Aktif Bergerak Bersama Anak di Masa Pandemi

 

 

 

 

 

oleh dr. Selly Christina Anggoro, SpKFR

Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

 

Masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode kritis dalam membentuk keterampilan motorik, sensorik serta membangun fondasi yang kuat untuk kesehatan fisik dan mental. Pada masa ini, terjadi perkembangan fisik dan kognitif yang pesat dimana kebiasaan anak terbentuk, berubah, dan terus beradaptasi. Aktivitas fisik yang rutin akan meningkatkan kesehatan dan kebugaran. Durasi kondisi fisik yang aktif dan non-aktif (tidur, sedentary) yang seimbang dan teratur dapat menjamin baiknya kualitas kesehatan fisik dan mental.

Selama pandemi Covid-19, sesuai anjuran Pemerintah, dilakukan physical distancing (dikenal juga sebagai social distancing atau safe spacing) untuk mencegah penyebaran penyakit di komunitas. Dengan adanya physical distancing ini berarti anak harus membatasi kontak dengan orang lain, termasuk tidak bersekolah, diadakannya kelas virtual atau pekerjaan rumah (PR). Olahraga atau bermain outdoor juga harus dibatasi, interaksi sosial hanya bisa dilakukan secara virtual, baik melalui telepon seluler, komputer, atau video games.

Tantangan bagi orangtua adalah untuk menjaga anak tetap aktif dan sehat, agar daya tahan tubuh baik dan tahan terhadap penyakit. Perilaku hidup sehat juga penting untuk mengurangi risiko depresi dan kecemasan yang dapat timbul akibat isolasi diri di rumah.

 

Mengapa anak tetap harus aktif bermain di masa Pandemi Covid-19 ini?

Pentingnya anak tetap melakukan aktivitas fisik dan bermain pada masa pandemi ini adalah sbb:

  • Membantu melalui proses “new normal” selama masa yang penuh ketidakpastian.
  • Bermain penting untuk membantu anak menjalani proses respon emosi terhadap tantangan dan stress.
  • Aktivitas fisik outdoor dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam mengontrol keinginan dan kemampuan, serta membangun keterampilan fisik dan emosi.
  • Bermain dan aktivitas fisik dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih “sehat” dibandingkan dengan hanya sedentary screen time. Selain itu memperbaiki kualitas tidur akibat keluarnya energi yang optimal selama anak aktif bermain.

 

Bagaimanakah rekomendasi aktivitas fisik menurut WHO?        

WHO merekomendasikan durasi waktu yang dibutuhkan oleh anak-anak dalam melakukan aktivitas fisik bagi anak usia kurang dari 1 tahun adalah 30 menit. Untuk anak berusia 1-5 tahun adalah selama 180 menit (3 jam). Sedangkan untuk anak usia 6-17 tahun sebanyak 60 menit.

Berikut ini adalah manfaat aktivitas fisik bagi anak secara umum menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO):

  • Membangun jaringan muskuloskeletal (tulang, otot, dan sendi) yang sehat.
  • Membangun sistem kardiovaskuler (jantung, paru) yang sehat.
  • Meningkatkan keseimbangan, koordinasi, dan kontrol gerak saraf dan otot (neuromuskuler).
  • Menjaga berat badan yang optimal.
  • Meningkatkan fungsi kognitif dari otak.
  • Efek psikologis: mengontrol gejala kecemasan dan depresi (fun and happy).
  • Perkembangan sosial (membangun percaya diri, kemampuan ekspresi diri, interaksi sosial, dan integrasi).

 

(Gambar Rekomendasi WHO)

 

 

 

Apakah ada latihan fisik tertentu untuk anak?

Tubuh anak terdiri dari ratusan tulang dan otot yang diatur oleh begitu banyak saraf dan dikontrol oleh otak. Otak berfungsi sebagai programmer dari gerakan-gerakan tersebut. Dalam buku Physical Activity Guidelines for Americans, dikatakan bahwa jenis aktivitas fisik pada anak dapat berupa latihan aerobik, latihan penguatan otot dan tulang, latihan fleksibilitas, serta latihan keseimbangan yang akan banyak melatih otot-otot besar demi meningkatkan keterampilan motorik kasar anak.

Latihan aerobik disebut juga aktivitas daya tahan atau kardio. Menggunakan otot-otot besar tubuh yang bergerak dalam gerakan ritmis dalam suatu periode waktu tertentu. Contoh aktivitas pada anak misalnya berjalan, berlari, lompat tali, bersepeda, berbaris atau berjalan di tempat, dan berenang. Aktivitas bermain pura-pura, seperti mencari harta karun, latihan halang rintang dengan barang-barang yang ada di dalam rumah, serta membersihkan mainan dengan menggunakan balon panjang yang diletakkan di depan wajah sehingga menyerupai seekor gajah juga dapat dijadikan contoh untuk jenis latihan ini.

Latihan penguatan otot dan tulang mencakup latihan resistensi (tahanan) dan weight lifting (angkat beban). Pada latihan ini, otot tubuh bekerja atau menahan beban dengan melawan suatu gaya atau berat tertentu. Dapat dilakukan dengan mengangkat benda (barbel, dll) selama beberapa kali pengulangan untuk grup otot tertentu atau dengan menggunakan tali elastis khusus. Selain itu dapat pula dengan cara menahan berat badan sendiri, seperti halnya berlari, naik turun tangga, memanjat pohon, push-up, jongkok bangun (squatting), dan jumping jacks.

Latihan fleksibilitas seperti halnya stretching atau latihan kelenturan dapat meningkatkan kemampuan sendi dalam bergerak melalui lingkup gerak sendi yang penuh. Pada anak-anak umumnya tingkat kelenturan sendi masih cukup baik, namun demikian dengan jenis latihan ini, akan semakin meningkatkan elastisitas jaringan tubuh dan performa anak dalam melakukan aktivitas. Bermain yoga dengan berbagai pose binatang, seperti halnya kupu-kupu, macan, sapi, ular, dan lain-lain dapat menjadi alternative untuk jenis latihan ini.

Latihan keseimbangan dapat memperbaiki kemampuan menahan gaya yang berada di dalam ataupun di luar tubuh, sehingga tidak terjatuh saat diam ataupun bergerak. Contoh aktivitas ini misalnya berjalan mundur, berdiri pada satu kaki, lompat kelinci, berdiri dengan menggunakan wobble board atau papan titian yang dibuat sendiri dari barang di sekitar rumah. Latihan penguatan pada otot punggung, perut dan kaki juga dapat memperbaiki keseimbangan, karena selain berfokus pada penguatan otot juga membantu meningkatkan kerja organ proprioseptif pada tubuh anak.

 

Jadi, cukup banyak kan jenis aktivitas fisik anak yang tetap dapat dilakukan di rumah meskipun pada masa pandemi ini? Artinya berada di rumah, bukan berarti kita harus membatasi gerak anak, namun kita sebagai orangtua tetap harus memberikan kesempatan anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik “bermain“ yang bervariasi, aman, dan menyenangkan sesuai dengan usianya.

Stay safe and healthy!!

 

Editor              : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Pergi ke Dokter Jantung saat Pandemi Covid-19, Kapan Waktu yang Tepat?

oleh dr. Adelin Dhivi Kemalasari, BMedSci, SpJP, FIHA

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

 

Halo, keluarga Kejora. Semoga selalu dalam keadaan sehat dan semangat ya walaupun #dirumahaja. Mungkin beberapa Ayah dan Ibu Kejora memiliki kerabat dengan penyakit jantung dan sempat mengalami kebingungan selama pandemi ini, mengingat himbauan untuk membatasi aktivitas luar rumah yang non-esensial, termasuk menunda kunjungan ke dokter, kecuali mengalami beberapa kondisi darurat.

Sebelum kita membahas mengenai kunjungan ke dokter jantung selama pandemi, perlu diketahui mengapa pasien dengan penyakit jantung termasuk dalam golongan yang rentan untuk mengalami gejala yang berat saat mengalami infeksi, termasuk Covid-19 ini. Pada pasien jantung, sudah terdapat abnormalitas struktur dan/atau fungsi (kekuatan) jantung. Pada keadaan stabil tanpa infeksi saja, kemampuan fisik pasien sudah berkurang dan terbatas karena keluhan sesak nafas dan/atau nyeri dada yang dirasakan pasien. Dalam keadaan infeksi virus maupun bakteri yang menyerang saluran napas secara umum, keadaan demam akan menyebabkan metabolisme meningkat, kebutuhan oksigen bertambah, produksi lendir di saluran nafas dapat merangsang refleks batuk lebih banyak. Kumpulan keadaan ini akan membuat pasien jantung yang awalnya stabil menjadi merasakan keluhan yang lebih berat, lebih cepat mengalami perburukan kondisi yang akibatnya penyembuhan akan lebih sulit dan risiko kematian lebih tinggi.

Lalu bagaimana dengan pasien yang sebelumnya rutin berobat ke poliklinik jantung? Apakah semua kunjungan ke dokter harus ditunda termasuk menunda obat – obatan rutin?

Pasien dengan penyakit jantung sebaiknya tetap menjaga kondisi jantung agar selalu stabil dan terkontrol, dengan cara tetap melanjutkan obat – obatan rutin tanpa perubahan. Bila persediaan obat rutin mendekati habis, ikuti waktu kontrol sesuai instruksi dokter. Tetap jaga kekebalan tubuh dengan mencukupi nutrisi dengan gizi yang seimbang, rutin mengkonsumsi buah dan sayur mayur, hindari stress, istirahat yang cukup, olahraga dengan intensitas ringan-sedang dengan durasi 20-30 menit, secara teratur 3-4x/minggu. Tidak perlu melakukan olahraga yang melelahkan. Dapat juga melakukan jalan cepat, berlari, bersepeda santai, bahkan melatih kekuatan otot dengan beban apabila sudah terlatih dan terbiasa. Apabila merasa kurang asupan buah dan sayur, dapat dilengkapi dengan suplemen yang memiliki kandungan komposisi vitamin A, C, D, dan E, serta mineral seperti selenium dan zinc. Pada pasien yang dianjurkan untuk restriksi jumlah cairan, tetap mengikuti saran dokter.

Hingga pada saat artikel ini ditulis, tindakan operasi, kateterisasi jantung, pemasangan ring jantung yang tidak darurat banyak yang ditunda hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan, terutama di daerah zona merah Covid-19. Pembatasan ini bertujuan untuk menekan penyebaran Covid-19 di fasilitas kesehatan.

Namun prosedur dan pengobatan yang bersifat life-saving (menolong jiwa) atau darurat tetap dilakukan. Setiap orang yang dicurigai mengalami serangan jantung harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan secepat mungkin. Kekuatiran akan Covid-19 tidak boleh memperlambat penderita serangan jantung mendapat penanganan, karena semakin lambat pengobatan, semakin tinggi risiko komplikasi dan kematian akibat kerusakan otot jantung.

Kenali keluhan yang masuk dalam kategori gawat dan darurat di bidang jantung untuk menghindari keterlambatan penanganan. Beberapa kondisi kegawatdaruratan jantung dewasa antara lain:

  • Rasa sesak yang:
    • Memberat dengan posisi tidur, dan/atau
    • Tidak bisa tidur posisi rata (harus >2 bantal atau posisi duduk), dan/atau
    • Disertai batuk riak berdahak berwarna pink
  • Nyeri dada yang:
      • Seperti ditindih/ditimpa beban berat, dan/atau
      • Menjalar ke lengan atau punggung dan/atau leher,
      • Disertai mual, muntah, dan keringat dingin
  • Keluhan berdebar yang disertai pandangan gelap, rasa ingin pingsan, atau hingga hilang kesadaran

Untuk heart warrior (pasien anak dengan penyakit jantung bawaan), tetap lanjutkan obat rutin di rumah, kecuali mengalami kondisi gawat darurat jantung anak seperti:

  • Anak terlihat kebiruan semakin lama semakin biru
  • Sesak nafas sehingga terlihat tarikan dinding dada ke dalam
  • Anak berdebar-debar
  • Anak rewel yang sulit untuk ditenangkan
    • Anak dengan penyakit jantung bawaan kadangkala mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, termasuk terlambat bicara. Terutama pada bayi yang tidak dapat menjelaskan keluhan mereka, seringkali keadaan rewel yang sulit ditenangkan merupakan manifestasi dari keluhan sesak nafas atau tidak nyaman yang disebabkan masalah jantung mereka.

 

Apabila gejala – gejala tersebut terjadi pada orang – orang terdekat di sekitar Anda, segera periksakan ke dokter. Jika tidak ada dokter spesialis jantung yang sedang praktik saat itu, Anda dapat memeriksakan diri ke Unit Gawat Darurat terdekat untuk penanganan awal.

Rumah sakit sudah menjalankan berbagai protokol ketat bagi seluruh pengunjung, dimulai dari pemeriksaan suhu di pintu masuk, memberikan jarak antarkursi, mewajibkan penggunaan masker, hingga menyediakan fasilitas untuk mencuci tangan. Jika aturan ini diikuti, sambil terus menjaga jarak ke orang lain, tidak perlu kuatir untuk berobat ke rumah sakit. Beberapa rumah sakit juga saat ini menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan jarak jauh (telemedicine) yang sudah didukung oleh peraturan Konsil Kedokteran Indonesia dalam kondisi pandemi. Layanan ini dapat Anda gunakan pada kondisi yang stabil atau mengalami keraguan untuk berkunjung ke rumah sakit. Perlu diingat bahwa dengan adanya keterbatasan pemeriksaan fisik dan penunjang, layanan telemedicine di bidang kardiovaskular tidak untuk penegakkan diagnosis pasti. Namun dokter dapat memberikan saran apakah gejala yang Anda alami memerlukan pemeriksaan lebih lanjut serta timing yang baik untuk konsultasi ke dokter apabila diperlukan untuk meminimalisir dari pajanan yang mungkin didapat di rumah sakit.

Saat ini pemerintah sedang mengkaji kesiapan fase kenormalan baru, yang memungkinkan beberapa kelonggaran dari aturan pembatasan sebelumnya. Fase apapun yang akan kita hadapi nantinya, pencegahan adalah hal yang utama. Karena jika sudah terinfeksi, manajemen Covid-19 menjadi lebih rumit pada penderita penyakit jantung. Lindungi kelompok rentan dengan cara selalu menjalani protokol kesehatan dan langkah pencegahan dengan ketat. Semoga keluarga Kejora selalu sehat, ya!

 

Editor  : drg. Valeria Widita W

Sumber:

 

 

Pemeriksaan Rapid Test dan PCR Swab COVID-19

 

 

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, keluarga Kejora! Semoga semuanya dalam keadaan sehat ya!

Di masa pandemik COVID-19 ini, banyak pihak yang menawarkan pemeriksaan untuk penapisan atau mendiagnosis COVID-19. Sebenarnya apa saja pemeriksaan COVID-19? Berikut pembahasannya ya.

COVID-19 (Corona Virus Disease-19) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona dan pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada Desember 2019 lalu. Sejak awal dideteksi di Cina, penyakit ini menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, COVID-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional. Saat ini, banyak pihak menawarkan pemeriksaan penapisan dan diagnostik COVID-19, antara lain pemeriksaan rapid test dan swab.

Pemeriksaan rapid test COVID-19 merupakan metode pemeriksaan yang dipakai untuk melakukan penapisan COVID-19. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan darah dari ujung jari atau pembuluh darah vena dan bertujuan untuk mendeteksi antibodi (IgG dan/atau IgM) yang diproduksi tubuh sebagai bentuk perlawanan tubuh terhadap infeksi virus corona. Hasil pemeriksaan rapid test dikatakan positif jika terdapat garis pada tempat pemeriksaan IgG dan/atau IgM. Hasil pemeriksaan rapid test yang positif mengindikasikan bahwa orang tersebut pernah atau sedang terinfeksi dengan virus corona. IgG menandakan infeksi yang terjadi sudah lama, sedangkan IgM menandakan infeksi yang baru.

Gambar skematik pemeriksaan rapid test COVID-19

Sumber: https://antibody-antibodies.com/featured/accu-tell-covid-19-igg-igm-rapid-test-cassette-whole-blood-serum-plasma-coronavirus-test/

 

Hasil pemeriksaan rapid test yang negatif menunjukkan bahwa darah yang diperiksa tidak mengandung antibodi virus corona. Meskipun demikian, sebaiknya pemeriksaan dengan hasil yang negatif diulang setelah 7-10 hari untuk memastikan hasilnya benar negatif. Pengulangan dilakukan karena tubuh membutuhkan waktu untuk memproduksi antibodi setelah virus masuk ke dalam tubuh. Hasil pemeriksaan positif pada IgM mengindikasikan bahwa orang tersebut pernah terinfeksi dengan virus corona. Hasil pemeriksaan positif pada IgG menandakan bahwa kemungkinan terdapat infeksi virus corona yang baru. Pemeriksaan positif pada IgG perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan swab.

Sementara itu, untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi virus corona atau tidak atau untuk kepentingan diagnosis COVID-19, pemeriksaan yang digunakan adalah pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) dari sampel swab. Sampel dapat diambil dari swab atau apusan bagian dalam hidung (nasofaring) atau bagian dalam mulut (orofaring). Pada orang sakit, pemeriksaan PCR dapat menggunakan sampel dahak. Meskipun demikian, sampel dahak biasanya digunakan jika pasien sulit diambil apusan nasofaring atau orofaringnya. Dengan pemeriksaan PCR, materi genetik virus diperbanyak, sehingga dapat dideteksi. Hasil pemeriksaan swab yang positif menandakan bahwa seseorang terinfeksi virus corona. Sementara hasil pemeriksaan yang negatif menandakan bahwa orang tersebut tidak terinfeksi virus corona.

Kedua pemeriksaan ini biasanya akan disarankan oleh dokter jika pasien mengalami gejala-gejala yang dapat dicurigai sebagai gejala COVID-19, antara lain: batuk, sesak nafas, atau demam. Tentu saja tidak selalu gejala-gejala tersebut mengindikasikan infeksi virus corona. Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum melakukan pemeriksaan. Selain itu, pemeriksaan ini juga seringkali diminta oleh Perusahaan atau pemberi kerja untuk menapis atau mendiagnosis penyakit COVID-19.

Semoga informasi tersebut bermanfaat untuk keluarga Kejora semua!

 

Sumber:

Click to access Testing-Guidance.pdf


https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/symptoms-testing/testing.html

Tips Membantu Si Kecil agar Tetap Sehat Mental Selama Pandemi

 

 

 

 

 

oleh Nurhuzaifah Amini, M.Psi, Psikolog

Psikolog

 

Halo, Keluarga Sehat Kejora!


Seperti yang Ayah dan Ibu Kejora ketahui, adanya pandemi COVID-19 telah memberikan banyak dampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan mental si kecil. Beberapa dampak pada kesehatan mental yang umum ditemui pada anak karena wabah ini diantaranya masalah kecemasan, stres, takut, marah, kesedihan, gangguan makan dan gangguan tidur. Selain itu, kemudahan anak dalam mengakses informasi melalui berbagai platform digital ternyata dapat memicu stres dan kecemasan pada anak meningkat. Faktor risiko lainnya yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental anak adalah kondisi #dirumahaja dengan minim interaksi serta aktivitas yang menyenangkan. Bahkan dalam beberapa kondisi tertentu, situasi #dirumahaja dapat meningkatkan risiko terjadinya pelecehan dan berbagai bentuk kekerasan pada anak.


Tentu ayah dan ibu tidak ingin agar hal-hal tersebut terjadi pada si kecil. Namun, ayah dan ibu perlu tenang dulu. Perlu ayah dan ibu ketahui bahwa sebenarnya normal saja bagi anak-anak untuk merasa khawatir, cemas atau stres saat ini karena memang ada berbagai perubahan dalam hidup hingga rutinitas. Hanya saja, jika kondisi tersebut berlangsung lama dan si kecil tidak disiapkan dengan baik oleh orangtua untuk menghadapi situasi ini, maka bisa berdampak lebih buruk lagi pada kesehatan mentalnya. Oleh karena itu, ada beberapa tips yang bisa ayah dan ibu lakukan untuk membantu si kecil agar tetap sehat mental selama pandemi.


1. Kelola stres Ayah dan Ibu terlebih dahulu

Kebanyakan orangtua tentunya berharap agar anak-anaknya tidak mengalami dampak buruk dari adanya pandemi ini. Namun, orangtua sendiri sering dilanda perasaan cemas dan stres. Kecemasan atau stres itu “menular” sehingga anak-anak dapat merasakan dan mengetahui bahwa ayah dan ibu stres meskipun sudah berusaha menyembunyikannya. Jadi bagaimana agar ayah dan ibu bisa tetap terlepas dari rasa cemas dan stres selama pandemi ? Berikut beberapa hal yang dapat membantu:

  • Jalani pola hidup sehat seperti makan teratur dan bergizi, tidur yang cukup dan olahraga yang rutin.
  • Dapatkan informasi dari sumber yang kredibel dan batasi akses informasi yang dapat memicu kekhawatiran.
  • Kuatkan hubungan antara ayah dan ibu. Bangun komunikasi dan kerjasama yang baik selama #dirumahaja.
  • Buat jadwal secara rutin setiap harinya, yakni jadwal untuk bekerja (jika working mom-dad), jadwal mengerjakan urusan rumah tangga dan jadwal dengan anak.
  • Perjelas pembagian peran antara ayah dan ibu dalam bekerja, termasuk mengasuh anak.
  • Coba lakukan aktivitas dengan mindfulness.
  • Jangan lupa untuk seimbangkan waktu untuk bekerja dan beristirahat hingga me time untuk ayah dan ibu.
  • Tetap menjalin komunikasi dengan kerabat atau sahabat.


2. Tanyakan hal yang diketahui si kecil

Sebagian besar anak pasti sudah mendengar tentang COVID-19, terutama anak-anak usia sekolah dan remaja. Mereka mungkin telah membaca berbagai hal dari TV, internet atau mendengar teman atau guru membicarakan hal tersebut. Namun, ingat bahwa semua informasi yang diterima anak belum tentu benar sehingga sebisa mungkin ayah dan ibu kembali membuka komunikasi dengan anak untuk membahas terkait hal yang anak pahami. Untuk membantu, ayah dan ibu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut pada si kecil :

    • “Apa yang adik ketahui tertang virus Corona?”
    • “Di mana adik mendengarnya?”
    • “Ada tidak yang adik khawatirkan? Kalau ada, apa yang adik khawatirkan akhir-akhir ini?”
    • “Bagaimana perasaan adik saat ini selama di rumah aja?”
    • “Ada tidak yang ayah atau ibu bisa bantu untuk adik?”

Setelah mengetahui informasi yang anak miliki, maka ayah dan ibu dapat membantu membenahi apabila ada hal yang kurang tepat. Ingat, jika si kecil bertanya apakah ayah dan ibu khawatir, jujur saja! Anak bisa mengetahui jika ayah da ibu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Ayah dan ibu bisa mengatakan hal-hal seperti: “Iya, ayah khawatir tentang virus ini, tetapi ayah tahu kok kalau ada cara untuk mencegah penyebarannya jadi adik tenang dulu, ya. ”


3. Bantu si kecil mengenali emosinya

Ketika anak-anak merasakan suatu emosi, mereka paling mudah menunjukkannya melalui perilaku. Ada alasan mengapa anak-anak mungkin bertingkah dengan cara yang belum pernah ayah dan ibu lihat sebelumnya. Nah, dari situasi ini ayah dan ibu perlu untuk memahami bahwa si kecil tidak memiliki keterampilan berpikir dan bernalar ketika mereka dibanjiri emosi. Jika anak tidak dapat fokus pada tugas-tugas sekolah, mengamuk, atau menarik diri, kemungkinan terjadi sesuatu dalam diri mereka. Kenali tanda-tanda perubahan dalam diri anak. Sebagai contoh, jika si kecil berteriak, “Saya tidak suka belajar (platform pembelajaran virtual).” Perlu ayah dan ibu pahami bahwa anak-anak akan menolak ketika mereka merasa kewalahan. Perlawanan adalah puncak gunung es dari kesedihan, frustrasi, atau emosi besar lainnya yang mungkin ada di bawah permukaan dan sulit untuk diekspresikan oleh anak.

Coba luangkan waktu seperti ini untuk membantu anak mengasah kemampuan memahami emosi mereka. Alih-alih menekan dan memaksa mereka untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, coba membantu mereka menggali lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apa itu tentang (platform pembelajaran virtual) yang tidak disukai?” Arahkan si kecil untuk mengupas lebih dalam emosi yang ia rasakan untuk memahami apa yang sebenarnya memicu perilakunya.


4. Validasi perasaan si kecil

Anak-anak mungkin memiliki segala macam reaksi terhadap COVID-19 bahkan situasi #dirumahaja. Beberapa diantara mereka ada yang bisa memahami, namun beberapa anak lainnya mungkin membesar-besarkan hal yang mereka pahami, Kekhawatiran atau bentuk emosi lainnya perlu diterima dan divalidasi dulu. Misalnya, mereka mungkin pernah mendengar bahwa orang yang lebih tua lebih rentan untuk terkena virus daripada orang yang lebih muda. Ayah dan ibu dapat mengatakan bahwa emosi kekhawatiran tersebut wajar agar si kecil merasa diperhatikan dan dianggap, tetapi perlu juga diyakinkan bahwa orang tua juga bisa mendapatkan perawatan medis untuk menghadapi virus tersebut. Contoh lain, seorang anak mungkin takut bahwa hewan peliharaannya juga bisa terkena virus. Ayah dan ibu perlu menanggapi perasaan si kecil dengan serius, tetapi kemudian yakinkan hewan peliharaan mereka tidak akan terkena virus, sehingga tidak perlu khawatir tentang hal ini.


5. Bersedia untuk diberi pertanyaan

Situasi ini kemungkinan akan berlangsung lama sehingga komunikasi dengan anak tidak akan berlangsung sekali. Biarkan anak tahu bahwa mereka dapat mendatangi ayah dan ibu kapan saja dengan pertanyaan terkait kekhawatiran mereka. Hal ini juga dapat dijadikan kesempatan untuk melakukan check kondisi anak, karena mereka mungkin tidak akan mendekati ayah dan ibu terlebih dahulu jika mereka takut. Saat menjawab dengan memberikan informasi baru, jangan berasumsi bahwa si kecil dapat memahami secara langsung dan sepenuhnya hal yang ayah dan ibu katakan. Minta mereka untuk menjelaskan kembali kepada ayah dan ibu dengan bahasa mereka sendiri untuk mengetahui seberapa banyak yang mereka pahami.


6. Pastikan anak mengetahui cara melindungi diri mereka dari bahaya virus

Penting untuk ayah dan ibu untuk menunjukkan cara menjaga kebersihan dalam upaya melindungi diri agar dapat menjadi role model yang baik bagi si kecil seperti rajin mencuci tangan, etika bersin/batuk, tidak berjabat tangan, dll. Beri tahu anak-anak semua hal positif yang dapat mereka lakukan setiap hari, daripada menekankan hal-hal negatif untuk menurunkan tingkat stres bagi seluruh keluarga.


7. Batasi paparan media

Pantau seberapa banyak anak terpapar pada cakupan pandemi. Minimalisasi akses ke TV atau media sosial jika perlu. Anak-anak dapat dengan mudah mengartikan informasi dan membayangkan yang terburuk tanpa pengawasan dari orangtua.


8. Buat jadwal secara rutin dan konsisten

Memiliki jadwal yang rutin akan mengurangi stres mereka bagi si kecil. Jadwal yang rutin dapat menjadi petunjuk bagi si kecil dalam menjalani aktivitas #dirumahaja seperti hari normal. Ketidakpastian tentang apa yang terjadi selanjutnya hanya menumbuhkan kecemasan dan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Jadilah kreatif dan fleksibel dengan jadwal itu. Tetapkan waktu untuk tugas sekolah dan belajar, serta untuk bersantai bersama, mendapatkan udara segar dan melakukan beberapa latihan fisik bersama.


9. Buat aktivitas yang menyenangkan bersama si kecil

Situasi yang mengharuskan SFH (School from Home) tentu sedikit banyak membatasi kebebasan dan kebutuhan anak untuk bermain, berbeda jika benar-benar berada di sekolah. Oleh karena itu, usahakan agar ayah dan ibu menciptakan kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti yang anak temukan di sekolah agar anak tetap bisa merasa senang dan nyaman meski #dirumahaja seperti olahraga bersama, jadwalkan video call bersama dengan teman-teman si kecil, mencoba virtual museum, dll. Pada prinsipnya, tetap seimbangkan kebutuhan belajar dan bermain anak.


10. Bagaimana jika ada keluarga yang terkena virus?

Peristiwa traumatis dapat membuat anak-anak sangat rentan sehingga memicu ketakutan dalam dirinya. Namun, ingat bahwa anak-anak akan belajar dari lingkungannya, terutama orangtua dalam mengupayakan keselamatan. Oleh karena itu, orangtua perlu yakin dan percaya bahwa dirinya aman sehingga anak juga dapat merasa aman meski mengetahui dirinya terkena virus. Ayah dan ibu bisa membantu si kecil dengan mengatakan, “Situasi seperti ini sama kok dengan masalah yang lain. Kita hanya perlu belajar tenang, kemudian mencari cara untuk menghadapinya dan belajar untuk mencegahnya agar tidak tertular. Adik perlu tahu bahwa banyak orang-orang di luar sana seperti dokter dan perawat yang bekerja keras dalam menghadapi virus ini, jadi kita perlu percaya mereka. Jadi, tenang ya.”


11. Yang paling penting, gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami

Perhatikan selalu gaya bahasa yang digunakan positif dan tidak condong menakut-nakuti. Selain itu, dalam memberi pengertian, pastikan informasi yang disampaikan merupakan fakta dari sumber yang terpercaya. Sebelum disampaikan, penting untuk mengolah fakta tersebut ke dalam kalimat sederhana agar mudah dicerna oleh si kecil. Tanamkan kepada anak untuk aktif bertanya, dan mencari tahu bersama apabila ada situasi yang tidak dipahami.

Editor : drg. Valeria Widita W

 

Referensi:

https://www.mghclaycenter.org/hot-topics/7-ways-to-support-kids-and-teens-through-the-coronavirus-pandemic/

https://www.mother.ly/child/pandemic-mental-health-effect-on-children

 

Keluhan Kulit pada Infeksi Covid-19: Haruskah Panik?

 

 

 

 

 

oleh dr. Anesia Tania, SpKK

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin

 

Salam Sehat Ayah Ibu Kejora. Saat ini, seluruh dunia sedang mengalami pandemic penyakit infeksi Covid-19. Hampir 3 juta orang telah terinfeksi di seluruh dunia, dan 200.000 orang meninggal karena penyakit ini. Sebagian besar pasien tidak memiliki gejala, dan gejala yang ditemukan pun tidak sama pada semua pasien. Mayoritas pasien mengalami gejala demam, gangguan sistem pernapasan seperti batuk, sesak napas, gangguan penciuman dan indra perasa. Namun belakangan ini, terdapat banyak sumber dan berita yang menyatakan bahwa ruam kulit atau kelainan kulit merupakan salah satu gejala klinis infeksi Covid-19. Hal ini menyebabkan orang tua banyak yang panik ketika anak mengalami ruam kemerahan atau lesi kulit lainnya.

 

Apakah kuman Covid-19 dapat menyerang kulit dan menimbulkan kelainan kulit?

Berdasarkan data dari berbagai negara, kelainan kulit merupakan gejala Covid-19 yang cukup jarang ditemukan dan dilaporkan. Laporan mengenai gejala kulit yang pertama adalah di Cina, ditemukan 2 kasus dari 1099 kasus. Meski demikian, lesi kulit dan perkembangan lesi pada pasien tersebut tidak dilaporkan.

Setelah itu, berbagai laporan kasus dan serial kasus mulai bermunculan mengenai lesi kulit pada pasien Covid-19. Yang pertama adalah di Itali, yang mendeskripsikan kelainan kulit sebanyak 20% pada pasien Covid-19 di rumah sakit (18 dari 84 kasus). Terdapat beberapa kasus dimana kelainan kulit mendahului gejala lainnya. Sampai saat ini belum ada penelitian yang melihat apakah pada lesi kulit tersebut ditemukan Virus novel SARS-COV2 penyebab Covid-19 ini.

 

Apa saja kelainan kulit yang dapat ditemukan pada pasien anak Covid-19?

Lesi kulit yang ditemukan pada pasien Covid-19 cukup bervariatif dan tidak terlalu khas. Lesi kulit yang telah dilaporkan biasanya berupa :

  1. ruam atau lesi yang sering ditemukan pada kondisi demam, alergi atau infeksi virus lain (ruam merah tidak gatal, biduran, lenting seperti cacar, dan bintik-bintik merah karena perdarahan atau petechie)

    Ruam merah tidak gatal                                           biduran

  1. lesi kulit karena gangguan pembuluh darah (ujung jari kebiruan atau kematian jaringan, ruam merah keunguan seperti pembuluh darah dan bintil kemerahan di ujung jari atau tumit yang disebut chillblain). Terdapat keluhan nyeri atau gatal.

bintil kemerahan di ujung jari atau tumit yang disebut chillblain

ruam merah keunguan seperti pembuluh darah (Livedo reticularis)

 

Kelainan kulit pada anak yang mengalami Covid-19 sampai saat ini baru dilaporkan sebanyak 2 kasus. Satu kasus anak berusia 8 tahun dengan keluhan ruam dan bintil merah diseluruh tubuh, seperti pada infeksi campak. Kasus lainnya terjadi pada anak usia 13 tahun dengan keluhan ruam merah keunguan di jari kaki, yang kemudian menjadi keropeng kehitaman (chillblain). Namun angka ini kemungkinan akan terus bertambah dan akan didapatkan data yang lebih lengkap.

Selain chilblain, kelainan kulit yang ditemukan tidak terlalu khas, gangguan pembuluh darah dan bisa ditemukan pada penyakit lain, misalnya alergi obat, demam berdarah dengue, infeksi virus seperti cacar, campak dan kelainan pada pembuluh darah.  Perlu diingat bahwa pasien Covid-19 biasanya mendapatkan banyak terapi obat, sehingga harus dipikirkan juga kemungkinan reaksi alergi terhadap obat.

 

Jika pada anak timbul lesi tersebut, bagaimana menyikapinya?

Apabila anak mengalami ruam kulit atau kelainan kulit lainnya, tidak perlu panik dan terlalu takut akan infeksi Covid-19, namun juga jangan dianggap tidak penting. Konsultasikan kepada dokter spesialis kulit dan kelamin melalui konsultasi online (telemedicine) terlebih dahulu untuk dilihat apakah:

  1. Terdapat keluhan yang menjurus ke arah infeksi Covid-19 seperti demam, batuk, sesak napas, hidung tersumbat, flu, gangguan perasa dan penciuman
  2. Terdapat riwayat kontak dengan pasien Covid-19 atau pasien dalam pengawasan dalam 2 minggu terakhir, atau pasien yang telah sembuh kurang dari 2 minggu.
  3. Terdapat riwayat berpergian keluar kota/negeri dalam 2 minggu terakhir dan/atau kontak dengan orang dengan riwayat bepergian
  4. Orang tua atau orang di rumah merupakan orang dengan risiko tinggi, misalnya tenaga kesehatan atau pekerja esensial lainnya yang masih kontak dengan banyak orang.
  5. Keluhan kulit lebih mungkin disebabkan oleh hal lain seperti alergi obat, iritasi, ataupun infeksi virus lain, jamur atau bakteri.

 

Apabila ada kecurigaan kearah Covid-19, akan dianjurkan untuk pemeriksaan lebih lanjut, seperti pemeriksaan darah, rontgen ataupun pemeriksaan mikrobiologi. Sebaiknya bawa anak ke rumah sakit yang sudah memiliki prosedur pemeriksaan Covid-19 (swab PCR, Rontgen atau CT Scan, Rapid test) dan memiliki protocol keamanan yang baik (konsultasi dengan perjanjian, desinfektan pada alat pemeriksaan, alat pelindung diri yang sesuai pada tenaga medis dan anak, dan konsultasi dengan social distancing).

 

Referensi

  1. World Health Organization. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report. https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200419-sitrep-90-covid19.pdf?sfvrsn=551d47fd_2
  2. Guan WJ, Ni ZY, Hu Y, et al. Clinical Characteristics of Coronavirus Disease 2019 in China. N Engl J Med. 2020.
  3. Suchonwanit P, Leerunyakul K, Kositkuljorn C. Cutaneous manifestations in COVID-19: Lessons learned from current evidence. J Am Acad Derm. 2020
  4. Recalcati S. Cutaneous manifestations in COVID-19: a first perspective. J Eur Acad Dermatol Venereol. 2020.
  5. Marzano AV, Genovese G, Fabbrocini G, Pigatto P, Monfrecola G, PiracciniBM, Veraldi S, Rubegni P, Cusini M, Caputo V, Rongioletti F, Berti E, Calzavara-Pinton P, Varicella-like exanthem as a specific COVID-19-associated skin manifestation: multicenter case series of22 patients, Journal of the American Academy of Dermatology (2020)

 

Mencegah Infeksi corona, Hindari Kelirumologi Disinfektan!

 

 

 

 

oleh dr. Yulianto Santoso Kurniawan, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

Halo Ayah dan Ibu,

Saat ini infeksi virus corona menjadi ancaman bagi kita semua. Virus corona dapat bertahan sampai dengan 72 jam di permukaan dan untuk membasminya diperlukan upaya pembersihan. Namun banyak orang yang menjadi terlalu khawatir dengan hal tersebut sehingga menggunakan disinfektan secara berlebihan dan melupakan prinsip utama pencegahan infeksi virus corona.

Virus corona ditularkan melalui droplet atau percikan udara pernapasan, percikan tersebut akan jatuh sesuai gaya gravitasi sejauh 1-2 meter. Untuk itu pencegahan yang utama adalah:

    1. Mencegah percikan droplet
      1. Gunakan masker jika sakit
      2. Tutup mulut dan hidung saat bersin dan/atau batuk dengan tangan, siku bagian dalam atau tisu
      3. Jaga jarak >1 meter dengan orang lain
      4. Hindari bertemu dengan orang lain jika tidak diperlukan
    2. Cegah penularan melalui perantaraan tangan
      1. Tidak bersalaman
      2. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama 20 detik setelah terkena percikan batuk/bersin atau dengan bahan dasar alkohol >60%
    3. Bersihkan lingkungan, terutama permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu, meja, tombol saklar lampu, dan pegangan tangga

Kapan kita perlu menggunakan disinfektan?

Kita gunakan disinfektan bila ada kemungkinan kita sudah terpapar oleh orang yang sakit/terinfeksi virus corona. Bila ada kemungkinan telah kontak dengan virus corona, bersihkan rumah dengan cara:

  • Bersihkan dengan cara kering (sapu, lap dengan bahan microfiber) untuk membersihkan bahan yang ringan
  • Bersihkan permukaan dengan cara basah, menggunakan air hangat dan detergen. Bersihkan dengan menggosok untuk menghilangkan cairan tubuh atau kotoran yang menempel
  • Bilas dengan air bersih
  • Biarkan kering
  • Bersihkan dengan larutan disinfektan dengan konsentrasi yang sesuai, dan waktu kontak (biarkan tetap basah untuk waktu tertentu untuk membunuh bakteri/virus) umumnya 5-10 menit.
  • Bilas kembali dengan air bersihKita gunakan disinfektan bila ada kemungkinan kita sudah terpapar oleh orang yang sakit/terinfeksi virus corona.  Bila ada kemungkinan telah kontak dengan virus corona, bersihkan rumah dengan cara:

Bahan disinfektan yang dapat digunakan adalah klorin dengan konsentrasi 0,1% (1 bagian klorin 5,25% diencerkan 49 bagian air – 1 mL klorin 5,25% ditambah 49 mL air). Sementara untuk bahan yang berpori (misalnya, karpet) dapat dilakukan pencucian dengan suhu 60-70 derajat Celsius.

Tidak ada rekomendasi yang menyatakan penyemprotan dengan disinfektan kepada manusia atau jalanan akan efektif mencegah penularan virus corona.

Untuk menjaga agar keluarga kita tetap sehat maka kembali kepada pencegahan utama: memakai masker, tutup mulut dan hidung saat batuk, cuci tangan setelah kontak dengan batuk dan sebelum memegang mata/hidung/mulut, jaga jarak 1-2 meter,hindari keluar atau berkerumun bila tidak diperlukan, serta bersihkan ruangan secara teratur.

Semoga kita selalu sehat ya!

Editor: dr. Sunita

Sumber:

https://www.aaha.org/aaha-guidelines/infection-control-configuration/protocols/cleaning-and-disinfection2

https://www.nea.gov.sg/our-services/public-cleanliness/environmental-cleaning-guidelines/guidelines/guidelines-for-environmental-cleaning-and-disinfection

 

Disinfeksi

 

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

 

Halo, Keluarga Kejora! Di masa pandemi COVID-19 seperti ini, tetap tinggal di rumah merupakan salah satu pilihan terbaik untuk dilakukan. Tentu Ayah dan Ibu juga tau bahwa kebersihan rumah merupakan hal yang tidak kalah pentingnya. Oleh karena itu, Kejora ingin berbagi informasi dan tips mengenai disinfeksi.

 

Disinfeksi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengurangi atau membasmi mikroorganisme pathogen pada benda tidak bergerak. Diharapkan proses disinfeksi ini dapat menurunkan risiko penyebaran infeksi. Disinfeksi berbeda dengan sterilisasi. Sterilisasi dimaksudkan untuk membasmi semua mikrooganisme dan biasanya dilakukan pada peralatan dan fasilitas kesehatan. Disinfeksi rumah tangga dilakukan pada permukaan datar (misalnya pada lantai, dinding, perabot rumah tangga, pegangan pintu, dsb), permukaan lunak atau berpori (misalnya tirai, karpet, dsb), dan pakaian.

 

Untuk melakukan disinfeksi permukaan datar, beberapa larutan yang umum digunakan, antara lain:

  • Pemutih (larutkan 1 Liter air dengan 2 sendok makan)
  • Karbol (larutkan 1 Liter air dengan 1 sendok makan)
  • Pembersih lantai (larutkan 5 Liter air dengan 1 tutup botol)

 

Dalam melakukan disinfeksi permukaan datar, sebaiknya digunakan sarung tangan, masker, ataupun pelindung kaki (seperti sepatu boot). Disinfeksi dilakukan dengan pengelapan kain mikrofiber yang direndam larutan disinfektan. Cara lain yang dapat digunakan untuk melakukan disinfeksi adalah dengan menggunakan cairan yang disemprotkan ke tisu berlapis atau kain. Lakukan pengelapan dengan gerakan zig zag atau memutar dari tengah keluar. Biarkan permukaan hingga kering. Proses disinfeksi ini dapat dilakukan 2 kali sehari.

 

Mainan anak juga sebaiknya kebih sering dibersihkan. Larutan yang dapat digunakan untuk membersihkan mainan anak adalah larutan pemutih (larutkan 1 Liter air dengan 2 sendok makan) atau alkohol dengan kadar 70%. Ini terutama untuk mainan yang sering disentuh. Gunakan kain lap atau tisu berlapis untuk membersihkan dan biarkan hingga kering.

 

Untuk karpet, tirai, atau boneka anak, gunakan larutan pembersih yang sesuai yang tersedia di pasaran. Disinfeksi dilakukan dengan mencucinya dengan air yang paling hangat, dengan tetap memperhatikan instruksi cuci dari pabrik. Hal yang sama juga disarankan untuk proses disinfeksi pakaian. Gunakan deterjen yang sesuai dan air yang paling hangat sesuai dengan instruksi pencucian yang tertera pada pakaian. Selain itu, sebaiknya pakaian kotor tidak diaduk dengan tujuan meminimalisir kemungkinan penyebaran virus melalui udara. Jika ada anggota keluarga yang sakit, maka pakaiannya sebaiknya dicuci secara terpisah. Keranjang dan tas pakaian juga jangan lupa untuk dibersihkan dengan cara disinfeksi untuk permukaan datar. Setelah melakukan disinfeksi, jangan lupa juga untuk melepaskan alat pelindung dan cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

 

Jangan lupa untuk melakukan disinfeksi pada barang pribadi, seperti telepon genggam dan laptop ya, Ayah dan Ibu! Disinfeksi dapat dilakukan dengan pembersih khusus yang dijual di pasaran.

 

Semoga tips disinfeksi di atas bermanfaat dan semakin menjauhkan kita dari infeksi COVID-19. Sehat selalu, Keluarga Kejora!

 

Sumber:

https://www.cdc.gov/infectioncontrol/guidelines/disinfection/introduction.html

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/cleaning-disinfection.html

Panduan Disinfeksi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/key-messages-and-actions-for-covid-19-prevention-and-control-in-schools-march-2020.pdf?sfvrsn=baf81d52_4

 

 

 

 

PENGUMUMAN PENTING BAGI PASIEN GIGI TERKAIT COVID-19

 

 

 

 

oleh drg. Cynthia Michelle Anggraini, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora…

Semakin menyebarluasnya virus Corona di negara kita akhir-akhir ini pasti menimbulkan keresahan baik bagi orang awam maupun tenaga kesehatan. Terkait dengan hal ini, ada beberapa himbauan yang dianjurkan, terutama bagi Anda maupun si buah hati yang memiliki jadwal ke dokter gigi. Namun sebelum membahas lebih lanjut mengenai himbauan tersebut, yuk kita belajar sedikit mengenai virus ini dan bagaimana gejalanya.

 

Apakah itu Coronavirus?

Coronavirus merupakan sekelompok besar virus yang beberapa di antaranya menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia dan sebagian lainnya beredar di antara hewan-hewan tertentu. Sebenarnya coronavirus yang terdapat pada hewan jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia, kemudian menyebar lagi di antara manusia lainnya. Wabah Coronavirus sebelumnya termasuk sindrom SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome). COVID-19 adalah nama penyakit yang disebabkan oleh novel coronavirus, SARS-CoV-2. Cara penularan virus ini masih dipelajari lebih lanjut, namun sejauh ini telah diketahui bahwa virus ini dapat ditularkan melalui droplet maupun kontak langsung dengan penderita.

 

Apa gejala COVID-19?

Gejala yang dijumpai mirip dengan penyakit flu, yaitu demam, batuk, radang tenggorokan, serta adanya sesak / kesulitan bernapas. Mayoritas penderita memiliki gejala ringan, namun beberapa penderita yang memiliki komplikasi medis maupun bagi mereka yang berusia di atas 60 tahun dapat memiliki gejala yang lebih berat termasuk terjadinya pneumonia.

 

Bagaimana himbauan kunjungan ke dokter gigi terkait dengan wabah ini?

Dengan semakin mewabahnya virus ini di berbagai belahan dunia dan sebagai upaya mitigasi terhadap penyebarannya, maka Organisasi-organisasi Kedokteran Gigi di berbagai negara seperti ADA (American Dental Association)  maupun PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) sepakat untuk mengeluarkan himbauan bagi dokter gigi maupun pasien. Secara garis besarnya, himbauan ini berupa penundaan prosedur elektif dan tidak penting sehingga kunjungan hanya dibatasi pada tindakan kegawatdaruratan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir penularan COVID-19 di antara pasien dan petugas kesehatan, serta mengurangi kemungkinan terjadinya keterbatasan APD (Alat Perlindungan Diri) bagi petugas kesehatan yang memerlukan. Tindakan kegawatdaruratan gigi yang dimaksud disini adalah:

  • Rasa sakit pada gigi yang parah dan tidak tertahankan.
  • Adanya pembengkakan pada gusi, wajah, maupun leher.
  • Perdarahan dalam rongga mulut yang tidak dapat dihentikan.
  • Trauma / kecelakaan yang melibatkan area rongga mulut.

Hal ini akan dilakukan selama 2-3 minggu kedepan sembari melihat perkembangan situasi lebih lanjut. Jadi, apabila Ayah dan Ibu Kejora maupun si buah hati memiliki jadwal kunjungan ke dokter gigi selain tindakan kegawatdaruratan di atas, harap ditunda dulu ya…

Mari kita bantu pemerintah kita untuk mengurangi penyebaran virus ini dengan mematuhi anjuran social distancingatau yang dikenal dengan gerakan #dirumahsaja supaya tidak menularkan maupun ketularan virus ini. Hal ini juga akan sangat membantu meringakan kami sebagai tenaga medis, lho..

 

We stay at clinic for you… You stay at home for us!!”

Editor   : drg. Sita Rose Nandiasa

 

Sumber: