Gendang telinga membatasi telinga bagian luar dan tengah. Pada telinga bagian tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang berfungsi menghantarkan getaran bunyi yang diterima oleh gendang telinga. Pada telinga bagian dalam terdapat organ pendengaran yang disebut koklea yang terdiri dari sel-sel rambut yang berhubungan dengan saraf pendengaran yang akan berjalan membawa informasi bunyi yang diterima ke otak.

Gambar 1. Anatomi telinga

Terdapat 2 mekanisme utama yang terjadi pada NIHL, yaitu:

  1. Gangguan pendengaran karena trauma akustik akibat paparan bunyi yang sangat keras dapat merusak gendang telinga atau tulang-tulang pendengaran secara langsung, misalnya bising di daerah perang
  2. Gangguan pendengaran karena rusaknya struktur-struktur pada telinga bagian dalam, terutama sel rambut di dalam koklea serta saraf pendengaran. Sel rambut (stereocilia) pada koklea akan kehilangan rigiditas dan bentuknya akan melebar apabila terus menerus terpapar oleh intensitas bunyi yang tinggi.

Gambar2. Gambaran sel rambut yang normal dan sel rambut yang rusak akibat paparan bising

Noise Induced Hearing Loss ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, melainkan dapat juga terjadi pada anak-anak. Kejadian NIHL pada anak saat ini meningkat seiring dengan berkembangnya industri musik dan hiburan yang tersedia untuk anak-anak dan remaja. Banyak tempat-tempat dan perangkat hiburan yang menghasilkan bunyi yang tinggi.

Gejala-gejala yang dapat diwaspadai antara lain:

  1. Telinga berdenging setelah berada di tempat dengan musik yang bising
  2. Anak perlu mengeraskan volume saat sedang nonton TV untuk mendengar lebih jelas
  3. Anak tidak dapat memahami lawan bicara apabila terdapat bising di sekitar
  4. Anak perlu duduk di dekat guru di kelas untuk dapat mendengar lebih jelas
  5. Anak merasa lawan bicara atau orang di sekitar bicara terlalu cepat atau seperti bergumam

Berikut beberapa contoh intensitas bunyi yang dihasilkan oleh beberapa perangkat serta berapa lama telinga dapat terpapar oleh bunyi tersebut tanpa menggunakan alat pelindung telinga:

Desibel Berapa lama telinga dapat terpapar tanpa alat pelindung Contoh sumber bunyi
130++ Melebihi batas kemampuan telinga Bom, pesawat jet lepas landas
120 Berbahaya ! Klub dansa
115 Kurang dari 1 menit Konser musik, arena olah raga
109 Kurang dari 2 menit Klakson mobil, gergaji listrik
106 3,75 menit Pemutar CD/MP3 portabel (volume tinggi)
100 15 menit Pesta dansa sekolah, mesin pabrik
97 30 menit Mainan berbunyi, motor
94 1 jam Bor elektrik
91 2 jam Suara teriak, blender, traktor, mesin pemotong rumput
85 8 jam Vacuum cleaner
55 aman Suara bicara normal

Nah, sekarang keluarga Kejora sudah tahu ‘kan bahwa bunyi yang berlebihan ternyata tidak aman untuk telinga kita. Untuk menghindari kerusakan telinga akibat bunyi, maka kita perlu menghindari tempat-tempat yang kira-kira menghasilkan bunyi yang mengganggu  atau menggunakan alat pelindung telinga saat mendengar bunyi yang keras.

Sumber:

  1. Harrison, Robert V. “Noise-induced hearing loss in children: A ‘less than silent’ environmental danger.” Paediatrics & child health vol. 13,5 (2008): 377-82. doi:10.1093/pch/13.5.377
  2. Harrison, Robert V. “The prevention of noise induced hearing loss in children.” International journal of pediatrics vol. 2012 (2012): 473541. doi:10.1155/2012/473541

Editor: drg. Rizki Amalia

Mengasuh anak yang memasuki masa “Threenager”

 

 

 

oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Saat anak berusia dua tahun tentunya Ayah dan Ibu senang dengan perkembangan bahasa anak. Umumnya, pada usia satu hingga dua tahun adalah usia dimana anak bisa berbicara satu kata dengan utuh untuk pertama kalinya. Sementara itu, pada usia dua hingga tiga tahun adalah usia dimana anak banyak bertanya mengenai nama benda di sekitarnya, cara kerja benda yang dilihatnya, dan berbagai hal. Memasuki usia tiga tahun, atau yang biasa disebut usia threenager, mulai terlihat perbedaan pada perkembangan anak. Pada usia ini, terdapat beberapa ciri utama anak yang membuat mereka seperti usia remaja.

Pertama, anak yang sudah dapat berkomunikasi dua arah dengan lancar mulai meningkatkan rasa ingin tahu yang dimilikinya dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Salah satunya terlihat dari jenis permainan yaitu berubah dari bermain sendiri menjadi bermain dengan melibatkan teman lain, baik terlibat secara tidak langsung (parallel play), maupun secara langsung meskipun dengan jalan cerita masing-masing (associative play). Anak juga mulai mempelajari aturan dan norma di sekitarnya. Dalam mempelajari aturan ini, tidak jarang ditemui anak menjadi senang melakukan argumen. Penting bagi orangtua untuk memfasilitasi keinginan eksplorasi anak, namun tetap memberikan batasan sesuai dengan aturan yang ingin diterapkan pada anak.

Kedua, anak pada usia ini sangat ingin berusaha untuk mencoba berbagai hal dengan usaha sendiri. Tak jarang dalam melakukan aktivitas yang tadinya dibantu atau bersama dengan orangtua, sekarang anak menjadi ingin untuk mencoba melakukannya sendiri. Hal ini merupakan hal yang baik bagi perkembangan anak, dan orangtua sebaiknya memfasilitasi anak dengan memberikan bantuan dengan teknik scaffolding. Orangtua melihat sejauh mana kemampuan yang dimiliki anak saat ini, dan memberi sedikit bantuan agar anak dapat menguasai kemampuan yang satu level lebih sulit. Misalnya, saat anak sudah dapat menggosok badan menggunakan sabun, namun, belum dapat membilas tubuh dengan bersih. Maka hal yang harus dibantu oleh orangtua yaitu memperhatikan bagian tubuh yang terdapat lipatan atau mempunyai potensi kurang bersih saat anak membilasnya.

Ketiga, anak mulai memiliki preferensi dalam berbagai hal yang terkadang menyulitkan orangtua. Jika anak sudah mulai menunjukkan bahwa ia memiliki preferensi, maka hal tersebut menunjukkan anak berani memberikan pilihan, dapat mengekspresikan diri melalui hal yang disukainya. Orangtua dapat membiarkan anak memilih, namun anak diminta untuk membantu menyiapkan atau membuat sesuai dengan preferensinya. Misalnya : saat anak ingin makan roti yang dibakar terlebih dahulu sebelum diolesi selai cokelat. Tujuannya agar anak mengetahui usaha yang dibutuhkan untuk menyiapkan hal yang diinginkannya, dan agar ia lebih memiliki komitmen untuk menghabiskan makanan tersebut.

Meskipun pada tahap usia ini muncul berbagai hal baru yang menantang bagi oragntua, namun jika kita menjadikan moment ini sebagai moment anak untuk belajar, ternyata bisa sangat berguna lho.

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Mengenal Lebih Jauh tentang Mouth Breathing

 

 

 

 

oleh dr. Natasha Supartono, Sp.THT

Dokter Spesialis Telinga-Hidung-Tenggorokan

Halo, Keluarga Sehat Kejora!

Akhir-akhir ini, kalau kita simak di media sosial sedang viral mengenai mouth breathing. Sebenarnya mouth breathing itu apa, ya? Yuk, kita bahas tentang mouth breathing!

Mouth breathing merupakan istilah dari suatu keadaan bernapas melalui mulut. Manusia pada dasarnya diciptakan untuk bernapas melalui hidung. Udara yang masuk melalui hidung akan melalui proses penyaringan dan pengaturan kelembapan terlebih dahulu sebelum masuk ke paru-paru. Apabila ada kondisi yang menyebabkan hidung tersumbat, mulut akan terbuka sebagai mekanisme kompensasi untuk membantu kerja hidung, maka terjadilah proses bernapas melalui mulut. Udara yang masuk melalui mulut tidak mengalami proses penyaringan dan pengaturan kelembapan terlebih dahulu sehingga udara yang masuk ke dalam paru-paru melalui mulut tidak sebaik udara yang masuk melalui hidung.

Kondisi “mouth breathing” atau “bernapas melalui mulut” ini dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa. Penyebab pada anak dapat disebabkan oleh adanya sumbatan hidung misalnya pada rinosinusitis akut, rinosinusitis kronis, rinitis alergi, septum deviasi, pembesaran tonsil yang terletak di belakang hidung (hipertrofi adenoid), serta beberapa kelainan struktur wajah bawaan. Pada dasarnya, kondisi tersebut menyebabkan anak tidak dapat bernapas secara optimal melalui hidung karena terdapat sumbatan sehingga mulut terbuka ketika bernapas.

 

Mouth breathing yang kronis pada anak paling sering disebabkan oleh hipertrofi adenoid, hal ini menyebabkan terjadinya perubahan struktur wajah yang disebut facies adenoid. Perubahan struktur wajah yang terjadi antara lain:

  • Bagian puncak hidung mengecil, bibir atas memendek
  • Mulut terbuka, wajah memanjang
  • Perubahan sudut rahang bawah
  • Rahang bawah bagian depan mengecil menyebabkan ekspresi yang
  • kosong pada wajah
  • Gigi bagian atas menonjol dengan langit-langit yang meninggi
  • Pertumbuhan gigi bertumpuk karena rahang atas menyempit
  • Gigi seri menonjol

Keadaan mouth breathing ini erat kaitannya dengan gangguan pernapasan pada jalan napas atas saat tidur yaitu Sleep Disorder Breathing (SDB) yang kemudian dapat menjadi Obstructive Sleep Apnea (OSA). Sleep Disorder Breathing (SDB) ini ditandai dengan adanya ngorok dan/ atau peningkatan usaha napas karena adanya peningkatan resistensi pada jalan napas atas. Obstructive Sleep Apnea (OSA) ditandai dengan adanya periode henti napas selama lebih atau sama dengan 10 detik dan adanya peningkatan usaha napas yang terjadi sampai terbangun. Keadaan-keadaan gangguan tidur ini mengganggu pola tidur anak serta menyebabkan turunnya kadar oksigen di dalam tubuh sehingga menyebabkan anak kelelahan dan mengalami gangguan pertumbuhan.

Nah, artikel ini menambah informasi ayah dan ibu mengenai mouth breathing dan beberapa kaitannya dengan keadaan medis lain, ya. Jika si kecil mengalami beberapa gejala atau keadaan yang disebutkan di atas, segera konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

Mengenali Skoliosis

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Halo Ayah dan Ibu Kejora Indonesia.

Ayah dan Ibu pasti sudah pernah mendengar mengenai skoliosis, ya? Mungkin dulu saat masih di bangku sekolah, saat kita mendapatkan pelajaran IPA. Nah, untuk Ayah dan Ibu yang belum tahu dan penasaran sebenarnya skoliosis itu apa sih, mari simak artikel berikut ini.

Apakah Skoliosis itu?

Skoliosis adalah suatu kondisi dimana tulang belakang tidak lurus atau bengkok. Skoliosis cukup banyak terjadi pada anak, terutama yang sedang dalam masa pertumbuhan (growth spurt). Pada masa ini anak-anak tumbuh dengan pesat. Gangguan pada masa ini dapat menimbulkan risiko terjadinya kelainan pada batang tubuh (trunk) anak, termasuk pada tulang belakang. Salah satu risiko tersebut adalah Skoliosis atau yang kita kenal dengan Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS).

Kelainan skoliosis terjadi apabila derajat kemiringan tulang belakang kita lebih dari sepuluh derajat. Derajat tersebut dinilai dari arah belakang melalui pemeriksaan foto roentgen vertebra (tulang belakang). Skoliosis memiliki tiga derajat berdasarkan sudut kemiringannya yang disebut sebagai sudut Cobb. Derajat Ringan apabila sudut Cobb di bawah 20 derajat. Derajat sedang apabila sudut Cobb antara 20-40 derajat. Sedangkan derajat berat apabila sudut Cobb lebih dari 40 derajat.

Apakah skoliosis itu berbahaya?

Ayah dan Ibu, skoliosis itu sebenarnya tidak berbahaya, namun skoliosis dapat menimbulkan beberapa kondisi. Kondisi tersebut antara lain gangguan pernapasan, keterbatasan aktivitas fisik serta beberapa keluhan lain seperti nyeri, rasa pegal, cepat lelah, ataupun kelumpuhan pada anak.

Lalu, bagaimanakah cara mendeteksi Skoliosis?

Sebenarnya skoliosis bisa dideteksi sejak dini, sebelum derajat kemiringannya bertambah berat. Ayah dan Ibu bisa memeriksa tulang belakang anak dengan cara melihat dari arah belakang tubuh anak, yaitu apakah tulang belakang anak lurus posisinya dari atas hingga bawah. Cara mendeteksinya dimulai dari area leher, punggung, pinggang, sampai tulang ekornya. Selain itu, Ayah dan Ibu juga dapat membandingkan ketinggian bagian-bagian tubuh anak antara sisi kanan dan kiri seperti area bahu, tulang belikat, panggul, ataupun lutut. Penting untuk membandingkan apakah kedua sisi kanan dan kiri anak sama tingginya di beberapa area tersebut, atau apakah terjadi perbedaan tinggi di area tertentu yang dapat dicurigai sebagai skoliosis.

Bagaimanakah perawatan Skoliosis?

Tatalaksana skoliosis anak tergantung dari derajat skoliosisnya. Pada derajat ringan, anak disarankan untuk melakukan olahraga atau latihan peregangan dan latihan penguatan pada otot-otot tulang belakang yang bermasalah. Untuk skoliosis derajat sedang, disarankan penggunaan alat bantu pada tulang belakang yang disebut sebagai brace, brace memiliki bermacam jenis sesuai indikasi medis, di samping anak harus tetap aktif melakukan latihan. Sedangkan untuk derajat berat, terkadang diperlukan tindakan operasi untuk mengoreksi letak tulang belakangnya. Selain itu diperlukan penggunaan brace paska operasi dan latihan peregangan dan penguatan otot-otot tulang belakang.

Nah Ayah dan Ibu Kejora, ingat untuk mengecek tulang belakang anak sejak dini ya.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya..

Editor: drg. Sita Rose Nandiasa

SUMBER:

  1. Staheli, Lynn T. Fundamentals of Pediatric Orthopedics. 4th edition. Philadeplhia: Lippincott Williams&Wilkins. 2008.
  2. Molnar GE, Alexander MA. Pediatric Rehabilitation. 3th edition. Philadeplhia: Hanley&Belfus Inc. 1999.