oleh dr. Nilam Permatasari Bmed.Sc, SpBP-RE

Dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik

 

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Apakah Ayah dan Ibu Kejora sedang merencanakan jadwal sirkumsisi si buah hati dalam waktu dekat? Jika iya, apakah Ayah dan Ibu Kejora merasa khawatir akan keamanan tindakan tersebut selama masa pandemi Covid-19? Mengingat sirkumsisi merupakan suatu tindakan bedah, Ayah dan Ibu Kejora tentu bertanya-tanya apakah tepat untuk melakukannya di saat pandemi ini. Bahkan mungkin ada yang memutuskan untuk menundanya. Oleh karena itu, mari kita simak penjelasan mengenai sirkumsisi di masa pandemi berikut ini ya, Ayah dan Ibu Kejora!

 

Apa Itu Sirkumsisi?

Sirkumsisi atau yang lebih sering dikenal dengan istilah sunat atau khitan adalah tindakan membuang kulit yang menutupi glans (kepala) penis hingga keseluruhan glans terbuka. Tindakan ini populer dilakukan di berbagai belahan dunia dan dapat dikatakan salah satu tindakan bedah tertua yang pernah ada.

Gambar 1. Gambaran penis sebelum dan sesudah sirkumsisi

Sumber gambar: https://www.babycenter.com

 

Mengapa Sirkumsisi Perlu Dilakukan?

Saat ini, sirkumsisi tidak hanya dilakukan atas dorongan agama atau sosiokultur tertentu. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tindakan ini semakin umum dilakukan karena indikasi kesehatan. Indikasi kesehatan sirkumsisi dapat berupa usaha pencegahan atau untuk kesembuhan.
Untuk langkah pencegahan, penelitian mendapati bahwa sirkumsisi membuat perawatan kebersihan penis menjadi lebih mudah dan menurunkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih, terutama bagi pasien yang diharuskan memakai kateter berkemih dalam waktu yang lama. Selain itu, dapat pula menurunkan risiko penyakit menular seksual di kemudian hari.

Selain itu, terdapat beberapa indikasi kesehatan untuk kesembuhan. Pertama, pada kondisi fimosis di mana kulit penis yang menutupi kepala penis menempel dan tidak dapat dibuka secara manual (dengan bantuan jari), disertai dengan keluhan nyeri berkemih, demam, atau gejala lain, maka tindakan sirkumsisi menjadi penting dilakukan.

Gambar 2. Ballooning karena fimosis akibat urin sulit keluar melalui celah sempit

Kondisi lain yang termasuk dalam emergensi yaitu parafimosis, di mana kulit tidak dapat dikembalikan untuk menutupi kepala penis setelah sebelumnya ditarik untuk membuka glans sehingga menjepit dan mengganggu aliran darah ke glans penis. Selain itu, infeksi penis berulang (balanoposthitis) juga merupakan indikasi sirkumsisi untuk kesembuhan.

Gambar 3. Glans penis menjadi bengkak dan bila tidak ditangani dengan baik dapat terjadi kematian jaringan glans penis

Selain indikasinya, kontraindikasi sirkumsisi juga perlu menjadi perhatian, yaitu kelainan genitalia eksterna seperti hipospadia, epispadia, mikropenis dan lain-lain yang mana kulit penis dibutuhkan untuk rekonstruksi. Kontraindikasi lainnya yaitu pasien tidak dalam keadaan sehat, kelainan pembekuan darah, penis dalam keadaan infeksi dan bayi yang masih prematur.

 

Kapan Waktu Terbaik Sirkumsisi?

Bila didapati tidak ada kontraindikasi, maka sirkumsisi dapat dilakukan sedini mungkin sejak lahir. Adapun keuntungan sirkumsisi saat awal kehidupan adalah penyembuhan luka yang relatif lebih baik, perdarahan yang lebih terkontrol saat tindakan sehingga waktu pengerjaan lebih singkat, anak tidak ada memori takut atas tindakan, dan keuntungan pencegahan kelainan medis didapat sejak dini.

Pada usia Usia 2-6 tahun, anak sedang sangat aktif bereksplorasi dan masih sulit untuk kooperatif sehingga dapat menjadi tantangan baik saat tindakan maupun perawatan setelah sunat. Untuk melancarkan tindakan, teknis bius umum akan memberikan hasil tindakan yang maksimal.

Perhatian lain yaitu pada usia 3-6 tahun di mana anak mengalami fase phallic, ditandai dengan castration anxiety atau kekhawatiran atas sesuatu terjadi pada organ genital. Untuk itu, perlu diberi pemahaman yang baik mengenai makna dan manfaat sirkumsisi pada anak.

 

Tips Sunat Aman di Masa Pandemi

  • Lebih baik memilih fasilitas kesehatan yang memiliki layanan kekhususan (RS ibu anak, fasilitas kesehatan khusus sunat, dll)
  • Memilih dokter yang berpengalaman dalam tindakan dan fasilitas kesehatan yang telah memiliki layanan sirkumsisi.
  • Menerapkan 3M dan mengikuti protokol kesehatan yang diterapkan fasilitas kesehatan, termasuk screening sesuai anjuran.
  • Konsultasi terlebih dahulu untuk membangun kepercayaan anak dengan dokter.
  • Meminimalisasi jumlah pengantar pasien.
  • Bila tidak emergensi, tindakan dilakukan dengan perencanaan dengan pihak fasilitas kesehatan sehingga menghindari waktu tunggu di fasilitas kesehatan telalu lama.

Editor: drg. Rahmatul Hayat

 

Referensi:

  1. U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Background, methods, and synthesis of scientific information used to inform the recommendations for providers counseling male patients and parents regarding male circumcision and the prevention of HIV infection, STIs, and other health outcomes. 2014.
  2. American Academy of Pediatrics Task Force on Circumcision. Male circumcision. Pediatrics. 2012; 130(3):e756–e785. 10.1542/peds.2012-1990.
  3. Frisch M, Earp BD. Circumcision of male infants and children as a public health measure in developed countries: a critical assessment of recent evidence. Glob Public Health. 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *