oleh drg. Annisa Sabhrina

Dokter Gigi Umum

 

Halo Ayah dan Ibu Kejora,

Kecelakaan dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Kecelakaan dapat terjadi baik dalam skala kecil seperti terjatuh atau bisa juga berakibat fatal. Efek dari kecelakaan memiliki hal yang cukup serius, salah satunya terjadi pada gigi.

Trauma kecelakaan pada anak sering terjadi pada usia dini, seperti terjatuh saat anak belajar berjalan atau berlari. Hal ini karena kemampuan motorik pada usia tersebut masih sangat minim. Selain itu, memasuki usia pra sekolah anak juga seringkali mengalami trauma pada gigi seperti terdorong saat bermain dengan teman, bermain dengan benda keras dengan berbagai resiko lain. Namun, bukan hanya pada usia dini saja, pada usia 8-12 tahun kecenderungan gigi mengalami trauma karena terjatuh saat bermain sepeda, sepatu roda dan aktivitas lain dapat terjadi.

Beberapa aktivitas di atas dapat menimbulkan reaksi trauma pada gigi salah satunya adalah avulsi. ​Kondisi dimana gigi keluar dari tempatnya (soket/ruang gigi) karena trauma dikenal dengan avulsi​. ​Dimana pada kasus avulsi, gigi lepas secara utuh akibat adanya benturan​. Gigi avulsi terjadi pada 1% – 16% kejadian trauma pada gigi permanen anak. Bila hal ini terjadi pada gigi susu maka gigi tersebut tidak dapat dipasang kembali. Hal yang dapat dilakukan hanya observasi dan menunggu hingga gigi permanennya tumbuh, atau jika tidak mau terlihat ada gigi yang hilang maka dapat dipertimbangkan dibuatkan gigi buatan.

Bila hal ini terjadi pada gigi permanen maka yang dapat ayah ibu lakukan sebagai bentuk pertolongan pertama adalah

    1. Cari gigi yang lepas, kemudian cuci bersihkan. Usahakan untuk memegang bagian mahkota gigi bukan pada bagian akar gigi.
    2. Letakkan kembali pada gusi dimana gigi tersebut seharusnya berada, namun bila orang tua ragu segeralah ke dokter gigi. Gigi dapat direndam dalam wadah berisi susu (susu cair apapun) atau air liur.

Waktu yang paling baik untuk memasukkan gigi kembali ke gusinya adalah sesegera mungkin, namun periode waktu terbaiknya (golden period) adalah 60 menit pasca kejadian.

Selain posisi gigi yang terlepas dari soket, salah satu masalah yang dapat terjadi pada gigi anak saat trauma yakni fraktur gigi atau gigi patah. Fraktur dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi permanen. Bagian gigi yang hilang dapat terjadi pada enamel, dentin, pulpa gigi, serta bisa juga fraktur pada bagian akar.

Perawatan yang dapat dilakukan

Alternatif perawatan dapat dilakukan tergantung pada stabilitas dari gigi yang terpapar trauma.

    • Bila gigi masih kokoh dan tidak menimbulkan sakit, anda dapat melakukan observasi dan mengecek berkala kondisi gigi anak
    • Bila terjadi rasa sakit cek ke dokter gigi, kompres es apabila terjadi perdarahan pada gigi dan berikan obat pereda nyeri untuk meredakan sakit
    • Bila gigi goyang dan terjadi rasa sakit, segera cek ke dokter gigi untuk dilihat derajat kegoyangannya. Pada gigi susu jika kegoyangan cukup parah dapat dipertimbangkan pencabutan gigi. Pada gigi permanen dapat dilakukan stabilisasi (menahan gigi dengan bantuan alat sehingga tidak goyang lagi), namun ini juga dilihat derajat keparahannya.

Segera konsultasikan dengan dokter gigi terdekat bila hal-hal diatas terjadi ya, ayah dan ibu..

Editor : drg. Stella Lesmana, SpKGA

Sumber :

https://www.ada.org.au/Your-Dental-Health/Children-0-11/Dental-Trauma
https://www.dentalcare.com/en-us/professional-education/ce-courses/ce98/root-fracture
https://www.ncbi.nlm.nih.gov
Replantation of an Avulsed Maxillary Incisor after 12 Hours: Three-Year Follow-Up – NCBI

943total visits,2visits today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *