Peran DHA saat Kehamilan

 

 

 

oleh dr. Nessa Wulandari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

 

Halo, Keluarga Kejora!

Ayah dan Ibu Kejora pasti sering mendengar tentang DHA. Apakah Ayah dan Ibu tahu apa itu DHA?

DHA atau docosahexaenoic acid merupakan asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (PUFA). PUFA berperan sebagai bagian dari komponen penyusun sel tubuh kita. PUFA juga menjaga sifat dan bentuk sel agar tetap fluid.   Di dalam tubuh kita, DHA ditemukan dalam jumlah relatif besar saat fase kehamilan dan bayi, di jaringan tubuh termasuk otak. Di dalam ASI juga ditemukan DHA untuk menyuplai kebutuhan DHA bagi bayi.

DHA memiliki banyak manfaat kesehatan, terutama bagi janin, bayi, dan anak.  Peran DHA selama kehamilan, yaitu berperan dalam perkembangan otak janin. DHA merupakan penyusun utama asam lemak di otak (sebesar 60% bagian dari otak terdiri dari lemak). Tak hanya selama kehamilan, DHA masih melanjutkan pembentukan otak bayi terutama dalam 2 tahun pertama kehidupan. Namun perlu diperhatikan bahwa tak hanya DHA, diperlukan juga stimulasi-stimulasi yang dapat membantu perkembangan otak bayi.

Selain itu, peran DHA selama kehamilan antara lain pembentukan sistem saraf dan sistem penglihatan (retina) janin. Dari hasil literatur ilmiah juga didapatkan bahwa DHA dapat mengurangi kejadian bayi lahir prematur dan berat badan lahir rendah. Akan tetapi, peran DHA dalam mengurangi kejadian depresi ibu pasca melahirkan, hasilnya masih belum konklusif.

Omega-3 (mengandung DHA dan EPA) banyak ditemukan di seafood, khususnya fatty fish seperti salmon (>500 mg/150 g), kakap dan tuna (400–500 mg/150 g). Suplemen minyak ikan juga diketahui mengandung DHA dan EPA, namun pemberian suplemen (dosis tinggi) dibutuhkan konsultasi dokter terlebih dahulu.Kebutuhan omega-3 (DHA dan EPA) bagi bayi 0,5 g/hari, anak usia 1–9 tahun 0,7–0,9 g/hari, ibu hamil 1,4 g/hari, ibu menyusui 1,3 g/hari. Sebagai contoh, ibu hamil membutuhkan 3 porsi (masing-masing 150 gram) ikan tuna dalam sehari.  Jadi, jangan lupa cukupkan kebutuhan omega-3 ya Ayah dan Ibu!

Editor: drg. Rizki Amalia

Sumber:

  1. Jurnal Ann Nutr Metab
  2. European Journal of Nutrition
  3. Jurnal Pediatrics
  4. Heart Foundation
  5. Angka Kecukupan Gizi 2018

Pentingnya Vitamin A untuk Si Kecil

 

 

 

 

oleh dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK

Dokter Spesialis Gizi Klinik

Hai keluarga Kejora! Berbicara mengenai vitamin A biasanya fungsinya erat dikaitkan dengan kesehatan mata saja ya? Nah, ternyata vitamin A juga banyak fungsi lainnya loh. Kita bahas sejenak yuk apa saja fungsi vitamin A ini.

Vitamin A memang diperlukan untuk pembentukan rhodopsin, yaitu pigmen pada sel-sel batang di retina yang berperan pada penglihatan dalam kondisi gelap atau kurang cahaya. Nah, selain itu vitamin A juga berperan dalam berbagai proses fisiologis tubuh, termasuk mempertahankan integritas dan fungsi seluruh jaringan permukaan (epitel) seperti epitel kulit, lapisan saluran napas, saluran cerna, dan kandung kemih. Vitamin ini juga berperan untuk sistem kekebalan tubuh, tumbuh kembang serta reproduksi.

Karena fungsinya yang beragam dan sangat penting bagi tubuh, mari kita kenali sumber bahan makanannya untuk memenuhi kebutuhan harian si kecil. Bahan makanan kaya akan vitamin A bisa didapatkan dari sumber hewani maupun nabati. Karena vitamin A termasuk yang larut lemak, maka vitamin ini membutuhkan lemak dalam makanan untuk membantu absorpsinya.

Vitamin A yang berasal dari hewani merupakan bentuk aktif yang disebut sebagai retinol. Contohnya hati, kuning telur, susu serta produk turunannya (keju dan butter). Sedangkan, vitamin A dari nabati memiliki bentuk karotenoid yang harus diubah dulu menjadi retinol pada saat proses pencernaan sebelum digunakan oleh tubuh. Contohnya mangga, pepaya, melon, labu kuning, serta sayuran seperti wortel, tomat, bayam, brokoli, sayuran hijau lainnya, serta ubi. Usahakan agar tidak memasak semua bahan makanan tersebut terlalu lama (overcooked) karena dapat menurunkan kandungan vitamin A.

Defisiensi Vitamin A

Selanjutnya, apa saja tanda-tanda bila seseorang mengalami kekurangan vitamin A?

Yang paling sering terjadi adalah buta senja atau kesulitan untuk melihat dalam kondisi kurang cahaya karena terganggunya pembentukan rhodopsin pada sel-sel batang selaput retina mata. Gejala lain adalah kekeringan pada mata atau yang disebut xerophthalmia, kerusakan kornea, hingga akhirnya terjadi kebutaan. Karena vitamin A juga memiliki peran penting dalam kekebalan tubuh, maka seringkali anak-anak yang mengalami kekurangan vitamin A akan meningkat risikonya untuk terjadi infeksi berat. Pada saat terjadinya infeksi, maka kebutuhan tubuh akan vitamin A akan semakin meningkat, sehingga keadaan defisiensi akan memperparah infeksi yang terjadi.

Suplementasi Vitamin A

Suplementasi vitamin A sebenarnya sudah dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 1978 dengan tujuan awal mencegah kebutaan dan meningkatkan daya tahan tubuh anak dari penyakit. Bulan Februari dan Agustus ditetapkan sebagai bulan suplementasi vitamin A sebagai salah satu strategi penanggulangan kekurangan vitamin A.

Sasaran suplementasi vitamin A adalah bayi, anak balita dan ibu nifas. Kapsul vitamin A dosis 100.000 IU (warna biru) untuk bayi, dan kapsul vitamin A dosis 200.000 IU (warna merah) untuk anak balita dan ibu nifas. Ayah dan ibu bisa mendapatkan suplementasi vitamin A ini di sarana fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, Puskesmas, Polindes/Poskesdes, balai pengobatan, dan praktek dokter/bidan swasta, posyandu, serta sekolah TK atau PAUD yang menyelenggarakan.

Sumber:

Gilbert, C. What is vitamin A and why do we need it? Community Eye Health, 2013; 26(84): 65.
Gropper SS, Smith JL. Fat-soluble vitamins. Dalam: Advanced Nutrition and Human Metabolism, 6ed. Wadsworth, 2013, hlm 371-86.
Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan. Panduan Manajemen Suplementasi Vitamin A, 2009.

Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter Gigi?

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

American Academy of Pediatric Dentistry merekomendasikan pemeriksaan gigi anak dimulai sejak gigi pertamanya tumbuh, atau selambat-lambatnya pada ulang tahunnya yang pertama.

“Tapi kan gigi susunya belum lengkap, masa harus periksa ke dokter gigi?”

Ayah dan ibu, ke dokter gigi bukan hanya untuk diperiksa apakah ada gigi yang berlubang. Ayah dan ibu akan diberikan tips cara menjaga kesehatan gigi dan mulut anak, si kecil juga adapat “berkenalan” dengan dunia dokter gigi sejak dini. Jangan salah lho, tak sedikit anak yang di usia 1 tahun juga sudah memiliki gigi berlubang. Oleh karenanya kami menganjurkan untuk membawa anak anda ke dokter gigi agar diperiksa sejak dini. Keuntungannya antara lain:

  1. Membiasakan anak dengan lingkungan dokter gigi sehingga anak tidak takut. Jika datang saat gigi sudah berlubang dan sakit biasanya anak menjadi lebih cemas dan takut.
  2. Terkadang lubang gigi yang masih kecil memang tidak tampak kasat mata dan hanya dapat terdeteksi di dokter gigi dengan peralatan yang ada. Jika terdeteksi sejak dini maka perawatan yang dilakukan juga tentunya lebih cepat selesai.
  3. Ayah dan ibu bisa mendapatkan edukasi yang lengkap dari dokter gigi sehingga jika ada kebiasaan atau cara membersihkan gigi yang salah maka dapat diperbaiki segera.

Kalau ada gigi susu yang lubang apakah perlu ditambal? Nah jawabannya ada di artikel ini.

Jadi tunggu apalagi, yuk ajak anak ke dokter gigi!

Gigi Susu, Perlukah Ditambal?

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

“Kan masih gigi susu, Dok?”

Gigi manusia terdiri dari 3 lapisan yaitu email (yang kita lihat secara kasat mata berwarna putih), di bawahnya terdapat lapisan dentin dan yang terdalam adalah lapisan  pulpa. Lapisan pulpa tersusun atas saraf dan pembuluh darah.

Proses gigi berlubang atau karies gigi dimulai dari lapisan paling luar yaitu email. Bila lubang baru mencapai lapisan email biasanya belum ada keluhan, bila mencapai dentin maka terkadang mulai terasa ngilu (biasanya saat makan), dan saat sudah mencapai pulpa maka akan terasa nyeri spontan yang mengganggu aktivitas hingga tidak dapat tidur. Bila terus dibiarkan maka gusi akan bengkak lalu timbul seperti sariawan di gusi. Sariawan ini disebut abses, suatu kumpulan nanah produk dari bakteri. Lama kelamaan pipi dapat membengkak disertai demam karena infeksi. Proses ini dapat terjadi baik pada gigi susu maupun gigi permanen.

Semua gigi yang berlubang harus ditambal, namun jika lubang sudah mencapai lapisan pulpa maka harus dilakukan perawatan saraf atau perawatan saluran akar untuk membersihkan bakteri yang sudah menjalar sampai ke akar gigi. Setelah itu gigi akan ditambal, tambalan terdiri dari 2 lapis. Pertama tambalan pada akar gigi, yang tadinya berisi saraf akan diisi semen supaya akar rapat dan tidak menjadi tempat bakteri masuk, yang kedua adalah tambalan pada mahkota gigi supaya bentuk gigi kembali utuh.

Penjalaran gigi berlubang pada gigi susu lebih cepat mencapai pulpa sebab lapisan emailnya lebih tipis dibanding gigi permanen. Pencabutan gigi juga dapat menjadi pilihan perawatan gigi susu jika infeksi sudah terlalu meluas dan perawatan saraf gigi sudah tidak dapat dilakukan lagi. Namun bila gigi tersebut dicabut dan gigi permanen penggantinya masih belum waktunya tumbuh dapat menyebabkan gigi susu yang berada di sebelahnya bergeser sehingga ruangan menjadi rapat sehingga kelak gigi tetap penggantinya tidak memiliki ruangan untuk tumbuh. Gigi tersebut dapat mencari “jalan” lain untuk tumbuh dan menyebabkan gigi berjejal di kemudian hari. Disini nampak jelas bahwa selain untuk makan, bicara, dan fungsi estetika, gigi susu juga berfungsi sebagai penuntun arah gigi permanennya penggantinya untuk tumbuh. Bila memang pencabutan pencabutan gigi diperlukan namun gigi permanennya masih belum saatnya tumbuh dapat diatasi dengan menggunakan alat penjaga ruangan setelah pencabutan gigi yang disebut space maintainer.

Nah, sudah jelas kan ayah dan ibu alasan mengapa gigi susu harus ditambal? Karena itu ajaklah anak ke dokter gigi sejak dini supaya jika ada yang berlubang dapat dirawat sedini mungkin. Intip artikel ini untuk mengetahui waktu yang direkomendasikan untuk membawa anak ke dokter gigi.

Stunting: Apakah Masalah Gizi Semata?

 

 

 

oleh dr. Sunita

Dokter Umum

Stunting adalah kondisi tubuh anak yang lebih pendek daripada normal. Dikatakan stunting jika tinggi anak menurut usia berada di bawah -3 simpang baku pada kurva pertumbuhan WHO. Kurva pertumbuhan WHO dapat dilihat melalui link di bawah ini:

  1. Anak laki-laki
  2. Anak perempuan

Pada anak yang mengalami stunting biasanya juga kurang mendapat stimulasi perkembangan. Kondisi stunting dapat berlanjut hingga masa anak-anak dan berhubungan dengan gangguan perkembangan yang mencakup kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik serta meningkatkan mortalitas dan morbiditas pada anak. Pengaruh stunting tidak berhenti pada masa anak-anak dan dapat mempengaruhi kesehatan pada saat anak beranjak dewasa.

Untuk menghindari terjadinya stunting pada anak terutama pada usia di bawah 2 tahun, ayah dan ibu dapat memperhatikan beberapa hal antara lain:

  1. Memastikan kecukupan nutrisi saat hamil
  2. Menyusui ASI eksklusif terutama sampai dengan usia 6 bulan
  3. Responsif terhadap tanda bayi atau anak lapar
  4. Menjaga kebersihan dalam kehidupan sehari-hari
  5. Memantau pertumbuhan bayi atau anak sebisa mungkin 1 kali dalam sebulan

Semoga anak ayah dan ibu selalu dijaga kebersihannya setiap hari, nutrisi pun selalu terpenuhi.

Sumber: link berikut

Tanda-tanda Gigi Akan Tumbuh

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Halo ayah dan ibu, sebagai orang tua tentunya perlu mengetahui tanda-tanda gigi yang akan tumbuh. Tanda tersebut antara lain:

  1. Gusi bengkak dan kemerahan
  2. Gusi yang digesek-gesekkan dengan jari atau menghisap ibu jari
  3. Menggigit-gigit benda apapun untuk membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada gusi
  4. Anak tidak mau makan
  5. Anak mengeces atau kelar air liur lebih banyak
  6. Demam
  7. Sulit tidur
  8. Menggosok-gosok area pipi atau telinga terutama jika gigi yang mau tumbuh adalah gigi geraham (berada di area belakang, lebih ke arah pipi samping atau telinga)

Yang dapat ayah dan ibu lakukan antara lain:

  1. Memeluk anak untuk memberikan rasa nyaman, berikan distraksi dengan mengajak bermain atau mendongeng
  2. Pastikan gusi dalam keadaan bersih meskipun gigi belum tumbuh
  3. Gosokkan jari kita yang bersih ke gusi bayi untuk mengurani rasa tidak nyaman pada gusi, pijat lembut selama 1-2 menit dan dapat pula digunakan teething gel
  4. Berikan teether
  5. Berikan biskuit dingin rendah gula yang bertekstur lembut

Nah itulah beberapa tanda dan tips menghadapi bayi yang akan tumbuh gigi. Selamat mencoba, ayah dan ibu!

Gigi Pada Bayi yang Baru Lahir

 

 

 

oleh drg. Stella Lesmana, Sp.KGA

Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

Ayah dan ibu mungkin pernah mendengar ada anak kerabatnya yang langsung memiliki gigi saat lahir. Gigi ini disebut natal teeth. Selain natal teeth juga ada neonatal teeth, yaitu gigi yang tumbuh dalam rentang waktu 30 hari pasca kelahiran. Natal teeth tiga kali lebih sering terjadi dibandingkan neonatal teeth. Penyebabnya masih diteliti namun diduga penyebabnya antara lain posisi benih gigi yang memang letaknya lebih dekat ke permukaan gusi, demam tinggi, gangguan hormon, infeksi, malnutrisi, dan kondisi kehamilan ibu yang kurang sehat.

Sebanyak 10% natal atau neonatal teeth adalah gigi yang berlebih (jika dicabut akan tumbuh lagi gigi susu yang sebenarnya), namun sebanyak 90% natal atau neonatal teeth ini adalah gigi susu yang tumbuh dini. Dokter gigi akan mengevaluasi terlebih dulu apakah gigi yang tumbuh perlu dicabut atau tidak. Gigi aka dicabut  jika mengganggu proses menyusui baik membuat si bayi sulit menyusu atau mengganggu ibu (menimbulkan rasa sakit) saat menyusui apalagi biasanya natal atau neonatal teeth tumbuh pada area depan rahang bawah. Yang terpenting jangan sampai gigi tersebut menghambat asupan nutrisi bagi bayi. Jika demkian maka harus dilakukan pencabutan gigi. Sebaiknya bawalah ke dokter gigi spesialis anak dan jangan lupa infokan jika bayi memiliki kelainan darah.