oleh Marcelina Melisa, M.Psi

Psikolog Anak

Halo, Ayah dan Ibu Kejora!

Akhir-akhir ini Indonesia sedang sering tertimpa bencana alam dan kejadian tidak menyenangkan lainnya. Nah, kira-kira apa, ya, yang bisa kita lakukan jika menemukan anak-anak maupun orang dewasa yang sedang mengalami peristiwa tidak menyenangkan seperti ini? Kali ini, mari berkenalan dengan Psychological First Aid, yuk!

Psychological First Aid (PFA) atau yang bisa juga disebut bantuan pertama psikologis adalah intervensi psikologi yang diberikan pada individu atau kelompok yang baru saja mengalami kejadian krisis. Kejadian krisis yang dimaksud dapat berupa peristiwa kehilangan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, peristiwa yang sangat mengejutkan sehingga menimbulkan kecemasan atau ketakutan, ataupun ketika individu baru saja mengalami kecelakaan atau bencana alam. PFA diberikan sesegera mungkin setelah individu mengalami situasi krisis. PFA yang diberikan bersifat praktikal dan dalam waktu singkat, serta disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. PFA dapat dilakukan oleh siapa saja dan tidak harus dari profesional.

Hal yang paling penting adalah memahami prinsip dasar PFA. Terdapat 6 prinsip dasar yaitu melihat, mendengar, membuat nyaman, memberikan koneksi, memberikan rasa perlindungan, dan memberikan harapan. Sekarang kita bahas satu-persatu ya, Ayah dan Ibu Kejora!

  1. Melihat artinya mengamati keadaan penyintas dan lingkungan sekitar. Keadaan penyintas yang diamati termasuk emosi yang sedang dirasakannya, dan apakah penyintas terlihat ingin berkomunikasi. Sedangkan untuk lingkungan sekitar, kita harus mengamati sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penyintas.
  2. Mendengar di sini adalah mendengar aktif, dimana kita berusaha agar penyintas merasa dirinya diterima apa adanya.
  3. Membuat nyaman bisa dilakukan dengan mengakomodasi kebutuhan dasar seperti pengobatan luka fisik, memberikan sarana yang membuat rileks, dan lain-lain.
  4. Memberikan koneksi artinya mencari layanan yang sesuai dengan kebutuhan penyintas saat itu. Misalnya saat membutuhkan transportasi untuk menjenguk keluarga, kita memberi tahu bahwa terdapat layanan transportasi gratis.
  5. Memberikan rasa perlindungan artinya kita menjelaskan bahwa keadaan penyintas saat ini aman sehingga ia tidak perlu khawatir.
  6. Memberikan harapan yang realistis dilakukan dengan mengkomunikasikan hal yang dapat mengurangi kecemasan berdasarkan bantuan yang telah diterima penyintas saat ini, yang dapat mengurangi bebannya.

Selain untuk kasus paska bencana, PFA dapat diberikan kepada anak yang mengalami kejadian kurang mengenakkan, misalnya, anak kehilangan orang tua yang dikira menunggu pada hari pertama masuk sekolah. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa tenang pada anak, mengurangi kemungkinan berkembang menjadi peristiwa traumatis, dan mencegah dampak masalah menjadi lebih besar.

Dalam PFA terdapat keterampilan yang harus dimiliki, yaitu mendengar aktif. Terdapat tiga hal yang dilarang dalam mendengar aktif yaitu:

  1. Menghakimi, yaitu tidak menarik kesimpulan atau membuat penilaian yang membuat orang merasa mendapatkan penilaian yang kurang baik.
  2. Menasehati, berarti tidak memberikan nasehat yang tidak perlu dalam situasi tersebut, misalnya saat orang hanya ingin ceritanya didengarkan atau perasaannya diterima.
  3. Menginterogasi, berarti menahan diri untuk tidak menanyakan hal yang tidak perlu diketahui dan hanya memuaskan rasa ingin tahu kita. Hal yang harus dilakukan adalah menerima perasaan apapun yang sedang dimiliki penyintas, terlepas dari emosi positif maupun negatif.

Semoga artikel ini dapat membantu Ayah dan Ibu Kejora apabila si kecil sedang mengalami peristiwa kurang menyenangkan, ya!

Editor: drg. Valeria Widita Wairooy

201total visits,4visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *