oleh dr. Pratama Wicaksana, Sp.A

Dokter Spesialis Anak

 

 

Halo, Ayah dan Ibu! Anak usia sekolah cenderung sudah dapat memilih makanan yang mereka sukai. Selain dari preferensi anak, pilihan makanan tersebut terkadang dipengaruhi oleh kawan dan tawaranan makanan jajanan di luar rumah. Pengaruh yang kurang baik dapat menyebabkan asupan nutrisi yang tidak seimbang, yang dalam waktu panjang dapat menyebabkan masalah malnutrisi, baik obesitas maupun stunting. Pada pembahasan kali ini, Kejora mengangkat tema pola makan sehat pada anak usia sekolah yang akan membahas lebih dalam mengenai pola makan sehat pada anak usia sekolah, fungsi nutrisi, dan makanan yang perlu dihindari.

Pola makan sehat merupakan perilaku mengatur jumlah dan jenis makanan sesuai kebutuhan kalori, makronutrien, dan mikronutrien. Anak usia sekolah memiliki aktivitas yang tinggi, keterpaparan yang tinggi terhadap sumber penyakit infeksi, serta memasuki masa pertumbuhan cepat pra-pubertas, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi mulai meningkat secara bermakna. Kebutuhan kalori anak usia sekolah berkisar antara 1.200 hingga 1.800 kilokalori per hari. Asupan lemak dibatasi antara 25-35% dari kebutuhan kalori total dengan persentasi lemak trans atau lemak jenuh kurang dari 10%. Konsumsi protein hewani mencakup 70% dari total asupan protein. Konsumsi serat per hari sekitar 25-30 gram dan garam tidak melebihi 2 gram per hari.

American Heart Association menekankan asupan penting bagi anak usia di atas 2 tahun yaitu sayur dan buah, serelia utuh (whole grain), susu atau produk susu tanpa atau rendah lemak, kacang-kacangan, ikan, dan daging tanpa lemak. Beberapa asupan yang perlu dibatasi adalah jus buah (tidak lebih dari 240-360 mL per hari), produk serelia olahan (refined grain), makanan dan minuman dengan pemanis tambahan (gula kurang dari 50 gram per hari), garam, kulit unggas, serta saos berkalori tinggi (saos krim atau saos keju).

Daging memegang peranan penting untuk asupan anak karena selain menyediakan energi dan protein juga mengandung mikronutrien seperti besi, zink, vitamin A, vitamin B kompleks, dan iodin. Besi dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah; zink berperan dalam pertumbuhan sel; vitamin A penting untuk kesehatan mata serta kekebalan tubuh, dan iodin bersama besi berperan dalam optimalisasi jaringan saraf. Dianjurkan setidaknya anak usia sekolah dalam seminggu mengkonsumsi dua porsi ikan (140 gram) per minggu. Ikan salmon, kembung, lele, dan gabus mengandung asam lemak omega 3 yang cukup tinggi yang baik untuk perkembangan fungsi kognitif dan penglihatan, kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta sistem kekebalan tubuh. Konsumsi susu rendah atau tanpa lemak 2-3 gelas per hari dapat membantu mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D harian. Kudapan sehat seperti buah segar, sayur, keju, produk roti, dan yogurt diberikan 3-4 kali per hari dan mencakup ¼ total asupan harian. Suplementasi vitamin dan mineral tidak rutin diberikan pada anak dengan riwayat pertumbuhan yang baik.

Selain kebutuhan nutrisi anak, orang tua juga perlu memperhatikan hal-hal teknis dalam pemberian nutrisi. Makanan yang disiapkan perlu dimasak hingga matang untuk menghindari kuman yang terdapat pada bahan makanan yang masih mentah. Selain itu, orang tua juga sebaiknya menciptakan suasana makan tanpa distraksi dan membiasakan makan bersama dalam keluarga yang dapat membantu menciptakan perilaku dan kebiasaan makan yang sehat.

Asupan nutrisi dan perilaku yang makan sehat juga sebaiknya diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup untuk menunjang kesehatan anak. Anak usia sekolah disarankan untuk melakukan aktivitas fisik selama 60 menit per hari. Penggunaan gawai oleh anak juga sebaiknya dibatasi agar anak tetap tertarik untuk bergerak aktif dalam keseharian.

Editor: Sunita

 

Sumber:

Duryea TK. Dietary recommendations for toddlers, preschool, and school-age children. Diunduh dari:https://www.uptodate.com/contents/dietary-recommendations-for-toddlers-preschool-and-school-age-children. Diakses pada 20 Maret 2021

Gidding SS, Dennison BA, Birch LL, Daniels SR, Gilman MW, Lichtenstein AH, et al. Dietary recommendations for children and adolescents: A guide for practitioners. Pediatrics. 2006;117:544-59

Cleghorn G. Role of red meat in the diet for children and adolescents. Nutr Diet. 2007;64:s143-6

P2PTM Kemenkes RI. Tips Pencegahan Obesitas untuk Anak & Remaja. Diunduh dari: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/obesitas/page/37/tips-pencegahan-obesitas-untuk-anak-remaja. Diakses pada 10 April 2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *